Qalamuna - Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Agama | Vol. 11 No. Januari Ae Juni 2019 Analisis dan Pengembangan Desain Pembelajaran PAI Berbasis Karakter Medina Nur Asyifah Purnama Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo Abstract Religious education is required not only to provide a deep understanding of Religion, but also to contribute to society in shaping character. Many efforts have been made to fulfill this demand, but have not produced significant results. This study offers an analysis and development of the learning design of character-based Islamic Education. What can be used by the teacher as a guide in designing or designing Islamic Education learning. This article attempts to analyze and provide development to the design of learning Islamic Education. The results of this study can be seen from the steps or ways in designing the learning of character-based Islamic Education and how to evaluate it. So that it can be used by the teacher when doing learning design so that the learning done can integrate character values in the learning process. Abstrak Pendidikan Agama dituntut tidak hanya memberikan pemahaman yang mendalam tentang Agama, melaikankan juga memberikan kontribusi kepada masyarakat dalam membentuk karakter. Banyak upaya yang dilakukan untuk memenuhi tuntutan ini, namun belum menghasilkan hasil yang signifikan. Penelitian ini menawarkan sebuah analisis dan pengembangan terhadap desain pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis karakter. Yang dapat digunakan Guru sebagai pedoman dalam merancang atau mendesain pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Artikel ini berupaya menganalisis dan memberikan pengembangan terhadap desain pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Hasilnya dari penelitian ini bisa dilihat langkah-langkah atau cara dalam mendesain pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis karakter dan serta cara menilainya. Sehingga bisa digunakan oleh Guru ketika melakukan desain pembelajaran agar pembelajaran yang dilakukan bisa mengintegrasikan nilanilai karakter dalam proses pembelajaran. Keyword : Pengembangan. Desain pembelajaran PAI. Karakter Medina N. Purnama | Analisis & Pengembangan Desain Pembelajaran PAI Berbasis Karakter Pendahuluan Persoalan budaya dan karakter bangsa kini menjadi sorotan tajam Sorotan itu mengenai berbagai aspek kehidupan, tertuang dalam berbagai tulisan di media cetak, wawancara, dialog, dan gelar wicara di media Selain di media massa, para pemuka masyarakat, para ahli, dan para pengamat pendidikan, dan pengamat sosial berbicara mengenai persoalan budaya dan karakter bangsa di berbagai forum seminar, baik pada tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Persoalan yang muncul di masyarakat seperti korupsi, kekerasan, kejahatan seksual, perusakan, perkelahian massa, kehidupan ekonomi yang konsumtif, kehidupn politik yang tidak produktif, dan sebagainya menjadi topik pembahasan hangat di media massa, seminar, dan di berbagai kesempatan sebagaimana dijelaskan Said Hamid Hasan . 0: . Berbagai alternatif penyelesaian diajukan seperti peraturan, undangundang, peningkatan upaya pelaksanaan dan penerapan hukum yang lebih Alternatif lain yang banyak dikemukakan untuk mengatasi, paling tidak mengurangi, masalah budaya dan karakter bangsa yang dibicarakan itu adalah pendidikan. Pendidikan dianggap sebagai alternatif yang bersifat preventif karena pendidikan membangun generasi baru bangsa yang lebih Sebagai alternatif yang bersifat preventif, pendidikan diharapkan dapat mengembangkan kualitas generasi muda bangsa dalam berbagai aspek yang dapat memperkecil dan mengurangi penyebab berbagai masalah budaya dan karakter bangsa (Hasan, 2010:. Memang diakui bahwa hasil dari pendidikan akan terlihat dampaknya dalam waktu yang tidak segera, tetapi memiliki daya tahan dan dampak yang kuat di masyarakat. Tujuan pendidikan yang tidak hanya mengejar ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga mengarahkan semakin dekatnya peserta didik dengan sang pencipta, sehubungan dengan hal itu maka pemberian pendidikan agama Islam (PAI) mulai dari SD sampai PT mutlak diperlukan. Melalui pembelajran PAI akan tercipta harmonisasi kehidupan baik sebagai hamba Allah yang bertugas mengabdi kepadanya dan juga sebagai Kholifah Allah yang dimuka bumi yang bertugas memakmurkan alam semesta. Maka dari itu dalam pembelajran PAI tidak boleh hanya sekedar transfer informasi tentang Islam . jaran isla. dari pendidik kepeserta didik akan tetapi harus menjadi suatu proses pembentukan karakter. dalam proses pembentukan karakter tersebut maka dalam pembelajaran PAI diperlukan adanya upaya untuk melakukan suatu inovasi dalam pembelajaran, mulai dari penentuan materi ajar . , metode, sampai pada model pembinaan keagamaan yang akan dilakukan. Qalamuna - Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Agama | Vol. 11 No. Januari Ae Juni 2019 Pembahasan Pembelajaran pendidikan agama Islam sebagai salah satu mata pelajaran yang mengandung muatan ajaran-ajaran Islam dan tatanan nilai hidup dan kehidupan Islami perlu diupayakan melalui perencanaan pembelajaran pendidikan agama yang baik agar dapat mempengaruhi pilihan, putusan dan pengembangan peserta didik. karena itu salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang GPAI adalah kemampuan merencanakan untuk mengembangkan metode pembelajarannya secara profisonal. Dengan perkataan lain kemampuan perencanaan dan pengembangan ini mutlak dilakukan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang pendidik sekaligus sebagai perancang pembelajaran pendidikan islam (Hasan, 2010:. Tugas perancang dan pengembangan PAI adalah berupaya untuk menata dan mengatur bagaimana agar pembelajaran pendidikan agama yang direncanakan itu dapat membuat peserta didik terdorong untuk belajar dan tertarik untuk terus menerus belajar pendidikan agama Islam sesuai dengan kondisi yang ada untuk mencapai hasil pembelajaran pendidikan agama yang Dengan demikian untuk mencapai hasil pembelajran yang diinginkan desain pembelajaran harus sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ada dimana Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdikna. merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang harus digunakan dalam mengembangkan upaya pendidikan di Indonesia. Pasal 3 UU Sisdiknas menyebutkan. AuPendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawabAy. Tujuan pendidikan nasional itu merupakan rumusan mengenai kualitas manusia Indonesia yang harus dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan. Oleh karena itu, rumusan tujuan pendidikan nasional menjadi dasar dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa. Pendidikan merupakan upaya terencana dalam mengembangkan potensi peserta didik, sehingga mereka memiliki sistem berpikir, nilai, moral, dan keyakinan yang diwariskan masyarakatnya dan mengembangkan warisan tersebut ke arah yang sesuai untuk kehidupan masa kini dan masa Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan . yang Medina N. Purnama | Analisis & Pengembangan Desain Pembelajaran PAI Berbasis Karakter diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak (Hasan, 2010:. Pendidikan budaya dan karakter bangsa dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warganegara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif . Atas dasar pemikiran itu, pengembangan pendidikan budaya dan karakter sangat strategis bagi keberlangsungan dan keunggulan bangsa di masa mendatang. Pengembangan itu harus dilakukan melalui perencanaan yang baik, pendekatan yang sesuai, dan metode belajar serta pembelajaran yang efektif. Sesuai dengan sifat suatu nilai, pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah usaha bersama sekolah. oleh karenanya harus dilakukan secara bersama oleh semua guru dan pemimpin sekolah, melalui semua mata pelajaran, dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya sekolah (Hasan, 2010:. Fungsi pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah: pengembangan: pengembangan potensi peserta didik untuk menjadi pribadi berperilaku baik. ini bagi peserta didik yang telah memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan budaya dan karakter bangsa. perbaikan: memperkuat kiprah pendidikan nasional untuk bertanggung jawab dalam pengembangan potensi peserta didik yang lebih penyaring: untuk menyaring budaya bangsa sendiri dan budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat (Hasan, 2010:. Tujuan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa adalah: Tujuan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa sebagai manusia dan warganegara yang memiliki nilai-nilai budaya da karakter bangsa. mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa. mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan. mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan . (Hasan, 2010:. Qalamuna - Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Agama | Vol. 11 No. Januari Ae Juni 2019 Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa diidentifikasi dari sumber-sumber berikut ini. Agama: masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Oleh karena itu, kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya. Secara politis, kehidupan kenegaraan pun didasari pada nilai-nilai yang berasal dari agama. Atas dasar pertimbangan itu, maka nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari Pancasila: negara kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas prinsipprinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila. Pancasila terdapat pada Pembukaan UUD 1945 dan dijabarkan lebih lanjut dalam pasal-pasal yang terdapat dalam UUD 1945. Artinya, nilainilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi, kemasyarakatan, budaya, dan seni. Pendidikan budaya dan karakter bangsa bertujuan mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang lebih baik, yaitu warga negara yang memiliki kemampuan, kemauan, dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupannya sebagai warga negara. Budaya: sebagai suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia yang hidup bermasyarakat yang tidak didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui masyarakat itu. Nilai-nilai budaya itu dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antaranggota masyarakat itu. Posisi budaya yang demikian penting dalam kehidupan masyarakat mengharuskan budaya menjadi sumber nilai dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa. Tujuan Pendidikan Nasional: sebagai rumusan kualitas yang harus dimiliki setiap warga negara Indonesia, dikembangkan oleh berbagai satuan pendidikan di berbagai jenjang dan jalur. Tujuan pendidikan nasional memuat berbagai nilai kemanusiaan yang harus dimiliki warga negara Indonesia. Oleh karena itu, tujuan pendidikan nasional adalah sumber yang paling operasional dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa (Hasan, 2010: . Berdasarkan tujuan pendidikan Nasional dan ketiga sumber nilai itu, teridentifikasi sejumlah nilai untuk pendidikan budaya dan karakter bangsa sebagai berikut ini: Nilai Religius Deskripsi Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Medina N. Purnama | Analisis & Pengembangan Desain Pembelajaran PAI Berbasis Karakter Jujur Toleransi Disiplin Kerja Keras Kreatif Mandiri Demokratis Rasa Ingin Tahu Semangat Kebangsaan Cinta Tanah Air Menghargai Bersahabat/ Komuniktif Cinta Damai Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan. Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya. Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. Perilaku yang menunjukkan upaya sungguhsungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki. Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain. Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa. Prestasi Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain. Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain. Sikap, menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya Qalamuna - Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Agama | Vol. 11 No. Januari Ae Juni 2019 Gemar Membaca Peduli Lingkungan Peduli Sosial Tanggung- Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang Sikap melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan . lam, sosial dan buday. , negara dan Tuhan Yang Maha Esa. Sekolah dan guru dapat menambah atau pun mengurangi nilai-nilai tersebut sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang dilayani sekolah dan hakekat materi SK/KD dan materi bahasan suatu mata pelajaran. Meskipun demikian, ada 5 nilai yang diharapkan menjadi nilai minimal yang dikembangkan di setiap sekolah yaitu nyaman, jujur, peduli, cerdas, dan tangguh/kerja keras. Pada prinsipnya, pengembangan budaya dan karakter bangsa tidak dimasukkan sebagai pokok bahasan tetapi terintegrasi ke dalam mata pelajaran, pengembangan diri, dan budaya sekolah. Oleh karena itu, guru dan sekolah perlu mengintegrasikan nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa ke dalam Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sudah ada. Prinsip pembelajaran yang digunakan dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa mengusahakan agar peserta didik mengenal dan menerima nilai-nilai budaya dan karakter bangsa sebagai milik mereka dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya (Hasan, 2010:. Perencanaan dan pelaksanaan pendidikan budaya dan karakter bangsa dilakukan oleh kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan . secara bersama-sama sebagai suatu komunitas pendidik. Pengembangan nilai-nilai pendidikan budaya dan karakater bangsa diintegrasikan dalam setiap pokok bahasan dari setiap mata pelajaran. Nilai-nilai tersebut dicantumkan dalam silabus dan RPP. Pengembangan nilai-nilai itu dalam silabus ditempuh melalui cara-cara berikut ini: Medina N. Purnama | Analisis & Pengembangan Desain Pembelajaran PAI Berbasis Karakter mengkaji Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) pada Standar Isi (SI) untuk menentukan apakah nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang tercantum itu sudah tercakup di dalamnya. menggunakan tabel 1 yang memperlihatkan keterkaitan antara SK dan KD dengan nilai dan indikator untuk menentukan nilai yang akan mencantumkankan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa dalam tabel 1 itu ke dalam silabus. mencantumkan nilai-nilai yang sudah tertera dalam silabus ke dalam RPP. mengembangkan proses pembelajaran peserta didik secara aktif yang memungkinkan peserta didik memiliki kesempatan melakukan internalisasi nilai dan menunjukkannya dalam perilaku yang sesuai. memberikan bantuan kepada peserta didik, baik yang mengalami kesulitan untuk menginternalisasi nilai maupun untuk menunjukkannya dalam perilaku. Penilaian pencapaian pendidikan nilai budaya dan karakter didasarkan pada indikator. Sebagai contoh, indikator untuk nilai jujur di suatu semester dirumuskan dengan Aumengatakan dengan sesungguhnya perasaan dirinya mengenai apa yang dilihat, diamati, dipelajari, atau dirasakanAy maka guru mengamati . elalui berbagai car. apakah yang dikatakan seorang peserta didik itu jujur mewakili perasaan dirinya. Mungkin saja peserta didik menyatakan perasaannya itu secara lisan tetapi dapat juga dilakukan secara tertulis atau bahkan dengan bahasa tubuh. Perasaan yang dinyatakan itu mungkin saja memiliki gradasi dari perasaan yang tidak berbeda dengan perasaan umum teman sekelasnya sampai bahkan kepada yang bertentangan dengan perasaan umum teman sekelasnya. Penilaian dilakukan secara terus menerus, setiap saat guru berada di kelas atau di sekolah. Model anecdotal record . atatan yang dibuat guru ketika melihat adanya perilaku yang berkenaan dengan nilai yang dikembangka. selalu dapat digunakan guru. Selain itu, guru dapat pula memberikan tugas yang berisikan suatu persoalan atau kejadian yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan nilai yang Sebagai contoh, peserta didik dimintakan menyatakan sikapnya terhadap upaya menolong pemalas, memberikan bantuan terhadap orang kikir, atau hal-hal lain yang bersifat bukan kontroversial sampai kepada hal yang dapat mengundang konflik pada dirinya. Dari hasil pengamatan, catatan anekdotal, tugas, laporan, dan sebagainya, guru dapat memberikan kesimpulan atau pertimbangan tentang pencapaian suatu indikator atau Qalamuna - Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Agama | Vol. 11 No. Januari Ae Juni 2019 bahkan suatu nilai. Kesimpulan atau pertimbangan itu dapat dinyatakan dalam pernyataan kualitatif sebagai berikut ini. BT : Belum Terlihat . pabila peserta didik belum memperlihatkan tandatanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikato. MT : Mulai Terlihat . pabila peserta didik sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator tetapi belum konsiste. MB : Mulai Berkembang . pabila peserta didik sudah memperlihatkan berbagai tanda perilaku yang dinyatakan dalam indikator dan mulai MK : Membudaya . pabila peserta didik terus menerus memperlihatkan perilaku yang dinyatakan dalam indikator secara konsiste. (Hasan, 2010: . Pernyataan kualitatif di atas dapat digunakan ketika guru melakukan asesmen pada setiap kegiatan belajar sehingga guru memperoleh profile peserta didik dalam satu semester tentang nilai terkait . ujur, kerja keras, peduli, cerdas, dan sebagainy. Guru dapat pula menggunakan BT. MT. MB atau MK tersebut dalam rapor. Posisi nilai yang dimiliki peserta didik adalah posisi seorang peserta didik di akhir semester, bukan hasil tambah atau akumulasi berbagai kesempatan/tindakan penilaian selama satu semester Jadi, apabila pada awal semester seorang peserta didik masih dalam status BT sedangkan pada penilaian di akhir semester yang bersangkutan sudah berada pada MB maka untuk rapor digunakan MB. Ini membedakan penilaian hasil belajar pengetahuan dengan nilai dan ketrampilan. Analisis Desain pembelajaran yang dapat menentukan pengetahuan suatu materi yang sekarang ini menjadi perbincangan yaitu pendidikan karakter. Pendidikan karakter adalah pendidikan yang ditanamkan kepada jiwa siswa dalam arti setelah proses pembelajaran, siwa bukan hanya pintar dari segi pengetahuan dan penguasaan materi saja, tapi lebih kepada aplikasi dan penerapan dari hasil pembelajaran dalam perilaku,sikap dan pola pikir sehari hari dalam kehidupan. Akan tetapi pendidikan karakter pada saat ini menurut peneliti belum berjalan secara optimal, karena masih banyak sekali terjadi berbagai tindakan siswa secara amoral. Maka untuk mencapai terbentuknya manusia-manusia yang berkarakter dan mempunyai kepribadian luhur bukan hanya tanggung jawab lembaga pendidikan saja,akan tetapi hal ini adalah tanggung jawab semua komponen dalam pendidikan, yaitu orang tua, lingkungan masyarakat, lembaga pendidikan dan pemerintah. Semua komponen ini dituntut Medina N. Purnama | Analisis & Pengembangan Desain Pembelajaran PAI Berbasis Karakter eksistensinya agar betul-betul pendidikan karakter yang ditawarkankan saat ini bisa tercapai sesuai dengan harapan semua pihak. Pendidikan karakter hendaklah mulai diterapkan di lingkungan keluarga sejak anak berusia pra usia sekolah. Karena dari pendidikan keluarga inilah nilai-nilai yang diperoleh anak akan menjadi pondasi untuk masa depannya. Dan nilai-nilai positif yang diperoleh di lingkungan keluarga akan menjadi pengendali dirinya dalam pergaulan di lingkungan sosial. Posisi pendidikan agama dalam hal ini, harus bisa menjadi solusi bagi pembentukan karakter siswa. Pembelajaran pendidikan agama yang baik dan menyenangkan akan mengantarkan siswa memiliki karakter yang sesuai dengan ajaran agama yang dianut. disinilah barangkali pentingnya pendidikan yang integratif. pendidikan yang menyatu antara teori dan praktik, yang tidak dikotomis, dan pendidikan yang mampu mengantarkan peserta didik menuju kebaikan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat sekaligus. Selain itu solusi yang ditawarkan saat ini dalam rangka pembentukan karakter dan menurut berbagai Penelitian terbaru membuktikan bahwa pembelajaran berbasis pesantren/ asrama/ boarding school merupakan education system yang diakui mampu memberikan pengalaman belajar paling Penutup Desain pembelajran berbasis karakter merupakan usaha dalam merancang, menata dan menatur bagaimana agar pembelajaran pendidikan agama mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warganegara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif. Pengembangan nilai-nilai pendidikan budaya dan karakater bangsa diintegrasikan dalam setiap pokok bahasan dari setiap mata pelajaran. Nilainilai tersebut dicantumkan dalam silabus dan RPP. Pengembangan nilai-nilai itu dalam silabus dan RPP ditempuh melalui berbagai cara. Penilaian dilakukan secara terus menerus, setiap saat guru berada di kelas atau di Model anecdotal record . atatan yang dibuat guru ketika melihat adanya perilaku yang berkenaan dengan nilai yang dikembangka. selalu dapat digunakan guru. Qalamuna - Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Agama | Vol. 11 No. Januari Ae Juni 2019 Daftar Rujukan Azzet. Akhmad Muhaimin. Urgensi Pendidikan Karakter di Indonesia. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Hamid Hasan. Said dkk, 2010. Pengembnagn pendidikan Budaya dan karakter Bangsa. Jakarta: kementrian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan pengambangan pusat kurikulum. Kementerian Pendidikan Nasional Badan Penelitian Dan Pengembangan Pusat Kurikulum dan Perbukuan. Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter. Jakarta. Kementerian Pendidikan Nasional. Desain Induk Pendidikan Karakter. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional. Koesoema A. Doni. Pendidikan Karakter Strategi Mendidik Anak di Zaman Global. Jakarta: Grasindo. Majid. Abdul Dan Dian Andayani. Pendidikan Karakter Perspektif Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Muhaimin, 2008. Paradigma Pendidikan Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya. Samani . Muchlas Dan Hariyanto. Konsep Dan Model Pendidikan Karakter. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset. Uno. Hamzah, 2006. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Wibowo. Agus. Pendidikan Karakter. Strategi Membangun Karakter Bangsa Berperadaban. Yogyakarta: Pustaka Belajar.