Muqaddimah Nomor 2 Volume 16 ISSN: 1858-3776 The article is published at https://jurnal. id/muqaddimah SUATU PENELITIAN HEURISTIC: KONTEKSTUAL PEMIKIRAN PENDIDIKAN IBNU KHALDUN TERHADAP KURIKULUM MERDEKA BELAJAR (KMB) Jefri kurniawan 1,Dwi Wahyu Ningsih 2. Safiuddin r3,Agus Kurniadi4 Pendidikan agama islam, fakultas agama islam, universitas ibnu chaldun jakarta. Indonesi. Jefrikorniawan10@gmail. Abstrak Kurikulum Merdeka Belajar (KMB) memberikan fleksibilitas kepada pendidik dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran yang selaras dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi relevansi dan kontekstualisasi pemikiran pendidikan Ibnu Khaldun terhadap implementasi Kurikulum Merdeka Belajar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan heuristik untuk memahami pandangan dan praktik pendidikan yang diterapkan oleh pendidik. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap guru dari berbagai jenjang pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip-prinsip pendidikan Ibnu Khaldun, seperti kejelasan tujuan pendidikan, pembelajaran bertahap, pemanfaatan sarana pendidikan, kontinuitas pembelajaran, serta klasifikasi ilmu, memiliki keselarasan dengan komponen utama KMB, termasuk pendekatan konstruktivistik, pembelajaran berbasis inkuiri, dan penguatan komunitas belajar. Selain itu, fleksibilitas dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran pada KMB membuka ruang bagi penerapan pemikiran Ibnu Khaldun, khususnya dalam prinsip pengajaran yang berorientasi pada pengalaman praktis peserta didik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemikiran pendidikan Ibnu Khaldun dapat menjadi landasan filosofis yang relevan dan kontekstual dalam pengembangan serta implementasi Kurikulum Merdeka Belajar guna meningkatkan efektivitas pendidikan di Indonesia. Kata kunci: Ibnu Khaldun. Kurikulum Merdeka Belajar, pembelajaran kontekstual. Abstract The Merdeka Learning Curriculum (Kurikulum Merdeka Belajar/KMB) provides flexibility for educators to design learning processes that align with studentsAo needs. This study aims to examine the relevance of Ibn KhaldunAos educational thought to the implementation of the Merdeka Learning Curriculum. The research employs a qualitative method with a heuristic approach, using in-depth interviews with teachers from various educational levels. The findings indicate that Ibn KhaldunAos educational principles such as clarity of educational goals, gradual learning, continuity, and the classification of knowledge are aligned with the core components of KMB, including constructivist approaches and inquiry-based learning. Furthermore, the flexibility of KMB creates opportunities for applying Ibn KhaldunAos ideas, particularly those oriented toward studentsAo experiential learning. Therefore. Ibn KhaldunAos educational thought is relevant as a philosophical foundation for the development and implementation of the Merdeka Learning Curriculum in Indonesia. Keywords: Ibn Khaldun. Merdeka Belajar Curriculum. Philosophy of Education, contextual Learning Accepted Date: 22 Desember 2025 Publish Date: 31 Desember 2025 Pendahuluan Pendidikan formal memiliki peran strategis dalam membentuk kualitas sumber daya manusia, dan salah satu instrumen utamanya adalah kurikulum. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, bahan pelajaran, serta metode pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pendidikan untuk mencapai tujuan tertentu. Oleh karena itu, kurikulum berfungsi sebagai acuan bagi pendidik dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi proses pembelajaran agar selaras dengan tujuan pendidikan nasional (Sanjaya, 2. Dalam praktiknya, kurikulum tidak bersifat statis, melainkan mengalami perubahan dan penyempurnaan seiring dengan perkembangan zaman, kebutuhan masyarakat, serta dinamika sosial dan budaya. Sejak diberlakukannya kurikulum pertama pada tahun 1947 hingga Kurikulum Merdeka yang diterapkan saat ini. Indonesia telah mengalami berbagai perubahan kurikulum sebagai bentuk respons terhadap tuntutan pembangunan nasional. Kurikulum 1947 yang dikenal sebagai Sistem Pendidikan Nasional lahir dalam konteks pascakemerdekaan dengan penekanan pada pembentukan karakter, patriotisme, dan semangat kebangsaan. Kurikulum 1964 kemudian menekankan kemampuan adaptasi peserta didik terhadap perkembangan zaman, sejalan dengan kebutuhan pembangunan nasional yang menuntut keterampilan teknis dan kesiapan sumber daya manusia (Sukmadinata, 2. Perubahan paradigma pendidikan semakin tampak pada kurikulum-kurikulum berikutnya, seperti Kurikulum 1975 dan Kurikulum Pembangunan Jangka Panjang, yang menitikberatkan pada pengembangan potensi individu, pembelajaran aktif, serta kesiapan peserta didik dalam menghadapi pembangunan berkelanjutan. Selanjutnya. Kurikulum Berbasis Kompetensi dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan memberikan penekanan pada penguasaan kompetensi serta otonomi satuan pendidikan dalam mengelola pembelajaran secara kontekstual. Kurikulum 2013 kemudian dirancang untuk mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan masa depan dengan penguatan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dinamika perubahan kurikulum tersebut menunjukkan bahwa pendidikan selalu berada dalam proses adaptasi terhadap perubahan sosial dan peradaban. Di era globalisasi dan digitalisasi, dunia pendidikan dihadapkan pada berbagai tantangan, seperti ketertinggalan pembelajaran . earning los. , krisis pembelajaran . earning crisi. , serta derasnya arus informasi yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai pendidikan. Kondisi ini menuntut adanya kurikulum yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga mampu membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan mandiri. Konsep kebebasan dalam Kurikulum Merdeka Belajar tidak dimaknai sebagai kebebasan tanpa batas, melainkan sebagai kebebasan yang bertanggung Dalam konteks era digital, kebebasan berpikir menjadi kemampuan penting bagi peserta didik untuk menyaring informasi yang diperoleh dari berbagai sumber. Arus informasi yang mudah diakses dapat menjadi peluang sekaligus tantangan, sehingga diperlukan kemampuan literasi dan daya kritis agar peserta didik tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga mampu menilai dan memanfaatkannya secara bijak. Oleh karena itu. KMB diarahkan untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kematangan moral dan sosial yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila dan ajaran keagamaan. (Kemendikbudristek, 2. Jika ditinjau dari perspektif pemikiran pendidikan Islam, gagasan-gagasan dalam Kurikulum Merdeka Belajar memiliki relevansi dengan pemikiran Ibnu Khaldun. Ibnu Khaldun merupakan seorang filsuf dan ilmuwan Muslim yang pemikirannya mencakup berbagai bidang, termasuk pendidikan. Ia menekankan bahwa pendidikan harus dilakukan secara bertahap, memperhatikan kesiapan peserta didik, serta berorientasi pada tujuan yang jelas dan pengalaman praktis. Pendidikan, menurut Ibnu Khaldun, tidak hanya bertujuan mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk kemampuan berpikir dan keterampilan yang berguna dalam kehidupan sosial. (Nata, 2. Relevansi pemikiran Ibnu Khaldun dengan Kurikulum Merdeka Belajar terletak pada kesamaan orientasi terhadap pengembangan potensi peserta didik secara Fleksibilitas pembelajaran, penekanan pada pengalaman nyata, serta kontinuitas dalam proses pendidikan merupakan prinsip-prinsip yang sejalan dengan kerangka KMB. Oleh karena itu, kajian terhadap pemikiran pendidikan Ibnu Khaldun menjadi penting untuk memberikan landasan filosofis yang memperkaya pemahaman dan implementasi Kurikulum Merdeka Belajar di Indonesia. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji relevansi dan kontekstualisasi pemikiran pendidikan Ibnu Khaldun dalam Kurikulum Merdeka Belajar. Kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis bagi pengembangan kajian pendidikan Islam serta kontribusi praktis bagi pendidik dalam mengimplementasikan pembelajaran yang lebih efektif, kontekstual, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik di era modern. Tinjauan Literatur Pendidikan Menurut KBBI Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan bahwa pendidikan berasal dari kata didik, yang berarti memelihara dan memberi tuntunan, ajaran, serta latihan. Pendidikan dimaknai sebagai proses sadar untuk membimbing dan mengembangkan aspek spiritual, intelektual, dan emosional manusia. Proses ini menuntut kesadaran akan potensi dan keterbatasan manusia, sehingga pendidikan berfungsi sebagai sarana pengembangan potensi bawaan yang bersifat unik dan beragam. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya berlangsung dalam ruang formal, tetapi juga menjadi bagian dari seluruh aspek kehidupan manusia (Muhaimin, 2. Pendidikan Menurut Undang-Undang Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mendefinisikan pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk menciptakan suasana belajar yang memungkinkan peserta didik mengembangkan potensi dirinya secara aktif. Potensi tersebut meliputi kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan sosial dan bernegara. Definisi ini menegaskan bahwa pendidikan berorientasi pada pembentukan manusia yang berpengetahuan, berkarakter, dan memiliki keterampilan yang berguna bagi masyarakat (Tilaar, 2. Pendidikan Perspektif Al-QurAoan Pendidikan dalam Islam berlandaskan pada Al-QurAoan dan As-Sunnah sebagai pedoman utama kehidupan. Pendidikan Islam menekankan pembelajaran yang berorientasi pada nilai-nilai keislaman dengan menempatkan pendidikan akhlak atau karakter sebagai aspek fundamental, tanpa mengesampingkan penguasaan ilmu pengetahuan umum. Keseimbangan antara aspek spiritual, intelektual, dan moral menjadi prinsip utama pendidikan Islam dalam mencapai tujuan tertinggi, yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat. (Muhaimin, 2. Konsep pendidikan dalam Al-QurAoan erat kaitannya dengan istilah tarbiyah, yang secara etimologis bermakna menumbuhkan, mengembangkan, memperbaiki, dan membimbing potensi manusia secara bertahap. Hal ini sebagaimana tercermin dalam QS. Al-IsraAo ayat 24 yang menggambarkan peran orang tua dalam mendidik dan membimbing anak sejak usia dini. Ayat tersebut menegaskan bahwa pendidikan merupakan proses pengasuhan yang berkesinambungan dan penuh kasih sayang. (Shihab, 2. Para pemikir pendidikan Islam memiliki pandangan yang beragam terkait istilah Athiyah Al-Abrasyi menyamakan pendidikan dengan tarbiyah, sementara AlMaududi memaknai tarbiyah sebagai proses pengasuhan dan penyempurnaan potensi manusia secara menyeluruh. Najib Khalid Al-Amir menekankan tarbiyah sebagai proses penyempurnaan yang berlangsung secara gradual. Quraish Shihab kemudian menyimpulkan bahwa perbedaan pandangan tersebut bermuara pada tujuan yang sama, yakni pengembangan dan perbaikan potensi manusia secara optimal. Komponen Pemikiran Pendidikan Menurut Ibnu Khaldun Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah tidak membahas pendidikan secara sistematis dan terperinci, namun memberikan gambaran konseptual yang luas dan mendalam tentang pendidikan dalam kerangka peradaban manusia. Pemikiran pendidikannya berlandaskan prinsip keseimbangan antara kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Oleh karena itu, pendidikan menurut Ibnu Khaldun tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan moral dan akhlak berdasarkan nilai-nilai keislaman. Orientasi tersebut menunjukkan bahwa pemikiran pendidikan Ibnu Khaldun selaras dengan karakteristik pendidikan Islam yang mengintegrasikan dimensi religius dan realitas kehidupan sosial. Kedalaman pemikiran Ibnu Khaldun tidak terlepas dari pendekatannya yang komprehensif dalam mengkaji manusia dan peradaban. Ia meneliti berbagai aspek kehidupan manusia, seperti sejarah, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pendidikan, dengan metode observasi yang tajam dan analitis. Pendekatan ini menjadikan Muqaddimah sebagai karya yang sistematis dan relevan hingga era modern, serta banyak dijadikan rujukan dalam kajian ilmu sosial dan pendidikan. (Tilaar, 2. Ruang Lingkup Pemikiran Pendidikan Ibnu Khaldun Dalam Muqaddimah. Ibnu Khaldun menjelaskan kondisi peradaban manusia secara teoritis dan empiris, mencakup faktor sejarah, etnis, politik, ekonomi, dan Namun, dalam konteks kajian pendidikan, pemikiran Ibnu Khaldun dapat difokuskan pada aspek filosofis dan konseptual yang berkaitan dengan tujuan, proses, dan subjek pendidikan. (Khaldun, 2. Ruang lingkup pendidikan menurut Ibnu Khaldun tergolong luas karena mencakup dimensi sosial dan spiritual sekaligus, dengan tujuan akhir pendidikan yang mengarah pada kehidupan dunia dan akhirat. Pendidikan dipandang sebagai proses berkelanjutan yang membentuk manusia secara utuh dalam konteks peradaban. (Suharto, 2. Peserta Didik dalam Perspektif Ibnu Khaldun Ibnu Khaldun memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki kesamaan biologis dengan makhluk hidup lainnya, namun dibedakan oleh kemampuan berpikir. Kemampuan berpikir inilah yang melahirkan naluri belajar dan dorongan untuk memperoleh pengetahuan. Belajar, menurut Ibnu Khaldun, merupakan sifat alamiah manusia yang berangkat dari rasa ingin tahu . terhadap hal-hal yang belum Proses belajar terjadi secara bertahap, dari pengetahuan yang bersifat parsial menuju pemahaman yang utuh dan mendalam (Khaldun, 2. Ibnu Khaldun juga menegaskan bahwa pengembangan potensi peserta didik berlangsung secara bertahap dan berkesinambungan melalui interaksi sosial dan pengalaman nyata dalam masyarakat. Pandangan ini sejalan dengan filsafat pendidikan Islam yang memandang peserta didik sebagai individu yang memiliki potensi dasar . aw materia. yang memerlukan bimbingan dan pengarahan dari Proses pendidikan dilakukan secara sistematis melalui jenjang pendidikan tertentu agar perkembangan pengetahuan dan keterampilan peserta didik sesuai dengan minat dan kebutuhannya (Suharto, 2. Kurikulum Menurut Ibnu Khaldun Ibnu Khaldun tidak menjelaskan kurikulum pendidikannya secara sistematis namun seperti yang telah dirumuskan di dalam pembahasan komponen pendidikan Ibnu Khaldun bahwa kurikulum pendidikan Ibnu Khaldun mencakup materi, metode, dan proses pembelajaran. Namun, dapat dilihat dari karya Ibnu Khaldun yaitu Muqaddimah di dalamnya memuat beberapa pokok pembahasan tentang siklus peradaban khususnya dalam bab pendidikan. Ibnu Khaldun melakukan observasi secara langsung dengan melakukan perjalanan dan mencatat pengetahuannya dalam Berdasarkan observasi langsung tersebut dapat kita menemukan adanya penekanan secara tidak langsung terhadap pengetahuan dan pengalaman praktis sehingga menjadikan ilmu dan penerapannya lebih mendalam. Hal ini juga dijelaskan oleh Ibnu Khaldun dalam memberikan beberapa contoh Negara yang menerapkan sistem pembelajaran Al-QurAoan. Al-QurAoan dan Al- Hadist kemudian dengan Al-QurAoan. Al-Hadist dan sastra atau ilmu bahasa. Ibnu Khaldun mengklasifikasikan sistem pembelajaran tersebut dan melabelisasi Negara berdasarkan sistem pembelajarannya. (Nata, 2. Implementasi Kurikulum Merdeka Implementasi merupakan sebuah penerapan yang berangkat dari perencanaan yang sempurna yang pada akhirnya bermuara pada tahapan penerapan, aksi, tindakan secara nyata. Tujuan dari implementasi penerapan merdeka belajar adalah membantu menyelesaikan permasalahan yang dialami akibat dampak dari pandemic covis 19 berupa sebuah pembinaan atau pembimbingan dan pemberdayaan peserta didik secara totalitas melalui sarana dan prasarana yang terdapat dalam lembaga pendidikan dalam rangka proses pembelajaran. Dalam penerapan kurikulum merdeka terdapat intrakulikuler dan ekstrakulikuler yang memiliki alokasi waktu selama satu tahun dan dilengkapi dengan alokasi jam pelajaran dalam setiap minggunya. Sebuah kurikulum dapat dilakukan secara berkelanjutan apabila memenuhi persyaratan yaitu, . Regulasi dan fundamental (PerPem no 57 tahun 2. tentang standar pendidikan, . Melihat assessment nasional sebagai pengukur penalaran, . Jika publikasi menyebar luas kemungkinan besar kurikulum merdeka akan (Khoirurrijal, et al. , 2. Artinya kurikulum merdeka ada sebagai solusi dari permasalahan pendidikan dan sistem pendidikan sebelumnya sebagaimana sekolah penggerak dijadikan sebagai contoh dari garda terdepan dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka belajar (KMB). Kurikulum merdeka belajar (KMB) di desain khusus sehingga relevan dengan era digitalisasi yang mengutamakan kompetensi minat peserta didik pada bidangnya sehingga diharapkan semakin berkembang agar mampu memiliki kontribusi dalam dunia karir sesuai dengan profesionalitasnya, dan memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas sebagai pengembangan sebuah disiplin ilmu dan teknologi. (Makarim, 2. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode heuristik untuk mengkaji kontekstualisasi pemikiran pendidikan Ibnu Khaldun terhadap Kurikulum Merdeka Belajar (KMB). Penelitian dilakukan pada AprilAeJuni melalui studi kepustakaan terhadap Muqaddimah karya Ibnu Khaldun serta literatur pendukung berupa buku dan artikel ilmiah. Data dilengkapi dengan observasi terbatas dan wawancara mendalam dengan pendidik di SMPS Tanjung Grogol guna memperoleh gambaran implementasi KMB dalam praktik pembelajaran. (Miles & Huberman, 2. Analisis data dilakukan secara kualitatif melalui tahapan reduksi, kategorisasi, dan interpretasi data untuk menemukan kesesuaian antara konsep pendidikan Ibnu Khaldun dan prinsip KMB. Metode heuristik digunakan sebagai strategi analisis untuk menyederhanakan kompleksitas permasalahan dan memperoleh pemahaman yang memadai dalam keterbatasan data. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber antara data kepustakaan dan data lapangan. (Denzin, 2. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode heuristik untuk mengkaji relevansi pemikiran pendidikan Ibnu Khaldun terhadap Kurikulum Merdeka Belajar (KMB). Data diperoleh melalui studi kepustakaan terhadap Muqaddimah Ibnu Khaldun serta literatur pendukung berupa buku dan artikel ilmiah, dan dilengkapi dengan wawancara mendalam terhadap pendidik yang menerapkan KMB. Analisis data dilakukan secara kualitatif melalui proses reduksi, kategorisasi, dan interpretasi data untuk menemukan kesesuaian konsep pendidikan Ibnu Khaldun dengan prinsip dan praktik KMB. (Miles & Huberman, 2. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui riset partisipan dan studi informasi untuk mengkaji pemikiran pendidikan Ibnu Khaldun dalam konteks Kurikulum Merdeka Belajar (KMB). Riset partisipan melibatkan sejumlah guru sebagai subjek penelitian yang dipilih secara purposif, dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam menggunakan pertanyaan kritis yang relevan dengan fokus Pendekatan heuristik diterapkan melalui proses refleksi dan diskusi terhadap data yang diperoleh, dengan tetap menjaga etika penelitian dan kerahasiaan identitas Selain itu, data pendukung dikumpulkan melalui studi kepustakaan dari sumber-sumber tepercaya seperti kitab Muqaddimah, buku, jurnal, artikel ilmiah, dan dokumen daring yang relevan, kemudian diklasifikasikan sesuai kebutuhan analisis (Nata, 2. Tahapan penelitian meliputi eksplorasi, validasi, dan evaluasi. Pada tahap eksplorasi, peneliti mengkaji literatur terkait pemikiran pendidikan Ibnu Khaldun dan Kurikulum Merdeka Belajar (KMB), serta melakukan diskusi dengan riset partisipan untuk memahami konteks dan potensi kesenjangan antara konsep pendidikan klasik dan kebijakan kurikulum kontemporer. Tahap validasi dilakukan melalui pengumpulan data dari riset partisipan dan sumber informasi dengan teknik triangulasi, yaitu membandingkan data kepustakaan dan data lapangan, serta melakukan diskusi lanjutan untuk memastikan ketepatan interpretasi. Tahap evaluasi dilakukan dengan mengidentifikasi pola dan narasi utama dari hasil wawancara dan kajian literatur guna memperoleh pemahaman yang utuh. (Miles & Huberman, 2. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara mendalam dengan pendidik, kajian pustaka, dokumentasi, pencatatan lapangan, dan perekaman data. Analisis data dilakukan melalui analisis dominasi, taksonomi, kontemplasi, dan tema untuk mengklasifikasikan serta mensintesis temuan penelitian. Keabsahan data dijaga melalui uji kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas dengan menerapkan triangulasi sumber, dokumentasi sistematis, serta transparansi proses penelitian, sehingga temuan penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. (Lincoln & Guba, 1. Hasil dan Pembahasan Penelitian ini pada awalnya berspekulasi adanya kesengajaan bahwa pemikiran pendidikan ibnu khaldun menjadi titik berangkat kurikulum merdeka belajar (KMB), sehingga pada akhirnya peneliti bermaksud mengangkat tajuk ini sebagai topik Berdasarkan pengamatan dan pengumpulan data yang peneliti lakukan di lapangan terkait dua topik yang diangkat ternyata membuahkan hasil yang cukup mengejutkan karena terdapat beberapa kesamaan yang relevan antara pemikiran pendidikan Ibnu Khaldun dan kurikulum merdeka belajar (KMB). Relevansi yang terdapat di antara pemikiran pendidikan Ibnu Khaldun dengan kurikulum merdeka belajar (KMB) seperti berikut. Prinsip pengajaran Ibnu Khaldun dan komponen kurikulum merdeka belajar (KMB). Konstruktivisme dengan menyesuaikan tingkatan akal. Hasil wawancara dari sejumlah guru mengatakan bahwa dalam penyampaian materi akan menyesuaikan dengan tingkat pemahaman peserta didik, gaya belajar dan minat agar mampu membangun pemahaman yang lebih holistik secara bertahap. Artinya kurikulum merdeka belajar (KMB) dan Ibnu Khaldun sepakat bahwa kompetensi peserta didik harus dibangun melalui teori dan praktik . engalaman langsun. dengan catatan menyesuaikan dengan kapasitas pemahaman peserta didik. Penggunaan sarana . lat pembelajara. membantu pendekatan Inquiri. Hasil wawancara dari sejumlah pendidik mengatakan bahwa sarana dan prasarana membantu peserta didik dalam proses AumenemukanAy jawaban dan pemahaman versi orisinil dirinya sendiri. Artinya dalam proses eksplorasi yang memadai dibutuhkan sarana pendukung sebagai alat penyederhanaan seperti menggunakan teknologi, alat peraga dan analogi untuk mempermudah proses pencarian tersebut. Untuk sebagai proses penggalian materi lebih spesifik. Hasil wawancara dari sejumlah pendidik mengatakan bahwa mengajukan dan diajukan pertanyaan membuat peserta didik menjadi lebih kritis. Jadi, jenis pertanyaan dibagi menjadi tiga, pertanyaan pemantik, dasar dan lanjutan. Ketiga jenis ini memiliki tujuan yang sama yaitu untuk menggali lebih dalam tentang sebuah topik. Dalam konteks pemahaman yang holistik pertanyaan melahirkan jawaban dan jawaban akan melahirkan pertanyaan lanjutan hingga pada titik terdalam. Ini yang membuat asking merupakan cara memperoleh linieritas keilmuan yang holistic Learning community sebagai sarana keberlanjutan ilmu. Hasil wawancara dari sejumlah pendidik mengatakan bahwa prinsip keberlanjutan dapat diterapkan dalam komunitas belajar. Artinya. Dalam lingkup yang sempit komunitas belajar dapat dibentuk kelompok kecil agar terjadi pertukaran pemikiran sebagai langkah awal pencarian solusi praktis. Sedangkan lingkup yang lebih besar materi yang telah diperoleh harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk amaliyah dan pengajaran dalam struktur masyarakat. Modeling membantu memfokuskan materi. Hasil wawancara dari sejumlah pendidik mengatakan bahwa prinsip linieritas ilmu dan modeling merupakan sebuah demonstrasi pendidik di depan kelas yang membuat peserta didik memiliki motivasi untuk melakukan hal yang sama sehingga secara tidak langsung modeling memberikan makna bahwa fokus utama dalam penerapan materi adalah diri sendiri. Dan modeling memfasilitasi peserta didik untuk mampu fokus dan mandiri dalam menelaah ilmu pengetahuan. Reflection dalam lingkungan belajar. Hasil wawancara dari sejumlah pendidik mengatakan bahwa ada beberapa perbedaan dalam pendekatan refleksi antara Ibnu Khaldun dan kurikulum merdeka belajar (KMB). Namun dalam konteks pemikiran Ibnu Khaldun refleksi yang dimaksud adalah bagaimana peserta didik mampu bersikap tenang dalam menghadapi masalah di setiap situasi dan kondisi. Kemampuan berpikir jernih dan tenang merupakan kunci utama dalam penyelesaian masalah ketika berada dalam praktik lapangan. Assessment authentic memperdalam pemahaman belajar. Hasil wawancara dari sejumlah pendidik mengatakan bahwa terdapat perbedaan antara penilaian menurut Ibnu Khaldun dan kurikulum merdeka belajar (KMB). evaluasi yang dilakukan dalam kurikulum merdeka belajar penilaian autentik untuk mengetahui hasil atau capaian pelajaran dengan tujuan mengetahui tingkat pemahaman peserta didik setelah melakukan proses belajar. Namun, esensinya tetap sama yaitu memastikan tingkat pemahaman peserta didik. Tujuan pendidikan Ibnu Khaldun dan tujuan kurikulum merdeka belajar (KMB). Makalah. Ibnu Khaldun dan kurikulum merdeka belajar (KMB) sepakat bertujuan menumbuhkembangkan kompetensi yang meliputi pemahaman dan keterampilan yang bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat. Peserta didik harus memiliki karakter berkebhinekaan global sebagai cara beradaptasi dalam tantangan global. Relasi. Relasi berperan sebagai perantara keilmuan peserta didik agar mampu mengimplementasikan secara baik dan benar. Relasi ini meliputi hubungan kepada Tuhan, manusia dan ekologi. peningkatan peradaban. Setelah malakan dan relasi sebagai perantara maka muaranya adalah output yang dihasilkan sebagai peningkatan mutu masyarakat sehingga dalam lingkup negara dan peradaban akan bergerak ke arah yang lebih maju. Metode pembelajaran Ibnu Khaldun dan penerapan pembelajaran berbasis di kurikulum merdeka belajar (KMB). Metode widya wisata merupakan salah satu metode yang cukup berperan penting dalam konteks implementasi kurikulum merdeka belajar (KMB). Widya wisata menekankan pada pengalaman praktis peserta didik dalam proses belajar. Hal ini terbukti dari hasil wawancara dari sejumlah pendidik yang mengatakan bahwa pengalaman praktis dapat mengantarkan peserta didik kepada pemahaman yang sesungguhnya bukan hanya sekedar membayangkan. Metode dialog dan hafalan menjadi langkah awal dalam pembelajaran berbasis Hasil wawancara dari sejumlah pendidik mengatakan bahwa pembelajaran berbasis kontekstual merupakan cara paling efektif menumbuhkan kemampuan peserta didik dalam mengaitkan suatu materi pada isu tertentu yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Pembelajaran berbasis keterampilan dilakukan dengan metode pengulangan. Secara tidak langsung dapat diketahui bahwa untuk memperoleh labelisasi AumenguasaiAy dalam sebuah keterampilan maka harus dilakukan yang namanya pengulangan. Secara orisinil Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa untuk memperoleh Malakah . maka harus melewati tiga tahap pengulangan, setiap pengulangan bertujuan untuk mendapatkan labelisasi dari setiap tahapannya, pengulangan pertama untuk AumengetahuiAy pengulangan kedua untuk AumemahamiAy dan pengulangan ketiga untuk AumenguasaiAy. kurikulum merdeka belajar (KMB) mengadopsi pengulangan ini dalam bentuk evaluasi untuk melihat CP dalam proses belajar namun tidak terpaku pada jumlah evaluasi. Pembelajaran berbasis diferensiasi melalui prinsip pentahapan. Penyesuaian materi ajar pada proses belajar harus dilakukan pendidik mengikuti jenjang tertentu, dalam lingkup yang lebih sempit secara personalisasi penyampaian bahan ajar pada peserta didik berdasarkan gaya, minat belajar dengan tahapan perencanaan pembelajaran. Prinsip penggunaan sarana dalam pembelajaran berbasis teknologi. Hasil wawancara dari sejumlah pendidik mengatakan bahwa sekolah memberikan beberapa fasilitas sebagai sarana yang dapat digunakan peserta didik untuk mendukung proses Disamping itu pembiasaan penggunaan teknologi membuat peserta didik secara mahir mampu mengoperasikan teknologi untuk kepentingan belajar. Inquiry adalah naluriah bagi manusia. Rasa keingintahuan adalah landasan peserta didik secara tidak langsung menemukan jawaban atas pertanyaannya. Sedangkan pertanyaan merupakan cara menerapkan pembelajaran berbasis inquiri dalam kurikulum merdeka belajar (KMB). Sebagai bentuk eksplorasi dalam menemukan Ibnu Khaldun membagi tiga klasifikasi ilmu secara garis besar yaitu ilmu naqliyah, aqliyah dan alat, hal serupa juga dilakukan kurikulum merdeka belajar (KMB) di dalam kurikulum inti dan kurikulum opsional. Kita dapat melihat konteks klasifikasi ilmu Ibnu Khaldun dalam kurikulum inti sebagai mata pelajaran wajib yang esensial yaitu naqliyah dan aqliyah. Kesimpulan yang menjadi penghubung di antara kedua topik tersebut yaitu fleksibilitas. Fleksibilitas yang menjadi kebanggaan kurikulum merdeka belajar (KMB) dapat disaksikan mulai dari kebebasan memilih peserta didik berdasarkan minat dan bakat, perencanaan pembelajaran, pendekatan, model, tujuan dan penilaian, hal inilah yang membuat kurikulum merdeka belajar (KMB) mendapat respon positif dari berbagai Fleksibilitas membuat pemikiran pendidikan Ibnu Khaldun dapat diterapkan dalam konteks modern dengan beberapa penyesuaian yang berorientasi pada kebutuhan proses belajar di dalam mapunun di luar kelas. Dari sudut pandang pendidikan Islam yang komprehensif kurikulum merdeka belajar masih mengadopsi nilai-nilai yang Islami dengan batas tertentu khususnya dalam sekolah umum. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemikiran pendidikan Islam yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldun sangat relevan dan dapat diterapkan pada konteks modern dengan beberapa catatan tertentu, hal ini juga mematahkan stigma bahwa pendidikan Islam yang cenderung kaku dan tertinggal perkembangan zaman itu tidak Daftar Pustaka