Journal of Management. Accounting and Business Research (JMABR) Vol. Juni 2025: 1 - 26 DOI:10. 51170/jmabr. The Influence of Market Size. Trade Openness. Inflation. And Financial Development on FDI in Indonesia Sharon Rayadi. * . Eko Agus Endarto. A Management. Multimedia Nusantara University. Tangerang. Indonesia Management. Multimedia Nusantara University. Tangerang. Indonesia *sharonrayadi57@gmail. Abstract This study investigates the empirical relationship between foreign direct investment (FDI) and several macroeconomic indicators, namely market size, trade openness, inflation, and financial development. FDI refers to capital investments made by foreign entities in a host country, offering potential benefits such as job creation, technology transfer, managerial expertise, and expanded access to global markets through exports. The research focuses on macroeconomic variables: market size, trade openness, inflation, and financial development, as key determinants of FDI. Using purposive sampling, the study analyzes secondary annual time-series data spanning from 1994 to 2023. The analysis is conducted through multiple linear regression techniques. The findings indicate that . market size significantly and positively affects FDI. trade openness also has a significant positive effect. inflation shows no significant or negative impact. financial development significantly and positively influences FDI. collectively, the four macroeconomic variables have a significant combined effect on FDI. Keywords: Market Size. Trade Openness. Inflation. Financial Development. Foreign Direct Investment (FDI) Article history: Received June 17th 2025. Accepted June 18th 2025. Available online June 30th 2025 PENDAHULUAN Pembangunan ekonomi merupakan tujuan utama setiap negara guna mewujudkan kesejahteraan masyarakatnya. Salah satu indikator penting dalam mengukur keberhasilan pembangunan ekonomi adalah laju pertumbuhan ekonomi (Pratama & Gischa, 2. Untuk meningkatkan pertumbuhan ini, negara perlu memperbesar kapasitas permodalan melalui peningkatan investasi, penerimaan, dan simpanan nasional. Namun, sebagai negara berkembang. Indonesia menghadapi tantangan dalam meningkatkan laju permodalannya (Anwar, 2. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah membuka pintu bagi investasi asing sebagai salah satu strategi percepatan pertumbuhan ekonomi, terutama di sektor-sektor yang belum mampu dijangkau oleh modal domestik (Simatupang, 2. Menurut Harianto dan Sudomo . alam Shaid, 2. , investasi merupakan aktivitas penempatan dana pada satu atau lebih aset dalam periode tertentu dengan harapan memperoleh pendapatan atau kenaikan nilai aset. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2007 Pasal 1 Ayat 3 mendefinisikan investasi asing sebagai aktivitas penanaman modal oleh pihak asing secara mandiri maupun bersama investor domestik di wilayah Indonesia (OJK, 2. Investasi asing dapat berbentuk investasi tidak langsung JMABR Rayadi & Endarto . ortfolio investmen. dan investasi langsung . oreign direct investment/FDI), dengan FDI dianggap lebih berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi (Jamil & Hayati, 2. Menurut OECD . alam Yolanda et al. , 2. FDI adalah investasi lintas negara di mana investor memiliki kepentingan jangka panjang dalam perusahaan negara tujuan. Selain memberikan modal. FDI turut mendorong transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta pembukaan akses pasar internasional. FDI juga memainkan peran penting dalam ekspansi modal, penciptaan lapangan kerja, inovasi, dan peningkatan produktivitas (DoroyEska & DoroyEski, 2. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, pendapatan negara tahun 2023 mencapai Rp2. 774,3 triliun, meningkat 5,3% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, pendapatan ini hanya menutupi 88,87% dari total belanja negara sebesar Rp3. 121,9 triliun, sehingga terjadi defisit sebesar Rp347,6 triliun. Salah satu faktor penyumbang pembelanjaan besar adalah proyek pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) yang menyerap sekitar 19Ae20% dari estimasi total biaya Rp466 triliun (Farisa, 2022. Hikam, 2. Hingga awal 2024, investasi yang berhasil dihimpun untuk proyek IKN sebesar Rp47,5 triliun, masih di bawah target Rp100 triliun (Putra, 2. Untuk menutup defisit ini, pemerintah melakukan berbagai strategi, termasuk penjualan aset, penerbitan utang, privatisasi BUMN, hingga pencetakan uang (Elisabeth & Sugiyanto. Namun, salah satu pendekatan yang paling sering dilakukan adalah mengundang FDI, terutama karena Indonesia menjadi salah satu negara di Asia Tenggara yang menarik minat investor dari Amerika Serikat dan Eropa (Kemenko Perekonomian, 2. Pada kuartal I tahun 2024, realisasi FDI mencapai Rp204,4 triliun, meningkat 15,5% . ear-on-yea. , tertinggi sepanjang sejarah investasi asing di Indonesia (Rahayu & Djumena. Kenaikan ini merupakan hasil dari berbagai upaya pemerintah, antara lain: . diversifikasi pasar ekspor, khususnya ke Amerika Latin dan Afrika. digitalisasi sektor- sektor strategis seperti manufaktur dan pertanian. pengembangan ekonomi hijau dan transisi energi. penguatan program bantuan sosial dan pemberdayaan UMKM (Elena. Namun, sejarah menunjukkan bahwa FDI sangat dipengaruhi oleh kondisi global. Selama krisis Asia 1997Ae1998. Indonesia mencatat penurunan tajam nilai FDI dari US$4,68 miliar menjadi -US$240 juta akibat hilangnya kepercayaan investor (Lindblad, 2. Pemulihan mulai terlihat sejak 2006 seiring reformasi investasi oleh Presiden Yudhoyono. Namun, krisis Subprime Mortgage di AS tahun 2009 kembali menekan arus FDI (Putri & Wilantari, 2. Krisis ekonomi global lainnya, seperti Brexit, penurunan harga minyak, serta kebijakan proteksionisme Donald Trump, turut melemahkan sentimen investor dan FDI di tahun 2016 (Setiawan, 2. Pandemi COVID-19 juga memukul aliran modal global dan menyebabkan penurunan tajam FDI di Indonesia pada tahun 2020 (Moosa & Merza, 2. JMABR Journal of Management. Accounting and Business Research (JMABR) Vol. Juni 2025: 1 - 26 DOI:10. 51170/jmabr. Periode 1994Ae2023 dipilih karena mencakup berbagai fase penting dalam ekonomi Indonesia, termasuk krisis finansial Asia, krisis global 2008, dan pandemi COVID-19. Rentang waktu ini memberikan gambaran komprehensif atas dinamika FDI dalam konteks stabilitas dan ketidakpastian ekonomi global. Analisis terhadap periode krisis memungkinkan identifikasi titik balik signifikan dalam aliran FDI serta memahami bagaimana variabel makroekonomi seperti market size, trade openness, inflation, dan financial development memengaruhi FDI di masa stabil maupun krisis. Market size mencerminkan potensi konsumsi dan daya beli masyarakat suatu negara, yang menjadi pertimbangan utama bagi investor. Negara dengan market size besar cenderung menarik FDI karena menjanjikan skala ekonomi dan potensi keuntungan yang lebih besar (Rahayu & Pasaribu, 2. Ukuran market size sering direpresentasikan oleh GDP per capita (Yolanda et al. , 2. Meskipun Indonesia berada di peringkat ke-5 di ASEAN dalam hal GDP per capita, besarnya jumlah penduduk menjadikan Indonesia pasar yang sangat menarik, meski tingkat pendapatan per kapitanya belum tergolong tinggi. Tingkat keterbukaan perdagangan mencerminkan potensi interaksi ekonomi lintas batas, yang dapat meningkatkan efisiensi dan daya saing. Pada 2023. Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar US$36,97 miliar, dengan ekspor dominan dari sektor energi dan logam (Ramli & Djumena, 2. Data menunjukkan hubungan positif antara trade openness dan FDI, meskipun terdapat fluktuasi dalam tren lima tahun terakhir, mengindikasikan adanya konteks lain yang turut mempengaruhi keputusan investasi (Agudze & Ibhagui, 2. Inflasi merupakan indikator stabilitas harga dan daya beli masyarakat. Tingkat inflasi yang tinggi dipandang negatif oleh investor karena menurunkan nilai riil investasi (Tambunan. Pada Juli 2024, inflasi Indonesia tercatat 2,1%, tergolong moderat di antara negara- negara Asia. Namun, hubungan inflasi dan FDI masih menjadi perdebatan di kalangan akademisi, dengan sebagian penelitian menemukan korelasi positif, dan sebagian lainnya negatif (Dewi et al. , 2023. Tu, 2. Perkembangan sistem keuangan mempengaruhi kemudahan akses pembiayaan bagi Indikator umum yang digunakan adalah rasio kredit domestik terhadap sektor swasta oleh perbankan (%GDP) (Desbordes & Wei, 2. Meskipun beberapa studi menunjukkan hubungan positif antara financial development dan FDI, data Indonesia menunjukkan ketidakkonsistenan dalam tren lima tahun terakhir (MuAoadzah & Sukarniati. Melihat ketidakkonsistenan hasil penelitian sebelumnya dan dinamika kondisi ekonomi global maupun domestik, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis lebih lanjut pengaruh market size, trade openness, inflation, dan financial development terhadap foreign direct JMABR Rayadi & Endarto . investment (FDI) di Indonesia dalam periode 1994Ae2023. Oleh karena itu, berikut ini adalah rumusan masalah yang dikaji dalam penelitian ini: Apakah Market Size berpengaruh positif terhadap Foreign Direct Investment di Indonesia tahun 1994-2023? Apakah Trade Openness berpengaruh positif terhadap Foreign Direct Investment di Indonesia tahun 1994-2023? Apakah Inflation berpengaruh negatif terhadap Foreign Direct Investment di Indonesia tahun 1994-2023? Apakah Financial Development berpengaruh positif terhadap Foreign Direct Investment di Indonesia tahun 1994-2023? Apakah Market Size. Trade Openness. Inflation, dan Financial Development secara simultan berpengaruh terhadap Foreign Direct Investment di Indonesia tahun 19942023? TINJAUAN PUSTAKA Foreign Direct Investment Menurut Khoidin . , penanaman modal mencakup aktivitas investasi yang dilakukan oleh individu maupun badan usaha, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Investasi ini dibedakan menjadi dua jenis, yaitu: Investasi Langsung (Direct Investmen. : Merupakan bentuk investasi di mana investor turut serta secara aktif dalam pengelolaan perusahaan. Keterlibatan ini dapat dilakukan melalui pembentukan perusahaan patungan . oint ventur. , akuisisi, pemberian lisensi, atau dukungan teknis dan manajerial. Investasi Tidak Langsung (Indirect Investmen. : Juga dikenal sebagai portfolio investment, yaitu investasi bersifat jangka pendek yang dilakukan melalui pembelian instrumen keuangan seperti saham atau valuta asing. Tujuan utamanya adalah memperoleh keuntungan dari pergerakan harga di pasar modal dan pasar uang. FDI, atau investasi asing langsung, adalah bentuk investasi di mana investor dari luar negeri menanamkan modalnya di negara tujuan dengan tujuan memperoleh pengaruh dan kendali jangka panjang atas suatu entitas bisnis lokal (Krugman, 1. Menurut Fernandez et al. , negara penerima FDI membuka akses bagi investor asing untuk berinvestasi di dalam wilayahnya. FDI dianggap sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi karena memberikan beragam manfaat, seperti peningkatan lapangan kerja, transfer teknologi, peningkatan kemampuan manajerial, serta membuka jalur ekspor menuju pasar Lebih lanjut. Mu`adzah dan Sukarniati . menjelaskan bahwa keputusan investasi asing dipengaruhi oleh dua kategori variabel utama: variabel eksternal dan variabel Variabel eksternal mencakup pertumbuhan ekonomi negara tujuan dan JMABR Journal of Management. Accounting and Business Research (JMABR) Vol. Juni 2025: 1 - 26 DOI:10. 51170/jmabr. besarnya ukuran pasar yang tersedia . arket siz. Variabel internalisasi mengacu pada keunggulan yang dimiliki oleh perusahaan multinasional, seperti kestabilan politik, kekuatan ekonomi, akses terhadap modal, serta kapasitas inovasi. Faktor-faktor ekonomi yang mendukung seperti tenaga kerja yang terampil, teknologi canggih, dan kondisi makroekonomi yang stabil turut menjadi daya tarik bagi investor. Stabilitas politik juga menjadi faktor strategis, karena kebijakan pemerintah dan regulasi yang konsisten akan menciptakan lingkungan investasi yang aman. Sebaliknya, jika negara tujuan mengalami ketidakpastian politik atau terdampak krisis global, perusahaan multinasional akan menghadapi kesulitan dalam ekspansi atau mendirikan cabang di wilayah Market Size Ukuran pasar suatu negara sering kali dinilai melalui indikator GDP per capita, yang mencerminkan tingkat daya beli masyarakat dan kapasitas konsumsi domestik (Yolanda et , 2. Negara dengan GDP per capita tinggi dianggap menarik bagi investor asing karena menawarkan potensi keuntungan yang besar. Beberapa studi seperti oleh Faruq . Dang & Nguyen . , serta Yolanda et al. menunjukkan bahwa market size berperan positif dalam menarik arus Foreign Direct Investment (FDI). Mu`adzah dan Sukarniati . turut menegaskan bahwa semakin besar ukuran pasar suatu negara, semakin tinggi pula kemungkinan masuknya investasi asing. Hal ini disebabkan oleh besarnya potensi konsumen dan kemampuan belanja yang dimiliki masyarakat (Dewi et al. , 2. Secara empiris. Faruq . menganalisis 24 negara berkembang di Asia dalam periode 2002Ae2018 dan menemukan bahwa market size secara signifikan mendorong peningkatan FDI. Hasil tersebut konsisten dengan temuan Yolanda et al. pada negara-negara Asia Selatan dan Tenggara seperti Indonesia. Malaysia. Filipina. India. Bangladesh, dan Pakistan. Penelitian oleh Dang & Nguyen . juga memperkuat bukti bahwa GDP per capita di negara-negara ASEAN-7 berkontribusi positif terhadap FDI selama periode 1996Ae2019. Menariknya, ketika sampel dibagi berdasarkan periode sebelum dan sesudah krisis, hasilnya tetap menunjukkan bahwa ukuran pasar adalah salah satu faktor penarik utama bagi investor Hipotesis 1 (HA. : Market Size berpengaruh positif terhadap FDI di Indonesia. JMABR Rayadi & Endarto . Trade Openness Keterbukaan perdagangan menggambarkan sejauh mana suatu negara menjalankan aktivitas ekspor dan impor secara bebas tanpa hambatan yang berarti (Prawoto, 2. Negara dengan sistem ekonomi terbuka umumnya lebih menarik bagi investor asing karena memberikan akses yang lebih luas ke pasar global, meningkatkan efisiensi ekonomi, serta memperkuat integrasi antara pasar domestik dan internasional. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tingkat keterbukaan perdagangan . rade opennes. berkorelasi positif dengan peningkatan Foreign Direct Investment (FDI). Studi oleh MuAoadzah & Sukarniati . Dewi et al. , dan Haque et al. menegaskan bahwa semakin terbuka suatu negara terhadap perdagangan internasional, semakin besar peluang masuknya arus investasi asing langsung. Meskipun demikian, dalam jangka pendek efeknya bisa lebih terbatas, bergantung pada konteks dan preferensi investor. Manfaat utama dari ekonomi terbuka meliputi terbukanya akses pasar yang lebih luas, peningkatan penyerapan tenaga kerja, efisiensi produksi yang lebih baik, serta daya saing nasional yang meningkat (Ariska & Ariusni, 2. Tingkat trade openness biasanya diukur melalui rasio total nilai ekspor dan impor terhadap Produk Domestik Bruto (GDP), sebagaimana dijelaskan dalam studi oleh Pilinkien . Podikkalathil & Babu . , hingga Tu . Dalam konteks ASEAN-6 (Indonesia. Thailand. Filipina. Malaysia. Singapura, dan Vietna. Mu`adzah & Sukarniati . menunjukkan bahwa negara-negara dengan tingkat keterbukaan perdagangan yang tinggi memiliki peluang lebih besar dalam menarik FDI. Hasil ini juga diperkuat oleh Dewi et al. , yang menyatakan bahwa semakin rendah hambatan perdagangan . rade barrie. , semakin tinggi potensi keuntungan yang dapat diraih oleh Haque et al. , melalui analisis terhadap 53 negara berpendapatan menengah . iddle-income countrie. , menyimpulkan bahwa trade openness memberikan dampak positif yang signifikan terhadap arus FDI dalam jangka panjang. Namun, dalam jangka pendek, pengaruhnya cenderung lebih lemah. Penelitian Tu . pun menguatkan temuan ini dengan menyatakan bahwa meskipun dampaknya tidak selalu besar, trade openness tetap menjadi faktor penting yang dipertimbangkan investor asing. Perbedaan preferensi di antara investor juga turut memengaruhi respons terhadap tingkat keterbukaan perdagangan. Sebagian investor lebih memilih pasar yang terbuka untuk menghindari hambatan dan menekan biaya transaksi, sementara yang lain justru memilih pasar dengan hambatan perdagangan tertentu untuk mengurangi tingkat persaingan. Hipotesis 2 (HA. : Trade Openness berpengaruh positif terhadap FDI di Indonesia. JMABR Journal of Management. Accounting and Business Research (JMABR) Vol. Juni 2025: 1 - 26 DOI:10. 51170/jmabr. Inflation Inflasi merupakan indikator penting yang mencerminkan stabilitas harga dalam suatu Tingkat inflasi yang tinggi umumnya dipersepsikan sebagai sinyal risiko ekonomi yang negatif, terutama oleh para investor asing (Tambunan, 2. Hal ini disebabkan karena fluktuasi inflasi berpotensi menciptakan ketidakpastian dalam iklim usaha, sehingga pemerintah selalu berupaya menjaga inflasi pada tingkat rendah dan stabil demi menjamin keberlanjutan pertumbuhan ekonomi (Rozani et al. , 2. Kenaikan inflasi biasanya berdampak langsung terhadap meningkatnya biaya produksi Jika kenaikan tersebut tidak diimbangi oleh peningkatan harga jual yang sepadan, maka margin keuntungan perusahaan akan menyusut. Selain itu, inflasi yang tinggi menyebabkan turunnya daya beli masyarakat, sehingga menurunkan potensi permintaan Akibatnya, banyak investor menganggap inflasi sebagai hambatan dalam membuat keputusan investasi (Tambunan, 2. Inflasi yang tidak terkendali juga meningkatkan risiko kegagalan usaha dan membuat suatu negara menjadi kurang atraktif sebagai tujuan investasi (Dewi et al. , 2. Dalam mengukur tingkat inflasi, indikator yang paling umum digunakan adalah Consumer Price Index (CPI). Beberapa studi yang menggunakan indikator ini antara lain dilakukan oleh Agudze & Ibhagui . Dewi et al. , dan Tu . Secara empiris. Agudze & Ibhagui . melakukan studi terhadap 74 negara yang terbagi menjadi kelompok negara industri dan non-industri. Hasilnya menunjukkan bahwa inflasi memiliki pengaruh negatif terhadap FDI, terutama di negara-negara industri. Semakin tinggi tingkat inflasi, semakin rendah pula minat investor untuk menanamkan modalnya. Salah satu alasan mengapa negara industri tetap dapat menarik FDI meskipun biaya tenaga kerja relatif tinggi adalah karena mereka memiliki tingkat inflasi yang rendah dan stabil. Penelitian serupa oleh Haque et al. juga menunjukkan hubungan negatif dan signifikan antara inflasi dan FDI, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, khususnya di negara-negara berpendapatan menengah. Tu . mendukung temuan ini, dengan menyatakan bahwa inflasi yang meningkat menandakan ketidakstabilan pasar, sehingga menurunkan minat investor karena ekspektasi keuntungan yang diperoleh tidak sebanding dengan risiko kerugian akibat inflasi. Secara keseluruhan, temuan dari berbagai studi tersebut memperkuat pandangan bahwa inflasi berdampak negatif terhadap arus masuk Foreign Direct Investment, karena mengganggu kestabilan ekonomi, meningkatkan biaya produksi, dan mengurangi daya tarik pasar negara tujuan investasi. Hipotesis 3 (HA. : Inflation berpengaruh negatif terhadap FDI di Indonesia. JMABR Rayadi & Endarto . Financial Development Perkembangan sektor keuangan merupakan indikator penting yang mencerminkan efisiensi, aksesibilitas, dan kualitas sistem keuangan suatu negara. Salah satu ukuran yang umum digunakan untuk menilai tingkat perkembangan keuangan adalah rasio kredit domestik kepada sektor swasta oleh perbankan terhadap Produk Domestik Bruto (GDP), atau dikenal sebagai domestic credit to private sector by banks (%GDP) (Desbordes & Wei, 2. Negara dengan sistem keuangan yang maju umumnya mampu menyalurkan sumber daya secara lebih efisien, termasuk dalam mendukung pembiayaan eksternal dan memfasilitasi penanaman modal asing. Sistem keuangan yang kuat memungkinkan investor asing memperoleh akses yang lebih mudah terhadap layanan keuangan, yang pada akhirnya mendorong peningkatan arus masuk Foreign Direct Investment (FDI) (Mu`adzah & Sukarniati. Kemampuan sistem keuangan dalam mengalokasikan pembiayaan secara optimal juga berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperkuat aktivitas perdagangan internasional. Berbagai studi mendukung pandangan tersebut. Irandoust . , dalam penelitiannya terhadap negara-negara seperti Armenia. Azerbaijan. Georgia. Tajikistan. Kyrgyzstan, dan Uzbekistan, menunjukkan bahwa perkembangan sektor keuangan memiliki pengaruh positif terhadap FDI. Hal yang sama disampaikan oleh Podikkalathil & Babu . , yang menemukan bahwa negara-negara dengan pasar keuangan yang lebih mapan cenderung menarik lebih banyak FDI, terutama dalam sektor jasa keuangan. Sebagai alat ukur, domestic credit to private sector by banks (%GDP) telah digunakan secara luas dalam berbagai penelitian untuk mengukur tingkat kemajuan keuangan suatu Studi-studi oleh Islam et al. Agudze & Ibhagui . Magbondy & Konty . , serta Osei & Kim . juga menunjukkan hubungan positif antara indikator tersebut dengan arus masuk FDI. Secara keseluruhan, semakin maju sistem keuangan suatu negara, semakin tinggi pula peluang masuknya investasi asing langsung. Hal ini disebabkan oleh efisiensi pembiayaan, kemudahan akses modal, serta kestabilan infrastruktur keuangan yang mampu menciptakan lingkungan investasi yang kondusif. Hipotesis 4 (HA. : Financial Development berpengaruh positif terhadap FDI di Indonesia. Pengaruh Simultan Variabel Makroekonomi terhadap FDI Sejumlah penelitian terdahulu menunjukkan bahwa variabel-variabel makroekonomi memiliki pengaruh secara bersamaan terhadap arus masuk Foreign Direct Investment (FDI). Studi oleh Dewi et al. Fiona & Laulita . Aslam & Rudatin . , dan Yolanda et JMABR Journal of Management. Accounting and Business Research (JMABR) Vol. Juni 2025: 1 - 26 DOI:10. 51170/jmabr. secara konsisten menyatakan bahwa kombinasi faktor-faktor seperti market size, keterbukaan perdagangan . rade opennes. , tingkat inflasi, dan perkembangan keuangan . inancial developmen. berdampak signifikan terhadap keputusan investasi asing di suatu Dalam kajian yang dilakukan Dewi et al. , ditemukan bahwa tidak hanya tarif pajak penghasilan badan, tetapi juga indikator-indikator makroekonomi tersebut secara simultan berpengaruh terhadap besarnya arus FDI yang diterima negara. Sementara itu. Fiona & Laulita . menyoroti bahwa lima variabelAiyaitu inflasi, tingkat suku bunga, nilai tukar, indeks persepsi korupsi, dan keterbukaan perdaganganAisecara bersamaan memengaruhi FDI secara signifikan dalam konteks negara-negara berkembang. Temuan serupa juga diungkapkan oleh Aslam & Rudatin . , yang meneliti negara- negara kawasan ASEAN . ermasuk Indonesi. selama periode 2010Ae2019. Mereka menyimpulkan bahwa variabel inflasi. Produk Domestik Bruto (PDB), suku bunga. Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dan trade openness secara kolektif berpengaruh signifikan terhadap FDI. Lebih lanjut. Podikkalathil & Babu . menekankan adanya pergerakan bersama dalam jangka panjang antara FDI di sektor jasa keuangan, perkembangan sistem keuangan, modal domestik. FDI di sektor manufaktur. FDI di sektor non-keuangan, serta keterbukaan Hal ini mengindikasikan bahwa FDI tidak hanya dipengaruhi oleh faktor individual, tetapi oleh sinergi antara berbagai aspek struktural ekonomi. Penelitian oleh Yolanda et al. memperkuat argumen ini dengan menyatakan bahwa variabel inflasi, upah, nilai tukar, market size, dan trade openness secara simultan memberikan kontribusi signifikan terhadap FDI, dengan tingkat pengaruh mencapai 79,9%. Sisanya, sebesar 19,1%, dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian mereka. Secara keseluruhan, hasil-hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa FDI bukanlah hasil dari satu variabel tunggal, melainkan dipengaruhi oleh kombinasi dari berbagai variabel makroekonomi secara simultan. Hipotesis 5 (HA. : Keempat variabel tersebut berpengaruh secara simultan terhadap FDI di Indonesia. JMABR Rayadi & Endarto . METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang bertujuan untuk menganalisis pengaruh market size, trade openness, inflation, dan financial development terhadap foreign direct investment (FDI), baik secara parsial maupun simultan. Objek yang diteliti mencakup faktor-faktor makroekonomi yang dianggap berperan dalam mempengaruhi arus masuk FDI ke Indonesia. Data yang digunakan merupakan data time series tahunan dari periode 1994 Analisis statistik dalam penelitian ini bertujuan untuk menguji signifikansi hubungan antar variabel. Oleh karena itu, arah hubungan yang ditemukan akan sangat ditentukan oleh hasil uji statistik, bukan hanya berdasarkan logika atau asumsi teoretis semata (Abdullah et , 2. Dalam menentukan sampel, peneliti menggunakan metode Non-Probability Sampling dengan teknik Purposive Sampling, yakni pemilihan sampel berdasarkan kriteria tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitian. Mengacu pada pendapat Roscoe dalam Amin et al. , ukuran sampel yang layak dalam penelitian berkisar antara 30 hingga 500. Dengan demikian, penelitian ini menggunakan 30 data observasi tahunan, yang terdiri dari data FDI dan keempat variabel makroekonomi terkait, yaitu market size, trade openness, inflation, dan financial development selama periode 1994Ae2023. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yakni data yang diperoleh dari sumber resmi dan telah tersedia sebelumnya. Data dikumpulkan dari situs World Bank . ttps://datacatalog. org/search/dataset/0037. , dan dianalisis menggunakan metode regresi linear berganda untuk mengetahui hubungan antar variabel. Operasionalisasi Variabel Variabel dalam penelitian ini adalah karakteristik yang diukur dan dianalisis untuk menarik kesimpulan terhadap fenomena yang diteliti. Penelitian ini melibatkan dua jenis variabel, yaitu: Variabel bebas . ndependen/X): market size, trade openness, inflation, dan financial development. Variabel terikat . ependen/Y): foreign direct investment (FDI). Berikut adalah definisi operasional masing-masing variabel: FDI : Jumlah investasi asing langsung yang masuk ke Indonesia dibandingkan dengan GDP negara tersebut. Foreign direct investment, net inflows (% of GDP ), berdasarkan Tu . Market Size : Pendapatan rata-rata per individu dalam suatu negara yang menunjukan potensi permintaan produksi domestik suatu negara. GDP per capita . urrent US$), berdasarkan Shuaibu et al. Trade Openness : Tingkat keterbukaan suaty negara dalam melakukan perdagangan Exports of goods and services (% of GDP) Imports of goods and services (% of GDP), berdasarkan Tu . JMABR Journal of Management. Accounting and Business Research (JMABR) Vol. Juni 2025: 1 - 26 DOI:10. 51170/jmabr. Inflation : Kenaikan harga barang dan jasa secara berkelanjutan dalam jangka waktu yang relatif panjang. Inflation, consumer prices . nnual %), berdasarkan Tu . FDV : Persentase kredit domestik yang dialokasikan ke sektor swasta oleh bank dibandingkan dengan GDP negara tersebut (% of GDP), berdasarkan Tu . HASIL PENELITIAN Tabel 1. Hasil Statistik Deskriptif Variabel FDI MAR TRA INF FDV Min -2,76 459,19 32,97 1,56 18,15 Max 2,92 940,55 96,19 58,45 60,82 Mean 1,30 435,23 52,30 8,48 32,04 Std Dev 1,41 458,86 12,65 10,23 11,50 Penelitian ini menggunakan lima variabel utama, yaitu Foreign Direct Investment (FDI). Market Size (MAR). Trade Openness (TRA). Inflation (INF), dan Financial Development (FDV), dengan data tahunan dari 1994 hingga 2023. Pada tabel 1, ringkasan hasil statistik deskriptif masing-masing variabel dipaparkan. Nilai FDI berkisar antara Ae2,76% hingga 2,92% terhadap GDP, dengan rata-rata sebesar 1,30% dan standar deviasi 1,41. Nilai terendah terjadi pada tahun 2000 pasca-krisis moneter 1997Ae1998, sementara nilai tertinggi tercatat pada 2005, didorong oleh reformasi kebijakan investasi. Variabel ini diukur melalui GDP per capita, yang berkisar dari US$ 459,19 hingga US$ 940,55, dengan rata-rata US$ 2. 435,24 dan standar deviasi US$ 1. 458,86. Nilai terendah terjadi pada tahun 1998 saat krisis ekonomi dan politik, sedangkan nilai tertinggi pada 2023 menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang konsisten selama tiga dekade. Tingkat keterbukaan perdagangan Indonesia berada di kisaran 32,97% hingga 96,19% terhadap GDP, dengan rata-rata 52,30% dan standar deviasi 12,65. Nilai minimum terjadi pada 2020 akibat dampak pandemi COVID-19, sedangkan nilai maksimum tercatat pada 1998 ketika depresiasi rupiah meningkatkan daya saing ekspor. Inflasi berada dalam rentang 1,56% hingga 58,45%, dengan rata-rata 8,48% dan standar deviasi 10,23. Inflasi terendah terjadi pada 2021 saat harga pangan dan energi relatif stabil, sedangkan lonjakan tertinggi terjadi pada 1998 akibat krisis moneter. Variabel ini diukur dari kredit domestik kepada sektor swasta oleh perbankan (% terhadap GDP), dengan nilai antara 18,16% hingga 60,82%, rata-rata 32,04%, dan standar deviasi 11,50. Nilai minimum tercatat JMABR Rayadi & Endarto . pada 2001 sebagai dampak kehati-hatian perbankan pasca-krisis, sementara nilai maksimum terjadi pada 1997 saat kredit tumbuh pesat sebelum krisis. Sebelum dilakukan pengujian regresi, uji asumsi klasik terkait multikolinearitas, autokorelasi, dan heteroskedastisitas juga dilakukan pada model regresi. Data mengalami transformasi log 10 supaya distribusi data sama dengan distribusi normal. Setelah transformasi hasil p-value dari uji Kolmogorov Smirnoff adalah 0,2. Dengan demikian distribusi data, terdistribusi normal. Untuk hasil pengujian uji asumsi klasik dirangkum dalam tabel 2 berikut ini. Semua hasil uji asumsi klasik memenuhi kriteria minimum. Berdasarkan hasil uji statistik F, diperoleh nilai sebesar 7,24, yang lebih tinggi dibandingkan nilai F tabel . , dengan nilai signifikansi di bawah 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa variabel Market Size (MAR). Trade Openness (TRA). Inflation (INF), dan Financial Development (FDV) secara bersama-sama . berpengaruh signifikan terhadap Foreign Direct Investment (FDI) di Indonesia. Temuan ini sejalan dengan penelitian Dewi et al. , yang menyimpulkan bahwa tarif pajak penghasilan badan dan sejumlah indikator makroekonomi, termasuk market size, trade openness, inflasi, dan natural resources rent, memiliki pengaruh simultan terhadap arus FDI. Penelitian Fiona & Laulita . juga mendukung hasil ini, di mana kelima variabelAi inflasi, suku bunga, nilai tukar, indeks persepsi korupsi, dan keterbukaan perdaganganAi terbukti berpengaruh signifikan secara simultan terhadap FDI. Demikian pula. Aslam & Rudatin . menemukan bahwa inflasi. PDB, suku bunga. Indeks Pembangunan Manusia, dan trade openness secara simultan berpengaruh signifikan terhadap FDI di negara-negara ASEAN pada periode 2010Ae2019. Lebih lanjut. Podikkalathil & Babu . mencatat adanya pergerakan bersama dalam jangka panjang antara FDI di sektor keuangan, pengembangan sektor keuangan, modal domestik. FDI di sektor manufaktur dan non-keuangan, serta keterbukaan perdagangan. Senada dengan itu. Yolanda et al. juga menjelaskan bahwa secara simultan, variabel inflasi, upah, nilai tukar, market size, dan trade openness memiliki pengaruh signifikan terhadap FDI, dengan kontribusi sebesar 79,9%, sementara sisanya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diamati dalam penelitian tersebut. Persamaan regresi yang diperoleh sebagai berikut: FDI = -9,927 1,545 MAR 0,036 TRA Ae 0,005 INF 2,103 FDV e Berdasarkan hasil estimasi model, nilai intersep sebesar -9,927 menunjukkan bahwa jika seluruh variabel independen, yaitu Market Size (MAR). Trade Openness (TRA). Inflation (INF), dan Financial Development (FDV) berada pada nilai nol, maka nilai Foreign Direct Investment (FDI) diperkirakan sebesar -9,927. Koefisien untuk market size sebesar 1,545 JMABR Journal of Management. Accounting and Business Research (JMABR) Vol. Juni 2025: 1 - 26 DOI:10. 51170/jmabr. mengindikasikan bahwa setiap peningkatan GDP per kapita sebesar satu satuan akan meningkatkan FDI sebesar 1,545, dengan asumsi variabel lainnya tetap. Selanjutnya, koefisien trade openness sebesar 0,036 menunjukkan bahwa peningkatan keterbukaan perdagangan sebesar satu satuan akan mendorong kenaikan FDI sebesar 0,036. Sementara itu, koefisien financial development sebesar 2,103 berarti bahwa setiap peningkatan kredit domestik kepada sektor swasta sebesar satu satuan akan meningkatkan FDI sebesar 2,103, dengan asumsi variabel lainnya konstan. Adapun nilai koefisien determinasi . djusted RA) sebesar 0,510 mengindikasikan bahwa 51,0% variasi dalam FDI dapat dijelaskan oleh keempat variabel independen tersebut. Sisa 49,0% dijelaskan oleh faktor lain di luar model. Selain itu, nilai Standard Error of the Estimate (SEE) sebesar 0,23172 menunjukkan bahwa model regresi ini memiliki tingkat akurasi yang cukup baik dalam memprediksi nilai FDI, karena nilai SEE yang relatif kecil mencerminkan deviasi yang rendah dari prediksi model terhadap data aktual. DISKUSI DAN PEMBAHASAN Pengaruh Market Size terhadap FDI Hasil analisis menunjukkan bahwa Market Size berpengaruh positif dan signifikan terhadap Foreign Direct Investment (FDI) di Indonesia. Hal ini ditunjukkan oleh nilai koefisien sebesar 1,545 dan nilai signifikansi 0,000, lebih kecil dari 0,05, yang mengindikasikan hubungan yang kuat secara statistik. Temuan ini mendukung teori ekonomi yang menyatakan bahwa peningkatan GDP mendorong konsumsi dan permintaan barang dan jasa, sehingga menciptakan peluang keuntungan bagi investor. Oleh karena itu, pasar yang besar menarik lebih banyak investasi Penelitian ini sejalan dengan studi sebelumnya seperti oleh Dewi et al. Demirhan & Masca . Sharma & Bandara . , serta Chakrabarti . , yang semuanya menegaskan pentingnya market size sebagai penentu arus FDI ke suatu negara. Pengaruh Trade Openness terhadap FDI Uji statistik menunjukkan bahwa variabel Trade Openness (TRA) memiliki nilai koefisien unstandardized B sebesar 0,036 dengan nilai t hitung sebesar 2,731, yang melebihi t tabel sebesar 1,701. Dengan hasil ini, hipotesis nol (HCACC) ditolak dan hipotesis alternatif (HCaCC) diterima, menandakan bahwa Trade Openness berpengaruh positif terhadap Foreign Direct Investment (FDI). Nilai signifikansi yang diperoleh sebesar 0,013, lebih kecil dari ambang batas 0,05, memperkuat bahwa pengaruh ini signifikan secara statistik. JMABR Rayadi & Endarto . Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat keterbukaan perdagangan Indonesia, semakin besar pula potensi masuknya FDI sepanjang periode Negara yang aktif dalam perdagangan internasional cenderung lebih menarik bagi investor asing. Temuan ini sejalan dengan pandangan Kumari & Sharma . dalam Mu`adzah & Sukarniati . yang menyatakan bahwa perdagangan yang terbuka meningkatkan peluang masuknya FDI dan mempererat keterkaitan antara pasar lokal dan Selain itu. Hoang . dalam Dewi et al. menekankan bahwa pengurangan hambatan perdagangan mampu menurunkan biaya dan meningkatkan efisiensi produksi, sehingga memberikan insentif tambahan bagi investor. Zuhroh & Harpiyansa . , sebagaimana dikutip oleh Dewi et al. , juga menekankan bahwa banyak investor asing menanamkan modal untuk mendukung kegiatan ekspor dan memanfaatkan keunggulan komparatif negara tujuan. Oleh sebab itu, karakteristik ekspor menjadi daya tarik utama dalam arus masuk FDI ke negara yang memiliki tingkat keterbukaan perdagangan tinggi. Pengaruh Inflation terhadap Foreign Direct Investment Analisis statistik menunjukkan bahwa variabel Inflation (INF) memiliki koefisien unstandardized B sebesar Ae0,005 dan nilai t hitung sebesar Ae0,12, yang lebih rendah dibandingkan nilai t tabel 1,701. Dengan demikian, hipotesis nol (HCACE) diterima dan hipotesis alternatif (HCaCE) ditolak, yang berarti inflasi tidak memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap Foreign Direct Investment (FDI). Selain itu, nilai signifikansi yang tercatat adalah 0,990, jauh melampaui ambang 0,05, sehingga secara statistik pengaruhnya dinyatakan tidak Dengan kata lain, selama periode penelitian, tingkat inflasi di Indonesia tidak menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap arus masuk FDI. Meskipun dalam teori inflasi sering dianggap sebagai faktor risiko bagi investor, hasil ini tidak mendukung asumsi tersebut dalam konteks empiris yang diteliti. Temuan ini berbeda dengan hasil penelitian Haque et al. Okafor et al. , dan Agudze & Ibhagui . , yang menunjukkan bahwa inflasi berdampak negatif terhadap FDI. Namun demikian, hasil penelitian ini sejalan dengan studi Fiona & Laulita . serta Aslam & Rudatin . , yang juga menemukan bahwa inflasi tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap investasi asing langsung. Salah satu penjelasan yang mungkin adalah bahwa selama periode pengamatan, inflasi di kawasan ASEAN relatif stabil dan tidak menunjukkan lonjakan tajam yang mengkhawatirkan investor. Karena FDI merupakan investasi jangka panjang, fluktuasi inflasi jangka pendek biasanya tidak menjadi alasan utama untuk menarik atau menghentikan Ratih . dalam Aslam & Rudatin . juga mengemukakan bahwa di negara berkembang, masyarakat dan pelaku usaha sudah terbiasa dengan pola inflasi yang relatif Selama inflasi tetap berada pada tingkat moderat, umumnya di bawah 10% per tahun. JMABR Journal of Management. Accounting and Business Research (JMABR) Vol. Juni 2025: 1 - 26 DOI:10. 51170/jmabr. daya beli dan stabilitas mata uang domestik masih dianggap aman, sehingga tidak terlalu memengaruhi keputusan investor asing. Pengaruh Financial Development terhadap Foreign Direct Investment Berdasarkan hasil analisis, variabel Financial Development (FDV) menunjukkan nilai koefisien unstandardized B sebesar 2,103 dengan t hitung sebesar 4,666, yang secara signifikan lebih tinggi dari t tabel 1,701. Artinya, hipotesis nol (HCACE) ditolak dan hipotesis alternatif (HCaCE) diterima. Dengan nilai signifikansi 0,000 di mana jauh lebih kecil dari ambang batas 0,05. Dapat disimpulkan bahwa pengaruh financial development terhadap Foreign Direct Investment (FDI) bersifat positif dan signifikan secara statistik. Dengan demikian, perkembangan sistem keuangan di Indonesia memiliki kontribusi nyata terhadap peningkatan arus FDI selama periode penelitian. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa keberadaan sistem keuangan yang efisien, inklusif, dan stabil menjadi pertimbangan penting bagi investor asing dalam memilih lokasi investasi. Hasil ini konsisten dengan temuan Irandoust . , yang menegaskan bahwa financial development berdampak positif terhadap FDI. Hal ini dikarenakan sistem keuangan yang lebih berkembang mampu memfasilitasi akses pembiayaan eksternal bagi perusahaan, baik untuk memperluas usaha maupun untuk reinvestasi. Dengan tersedianya akses pembiayaan yang lebih mudah, investor cenderung lebih tertarik untuk menanamkan modalnya. Di samping itu, dalam konteks negara berkembang seperti Indonesia, sistem keuangan yang masih dalam tahap pertumbuhan berpotensi menawarkan suku bunga pinjaman yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan negara maju. Hal ini menjadi insentif tambahan bagi investor asing yang mencari biaya pendanaan yang lebih efisien. Oleh sebab itu, financial development menjadi faktor kunci dalam memperkuat daya tarik Indonesia sebagai destinasi investasi asing langsung. Bagian ini merupakan bagian utama artikel dan terpanjang sekitar 60% dari total batang tubuh artikel dan menguraikan hasil analisis kualitatif atau kuantitatif dengan penekanan pada jawaban atas permasalahan yang ada. Bila ada perhitungan statistik maka cukup hasil analisis dan hasil pengujian hipotesis saja yang perlu dituliskan dalam jurnal. Tabel, gambar, dan grafik dapat digunakan untuk memperjelas penyajian hasil penelitian secara verbal. Di dalam hasil dan pembahasan memuat: . jawaban rumusan masalah dan pertanyaan- pertanyaan penelitian. menunjukkan bagaimana temuan-temuan itu diperoleh. menafsirkan temuan-temuan. mengaitkan hasil temuan penelitian dengan struktur dan . memunculkan teori-teori baru atau modifikasi teori yang telah ada. Pembahasan harus sesuai dengan interpretasi hasil, jelas secara rinci dan harus logis serta diperkuat dari penelitian yang menjadi acuan pustaka. JMABR Rayadi & Endarto . KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa tiga variabel independen yaitu Market Size (MAR). Trade Openness (TRA), dan Financial Development (FDV) terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Foreign Direct Investment (FDI) di Indonesia. Temuan ini sejalan dengan pernyataan Demirhan & Masca . dalam Dewi et al. , yang menyatakan bahwa negara dengan ukuran pasar yang besar dan daya beli tinggi cenderung menjadi tujuan utama aliran FDI karena memberikan peluang keuntungan yang optimal. Selain itu. Dewi et al. juga menegaskan bahwa keterbukaan perdagangan . rade opennes. dapat menurunkan hambatan perdagangan dan biaya produksi, sehingga meningkatkan efisiensi dan daya tarik investasi. Sementara itu. Irandoust . menyatakan bahwa perkembangan sektor keuangan . inancial developmen. mempermudah akses pembiayaan bagi investor asing, yang mendukung ekspansi bisnis dan Di sisi lain, variabel Inflation (INF) tidak menunjukkan pengaruh negatif maupun signifikan terhadap FDI. Temuan ini konsisten dengan hasil penelitian Fiona & Laulita . yang mengindikasikan bahwa inflasi di negara-negara ASEAN cenderung berada pada level yang stabil dan moderat, sehingga tidak terlalu memengaruhi keputusan investasi asing. Selain itu, karena FDI merupakan investasi jangka panjang, fluktuasi inflasi dalam jangka pendek tidak menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan investasi. Namun demikian, hasil ini berbeda dengan temuan Haque et al. yang menunjukkan adanya hubungan negatif dan signifikan antara tingkat inflasi dan arus masuk FDI. Saran Berdasarkan hasil penelitian dan keterbatasan yang ada, berikut beberapa saran yang dapat dipertimbangkan oleh peneliti selanjutnya: Menambahkan variabel independen lainnya, seperti nilai tukar . xchange rat. , tarif pajak . ax rat. , atau indeks persepsi korupsi . orruption perception inde. , untuk meningkatkan daya prediktif model. Hal ini karena nilai adjusted RA sebesar 0,510 menunjukkan bahwa hanya 51% variasi FDI dapat dijelaskan oleh variabel MAR. TRA. INF, dan FDV, sementara 49% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang belum tercakup dalam model ini. Memperluas periode penelitian agar mencakup data yang lebih panjang dan representatif, sehingga hasil analisis menjadi lebih akurat dan relevan dalam menjelaskan dinamika FDI. JMABR Journal of Management. Accounting and Business Research (JMABR) Vol. Juni 2025: 1 - 26 DOI:10. 51170/jmabr. Membandingkan periode sebelum dan sesudah pandemi COVID-19 untuk mengidentifikasi dampak perubahan kondisi ekonomi global terhadap aliran FDI di Indonesia. Melakukan penelitian lintas negara, khususnya di kawasan ASEAN, guna melihat perbandingan pengaruh indikator makroekonomi terhadap FDI antar negara di kawasan yang memiliki karakteristik ekonomi serupa. Menggunakan pendekatan metodologis yang lebih beragam, misalnya studi kasus, untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam terhadap dinamika FDI dalam konteks tertentu dan mengeksplorasi faktor non-kuantitatif yang mungkin memengaruhi keputusan investor. Implikasi Manajemen Pemerintah sebaiknya fokus pada peningkatan daya beli masyarakat melalui pembangunan infrastruktur, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan sektor strategis agar Indonesia menjadi pasar yang lebih menarik bagi investor asing. Perlu dilakukan deregulasi dan penyederhanaan proses ekspor-impor untuk membuka akses perdagangan internasional yang lebih luas, sehingga menurunkan biaya produksi dan mendorong masuknya FDI. Terkait Financial Development (FDV), penguatan sektor keuangan domestik dan penyediaan kredit dengan suku bunga bersaing dapat meningkatkan akses pembiayaan bagi investor, yang pada akhirnya akan memperkuat pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan investasi. DAFTAR PUSTAKA