Volume 6 No. Tahun 2026 Halaman 1 Ae 12 Available online : https://ejournal. id/index. php/PENIPS/index Pengaruh Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS) dengan Media Interaktif Wordwall Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik pada Pembelajaran IPS Materi Potensi dan Pemanfaatan Sumber Daya Alam Aisyah Fitri Rosliana . Nasution . Ketut Prasetyo . Durrotun Nafisah . Universitas Negeri Surabaya Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dengan media interaktif Wordwall terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik pada pembelajaran IPS materi potensi dan pemanfaatan Sumber Daya Alam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengandesain quasi eksperimen tipe Non-equivalent Control Group Design. Populasi penelitian ini yaitu peserta didik kelas VII di MTsN 1 Surabaya dengan sampel kelas VII I sebagai kelas eksperimen dan kelas VII K sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen diberi perlakuan pembelajaran dengan model TPS berbantuan media Wordwall, sedangkan kelas kontrol hanya menggunakan model TPS tanpa media Wordwall. Instrumen yang digunakan berupa tes pilihan ganda berjumlah 25 butir soal yang disusun berdasarkan indikator berpikir kritis menurut Ennis. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank Test untuk mengetahui peningkatan hasil posttest pada kelas eksperimen dan uji Mann Whitney U Test yang digunaka untuk membandingkan hasil posttest antar kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan siginifikan dalam kemampuan berpikir kritis pada kelas eksperimen, serta perbedaan yang siginifikan antara kelas eksperimen dan kontrol. Dengan demikian, model pembelajaran TPS berbantuan media interaktif Wordwall efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam pembelajaran IPS khususnya materi Potensi dan Pemanfaatan Sumber Daya Alam. Kata Kunci: Think Pair Share (TPS). Wordwall. Berpikir kritis Abstract This study aims to determine the effect of the Think Pair Share (TPS) learning model assisted by interactive Wordwall media on students' critical thinking skills in Social Studies learning on the topic of the potential and utilization of natural resources. A quantitative approach was employed using a quasi-experimental design of the Non-equivalent Control Group Design type. The research sample consisted of class VII I as the experimental group and class VII K as the control group at MTsN 1 Suabaya. The experimental group received instruction using the TPS model combined with Wordwall media, while the control group was taught using the TPS model without media. The research instrument was a multiple-choice test consisting of 25 items developed based on Ennis's critical thinking indicators. Data were analyzed using the Wilcoxon Signed-Rank Test to assess improvement within the experimental group and the Mann Whitney U Test to compare posttest results between the two groups. The findings indicate a significant improvement in critical thinking skills among students in the experimental group, as well as a significant difference between the experimental and control groups. These results suggest that the TPS learning model supported by interactive Wordwall media is effective in enhancing students' critical thinking skills in Social Studies, particularly in the topic of natural resource potential and utilization Keywords: Think Pair Share (TPS). Wordwall. Critical thinking Volume 6 No. Tahun 2026 Halaman 1 Ae 12 Available online : https://ejournal. id/index. php/PENIPS/index PENDAHULUAN Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan manusia dan berperan penting dalam suatu negara, sebagaimana dinyatakan dalam pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pada alinea ke 4 yang menyatakan secara tegas dan tercantum dalam tujuan negara berbunyi Aumencerdaskan kehidupan bangsaAy, hal tersebut dapat dicapai melalui pendidikan ini sehingga dapat melahirkan manusia-manusia yang unggul dalam segi pengetahuan, keahlian, dan Beragam langkah telah dilakukan oleh pemerintah terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Pada tahun 2013, pemerintah pusat meluncurkan program 12 tahun sebagai pengganti wajib belajar 9 tahun sebelumnya (Margiyanti & Maulia, 2. Disamping pendidikan merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi manusia. Sumber Daya Alam dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sumber Daya Alam (SDA) ini diolah dan dimanfaatkan manusia dalam mempertahankan hidupnya. Oleh sebab itu, kehidupan manusia berkaitan erat dengan ketersediaan Sumber Daya Alam. Namun, dalam memanfaatkan Sumber daya Alam ini, manusia sering ditemukan melakukan eksploitasi terhadap pemanfaatan SDA yang mengakibatkan terganggunya keseimbangan lingkungan. Sumber daya ini memiliki keterbatasan dalam jumlah, ruang, waktu, dan kualitas. Lingkungan hidup memiliki hubungan timbal balik dengan makhluk hidup lainnya tak terkecuali manusia, seperti saling ketergantungan dalam hal keberadaan dan fungsi (Arisaputra et al. , 2. Indonesia dikenal dengan kaya akan Sumber Daya Alamnya namun, eksploitasi terhadap sumber daya belum ditangani dengan baik sehingga sering terjadi kerusakan lingkungan. Tidak hanya itu, penebangan secara ilegal dan diforestasi masih sering terjadi (Nasution et al. , 2. Kekayaan Sumber daya Alam di Indonesia, terutama di daerah-daerah yang kurang berkembang masih belum dimanfaatkan secara optimal. Hal ini disebabkan oleh kurangnya investasi dan teknologi yang canggih, serta terbatasnya ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang ada pada penduduk setempat. Potensi yang ada seperti pertanian, perkebunan, perikanan, hutan, mineral. Potensi yang tersedia ini digunakan untuk memajukan daerah dan meningkatkan taraf hidup masyarakat. Upaya tersebut dilakukan bersifat keberlanjutan agar dapat dirasakan oleh generasi yang akan datang. Indonesia menempati nomor 6 sebagai negara terkaya di dunia dengan potensi mineral dan batubara yang dimiliki. Namun, sumber daya mineral dan batubara yang besar belum meberikan manfaat secara optimal untuk perekonomian Indonesia. Ditambah kerusakan alam yang terus terjadi yang berdampak pada lingkungan terutama ketersediaan SDA yang menurun. Kerusakan yang sering terjadi dapat diakibatkan oleh ulah manusia karena kurangnya kesadaran terhadap lingkungan sekitar, kurangnya pendidikan lingkungan, keterbatasan teknologi, dan akibat dari kondisi alam sendiri seperti bencan alam, perubahan iklim, dan suhu bumi yang semakin meningkat (Zai et al. , 2. Oleh sebab itu, agar hal tersebut tidak terjadi semakin parah dan ketersediaan SDA dapt lestari, perlu adanya edukasi yang diberikan untuk pengelolaan secara berkelanjutan dan kemampuan berpikir kritis bagi peserta didik dalam menghadapi isu-isu lingkungan dan ekonomi. Ilmu pengetahuan ini didapat pada mata pelajaran IPS. Kemampuan berpikir kritis dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam bersaing dan nantinya menjadi individu yang berprestasi. Sering dijumpai guru masih menerapkan cara mengajar melalui metode ceramah yang dianggap sebagai metode kuno dalam dunia pendidikan. Hal inilah Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 1-12 menyebabkan peserta didik cepat merasa bosan dan mengantuk sehingga pembelajaran yang disampaikan guru tidak tersampaikan dengan baik oleh mereka. Guru dituntut untuk lebih menggunakan model dan media ajar yang lebih inovatif sehingga meningkatkan berpikir kritis peserta didik dalam proses belajar (Berlian & Jamilah, 2. Pengimplementasian model dan media pembelajaran yang inovatif memudahkan peserta didik dalam memahami materi pembelajaran dan proses pembelajaran dapat berjalan secara efektif. Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik mengacu pada berbagai progrman pendidikan, pengalaman belajar, pendekatan pengajaran, dan strategi dukungan akademis yang dimaksudkan untuk mengatasi kebutuhan belajar, minat, aspirasi, atau latar belakang budaya setiap peserta didik (Prasetyo & Larasati, 2. Pembelajaran secara diskusi dapat menjadi salah satu model yang bisa dipilih guru untuk meningkatkan berpikir kritis peserta didik. Salah satu contoh model pembelajaran yaitu Think Pair Share (TPS). Model pembelajaran TPS ini berisi 3 sintaks utama yaitu Think . Pair . , dan Share . Untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis peserta didik pada pembelajaran IPS, dimana salah satu sintaksnya yaitu tahap Think. Pada tahap ini, peserta didik diminta untuk memikirkan secara kritis sebuah pertanyaan yang diajukan oleh guru untuk diselesaikan dengan menggunakan informasi yang sah dan pengalaman mereka sendiri. Dengan cara tersebut, secara tidak langsung mereka dilatih untuk berpikir secara kritis (Kusumadewi & Sriyanto, 2. Pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik dapat menciptakan pembelajaran yang tidak monoton. Peserta didik dilatih untuk berpikir dalam menerima materi yang dipelajari dan mengaitkannya dengan kehidupan sosialnya. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dari waktu ke waktu memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap perubahan implementasi pembelajaran. Guru dapat menguasai dan memanfaatkan teknologi sebagai media untuk nantinya dapat dipadukan dengan model pembelajran yang variatif dan lebih inovatif. Selain itu, penggunaan media pembelajaran dapat membantu peserta didik untuk lebih mudah memahami materi yang diberikan guru dan membangkitkan motivasi peserta didik untuk aktif dalam pembelajaran(Nafisah et al. , 2. dengan media digital, secara tidak langsung mengenalkan peserta didik terkait teknologi yang semakin canggih. Proses pembelajaran dapat berjalan efektif dengan penggunaan model dan media pembelajaran yang tepat. Keberadaan IPTEK ini memunculkan berbagi situs web interaktif yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Wordwall menjadi salah satunya. Wordwall ini merupakan sebuah situs web yang menyediakanberbagai fitur game yang dapat digunakan furu sebagai media penunjang wordwall ini bisa dijadikan media pembelajara, sumber belajar, dan instrumen penilaian bagi peserta didik yang lebih menyenangkan. Dalam wordwall terdapat fitur gamabr, audio, animasi, dan permainan interaktif sehingga peserta didik berminat untuk belajar. Meraka merasa tidak bosan karena dapat belajar serta bermain. Mereka akan lebih cepat memahami pembelajaran, karena pembelajaran dapat diterima dengan baik tanpa merasa bosan dan Penggunaan Wordwall ini juga dapat digunakan jika dipadukan dengan model pembelajaran TPS sehingga menciptakan pembelajaran yang efektif dan tercapainya tujuan Berdasarkan Pra-observasi yang dilakukan oleh peneliti tepatnya di MTsN 1 Durabaya, dalam pembelajaran IPS kemampuan berpikir kritis peserta didik masih kurang. Model pembelajaran yang digunakan guru masih model lama yakni ceramah sehingga peserta didik kurang terstimulasi mengembangkan pengetahuannya. Hal ini juga sesuai dengan pernyataan yang diakui oleh Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Ade Erlangga Masdiana menyatakan bahwa hal yang wajar jika kemampuan berpikir kritis peserta didik tidak meningkat karena mereka tidak diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi suatu topik materi (Komalasari et al. , 2. Hal ini sejalan dengan penelitian (Harun, 2. , awalnya dalam belajar Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 1-12 IPS peserta didik merasa jenuh dan kurang semangat karena guru masih menggunakan cara Dengan TPS ini pembelajaran menjadi lebih menarik dan bervariasi. Kemudian dalam penelitian (Mawaddah et al. , 2. , menunjukkan penerapan media Wordwall merupakan salah satu cara yang dapat diambil guru untuk meningkatkan skill komunikasi anatar guru dan peserta didik atau antara sesamanya. Media interaktif Wordwall ini juga dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis mereka. Oleh karena itu dalam penelitian ini menggunakan perpaduan model pembelajaran TPS dengan media interaktif Wordwall terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik pembelajaran IPS materi Potensi dan Pemanfaatan Sumber Daya Alam. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kuantitatif dengan desain quasi experiment tipe Non-equivalent Control Group Design. Desain ini digunakan karena subjek penelitian tidak dipilih secara acak. Penelitian ini dilaksanakan di MTsN 1 . Surabaya pada bulan April sampai dengan bulan Juni 2025. Sampel terdiri dari dua kelas VII di MTsN 1 Surabaya, yaitu kelas VII I sebagai kelas eksperimen dan kelas VII K sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen mendapatkan pembelajaran dengan model TPS berbantuan media interaktif Wordwall, sedangkan kelas kontrol hanya menggunakan model pembelajaran TPS. adapun desian penelitian yang dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 1. Desain Penelitian Kelas Pretest Treatment Posttest Eksperimen Kontrol Keterangan O1 : Pretest kelas eksperimen O2 : Pretest kelas kontrol X1 : Perlakuan menggunakan model pembelajaran TPS dengan media interaktif Wordwall X2 : Perlakuan menggunakan model pembelajaran TPS tanpa media interaktif Wordwall O3 : Posttest kelas eksperimen O4 : Posttest kelas kontrol Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tes . retest dan posttes. observasi proses pembelajaran, serta dokumentasi. Instrumen penelitian berupa tes pilihan ganda sebanyak 25 soal yang disusun berdasarkan indikator berpikir kritis menurut Ennis. Pretest dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal yang dimiliki peserta didik sebelum proses pembelajaran. posttest dilakukan untuk mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kritis sesudah proses Dalam penelitian ini, pengujian instrumen dilakukan melalui uji validitas dengan Uji Product Moment, dan uji reliabilitas dengan Alpha CronbachAos. Sebelum dilakukan analisis lebih lanjut, data terlebih dahulu diuji normalitas dan homogenitasnya. Karena data berdistribusi tidak normal, maka digunakan teknik analisis non-parametrik yaitu uji Wilcoxon Signed-Rank Test untuk mengetahui pengaruh terhadap penggunaan model pembelajaran TPS dengan media interaktif Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 1-12 Wordwall terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik pada kelas eksperimen. Kemudian menggunakan uji Mann Whitney-U Test untuk mengetahui perbedaan dua kelas. Uji ini digunakan untuk melihat apakah nilai posttest kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan di MTsN 1 . tepatnya di Jl. Bendul Merisi Selatan IX no. Penentuan sampel dilakukan dengan purposive sampling dengan memilih kelas VII I sebanyak 30 peserta didik sebagai kelas eksperimen dan VII K sebanyak 24 peserta didik sebagai kelas kontrol. Kedua kelompok tersebut dpilih karena sesui dengan karakteristik penelitian dan jumlah kelas yang ada di MTsN 1 . ini terbatasnya ketersediaan kelas sehingga tidak memungkinkan dilakukan pemilihan kelas secara acak. Pada kelas eksperimen diberikan perlakuan yaitu model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dengan berbantuan media Interaktif Wordwall. Sementara itu, kelas kontrol diberikan perlakuan model pembelajaran TPS tanpa berbantuan media interaktif Wordwall. Tes awal . dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik terhadap kemampuan berpikir kritis, sedangkan tes akhir . dilakukan setelah diberikannya perlakuan dalam proses pembelajaran. Berdasarkan nilai pretetst kelas eksperimen yang diikuti oleh 30 peserta didik memiliki rata-rata nilai sebesar 73,46 dengan rincian memiliki nilai terendah 36 dan nilai Sedangkan berdasarkan pretest kelas kontrol yang terdiri dari 24 peserta didik dengan rata-rata nilai sebesar 63,66 dengan rincian nilai terendah 20 dan nilai tertinggi 96. Pelaksanaan pretetst dilaksanakan pada tanggal 6 Mei 2025 di kelas kontrol dan dilaksanakan pada tanggal 8 Mei 2025 di kelas eksperimen. Soal yang diberikan sebanyak 25 soal berbentuk pilihan ganda dengan gambaran pada tabel berikut : Tabel 2. Rata-rata Nilai Posttest Kelas Eksperimen dan Kontrol Kelas Nilai Nilai Rata-rata tertinggi terendah nilai VII I Eksperimen 73,46 VII K Kontrol 63,66 Pertemuan pertama kelas VII I dan VII K tidak dilakukan pada hari yang sama karena terpotong adanya Pojek P5 latihan menari tarian tradisional. Pertemuan pertaman di kelas kontrol dilaksanakan pada kelas VII K . tepatnya hari kamis tanggal 8 Mei 2025. Pembelajaran dimulai dengan berdoa, mengecek kehadiran, mempersiapkan diri dalam pembelajaran, dan memberikan pertanyaan pemantik terkait materi yang akan dibahas. Setelah guru menjelaskan dan melakukan proses diskusi, kemudian guru membagi peserta didik menjadi pasang-pasangan yang selanjutnya akan diberikan topik untuk mereka bahas. Peserta didik ditugaskan untuk menjelaskan, menganalisis, dan menjabarkan hasil diskusinya. Sedangkan pertemuan pertama kelas VII I . dilaksanakan pada hari kamis tanggal 15 Mei 2025. Dimulai guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam dan berdoa bersama serta mempersiapkan pembelajaran. memasuki inti pembelajaran, guru memberikan pertanyaan pemantik seperti contoh-contoh SDA yang ada di Indonesia. Guru menjelaskan secara umum seperti macam-macam SDA, jenis-jenis, dan persebarannya. Selama pembelajaran guru juga menggunakan media interaktif Wordwall sebagai penunjangnya, yaitu fitur Find the Match. Fitur ini mencocokkan yang tepat antara potensi Sumber Daya Alam di Indonesia dengan letak persebarannya. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 1-12 Guru membagi peserta didik menjadi pasang-pasangan. Setelah itu, masing-masing perwakilan kelompok maju untuk selanjutnya memilih topik yang akan dibahas. Guru tidak memnggunakan proyektor karena terdapat gangguan kabel tidak bisa terhubung dengan LCD. Dalam hal ini guru juga menggunkan Wordwall dengan fitur Open the box. Dengan fitur ini peserta didik dapat memilih nomor yang didalamnya terdapat topik yang akan dibahas terkait materi Potensi SDA dan Guru mengintruksikan untuk pada pertemuan selanjutnya tiap pasangan dapat mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas. Pada hari yang sama, kelas VII K memasuki pertemuan kedua. Sesuai dengan intruksi pada pertemuan sebelumnya, tiap pasangan dapat menyampaikan hasil diskusinya di depan kelas. Selama kegiatan tersebut, guru juga membuka diskusi tanya jawab. sebelum mengakhiri pembelajaran guru juga mnerjlaskan sedikit terkait interaksi dan interdepedensi dan dihubungkan dengan materi yang telah dibahas. Pada hari selasa tanggal 20 Mei 2025, kelas VII K . memasuki pertemuan ketiga yaitu mengerjakan posttest dengan soal dan jumlah butir soal yang sama dengan pretest. Ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan peserta didik dalm berpikir kritis setelah pembelajaran selama 2 kali pertemuan yang telah dibahas. Sedangkan kelas VII I memasuki pertemuan kedua yakni presentasi hasil diskusi sesuai dengan pertemuan sebelumnya. Kemudian, dilanjutkan dengan pertemuan ketiga yaitu mengerjakan posttest sam seperti yang dilakukan di kelas VII K . Setelah diberikan perlakuan dalam proses pembelajaran, dilakukannya posttest baik dikelas VII K . dan VII I . yang dilaksanakan pada hari Selasa, 20 Mei 2025. Soal yang diberikan sama seperti soal pretest yang telah diberikan sebelumnya. Berdasarkan nilai posttest kelas eksperimen yang diikuti oleh 30 peserta didik memiliki rata-rata nilai sebesar 81,86 dengan rincian memiliki nilai terendah 44 dan nilai tertinggi 100. Sedangkan berdasarkan pretest kelas kontrol yang terdiri dari 24 peserta didik dengan rata-rata nilai sebesar 67,5 dengan rincian nilai terendah 28 dan nilai tertinggi 96 yang dapat diuraikan dalam tabel berikut : Tabel 3. Rata-rata Nilai Posttest Kelas Eksperimen dan Kontrol Kelas Nilai Nilai Rata-rata tertinggi terendah nilai VII I Eksperimen 81,86 VII K Kontrol Pengujian normalitas data pada penelitian ini menggunakan SPSS 26. 0 for windows dengan dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pengujian ini digunakan untuk mengetahui apakah data yang digunakan berdistribusi normal atau tidak. Sebuah data dapat dikatakan berdistribusi normal apabila sig > 0,05 maka data berdistribusi normal. Hasil pengujian dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 4. Hasil Uji Normalitas Shapiro-Wilk Kelas Nilai Statistic df Sig. Pre-test eksperimen Post-test eksperimen Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 1-12 Pre-test kontrol Post-test kontrol Berdasarkan hasil normalitas data diatas, diketahui bahwa pada kelas VII I . pretest dengan Sig. = 0,000 dan posttest dengan hasil Sig. = 0,000 menunjukkan bahwa data kelas eksperimen tidak berdistribusi normal mengingat data yang diperoleh > Sig 0,05. Sedangkan kelas VII K . diperoleh pretest dengan Sig. = 0,003 dan posttest dengan hasil Sig. = 0,017 menunjukkan bahwa data kelas kontrol tidak berdistribusi normal karena data yang diperoleh > 0,05. Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui data yang telah diperoleh bersifat homogen atau Suatu data dapat dikatakan bersifat homogen apabila nilai (Sig. ) Based on Means lebih besar dari > 0,05 maka data bersifat homogen. Adapun hasil rekap uji homohenitas pada tabel berikut Tabel 5. Hasil Uji Homogenitas Uji Levene Sig. 0,004 Keterangan Heterogen Dari hasil uji normalitas yang tidak berdistribusi normal dan uji homogenitas bersifat heterogen, maka uji statistik yang digunakan yaitu uji statistik non-paramentrik. Menurut (Sugiyono, 2. dalam penelitian pendidikan, data sering kali tidak berdistribusi normal, sehingga menggunakan statsitik non-parametrik. Dalam penelitian ini menggunakan Uji Wilcoxon yang dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan pada penggunaan pembelajaran TPS dengan media Wordwall terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik pada kelas eksperimen. jika nilai Sig. < 0,05 menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan. Dalam uji ini menggunakan pretest dan posttest pada kelas eksperimen. Berikut ini hasil dari Uji Wilcoxon Signed-Rank : Tabel 6. Hasil Uji Wilcoxon Signed-Rank Test Statisticsa POST - PRE Asymp. Sig. -taile. ,000 Wilcoxon Signed Rank test Based on negative ranks. Hasil Uji Wilcoxon Signed-Rank menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai pretest dan posttest. Dengan demikian pembelajaran yang diterapkan di kelas eksperimen VII I memberikan peningkatan yang signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis. Peserta didik memperoleh nilai Posttest lebih besar daripada pretest sebelumnya. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 1-12 Dalam penelitian ini juga menggunakan Uji Mann Whitney-U yang digunakan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis antara kelas eksperimen dan kelas kontrol setelah diberikan perlakuan yang berbeda. Tabel 7. Hasil Uji Mann Whitney U Test Statisticsa Nilai Mann-Whitney U Wilcoxon W Asymp. Sig. -taile. ,026 Grouping Variable: Kelas Berdasarkan hasil Uji Mann Whitney-U diperoleh Asymp. Sig. -taile. sebesar 0,026 , 0,05. Hal ini menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok. Kelas eksperimen yang diberikan model pembelajaran TPS dengan berbantuan media interaktif Wordwall memperoleh hasil posttest lebih tinggi daripada kelas kontrol yang hanya menggunakan model TPS tanpa media. Hal ini menunjukkan bahwa media Interaktif Wordwall yang dipadukan dengan model pembelajaran TPS berdampak posisitf terhadap peningkatan berpikir kritis peserta didik. Artinya, terdapat pengaruh setelah diberikannya perlakuan pada kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran TPS dengan media interaktif Wordwall. Berdasarkan hasil analisis data, pada kelas eksperimen yang diberikan perlakuan model Think Pair Share dengan media interaktif Wordwall menunjukkan peningkatan kemampuan berpikir kritis yang lebih signifikan daripada kelas kontrol yang hanya menggunakan model TPS tanpa media. Model pembelajaran TPS terdiri dari 3 tahap yaitu Think. Pair. Share. Setiap tahapan tersebut berhubungan erat dengan kemampuan berpikir kritis. Pada kelas eksperimen tahap Think, peserta didik diberikan waktu untuk mencermati topik materi potensi dan pemanfaatn Sumber Daya Alam di Indonesia yang dijelaskan oleh guru. Peserta didik diminta untuk memikirkan contoh dan jenis SDA yang ada di Indonesia dan pemanfaatannya, beserta dampak penggunaanyya terhadap lingkungan. Tahap ini selaras dengan indikator berpikir kritis menurut Ennis yaitu klasifikasi dasar dan memberikan alasan dalam suatu keputusan. Hal ini karena peserta didik untuk memahami informasi, mengklarifikasi konsep, dan memberikan penjelasan awal secara menadiri berdasarkan pengetahuan yang dimiliki. Selanjutnya pada tahap Pair, peserta didik ditugaskan untuk berpasang-pasangan yang nantinya untuk saling mendiskusikan hasil pemikirannya bersama pasangan masing-masing. Diskusi yang dilakukan bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk bertukar pikiran dan saling mengoreksi serta menyempurnakan pemahaman mereka. Pada tahap ini menggambarkan pada indikator kemampuan berpikir kritis yaitu klarifikasi lebih lanjut dan menyimpulkan. Hal ini dikarenakan peserta didik dihadapkan pada argumen dari teman sepasangnya dan bersama-sama membuat kesimpulan dari sudut pandang yang berbeda tersebut. Diskusi antar teman ini juga membantu mereka untuk memahami hubungan antar konsep seperti hubungan anatara jenis SDA dan cara pemanfaatannya secara berkelanjutan. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 1-12 Tahap yang terakhir yaitu Share, tahapan ini menharuskan peserta didik untuk mempresentasikan hasil diskusi bersama pasangan di depan kelas. Aktivitas ini tidak hanya melatih peserta didik dalam hal ketrampilan komunikasi dan keberanian, namun juga kemampuan berpikir kritis. Peserta didik harus menyusun informasi, menyampaikan pendapat, serta memberikan alasan dan solusi terhadap suatu persoalan yang telah didiskusikan dengan teman pasangan. Pada tahapan ini berkaitan erat dengan indikator Ennis yaitu strategi dan taktik. Peserta didik tidak hanya menyampaikan pendapat tetapi juga melatih peserta didik untuk menyusun penyelesaian masalah serta mempertahankan argumennya secara logis dan rasional. Penggunaan media interaktif Wordwall sebagai media di kelas eksperimen memberikan kontribusi positif yang signifikan terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis. Wordwall memberikan stimulus visual dan interaktif yang sangat membantu peserta dkidik dalam memahami materi potensi dan pemanfaatan SDA. Melalui beragam topik pembahasan yang telah disusun guru kemudian dimasukkan dalam fitur Open The Box. Dalam penggunaanya, peserta didik dibebaskan untuk memilih angka tertentu yang berisi topik untuk mereka bahas dan analisis. Melalui kuis berbasis game edukatif ini, peserta didik menjadi lebih antusias dan aktif dalam proses Kegiatan ini mendukung pembelajaran berbasis maslah dan menantang peserta didik untuk berpikir kritis terhadap fenomena nyata seperti kerusakan lingkungan akibat eksploitasi SDA. Jika dilihat dari teori belajar, penggunaan Wordwall selaras dengan teori konstruktivisme yaitu pengetahuan dibangun melalui pengalaman belajar aktif yang didukung dengan media konkret. Wordwall juga sesuai dengan prinsip Multimedia Learning dari Mayer . yang menyatakan bahwa belajar lebih efektif ketika informasi disajikan dalam bentuk teks, gambar, dan interaksi. Berbeda dengan kelas kontrol, yang menunjukkan tidak mengalami peningkatan kemampuan berpikir kritis jika dilihat dari indikator Ennis yaitu klarifikasi dasar, berupa mengidentifikasi informasi awal seperti pengertian sumber daya alam beserta contohnya. Kemudian kemampuan untuk memberikan alasan, menarik kesimpulan, dan memberikan strategi pemecahan masalah masih tergolong rendah. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan stimulus pembelajaran yang Tanpa bantuan media visual interaktif, peserta didik cenderung mengalami kesulitan dalam mengaitkan informasi antar konsep, menganalisis data , dan mengevalusai pilihan dari suatu tindakan dalam konteks pemanfaatan SDA. Model pembelajaran TPS yang digunakan kelas kontrol tetap memberikan struktur pembelajaran kooperatif memalui tahapan Think. Pair. Share. Namun, tanpa media pendukung Wordwall ini proses diskusi pada tahap Pair dan Share menjadi terbatas, baik dari sisi pembahasan dan variasi jawaban yang muncul. Aktivitas berpikir peserta didik lebih cenderung mengingat dan memahami, belum mencapai pada kemampuan analisis dan evaluasi sebagaiman dituntut dalam indikator menurut Ennis. Pembelajaran TPS tanpa dukungan media interaktif kurang efektif dalam menstimulasi ketrampilan berpikir kritis peserta didik. Tanpa adanya media yang menarik, peserta didik kurang berminat untuk berperan aktif dalam pembelajaran dan cepat merasa bosan dan jenuh. Hal tersebut sejalam dengan teroi konstruktivisme, menurut Burnner dan Vygotsky, pembelajaran yang bermakna terjadi ketika peserta didik aktif dalam mengontruksi pengetahuan melalui pengalaman langsung dan interaksi sosial. Penggunaan Wordwall ini memugkinkan peserta didik mengalami belajar intgeraktif yang menyenangkan secara visula dan lebih efektif daripada media yang masih sederhana (Maielfi et al. , 2. Berdasarkan teori berpikir kritis yang dikemukakan oleh Robert Ennis . menyatakan bahwa kemampuan berpikir kritis mencakup beberapa aktivitas seperti mengevaluasi argumen, menarik kesimpulan, dan menysusun pemikiran logis (Septiany et , 2. Penggunaan model TPS memberikan ruang bagi peserta didik untuk berpikir mandiri (Thin. , saling bertukar pendapat dengan teman (Pai. , dan menyampaikan hasil diskusi depan kelas (Shar. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 1-12 Kemudian dipadukan dengan media interaktif Wordwall peserta didik dapat terlibat dalam representasi konkret yang membantu mereka mengklarifikasi konsep, mengevaluasi jawabn, dan mengembangkan argumen yang berbasis data visual. Dari hasil penelitian, menunjukkan bahwa model pembelajaran TPS yang dipadukan dengan media interaktif Wordwall memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis pada peserta didik. Temuan ini diperkuat oleh beberapa penelitian terdahulu yang relevan. Penelitian oleh Junaidi. Taufik, dan Khairun Nisa . menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Dalam penelitian tersebut, terjadi peningkatan skor N-Gain yang signifikan pada kelas eksperimen, menunjukkan bahwa aktivitas berpikir individu, diskusi berpasangan, dan presentasi kelompok efektif dalam membentuk berpikir tingkat tinggi. Penelitian Mawaddah dkk . juga selaras dengan penelitian dimana media interaktif Wordwall terbukti mampu meingkatkan kemampuan berpikir kritis sekaligus komunikasi antar peserta didik. Dalam konteks pembelajaran TPS, fitur-fitur yang ada dalam Wordwall mampu membantu peserta didik memahami materi dengan cara lebih menyenangkan dan menantang, serta memfasilitasi proses berpikir yang reflektif dan analitis. Dari kedua penelitian tersebut, menunjukkan bahwa model pembelajaran TPS dengan media interaktif Wordwall memiliki pengaruh positif terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik. Kombinasi keduanya terbukti memberikan hasil yang lebih optimal. Model pembelajaran TPS mendorong proses berpikir kolaboratif dan reflektif sedangkan media interaktif Wordwall memberikan stimulus visual dan kompetitif yang membuat pembelajaran menjadi lebih interaktif dan menyenangkan. Dengan demikian, penelitian ini menguatkan hasil-hasil penelitian sebelumnya dan memberikan kontribusi tambahan berupa bukti bahwa penggabungan model pembelajaran TPS dan media interaktif Wordwall merupakan strategi yang efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam pembelajaran IPS, khususnya pada materi Potensi dan Pemanfaatan Sumber Daya Alam. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dengan media interaktif Wordwall berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik pada mata pelajaran IPS materi Potensi dan Pemanfaatan Sumber Daya Alam di MTsN 1 Surabaya. Hal ini dibuktikan melalui : Hasil uji Wilcoxon Signed-Rank pada kelas eksperimen menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (< 0,. yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara pretest dan posttest sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran TPS dengan media interaktif Wordwall mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Hasil Uji Mann Whitney-U antar kelas eksperimen dan kontrol menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,026 (<0,. yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nilai posttest antara kedua kelompok. Kelas eksperimen memperoleh nilai posttest lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Pada pembelajaran TPS (Think Pair Shar. peserta didik secara aktif dilatih untuk mengidentifikasi, menganalisis, mendiskusikan, dan menyampaikan gagasan yang Penggunaan Wordwall memperkuat proses beprikir kritis melalui penyajian informasi yang interaktif dan menyenangkan. Temuan ini memperkuat teori berpikir kritis Ennis dan teori konstruktivisme yang menyatakan bahwa keterlibatan aktif peserta didik serta penggunaan media konkret dapat meningkatkan pemahaman dan ketrampilan berpikir tingkat tinggi. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 1-12 Dengan demikian, penerapan model pembelajaran TPS yang dipadukan dengan media interaktif Wordwall dapat dijadikan altyernatif strategi pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam pembelajaran IPS. DAFTAR PUSTAKA