NATAR (Jurnal Prodi Seni Murn. Vol. 1 No. 1 Maret 2022. Page 1 - 24 DOI : Sense of Place dan Place Making dalam Medium Berkesenian Kajian: Kampung Bustaman. Semarang Ahmad Khairudin adin@gmail. Prodi Antropologi Sosial. Universitas Diponegoro ABSTRAK Studi tentang sense of place dan place attachment sampai sekarang masih santer dibicarakan. Sekurangkurangnya dari referensi yang dibaca ada tiga disiplin ilmu yang mempunyai perhatian terhadap hal ini, yakni antropologi sosial, lingkungan dan psikolosi sosial dan human geography1. Dalam esai tersebut dijelaskan bahwa antropologi tertarik pada kehidupan alami sehari-hari, pengalaman hidup dan hubungan yang terjalin melalui interaksi sehari-hari. Fokus pada bahasan dalam esai ini terletak pada pendekatan antropologi yang dipadukan dengan konsep mengenai sense of place dan place attachment dalam kasus Festival Tengok Bustaman. Beberapa referensi penelitian yang diambil dari jurnal yang menggunakan konsep sense of place dan place attachment yang kebanyakan didapat dari studi urban planning, arsitek, maupun psikologi sosial lebih banyak menekankan aspek kuantitatif terutama dengan mengedepankan penggunaan kuesioner. Tulisan ini akan lebih banyak mengelaborasi dari pendekatan etnografi untuk mendukung argumen mengenai sense of place dan place attachment menggunakan medium kesenian. Hasil kajian menunjukkan kesenian bisa lebih maju dan progresif jika dikembangkan dengan menyesuaikan konteksnya, dalam kasus ini upaya-upaya yang dilakukan oleh Kolektif Hysteria dan warga Kampung Bustaman. Kata kunci: sense of place, place attachment. Medium Berkesenian. Kampung Bustaman ABSTRACT Studies on sense of place and place attachment are still widely disseminated. At least from the references read, there are three disciplines that pay attention to this, namely social anthropology, environment and social psychology and human geography. In the essay, it is explained that anthropology is interested in everyday natural life, life experiences and relationships that exist through everyday interactions. The focus of the discussion in this essay lies in the anthropological approach combined with the concepts of sense of place and place attachment in the case of the Bustaman Tengok Festival. Several research references are taken from journals that use the concept of place and place attachment which are most often taken from urban planning studies, as well as social psychology with more aspects, especially the use of questionnaires. This paper will elaborate more on the ethnographic approach to support the argument about sense of place and place attachment using the medium of art. The results show that art can be more advanced and advanced if it is developed by adjusting the context, in the case of the efforts made by the Hysteria Collective and the residents of Kampung Bustaman. Keywords: sense of place, place attachment. Art Medium. Bustaman Village Lihat tulisan dalam Journal of Enviromental Management AoSense of Place as a determinant of PeopleAos attitudes towards the environment: Implications of Natural Resources Management and Planning in the great barrier Reef. AustraliaAo yang ditulis oleh Silva Larson. Debora M. De Freitas, dan Christina C. Hicks Pendahuluan Studi ini mengambil tempat di Kampung Bustaman, yang masuk dalam wilayah administrasi Kelurahan Purwodinatan. Kecamatan Semarang Tengah. Semarang. Pilihan terhadap kampung ini bagaimanapun tak bisa dilepaskan dari keterlibatan Kolektif Hysteria sejak tahun 2012 dalam mengembangkan dinamika pengetahuan perkotaan yang diinisiasi oleh Hysteria bersama Rujak Center for Urban Studies. Pilihan atas kampung tersebut didasari kesepakatan forum untuk memilih tempat dijalankannya program berdasarkan akses, nilai historis, dan signifikansi keberadaan kampung tersebut di era sekarang. Titik tolak terlibat dalam aktivisme kampung juga didorong upaya untuk mencari formula praksis seni seperti apa yang relevan untuk kasus Semarang dan kota semacam ini. Kampung Bustaman terletak di sekitaran area kota lama dan termasuk salah satu kampung kuno penanda keberadaan kota. Secara administratif Bustaman dihuni dua RT yakni RT 4 dan RT 5 di RW i dengan total penduduk sekitar 331 jiwa dan menempati luasan sekitar 1 Pada administrasi Kelurahan Purwodinatan, pembagian kampung tidak ada namun mewujud dalam kehidupan sosial. di Purwodinatan sendiri terdapat 5 RW, 35 RT dan 13 Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik participant observation, yakni suatu teknik yang biasa digunakan antrpolog untuk hidup membaur, mendapatkan kepercayaan sehingga memudahkan melakukan pengamatan dan wawancara mendalam dari fenomena yang diamati. Selain itu peneliti juga melakukan studi pustaka untuk melihat kasus serupa atau bahan-bahan yang berelasi dengan obyek penelitian. Teknik pengumpulan data meliputi studi pengamatan, wawancara mendalam, studi pustaka dan triangulasi dari data-data tersebut sehingga diperoleh informasi yang meyakinkan. Denah Kampung Bustaman. Purwodinatan Semarang Kampung Bustaman secara keruangan memiliki ciri khas sebagai kampung kota yang sempit, berdesakan dan tak jauh dari pusat kota Semarang di masa lalu. Menurut buku riwayat Raden Saleh, kampung ini dulunya adalah sebidang tanah yang dihadiahkan Belanda pada leluhur Raden Saleh. Kyai Kertoboso Bustam . yang berjasa menjadi juru damai dalam Geger Pecinan di Semarang. Nama kampung merujuk pada nama tokoh yang berpengaruh saat itu yakni Kertoboso Bustam dan berubah menjadi Bustaman2. Pembahasan Sense of place berhubungan dengan aktivitas keseharian baik individu maupun masyarakat yang berasosiasi dengan simbol-simbol di dalamnya. Hubungan antara tempat dan manusia di banyak pengertian tidak bisa dipisahkan lagi. Senada dengan pendapat Tuan yang mengatakan bahwa struktur tempat tanpa manusia adalah lokasi geografis saja, tempat jadi bermakna karena ada interaksi dengan manusia (Tuan, 1. Dengan demikian atribut dari place selalu disematkan dengan keberadaan manusia. Tuan juga menambahkan secara umum status place ada dua yakni sebagai struktur spasial dan yang kedua sebagai keberadaan yang dimaknai manusia karena aktivitas keseharian. Kondisi ini mengandaikan adanya hubungan yang kuat antara manusia, lingkungan dalam artian mental, emosi dan unsur kognitif. Ketika keberadaan tempat ini penting bagi manusia dengan sendirinya ia akan terlibat dan menjadi bagian dari keberadaan place itu sendiri atau place attachment. Tak jarang lenyapnya sebuah wilayah itu salah satu faktornya karena kurangnya rasa terikat pada tempat sehingga wilayah itu mudah hilang. Altman sebagai salah satu contoh menyebut bahwa keterikatan terhadap place itu melampaui emosi atau pengalaman kognitif manusia tetapi lebih dari kebudayaan dan unsur afektif turut serta membentuk place attachment. Pada kasus Kampung Bustaman, hal Aehal ini akan coba digali berdasar kategori-kategori yang sudah dirumuskan oleh para peneliti tentang place. Low dan Altman juga percaya bahwa peranan waktu yakni seberapa lama seseorang tinggal dan mempunyai pengalaman terhadap place itu akan menentukan kualitas ikatan emosional seseorang. Giery menjelaskan place dalam tiga karakter yakni lokasi geografis, parameter fisik, dan identitas yang memberikan makna dan nilai. Dengan demikian bisa didapat gambaran bahwa Sila cek di https://intranet2012. com/2012/04/18/riwayat-kyai-boestam-kertoboso/sebuah blog yang konon ditulis oleh keturunan Kyai Kertoboso Bustam, lihat juga Raden Saleh: Anak Belanda. Mooi Indie & Nasionalismeoleh Harsja W. Bachtiar. Peter Carey. Onghokham, terbitan Komunitas Bambu. Depok, 2009 the structure of place without people is just only a geographical location and the concept of place is is signified only with existence of human . utipan Tuan dalam Malaysian Journal of Society and Space terbitan 2013 oleh Hashem dk. sense of place itu tidak terberi begitu saja namun melalui proses kebudayaan dan juga diciptakan oleh manusia yang memberi pemaknaan terhadap place tersebut. Ia tercipta karena adanya interaksi antara manusia dan tempat itu sendiri, bukan fenomena yang terberi atau mengada begitu saja. Warga Bustaman adalah masyarakat yang responsif, kreatif dan mempunyai inisiatif untuk menciptakan berbagai acara di kampung. Menarik jika melihat upaya penciptaan acara-acara ini sebagai upaya untuk meneguhkan identitas, pemberian makna, sekaligus upaya untuk terus menerus memelihara solidaritas antara sesamanya sehingga kegiatan itu bisa dianggap sebagai bagian dari place making di antara warga. Tanpa itu semua sense of belongingness atau rasa kepemilikan terhadap kampung mungkin Menarik jika melihat upaya yang dibangun ini dikontekstualisasikan dengan keadaan kekinian Semarang di saat beberapa kampung lain mulai tergusur karena pengembangan kota. Sebut saja Kampung Basahan. Petempen. Jayenggaten, dan lain-lain yang beralih fungsi menjadi pusat perbelanjaan, kondominium, hotel dan lain-lain. Mempelajari Kampung Bustaman diharapkan dapat memberi gambaran bagaimana proses keguyuban ini terjadi dan upaya-upaya apa yang dilakukan untuk membuat place making terus mengada. Hal ini mungkin bisa memberikan kontribusi terhadap keberadaan kampung lain yang mengalami dilema sama dalam pengembangan kota. Di sisi lain pemanfaatan aktivisme kesenian sebagai bagian dari aktivasi ruang bisa memberikan satu pendekatan alternatif bagaimana seni bisa berperan efektif di masyarakat. Dari berbagai sumber sense of place secara singkat akan diringkas sebagai berikut yakni bahwa sense of place itu dikembangkan melalui koneksi sosial dan interaksi orang di dalamnya, juga kohesi sosial dan partisipasi masyarakat (Lewicka, 2005. Livingston et al. , nenek moyang local (Hay, 1998. Stedman, 2003. Brown and Raymond, 2. , dan juga persepsi dari dalam mengenai status yang ujung-ujungnya berpengaruh pada koneksi dan makna yang berkembang di dalam tempat itu sendiri (Kaltenborn, 1998. Hay, 1. Dari pengertian itu disimpulkan oleh Larson dkk. dalam Journal of Environmental Management terbitan tahun 2013 ada 7 variabel yang digunakan untuk menganalisis sense of place itu sendiri yakni durasi tinggal, tempat mukim, di mana ia dilahirkan, keterlibatan dalam komunitas, keanggotaan dalam asosiasi, apakah mereka dihargai dan pertimbangan mereka dianggap orang sekitar atau tidak4. Shamai juga menggunakan 7 tingkatan untuk mengukur sense of place suatu masyarakat dimulai dari tidak merasa memiliki place hingga kesediaan mengorbankan jiwa raga demi place. Adapun place attachment digunakan Hashem dkk. yang membagi place attachment ini menjadi 8 faktor. Sebelumnya dipahami bahwa place attachment ini merupakan dampak emosional karena ikatan seseorang dengan tempat melalui proses kultural. Kedelapan faktor ini yakni pertama faktor fisik, ini untuk menjawah tempat mana yang dianggap paling penting bagi seseorang. Kedua faktor sosial, ini mengandaikan adanya interaksi dan hubungan antara manusia di dalamnya juga pada tempat entah itu rumah atau lingkungan sekitarnya. Ketiga faktor kebudayaan yakni adanya kesamaan budaya di dalam kelompok, keluarga, atau masyarakat menjadi faktor pengikat yang cukup manjur. Keempat yakni personal factor, ini lebih personal karena pilihan-pilihan individu ini menyebabkan tempat tertentu dianggap penting dibanding lainnya. Pilihan-pilihan ini sepenuhnya personal dan subyektif sesuai dengan pengalaman serta kepentingan individu. Memori dan pengalaman menempati urutan faktor kelima dan disusul kepuasan terhadap place. Kepuasan ini tak berarti bahwa tempat tersebut haruslah indah tetapi bergantung dari proses adaptasi, ketersediaan fasilitas, karakter visual, nilai ekonomi yang didapat dan lain-lain yang kesemuanya itu berjalin kelindan membuat puas tidaknya seseorang. Ketujuh yakni interaksi dan beberapa aktivitas, galib ditemukan dalam masyarakat yang aktif terdapat banyak kegiatan yang membuat mereka saling terkoneksi satu sama lain dan melanggengkan proses interaksi. Dan terakhir yakni faktor waktu, berapa lama seseorang menghabiskan waktu di tempat tersebut dan ini berkaitan dengan pengalaman hidup seseorang tinggal di suatu tempat. Berkaitan dengan sense of place dan place attachment ada 10 orang yang diwawancara secara bergantian, kadang-kadang wawancara dilakukan secara bersamaan dengan 2 atau 3 narasumber sekaligus. Ke 10 orang ini yakni Suhari . Edi . an tahu. Cunong . an tahu. Wahyuno . an tahu. Arief Banteng . an tahu. Bobby . an tahu. Ifkar . an tahu. Aris Zarkasyi . an tahu. Haji Tony . an tahu. , dan Sugiono . an tahu. Secara umum 10 orang itu dikategorikan sebagai berikut: orang yang lahir di Bustaman Sense of place as a determinant of peopleAos attitudes towards theenvironment: Implications for natural resources management andplanning in the Great Barrier Reef. Australia oleh Silva Larson. Debora M. Freitas. Christina C. Hicks dalam Journal of Environmental Management, 2013. pindah ke luar lalu memutuskan untuk mempunyai rumah lagi di kampung (Suhari. Haji Ton. , punya rumah di dua tempat berbeda (Ifkar. Aris Zarkasy. , sepanjang hidup di Bustaman (Sugiono. Wahyun. , di kampung karena hubungan pernikahan atau mempunyai saudara (Arief Banteng. Bobby. Cunon. , warga kampung pernah merantau (Ed. Dari nama itu yang terlibat sebagai struktur administrasi kampung yakni Wahyuno (Ketua RW . Aris Zarkasyi (Ketua RT . Sedangkan secara sosial yang cukup mendapat penghormatan Suhari. Arief Banteng . arena kedekatannya dengan partai politik dalam hal ini PDI P), dan Haji Toni . alah satu juragan kambing yang tersisa dan orang kay. , tergolong remaja (Bobby. Ifka. , dan orang yang tidak terlalu menonjol tapi selalu ada di kampung (Cunong dan Sugion. Catatan ini dimulai dari kategori orang yang pernah tinggal di kampung, lalu memutuskan keluar, setelah sukses mereka membeli lahan di kampung, yakni Suhari dan Haji Toni. Sumber mengenai Suhari atau lebih dikenal dengan Hari Bustaman atau Ayah Hari ini ada dua yakni sebuah buku Senandung Sepotong Usia, terbitan Yayasan Citra Pariwara Budaya, 2015, kado untuk 70 tahun Pak Hari yang dicetak oleh Bambang Sadono, anggota DPRD Jateng dari Partai Golkar. Kado ulang tahunnya yang ke 70 5 menjadi bukti luasnya pergaulan dan pengaruhnya di masa lalu, di antaranya ia pernah menjabat tangan Yasser Arafat dalam sebuah acara kenegaraan, bersalaman dan diundang Presiden Soeharto, ke Yunani untuk liputan lomba catur, dan juga pertemanannya dengan mantan Gubernur Jateng. Terangkum dalam buku Senandung Sepotong Usia terbitan Yayasan Citra Pariwara Budaya tahun 2015 beberapa tokoh kampung yang wajahnya menjadi basis pembuatan karya seni Merasa punya uang lebih sekitar tahun 2011 Suhari memutuskan untuk membeli rumah di Bustaman yang dibangun ulang demi tujuan transit, kumpul keluarga besar, dan digunakan untuk saudara. Shamai, dalam sense of place membagi 7 tingkatan untuk individu. Dalam banyak penelitian metode untuk mengategorikan tingkatan ini rata-rata menggunakan survey dan questioner, namun melihat apa yang sudah dilakukan Suhari bisa dikategorikan menempati urutan ke 6, yakni involvement in a place6. Sebagai seseorang yang merasakan pengalaman bertahuntahun hidup di Bustaman. Suhari merasa ikut berkewajiban untuk menjaga keberlangsungan Tak jarang ia terlibat dalam konflik kampung karena ketidaksetujuannya dalam pembangunan yang dirasa mengganggu. Misalnya pembangunan Rumah Pemotongan Hewan sekitar tahun 1990an yang dirasa akan mengurangi kualitas lingkungan tinggalnya. Tujuh tingkatan ini menurut Shamai yakni pertama tidak merasai place, kedua mengetahui atau familiar dengan place, ketiga merasa memiliki place, keempat mempunyai hubungan emosional dengan place, kelima mampu mengetahui tujuan place dan puas dengan apa yang ingin dicapai place, keenam terlibat dalam place dan terakhir mau berkorban untuk place termasuk jiwa raganya . ihat Shmuel Shamai dalam Geoforum vol 22 terbitan 1991 AoSense of Place: an Empirical Measuremen. Hampir sama dengan Suhari. Haji Toni menikah dengan gadis yang dikenalnya di kampung yang saat itu sudah pindah ke Kelurahan Jomblang. Sejak menikah dengan gadis idamannya Haji Toni pindah Jomblang. Sebelumnya calon istrinya juga menghabiskan waktu kecil di Bustaman. Bisa dibilang baik Suhari maupun Haji Toni terlibat percintaan dengan tetangga masa kecilnya di Bustaman. Haji Toni berprofesi menjadi jagal kambing. Sejak kelas 6 SD ia sudah belajar belanja ke pasar. Kemampuan berdagangnya diwarisi dari ayah angkatnya. Maskub yang mewarisi bisnis kambing dari ayahnya Wakidi. Maskub menikah dengan Fatimah, dari keduanya tak melahirkan anak laki-laki, untuk itu ia mengangkat Haji Toni yang masih kerabatnya untuk meneruskan bisnis keluarga. Haji Toni tergolong kaya, di Bustaman saat ini ia memiliki dua rumah, yang pertama ia beli 4-5 tahun lalu dari Rukini yang merupakan tantenya sendiri yang kedua di gang arah Jl MT Haryono. Rumah pertama saat ini digunakan sebagai tempat peristirahatan sekaligus tempat menyimpan dan memotong Sejak tutupnya RPH Bustaman tahun 2014, rumah Haji Toni inilah yang dijadikan tempat penyembelihan kambing. 3- kondisi kampung di potret dari atas Kategori berikutnya yakni orang yang tinggal di tempat berbeda namun masih mempunyai rumah di Bustaman, yakni Ifkar dan Aris Zarkasyi. Ifkar sekarang menjadi mahasiswa dalam ilmu perkapalan Undip. Meskipun punya rumah di Tembalang Ifkar masih sering ke Bustaman. Biasanya minimal seminggu sekali ia pulang ke Bustaman. Ikfar ini merupakan anak Eri . nak Maskub, ayah angkat Haji Ton. yang diangkat anak oleh adiknya Ibu Fat yang menempati rumah di Bustaman dan sekarang sudah pindah. Lain halnya Aris Zarkasyi ia mengaku leluhurnya berasal dari Purbalingga, yakni A. Chaerodji yang menikah dengan warga Bustaman. Siti Chalimah. Pertemuannya dengan Siti Chalimah terjadi karena kedekatan tempat kerja karena dulunya Chaerodji bekerja sebagai juru ketik di Kelurahan Taman Winangun7. Tahun 1991 Aris Zarkasyi pernah berusaha mengadu nasib di Jakarta, namun baru dua bulan di sana ia pulang lagi setelah uang sakunya Aris mengaku tidak lega jika ia tak menengok Bustaman. Saat pikirannya resah. Aris hampir bisa dipastikan ke Bustaman karena ia merasa mendapatkan suasana yang berbeda. Sebelumnya Kampung Bustaman secara administrative berada di wilayah Taman Winangun, namun setelah pemekaran wilayah digabung bersama Kelurahan Purwodinatan. Pada masanya di Bustaman pernah digunakan sebagai kantor kelurahan Taman Winangun. pintu gapura menuju kampung Soal sumub ini juga diakui oleh Cunong, warga Kampung Petolongan yang sejak tahun 70an pindah ke Bustaman karena pernikahannya dengan Ngatini yang saat itu bekerja ikut Hajjah Rukini . antenya Haji Ton. Pasca kematian istri pertamanya, ia menikah lagi dengan seorang janda di Jalan Karanganyar. Muktiharjo. Namun ia menolak pindah meski diakuinya rumahnya di Bustaman sempit namun ia mengaku mempertahankan harga diri dan kemandiriannya dengan tetap berada di Bustaman. Arief Banteng berasal dari Petolongan menikah dengan warga Bustaman. Upi dan sekarang tinggal di Bustaman. Istri Arief Banteng merupakan anak dari Haji Khori yang menikah dengan Rondiyah. Haji Khoiri masih punya garis keturunan dengan keluarga besar Martoprawiro dan Minten. Sedangkan Rondiyah punya garis keturunan dari keluarga besar Ibrahim dan Suudah. Dari hasil wawancara ada 4 keluarga besar di Bustaman yang mendominasi yakni Keluarga Besar Minten dengan Martoprawiro . erketurunan Wakidi dan Wahyun. Keluarga Besar H Ikrom . erketurunan Ipunk dl. Keluarga Besar H Ibrahim . erketurunan H Yusuf. Rondiyah. Maulana dl. Keluarga Besar H Marjuki . erketurunan Ifkar dl. Ke empat keluarga besar ini kawin mawin dan beranak pinak dan saat ini banyak yang tinggal di Bustaman. Faktor kekerabatan ini yang menurut Hashem dkk turut serta membentuk place attachment. Hashem sendiri memasukkan kekerabatan ini sebagai factor kultural yang membuat orang merasa menjadi bagian dari masyarakat dan place. Arief Banteng dengan serta merta masuk dalam ring 4 keluarga berpengaruh yang mukim di Bustaman, tak heran meski belum lama masuk kampung, ia sudah banyak dilibatkan dalam rapat-rapat untuk mempersiapkam kegiatan kampung atau persoalan kampung lainnya. Keberadaan tokoh pemuda lain yang perlu dicatat yakni Bobby, ia bukan warga Bustaman tapi hubungan kekerabatan dari garis orang tuanya membuatnya merasa ia bagian dari warga Bustaman meskipun rumahnya tidak di situ sehari-hari ia menghabiskan waktu di Bustaman. Edi mewakili kategori orang yang pernah merantau ke kota lain, dalam hal ini Jakarta. Tapi alasan dia merantau bukan karena ingin mencari kesuksesan ekonomi melainkan karena ada persoalan dengan kampung lain sektiar tahun 2000an. Setelah persoalan itu reda ia kembali lagi ke kampung dan sekarang memilih berjualan nasi kucing di ujung gang Bustaman tepatnya di bibir gang arah Jalan Petudungan. Udin. Wamena. Yani. Irfan adalah generasi 90an yang saat ini memilih kerja sebagai pedagang gulai atau sate keliling ketimbang merantau ke kota besar lainnya. Ketersediaan lapangan pekerjaan di kampung di sektor informal merupakan kenyamanan sendiri bagi anak muda ini. Kategori terakhir yakni orang yang seumur hidup tinggal di Bustaman yakni Wahyuno dan Sugiono. Wahyuno merupakan anak dari Lurah Bustaman periode kedua yakni Wakidi Busono yang merupakan bagian dari Trah Martoprawiro. Sebagai ketua RW ia tidak terlihat antusias untuk bersuara dalam event Gebyuran Bustaman, tetapi ia tak pernah menolak inisiatif warganya. Ia selalu mendukung meskipun tidak bisa dibilang penggerak utama. Wahyuno merasa nyaman-nyaman saja berada di Bustaman. Ini senada dengan place satisfaction yang diusung Hashem dkk. sebagai salah satu faktor place attachment. Adapun Sugiono yang masih adik kandung Suhari sepanjang hidupnya tinggal di Bustaman. Istrinya kerja di Pasar Waru, berjualan barang bekas dan kelontong. Biasanya Sugiono yang mengantar jemput istrinya ke pasar. Sugiono baru menikah saat usia 47 pada tahun 2014 lalu dan mendapat tetangganya sendiri, tepatnya janda dari tetangganya. Sugiono tinggal di gedong sepuluh yakni sebuah kawasan di Bustaman yang hanya dihuni 10 rumah saja, sekarang bertambah dua jadi 12. Peranan waktu, pengalaman, ingatan membuat dirinya beradaptasi dan nyaman di Bustaman dan bukanlah faktor keindahan semata yang membuat orang mempunyai sense of place. Untuk kasus Bustaman yang digolongkan dalam kategori kumuh dan miskin oleh pemerintah kota, kategori-kategori yang mendiskreditkan posisi mereka sebagai minor tak terlalu berpengaruh terhadap sense of place mereka terhadap Bustaman sendiri memiliki dua agenda tahunan yang terkenal yakni Tengok Bustaman . egiatan dua tahuna. yang diinisiasi penulis mewakili Kolektif Hysteria bersama warga dan Gebyuran Bustaman . iadakan setahun sekal. Tengok Bustaman melibatkan komunitas seniman dan akademisi di Semarang diadakan pertama kali tahun 2013 setelah itu warga menginisiasi kegiatan Gebyuran Bustaman yang dinisbatkan pada tradisi turun temurun Kyai Kertoboso Bustam memandikan cucunya menjelang puasa. Event ini telah menjadi bagian dari place making yakni upaya untuk membuat warga merasa menjadi bagian dari situs. Place making ini jejaknya bisa kita temukan pada pemikiran para urbanis seperti Jane Jacobs. Kevin Lynch, dan William Whyte. Placemaking today is ambitious and optimistic. At its most basic, the practice aims to improve the quality of a public place and the lives of its community in tandem. Put into practice, placemaking seeks to build or improve public space, spark public discourse, create beauty and delight, engender civic pride, connect neighborhoods, support community health and safety, grow social justice, catalyze economic development, promote environmental sustainability, and of course nurture an authentic Ausense of place. Ay (Silberberg, 2013: . Fenomena ini masih senada dengan peranan interaction and activity features yang menurut Hashem bagian dari place attachment. Dari beberapa kasus hilangnya kampung kota di Semarang sendiri tidak banyak yang dilakukan pemerintah untuk melakukan proteksi. Jika ada sengketa lahan biasanya diselesaikan di pengadilan dengan hampir semua kasus dimenangkan oleh pemodal. Tidak ada perhatian yang cukup menonjol di kawasan ini kecuali hanya sebagai tempat aktivitas yang padat kegiatan perekonomian dengan seluruh kesemrawutan penataannya. Belakangan dengan adanya status Kota Lama Semarang sebagai bagian cagar budaya nasional pembangunan di sekitarnya pesat dan sudah bisa dipastikan ada kenaikan harga properti dan investasi di kawasan itu cukup strategis. Adapun lembaga yang ditunjuk bagian revitalisasi kota lama adalah Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L), itupun tidak termasuk kampung. Dalam konteks Kolektif Hysteria kebudayaan dan kesenian dipilih sebagai strategi untuk mengukuhkan kembali solidaritas masyarakat seperti diakui oleh Suhari dalam sebuah forum warga. Pilihan ini secara sadar dilakukan Suhari dan beberapa tokoh kampung lain sehingga penyelenggaraan Gebyuran Bustaman dan Tengok Bustaman diadakan secara simultan. Selain sebagai pengukuhan identitas. Suhari berharap ini bisa menaikkan daya tawar kampung itu sendiri. rumah pemotongan hewan, sumber penghidupan warga Belajar dari contoh di atas sudah disebutkan beberapa hal yang mempengaruhi proses terbentuknya sense of place dan place attachment yang fokus pada sejarah personal, kekerabatan, place making, sebagai tambahan akan disinggung pula peranan dependence place itu sendiri yang memungkinkan warga untuk saling berinteraksi. Bustaman mempunyai jalanan yang sempit, akses jalan dari MT Haryono sekitar 1-2 meter, dan dari Jalan Petudungan 3 meter tidak memungkinkan mobil untuk masuk lebih dalam. Rumah-rumahnya saling terhimpit satu sama lain dan jalanan menjadi ruang publik. Namun beberapa titik tempat warga berkumpul. Misalnya di sanitasi masyarakat . anyak warga yang tidak memiliki WC sendir. , tempat bermain Play Station, depan warung Santosa, tempat jualan makanan di depan eks RPH. Tempat-tempat ini menjadi alur persebaran informasi dan warga saling bertemu dengan yang lain. Faktor kedekatan fisik, kekerabatan, relasi pekerjaan di antara mereka membuat konflik-konfilk di Bustaman cenderung cepat selesai. Di antara faktor pendorong menguatnya solidaritas masyarakat dan kebanggaan terhadap kampung ada satu kasus penting yang perlu dicatat yakni Tengok Bustaman, festival seni dua tahunan inisiatif Kolektif Hysteria dan warga kampung. Sebagai kolektif seni yang saat ini memasuki usia ke 17 Hysteria berupaya untuk mencari model seni seperti apa yang relevan dikembangkan untuk untuk kota seperti Semarang. tengok bustaman, event kolaboratif warga dan seniman Perjumpaan eksponen Kolektif Hysteria dengan pelbagai kolektif dan ruang seni lain di luar Semarang utamanya Yogyakarta. Bandung, dan Jakarta mau tidak mau membuat komparasi keadaan tidak terelakkan. Secara statistik, dari tahun 2003 hingga 2017 pertahun dari data yang dihimpun ada sekitar 300-600 event yang bisa dilacak menggunakan media Jumlah itu di luar event-event yang tidak terlacak karena satu dua hal. Secara kuantitas jika dibandingkan populasi kota yang hampir mencapai 1,7 juta jiwa dengan puluhan perguruan tinggi swasta dan negeri jumlah event itu sama sekali tidak signifikan. Secara spesifik pendidikan seni rupa baik keguruan maupun murni juga terhitung tidak Hanya Universitas Negeri Semarang yang punya jurusan seni rupa murni namun banyak kampus-kampus lain memiliki desain komunikasi visual yang juga dekat dengan tradisi visual. Tentu jika mau melihat perbedaan ekosistem yang menyejarah bisa kita dapat jawaban lebih rasional mengenai sebab musabab tersebut. Adapun Kolektif Hysteria sendiri, tempat penulis berkhidmat tidak tumbuh dalam tradisi akademik seni rupa di Semarang itu sendiri. Kolektif ini berkembang dengan seiring sejalan dengan kompleksitas jaringan dan gagasannya karena berjumpa dengan berbagai pihak. Sebagai salah satu kolektif generasi milenial di Semarang yang tertua, pengalaman selama 17 tahun barangkali bisa mengayakan khazanah strategi kebertahanan kolektif-kolektif dengan ekosistem yang berdekatan dengan Semarang. Kolektif ini dimulai dari aktivisme penyebaran zine atau terbitan alternatif sejak 11 September 2004 oleh Yuswinardi mahasiswa sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB- dulu Fakultas Sastr. Universitas Diponegoro. Setahun kemudian aktivitas penerbitan ini menjadi komunitas dengan 3 orang lain penyokongnya yakni Tulis Gus Yon. Heri CS, dan Adin. Hysteria tumbuh dari minimnya ruang seni dan budaya yang ada di Semarang saat itu. Tahun 2005 Rumah Seni Yaitu diinisiasi dan berkat jaringannya banyak anak muda yang terhubung dengan jaringan Sudah lazim diketahuan Yogyakarta. Bandung, dan Jakarta dianggap sebagai kiblat seni rupa Indonesia. Dalam ulasan-ulasan seni rupa baik di media cetak nasional maupun risetriset ketiga kota ini mendapat porsi jauh lebih banyak tak heran ketigaknya seolah menjadi satu-satunya kiblat bagi pengembangan seni di daerah-daerah. Pemetaan kiwari yang dilakukan Kemenparekraf . tentang perkembangan seni rupa Indonesia dan juga timeline singkat yang disusun untuk Europhalia . kota-kota di luar ketiga tersebut hanya diulas sekilas seolah dalam sejarah besar seni rupa Indonesia hanya sekedar Absensi dalam ketercatatan sejarah dan bagaimana kebijakan negara dan politik pendanaan asing dari sektor seni budaya membuat ekspresi artistik daerah seolah sekedar turunan semata. Setidaknya itulah yang terbaca pada kisaran tahun-tahun 20172018 yang membuat penulis menakar ulang sebenarnya bentuk dan metode seperti apa yang pas untuk kota-kota dengan ekosistem seperti Semarang. Rembang. Palu. Bojonegoro, dan seterusnya. Pada kasus Tengok Bustaman. Kolektif Hysteria tidak berpedoman pada teori seni partisipatif tetapi pada pendekatan antropologis yang menempatkan emic sebagai bagian penting untuk diutarakan visinya. Tengok Bustaman sendiri secara sudah berlangsung 4 kali dengan tema berbeda. Tahun pertama Tengok Bustaman . tentang sejarah lokal. Bok Cinta Project . respons terhadap ruang publik. Kininanti . pengembangan identitas kampung dan potensi kuliner, dan terakhir Bustaman untuk Dunia . Tulisan ini hanya menyorot pada event terakhir yang fokusnya pada elaborasi sejarah kampung berkenaan dengan Kyai Bustam. Kampung Bustaman seperti disinggung sepintas merupakan hadiah VOC pada Kertoboso Bustam bersama dengan beberapa kampung lain. Istimewanya adalah hanya Kampung Bustaman yang mendapat nisbat langsung nama Ki Bustam. Festival terakhir ini menjadi bagian penting meletakaan Bustaman dalam sejarah nasional maupun internasional, termasuk di dalamnya upaya pelacakan silsilah Kertoboso dengan Panembahan Senopati, jaringan hadramaut dan juga keturunannya yang menjadi tokoh-tokoh penting di Nusantara. Para seniman yang dikurasi mengelaborasi tema-tema yang disodorkan dalam narasi yang sudah disiapkan. Upaya untuk menggali nilai lokal berkenaan warga ini akhirnya menjadi bagian dari strategi Kolektif Hysteria dalam modus-modus berkeseniannya. Pada perkembangannya Kampung Bustaman menjadi model strategi kebudayaan Kolektif Hysteria dengan jaringan kampung lain seperti Kampung Petemesan. Kemijen. Jatiwayang. Nongkosawit. Randusari- Bergota. Sendanggugwo. Krapyak. Bandarharjo, hingga Sekararum- Kabupaten Rembang. Pada kasus Tengok Bustaman IV. Kolektif Hysteria tidak hanya mengambil Ki Bustam sebagai totem kampung tetapi juga memanfaatkan bekas Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang telah berhenti beroperasi sejak tahun 2014. RPH ini dulunya sebagai solusi atas pemotongan hewan secara ilegal yang terjadi di kampung awal tahun 1990-an. Akibat dari bisnis jagal kambing ini warga Bustaman sebagian terdiferensiasi menjadi unit-unit usaha potong kambing . da jagal, tukang kerok, pengolah sate, pengolah gulai, meramu bumbu, hingga penjual daging ecera. RPH karena merugi akhirnya ditutup dan mangkrak hingga tulisan ini ditulis. Sepanjang 2014 hingga sekarang warga memanfaatkan RPH ini sebagai gudang menyimpan barang-barang warga seperti gerobak dagang, kayu, dan aneka perkakas lainnya. Karena lekatnya warga dengan usaha bisnis kambing, dalam satu project terpisah sebelumnya yakni tahun 2015 waktu seniman Arief Hadinata membuat karya mural berjudul AoSimulasi Konsensus SosiologisAo dengan menawarkan jenis ikon apa yang ingin ditampilkan jika Bustaman mempunya ruang publik tanpa ragu warga menjawab hewan kambing. Dari temuan inilah tim yakin bahwa RPH punya pengaruh sangat besar dalam memori kolektif warga dan bisa digunakan untuk memicu momen-momen emosional mereka. Atas dasar itulah aktivasi RPH sebagai ruang galeri menjadi pilihan tim Hysteria. Ada 11 seniman yang diajak terlibat untuk membuat karya di RPH atau beberapa ruas kampung lain. Mereka antaranya Moch. Hasrul. Arsita Iswardani. Kolektif Popcorn Kolektif. Propagandasmu. Deny Denso dan Ropig. Kolasemauku. Five Miles Stereo. Resto Samkru. Gump and Hell. Hananingsih Widiasri, dan terakhir Gracia Tobing. Dalam pengantarnya Iqbal Alma Ghosan Altofani, kurator, menegaskan AoBustaman untuk DuniaAo merupakan bentuk dari kesiapan warga kampung Bustaman untuk berkontribusi pada dunia. Eksistensi Kampung Bustaman berawal dari sosok Kertoboso Bustam yang merupakan leluhur beberapa tokoh berpengaruh di nusantara. Kiprahnya sebagai penerjemah membuatnya mendapat kekayaan dan jabatan di era Hindia Belanda tak terkecuali sepetak tanah yang sekarang menjadi nama Kampung: Bustaman. Salah satu keturunannya. Raden Saleh juga dianggap memberikan kontribusi harumnya nama Bustaman sebagai nama leluhur. Tak heran warga kampung menjadikan sosok ini sebagai totem yang energinya memberi daya hidup pada rombongan nyadran kyai bustam, totem kampung Sebagai satu ilustrasi Arsita Iswardani dalam performnce artnya bertajuk AoKi Bustam dan GiyantiAo mencoba mengulik hubungan Ki Bustam dengan naskah perjanjian Giyanti yang membelah Mataram menjadi dua saat itu. Di dalam naskah itu Bustam ditulis Pendeta Bustam yang membantu memfasilitasi perjanjian. Atas jasanya itu Bustam lantas diangkat sebagai bupati di Semarang dan kelak keturunanya banyak yang menjadi kepala daerah. Seturut dengan narasi yang dibangun oleh Arsita, karya Rezto Samkru dan Ropig berupa mural di bidang seng menggambarkan sosok berpakaian jawa berjabat tangan erat dengan pegawai Mural berjudul AoWajah Kyai BustamAo yang digambarkan secara lugas berjabat tangan dengan sosok berpakaian tentara, berwajah bule, dan tangan kirinya menenteng sebidang tanah dan beberapa rumah adalah tafsir posisi Kyai Bustam yang problematis. Dalam narasi historiografi Indonesia tentu dengan mudah kita akan menuduh Kyai Bustam ini sebagai sosok kolaborator. Repertoar Arsita dan Rezto dalam konteks ini saling beresonansi mengelaborasi sosok Kyai Bustam yang telah menjadi nisbat dan totem kampung Sementara itu baik Propagandasmu dan Moch. Hasrul lebih tertarik keberadaan sumur yang dianggap telah ada sejak ratusan tahun lalu. Hasrul membuat instalasi yang memanfaatkan teknologi sensor untuk menghidupkan dan mematikan lampu. Sumber sensor ini berasal dari sebuah air yang berasal dari sumur Kyai Bustam yang ditempatkan pada sebuah ember. AoSumur Kyai Bustam Penerang Kampung BustamanAo mengelaborasi pentingnya keberadaan sumur dan air yang menjadi peran vital keberadaan masyarakat. Dalam AoSumur KebijaksanaanAo karya Propagandasmu sumur berfungsi juga secara simbolik menimba ilmu dan kehidupan. Terlebih penting sumur yang dipercaya warga bagian sejarah penting kampung ini dihadirkan pada karya yang disajikan di RPH sebagai artefak pengingat-ingat keberadaan masyarakat Bustaman itu sendiri. Masih seputar tafsir ulang atas Ki Bustam. AoBerusaha. Membongkar Kyai BustamAo (Deny Denso dan roPIG). AoFill In The Blank: Rekam Langkah BustamAo (Kolasemauk. , dan AoKi Bustam For DummiesAo (Gump n Hel. adalah upaya-upaya menyegarkan ingatan atas tokoh bersejarah ini. Gump n Hell menggunakan medium komik panel yang memuat sejarah singkat Ki Bustam. Kolasemauku dan Denny Denso menggali ingatan kolektif tentang tokoh Secara umum lamat-lamat warga mengetahui sejarah kampungnya. Sejak Hysteria memulai proyek ini tahun 2013 perlahan-lahan introduksi terhadap Ki Bustam dan peran keturunannya dikenalkan ulang. Salah satu keturunannya. Raden Roro Hartati dulunya juga tinggal di kampung namun tak semua warga mengetahuinya. Pada tahun 2015 piagam penghargaan dari Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono untuk Raden Saleh diberikan pada keturunan terdekatnya yang tinggal di Kampung Bustaman. Hal itu tentu saja menambah kebanggaan warga terhadap kampungnya itu sendiri. Denny lantas mencoba menggali ulang sejauh apa warga mengetahui sejarah-sejarah besar tersebut. Pada kesempatan dihelatlah pengajian di kampung yang mengundang kyai yang menegaskan garis keturunan hadrami Ki Bustam dari bin Yahya yang bersambung Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya (Pekalongan, seorang Sayyid, kiai, ulama, mursyid dan dai dan Ketua Majelis Ulama Indonesia Jawa Tenga. Diakui warga garis keturunan ini membuat mereka bangga terhadap kampung dan tak heran terhitung sejak 2015 secara rutin sebelum kegiatan kampung warga melakukan ziarah kubur ke Makam Ki Bustam di Kompleks Pemakaman Bergota. Gebyuran bustaman, acara rutin sambut ramadhan menisbat sosok kyai bustam Karya Five Mile Stereo berjudul AoImpresiAo juga menafsir Kyai Bustam dalam imajinasi senimannya sayangnya tafsir ulang ini sama sekali tidak melibatkan warga. Namun kurator mempertahankan sebagai salah satu bentuk keterbukaan aktivisme yang sangat personal. Hal ini juga pernah dilakukan sebelum-sebelumnya untuk para seniman yang minim keterlibatan dengan warga. Jadi memang pada dasarnya Kolektif Hysteria selalu mengkombinasikan seniman-seniman yang membuat karya lebih partisipatif dan juga seniman-seniman individu yang di lokasi pameran tinggal melakukan pajang karya. Sebaliknya ada seniman-seniman yang dipilih untuk melakukan workshop, residensi singkat, dan membuat karya bersama warga untuk memastikan keterlibatan masyarakat. Pendekatan ini juga bisa kita temukan dalam karya AoBapa Kambing yang Ada di SorgaAo karya Hananingsih Widhiasri yang menafsir sosok Bustam dan mengawinkannya dengan kultur setempat yang dekat dengan bisnis jagal kambing. Tak ayal tafsir kawin silang ini menghasilkan Bapa Kambing yang Ada di Sorga dengan visual sosok lelaki berpakaian jawa tampak dari depan dan belakang dengan dua kambing menyertainya. Tafsir yang jika dipikir-pikir agak kacau dan tanpa referensi sejarah ini justru menimbulkan olahan visual hibrida yang memperkaya . tau malah menyesatkan?). Adapun AoMencari Perempuan Bustaman di DuniaAo olahan Kolektif Popcorn dari Surabaya menyorot minimnya perempuan dalam sejarah. Dari tinjauan sejarah tokoh-tokoh penting keturunan Kyai Bustam hanya nama lelaki saja yang dominan. Popcorn secara spekulatif lantas menghubungkan Mia Bustam sebagai istri pelukis terkenal Soedjojono dengan imajinasi tentang Kyai Bustam. Sama sama menyandang nama Bustam Popcorn berimajinasi bahwa Mia Bustam menjadi representasi atas absennya perempuan-perempuan dalam sejarah besar trah Bustam. Selama tinggal di kampung. Shalihah dan Junistan . nggota Kolektif Popcor. juga mengamati peran sentral ibu-ibu di kampung yang cukup dominan dalam aktivitas perekonomian dan juga menyokong jalannya festival. Karya Popcorn mencoba mengangkat tema ini supaya kelak menjadi perhatian bersama tentang pentingnya Terakhir Gracia Tobing dalam AoRepertoire untuk Kampung BustamanAo berupa pentas musik eksperimental dengan mengambil tempat di tangga lantai dua Sanitasi Masyarakat Pangrukti Luhur di tengah-tengah pemukiman. Berpenduduk padat dan minimnya ruang, sanitasi masyarakat menjadi bangunan yang vital dalam keseharian warga. Gracia memanfaatkan gedung ini untuk membuat satu repertoar pendek untuk warga Bustaman. Penggunaan elemen sejarah kampung, nilai, memori kolektif sebagai sumber solidaritas sosial, artefak penting warga, dan sejarah keseharian adalah isu-isu yang banyak digarap oleh Kolektif Hysteria untuk membangun place attachment. Kegiatan-kegiatan yang melibatkan kepentingan-kepentingan warga untuk mengaktivasi kampung, memantik emosi sosial dan identitas yang juga memaksimalkan keberadaan kampung itu sendiri menjadi faktor penting dalam place making. Ruang yang tadinya sebatas ruang interaktif menjadi ruang-ruang reflektif dan simbolis Wajah kyai bustam artwork Ropik dan Resto sebagai rekonstruksi titik singgung Kyai Bustam dengan penguasa colonial. Simpulan Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dari 10 narasumber dan kasus yang dialami Kolektif Hysteria melalui Tengok Bustaman IV diketahui ada 7 hal yang mempengaruhi sense of place terhadap kampung bekerja cukup baik. Tempat lahir, waktu yang dihabiskan, memori, pengalaman, keterlibatan dalam kegiatan, rasa hormat yang didapat berjalin kelindan dengan studi mengenai place attachment. Pun place making juga menjadi bagian tak terpisahkan dan sekaligus strategi kultural mereka untuk meneguhkan identitas, menguatkan solidaritas, pernyataan politis, dan menghadirkan nilai-nilai kebaikan dan tujuan kampung yang terabaikan karena kesibukan sehari-hari mencari nafkah. Bapak kambing yang ada di sorga, tafsir bebas relasi kampung bustaman dengan bisnis jagal oleh Hananingsih W. Dengan mengecek satu persatu pola yang sudah dikembangkan, metode ini bisa digunakan untuk melihat kampung-kampung lain sehingga dapat diidentifikasi sense of place mereka dan usaha yang bisa dilakukan untuk membuat warga menjadi bagian dari tempat. Sedangkan dari kasus Tengok Bustaman, kesenian yang relevan dengan kebutuhan warga masih sangat efektif untuk mengikat warga terhadap tanahnya dan juga strategi alternatif bagi kolektif untuk menjalankan modus berkeseniannya supaya tetap menjadi bagian dari tumbuh kembangnya kota. Diharapkan contoh sederhana ini bisa memberikan satu rujukan alternatif bagaimana kasus perkotaan dan strategi berkesenian kolektif dilakukan di kota-kota lain. Sumber Referensi Bustaman. Hari, dkk. Senandung Sepotong Usia. Semarang: Yayasan Citra Pariwara Budaya Bachtiar. Harsja W, dkk. juga Raden Saleh: Anak Belanda. Mooi Indie & Nasionalisme. Depok: Komunitas Bambu Hashem. Hashemnezhad, dkk. AoComparison the concepts of sense of place and attachment to place in Architectural StudiesAo. Geografia Online TM Malaysia Journal of Society and Space 9 issue 1 . - . Larson. Silva, etc. AoSense of place as a determinant of peopleAos attitudes towards the environment: Implications for natural resources management and planning in the Great Barrier Reef. AustraliaAo. Journal of Environmental Management 117. homepage: w. com/locate/jenvman, 5 Juni 2016 Machribie. Budi. 18 April 2012. AoRiwayat Kyai Boestam KertobosoAo. ://intranet2012. com/2012/04/18/riwayat-kyai-boestam-kertoboso/, 5 Juni Shmel. Shamai. AoSense of Place: an Empirical MeasurementAo. Geoforum Vol. No. PP. 347-358 (Great Britain: Pegamon Press Pi. Silberberg. Susan. Places in the Making: How placemaking builds places and Massachusetts Institute of Technology Tuan. Topophilia. Englewood Cliffs. Prentice- Hall.