Penerapan Metode Six Sigma Dalam Perbaikan Kualitas Kampas (Linin. Produk Brake Shoe Pada PT X Application of Six Sigma Method in Improving the Quality of Lining in Brake Shoe Products at PT X Olivia Shagan1. Yurida Ekawati2* Program Studi Teknik Industri. Universitas Ma Chung. Malang *Penulis Korespondensi: Yurida Ekawati, yurida. ekawati@machung. Abstrak Salah satu tujuan jangka pendek PT X adalah mampu meminimalkan defect pada produk brake shoe. Selama berjalannya proses produksi, part brake shoe yang menghasilkan kecacatan terbesar adalah kampas . Padahal kualitas kampas berpengaruh langsung terhadap kualitas pengereman mobil. Penelitian ini menggunakan metode Six Sigma dengan tahapan DMAIC, untuk mengidentifikasi defect pada kampas serta mengurangi variansi dalam proses. Dua CTQ terbesar kecacatan kampas adalah kampas miring dan kampas keropos. Persentase muncul cacat tersebut sebesar 70,41% dari total kampas cacat. Kedua jenis kecacatan ini muncul secara signifikan disebabkan karena terdapat kerak pada permukaan matras cetakan . yang digunakan pada proses Analisis improvement yang diterapkan adalah melakukan upaya preventive maintenance, yaitu membersihkan permukaan matras secara berkala dengan periode waktu setiap 5 kali cetak kampas. Setelah diterapkannya usulan perbaikan, diperoleh peningkatan level sigma dari 3,629 sigma menjadi 3,976 sigma. Usulan perbaikan ini juga terbukti efektif mampu mengurangi 2 jenis cacat terbanyak pada kampas yaitu kampas miring dan keropos. Pencapaian peningkatan level sigma ini dipertahankan dengan menerapkan pemberian insentif kepada operator hidrolis apabila mampu menghasilkan kampas cacat di bawah standar yang telah dibuat. Kata kunci: DMAIC. DPMO. preventive maintenance. Six Sigma Abstract One of the short-term goals of PT X is to be able to minimize defects in brake shoe During the course of the production process, the brake shoeAos part that produces the greatest defects is canvas or lining. Even the quality of the lining directly affects quality of car braking process. This research using Six Sigma method with DMAIC stages, to identify defects in lining part and reduce the variance in the process. The two biggest CTQ of lining disability are inclined and spongy lining. The percentage of these defects appears at 70. 41% of the total linig disability. Both types of defects appear significantly due to the incrustation on the mould surface . that used in the lining moulding process. Improvement analysis that had been applied was doing preventive maintenance efforts, to clean the mould surface regularly with a period of time for every 5 lining moulding. After implementation, an increased in sigma level was obtained from 3,629 sigma to 3,976 sigma. This proposed improvement also proved can effectively reduce the 2 most types of defects in lining product . nclined and spoungy linin. The achievement of increasing the level of sigma needs to be maintained by applying incentives to hydraulic pressAos operators when they are able to produce defect in lining product under the standard that has been made. Keywords: DMAIC. DPMO. preventive maintenance. Six Sigma Informasi Artikel: Diterima tanggal 3 Februari 2021. Disetujui tanggal 1 November 2021. Terbit online tanggal 30 Desember 2021 PENERAPAN METODE SIX SIGMA (Olivia S. , dkk. Pendahuluan Demi meningkatkan efektifitas dan efisiensi perusahaan, salah satu tujuan jangka pendek dari PT X sebagai produsen kampas rem terbesar di kotanya adalah meminimalkan defect pada produk kampas rem brake shoe. Kecacatan pada produk brake shoe dapat ditemui pada setiap part-nya, yaitu kampas. AostangAo. AodaunAo, maupun gabungan antara stang dan daun (AosepatuA. Jenis kecacatan untuk setiap part tersebut sangat beragam seperti kampas miring, kampas keropos, kampas terlalu tipis, daun/stang bengkok, daun/stang gopel, kampas tidak rekat pada sepatu, dan lain sebagainya. Namun bagian kampas . adalah part dengan frekuensi muncul cacat paling besar dibanding part lainnya. Padahal kampas adalah bagian penting dalam kampas rem brake shoe karena berpengaruh langsung terhadap kualitas pengereman. Penelitian ini ditujukan untuk menelaah skala permasalahan kualitas dan menemukan penyebab kecacatan pada produk kampas . dengan metode Six Sigma. Metode ini merupakan salah satu strategi bisnis yang dianggap mampu meningkatkan dan mempertahankan keunggulan operasional perusahaan (Rimantho dan Mariani, 2. Luaran akhir dari penelitian ini adalah usulan solusi yang dapat diterapkan oleh perusahaan untuk meminimalisasi jumlah produk defect beserta usulan cara mengendalikannya. Tabel 1. Jumlah part brake shoe ST 100 cacat dari setiap proses selama Oktober 2018 hingga September Jumlah Cacat Nama Part yang Cacat Proses Punching Proses Welding Proses Hidrolis AoDaunAo AoStangAo 325 buah 431 buah AoSepatuAo 265 buah 17 buah Proses Pemanasan Oven 37 buah Kampas . Brake shoe hampir jadi 320 buah Total 590 buah 448 buah 320 buah Tinjauan Pustaka Peningkatan kualitas dengan metode Six Sigma juga telah digunakan pada penelitian yang dilakukan Dharmawan dan Ekawati . pada PT Fajar Indah yang memproduksi knalpot. Tahapan penelitian yang digunakan juga menggunakan DMAIC steps, dengan melakukan analisis RCA dan FMEA untuk memunculkan usulan solusi perbaikan. Kemudian Windarti . juga melakukan penelitian dengan judul AuPengendalian Kualitas untuk Meminimasi Produk Cacat pada Proses Produksi Besi BetonAy. Obyek yang diteliti adalah besi beton diameter 12 mm. Hasil akhir yang diperoleh adalah level sigma yang sebelum dilakukan perbaikan hanya 2,96 menjadi sebesar 3,17 setelah dilakukan analisis perbaikan menggunakan metode Six Sigma. Kemudian penelitian serupa dengan metode Six Sigma juga telah dilakukan oleh Safrizal dan Muhadjir . dengan obyek penelitian adalah kecacatan roti yang diproduksi UD. Delima Bakery. Ditemukan bahwa penyebab kecacatan muncul pada proses pengadonan, pencetakan, dan pembakaran. Namun tidak ada realisasi usulan perbaikan, sehingga tidak dapat diketahui ada atau tidaknya peningkatan nilai sigma. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif. Analisis pada penelitian ini menggunakan metode Six Sigma dengan tahapan DMAIC, yaitu Define. Measure. Analyze. Improvement. Control. Penerapan langkah DMAIC sebagai cara untuk meningkatkan kualitas produk dalam konsep Six Sigma dapat meningkatan efektifitas penanggulangan terhadap masalah-masalah yang muncul selama penelitian (Smotkowska dan Mrugalska, 2. Setelah melakukan tahapan DMAIC, kemudian hasil pengolahan data akan JOURNAL OF INTEGRATED SYSTEM VOL 4. NO. DESEMBER 2021: 133-149 Hal ini ditujukan untuk mengetahui apakah usulan solusi perbaikan yang diberikan benar efektif dapat meningkatkan kapabilitas proses yang ditunjukkan lewat adanya peningkatan level sigma sebelum dan sesudah penerapan usulan perbaikan atau tidak. 1 Tahap Define Evans dan Lindsay . menjelaskan tahapan define atau perumusan adalah tahapan mendefinisikan atau menyatakan masalah yang juga sering disebut project scoping atau penentuan cakupan proyek. Oleh karena itu tahapan ini berkaitan dengan identifikasi masalah proses atau produk yang mengalami kesalahan atau kegagalan. Tahapan define pada penelitian ini akan melakukan pengidentifikasian CTQ (Critical to Qualit. pada proses produksi CTQ dapat diartikan sebagai elemen dari proses yang berpengaruh langsung terhadap pencapaian kualitas yang diinginkan (Kusumawati dan Fitriyeni, 2. Penentuan CTQ tersebut digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan spesifik konsumen. 2 Tahap Measure Defrianto dan Farida . menyebutkan bahwa tahapan Measure digunakan untuk mengukur kinerja sekarang . urrent performanc. pada tingkat proses, output, dan atau outcome untuk ditetapkan sebagai baseline kinerja . erformance baselin. pada awal obyek penelitian Six Sigma. Cara yang dapat digunakan untuk mengukur adalah dengan menghitung DPMO (Defect per Million Opportunitie. (Montgomery, 2. DPO (Defect per Opportunitie. adalah banyaknya cacat atau kegagalan per satu kesempatan. DPO = Total number of defects Number of units x Number of opportunities . DPMO (Defect per Million Opportunitie. adalah banyaknya cacat atau kegagalan per satu juta kesempatan. DPMO = DPO y 1. 3 Tahap Analyze Pada tahap ini akan ditentukan penyebab dari setiap masalah yang menjadi prioritas dalam penelitian, menganalisis masalah-masalah tersebut, mengidentifikasi dan mengurutkan penyebab potensial dari masalah yang sudah diprioritaskan, serta mengukur tingkat importance dari setiap penyebab potensial (Takao dkk. , 2. Tools yang akan digunakan pada penelitian ini untuk mencapai tujuan tersebut adalah Pareto Diagram. Fishbone Diagram, dan analisis Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Sedangkan penguraian faktor-faktor yang penyebab terjadinya cacat akan dianalisis menggunakan salah satu 7 Basic Tools of Quality, yaitu Fishbone Diagrams. Penentuan jenis kecacatan kampas yang mayoritas muncul akan dilihat menggunakan Pareto Diagram. Sedangkan penguraian faktor-faktor yang penyebab terjadinya cacat akan dianalisis menggunakan salah satu 7 Basic Tools of Quality, yaitu Cause-and-Effect Diagrams (Fishbon. Kemudian faktor-faktor yang penyebab jenis kecacatan tersebut akan digunakan pada analisis Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Pada analisis FMEA. Potential Causes dengan RPN (Risk Priority Numbe. tertinggi akan dicarikan solusi perbaikan untuk meminimalkan kecacatan. 4 Tahap Improvement Tahap Improve merupakan rencana tindakan untuk melaksanakan tindakan perbaikan dan peningkatan kualitas produk yang dihasilkan setelah mengetahui penyebab kerusakan atas terjadinya jenis-jenis kerusakan produk. Oleh karena itu, improvement penyelesaian masalah PENERAPAN METODE SIX SIGMA (Olivia S. , dkk. atau perbaikan kinerja ini sering diikuti dengan perubahan teknis atau organisasional untuk menilai solusi yang ditawarkan dibandingkan dengan kriteria penting seperti biaya, waktu, sumber daya, budaya organisasional, dan lain sebagainya (Evans dan Lindsay, 2. Pada tahap ini akan dilakukan penerapan usulan berupa preventive maintenance. 5 Tahap Control Tujuan dari tahap ini adalah untuk mempertahankan proses perbaikan agar dapat terus berjalan dan terkendali. Cara yang dapat dilakukan bervariasi, bergantung dengan hasil dari tahapan Proses control yang akan dilakukan pada penelitian ini adalah dengan memperbaiki instruksi kerja agar solusi yang ditawarkan dapat dijalankan selama produksi kampas berjalan. Kemudian untuk memastikan perbaikan ini tetap dilakukan oleh operator, maka akan diberlakukan penerapan sistem kompensasi dengan pemberian insentif. Pembahasan 1 Pengumpulan Data Jenis kampas rem yang digunakan sebagai obyek dalam penelitian ini adalah brake shoe tipe ST 100. Brake shoe sendiri terdiri dari beberapa part. Dua part penting pada brake shoe yaitu AosepatuAo dan kampas . AoSepatuAo merupakan gabungan AodaunAo dan AostangAo. Bill of Material (BOM) produk brake shoe dapat dilihat pada Gambar 1. Data primer pada penelitian ini diperoleh melalui observasi dan wawancara. Observasi dilakukan pada proses hidrolis, yaitu mesin pencetak kampas, untuk mengetahui permasalahan kualitas pada bagian kampas, serta solusi terbaik yang memungkinkan untuk dilakukan implementasi. Wawancara juga dilakukan terhadap manajer produksi, supervisor produksi, serta operator mesin untuk memperdalam informasi terkait sebab dan akibat kampas . cacat yang muncul pada proses hidrolis. Gambar 1. BOM produk brake shoe Gambar 2. Brake shoe JOURNAL OF INTEGRATED SYSTEM VOL 4. NO. DESEMBER 2021: 133-149 Gambar 3. Elemen brake shoe: stang Gambar 4. Elemen brake shoe: daun Gambar 5. Elemen brake shoe: kampas . Data sekunder diperoleh dari bagian produksi dan bagian Quality Control PT X. Data yang diperoleh berupa data jumlah produksi brake shoe ST 100 setiap bulan selama bulan Oktober 2018 hingga bulan September 2019, beserta jumlah produksi serta jumlah cacat part brake shoe ST 100 dari proses oven . , welding . , punching, serta proses Kemudian juga diperoleh data mengenai jumlah kampas cacat setelah implementasi 2 Pengolahan Data Kampas . merupakan part dengan jumlah kecacatan sangat besar dibanding part Kampas yang cacat ini muncul pada proses hidrolis. Sebelum menuju proses hidrolis, bahan kampas yang terbuat dari berbagai macam campuran kimia seperti asbes . ahan baku utam. , friksion, karet, resin, barit, alumunium, dan lain-lain akan melalui proses formulasi kemudian proses pencampuran . Setelah melalui proses mixing, akan menghasilkan serbuk kampas yang homogen. Serbuk kampas ini yang diproses pada mesin hidrolis. Proses hidrolis adalah proses pembentukan kampas, yaitu serbuk kampas dipadatkan, dipanaskan, dan diberi tekanan. Hasilnya adalah bentuk kampas lembaran. Proses hidrolis ini merupakan proses yang esensial pada produksi brake shoe, karena menentukan kualitas kampas rem mobil. Namun pada proses hidrolis . ydraulic pres. , menghasilkan berbagai jenis kecacatan kampas . Kampas yang cacat pada proses ini tidak langsung dibuang, tetapi di-sortir, hingga melalui proses pemotongan. Setelah dipotong, potongan kampas yang PENERAPAN METODE SIX SIGMA (Olivia S. , dkk. cacat akan langsung dibuang, sementara yang baik masih tetap digunakan. Potongan kampas yang harus dibuang ini yang dikategorikan sebagai produk cacat pada penelitian ini. Gambar 6. Proses hidrolis menggunakan matras untuk mencetak kampas Tahapan pengolahan data menggunakan metode Six Sigma. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penerapan Six Sigma adalah DMAIC. Berikut ini adalah hasilnya. 1 Define Instrumen yang digunakan adalah dengan menentukan Critical to Quality (CTQ). CTQ ini dapat digunakan perusahaan untuk menentukan karakteristik kualitas yang menjadi acuan untuk menilai hasil produksi kampas tergolong cacat atau tidak. Kriteria CTQ untuk kampas pada PT. X dapat dilihat di Tabel 2. Tabel 2. CTQ pada kampas . Karakteristik Kualitas CTQ Kampas miring CTQ 1 Kampas tipis Kampas belang CTQ 2 CTQ 3 Kampas keropos CTQ 4 Kampas retak CTQ 5 Kampas bergelembung CTQ 6 Kriteria Cacat Bila terdapat perbedaan ketebalan >3 mm antara titik ukur satu dan lainnya Bila tebal kampas <1,5 mm dari standar Bila >30% tampilan kampas terdapat beda warna Bila terdapat lubang-lubang kecil dan/atau ada bagian yang tidak rata Bila terdapat garis tembus ke dalam, dan panjangnya >10 mm Bila terdapat rongga udara dan basah 2 Measure Tahapan berikutnya yaitu Measure, untuk mengukur skala permasalahan kualitas yang dialami perusahaan sekarang. Perhitungannya menggunakan rumus DPO. DPMO, dan konversi nilai sigma pada persamaan . sebagai berikut. DPO = 438. 305 x 6 DPO = 0, 016624 DPMO = 0, 016624y 1. DPMO = 16624, 26849 JOURNAL OF INTEGRATED SYSTEM VOL 4. NO. DESEMBER 2021: 133-149 Level sigma akan menunjukkan apakah proses yang ada saat ini sudah efisien dan berkualitas. Level sigma dapat diperoleh dengan menggunakan bantuan perhitungan dari Microsoft Excel, dengan rumus sebagai berikut: NORMSINV (. 000 DPMO)/1. Berdasarkan perhitungan. DPMO yang diperoleh adalah sebesar 16624, 26849 . ilai DPMO yang paling baik adalah 3,. Kemudian diperoleh level sigma sebesar 3, 629. 3 Analyze Tahapan Analyze yang pertama menggunakan Pareto Chart untuk menentukan prioritas CTQ yang menyebabkan kecacatan pada kampas. Gambar 7. Pareto chart Dapat dilihat berdasarkan Pareto Chart di atas, mayoritas kecacatan bagian kampas pada brake shoe ST 100 yaitu sebesar 70,41% disebabkan karena jenis cacat miring (CTQ . dan keropos (CTQ . Oleh karena itu kedua jenis karakteristik kualitas tersebut . ampas miring dan keropo. merupakan masalah terpenting. Analisis menggunakan instrumen Fishbone Diagram akan membantu menguraikan penyebab-penyebab potensial dari kecacatan akibat karakter kualitas yang dituju. Analisis ini didasarkan pada 6 faktor utama, yaitu faktor material, metode, operator, pengukuran, mesin, dan peralatan. Gambar 8. Fishbone diagram kampas miring PENERAPAN METODE SIX SIGMA (Olivia S. , dkk. Gambar 8 menunjukkan Fishbone diagram untuk kampas miring. Sementara Gambar 4 menunjukkan Fishbone diagram untuk kampas keropos. Gambar 9. Fishbone diagram kampas keropos Hasil analisis Fishbone Diagram digunakan lebih lanjut pada analisis FMEA, khususnya digunakan pada bagian analisis potential causes. Analisis FMEA untuk mengidentifikasi proses perbaikan yang dapat dilakukan untuk mengurangi jumlah kecacatan pada kampas . Tipe FMEA yang digunakan adalah Process FMEA. Process FMEA mampu mengidentifikasi penyebab kegagalan proses, beserta dengan efek yang ditimbulkan dari kegagalan tersebut Tingkat severity diisi oleh 3 narasumber yang terdiri dari satu orang supervisor produksi dan dua orang operator pada mesin hidrolis yang menjalankan proses produksi untuk mencetak Narasumber tersebut dipilih karena dianggap yang paling memahami akibat yang ditimbulkan dari kecacatan. Selain faktor bahwa narasumber adalah pekerja di PT terkait yang paling memahami bentuk atau jenis cacat yang dimaksud dalam penelitian karena setiap harinya berhadapan langsung dengan proses produksi kampas rem. Faktor lain yang dipertimbangkan adalah narasumber juga merupakan konsumen dari kampas rem sendiri untuk kendaraan bermotor yang dimilikinya. Oleh karena itu narasumber dapat dikatakan sudah paling mendekati objektivitas dari penentuan tingkat severity dalam penelitian ini. Narasumber diberikan tabel skala severity . Semakin rendah angka menunjukkan tidak ada efek yang ditimbulkan akibat mode kecacatan, sementara semakin tinggi skala yang dimasukkan menunukkan efek yang ditimbulkan sangat parah. Skala severity mengikuti AIAG Severity Guidelines yang terdiri dari 10 tingkat keparahan terhadap efek yang ditimbulkan akibat kecacatan yang terjadi. Tabel 3 adalah hasil pengisian tingkat severity akibat efek yang timbul akibat terjadinya mode kegagalan atau kecacatan pada kampas. JOURNAL OF INTEGRATED SYSTEM VOL 4. NO. DESEMBER 2021: 133-149 Tabel 3. Analisis FMEA untuk tingkat severity Item Part / Function Potential Failure Mode Kampas (Linin. Kampas miring Keterangan: bila terdapat perbedaan ketebalan >3 mm antara titik ukur satu dan lainnya Kampas keropos Keterangan: bila terdapat lubang-lubang kecil dan/atau ada bagian yang tidak rata Potential Failure Effect SEV (Severit. Rata1 Rata Fungsi rem menjadi tidak sempurna . engereman tidak Fungsi rem terganggu, sedikit muncul noise saat pengereman 6,67 Tabel 4. Analisis FMEA untuk tingkat occurrence Item Part / Function Potential Failure Mode Kampas (Linin. Kampas Keterangan : bila 3 mm antara titik ukur satu dan lainnya Kampas (Linin. Kampas Keterangan :bila dan/atau ada bagian yang tidak Potential Causes / Mechanisms of Failure Kriteria pengontrolan yang kurang baik Instruksi penjadwalan pemeliharaan matras yang kurang jelas Pemeriksaan jari-jari matras yang tidak teliti Penataan serbuk kampas miring Tidak memerhatikan setting keempat sisi Jangka sorong kurang akurat Umur mesin sudah tua Matras cetakan miring Terdapat kerak pada matras cetakan Matras aus Kualitas bahan serbuk kampas Material teroksidasi Instruksi penjadwalan pemeliharaan matras yang kurang jelas Kriteria pengontrolan yang kurang baik Kesalahan menimbang serbuk kampas . Kesalahan setting mesin Timbangan kurang akurat Tekanan terlalu rendah Temperatur kurang panas Matras cetakan kotor OCC (Occu. Rata1 2 3 Rata 1 1 1 5,67 8,33 1,33 6,67 7,33 1,67 4,67 2,67 7,33 1,33 5,67 8,67 Kemudian tingkat occurence diisi oleh 3 narasumber yang terdiri dari satu orang supervisor produksi dan dua orang operator pada mesin hidrolis yang menjalankan proses produksi untuk mencetak kampas . roses saat teradinya caca. Narasumber diberikan tabel skala occurence . Tingkat occurrence menunjukkan tingkat kemungkinan terjadinya kecacatan akibat potential causes yang disebutkan. Semakin rendah angka menunjukkan kecacatan yang terjadi sangat jarang disebabkan potential causes yang disebutkan, sementara semakin tinggi skala PENERAPAN METODE SIX SIGMA (Olivia S. , dkk. yang dimasukkan menunjukkan kecacatan yang terjadi sangat sering disebabkan potential causes yang disebutkan. Skala occurrence mengikuti AIAG Occurence Guidelines yang terdiri dari 10 tingkat kemungkinan terjadinya kecacatan. Tabel 4 adalah hasil pengisian tingkat occurence munculnya kecacatan akibat potential causes yang disebutkan. Tabel 5. Analisis FMEA untuk tingkat detection Potential Failure Mode Kampas Potential Causes / Mechanisms of Failure Kriteria pengontrolan yang kurang baik Instruksi penjadwalan pemeliharaan matras yang kurang jelas Pemeriksaan jari-jari matras yang tidak teliti Penataan serbuk kampas Tidak memperhatikan setting keempat sisi mesin Jangka sorong kurang akurat Umur mesin sudah tua Matras cetakan miring Terdapat kerak pada matras Matras aus Kualitas bahan serbuk Material teroksidasi Instruksi penjadwalan pemeliharaan matras yang kurang jelas Kriteria pengontrolan yang kurang baik Kampas Kesalahan menimbang serbuk kampas . Kesalahan setting mesin Timbangan kurang akurat Tekanan terlalu rendah Temperatur kurang panas Matras cetakan kotor Current Process Controls DET (Detec. Rata2 Rata Pelatihan pada operator 3,33 Pelatihan pada operator 5,67 Pelatihan pada operator 7,67 4,67 3,33 7,33 Pembersihan matras Ganti matras Pemeriksaan material sebelum digunakan Wadah serbuk kampas dibuat tertutup 2,33 3,33 4,33 4,67 Penggantian jangka Service mesin Hydraulic Press Melakukan inspeksi pada Sudah ada daftar berat serbuk kampas untuk setiap jenis kampas Pelatihan pada operator Pemeriksaan besar tekanan pada mesin Pemeriksaan temperatur pada mesin hidrolis Pembersihan matras JOURNAL OF INTEGRATED SYSTEM VOL 4. NO. DESEMBER 2021: 133-149 Tingkat detect diisi oleh 3 narasumber yang terdiri dari satu orang supervisor produksi dan dua orang operator pada mesin hidrolis yang menjalankan proses produksi untuk mencetak kampas . roses saat teradinya caca. Narasumber diberikan tabel skala detection . untuk menilai seberapa sulit proses kontrol yang selama ini sudah diterapkan perusahaan untuk mencegah timbulnya kecacatan dengan Potential Causes yang disebutkan. Semakin rendah angka menunjukkan Current Process Controls yang sudah diterapkan perusahaan sangat mudah dilakukan dan berfungsi dengan baik mencegah teradinya kecacatan, sementara semakin tinggi skala yang dimasukkan menunjukkan tindakan pencegahan yang ada sangat sulit dilakukan atau bahkan tidak ada tindakan pencegahan dari perusahaan. Skala detect mengikuti AIAG Detection Guidelines yang terdiri dari 10 tingkat kemungkinan tindakan kontrol pencegahan dilakukan perusahaan mampu secara efektif mencegah teradinya Tabel 5 adalah hasil pengisian tingkat detect kontrol yang sudah ada sekarang mampu mendeteksi timbulnya kegagalan ataupun mampu mencegah kecacatan. Kampas DET RPN Potential Causes / Mechanisms of Failure Kriteria pengontrolan yang kurang baik Instruksi pemeliharaan matras yang kurang jelas OCC Potential Failure Mode SEV Tabel 6. Analisis FMEA untuk hasil RPN kampas miring Action Recommended Mempertegas jobdesk supervisor, melakukan evaluasi harian Pembuatan jadwal maintenance matras yang paten serta memperbaiki pedoman kerja Pemeriksaan jari-jari matras yang tidak 5,67 3,33 Penataan serbuk kampas miring 8,33 5,67 Tidak memerhatikan setting keempat sisi 7,67 Jangka sorong kurang akurat 4,67 Umur mesin sudah 1,33 3,33 Matras cetakan 6,67 7,33 Terdapat kerak pada matras cetakan 7,33 Matras aus Program pelatihan penguasaan teknik pemeriksaan jari-jari matras, baik bagian atas atau Program pelatihan untuk meningkatkan skill operator, atau pembuatan alat bantu untuk penataan serbuk kampas Program pelatihan untuk mensetting mesin Hydraulic Press, serta adanya kontrol terhadap setting mesin oleh supervisor Melakukan pemeriksaan keakuratan jangka sorong setiap periode waktu tertentu Melakukan service mesin secara berkala, serta mengganti mesin yang sudah tua Perbaikan atau ganti matras, serta adanya kontrol terhadap peletakkan matras oleh Melakukan penjadwalan maintenance/ pembersihan kerak pada matras Mengganti matras setiap periode waktu tertentu PENERAPAN METODE SIX SIGMA (Olivia S. , dkk. RPN merupakan hasil dari perkalian SEV*OCC*DET. Semakin tinggi nilai RPN maka dapat diketahui mode kegagalan atau kecacatan dengan penyebab atau Potential Causes yang paling kritis sehingga perlu mendahulukan tindakan koreksi pada mode kegagalan tersebut. Analisis FMEA untuk hasil RPM kampas miring dapat dilihat di Tabel 6 sedangkan analisis FMEA untuk hasil RPM kampas kropos dapat dilihat di Tabel 7. Kampas RPN DET OCC Potential Causes / Mechanisms of Failure SEV Tabel 7. Analisis FMEA untuk hasil RPN kampas keropos Potential Failure Mode Action Recommended Melakukan evaluasi supplier bahan kampas secara berkala serta memperketat proses quality control bahan dari supplier Mengevaluasi proses mixing agar sesuai dengan kapasitas proses hidrolis Kualitas bahan serbuk kampas 6,67 2,33 Material teroksidasi 6,67 1,67 3,33 6,67 4,67 Pembuatan jadwal maintenance memperbaiki pedoman kerja 6,67 2,67 Mempertegas jobdesk supervisor, melakukan evaluasi harian 6,67 Instruksi matras yang kurang Kriteria pengontrolan yang kurang baik Kesalahan menimbang serbuk kampas . Kesalahan setting 6,67 7,33 4,33 Timbangan kurang 6,67 1,33 Tekanan terlalu 6,67 4,67 Temperatur kurang 6,67 5,67 Matras cetakan 6,67 8,67 Program pelatihan untuk mensetting mesin Hydraulic Press, serta adanya kontrol terhadap setting mesin oleh supervisor Melakukan keakuratan jangka sorong setiap periode waktu tertentu Melakukan pemeriksaan settingan mesin secara berkala untuk digunakan sudah sesuai Melakukan pemeriksaan settingan mesin secara berkala untuk memastikan temperatur yang digunakan sudah sesuai Melakukan maintenance/ pembersihan kerak pada matras. Berdasarkan hasil perhitungan RPN, terdapat beberapa RPN dengan nilai yang cukup tinggi. Oleh karena itu, berdasarkan tingkat prioritas resiko terhadap kecacatan kampas tersebut, ada dua pilihan tindakan koreksi yang memungkinkan untuk segera dilakukan. Yang pertama adalah melakukan penjadwalan maintenance/ pembersihan kerak pada matras. Lalu yang kedua adalah pembuatan alat bantu saat menata serbuk kampas agar tidak miring. JOURNAL OF INTEGRATED SYSTEM VOL 4. NO. DESEMBER 2021: 133-149 4 Improve Setelah melakukan diskusi dengan pihak perusahaan, solusi yang akan diterapkan adalah melakukan penjadwalan maintenance/ pembersihan kerak pada matras. Matras adalah cetakan yang digunakan pada mesin hidrolis untuk mencetak serbuk kampas menjadi lembaran Oleh karena itu setiap jenis kampas memiliki matras dengan dimensi dan jari-jari kelengkungan yang berbeda. Selama digunakan untuk mencetak kampas, kerap kali muncul kerak atau kotoran yang menempel pada bagian chrome atau permukaan matras. Bagian chrome yang berkerak akan mengganggu proses cetak kampas, yaitu menimbulkan kecacatan pada kampas, khususnya cacat miring dan cacat keropos. Selama ini PT X memberlakukan breakdown maintenance atau perawatan yang dilakukan ketika terjadi kerusakan pada peralatan kerja, sehingga terhentinya proses produksi. Operator mesin hidrolis akan memberhentikan proses cetak kampas untuk matras yang berkerak, kemudian tanpa diturunkan dari mesin, matras akan dibersihkan. Matras dibersihkan dengan menggunakan AoskrapAo secara manual hingga permukaan chrome menjadi bersih. Selama ini proses pembersihan umumnya baru dilakukan setelah mencetak 8-12 lembar kampas, dengan lama pembersihan berkisar antara 4-6 menit. Oleh karena itu, improvement pada penelitian ini dilakukan dengan menerapkan preventive maintenance pada peralatan produksi kampas, yaitu matras cetak kampas ST 100. Preventive maintenance yang dimaksud adalah melakukan pembersihan permukaan matras atau chrome secara berkala dengan periode waktu setiap 5 cetak kampas . Implementasi solusi perbaikan ini dilakukan selama 5 hari produksi. Untuk mengetahui usulan improvement dengan menerapkan upaya preverentive maintenance pada matras cetakan memberi dampak yang positif atau tidak, maka dilakukan analisis FMEA dan perhitungan level sigma kembali sesudah penerapan. Analisis FMEA ini kembali dilakukan untuk mengetahui apakah usulan perbaikan berupa preverentive maintenance yang diterapkan dapat mengurangi kemungkinan terjadinya kecacatan . akibat potential causes yang disebutkan. Kemudian juga digunakan untuk menilai kemampuan proses perbaikan yang diusulkan apakah mampu mencegah timbulnya kecacatan. Penilaian didasarkan pada sudut pandang supervisor produksi kampas, serta operator proses hidrolis yang selama ini menjalani langsung proses cetak kampas. Narasumber serta tabel skala severity, occurrence, dan detection yang digunakan pada analisis FMEA ini sama dengan yang digunakan saat analisis FMEA sebelum penerapan. Analisis FMEA setelah penerapan usulan dapat dilihat pada Tabel 8, yang dikhususkan pada bagian yang terdampak langsung penerapan usulan perbaikan, yaitu pada potential causes yang terdampak langsung solusi perbaikan. Kemudian pada Tabel 9 dan Tabel 10 juga ditampilkan hasil perbandingan penurunan DPMO dan peningkatan level sigma saat sebelum dan sesudah diterapkannya usulan perbaikan pada analisis 2 CTQ dan 6 CTQ PENERAPAN METODE SIX SIGMA (Olivia S. , dkk. Kampas Instruksi pemeliharaan matras yang kurang jelas Matras cetakan kotor RPN Sebelum Terdapat kerak pada matras cetakan Pembuatan jadwal maintenance matras yang paten serta memperbaiki pedoman kerja Melakukan penjadwalan maintenance/ pembersihan kerak pada matras Pembuatan jadwal maintenance matras yang paten serta memperbaiki pedoman kerja Melakukan penjadwalan maintenance/ pembersihan kerak pada matras RPN Baru Instruksi pemeliharaan matras yang kurang jelas Action Recommended DET Kampas Potential Causes / Mechanisms of Failure OCC Potential Failure Mode SEV Tabel 8. Analisis FMEA Setelah Dilakukan Penerapan Usulan untuk Hasil RPM 6,67 6,67 6,67 6,67 Tabel 9. Perbandingan DPMO dan level sigma antara sebelum dan sesudah usulan . CTQ) Usulan Perbaikan Sebelum Sesudah DPMO 16624, 26849 6636,562671 Level Sigma 3,629 3,976 Persentase peningkatan level sigma: Level sigma setelah perbaikan - Level sigma sebelum perbaikan 3,976 - 3,629 3,976 Level sigma setelah perbaikan x 100% x 100% = 8, 72736 % Tabel 10. Perbandingan DPMO dan level sigma antara sebelum dan sesudah usulan . CTQ) Usulan Perbaikan Sebelum Sesudah DPMO 352066,6072 6568, 144499 Level Sigma 1,8797 3,98 Persentase peningkatan level sigma: Level sigma setelah perbaikan - Level sigma sebelum perbaikan 3,98 - 1,8797 3,98 Level sigma setelah perbaikan x 100% x 100% = 52, 771 % Analisis FMEA setelah penerapan usulan menunjukkan penurunan yang nyata pada RPN pada Potential Failure Mode kampas miring dan keropos, khususnya pada Potential Causes yang terdampak langsung. Hal ini menunjukkan bahwa supervisor produksi kampas serta operator JOURNAL OF INTEGRATED SYSTEM VOL 4. NO. DESEMBER 2021: 133-149 proses hidrolis mengakui bahwa upaya preverentive maintenance dengan melakukan pembersihan kampas setiap 5 kali cetak membawa dampak positif dengan menurunkan tingkat occurrence kampas miring dan keropos akibat adanya kerak pada matras. Tingkat detection yang rendah juga menunjukkan bahwa upaya perbaikan ini mampu secara efektif mencegah timbulnya kampas miring dan kampas keropos. Berdasarkan hasil perhitungan DPMO dan level sigma, baik analisis pada pada 6 CTQ maupun 2 CTQ, keduanya menunjukkan hasil yang baik, ditandai dengan peningkatan level sigma. Pada analisis perhitungan menggunakan 6 CTQ, ada peningkatan level sigma sebesar 8,73% dari sebelum adanya tindakan perbaikan pada proses. Peningkatan ini menunjukkan bahwa upaya perbaikan yang dilakukan dapat dengan efektif menurunkan jumlah cacat secara keseluruhan pada proses cetak kampas, atau dapat dikatakan proses cetak kampas menjadi lebih efisien, dan kapabilitas proses meningkat. Kemudian jika dilihat dari sudut pandang 2 CTQ yang terdampak langsung penerapan usulan perbaikan, peningkatan level sigma-nya cukup tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa usulan perbaikan secara efektif benar mampu menurunkan jenis cacat miring dan keropos. Namun tidak mampu menghilangkan keseluruhan kampas miring dan keropos karena ada penyebab lain yang memengaruhinya, yaitu peletakkan matras yang miring dan penataan serbuk kampas miring. 5 Control Selain perbaikan instruksi kerja, perusahaan dirasa perlu untuk mendorong kinerja operator dengan sistem pemberian kompensasi berupa insentif atau bonus. Insentif akan diberikan pada operator yang mempu menghasilkan kampas cacat di bawah batas yang diberikan. Namun perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya lebih untuk memberikan insentif pada operator. Biaya untuk pemberian insentif diperoleh melalui perolehan keuntungan akibat berkurangnya kampas cacat. Pemberian insentif ini akan meningkatkan tanggung jawab, disiplin, dan motivasi kerja operator proses hidrolis. Hal ini dirasa perlu karena mayoritas penyebab cacat pada kampas adalah karena faktor kelalaian operator mesin. Adapun faktor-faktor tersebut adalah kesalahan setting mesin Hydraulic Press, penataan serbuk kampas miring, kesalahan dalam pemeriksaan jari-jari matras, serta pembersihan matras yang tidak teratur. Rancangan pemberian insentif sebagai berikut: Batas jumlah kampas cacat Berdasarkan data kampas cacat sebelum penerapan usulan, total cacat kampas sebanyak 719 kampas dari total produksi kampas yaitu 438. 305 buah, atau sekitar 9,97%. Sementara itu setelah adanya usulan perbaikan, total cacat kampas sebanyak 97 kampas dari total produksi kampas yaitu 2. 436 buah, atau sekitar 3,98%. Oleh karena itu diambil nilai tengah dari total kampas cacat sebelum usulan dan setelah usulan, untuk dijadikan batas jumlah kampas cacat agar operator dapat mengklaim insentifnya, diperoleh 6,975%. Operator proses hidrolis yang mampu menghasilkan kampas cacat di bawah persentase tersebut akan memperoleh insentif, yang besarannya dihitung per satu potong kampasnya. Nominal insentif Insentif yang diperoleh yaitu sebesar 40% dari harga pokok produksi kampas . Besaran lebih diberatkan pada perusahaan agar laba perusahaan dapat meningkat seiring dengan penerapan solusi ini, tetapi di sisi lain juga dapat memacu motivasi kerja dari Kesimpulan dan Saran Kampas . adalah part dari brake shoe dengan frekuensi munculnya cacat paling tinggi. Berdasarkan data sebelum dilakkan penelitian ini, skala kualitas kampas masih perlu diperbaiki karena hanya mencapai nilai DPMO sebesar 16624,27 sementara level sigma-nya PENERAPAN METODE SIX SIGMA (Olivia S. , dkk. sebesar 3,629 sigma. Dari keenam jenis cacat pada kampas, kampas miring dan keropos adalah yang paling sering terjadi, dengan persentase muncul cacat tersebut sebesar 70,41% dari total kampas cacat. Berdasarkan tingkat RPM, kedua cacat tersebut secara signifikan disebabkan karena pada permukaan matras cetakan atau chrome terdapat kerak atau kotoran. Target kinerja yang perlu ditingkatkan adalah dengan memastikan tidak ada kerak atau kotoran pada chrome tersebut. Improvement yang diusulkan untuk diterapkan adalah dengan melakukan upaya preventive maintenance, yaitu melakukan pembersihan permukaan matras atau chrome secara berkala dengan periode waktu setiap 5 cetak kampas. Setelah dilakukan implementasi, diperoleh peningkatan level sigma sebesar 8,73% dari 3,629 sigma menjadi 3,976 sigma. Usulan solusi tersebut selain dapat meningkatkan kapabilitas proses produksi kampas secara keseluruhan, juga terbukti dengan efektif mengurangi jumlah kampas miring dan keropos, yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan level sigma dalam analisis perhitungan hanya untuk dua CTQ . iring dan keropo. , sebesar 52,77%. Usulan cara mempertahankan peningkatan kapabilitas proses ini adalah dengan melakukan pemberian insentif kepada operator apabila operator mampu menghasilkan kampas cacat di bawah standar. Biaya pemberian insentif ini dapat diperoleh dari keuntungan menurunnya jumlah cacat pada kampas, sehingga perusahaan tidak perlu mengeluarkan tambahan biaya untuk biaya kompensasi. Keuntungan lainnya adalah karyawan akan lebih terpacu untuk lebih optimal dalam melakukan proses cetak kampas sehingga tidak menimbulkan produk cacat. Daftar Pustaka