Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 2 Oktober 2025. Hal. BPPM STAK Terpadu Pesat Pendampingan Rohani melalui Pendalaman Alkitab dalam meningkatkan Kepemimpinan Remaja GBI Betesda Wamena Joshua Emmanuel1*. Robert Willem Bobby Talubun2 Sekolah Tinggi Teologi Kharisma. Bandung. Gereja Bethel Indonesia Betesda. Wamena. yosiemmanuele@gmail. Article History Abstract Submitted: 20 Juli 2025 Accepted: 27 Oktober 2025 Published: Oktober 2025 This community service activity (PKM) aims to instill leadership attitudes as an essential aspect that should be cultivated from adolescence, particularly in the context of the local church. However, the challenges of the times and the lack of spiritual mentoring have caused many Christian teenagers to experience a loss of values and a lack of direction in faith-based leadership. Based on this condition, this PKM was carried out to nurture the leadership character of the youth at GBI Betesda Wamena through a Bible study approach. The methods used in this activity included lectures, demonstrations, question-and-answer sessions, small group discussions, personal mentoring, and evaluations. This program involved 12 active teenagers from GBI Betesda Wamena and was conducted over several The results showed that the participants demonstrated high enthusiasm for Bible study, with 83. 3% regularly reading the Bible on their own. After the program, most participants showed positive behavioral changes, such as the desire to become role models . 3%), intercessors . %), and helpers to others . 7%). The findings suggest that consistent spiritual mentoring grounded in the Word of God is effective in shaping the leadership character of Christian youth. This activity serves as a model of faith formation that can be replicated to guide church youth in developing responsible the importance of the result or a brief conclusion. Keywords: youth, spiritual mentoring,bible study. Kata-kata kunci: remaja, pendampingan rohani, pendalaman alkitab, kepemimpinan Abstrak PKM ini bertujuan untuk menanamkan sikap kepemimpinan sebagai aspek penting yang perlu ditanamkan sejak masa remaja, terutama dalam konteks gereja lokal. Namun, tantangan zaman dan minimnya pendampingan rohani membuat banyak remaja Kristen mengalami kekosongan nilai dan kurangnya arah kepemimpinan yang berlandaskan iman. Berdasarkan kondisi tersebut, kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menumbuhkan sikap kepemimpinan remaja GBI Betesda Wamena melalui pendekatan pendalaman Alkitab. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi ceramah, demonstrasi, tanya jawab, kelompok kecil, pendampingan pribadi, serta evaluasi. Kegiatan ini melibatkan 12 remaja aktif dari GBI Betesda Wamena dan dilaksanakan dalam beberapa pertemuan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa para remaja memiliki antusiasme tinggi terhadap pendalaman Alkitab, dengan 83,3% dari mereka secara rutin membaca Alkitab secara pribadi. Setelah kegiatan, sebagian besar peserta menunjukkan perubahan sikap yang positif, seperti keinginan menjadi teladan . ,3%), menjadi pendoa . %), dan menjadi penolong bagi sesama . ,7%). Diskusi dari hasil ini menunjukkan bahwa pendampingan rohani yang konsisten dan berbasis firman Tuhan efektif dalam membentuk karakter kepemimpinan remaja. Kegiatan ini menjadi model pembinaan iman yang dapat direplikasi untuk mendampingi remaja gereja dalam membentuk kepemimpinan yang bertanggung jawab. Copyright: @2025. Authors. 148 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga PENDAHULUAN Alkitab merupakan sumber pertama dalam keimanan Kristen, baik sebagai pedoman dan sebagai dasar iman percaya. Mengutip pernyataan Thiesen bahwa Alkitab yang dianggap sebagai firman Allah, menjadi dasar kekuatan terpenting dalam iman Kristen hingga sekarang (Thiessen, 2020, p. Meskipun sebagian kalangan teolog yang berpadangan liberal, melihat Alkitab hanya sebagai buku yang berisi firman Allah. Namun, tidak bisa dipungkiri Alkitab tetap eksis sejak keberadaannya sebagai pernyataan khusus Allah kepada manusia(Charles C. Ryrie, 2017, p. Demikian betapa berpengaruhnya Alkitab bagi kekristenan hingga kini, menolong dan menopang setiap orang percaya. Alkitab tidak saja menjadi sumber dalam menguatkan iman orang percaya. Alkitab juga dapat menjadi sumber inspirasi dan pedoman dalam memimpin orang percaya, menghidupi nilai-nilai berdasarkan kebenaran. Milne menggambarkan, bahwa Alkitab menjadi gambaran jelas mengenai keteraturan manusia dalam memahami dan menghidupi kehendak Tuhan (Milne & Corputty, 2011, p. Lebih jauh Purwanto, dapat melihat keteladan yang diberikan Yesus Kristus sebagai sosok yang menjadi sumber teladan dalam hal kepemimpinan yang diperlukan dalam kehidupan orang percaya (Agus Purwanto, 2. Dalam konteks perubahan zaman yang cepat, nilai-nilai kepemimpinan yang bersumber dari Alkitab menjadi semakin penting untuk dihidupi oleh setiap generasi, termasuk remaja. Berbicara mengenai Alkitab sebagai sumber inspirasi dengan kisah para tokoh yang ada di dalamnya, menjadikan setiap orang percaya dapat lebih memahami karakteristik teladan yang perlu dihidupi bagi orang percaya, yaitu kepemimpinan merupakan kemampuan untuk memengaruhi dan mengarahkan orang lain menuju tujuan bersama. mengenai kepemimpinan sendiri, tepatnya menurut Malcom, kepemimpinan merupakan sebuah peran yang memiliki pengaruh sangat signifikan dalam kelompok (Webber, 2019, p. Dalam kepemimpinan sendiri, tidak memiliki patokan usia dalam sikap tersebut, melainkan naluria yang hadir secara natural melalui pemuridan yang benar dan terarah (Gibbs, 2. Bahkan sejak remaja, jiwa kepemimpinan perlu ditanamkan, sehingga tumbuh menjadi karakter yang alamiah dari diri Mengutip pernyataan Suprihatin, menegaskan bahwa sejak dini manusia dapat diarahkan menjadi lebih berfokus dalam sikap yang benar(Suprihatin et al. , 2. Dengan melihat bahwa kepemimpinan sangat perlu diberikan kepada orang percaya sejak beranjak masa remaja melalui tokoh-tokoh Alkitab sebagai dasar inspirasi memiliki kepemimpinan yang benar. Melihat situasi saat ini, tentu perlu meningkatkan sikap kepemimpinan remaja memerlukan effort yang sangat besar terutama melalui sisi spiritualitas, terlebih menghadapi tantangan gempuran teknologi yang menganggu pertumbuhan rohani remaja. Seperti hasil riset yang dilakukan oleh BRC, menunjukkan bahwa hanya 23% orang tua yang dianggap baik dalam membimbing spiritualitas anak (Budijanto, 2. , sedangkan selebihnya jauh lebih rendah dalam membina kerohanian anak melalui penanaman nilai-nilai kepemimpinan berdasarkan Alkitab. Apakah semua tanggung jawab orang tua? Meskipun tidak secara eksplisit, namun perlu kolaborasi antar bidang dalam memuridkan kerohanian anak, terutama dalam menumbuhkan sikap kepemimpinan berdasarkan Alkitabiah. Santosa juga menekankan pentingnya peran orang dewasa yang diperlukan dalam mendampingi anak remaja ditengah perubahan zaman(Santosa, 2. 149 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga Lebih lanjut. Mariani juga mengatakan bahwa hamba Tuhan sebagai orang dewasa memiliki peran melalui persona menjadi gembala dalam membimbing generasi dibawahnya menjadi berkarakter Kristus (Harmadi & Willyam, 2. Meskipun pembina rohani tidak memiliki waktu yang banyak dalam memuridkan para remaja, yang dianggap sebagai indikator kegagalan dalam pemuridan. Namun. Hull mengatakan bahwa pemuridan yang telah dilakukan tidaklah sia-sia, melainkan benih yang ditanam dan terus-menerus dan disirami kebenaran akan tetap tumbuh menjadi sebuah benih yang menghasilkan buah yang berharga(Hull, 2. Melihat celah ini, perlu menangkap alasan kuat dalam implementasi peran pembina rohani dalam mengembangkan sisi kepemimpinan remaja, meskipun ditengah ketidakpastian dan efesiensi waktu. Disinilah diperlukan strategi pendampingan rohani yang kreatif dan kontekstual, termasuk melalui kegiatan pendalaman Alkitab. Situasi yang ditemukan di lapangan, khususnya di GBI Betesda Wamena, menunjukkan adanya kesempatan yang dapat dimanfaatkan oleh pelaksana yang secara khusus merupakan penyuluh agama Bimas Kristen, di wilayah Wamena, sekaligus seorang pelayan gereja di GBI Betesda yang dapat mendampingi remaja dalam kepengurusan kaum muda. Gereja Bethel Indonesia Betesda yang terletak di jalan Irian atas lorong Tongkonan. Wamena ini, digembalai oleh pendeta Robert Talubun, dengan jumlah jemaat sebanyak 15 kepala keluarga dengan rincian 55 jemaat dewasa aktif digereja. Pada kelas pemuda terdapat 18 orang yang aktif. Pada kelas remaja terdapat sebanyak 14 anak yang aktif dilayani, dan 52 anak sekolah minggu dari orang tua yang aktif sebagai jemaat tetap dan terdapat juga jemaat tidak tetap (Talubun, 2. Jumlah jiwa yang dilayani gembala sidang dapat dikategorikan cukup besar bagi sebuah gereja desa. Namun, masalahnya adalah kekurangan pembina rohani yang dapat mendampingi pertumbuhan rohani jemaat di gereja. Melihat situasi ini, peneliti yang juga bergereja di tempat tersebut dan memiliki kualifikasi bidang kerohaniaan sebagai mahasiswa Magister bidang ilmu Teologi di Sekolah Tinggi Teologi Kharisma Bandung dan juga sebagai penyuluh agama Kristen di kota Wamena, memiliki kerinduan melakukan pendampingan melalui pelaksanaan PKM (Pengabdian Kepada Masyaraka. kepada remaja GBI Betesda dengan tema AuPendampingan Rohani melalui Pendalaman Alkitab dalam meningkatkan Kepemimpinan Remaja GBI Betesda WamenaAy. Pertama, keterbatasan pembina rohani, gembala memiliki tanggung jawab besar melayani 55 jemaat dewasa, 18 pemuda, dan 14 remaja aktif. Kedua, minimnya pendampingan remaja secara khusus, remaja belum mendapat pembinaan rohani intensif yang berfokus pada pembentukan kepemimpinan. Ketiga, dampak pengaruh teknologi, aktivitas digital cenderung mengalihkan perhatian remaja dari pembinaan iman dan tanggung jawab pelayanan. Akibatnya, remaja kurang memiliki figur teladan dan wadah yang menumbuhkan kepemimpinan rohani (Talubun, 2. Karena itu, dibutuhkan pendampingan rohani melalui kegiatan pendalaman Alkitab yang berorientasi pada pembentukan karakter kepemimpinan Kristen. Sebelumnya, telah dilakukan kajian mengenai betapa penting peran pendampingan rohani bagi remaja. Seperti hasil kajian Suprihatin, menemukan bahwa remaja perlu didampingi oleh seseorang yang dipercaya maupun mampu memberi rasa percaya kepada remaja. Hal ini berdampak dalam menumbuhkan sikap kepemimpinan seorang remaja (Suprihatin et al. , 2023, p. 150 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga . Selanjutnya hasil kajian yang dilakukan oleh Mangoli dan Charles, melihat bahwa remaja perlu sosok gembala yang memberikan teladan, baik secara langsung maupun tidak langsung,. Hal ini bukan saja berbicara hanya dasar pertemuan semata memberikan teladan, bahkan kehidupan gembala di dalam keluarganya juga menjadi sisi yang diperhatikan (Mangoli & Boimau, 2. Melihat dari penelitian sebelumnya, peneliti menemukan apa yang perlu dilakukan dalam menjawab kebutuhan remaja. Bagaiamana yang dipahami bersama, bahwa kepemimpinan di dalam gereja sudah jelas akan menunjuk pada sosok gembala atau pendeta yang mengembalakan gereja tersebut. Namun, dilain sisi, dapat dipahami bahwa gembala memiliki keterbatasan dalam memenuhi kekosongan dalam diri remaja sebagai sosok panutan dalam kepemimpinan. Melihat celah ini, peneliti melakukan kajian mengenai perlunya dilakukan pendampingan yang komperhensif terhadap remaja, selain menolong gembala di tempat pelayanan secara khusus gereja GBI Betesda sebagai bahan kajian PKM, tentu dapat berdampak dalam dunia pelayanan, bahwa gembala juga perlu ditolong sebagai bentuk kolaborasi bersama pelayan lainnya dalam melayani Tujuan dari kegiatan PKM ini dilaksanakan agar remaja yang berada di gereja GBI Betesda Wamena dapat memperoleh pendampingan secara intens dalam kerohanian melalui metode pembacaan Alkitab. Kemudian, dilanjutkan menumbuhkan sikap kepemimpinan remaja GBI Betesda Wamena melalui pengenalan tokoh-tokoh yang menginspirasi dalam hal kepemimpinan Kristen dalam hidup para remaja. Akhirnya, kegiatan ini dapat berdampak bagi remaja GBI Betesda Wamena dalam hal menumbuhkan sikap kepemimpinan yang berguna agar hidup benar dan berladaskan Alkitab melalui pendampingan rohani yang dilaksanakan. METODE PENELITIAN Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang diselenggarakan di GBI Betesda. Wamena dalam bentuk pendampingan terhadap kaum remaja gereja. Metode yang digunakan selama pelaksanaan PKM antara lain, ceramah, brainstroming, dan survey(Azwar, 2. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini diselenggarakan di Gereja Bethel Indonesia (GBI) Betesda. Wamena, dengan sasaran utama remaja gereja berjumlah 14 orang. Kegiatan dilaksanakan selama empat minggu . atu bula. , dimulai pada 5Ae26 Mei 2025, dengan frekuensi empat kali pertemuan tatap muka, masing-masing berdurasi 120 menit . Setiap sesi dilaksanakan pada Sabtu pukul 15. 00Ae17. 00 WIT di aula remaja gereja, dengan susunan kegiatan umum sebagai berikut: Pertemuan Tanggal 05 mei 2025 Tabel 1. Jadwal Susunan Kegiatan Pendampingan Tema/Materi Metode Utama Firman Tuhan: Pemimpin yang Berkenan di Hati Tuhan Ceramah. Tanya Jawab Kegiatan Evaluasi Refleksi individu 151 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga 12 mei 25 Teladan Kepemimpinan Alkitabiah (Musa. Nehemia. Yesu. Demonstrasi. Brainstorming Diskusi kelompok kecil i 19 mei 25 Praktik Kepemimpinan dalam Kehidupan Remaja Kelompok kecil. Pendampingan Lembar observasi dan 26 mei 25 Evaluasi dan Refleksi Spiritual Survei. Sharing Pengisian kuesioner akhir dan wawancara singkat Metode ceramah, digunakan ketika menyampaikan materi Firman Tuhan, dibantu menggunakan media. Alkitab dan LCD dalam bentuk powerpoint serta media pendukung lainnya. Metode demonstrasi, digunakan ketika pemateri menyampaikan teknik bercerita, dengan menggunakan alat peraga kontemporer dan menunjukkan gaya atau mengilustrasikan gambaran Metode brainstorming, digunakan untuk membawa remaja kembali mengingat materi pengajaran sebelumnya. Metode tanya jawab, memberikan ruang bagi peserta menanyakan perihal pelajaran mengenai kepemimpinan yang masih ada hubungannya dengan topik di dalam Alkitab. Metode kelompok kecil, metode ini digunakan sebagai bentuk penghayatan dalam proses pemuridan, dan dilakukan sebagai bentuk aplikatif dari pembelajaran berlandaskan Alkitab. Kemudian, metode pendampingan, metode ini digunakan ketika para remaja melakukan penelahan Alkitab secara pribadi, dilakukan dalam bentuk pendampingan secara langsung dan tidak Terakhir, metode survey, bertujuan mengetahui tingkat pemahaman remaja terhadap pendampingan rohani yang diberikan dan memberikan respon atas pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang dilaksanakan. Hasil dari survey bertujuan mengetahui pemahaman, pembiasaan dan peningkatan dalam diri remaja. Untuk mengetahui efektivitas kegiatan PKM, digunakan beberapa alat ukur dan indikator keberhasilan berikut: Aspek yang Diukur Pemahaman nilai kepemimpinan Alkitabiah Tabel 2. Aspek dan Indikator Keberhasilan Alat Ukur Indikator Keberhasilan Kuesioner (Skala Likert 1Ae. Skor rata-rata meningkat Ou20% dibandingkan pretest Partisipasi dan keterlibatan dalam kegiatan Lembar observasi fasilitator Ou80% remaja aktif dalam diskusi dan tugas kelompok Penghayatan nilai rohani dan penerapan pribadi Wawancara dan refleksi tertulis Ou75% remaja mampu mengidentifikasi nilai kepemimpinan dalam kehidupan sehari-hari 152 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga Konsistensi kehadiran Daftar hadir Ou85% kehadiran selama 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Remaja GBI Betesda dan Pendalaman Alkitab Pertemuan Pertama: Remaja GBI Betesda Pada tahap kegiatan awal lebih menekankan kepada pengenalan dan identifikasi para remaja di gereja GBI Betesda Wamena. Melihat dari total jumlah remaja sebanyak 15 jiwa yang aktif dilayani, perlu diklasifikasikan berdasarkan usia. Bagan 1. Persentase kategori usia peserta Berdasarkan diagram diatas, dari jumlah 14 remaja yang merupakan jemaat aktif di gereja, dalam kegiatan pendampingan rohani hanya 12 remaja yang hadir mengikuti kegiatan yang terdiri dari 50% berusia 19 Ae 21 tahun, kemudian 25% 14 Ae 16 tahun, 16,7% berusia 17 Ae 18 tahun dan terakhir 8,3% berusia dibawah 13 tahun. Dengan demikian remaja Kristen di gereja GBI Betesda Wamena lebih di dominasi remaja akhir yang berusia 19 -21 tahun. Berikut bagan nama dan usia remaja GBI Betesda: Tabel 3. Nama dan Kategori Usia Peserta Nama Tince mohi Vano mamonto Injilia mamonto Epafras Ivan Raimond Talubun Nothen suhun Asson Waningga Gabby pristiana baunick Priscilla Usia 17-18 tahun 14 -16 tahun 10-13 tahun 19-21 tahun 19-21 tahun 19-21 tahun 14 -16 tahun 17-18 tahun 153 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga Imanuel Kenzo I Onibala Hodeks Balingga Paul kaningga Debby Mamusung 14 -16 tahun 19-21 tahun 19-21 tahun 19-21 tahun Pada tahap awal kegiatan, pendamping melakukan identifikasi terhadap peserta pendampingan rohani yang berjumlah 14 remaja aktif. Dari hasil klasifikasi usia, mayoritas peserta . %) berada pada rentang usia 19Ae21 tahun, yang menunjukkan bahwa sebagian besar termasuk kategori remaja akhir. Proporsi ini penting karena pada tahap perkembangan tersebut, remaja sedang membangun identitas diri, tanggung jawab moral, dan kapasitas kepemimpinan. Kehadiran 12 dari 14 remaja menunjukkan komitmen dan ketertarikan yang tinggi terhadap kegiatan rohani. Secara teoritis, tingkat partisipasi yang tinggi menjadi indikator adanya . asa memilik. terhadap komunitas gereja (Herda & Santosa, 2. Dapat diartikan, lingkungan gereja berfungsi bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai wadah pembentukan karakter dan kepemimpinan Dominasi usia remaja akhir memberi peluang besar bagi keberhasilan pendampingan, sebab mereka berada pada fase psikologis yang lebih stabil dan terbuka terhadap proses refleksi iman serta tanggung jawab sosial. Namun, keberagaman usia juga menjadi tantangan tersendiri bagi fasilitator untuk menyesuaikan pendekatan komunikasi dan gaya pengajaran. Gambar 1: Pertemuan Perdana Pengenalan dan Identifikasi Remaja Pertemuan Kedua: Pendalaman Alkitab 154 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga Gambar 2: Kegiatan Pendalaman Alkitab sebagai Kegiatan Pendampingan Rohani Remaja. Pada pertemuan kedua, dilaksanakan kegiatan pendampingan terhadap remaja dengan tujuan mengali kebiasaan para jiwa muda tersebut membaca Alkitab. Kegiatan dimulai dengan doa, lalu menyanyikan lagu pembukaan baik penyembahan dan pujian, serta firman Tuhan sebagai media utama dalam pendampingan rohani remaja. Firman Tuhan yang disampaikan terambil dari Yosua 1:8 AuJanganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung (Alkitab, 1. Ay. Ayat ini berbicara mengenai standar utama hidup sebagai orang percaya adalah merenungkan firman Allah siang dan malam dengan tujuan agar hidup orang percaya memiliki damai sejahtera dan berkemenangan. Hasil dari pendampingan yang dilakukan dalam sesi pertemuan pertama, membahas mengenai aktivitas pembacaan Alkitab dalam kehidupan remaja. Hal ini bertujuan melihat bagaimana kehidupan remaja Kristen khususnya di gereja GBI Betesda dalam hal kerohanian mereka melalui pengenalan akan firman Tuhan. Setelah kegiatan selesai, mulai dilakukan monitoring mengenai kebiasaan para remaja dalam membaca Alkitab: Bagan 2. Persentase Aktivitas Pembacaan Alkitab Sehari-Hari 155 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga Pada pertemuan kedua, fokus kegiatan diarahkan pada pembiasaan membaca dan merenungkan Firman Tuhan berdasarkan Yosua 1:8. Data survey menunjukkan 83,3% remaja sering membaca Alkitab secara pribadi, sedangkan 16,7% membacanya kadang-kadang. Persentase ini menegaskan bahwa sebagian besar remaja memiliki dasar spiritualitas yang cukup baik, namun belum semuanya memiliki kedisiplinan spiritual yang konsisten. Kebiasaan membaca Alkitab yang kuat sering kali dipengaruhi oleh faktor keluarga dan komunitas (Rantung. Dalam konteks GBI Betesda, kedekatan emosional dengan gereja dan pembina rohani menjadi faktor pendorong utama terbentuknya kebiasaan tersebut. Namun, hasil ini juga mengindikasikan adanya kesenjangan antara kebiasaan spiritual dan penerapan nilai Artinya, membaca Alkitab belum tentu berbanding lurus dengan transformasi karakter, sehingga dibutuhkan pendekatan pendampingan yang aplikatif dan reflektif. Pendalaman Alkitab dan Mengekspresikan Tokoh Alkitab yang Menginspirasi Remaja. Pertemuan Ketiga: Tokoh Alkitab yang Menginspirasi. Dalam pertemuan berikutnya, fasilitator membuka ibadah dengan pujian dan penyembahan, kemudian dibuka dengan pembacaan firman Tuhan Au 1 Timotius 4: 12 AuJangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu (Alkitab, 1. Ay Dalam pembacaan firman Tuhan yang terambil dari ayat tersebut, menekankan pentingnya kesadaran diri seorang muda dalam mengendalikan dirinya, yang bertujuan agar tetap menjaga kekudusan dan kehormatan bagi dirinya. Tujuan dari menyampaikan ayat ini, agar remaja menemukan rhema sebagai sebuah pesan Ilahi yang Allah sediakan bagi remaja, dan tentunya agar mendorong remaja memiliki keberanian seperti Timotius dan menjadikan Paulus sebagai pemimpin rohani yang menginspirasi baginya dan Gambar 3: Mengenal dan Membahas Tokoh Alkitab yang Menginspirasi Remaja. 156 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga Ayat tersebut kemudian membawa pemateri masuk ke dalam refleksi pribadi bagi remaja, yang bertujuan membangkitkan eksistensi dirinya sebagai manusia ciptaan Tuhan yang memiliki kemampuan kepemimpinan yang dipercayakan oleh Allah. Belajar dari kisah Timotius yang dipercaya Paulus memimpin jemaat di Efesus (Rumahlatu, 2. , menjadi tolak ukur diri remaja dalam mengambil keputusan hidup dengan melihat sosok di dalam Alkitab yang mampu menginspirasi mereka. Setelah membaca dan merenungkan, kemudian merefleksikan firman Tuhan. Remaja GBI Betesda kemudian mulai ditantang untuk menghidupi nilai-nilai kebenaran dalam kehidupan sehari-hari, yang kemudian diaplikasikan dalam hidup tentunya. Melihat antusias para remaja, kemudian ditanyakan siapa saja tokoh dalam Alkitab yang menginspirasi Diagram 1. Tokoh Alkitab yang Menginspirasi Remaja Hasil diskusi kelompok menunjukkan tokoh Alkitab yang paling menginspirasi remaja adalah Daud . %), diikuti Yusuf . %). Paulus . Nehemia . Ester . , dan Ayub . Berdasarkan hasil tersebut, para tokoh yang menjadi inspirasi bagi remaja sudah sangat dikenali secara khusus bagi remaja Kristen, hanya beberapa tokoh yang mungkin tidak terlalu eksplisit Alkitab jelaskan kepemimpinannya secara nyata. Seperti Ratu Ester yang lebih banyak bergerak di dalam doa dan pergumulan agar Tuhan menyelamatkan bangsanya (Zaluchu et al. , 2. Lalu kemudian Ayub, yang menekankan ketaatan, dan kesalehan menjaga nama Allah terhadap keluarganya serta menjaga diri tetap setia kepada Allah meskipun sudah terjatuh di dalam penderitaan (Stevanus, 2. Pemilihan ini memperlihatkan bahwa remaja lebih tertarik pada tokoh-tokoh dengan kisah heroik dan keberanian spiritual yang menggambarkan kepemimpinan aktif, strategis, dan penuh Ketertarikan terhadap Daud dan Yusuf menunjukkan adanya kecenderungan remaja untuk meneladani pemimpin yang berintegritas, visioner, dan berani mengambil keputusan di tengah Ini relevan dengan konteks remaja Wamena yang hidup di tengah tantangan sosial, budaya, dan ekonomi yang kompleks. Mereka membutuhkan figur kepemimpinan yang kuat, namun tetap taat kepada Tuhan. 157 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga Pendampingan Rohani bagi Remaja dalam Kehidupan Sehari-Hari. Pertemuan keempat: Implementasi Gambar 4: Implementasi Hasil dari Tujuan Pendampingan Pada tahapan ini, bagaimana kegiatan dilakukan untuk mencapai tujuan bagi hidup remaja Kristen di GBI Betesda melalui pendampingan rohani yang dilakukan. Tentu dengan diharapkannya dampak positif yang dihasilkan melalui kegiatan ini. Pada sesi ini, remaja ditantang untuk memiliki hidup yang sudah diperbaharui. Setelah mendapatkan begitu banyak pengetahuan mengenai tokoh-tokoh yang ada di dalam Alkitab. Mungkin saja, dalam pendampingan rohani remaja, lebih cenderung menonjolkan tokoh-tokoh tertentu, namun pilihan yang menginspirasi remaja tetap mendapat perhatian mendalam, terutama bagi sikap kepemimpinan mereka. Seperti. Daud tokoh Alkitab yang terkenal akan kepiawaiannya dalam strategi berperang dan memimpin umat Israel sebagai seorang raja, menunjukkan sikap kepemimpinan yang matang (Moru, 2. , dan remaja tentu perlu memilikinya. Kemudian Yusuf, menjadi bagian terpenting dalam kesejahteraan orang Mesir pada saat itu (Panjaitan, 2. , pada bagian ini sikap Yusuf sebagai pemimpin yang memiliki analisis yang terukur dapat menolong remaja dalam menganalisa setiap masalah dan menyikapinya. Setelah itu. Musa, terkenal akan kepemimpinan yang tegas dan berpengaruh (Simanjuntak & Sianipar, 2. , lalu Nehemia dan Ratu Ester yang memiliki sikap kepemimpinan yang lebih mengandalkan Tuhan (Guthrie et al. dan terakhir Ayub, kepemimpinan yang mampu mengendalikan dirinya untuk tetap setia dan taat kepada Allah (Dhandi & Panjaitan, 2. Dari keberagaman inspirasi tokoh Alkitab, memberikan daya dorong bagi remaja untuk dapat mengambil sikap dalam kehidupannya. Ini dapat dilihat dari implementasi yang dilakukan remaja GBI Betesda setelah mendapatkan pendampingan rohani dalam menmbuhkan sikap kepemimpinan. Sebanyak 33,3% remaja memutuskan memiliki hidup yang dapat menjadi teladan bagi orang lain. Seperti, menjadi contoh memiliki hidup yang benar, kemudian sebanyak 25% memberikan diri menjadi pendoa bagi orang lain, dan selebihnya 41,5% menjadi penolong bagi orang lain. Dengan demikian, hasil pendampingan rohani menunjukkan dampak yang sangat baik 158 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga dalam pertumbuhan rohani dan kepemimpinan remaja Kristen di GBI Betesda Wamena. Distribusi hasil ini menunjukkan adanya transformasi nilai spiritual menjadi tindakan nyata. Sikap kepemimpinan rohani tidak hanya ditunjukkan dalam posisi formal, tetapi juga dalam bentuk pelayanan, keteladanan, dan kepedulian sosial. Perubahan perilaku ini dapat dijelaskan melalui konsep experiential learning, di mana remaja belajar dari pengalaman langsung melalui refleksi Alkitab dan bimbingan pendamping (Wiryohadi et al. , 2. Pendampingan yang dilakukan secara konsisten mendorong remaja menerjemahkan nilai Alkitab ke dalam perilaku praktis sebuah indikator keberhasilan program KESIMPULAN Kegiatan pendampingan rohani yang dilakukan melalui pendalaman Alkitab di kalangan remaja GBI Betesda Wamena menunjukkan bahwa pembinaan kepemimpinan tidak hanya dapat dibentuk melalui pelatihan teknis atau pendekatan motivasional semata, tetapi justru sangat efektif ketika dilandaskan pada nilai-nilai rohani yang mendalam. Dalam hal ini, firman Tuhan bukan hanya menjadi bahan bacaan spiritual, tetapi menjadi sumber utama pengenalan diri, arah hidup, dan pemaknaan akan panggilan untuk memimpin. Para remaja yang terlibat dalam kegiatan ini menunjukkan kemampuan untuk memahami bahwa kepemimpinan sejati berakar pada hubungan pribadi dengan Tuhan serta pengenalan akan kehendak-Nya yang dinyatakan melalui tokoh-tokoh Alkitab. Selama proses kegiatan, terlihat bahwa para peserta bukan hanya menerima pengetahuan secara teoritis, tetapi juga mengalami transformasi cara pandang terhadap jati diri mereka sebagai generasi muda yang memiliki tanggung jawab, bukan hanya di masa depan, tetapi juga dalam kehidupan saat ini. Mereka mulai menyadari bahwa menjadi remaja bukan berarti hanya menjadi pengikut, tetapi juga memiliki kapasitas untuk menjadi pemimpin yang mengarahkan, memberi teladan, dan membawa pengaruh positif di lingkungan sekitar. Kesadaran ini muncul dari pemahaman bahwa manusia diciptakan dengan tujuan dan tanggung jawab yang besar, dan bahwa masa muda bukanlah penghalang untuk menjadi alat Tuhan yang dipakai dalam pekerjaan-Nya. Lebih dari sekadar memahami konsep kepemimpinan, remaja juga diajak untuk menghidupi nilainilai yang terkandung di dalamnya. Kisah tokoh-tokoh seperti Daud. Yusuf. Musa. Ester, dan Timotius tidak hanya dibaca dan dibahas, tetapi diresapi untuk diteladani. Para remaja mulai berkomitmen untuk menjadi pribadi yang setia, memiliki kasih, berani mengambil keputusan yang benar, serta menjadi berkat dan teladan bagi orang lain. Ini terbukti dari hasil kegiatan, di mana sebagian dari mereka mengambil keputusan untuk menjadi pendoa, menjadi teladan dalam perilaku, dan menjadi pribadi yang siap menolong sesama. Kegiatan ini juga membuktikan bahwa pembinaan rohani yang dilakukan secara konsisten, personal, dan terarah dapat menumbuhkan sikap bertanggung jawab dan visi pelayanan di dalam diri remaja. Bahkan dalam kondisi terbatas seperti kurangnya tenaga pembina dan situasi sosial yang menantang, proses ini tetap bisa berjalan efektif karena menyentuh aspek terdalam dalam kehidupan iman mereka. Ketika iman bertumbuh, maka karakter dan tindakan pun ikut berubah. Akhirnya, kegiatan ini memberikan gambaran bahwa pembinaan rohani bukan hanya penting, tetapi juga mendesak dilakukan di kalangan remaja Diperlukan perhatian dan keterlibatan aktif dari para pemimpin, pembina, dan gereja secara 159 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga keseluruhan untuk terus menanamkan nilai-nilai kebenaran yang bersumber dari firman Tuhan. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya memiliki pengetahuan yang benar, tetapi juga kesadaran akan jati dirinya serta nilai-nilai hidup yang membentuk mereka menjadi pemimpin yang takut akan Tuhan dan berguna bagi sesama. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada gembala Pendeta Robert Willem Bobby Talubun, yang telah memberikan kesempatan dan bantuan dalam terselenggaranya kegiatan PKM yang dilaksanakan di gereja GBI Betesda Wamena. DAFTAR PUSTAKA