Syarafina Dini Shabrina. Lusia Savitri Setyo Utami: Pengaruh Penggunaan Celebrity Endorser terhadap Impulsive Buying Behavior Konsumen (Studi Pada Kolaborasi BTS Meal di Indonesi. Pengaruh Penggunaan Celebrity Endorser terhadap Impulsive Buying Behavior Konsumen (Studi Pada Kolaborasi BTS Meal di Indonesi. Syarafina Dini Shabrina1. Lusia Savitri Setyo Utami2* Fakultas Ilmu Komunikasi. Universitas Tarumanagara. Jakarta Email: syarafina. 915180030@stu. Fakultas Ilmu Komunikasi. Universitas Tarumanagara. Jakarta* Email: lusias@fikom. Masuk tanggal: 15-12-2021, revisi tanggal: 06-01-2022, diterima untuk diterbitkan tanggal: 16-01-2022 Abstract This research discusses the Effect of Celebrity Endorser Use on Impulsive Buying Behavior consumers, especially in the BTS Meal study in Indonesia, which in its first release caused crowds and the closure of several Mcdonald's outlets in Indonesia. The study's goal was to find out how much influence Celebrity Endorser BTS has on the impulsive buying behavior of The theory used is the theory of Cognitive Dissonance and Persuasion, as well as using the concept of Marketing Communication. The research methods used are quantitative methods with the help of THE SPSS 25 for windows program, data analysis techniques using validity and reliability tests, correlation tests, regression tests, determination coefficient tests, t-tests, hypothesis tests. As many as 45 respondents obtained data. The results showed that the correlation coefficient . value of 0. 874 means that the influence of celebrity endorsers on impulsive buying behavior is powerful. While the coefficient of determination value of 0. indicates that the Use of Celebrity Endorser strongly influences the 76. 4% increase in Impulsive Buying Behavior. In comparison, the rest . 6%) is controlled by other variables. Keywords: celebrity endorser, consumer behaviour, impulsive buying behavior Abstrak Penelitian ini membahas pengaruh penggunaan Celebrity Endorser terhadap impulsive buying behavior konsumen khususnya pada studi BTS Meal di Indonesia, yang pada peluncuran pertamanya menimbulkan keramaian dan penutupan beberapa gerai McAoDonalds yang ada di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh yang ditimbulkan oleh celebritye Endorser BTS terhadap impulsive buying behavior konsumen. Teori yang digunakan adalah teori Disonansi Kognitif dan Persuasi, serta juga menggunakan konsep Komunikasi Pemasaran. Metode penelitian yang digunakan ialah metode kuantitatif dengan bantuan program SPSS 25 for windows, teknik analisis data dengan menggunakan uji validitas dan Reliabilitas, uji korelasi, uji regresi, uji koefisien determinasi, uji t, uji hipotesis. Data yang dioleh sebanyak 45 responden. Hasil penelitian menunjukan nilai koefisien korelasi . sebesar 0,874 artinya pengaruh antara penggunaan celebrity endorser terhadap impulsive buying behavior adalah sangat kuat. Sedangkan nilai koefisien determinasi sebesar 0,764, menunjukkan bahwa 76,4% peningkatan impulsive buying behavior sangat dipengaruhi oleh Penggunaan Celebrity Endorser, sementara sisanya . ,6%) dipengaruhi oleh variabelvariabel lain. Kata Kunci: celebrity endorser, perilaku konsumen, perilaku pembelian impulsif Prologia Vol. No. Oktober 2022. Hal 270-279 EISSN 2598-0777 Pendahuluan Paket BTS Meal mulai dijual pada tanggal 9 Juni 2021 dan dirilis pada 11. WIB di semua cabang McDonaldAos yang terdapat di Indonesia. Pada awalnya paket BTS Meal yang seharusnya dijual selama satu bulan, ternyata hanya bisa dibeli dalam beberapa hari saja sejak hari peluncuran. Hal tersebut terjadi karena banyaknya pemesanan pada hari pertama peluncuran BTS Meal. Kejadian ini pun mengakibatkan terjadinya kerumunan, para pengemudi ojek online bahkan sampai harus mengantri berjam-jam hanya untuk memeroleh menu yang dipesan oleh konsumen secara online. Selain itu, pembelian melalui drive thru dan situs McDelivery juga Menurut portal berita BBC. , hal itu terjadi karena beberapa gerai McDonaldAos yang ada di Indonesia terpaksa ditutup sementara. Penutupan ini dilakukan lantaran munculnya kerumunan dalam jumlah besar ketika Indonesia masih berada pada masa pandemi virus COVID-19. Maka pada penelitian kali ini, peneliti menggunakan teori disonansi kognitif dan persuasi serta konsep komunikasi pemasaran. Disonansi kognitif ialah keadaan tidak nyaman karena perbedaan antara dua sikap atau pendapat yang berbeda tentang Hal tersebut juga dinilai sebagai fenomena pasca pengambilan keputusan. Penyesalan pembeli merupakan disonansi yang sering kali dialami oleh seseorang setelah melalukan suatu pembelian dalam jumlah besar. Peneliti menggunakan teori tersebut untuk mengetahui seperti apa pengaruh yang ditimbulkan oleh BTS sebagai Celebrity Endorser terhadap Impulsive Buying yang terjadi dalam pembelian BTS Meal dan juga untuk lebih menjelaskan tentang konsep dari variabel Y (Impulsive Buying Behavio. yaitu seperti Money Availability. Limited Time, dan juga Positive Emotion. Selain menggunakan teori disonansi kognitif dan persuasi, peneliti juga menggunakan konsep komunikasi pemasaran untuk menjelaskan konsep variabel X (Penggunaan Celebrity Endorse. yaitu seperti kemungkinan dikenal, kredibilitas, dan juga daya tarik (Attractivenes. Menurut penjelasan Keller dan juga Kotler . Komunikasi pemasaran adalah sarana yang digunakan bagi suatu perusahaan agar dapat memberitahukan kepada konsumen, membujuk mereka, dan secara langsung atau tidak langsung mengingatkan mereka akan produk atau keunggulan yang akan mereka jual. Beberapa model komunikasi dari komunikasi pemasaran ialah seperti advertising atau Iklan, sales promotion atau promosi penjualan, interactive marketing atau pemasaran interaktif, word of mouth marketing atau pemasaran dari mulut ke mulut dan lain sebagainya. Peneliti menggunakan konsep tersebut untuk mengetahui, seberapa besar dampak yang akan ditimbulkan oleh celebrity endorser dalam mengiklankan suatu produk, terhadap pembelian yang dilakukan oleh konsumen. Selain itu juga untuk mencari tahu faktor yang menjadi suatu daya tarik konsumen, saat melihat pemasaran yang dilakukan oleh McDonaldAos dalam menjual BTS Meal. Karena hal-hal itulah, peneliti menjadi tertarik untuk bisa meneliti seberapa besar pengaruh yang dapat ditimbulkan oleh celebrity endorser terhadap Impulsive Buying Behavior Konsumen, khususnya pada saat kolaborasi McDonaldAos dengan BTS yaitu pada menu BTS Meal, yang terjadi di Indonesia pada bulan Juni 2021. Syarafina Dini Shabrina. Lusia Savitri Setyo Utami: Pengaruh Penggunaan Celebrity Endorser terhadap Impulsive Buying Behavior Konsumen (Studi Pada Kolaborasi BTS Meal di Indonesi. Metode Penelitian Pada penelitian kali ini, peneliti memakai pendekatan kuantitatif berdasarkan metode survei. Di dalam jurnal ditulis Herawati . Sugiyono menjabarkan bahwa metode penelitian ini sendiri Merupakan studi yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, akan tetapi data yang disurvei diambil dari populasi untuk menemukan peristiwa penyebaran relatif dan hubungan antara variabel sosiologis atau psikologis. Peneliti menggunakan metode survei dengan melalui kuesioner untuk dapat mengumpulkan data. Sugiyono menyebutkan bahwa data yang diperoleh melalui penyebaran kuesioner dapat dibuat menjadi berupa skoring untuk masing-masing Dan untuk skala yang akan digunakan dalam penelitian untuk pembobotan item kuesioner ialah dengan menggunakan Skala Likert (Herawati . Populasi dan sampel dapat digambarkan sebagai area umum. Mencakup beberapa objek atau topik dengan jenis dan keistimewaan tertentu yang dapat ditentukan oleh peneliti dan dari mana kesimpulan dapat ditarik. Lalu dalam penelitian ini konsumen yang membeli produk BTS Meal merupakan populasi yang akan diambil dan konsumen-konsumen tersebut itu yang akan menjadi subjek untuk dapat diteliti mengenai rumusan masalah pada penelitian ini (Herawati . Sugiyono juga menjelaskan bahwa sampel merupakan sebagian dari populasi Sementara itu menurut Umi Narimawati di dalam jurnal Herawati . Sampel merupakan sebagian dari populasi yang sudah terpilih untuk dapat dijadikan unit pengamatan dalam suatu penelitian. Oleh karena itu, contoh yang akan diambil dari populasi perlu tepat. Dalam penelitian ini, proses pengambilan sampel menggunakan teknik nonprobability dengan teknik purposive sampling. Pada jurnal yang dibuat oleh Margaretha. Rosalina dan Trimawati . Sugiyono menjelaskan bahwa purposive sampling ialah suatu teknik dalam pengambilan sampel sumber data melalui pertimbangan tertentu. Dan Penulis menggunakan teknik penentuan purposive sampling berdasarkan kriteria yang sebelumnya sudah diatur oleh peneliti yang sesuai dengan fenomena yang akan diteliti yaitu sebagai berikut: . Berjenis kelamin pria ataupun wanita. Memiliki umur dengan rentang 15-35 tahun. Mengetahui adanya boygroup BTS . Membeli produk BTS Meal . Berlokasi di Indonesia. Pada penelitian kali ini jumlah responden yang akan diambil berdasarkan dari banyaknya indikator pada penelitian lalu dikali dengan 5. Dan pada penelitian ini terdapat 9 indikator, maka perhitungannya adalah 9x5=45 responden. Maka dengan menggunakan penghitungan jumlah responden yang di ambil dalam jurnal dan hasil yang didapatkan adalah 45 responden. Responden digunakan untuk menjawab rumusrumus pertanyaan yang sedang di selidiki. Metode analisis data yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah analisis regresi linear sederhana. Ini adalah pengujian yang digunakan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara variabel (X) dan variabel (Y). Penelitian ini juga menggunakan uji T untuk untuk menguji pengaruh hubungan istimewa antara variabel (X) terhadap variabel (Y). Peneliti akan menguji menggunakan uji validitas, uji reliabilitas, dan uji normalitas. Prologia Vol. No. Oktober 2022. Hal 270-279 EISSN 2598-0777 Hasil Temuan dan Diskusi Uji Validitas dan Reliabilitas Apabila melihat hasil uji validitas dari variabel X dan Y, hasilnya menyatakan data yang diperoleh valid. Dilihat dari hasil uji validitas yang menyatakan r hitung > r tabel dengan nilai r Tabel = 0,294. Tabel 1. Hasil Uji Validitas Variabel Penggunaan Celebrity Endorser P10 P11 P12 Corrected Item-Total Correlation (R Hitun. ,766 ,807 ,555 ,721 ,544 ,697 ,828 ,807 ,869 ,468 ,763 ,782 R Tabel ( 0,. 0,294 0,294 0,294 0,294 0,294 0,294 0,294 0,294 0,294 0,294 0,294 0,294 Kesimpulan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Sumber: Hasil Olah Data Peneliti Berdasarkan data yang sudah diperlihatkan pada tabel di atas, terlihat bahwa variabel Penggunaan Celebrity Endorser terdiri atas 12 pertanyaan, dan sudah dinyatakan semua butir pertanyaan memiliki nilai r hitung > r tabel. Jika nilai r tabel adalah 0,294, maka peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa semua butir pertanyaan yang bersumber dari variabel Penggunaan Celebrity Endorser tersebut dapat dinyatakan valid dan juga menyimpulkan bahwa itu juga dapat digunakan sebagai alat Tabel 2. Hasil Uji Validitas Variabel Impulsive Buying Behavior P13 P14 P15 P16 P17 P18 P19 P20 P21 P22 P23 Corrected Item-Total Correlation ,856 ,734 ,822 ,795 ,816 ,786 ,689 ,681 ,766 ,811 ,850 R Tabel. Kesimpulan 0,294 0,294 0,294 0,294 0,294 0,294 0,294 0,294 0,294 0,294 0,294 Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Sumber: Hasil Olah Data Peneliti Berdasarkan data yang diperlihatkan pada tabel di atas, terlihat bahwa variabel Impulsive Buying Behavior terdiri atas 11 pertanyaan, dan sudah dinyatakan semua butir pertanyaan memiliki nilai r hitung > r tabel. Jika nilai r tabel adalah 0,294, maka Syarafina Dini Shabrina. Lusia Savitri Setyo Utami: Pengaruh Penggunaan Celebrity Endorser terhadap Impulsive Buying Behavior Konsumen (Studi Pada Kolaborasi BTS Meal di Indonesi. peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa semua butir pertanyaan yang bersumber dari variabel Impulsive Buying Behavior tersebut dinyatakan valid dan dan juga menyimpulkan bahwa itu juga dapat digunakan sebagai alat penelitian. Tabel 3. Hasil Uji Reliabilitas Hasil Nilai CronbachAos Alpha 0,924 Variabel Penggunaan Celebrity Endorser Impulsive Buying Behavior 0,948 Batas Minimum Keputusan Reliabel Reliabel Sumber: Hasil Olah Data Peneliti Dari hasil perhitungan uji reliabilitas pada tabel 3 diatas, dapat diketahui bahwa kedua variabel memiliki nilai Cronbach alpha yang melebihi batas maksimum yaitu yang sebesar 0,600. Maka dapat di tarik kesimpulan bahwa instrumen penelitian untuk kedua variabel dapat dinyatakan reliabel yang artinya bahwa secara keseluruhan instrumen tersebut layak digunakan. Uji Normalitas Data dengan P-P Plot of Regression Gambar 1. Hasil Uji Normalitas Sumber: Hasil Olah Data Peneliti Gambar 1 menunjukkan titik-titik yang didistribusikan di sekitar atau di sekitar diagonal, dan distribusinya mengikuti arah diagonal. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa data berhasil didistribusikan setelah diproses oleh program SPSS for Windows. Tabel 4. Uji Korelasi Model Summaryb Model R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate ,874a ,764 ,758 4,390 Predictors: (Constan. X_Penggunaan_Celebrity_Endorser Dependent Variable: y_Impulsive_Buying_Behavior Sumber: Hasil Olah Data Peneliti Dari hasil perhitungan dengan menggunakan SPSS, dapat diketahui bahwa nilai koefisien korelasi . sebesar 0,874 artinya pengaruh antaraPenggunaan Celebrity Prologia Vol. No. Oktober 2022. Hal 270-279 EISSN 2598-0777 Endorser terhadap Impulsive Buying Behavior adalah sangat kuat. Sedangkan untuk nilai koefisien determinasi sebesar 0,764, menunjukkan bahwa terdapat 76,4% peningkatan Impulsive Buying Behavior sangat dipengaruhi oleh Penggunaan Celebrity Endorser, sementara sisanya . ,6%) dipengaruhi oleh variabel-variabel Tabel 5. Uji Regresi Coefficientsa Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients Std. Error Beta 17,294 5,487 1,180 ,100 ,874 Model (Constan. X_Penggunaan_Celebri ty_Endorser Dependent Variable: y_Impulsive_Buying_Behavior 3,152 11,782 Sig. ,003 ,000 Sumber: Hasil Olah Data Peneliti Dari hasil analisis regresi tersebut diketahui bahwa: Nilai a = 17,294 Nilai b1 = 1 ,180 Berdasarkan nilai tersebut, maka dapat dibuat persamaan regresi: YAo = a b1X1 Y = 17,294 1 ,180 X1 Keterangan: Nilai a sebesar 17,294, artinya bila X (Penggunaan Celebrity Endorse. tidak mengalami perubahan, maka nilai Y (Impulsive Buying Behavio. adalah sebesar 17,294 satuan. Nilai b1 sebesar 1 ,180, artinya bila X (Penggunaan Celebrity Endorse. tidak mengalami perubahan, maka setiap perubahan satu satuan X (Penggunaan Celebrity Endorse. akan meningkatkan Y (Impulsive Buying Behavio. sebesar Penggunaan Celebrity Endorser satuan. Uji T Berdasarkan hasil tabel 5 diatas, nilai Sig = 0,000 < 0,05 Kesimpulan: Ho ditolak Ha diterima. Artinya: Jika X . enggunaan Celebrity Endorse. dikendalikan pada tingkat kepercayaan 95%, terdapat pengaruh signifikan X . enggunaan Celebrity Endorse. terhadap Y (Impulsive Buying Behavio. Komunikasi pemasaran ialah suatu upaya menyampaikan makna kepada khalayak luas khususnya konsumen mengenai saran perbedaan produk di pasaran. Kegiatan komunikasi pemasaran juga melambangkan serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan suatu produk, layanan, atau ide dalam bauran pemasaran seperti: Periklanan, penjualan tatap muka, promosi, hubungan masyarakat dan hubungan masyarakat, dan yang terakhir terdapat pemasaran langsung. Dan masih dalam buku yang sama. Bagian dari keseluruhan proses komunikasi pemasaran adalah periklanan atau promosi. Periklanan atau advertising diyakini dapat meningkatkan interaksi antara satu pihak dengan pihak lainnya. Bagian lain dari proses komunikasi ialah umpan balik. Umpan balik menunjukkan efektivitas komunikasi dan Syarafina Dini Shabrina. Lusia Savitri Setyo Utami: Pengaruh Penggunaan Celebrity Endorser terhadap Impulsive Buying Behavior Konsumen (Studi Pada Kolaborasi BTS Meal di Indonesi. menawarkan kemungkinan untuk menyesuaikan alat periklanan dengan permintaan pasar (Sutisna dalam Amir Purba, dkk . Komunikasi pemasaran merupakan aktivitas komunikasi antara pelanggan dan penjual yang mendukung dalam menentukan dan membuat pertukaran lebih memuaskan dengan membuat semua pihak menyadari bagaimana meningkatkannya. Oleh karena itu. Komunikasi Pemasaran adalah suatu pertukaran informasi dua arah antara pihak-pihak yang terlibat dalam pemasaran. (Basu Swastha dan Irawan, 2. Berdasarkan keseluruhan hasil pengolahan data dalam penelitian ini dengan menggunakan program SPSS versi 25 membuktikan adanya pengaruh antara variabel X dan variabel Y. Koefisien korelasi . adalah 0,874, yang berarti bahwa pengaruh antara Penggunaan Celebrity Endorser terhadap Impulsive Buying Behavior adalah sangat kuat. Sedangkan nilai koefisien determinasi sebesar 0,764, menunjukkan bahwa 76,4% peningkatan Impulsive Buying Behavior sangat dipengaruhi oleh Penggunaan Celebrity Endorser, sementara sisanya . ,6%) dipengaruhi oleh variabel-variabel Uji normalitas data menggunakan grafik P-P Plot of Regression. Jika titik-titik . tersebar di sekitar diagonal dan distribusi mengikuti arah diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas klasik. Gambar 4. 4 menunjukkan titik-titik yang tersebar di sekitar diagonal, dengan penyebaran mengikuti arah diagonal. Dari sini, setelah mengolah data melalui program SPSS for Windows, data terdistribusi normal. Dalam survei ini, mayoritas responden yang berpartisipasi dalam survei ini merupakan responden dengan usia responden berusia 26-30 tahun. Karena usia 26 sampai 30 dimana pada rentan usia tersebut responden menyukai pembelian BTS Meal Di Indonesia. Hasil temuan secara keseluruhan pada uji t pada variabel Penggunaan Celebrity Endorser ditemukan nilai Sig = 0,000 yang mana nilai ini lebih kecil dari 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak, yang artinya: ada pengaruh yang signifikan X (Penggunaan Celebrity Endorse. terhadap Y (Impulsive Buying Behavio. jika X (Penggunaan Celebrity Endorse. dikontrol dengan tingkat keyakinan 95%. Pada hasil pengujian normalitas data, diketahui bahwa dalam diagram Uji Normalitas P-P Plot of Regression terlihat bahwa data berada di atas dan dibawah garis diagonal dan data tersebut merapat dengan garis dan tidak ada yang menyimpang jauh, sehingga data yang disajikan sudah normal dan baik digunakan untuk uji regresi. Pada akhir pembahasan ini diketahui bahwa Penggunaan Celebrity Endorser berpengaruh terhadap Impulsive Buying Behavior. Hal ini mengindikasikan bahwa Penggunaan Celebrity Endorser memang benar sangat berpengaruh terhadap Impulsive Buying Behavior. Pada konklusi perhitungan diperoleh koefisien korelasi . sebesar 0,874 artinya pengaruh antara Penggunaan Celebrity Endorser terhadap Impulsive Buying Behavior adalah sangat dominan. Sedangkan nilai koefisien determinasi sebesar 0,764, menunjukkan bahwa 76,4% peningkatan Impulsive Buying Behavior sangat dipengaruhi oleh Penggunaan Celebrity Endorser, sementara sisanya . ,6%) dipengaruhi oleh variabel-variabel lain. Penelitian ini juga sejalan dengan Yulianti dan Sudrajat . , yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh kredibilitas endorser BTS terhadap keputusan pembelian sebesar 21,71%. Langkah kajian yang terakhir adalah mencari kecenderungan perubahan Impulsive Buying Behavior (Y) akibat dari perubahan variable Penggunaan Celebrity Endorser. Hal ini dapat diketahui dengan menghitung koefisien regresinya melalui Prologia Vol. No. Oktober 2022. Hal 270-279 EISSN 2598-0777 teknik analisis regresi sederhana. Hasil analisis data dengan SPSS 25. 00 mendapatkan persamaan regresi sederhana sebagai berikut : Y = 17,294 1,180 X1. Persamaan tersebut menginformasikan bahwa kecenderungan dari Impulsive Buying Behavior (Y) yang dilihat dari variabel Penggunaan Celebrity Endorser secara bersama-sama adalah apabila naik 1 poin, maka akan berdampak terhadap peningkatan Impulsive Buying Behavior (Y) sebesar 17,294. Dari hasil penelitian, maka analisis kontribusi pengaruh Penggunaan Celebrity Endorser (X) terhadap Impulsive Buying Behavior (Y) memperlihatkan hasil perhitungan yang signifikan . karena nilai 0,000 dibawah 0,05 (Dewanti & Irwansyah, 2. Festinger menjelaskan bahwa teori disonansi kognitif merupakan individu yang berusaha untuk menjaga konsistensi di antara berbagai macam kognisi seperti perilaku, pikiran, sikap, keyakinan ataupun nilai. Kognisi yang tidak konsisten, dapat menghasilkan suatu keadaan yang membuat individu menjadi merasakan adanya ketidaksesuaian dalam diri yang pada akhirnya akan Memotivasi seseorang untuk mengubah satu atau lebih kognisi untuk mengembalikan koherensi dengan kognisi lainnya, sehingga individu berhasil mendapatkan kesesuaian. Menurut Sarwono Wibowo . , disonansi kognitif adalah kondisi yang tidak menyenangkan akibat dua sikap atau ketidaksepakatan yang berbeda tentang Disonansi kognitif juga dapat dinilai sebagai fenomena pasca pengambilan Penyesalan pembeli merupakan disonansi yang sering kali dialami atau terjadi oleh seseorang setelah melalukan suatu pembelian dalam jumlah besar. Dan dalam penelitian kali ini. Berdasarkan Tabel 4. 23 AuSaya pernah merasakan perasaan terburu-buru ketika melakukan pembelian produk kolaborasi BTS yaitu BTS MealAy dikatakan bahwa jumlah responden adalah 45 responden, yang menjawab sangat setuju ada 23 responden atau 51,1%, setuju berjumlah 8 responden atau 17,8%. Netral berjumlah 7 responden atau 15,6%, tidak setuju sebanyak 6 responden atau 13,3%, dan sangat tidak setuju 1 responden atau 2,2%. Jadi dapat disimpulkan bahwa kebanyakan responden menjawab sangat setuju pada pernyataan AuSaya pernah merasakan perasaan terburu-buru ketika melakukan pembelian produk kolaborasi BTS yaitu BTS MealAy. Namun dalam Tabel 4. 24 yaitu AuSaya merasa puas akan kualitas dan rasa dari produk BTS MealAy jumlah 45 responden, yang menjawab sangat setuju ada 20 responden atau 44,4%, setuju berjumlah 12 responden atau 26,7%. Netral berjumlah 11 responden atau 24,4%, tidak setuju sebanyak 2 responden atau 4,4%. Jadi dapat disimpulkan bahwa kebanyakan responden menjawab sangat setuju pada pernyataan AuSaya merasa puas akan kualitas dan rasa dari produk BTS MealAy. Jadi bisa ditarik kesimpulan bahwa terdapat perasaan terburu-buru ketika melakukan pembelian BTS Meal, namun tidak ada rasa penyesalan yang timbul setelah membeli produk tersebut. Berdasarkan hasil uji deskriptif dari variabel Penggunaan Celebrity Endorser (X) menunjukkan bahwa nilai maksimum atau tertinggi pada hasil jawaban respoden adalah pada pernyataan AuSaya mengetahui bahwa BTS memiliki banyak penggemar di IndonesiaAy nomor 11 pada dimensi Attractiveness dengan nilai rata-rata 4,82 . riteria sangat setuj. hal ini menunjukkan bahwa BTS memiliki banyak penggemar di IndonesiaAy, sebagai seorang endorser hendaknya dapat berpenampilan menarik untuk memikat konsumen sebab dengan daya tarik yang mereka miliki sehingga dapat mempengaruhi keputusan pembelian bagi para konsumen. Nilai terendah pada pernyataan Saya merupakan penggemar BTS atau ARMY nomor 2 dengan nilai ratarata 4,02 Hasil uji deskriptif dari variabel Impulsive Buying Behavior (Y) menunjukkan bahwa nilai maksimum atau tertinggi pada hasil jawaban respoden adalah pada Syarafina Dini Shabrina. Lusia Savitri Setyo Utami: Pengaruh Penggunaan Celebrity Endorser terhadap Impulsive Buying Behavior Konsumen (Studi Pada Kolaborasi BTS Meal di Indonesi. pernyataan AuSaya merasa BTS memiliki penampilan yang menarik dalam mempromosikan BTS MealAy nomor 16 dengan nilai rata-rata 4,62 . engan tolak ukur sangat setuj. hal ini menunjukkan bahwa BTS memiliki banyak penggemar di IndonesiaAy, dan nilai terendah pada pernyataan AuSaya pernah merasakan perasaan terburu-buru ketika melakukan pembelian produk kolaborasi BTS yaitu BTS MealAy atau nomor 20 dengan nilai kebanyakan sebesar 4,02. Hal ini mengindikasikan bahwa mayoritas responden telah merasa BTS memiliki penampilan yang menarik dalam mempromosikan BTS Meal. Berdasarkan pemaparan data kuesioner responden variabel X (Penggunaan Celebrity Endorse. dan variabel Y (Impulsive Buying Behavio. di atas, peneliti menyimpulkan bahwa ada pengaruh yang sangat kuat antara Penggunaan Celebrity Endorser terhadap Impulsive Buying Behavior. Artinya semakin baik penggunaan Celebrity Endorser, maka akan dapat meningkatkan Impulsive Buying Behavior. Dengan demikian hendaknya perusahaan perlu selektif dalam memilih seorang Celebrity Endorser, agar dapat menjadi nilai tambah dalam mengembangkan atau meningkatkan Impulsive Buying Behavior. Menurut Ardiyanto . Beatty & Ferrell mendefinisikan perilaku pembelian impulsive sebagai pembelian terserempak yang tidak melibatkan niat pembelian sebelumnya atau pembelian kategori produk tertentu untuk mencapai tujuan pembelian tertentu. Perilaku ini terjadi setelah adanya dorongan untuk membeli dan biasanya bersifat sukarela dan kurang bijaksana. Tidak termasuk pembelian barang sederhana yang mudah digunakan di rumah. Rook juga menjelaskan bahwa impulsive buying behavior merupakan Pembelian yang terjadi ketika konsumen mengalami dorongan secara langsung dan bertahan lama untuk membeli sesuatu dengan segera dan juga cepat. Jenis pembelian ini menyenangkan dan dapat merangsang konflik emosional. Variabel ini diukur dalam item, dan pertanyaan tersebut diadaptasi dan dikembangkan sebelumnya oleh peneliti Foroughi. Beatty dan Ferrel dan Flight (Ardiyanto . Impulsive buying behavior kedapatan ketika seseorang mengalami dorongan yang tiba-tiba dan seringkali memiliki naluri atau motif yang kuat untuk segera membeli sesuatu. Rook menjelaskan bahwa pembelian ini rumit dan dapat menyebabkan konflik emosional. Selain itu. Beatty dan Ferrell juga mengembangkan definisi pembelian impulsif sebagai pembelian langsung atau pembelian mendadak. Hal terpenting yang dapat disimpulkan dari definisi kedua peneliti tersebut adalah bahwa perilaku pembelian impulsif adalah perilaku konsumsi yang tidak melihat atau mempertimbangkan rencana yang dibuat sebelum perilaku pembelian meningkat (Ardiyanto, 2. Pembelian impulsif sendiri terjadi ketika konsumen berbelanja dengan pilihan tanpa pertimbangan yang matang. Tidak jarang konsumen pulang dengan membawa barang yang tidak direncanakan. Beberapa konsumen merasa menyesal karena menemukan bahwa mereka telah membeli produk yang tidak mereka butuhkan (Ardiyanto, 2. Selain itu. Stern juga menjelaskan bahwa terdapat empat klasifikasi pembelian impulsif yang dapat diidentifikasi, yaitu Pure Impulse Buying. Reminder Impulse Buying. Suggestion Impulse Buying, dan Planned Impulse Buying. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan di atas, maka penelitian ini membuktikan adanya pengaruh antara Penggunaan Celebrity Endorser terhadap Impulsive Buying Behavior. Dan dimensi yang paling dominan ialah dimensi Attractiveness dengan nilai rata-rata 4,82. Prologia Vol. No. Oktober 2022. Hal 270-279 EISSN 2598-0777 Simpulan Terdapat pengaruh sangat kuat dan signifikan antara penggunaan celebrity endorser terhadap impulsive buying behavior. Karena itu, penggunaan celebrity endorser yang terjadi pada peningkatan Impulsive Buying Behavior, dapat dijelaskan atau dipengaruhi oleh penggunaan celebrity endorser. Besarnya pengaruh variabel penggunaan celebrity endorser terhadap impulsive buying behavior dapat dilihat dari nilai koefisien determinasi. Peningkatan impulsive buying behavior sangat dipengaruhi oleh Penggunaan Celebrity Endorser, sementara itu sisanya dipengaruhi oleh variabel-variabel lainnya. Hendaknya pada penelitian yang selanjutnya perlu ditambahkan jumlah variabel Independennya (X) serta jumlah sampel penelitian ditambah lagi, agar penelitian ini lebih mewakili tingkat Impulsive Buying Behavior secara keseluruhan. Berdasarkan hasil penelitian, dapat diambil kesimpulan atau dapat diketahui bahwa Celebrity Endorser memiliki pengaruh yang kuat akan Impulsive Buying Behavior Konsumen, maka dari itu suatu perusahaan atau brand yang ingin mendapatkan pengaruh kuat dari seorang Celebrity Endorser terhadap Impulsive Buying Behavior pada Konsumen, dapat menjadikan Attractiveness yang ditimbulkan oleh BTS sebagai referensi dalam melakukan teknik pemasaran tersebut. Ucapan Terima Kasih Peneliti mengucapkan terima kasih kepada Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara, narasumber, serta semua pihak yang turut membantu peneliti sehingga penelitian ini dapat diselesaikan. Daftar Pustaka