E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 https://journals. upi-yai. id/index. php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive Hubungan Antara Self Esteem dan Self Acceptance Dengan Kecenderungan Body Dysmorphic Disorder Pada Siswi SMA 109 Jakarta Fakultas Psikologi. Universitas Persada Indonesia Y. Jl. Diponegoro No. 74 Jakarta Pusat Indonesia E-mail : rani. azzura@gmail. com1, andjarsarifaradwi@gmail. Abstrak Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self esteem dan self acceptance dengan kecenderungan body dymorphic disorder pada siswi SMA 109 Jakarta. Populasi dan sampel peneltian adalah siswi kelas 12 SMA 109 Jakarta yang berjumlah 108 siswi. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah saturated sampling dan pengumpulan data menggunakan skala likert. Penelitian ini menggunakan tiga skala yaitu skala body dysmorphic disorder . item, ' = 0,. , skala self esteem . item, ' = 0,. , dan skala self acceptance . item, ' = 0,. Hasil penelitian ini menggunakan program komputer SPSS (Statiscal Product and Service Solutio. 0 for windows yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan dan arah korelasi negatif antara self esteem dengan kecenderungan body dysmorphic disorder dengan r sebesar Ae 0,701. Terdapat hubungan dignifikan dan arah korelasi negatif antara self acceptance dengan kecenderungan body dysmorphic disorder dengan r sebesar Ae 0,655. Selanjutnya, berdasarkan hasil analisis data dengan multivariate correlation diperoleh koefiisien korelasi R = 0,728 yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara self esteem dan self acceptance dengan kecenderungan body dysmorphic disorder. Kata kunci : Self Esteem. Self Acceptance, kecenderungan Body Dysmorphic Disorder Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 1 Maret 2023 https://journals. upi-yai. id/index. php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 Abstractt This study is a quantitative study that aims to determine the relationship between self esteem and self acceptance with the tendency of body dysmorphic dismorphic disorder among student of 109 senior high school. The population and sample of the study was female students twelfht grade of 109 senior high school amounted to 108 students. The sampling technique usd was saturated sampling and sata was collected using likert scale. This study uses three scales, namely the tendency of body dysmorphic disoder scale . items, ' = 0,. , self esteem scales . items, ' = 0,. , self acceptance scale . items, ' = 0,. The result for this study using the SPSS (Statistical Product and Service Solutio. 0 for windows showed that there was a significant and negative relationship between self esteem and the tendency of body dysmorphic disorder with r Ae 0,701. There was a significant and negative relationship between self acceptance and the tendency of body dysmorphic disorder with r Ae 0,655. Based on teh result of data analysis with multivariate correlations obtained a correlation coefficient of R = 0,728 which means that there was a significants relationship between self esteem dan self acceptance with the tendency of body dysmorphic disorder. Keywords : Self Esteem. Self Acceptance. Tendencies Of Body Dysmorphic Disorder Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 1 Maret 2023 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 https://journals. upi-yai. id/index. php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive PENDAHULUAN Dalam budaya yang sangat mementingkan penampilan, remaja putri umumnya tidak puas dengan tubuhnya dan memiliki citra tubuh yang lebih negatif daripada anak laki-laki. alam Santrock, 2. Berbagai cara dilakukan untuk terlihat lebih menarik, mulai dari hal sederhana seperti menerapkan gaya hidup sehat dan menggunakan kosmetik hingga hal-hal ekstrem seperti mengonsumsi produk pelangsing yang dapat membahayakan kesehatan. Jika seorang perempuan tidak puas dengan citra tubuhnya, maka akan muncul citra tubuh yang negatif, dan citra tubuh negatif akan mempengaruhi seseorang mengalami gejala body dysmorphic Menurut Rosen. Reiter dan Orosan . body dysmorphic disorder adalah gangguan citra tubuh yang melibatkan keasyikan berlebihan terhadap penampilan fisik pada orang yang tampak normal. Veale & Neziroglu . , menjelaskan bahwa body dysmorphic disorder adalah gangguan mental yang diartikan sebagai keasyikan seseorang terhadap perasaan kekurangan penampilannya. penampilannya agar dipandang sempurna lebih memungkinkan mengalami body dysmorphic disorder, karena individu tersebut memiliki perhatian yang berlebih terhadap kekurangan fisiknya serta memiliki ketidakpuasan terhadap Sehingga dalam hal ini, penerimaan diri . elf acceptanc. yang negatif merupakan salah satu faktor yang dapat memicu seseorang untuk mengalami body dysmorphic Menurut Philips . , faktor lain perkembangan body dysmorphic disorder, seperti self esteem yang tercermin dalam nilainilai pribadi dan sifat kepribadian. Pada faktor ini menjelaskan bahwa orang yang perfeksionis cenderung meremehkan daya tarik mereka sendiri dan akan terus berusaha menonjolkan daya tarik orang lain. Hal ini dapat meningkatkan kesenjangan, yang mana semakin seseorang berusaha untuk terlihat perfeksionis, maka semakin rendah self esteem atau pengharagaan dirinya. Karna itu dalam hal ini, self esteem merupakan salah satu faktor yang dapat memicu seseorang untuk mengalami body dysmorphic disorder. Menurut Mehmet & Roizen . , body dysmorphic disorder yaitu perasaan tidak puas dengan penampilan tubuh, munculnya perasaan tidak cantik, dan persepsi khayalan yang salah mengenai penampilan tubuh sebenarnya. Dapat disimpulkan bahwa, kecenderungan body dysmorphic disorder adalah kecenderungan seseorang dalam memberikan perhatian yang belebihan/tidak semestinya pada kurangnya penampilan fisik, atau memiliki ilusi palsu tentang penampilan fisik mereka yang (Malida, 2. Berdasarkan wawancara yang dilakukan penulis pada siswi SMA 109 Jakarta. Diperoleh informasi bahwa banyak dari mereka yang merasa tidak puas dengan keadaan tubuh dan Mereka melakukan banyak perawatan karena mereka merasa tidak percaya diri dengan dirinya sendiri, dan sering minder untuk teman-teman Berdasarkan fenomena di atas, peneliti ingin menguji secara empiris mengenai hubungan antara self esteem dan self acceptance dengan kecenderungan body dysmorphic disorder pada siswi SMA 109 Jakarta. Adanya ketidakpuasan terhadap penampilan fisk terjadi ketika individu tersebut memiliki penerimaan diri yang negatif atau tidak mampu menerima dirinya sendiri. Hal ini terjadi karena penilaian tubuh yang negatif, yang kemudian menimbulkan obsesi untuk mendapatkan kepuasan atas bentuk tubuh yang diinginkan. (Permatasari, 2012: . Hal ini sesuai dengan Phillips . 9: . yang menjelaskan bahwa LANDASAN TEORI Pengertian body dysmorphic disorder Katharine Phillips . menjelaskan bahwa body dysmorphic disorder adalah gangguan pada cacat yang dibayangkan dan berupaya untuk memperbaiki bagian tubuh yang sebenarnya terlihat normal. Mereka menganggap dirinya memiliki kekurangan dan Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 1 Maret 2023 https://journals. upi-yai. id/index. php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive takut orang-orang akan menertawakan dan mengkritiknya, gangguan ini disebut dengan imagined ugliness. Gangguan ini menyebabkan penderitanya merasa malu dan khawatir akan kekurangan yang ada pada tubuhnya, meskipun sifatnya sangat kecil sehingga orang lain pun tidak Orang dengan gangguan dismorfik tubuh akan terus mencari cara atau prosedur kosmetik yang dapat memperbaiki cacat mereka, namun tetap merasa tidak puas dengan hasilnya. Penderita body dysmorphic disorder tidak serta merta bersumber dari gangguan psikologis seperti anorexia nervosa atau bulimia. Kedua gangguan psikologis ini tidak dapat diartikan bahwa orang tersebut mengalami body dsymorphic disorder. Perlu diketahui, ada sebagian orang yang memiliki eating disorder dan body dysmorphic disorder secara bersamaan namun tidak melihat dari aspek berat Dan terdapat pula sebagian orang yang mengalami body dysmorphic disorder dan sangat mengkhawatirkan tubuhnya menjadi gemuk tetapi tidak mengalami eating disorder. Aspek body dysmorphic disorder Menurut Katharine Phillips . , terdapat beberapa aspek mengenai body dysmorphic disorder (BDD), yaitu: Preoccupation . Orang dengan gangguan body dysmorphic disorder (BDD) khawatir bahwa bagian-bagian tertentu dari tubuh mereka terlihat buruk. Distress / impairment function adalah keadaan emosional yang meliputi perasaan sedih, depresi, cemas, khawatir, takut, panik, dan pikiran negatif lainnya. Impairment in functioning . enurunan fungs. meliputi aspek fungsi sosial seperti hubungan, interaksi sosial, kedekatan, atau kehadiran orang lain. Secara umum, orang yang menderita body dysmorphic disorder mengalami gangguan dalam situasi tertentu, dan orang dengan gangguan ini biasanya menghindari beberapa situasi yang mengganggu. Berdasarkan penjabaran di atas, dapat dijelaskan bahwa body dysmorphic disorder Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 1 Maret 2023 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 memiliki beberapa aspek, yaitu preokupasi dengan masalah atau hal yang berkaitan dengan kekurangan imajiner pada penampilan fisiknya dan mengalami distress atau penurunan fungsi terkait fungsi emosional, sosial, pekerjaan serta fungsi lainnya. Pengertian self esteem Self esteem biasa disebut dalam bahasa sehari-hari yaitu harga diri atau penghargaan Self esteem merupakan hal yang penting (Coopersmith,1. Self esteem merupakan hasil penilaian yang dibuatnya dan perlakuan orang lain terhadap dirinya dan menunjukkan tingkat kepercayaan yang dimiliki individu terhadap dirinya dan dapat berhasil dan Sedangkan menurut Mruk . , self esteem adalah keadaan hidup dari kemampuan seseorang untuk menghadapi tantangan hidup dalam periode yang tepat atau berharga pada setiap saat. Sebagai individu, kita tidak dapat dipisahkan dari individu lain karena manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial. Dalam menghargai orang lain dan sebaliknya. Namun, selain menghargai orang lain, individu juga harus menghargai diri sendiri. Aspek self esteem Maslow . menjelaskan bahwa self esteem terbagi menjadi dua macam penghargaan diri, antara lain : Penghargaan dari orang lain Penghargaan yang berasal dari luar dapat berdasarkan reputasi, kekaguman, popularitas, status, prestise, atau keberhasilan dalam masyarakat, semua sifat dari bagaimana orang lain berpikir dan bereaksi terhadap kita. Penghargaan terhadap diri sendiri Menghargai diri sendiri adalah kebutuhan yang memiliki kekuatan, penguasaan, kompetensi, prestasi, kepercayaan diri, kemandirian, dan Berdasarkan penjabaran di atas, dapat disimpulkan bahwa self esteem terdiri dari adanya penghargaan dari orang lain berupa E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 https://journals. upi-yai. id/index. php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive perhatian, afeksi, serta penerimaan dari lingkungan sekitar, dan penghargaan dari diri sendiri baik berupa pengetahuan tentang dirinya dan mampu menguasai tugas dan tantangan hidupnya sendiri. Pengertian self acceptance Menurut Hurlock . self acceptance merupakan kemampuan menerima segala hal yang ada pada diri sendiri, seperti kekurangan dan kelebihan yang dimiliki. penerimaan diri adalah suatu sikap positif terhadap keadaan dirinya, mampu menerima dirinya baik kekurangan maupun kelebihannya. Orang-orang yang dapat menerima dirinya adalah seseorang yang dapat memahami karakteristik dirinya dan mampu menerima kondisi sebagaimana adanya, potensi-potensi Menurut Dariyo . self acceptance merupakan kemampuan individu untuk menerima keadaan dirinya sendiri. Hasil analisa, evaluasi atau penilaian diri akan menjadi dasar bagi seorang individu untuk mengambil keberadaannya sendiri. Penerimaan diri dapat dilakukan secara realistis, tetapi juga dapat dilakukan secara tidak realistis. Penerimaan realistis ditandai dengan kemampuan secara objektif untuk melihat kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Di sisi lain, penerimaan diri yang tidak realistis ditandai dengan upaya untuk melebihlebihkan diri sendiri, mencoba menyangkal kelemahan diri sendiri, atau menghindari hal-hal buruk dari dalam, seperti pengalaman traumatis di masa lalu. Aspek self acceptance Hurlock . menjelaskan bahwa self acceptance terdiri dari beberapa aspek, antara lain Pemahaman diri Individu yang memiliki pemahaman diri yang baik akan mampu memahami kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya Harapan yang realistis Ketika harapan menjadi sebuah pencapaian realistik, maka kinerjanya akan meningkat sesuai dengan harapannya Bebas hambatan di lingkungan Dukungan dari lingkungan yang disertai kontrol individu dapat mempengaruhi tercapainya Sikap sosial Individu yang memiliki sikap sosial yang baik dapat diharapkan memiliki penerimaan diri yang Tekanan emosional Tidak adanya memungkinkan orang tersebut melakukan yang terbaik dan berorientasi pada dunia luar alih-alih berorientasi pada diri sendiri. Percaya pada kemampuan Sebagian besar kegagalan menyebabkan penolakan diri dan keberhasilan mengarah pada penerimaan diri. Identifikasi penyesuaian diri Individu yang mengidentifikasikan dirinya dengan orang-orang yang menyesuaikan diri dengan baik. Perspektif diri Perspektif yang luas tentang diri adalah memahami diri menjadi lebih baik, tidak hanya melihat individu lain yang lebih baik tetapi juga memperhatikan individu yang lebih lemah dari Pola asuh di masa kecil Pendidikan di rumah dan sekolah sangat penting, penyesuaian terhadap hidup terbentuk pada masa kanak-kanak. berdasarkan penjabaran di atas, dapat disimpulkan bahwa, menurut Hurlock . self acceptance terdiri dari pemahaman diri, harapan yang realistis, bebas hambatan di lingkungan, sikap sosial, tekanan emosional, percaya pada kemampuan, identifikasi penyesuaian diri, perspektfi diri, dan pola asuh di masa kecil. METODE PENELITIAN Identifikasi variabel penelitian variabel-variaebel dalam penelitian ini sebagai berikut: Variabel terikat (DV) : Body dysmorphic Variabel bebas (IV) : Self esteem dan Self Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 1 Maret 2023 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 https://journals. upi-yai. id/index. php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive Populasi dan sampel Populasi Populasi dalam peneilitan ini adalah siswi SMA 109 Jakarta. Sampel teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah saturated sampling. Berjumlah 108 siswi SMA 109 Jakarta. Metode pengumpulan data Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan skala body dysmorphic disorder yang disusun berdasarkan aspek-aspek yang dikemukakan oleh Phillips . berjumlah 15 item. Skala self esteem yang disusun berdasarkan aspek yang dikemukakan oleh Maslow . berjumlah 19 item. Skala self acceptance yang disusun berdasarkan aspek yang di kemukakan oleh Hurlock . berjumlah 32 item. Uji daya beda dan reliabilitas Berdasarkan hasil uji coba pada skala self esteem yang terdiri dari 10 item favorable dan 10 unfavorable, diperoleh item yang valid sebanyak 19 item dan 1 item yang gugur, dengan Corrected item Ae total correlation berkisar antara 0,321 Ae 0,751. Dan berdasarkan 19 item yang valid, di dapat koefisien CronbachAos Alpha sebesar 0,876. Hal ini sesuai dengan kaidah Guilford bahwa koefisien CronbachAos Alpha tersebut masuk ke dalam kriteria reliabel. Berdasarkan hasil uji coba pada skala self acceptance yang terdiri dari 20 item favourable dan 20 item unfavourable, diperoleh item yang valid sebanyak 32 item dan 8 item yang gugur, dengan corrected item Ae total correlation berkisar antara 0,314 - 0,754. Dan berdasarkan 32 item yang valid, di dapat koefisien CronbachAos Alpha sebesar 0,938. Hal ini sesuai dengan kaidah Guilford bahwa koefisien CronbachAos Alpha tersebut masuk ke dalam kriteria sangat reliable. Berdasarkan hasil uji coba pada skala body dysmorphic disorder yang terdiri dari 8 item favourable dan 8 item unfavourable, diperoleh item yang valid sebanyak 15 item dan 1 item Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 1 Maret 2023 yang gugur, dengan corrected item Ae total correlation berkisar antara 0,389 - 0,873. Dan berdasarkan 15 item yang valid, didapat koefisien CronbachAos Alpha sebesar 0,904. Hal ini sesuai dengan kaidah Guilford bahwa koefisien CronbachAos Alpha tersebut masuk ke dalam kriteria sangat reliabel. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Uji normalitas Berdasarkan menggunakan tabel Kolmogorov smirnov, body dysmorphic disorder dengan hasil p = 0,200 maka p > 0,05 berarti berdistribusi normal. Tabel 1 Self esteem dengan hasil p = 0,200 maka p > 0,05 berarti berdistribusi normal. Tabel 2 Dan self acceptance dengan hasil 0,088 maka p > 0,05 berarti berdistribusi normal. Tabel 3 Hal ini menunjukkan bahwa sampel skala body dysmorphic disorder, self esteem, dan self acceptance berdistribusi normal. E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 https://journals. upi-yai. id/index. php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive Kategorisasi data penelitian Berdasarkan hasil pengujian kategorisasi data penelitian pada variabel self esteem memiliki pengelompokkan kategorisasi dengan x < 44 berada pada kategori rendah , x > 70 berada pada kategori tinggi, dan 44 O x O 70 berada pada kategori sedang. Hasil mean temuan yang dimiliki oleh variabel self esteem adalah sebesar 65 dalam kategori sedang. Berdasarkan hasil pengujian kategorisasi data penelitian pada variabel self acceptance dengan x < 75 berada pada kategori rendah, x > 117 berada pada kategori tinggi, dan 75 O x O 117 berada pada kategori sedang. Hasil mean temuan yang dimiliki oleh variabel self acceptance adalah sebesar 111 dalam kategori Berdasarkan hasil pengujian kategorisasi data penelitian pada variabel body dysmorphic kategorisasi dengan x < 35 berada pada kategori rendah, 55 > x berada pada kategori tinggi, dan 35 O x O 55. Hasil mean temuan yang miliki oleh variabel body dysmorphic disorder adalah sebesar 41 dalam kategori sedang. Uji hipotesis Pada pengujian hipotesis yang pertama menggunakan korelasi bivariate correlation kecenderungan body dysmorphic disorder pada siswi SMA 109 Jakarta, maka diperoleh nilai r = - 0,701. Sehingga . yang berbunyi Autidak terdapat hubungan antara self esteem dengan kecenderungan body dysmorphic disorderAy di tolak, oleh karena itu ()1 yang berbunyi Auterdapat hubungan antara self esteem dengan kecenderungan body dysmorphic disorder pada siswi SMA 109 JakartaAy dapat diterima. Tabel 4 Pada pengujian hipotesis yang kedua menggunakan bivariate correlation antara variabel self acceptance dengan kecenderungan body dysmorphic disorder pada siswi SMA 109 Jakarta, maka diperoleh nilai r = - 0,655. Sehingga . yang berbunyi Autidak terdapat hubungan antara self acceptance dengan kecenderungan body dysmorphic disorderAy ditolak, oleh karena itu ()2 yang berbunyi Auterdapat hubungan antara self acceptance dengan kecenderungan body dysmorphic disorder pada siswi SMA 109 JakartaAy dapat Tabel 5 Pengujian hipotesis ketiga adalah terdapat hubungan antara self esteem dan self aceeptance dengan kecenderungan body dysmorphic disorder pada siswi SMA 109 Jakarta. Berdasarkan pengujian melalui analisis data regresi berganda dengan metode enter antara variabel self esteem dan self acceptance dengan kecenderungan body dysmorphic disorder diperoleh nilai R = 0,728. Hal ini dapat membuktikan bahwa ()3 yang berbunyi Auterdapat hubungan yang signifikan antara self kecenderungan body dysmorphic disorderAy dapat diterima. Tabel 6 Pembahasan hasil penelitian Berdasarkan hasil analisis penelitian terhadap 108 subjek penelitian menunjukka Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 1 Maret 2023 https://journals. upi-yai. id/index. php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive bahwa ada hubungan yang signifikan ke arah kecenderungan body dysmorphic disorder pada siswi SMA 109 Jakarta. Aritnya semakin rendah self esteem maka semakin tinggi tingkat kecenderungan mengalami body dysmorphic Begitupun sebaliknya. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rahmania & Yuniar . dengan judul AuHubungan Antara Self Esteem Dengan Kecenderungan Body Dysmorphic Disorder Pada Remaja PutriAy berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, terdapat hubungan negatif antara self esteem dengan body dysmorphic Kemudian pada analisis yang kedua, terdapat hubungan yang signifikan ke arah negatif antara self acceptance dengan body dysmorphic disorder pada siswi SMA 109 Jakarta. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Prabowo . bahwa semakin rendah self esteem maka semakin tinggi tingkat kecenderungan mengalami body dysmorphic Pada analisis ketiga terdapat hubungan yang signifikan antara self esteem dan self acceptance dengan kecenderunngan body dysmorphic disorder pada siswi SMA 109 Jakarta. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nabella . dengan judul AuHubungan Antara Self Esteem dan Self Acceptance dengan kecenderungan Body Dysmorphic Disorder Pada Mahasiswi UIN MalangAy bahwa terdapat hubungan negatif antara self esteem dan self acceptance dengan kecenderungan body dysmorphic disorder. PENUTUP Kesimpulan Terdapat hubungan negatif yang signifikan antara self esteem dengan kecenderungan body dysmorphic disorder pada siswi SMA 109 Jakarta. Artinya semakin tinggi self esteem yang dimiliki oleh siswi SMA 109 Jakarta, maka mengalami body dysmorphic disorder. E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 Jakarta maka kecenderungan mengalami body dysmorphic disorder semkain tinggi. Terdapat hubungan negatif yang signifikan antara self acceptance dengan kecenderungan body dysmorphic disorder pada siswi SMA 109 Jakarta. Artinya semakin tinggi self acceptance yang miliki maka akan semakin rendah siswi tersebut mengalami kecenderungan body dysmorphic disorder. Begitupun sebaliknya apabila semakin rendah self acceptance yang dimiliki siswi SMA 109 Jakarta maka kecenderungan mengalami body dysmorphic disorder semkain tinggi. Terdapat hubungan negatif yang signifikan antara self esteem dan self acceptance dengan kecenderungan body dysmorphic disorder pada siswi SMA 109 Jakarta. Artinya semakin tinggi self esteem dan self acceptance yang dimiliki oleh siswi SMA 109 Jakarta maka akan semakin rendah kecenderungan mengalami body dysmorphic disorder. Begitupun sebaliknya apabila semakin rendah self esteem dan self acceptance yang dimiliki siswi SMA 109 Jakarta maka kecenderungan mengalami body dysmorphic disorder semkain DAFTAR PUSTAKA