I Made Gde Rahadian Adi Manahcika. I Gusti Ngurah Seramasara. Ni Wayan Suratni. DiterimaPada Pada Diterima 101Februari Mei 20212022 DisetujuiPada Pada Disetujui 33 Maret Mei 2021 Vol. No. 1, 2022 E-ISSN : P-ISSN Halaman E-ISSN : KARAKTERISTIK DRAMATARI WAYANG WONG DI BANJAR PUJUNG KAJA. DESA SEBATU. KECAMATAN TEGALLALANG. KABUPATEN GIANYAR I Made Gde Rahadian Adi Manahcika1. I Gusti Ngurah Seramasara 2. Ni Wayan Suratni3 1,2,3Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan. Fakultas Seni Pertunjukan. Institut Seni Indonesia Denpasar deaing1233@gmail. E-ISSN : P-ISSN : Abstrak Wayang wong merupakan warisan terpenting dari zaman Bali klasik yakni jenis tari yang telah memiliki normanorma serta pembakuan sikap dan gerak, mempunyai nilai artistik yang cukup tinggi, dan penggarapannya ditata secara lebih rumit. Banjar Pujung Kaja. Desa Sebatu. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten Gianyar merupakan tempat pelaksanaan penelitian dan juga merupakan tempat berkembangnya kesenian klasik yaitu dramatari Wayang Wong, yang merupakan upaya pelestarian kesenian klasik dan sakral. Tujuan penelitian ini tiada lain untuk mengetahui karakteristik yang dimiliki dari kesenian dramatari Wayang Wong yang menjadi ciri khas tersendiri dan merupakan perbedaan dari Wayang Wong di daerah lainnya khususnya di Bali. Proses penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pokok pembahasan antara lain, yaitu karakteristik dramatari Wayang Wong. Metode dan teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode observasi, wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan. Proses analisis data menggunakan analisis kualitatif, dimana hasil dari analisis data disajikan dalam bentuk penyajian informal yang merupakan penyajian analisis dengan cara Sumber data dalam proses penelitian ini diperoleh dari sumber data primer dan data sekunder. Wayang Wong yang ada di Banjar Pujung Kaja. Desa Sebatu. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten Gianyar ini memiliki keunikan dan ciri khas dari penamaan ragam gerak, tata busana, tata iringan, struktur pementasan, tata bahasa yang digunakan dan fungsinya. Hal itu yang menjadi keunikan dari dramatari Wayang Wong yang ada di Banjar Pujung Kaja. Desa Sebatu. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten Gianyar. Kata Kunci: Dramatari Wayang Wong. Karakteristik PENDAHULUAN Bali mempunyai berbagai budaya yang sangat amat menarik untuk dikaji dan diteliti, mulai dari kepercayaan, adatistiadat, peribadatannya, objek pariwisata, hingga Popularitas budaya di Bali sudah dikenal secara Nasional maupun Internasional. Dalam tradisi masyarakat Bali, kehadiran tari sangatlah berkaitan erat dengan upacara Minat masyarakat dalam berbagai cabang seni budaya di Bali terwadahi dalam organisasi masyarakat yang disebut dengan Sekaa (Artati dkk, 2007: 1-. Klasifikasi tari Bali berdasarkan koreografi dibagi menjadi tiga. Tari tradisional, yaitu tari yang telah berkembang secara turuntemurun yang merupakan warisan dari nenek moyang dan bertumpu pada pola-pola tradisi yang ada. Tari kreasi baru, yaitu jenis tari-tarian yang tidak mengikuti aturanaturan menginginkan suatu kebebasan yang dalam I Made Gde Rahadian Adi Manahcika. I Gusti Ngurah Seramasara. Ni Wayan Suratni. pengungkapannya untuk menunjukkan bentuk-bentuk yang baru. Ketiga adalah tari klasik, yakni jenis tari yang telah memiliki norma-norma serta pembakuan sikap dan gerak, mempunyai nilai artistik yang cukup tinggi dan penggarapannya ditata secara lebih rumit . Yang termasuk ke dalam tari klasik ini merupakan tari gambuh, topeng, arja, wayang wong, dan legong kraton yang penataannya pada umumnya ditangani oleh ahli-ahli tari dari kalangan istana/puri, terutama pada zaman kerajaan. Keberadaan dramatari Wayang Wong di Bali merupakan babak baru bagi perkembangan seni pertunjukan dekada akhir zaman Bali Kuna hingga mencapai masa keemasan pada saat zaman Bali Klasik, ketika tapuk pemerintahan Raja Bali dipegang oleh Sri Dalem Waturenggong yang beristana di Gelgel. Klungkung. Pada umumnya di daerah Bali. Wayang Wong Ramayana sumber lakonnya dari epos Ramayana, sedangkan Wayang Wong Parwa bersumber dari lakon epos Mahabaratha. Secara umum perkembangan dramatari Wayang Wong ini muncul pada desa-desa di Bali, yang dapat kita jumpai antara lain di daerah Bali Utara seperti di Desa Tejakula dan di Desa Anturan Kabupaten Buleleng. Sementara itu, di Bali Barat dan Selatan berkembang antara lain di Desa Tunjuk. Kabupaten Tabanan, di Kelurahan Tonja Denpasar, serta di Desa Tanjung Benoa. Kabupaten Badung. Kemudian di daerah Bali Timur di Desa Ban. Kabupaten Karangasem, serta di daerah Bali pertengahan yaitu di Desa Mas. Kecamatan Ubud. Kabupaten Gianyar. Selain yang tersebut di atas. Wayang Wong juga terdapat di daerah Bali pertengahan khususnya di Banjar Pujung Kaja. Desa Sebatu. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten Gianyar. Perkembangan dramatari Wayang Wong di Banjar Pujung Kaja ini sudah berlangsung sejak tahun 1920-an secara turun-temurun dan selalu dipentaskan di setiap ada Upacara besar maupun kecil. Fungsi dari dramatari Wayang Wong itu sendiri tiada lain sebagai bagian dari Upacara yadnya. Berbicara tentang sejarah asal mula perkembangan Wayang Wong di Banjar Pujung Kaja. Desa Sebatu. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten Gianyar merupakan kelanjutan dari proses kehidupan Wayang Wong yang ada sejak semula di Bali. Mengingat langkanya data kongkrit yang memuat Wayang Wong di Banjar Pujung Kaja. Des Sebatu. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten Gianyar. Karena kehidupan sastra masa lampau adalah tradisi lisan, yaitu berdasarkan mulut kemulut. Akan tetapi berdasarkan bunyi lontar AuPekawit Pande Tegal Sucine Magenah ring Desa SeronggaAy dalam bahasa Bali dan aksara bali. Disana perkembangan Wayang Wong di Banjar Pujung Kaja. Desa Sebatu. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten Gianyar, berawal dari penemuan tiga buah tapel . yakni tapel Hanoman. Twalen, dan Merdah. Penemuan tiga tapel . tersebut bersamaan dengan ditemukannya sebuah keris lengkap dengan sarungnya, dan pretima emas beralaskan kain kasa berselimutkan kain poleng tepat di luar pemerajan Tegallalang. Atas petunjuk Ida Cokorda di pemerajan Tegallalang tersebut akhirnya ke tiga tapel tersebut di bawa ke Banjar Pujung Kaja dan disungsung di Pura Bale Bang sedangkan kerisnya di sungsung di Pedunungan Pande. Menurut I Ketut Mitja (Al. yang dituangkan ke dalam sebuah catatan dinyatakan bahwa. Wayang Wong sudah ada di Banjar Pujung Kaja kurang lebih sejak tahun 1920-an. Pada saat itu Wayang Wong dipentaskan oleh orang-orang yang mau dan memang memiliki kemampuan khususnya pada bidang seni tari. Kemudian sekitar tahun 1970-an mulai ditata dan dibuatkan sebuah sekaa untuk menarikan sesuhunan Wayang Wong. Oleh ketua atau penglingsir terdahulu diberitakan. I Made Gde Rahadian Adi Manahcika. I Gusti Ngurah Seramasara. Ni Wayan Suratni. bahwa di Banjar Pujung Kaja tepatnya di Pura Bale Bang di sung-sung sesuhunan yang berupa topeng . pewayangan, seperti tokoh Rahwana. Hanoman, dll. Sesuhunan tersebut medal mesolah atau ditarikan oleh krama, pada saat piodalan atau Upacara besar di wilayah Banjar Pujung Kaja. Desa Sebatu. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten Gianyar. Adapun gambelan yang mengiringinya adalah gambelan gender wayang yang terdiri dari, 4 buah gender, 2 kendang kekrumpungan lanang dan wadon, 1 kecek, 1 kempur, 1 tawa-tawa, 1 buah kerenteng, 1 klenang, 1 klentong, dan 2 jublag. Cerita yang dibawakan dalam pementasannya yaitu, cerita Ramayana. Dalam bentuk pelestarian dramatari Wayang Wong ini, maka dibentuklah organisasi sekaa yang khusus mempelajari tarian sakral ini, terlebih bahasa yang digunakan adalah bahasa kawi atau jawa kuno. Oleh karena selalu dipentaskan di setiap piodalan, maka sangat perlu untuk dibuatkan kelompok atau sekaa yang khusus untuk mempelajari tarian Wayang Wong ini. Maka dari itu dibuatlah sebuah sekaa yang anggotanya terdiri dari krama, yang diberi nama Dewa Kosala Raqta. Dengan demikian, dilengkapi pula topeng yang ada di pura tersebut dengan membuat atau nangiang topeng . sesuhunan yang baru sesuai karakter pewayangan dalam cerita Ramayana serta sebagai pelengkap topeng yang sudah ada, sehingga jalan ceritanya bisa bertambah luas. Tentu saja hal tersebut diawali dengan matur piuning atau memohon ijin di Pura setempat. Sebelum Wayang Wong dipentaskan selalu di awali dengan menghaturkan banten penguntap. Begitupun setelahnya, maka dihaturkan banten penyineb. Keunikan dari Wayang Wong ini adalah salah satunya dapat dilihat dari ragam gerak, tata busana, iringan, tata bahasa sehingga memiliki identitas atau gaya tersendiri yang dapat dibedakan dengan gaya-gaya Wayang Wong lainnya di daerah Bali. Perbedaan lainnya dapat pula kita simak melalui vokal setiap peran yang ditampilkan, serta elemen tata rias busananya. Hal ini yang menjadi ciri khas karakteristik dari Dramatari Wayang Wong di Banjar Pujung Kaja. Desa Sebatu. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten Gianyar. Terkait dengan fungsi pementasan wayang wong sebagai bentuk pelestarian Budaya Bali di Banjar Pujung Kaja. Desa Sebatu. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten Gianyar merupakan salah satu wahana untuk memupuk dan membina rasa persaudaran dan persatuan masyarakat. Pementasan Wayang Wong membangun keharmonisan manusia dengan Tuhan melalui jalan Bhakti, dengan sesama manusia (Puni. , dan manusia dengan lingkungan (Asi. Disamping nilai magis religius yang kita peroleh dari pertunjukkan Wayang Wong, kita dapat melihat sebagai media komunikasi dan pendidikan. Berdasarkan uraian diatas mengenai keunikan dan ciri khas yang dimiliki dari Wayang Wong di Banjar Pujung Kaja. Desa Sebatu. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten Gianyar, memngangkat Dramatari Wayang Wong dimana keunikan yang dimiliki dari style ataupun gaya, bentuk topeng, karakteristik, serta gerak dari setiap karakter yang berbeda. METODE Metode penelitian kualitatif merupakan langkah yang digunakan oleh peneliti untuk dapat mengumpulkan isnformasi data serta melakukan investigasi pada data yang telah dikumpulkan guna proses penelitian. Metode penelitian ini dapat memberikan gambaran sebuah rancangan penelitian yang meliputi: langkah-langkah yang akan ditempuh, waktu penelitian, sumber data, yang kemudian akan diolah dan di analisis. I Made Gde Rahadian Adi Manahcika. I Gusti Ngurah Seramasara. Ni Wayan Suratni. Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif ini adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial secara fundamental tergantung pada pengamatan manusia dan kawasannya sendiri berhubungan dengan orang-orang dalam bahasanya dan dalam peristilahannya (Moleong, 2001:. Teknik merupakan langkah-langkah yang sangat strategis dalam proses penelitian, karena tujuan yang utama dari proses penelitian ialah data. (Sugiyono, 2013: . Dalam langkah-langkah berikut, yaitu observasi, wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan. Setelah melaksanakan pengumpulan data dengan langkah-langkah selanjutnya pengumpulan data tersebut dilanjutkan dengan pengumpulan data triangulasi yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data, sehingga data menjadi falid. Dengan demikian data-data yang diperolah di lapangan dapat dipertanggung jawabkan berdasarkan berbagai teknik pengumpulan data yang dilakukan di lapangan. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Dramatari Wayang Wong di Banjar Pujung Kaja. Desa Sebatu. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten Gianyar Kata karakteristik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merupakan sifat khas sesuai dengan perwatakan tertentu. Mengacu karakteristik merupakan ciri khas sesuai dengan karakter masing-masing yang khususnya pada seni dramatari Wayang Wong. Wayang Wong di Bali memiliki karakteristik atau ciri khas masing-masing tergantung pada interpretasi, persepsi, penyajian dari masing-masing seniman atau penarinya dan tergantung dari daerah masing-masing serta dari pandangan setiap seniman yang berbeda. Karakteristik dramatari Wayang Wong yang ada di Banjar Pujung Kaja. Desa Sebatu. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten Gianyar berbeda dengan Wayang Wong di daerah Perbedaan tersebut terletak pada penamaan ragam gerak tariannya, tata busana dan tata iringannya. Dalam instrument iringan, selain gender wayang yang digunakan dalam instrument gambelan yang mengiringi, juga berisi instrument jublag dalam tata iringan dari dramatari Wayang Wong di Banjar Pujung Kaja. Desa Sebatu. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten Gianyar. Tentunya dari pemaparan tersebut menjadi ciri khas yang paling menonjol yang menjadi gaya dari dramatari Wayang Wong di Banjar Pujung Kaja. Desa Sebatu. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten Gianyar. Pada dasarnya gerakan baik Agem dari masing-masing tokoh dalam dramatari Wayang Wong pengimplementasiannya berasal dari Wayang Kulit, sehingga disebut dengan gerakan dua dimensi. Hanya saja menjadikan sebuah ciri khas dari masingmasing daerah. (Pande Made Rahajeng. Sn. wawancara 29 November 2. Ragam Gerak Dramatari Wayang Wong di Banjar Pujung Kaja. Desa Sebatu Kecamatan Tegallalang Kabupaten Gianyar Sugriwa Gerak tari Sugriwa, hampir sama dengan gerakan dari pasukan kera lainnya. Akan tetapi untuk tokoh yang agak tua seperti Sugriwa kebanyakan menggunakan gerakan tari yang lebih soft dikarenakan disesuaikan dengan karakter tokoh Sugriwa, sehingga I Made Gde Rahadian Adi Manahcika. I Gusti Ngurah Seramasara. Ni Wayan Suratni. cocok untuk tokoh yang usianya tua. Dari uraian di atas, penulis juga akan menguraikan beberapa gerakan yang ada pada tarian dari tokoh Sugriwa, sebagai Agem Sugriwa: Agem merupakan sikap atau cara pokok berdiri dalam tari Bali. Pada tokoh Sugriwa tentunya mempunyai agem sesuai dengan karakternya sendiri. Gerakan Nyengkodot: Nyengkodot merupakan gerakan tangan yang selaras pada saat ngupak lantang. Gerakan Ngoyod: Ngoyod merupakan gerakan badan yang dicondongkan ke kanan dan kiri. Gerakan Nayog: Nayog merupakan gerakan tangan pada saat malpal atau Gerakan Igul Ugat: Igul Ugat merupakan gerakan pinggul yang selaras pada saat ngupak lantang. Gerakan Ngeplikan Lumbing: Ngeplikan Lumbing gerakan kepala untuk menggetarkan Sekar Taji pada topeng saat ngupak lantang Sugriwa. Gerakan Ungkur Udus: Ungkur Udus merupakan gerakan lanjutan dari ngupak lantang. Gerakan Mirig Arum: Mirig Arum merupakan gerakan angsel yang pelaksanaannya mempercepat tempo gerak serta memberi perubahan dinamika pada musik. Hanoman Gerak tari Hanoman cenderung lebih menggunakan gerakan nayog dan nyeregseg. Gerakan nyeregseg yaitu kaki kanan dan kaki kiri digetarkan sambil berjalan. Sedangkan gerakan nayog adalah memainkan gerakan pantat kesamping kanan dan kiri dengan posisi tetap dalam keadaan ngagem. Gerakan tersebut disesuaikan dengan karakter dari tokoh Hanoman itu sendiri yang gerakannya lincah dan enerjik. Berikut uraian dari beberapa gerakan yang terdapat pada tokoh Hanoman: Agem Hanoman: Agem merupakan sikap atau cara pokok berdiri dalam tari Bali. Pada tokoh Hanoman tentunya mempunyai agem sesuai dengan karakternya sendiri. Gerakan Mekecos: Mekecos merupakan gerakan melompat diawali dengan gerakan melayang, yang menunjukan karakter enerjik dari Hanoman. Gerakan Tetikes Wayang: Tetikes Wayang merupakan implementasi dari gerakan Wayang Kulit yang dipadukan kedalam gerakan Wayang Wong. Dimana gerakan tersebut merupakan gerakan tangan sesuai dengan karakter dari Hanoman. Gerakan Malpal Slimpet: Malpal Slimpet merupakan gerakan kaki berjalan dengan kaki kanan dan kiri di silangkan ke arah depan. Gerakan Namplak Muring: Namplak Muring merupakan gerakan yang menyerupai gerakan menangkis lalat. Gerakan Nyagrep: Nyagrep merupakan gerakan angsel dari tokoh Hanoman yang diawali dengan gerakan malpal atau pejalan. Gerakan Ngeplikan Lumbing: Ngeplikan Lumbing gerakan kepala untuk menggetarkan Sekar Taji pada topeng. Gerakan Ngupak Lantang: Ngupak Lantang merupakan gerakan sebagai tanda berakhir dalam tari Bali (Ngeraje. Anggada Gerak tari pada tokoh Anggada sama dengan gerakan dari Hanoman, yaitu menggunakan gerakan nayog. Gerakan nayog adalah memainkan gerakan pantat kesamping kanan dan kiri dengan posisi tetap dalam keadaan ngagem. Selain gerakan nayog terdapat satu gerakan yang menjadi ciri khas I Made Gde Rahadian Adi Manahcika. I Gusti Ngurah Seramasara. Ni Wayan Suratni. dari tokoh Anggada, yaitu pada saat gerakan ngupak lantang. Gerakan tersebut disesuaikan dengan karakter dari tokoh itu sendiri yang gerakannya lincah dan enerjik. Berikut uraian dari gerakan dari tokoh Anggada: Agem Anggada: Agem merupakan sikap atau cara pokok berdiri dalam tari Bali. Pada tokoh Anggada tentunya mempunyai agem sesuai dengan karakternya sendiri. Gerakan Ngoyod: Ngoyod merupakan gerakan badan yang dicondongkan ke kanan dan kiri. Gerakan Ngupak Lantang: Ngupak Lantang merupakan gerakan sebagai tanda berakhir dalam tari Bali (Ngeraje. Gerakan Nayog: Nayog merupakan gerakan tangan pada saat malpal atau Gerakan Ngugat: Ngugat berasal dari kata uga, menjadi nguga, yang artinya di leher. Bentuk gerakannya seperti menganggukkan Sumber energinya berada di leher. Nila Gerak tari dari tokoh Nila juga sama dengan gerakan dari Hanoman dan Anggada, yaitu menggunakan gerakan nayog. Gerakan nayog adalah memainkan gerakan pantat kesamping kanan dan kiri dengan posisi tetap dalam keadaan ngagem. Gerakan dari tokoh Nila hamper sama dengan Anggada, akan tetapi terdapat gerakan yang khas, yaitu gerakan kaki yang mengikuti tempo dari gambelan dan lebih cenderung kecas-kecos. Gerakan tersebut juga disesuaikan dengan karakter dari tokoh itu sendiri yang gerakannya lincah dan enerjik. Berikut uraian gerak dari tokoh Nila: Agem Nila: Agem merupakan sikap atau cara pokok berdiri dalam tari Bali. Pada tokoh Nila tentunya mempunyai agem sesuai dengan karakternya sendiri. Gerakan Nayog: Nayog merupakan gerakan tangan pada saat malpal atau Gerakan Ngugat: Ngugat berasal dari kata uga, menjadi nguga, yang artinya di leher. Bentuk gerakannya Sumber energinya di leher. Gerakan Ngupak Lantang: Ngupak Lantang merupakan gerakan sebagai tanda berakhir dalam tari Bali (Ngeraje. Sempati Gerak tari Sempati adalah memainkan kaki mengikuti gerakan seekor harimau yaitu kaki kanan diangkat terus silih berganti kaki kiri, posisi tangan ngagem. Jika kaki kanan di angkat maka tangan kiri lurus ke samping dan tangan kanan ditekuk berada di samping dada, begitu pula sebaliknya jika kaki kiri diangkat maka tangan kanan lurus ke samping dan tangan kiri ditekuk berada di samping dada sebelah kiri, demikian seterusnya silih berganti. Berikut uraian gerak Sempati: Agem Sempati: Agem merupakan sikap atau cara pokok berdiri dalam tari Bali. Pada tokoh Sempati tentunya mempunyai agem sesuai dengan karakternya sendiri. Gerakan Nyelieb: Nyelieb merupakan gerakan berjalan dari karakter tokoh Sempati yang menyerupai gerakan Gerakan Angsel Sempati: Angsel Sempati merupakan gerakan yang pelaksanaannya untuk mempercepat perubahan dinamika pada musik. Gerakan Ngekes: Ngekes merupakan gerakan ngupak lantang dari karakter tokoh Sempati. Twalen Gerak tari dari punakawan atau tokoh Twalen biasanya menggunakan gerakan yang menyesuaiakan dengan karakter dari I Made Gde Rahadian Adi Manahcika. I Gusti Ngurah Seramasara. Ni Wayan Suratni. tokoh tersebut. Tokoh Twalen biasanya posisi kedua tangan berada di depan dada dengan jari-jari tangan dikepalkan. Berikut uraian dari gerakan tokoh Twalen: Agem Twalen: Agem merupakan sikap atau cara pokok berdiri dalam tari Bali. Pada tokoh Twalen tentunya mempunyai agem sesuai dengan karakternya sendiri. Gerakan Galang Giling: Gerakan Galang Giling artinya gerak yang silih alternasi/selang Dalam gerakan ini di sertai sesendonan silih berganti antara Twalen dan Merdah. Merdah/Wredah Gerak tari dari tokoh Mredah hampir sama dengan Twalen, dimana posisi kedua tangan juga berada di depan dada agak dekat dengan pinggang serta jari-jari tangan Akan tetapi yang membedakan dari gerak Twalen dengan Mredah hanyalah pada gerakan kaki, yang mana Mredah gerakannya lebih ngerenjit. Berikut uraian dari gerakan Mredah: Agem Merdah: Agem merupakan sikap atau cara pokok berdiri dalam tari Bali. Pada tokoh Mredah tentunya mempunyai agem sesuai dengan karakternya sendiri. Gerakan Ngerenjit: Ngerenjit merupakan gerakan berjalan yang enerjik dari karakter tokoh Mredah. Gerakan Galang Giling: Gerakan Galang Giling artinya gerak yang silih alternasi/selang Dalam gerakan ini di sertai sesendonan silih berganti antara Twalen dan Merdah. Rahwana Gerak tari dari Rahwana adalah kebanyakan posisi tangannya menyentuh kepala dan Jika tangan kanan naik ketas menyentuh kepala maka tangan kiri menyentuh dada, silih berganti. Kemudian jika berjalan memakai agem kanan dan kiri seperti ngagem raksasa, dengan jari-jari tangan terbuka. Berikut uraian gerak dari tokoh Rahwana: Agem Rahwana: Agem merupakan sikap atau cara pokok berdiri dalam tari Bali. Pada tokoh Rahwana tentunya mempunyai agem sesuai dengan karakternya sendiri. Gerakan Singa Keprabon: Singa Keprabon merupakan gerakan dimana Raja Kewibawaannya. Gerakan Gandang Mayat: Gandang mayat merupakan gerakan yang sejenis buta nawa sari, atau ngeraja singa, untuk menandakan kebesaran dan kewibawaan seorang raja. Hanya ditarikan oleh tokoh raja,seperti Rawana. Kumbakarna. Subali. Sugriwa. Gerakan Nyengkodot: Nyengkodot merupakan gerakan tangan yang selaras pada saat ngupak lantang. Gerakan Gulu Wangsul: Gulu Wangsul merupakan gerakan leher atau ngilegan baong. Gerakan Gedebegan: Gedebegan merupakan gerakan angsel atau gerakan kaki dari karakter tokoh Rahwana. Delem Gerak tari dari tokoh Delem sama halnya dengan tokoh Twalen, yang mana gerakannya menyesuaikan dengan karakter dari tokoh tersebut. Dimana agem dari tokoh Delem posisi tangan dibuka dengan jari-jari kedua tangan di buka. Berikut uraian gerak dari tokoh Delem: Agem Delem: Agem merupakan sikap atau cara pokok berdiri dalam tari Bali. Pada tokoh Delem tentunya mempunyai agem sesuai dengan karakternya sendiri. Gerakan Ngepes: Ngepes merupakan gerakan tangan pada saat berjalan I Made Gde Rahadian Adi Manahcika. I Gusti Ngurah Seramasara. Ni Wayan Suratni. sama halnya dengan gerakan nayog. Gerakan Ngupak Lantang: Ngupak Lantang berakhirnya suatu tarian pada tari Bali . Sangut Gerak tari dari tokoh Sangut cenderung lebih lemah dari gerakan Delem. Dimana posisi kedua tangan berada dibawah bergelayutan yang sedikit ditekuk, dengan jari tengah dan telunjuk diluruskan. Berikut uraian gerak dari tokoh Sangut: Agem Sangut: Agem merupakan sikap atau cara pokok berdiri dalam tari Bali. Pada tokoh Sangut tentunya mempunyai agem sesuai dengan karakternya sendiri. Gerakan Metayungan: Metayungan merupakan gerakan tangan yang digelayutkan pada saat berjalan. Gerakan Ngupak Lantang: Ngupak Lantang berakhirnya suatu tarian pada tari Bali . Tata Busana Dramatari Wayang Wong di Banjar Pujung Kaja. Desa Sebatu. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten Gianyar Busana atribut dalam Dramatari Wayang Wong merupakan unsur kelengkapan yang sangat penting untuk mempertegas karakter ataupun identitas, disamping sebagai tujuan ekspresi dan artistik. Setiap tokoh dalam Wayang Wong memiliki busana yang Masing-masing busana dan atribut tokoh dalam Wayang Wong di Banjar Pujung Kaja. Desa Sebatu. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten Gianyar seperti berikut ini: Sugriwa Tokoh ini memakai gelung . Sedangkan bentuk topeng, mirip dengan Hanoman hanya ukuran topengnya lebih besar dari topeng Hanoman dan dominan berwarna merah darah atau merah tua, baik topeng, baju dan celana. Karakter Sugriwa ini bermakna sebagai pemimpin yang baik, bersifat riang gembira, berani, menggelorakan jiwa. Hanoman Tokoh ini memakai gelung . AuSenupit UrangAy atau AuSepit UrangAy. Topengnya berbentuk seekor kera, matanya bulat . , mulutnya terbuka lebar, gigi berhadapan serta taring atas kelihatan, warnanya dominan putih dilengkapi dengan Sekartaji . mempunyai ekor yang Karakter Hanoman ini menggambarkan seorang abdi Sang Rama yang tangkas, cerdik, berani, jujur dan disiplin. Anggada Tokoh ini merupakan anak dari Raja Subali dengan Dewi Tara. Kemudian dari segi gelung, bentuk topeng dan tata busananya hampir mirip dengan Nila. Dan warna yang dominan yaitu merah darah baik warna topeng baju dan celananya. Karakternya ini bermakna tokoh yang keras, pelindung. Dan dilihat dari segi warna sifatnya mirip dengan Sugriwa dan Subali. Nila Merupakan tokoh mentri Raja Sugriwa memakai gelung . sepit urang kemudian bentuk topengya dan tata busananya juga mirip dengan Hanoman dan warnanya dominan biru baik baju, topeng. Karakter Nila ini bermakna seorang mentri sekaligus arsitek jembatan Situbanda yang berwatak dingin, tenang, berani dan Sempati Tokoh ini merupakan sahabat Raja Sugriwa. Memakai gelung AukekendonAy dan topengnya I Made Gde Rahadian Adi Manahcika. I Gusti Ngurah Seramasara. Ni Wayan Suratni. dominan orange . mirip bulu harimau serta memakai ekor yang menyatu dengan Tata busananya hampir sama dengan tokoh Hanoman hanya dengan warna baju dan celananya berwarna coklat Tokoh ini berkarakter sama dengan pasukan kera yang lain. Yakni pemberani dan berpegang teguh terhadap dharma. Twalen Twalen merupakan abdi dari Sang Rama ataupun para wenara . Bentuk topeng matanya kupit, hidungnya kecil, pipinya agak gemuk, mulutnya menyerupai kera hanya tidak terlalu menganga, memakai pecuntil tampak hanya sebuah gigi pada rahang atas kiri dan kanan lengkap dengan Sekartaji, memakai kumis serta janggut. Warnanya dominan hijau tua dan memakai Tata busananya memakai badong, baju lengan panjang tanpa gelang warna hitam, pasangan awiran, sebuah tanggun bulet, saput, kamen namun tidak memakai kancut, celana panjang hitam tanpa stewel. Karakter Twalen ini sebagai orang tua yang arif, sebagai kekerabatan dengan Wredah. Merdah/Wredah Tokoh ini juga merupakan abdi dari Sang Rama dan para wenara . Bentuk topeng matanya kupit, hidungnya agak menonjol ke depan, mulutnya menyerupai mulut manusia dan bisa digerakan atas bawah sedikit menganga, gigi rahang atas kiri kanan tampak kelihatan dan memakai kumis serta janggut lengkap dengan Sekartajinya. Pantat dan perutnya agak besar dan bentuk tabuhnya pendek. Warna dominan coklat kemerahan dan memakai gelung kekunciran hampir sama dengan Twalen. Tata busananya hampir sama dengan Twalen hanya bajunya lengan pendek berwarna poleng kecil. Karakter Wredah ini bermakna seorang yang arif dan bijaksana dan merupakan anak Twalen yang penurut pada Dilihat dari segi warna tokoh ini berkepribadian kokoh, stabil, dan kuat imannya juga riang gembira, berani dan Rahwana Tokoh ini memakai gelung . Prabu yang disebut "Candi Kurung Agung". Bentuk topengnya menyerupai raksasa matanya bulat . , mulut yang bibir atasnya terbuka tampak gigi atas beserta kedua taringnya, warnanya dominan coklat Sekartajinya. Tata busananya memakai bapang atau badong, saput, kamen kancut, sepasangan awiran, sebuah tanggun bulet, baju seperti setengah jaket berwarna hitam lengkap dengan gelangnya, sabuk pending, celana panjang warna putih polos, sepasang stewel di pergelangan kaki dan keris Karakter Rahwana menggambarkan Raja yang kasar, berpihak pada Adharma, pemberani, suka dengan istri orang dan pengecut. (Drs I G B N Pandji, dkk, 1986/1987: . Delem Tokoh ini merupakan abdi dari Rahwana atau Adharma. Memakai gelung . rucut bula. dan berisi rambut yang sedikit terurai ke belakang. Bentuk hidungnya kecil, mulutnya menyerupai Twalen hanya pipinya tidak terlihat gemuk. Memakai janggut dan kumis lengkap dengan Warna yang dominan merah Tata busananya hampir sama dengan Rahwana hanya pada badongnya ditambahkan sebuah gondokan dan celana panjangnya berwarna merah kecoklatan tanpa setewel serta pantat dan perutnya agak Karakternya adalah seorang tokoh yang sombong, congkak, durhaka, masa bodoh, enerjik. I Made Gde Rahadian Adi Manahcika. I Gusti Ngurah Seramasara. Ni Wayan Suratni. Sangut Tokoh ini juga merupakan abdi dari Rahwana atau Adharma serta sahabat dari Delem. Memakai gelung yang sama dengan Delem hanya prucut dan rambutnya lebih Bentuk topengnya matanya agak sipit, hidungnya kecil, mulutnya agak menonjol ke depan dan sedikit menganga, gigi rahang atas terlihat baik kiri dan Memakai janggut dan kumis lengkap dengan Sekartajinya. Warna yang dominan kuning kemerahan. Tata busananya hampir mirip dengan Delem hanya badongnya yang tidak berisi gondokan dan ukuran badongnya lebih kecil. Bentuk pantat dan perutnya juga agak besar dan menonjol. Karakter tokoh ini penggambaran seorang yang licik, pintar dan suka mencari aman. Struktur Dramatari Wayang Wong di Banjar Pujung Kaja. Desa Sebatu. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten Gianyar Struktur dalam kesenian Wayang Wong, menjelaskan bahwa struktur itu adalah susunan dari beberapa tahapan-tahapan baik berdasarkan cerita ataupun musik iringan yang digunakan. Berdasarkan berbagai macam bentuk-bentuk tarian yang ada, baik itu yang berbentuk tunggal, duet, trio, massal maupun dramatari lainnya. Struktur Dramatari Wayang Wong Talepud. Banjar Pujung Kaja. Desa Sebatu. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten Gianyar, pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan pementasan Wayang Wong lainnya. Begitu pula tidak jauh berbeda dengan pementasan tarian yang berlakon pada umumnya. Secara baku struktur Wayang Wong di Banjar Pujung Kaja diawali dengan struktur sebagai Dayang-dayang, pembukaan oleh 2 orang atau lebih, yang ditarikan oleh perempuan Condong, yaitu pengelembar dari dayangnya tokoh Dewi Sitha Ngelembar Sitha, yaitu Dewi Sitha ngelembar diiringi oleh dayangnya Punakawan Twlen dan Mredah, yaitu Punakawan dengan diisi dengan nyanyian-nyanyian (Galang Gilin. Pengalang Bebaturan, yaitu tokoh Rama ngelembar (Senduk Smit. dan yang terakhir. Cerita Pewayangan, yaitu cerita yang akan dibawakan dalam pementasan dramatari Wayang Wong. Dari struktur secara baku tersebut, kemudian pementasan Wayang Wong pada saat ini mulai disesuaikan dengan kebutuhan dalam Maka struktur yang sering digunakan sekarang menyesuaikan cerita yang akan dibawakan. Berikut struktur dari pementasan dramatari Wayang Wong: Ngelembar Punakawan (Protagoni. Ngelembar Pararatu (Protagoni. Penangkilan (Protagoni. Pengelembar Punakawan (Antagoni. Pengelembar Pararatu (Antagoni. Penangkilan (Antagoni. Penyerita (Protagonis dan Antagoni. Siat (Klimaks/Konfli. Tata Iringan Dramatari Wayang Wong di Banjar Pujung Kaja Tata iringan adalah elemen pendukung atau pelengkap dalam sebuah tari. Umumnya yang menjadi elemen pendukung atau pelengkap dari sebuah tarian adalah music atau gamelan. Sebagai pengiring sebuah tarian, music atau gamelan bisa berfungsi sebagai pengatur tempo atau keserampakan . ila berkelompo. Dengan kata lain, musik atau gamelan pengiring tersebut menjadi pengendali keselarasan sebuah komposisi Selain itu, musik atau gamelan pengiring juga berfungsi sebagai penambah nilai estetik tari dan penyemarak. Gamelan yang digunakan untuk mengiringi pementasan Wayang Wong di Banjar Pujung I Made Gde Rahadian Adi Manahcika. I Gusti Ngurah Seramasara. Ni Wayan Suratni. Kaja. Desa Sebatu. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten Gianyar menggunakan gending-gending tandak bebatelan yaitu terdiri dari: 4 buah gender, 2 jublag, 2 buah kendang kerumpungan, 1 perangkat kecek, 1 buah kempur, 1 buah kenong, 1 buah Klenang, 1 buah tawa-tawa dan 1 buah kerenteng. Dalam setiap Wayang Wong, perangkat gamelan diatas selalu digunakan sehingga pementasan Wayang Wong nampaknya semakin meriah. Tentunya pada pementasan Wayang Wong diawali dengan gending petegak Seketi Versi Banjar Pujung Kaja. Tata Bahasa Dramatari Wayang Wong di Banjar Pujung Kaja Tata Bahasa yang biasa digunakan dalam pementasan dramatari Wayang Wong di Banjar Pujung Kaja. Desa Sebatu. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten Gianyar tiada lain Kekawin Ramayana. Untuk tokoh Sugriwa. Prewaga dan Rahwana, mempergunakan bahasa Kawi tua (Jawa Kun. Sedangkan untuk para abdi atau Punakawan yakni Twalen. Mredah. Delem dan Sangut kadang-kadang memakai bahasa Kawi baik tua maupun tengahan. Akan tetapi, lebih sering mempergunakan bahasa daerah Bali karena mereka berfungsi sebagai penerjemah dari para sungsungannya. Sehingga penikmat pertunjukan dapat mengerti jalannya cerita terutama bagi yang tidak paham dengan bahasa Kawi. Fungsi Dramatari Wayang Wong di Banjar Pujung Kaja Terkait dengan fungsi pementasan Wayang Wong sebagai bentuk pelestarian budaya Bali di Banjar Pujung Kaja merupakan salah satu wahana untuk memupuk dan membina Pementasan Wayang Wong keharmonisan manusia dengan Tuhan melalui jalan Bhakti, dengan sesama manusia (Puni. , dan manusia dengan lingkungan (Asi. Fungsi utama dari pementasan Wayang Wong adalah sebagai pengiring upacara . , serta sebagai media komunikasi dan pendidikan. Wayang Wong sebagai Tari Wali Pada awal berdirinya atau terbentuknya Wayang Wong di Banjar Pujung Kaja ini, sering kali di tuwur/ di untap oleh para petani disaat akan mengawali bercocok tanam. Terlebih lagi, disaat pertanian atau perkebunan mengalami kegagalan atau rusak oleh hama atau gagal panen. Pementasan Ida Ratu Ilen-ilen Wayang Wong ini disebut sebagai Wali Ngenyegin. Wali Ngenyegin ini dilakukan dengan diawali dengan upacara, menghaturkan bebantenan sesuai dengan dresta atau adat istiadat dari petani setempat. Selanjutnya Wayang Wong ini mesolah, menari di tengah tegalan dengan sesekali menggoyang-goyangkan pepohonan yang di lewati serta menginjak-injak tanah Pada saat prosesi tersebut selesai, maka sesuhunan Wayang Wong selanjutnya kembali melinggih di Gedong Pesimpenan yang tentunya dengan menghaturkan banten Bilamana para petani tersebut selesai panen, maka petani atau warga desa tersebut akan menghaturkan beberapa hasil panenannya kepada Sekaa Wayang Wong Talepud. Banjar Pujung Kaja. Desa Sebatu. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten Gianyar. Wayang Wong sebagai Tari Bebali Wayang Wong sebagai tari bebali ini berfungsi sebagai pelengkap upacara keagamaan di pura. Sebagai pelengkap upacara keagamaan sifatnya komplemen, artinya boleh dipentaskan boleh juga tidak, sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sebagai Wayang Wong menggunakan cerita atau lakon yang diambil dari epos Ramayana. (Drs. Bagus Nyoman Putra, 1978/1979: . I Made Gde Rahadian Adi Manahcika. I Gusti Ngurah Seramasara. Ni Wayan Suratni. Wayang Wong sebagai Tari Bali-balihan Dalam hal ini sesuai dengan pengamatan penulis dan keterangan dari beberapa narasumber, bahwa Wayang Wong utama topengnya yang dipentaskan dalam kategori tari bali-balihan adalah topeng duplikatnya. Topeng Wayang Wong di Banjar Pujung Kaja dibedakan menjadi dua macam, yaitu topeng Wayang Wong Ida Ratu Lingsir dan Ida Ratu Tengah Anom. Topeng Wayang Wong Ida Ratu Lingsir merupakan topeng Wayang Wong asli dan sangat dikeramatkan yang dipentaskan pada waktu upacara keagamaan Sedangkan topeng Wayang Wong Ida Ratu Tengah Anom adalah bentuk tiruan . yang dapat dipentaskan diluar dari upacara keagamaan. Wayang Wong Media Pendidikan Dramatari Wayang Wong sebagai media pendidikan maksudnya dengan pementasan dramatari Wayang Wong tersebut yang biasanya mengambil lakon Ramayana, masyarakat dapat terbina moralnya agar selalu berbuat baik, menjauhkan diri dari berbagai bentuk sifat kejahatan. Karena mengungkapkan konflik-konflik kehidupan yang dihadapi manusia yang bersumber dari nafsu . Seperti yang sudah dijelaskan tiap-tiap Kesetiaan Sang Hanoman terhadap Rama untuk menolong Dewi Sita. Kecongkakan Rahwana dalam menculik Dewi Sita yang pada akhirnya Rahwana dapat dikalahkan oleh persatuan para kera dibawah pimpinan Raja Sugriwa. Gambar 1. Pertunjukan Wayang Wong di Banjar Pujung Kaja (Dok. Sekaa Wayang Wong Dewa Kosala Raqt. Gambar 2. Pertunjukan Wayang Wong di Banjar Pujung Kaja (Dok. Sekaa Wayang Wong Dewa Kosala Raqt. PENUTUP Klasifikasi tari Bali berdasarkan koreografi dibagi menjadi tiga. Tari tradisional, tari kreasi baru, tari klasik. Yang termasuk ke dalam tari klasik ini merupakan tari gambuh, topeng, arja, wayang wong, dan legong kraton yang penataannya pada umumnya ditangani oleh ahli-ahli tari dari kalangan istana/puri, terutama pada zaman kerajaan. Keberadaan dramatari Wayang Wong di Bali merupakan babak baru bagi perkembangan seni pertunjukan dekada akhir zaman Bali Kuna hingga mencapai masa keemasan pada saat zaman Bali Klasik, ketika tapuk pemerintahan Raja Bali dipegang oleh Sri Dalem Waturenggong yang beristana di Gelgel. Klungkung. Secara perkembangan dramatari Wayang Wong ini I Made Gde Rahadian Adi Manahcika. I Gusti Ngurah Seramasara. Ni Wayan Suratni. muncul pada desa-desa di Bali, yang dapat kita jumpai antara lain di daerah Bali Utara seperti di Desa Tejakula dan di Desa Anturan Kabupaten Buleleng. Sementara itu, di Bali Barat dan Selatan berkembang antara lain di Desa Tunjuk. Kabupaten Tabanan, di Kelurahan Tonja Denpasar, serta di Desa Tanjung Benoa. Kabupaten Badung. Kemudian di daerah Bali Timur di Desa Ban. Kabupaten Karangasem, serta di daerah Bali pertengahan yaitu di Desa Mas. Kecamatan Ubud. Kabupaten Gianyar. Selain yang tersebut di atas. Wayang Wong juga terdapat di daerah Bali pertengahan khususnya di Banjar Pujung Kaja. Desa Sebatu. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten Gianyar. Perkembangan dramatari Wayang Wong di Banjar Pujung Kaja ini sudah berlangsung sejak tahun 1920-an secara turun-temurun dan selalu dipentaskan di setiap ada Upacara besar maupun kecil. Fungsi dari dramatari Wayang Wong itu sendiri tiada lain sebagai bagian dari Upacara yadnya. Tentunya Wayang Wong di Banjar Pujung Kaja. Desa Sebatu. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten Gianyar ini memiliki karakterisitik tersendiri yang menjadi pembeda dari Wayang Wong do daerah Mengacu karakteristik dramatari Wayang Wong merupakan ciri khas yang sesuai dengan masing-masing keanekaragaman seni, khususnya seni dramatari Wayang Wong. Karakteristik dari dramatari Wayang Wong di Banjar Pujung Kaja terletak pada penamaan ragam gerakannya, tata busana, instrument iringan dan tata dialog yang masih tetap mengacu pada Kekawin Ramayana. Selain yang dipaparkan di atas, karakteristik dramatari Wayang Wong juga bisa dilihat dari gerakan dinamis pada tokoh Hanoman. Anggada. Nila. Sempati dan Delem. Kemudian bisa dilihat pula pada gerakan soft yang terdapat pada tokoh Sugriwa. Rahwana. Twalen. Mredah dan Sangut. Karakteristik yang merupakan ciri khas ini tentunya berbeda dari Wayang Wong di daerah lainnya. DAFTAR RUJUKAN Daftar Rujukan (Artikel dan Buk. Pandji. Drs. I G B N, dkk. 1986/1987. Proyek Penggalian/Pementasan Seni Budaya Klasik/Tradisional dan Baru. Yayasan Pewayangan Daerah Bali. Putra. Drs. Bagus Nyoman. 1978/1979. Pembinaan Wayang Wong. Proyek Pusat Pengembangan Kebudayaan Bali. Kanisius. Rusliana. Wayang Wong Priangan: Kajian Mengenai Pertunjukan Dramatari Tradisional Di Jawa Barat. Bandung. Kiblat. Dibia. I Wayan. Puspasari Seni Tari Bali. Denpasar: UPT Penerbitan ISI Denpasar. Dibia. I Wayan. Selayang Pandang Seni Pertunjukan Bali. Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia. Bandung. Moleong. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Sumber Lainnya (Interne. Temukan Regenerasi Wayang Wong Talepud Tersedia http://w. com/temukanregenerasi-di-wayang-wong-talepud/ Wayang Wong Bali 2013. Tersedia di http://bawasujana. com/2013/02/w ayang-wong-bali. Balinese Classik Wayang Wong 2014. Tersedia di http://sanggarjrogdekubayan. m/2014/02/talepud. Narasumber Pande Made Rahajeng. Br. Pujung Kaja. Desa Sebatu. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten Gianyar. I Ketut Parisa. Br. Pujung Kaja. Desa Sebatu. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten Gianyar. I Nyoman Jani. Br. Pujung Kaja. Desa Sebatu. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten I Made Gde Rahadian Adi Manahcika. I Gusti Ngurah Seramasara. Ni Wayan Suratni. Gianyar. I Gede Bawa Sujana. Br. Pujung Kaja. Desa Sebatu. Kecamatan Tegallalang. Kabupaten Gianyar.