http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2. Desember 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 Artikel Penelitian The Relationship Between Compliance with Antihypertensive Medication and the Quality of Life of Hypertensive Patients at Jailolo Regional Hospital. North Maluku Ananda Dwi Fortuna1. RifAoatul Fani2* Abstrak Hipertensi merupakan salah satu penyakit kronis yang memberikan dampak luas terhadap berbagai aspek kehidupan dan menjadi tantangan utama dalam sistem pelayanan kesehatan modern. Kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat antihipertensi memiliki peran sentral dalam menjaga kestabilan tekanan darah sekaligus mempertahankan kondisi fisik dan kesejahteraan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah hubungan antara tingkat kepatuhan minum obat antihipertensi dengan kualitas hidup pasien hipertensi di RSUD Jailolo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional dan rancangan cross-sectional. Populasi penelitian mencakup seluruh pasien hipertensi yang menjalani pengobatan di RSUD Jailolo. Maluku Utara pada tahun 2024 sebanyak 272 orang, dengan 162 responden dipilih sebagai sampel menggunakan rumus Slovin melalui metode random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan dua instrumen utama, yaitu Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-. untuk mengukur tingkat kepatuhan minum obat dan WHOQOL-BREF untuk menilai kualitas hidup pasien. Analisis data dilakukan menggunakan uji Kruskal-Wallis karena hasil uji normalitas menunjukkan distribusi data tidak normal. Hasil analisis menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara kepatuhan minum obat antihipertensi dengan kualitas hidup pasien pada pada domain psikologis (H=9,220. p=0,. serta domain lingkungan (H=8,616. p=0,. Sebaliknya, tidak ditemukan hubungan yang signifikan pada domain fisik (H=2,180. p=0,. dan hubungan sosial (H=4,949. p=0,. Temuan ini menunjukkan bahwa kepatuhan minum obat berkontribusi secara selektif terhadap aspek tertentu dari kualitas hidup pasien hipertensi. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar pengembangan intervensi peningkatan kepatuhan yang lebih komprehensif dalam pelayanan hipertensi serta mendukung penguatan konsep perilaku kesehatan, khususnya Health Belief Model, dalam menjelaskan implikasi kepatuhan terhadap luaran kualitas hidup yang Kata kunci: Hipertensi. Kepatuhan minum obat. Kualitas hidup. MMAS-8. WHOQOL-BREF Abstract Hypertension is a chronic disease that has a broad impact on various aspects of life and is a major challenge in the modern healthcare system. Patient compliance in taking antihypertensive medication plays a central role in maintaining stable blood pressure while maintaining physical condition and psychological well-being. This study aims to examine the relationship between the level of compliance in taking antihypertensive medication and the quality of life of hypertensive patients at Jailolo Regional Hospital. This study used a quantitative approach with a correlational and cross-sectional The study population included all 272 hypertensive patients undergoing treatment at Jailolo Regional Hospital. North Maluku in 2024, with 162 respondents selected as samples using the Slovin formula through a random sampling Data collection was carried out using two main instruments, namely the Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-. to measure the level of medication adherence and the WHOQOL-BREF to assess patients' quality of life. Data analysis was performed using the Kruskal-Wallis test because the results of the normality test showed a non-normal distribution of the data. The analysis showed a significant relationship between adherence to antihypertensive medication and patients' quality of life in the psychological domain (H=9. p=0. and the environmental domain (H=8. p=0. Conversely, no significant relationship was found in the physical domain (H=2. p=0. and social relationships (H=4. p=0. These findings suggest that medication adherence selectively contributes to certain aspects of the quality of life in hypertensive patients. The results of this study can serve as a basis for developing more comprehensive adherence-enhancing interventions in hypertension care and findings support the strengthening of the concept of health behavior, particularly the Health Belief Model, in explaining the implications of adherence on multidimensional quality of life outcomes. Keywords: Hypertension. Medication adherence. MMAS-8. Quality of life. WHOQOL-BREF Submitted : 15 December 2025 Affiliasi penulis : 1,2 Program Studi S1 Keperawatan. Fakultas Ilmu Kesehatan. Institut Teknologi Sanis dan Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang Kesdam V/Brw Korespondensi : RifAoatul Fani rifatul@itsk-soepraoen. id Telp: PENDAHULUAN Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Accepted : 31 December 2025 Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan angka kejadian yang tinggi dan menjadi penyebab utama morbiditas serta mortalitas di seluruh dunia. Berdasarkan World Health Organization (WHO) diperkirakan terdapat 1,28 miliar orang Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2. Desember 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 dewasa di dunia yang hidup dengan hipertensi, dan sekitar 46% di antaranya tidak menyadari kondisinya . Hipertensi dikenal sebagai silent killer karena sering kali tidak menimbulkan gejala klinis yang jelas namun dapat menyebabkan komplikasi berat seperti stroke, gagal ginjal, dan penyakit jantung koroner jika tidak dikelola dengan baik. Indonesia, menunjukkan peningkatan yang konsisten dalam satu dekade terakhir. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. tahun 2018, prevalensi hipertensi pada penduduk usia Ou18 tahun mencapai 34,1% . Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menunjukkan peningkatan angka tersebut menjadi 35,3%, yang berarti satu dari tiga orang dewasa di Indonesia mengalami hipertensi . Tingginya angka kejadian tersebut menandakan bahwa hipertensi masih menjadi beban kesehatan masyarakat yang signifikan dan memerlukan penanganan berkelanjutan. Salah satu tantangan terbesar dalam pengendalian hipertensi adalah rendahnya Laporan Kementerian Kesehatan . menunjukkan bahwa hanya sekitar 25% pasien hipertensi yang patuh mengonsumsi obat sesuai anjuran . Rendahnya menurunkan quality of life (QoL) pasien. Kepatuhan terhadap pengobatan tidak hanya berpengaruh terhadap stabilitas tekanan darah, tetapi juga berdampak terhadap kondisi fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan pasien . Sejumlah penelitian internasional telah menunjukkan adanya hubungan positif antara kepatuhan minum obat antihipertensi dengan kualitas hidup pasien. Hanus et al. menemukan bahwa tingkat kepatuhan yang tinggi berhubungan signifikan dengan peningkatan kualitas hidup pasien hipertensi . Hasil ini diperkuat oleh Maciel. Pimenta, & Caldeira . yang melaporkan adanya hubungan positif antara kepatuhan obat dengan domain fisik dan psikologis dari kualitas hidup . Souza. Borges, & Moreira . melalui systematic review dan metaanalysis juga menunjukkan bahwa kepatuhan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman peningkatan kualitas hidup pasien hipertensi . Selanjutnya. Khayyat menemukan bahwa kepatuhan terhadap pengobatan berkorelasi signifikan dengan kualitas hidup pasien dengan hipertensi dan diabetes, khususnya pada aspek psikologis . Penelitian oleh Shahin. Kennedy, & Stupans . dukungan sosial memiliki pengaruh terhadap peningkatan kepatuhan minum obat dan secara tidak langsung berdampak positif terhadap kualitas hidup . Di sisi lain. Mannan et al. melaporkan bahwa keberadaan komorbiditas memperburuk kualitas hidup pasien hipertensi, terutama pada kelompok dengan kepatuhan rendah . Penelitian terbaru oleh Kim . juga terhadap terapi antihipertensi berhubungan dengan penurunan health-related quality of life secara signifikan, khususnya pada pasien usia lanjut . Meskipun demikian, masih terdapat sejumlah keterbatasan dalam penelitian-penelitian Pertama, sebagian besar penelitian dilakukan di luar negeri dengan konteks sosial dan budaya yang berbeda dengan Indonesia. Kedua, sebagian besar studi hanya meneliti hubungan bivariat tanpa mempertimbangkan variabel kontekstual pengobatan, atau komorbiditas. Ketiga, penelitian mengenai hubungan kepatuhan obat dan kualitas hidup pasien hipertensi di wilayah Indonesia bagian timur, khususnya di RSUD Jailolo Kabupaten Halmahera Barat, masih sangat terbatas. Oleh karena itu, diperlukan penelitian berbasis pendekatan kuantitatif untuk menguji secara empiris hubungan antara kepatuhan minum obat antihipertensi dan kualitas hidup pasien hipertensi di RSUD Jailolo. Dalam penelitian ini, kepatuhan minum obat antihipertensi dijadikan sebagai variabel independen, sedangkan kualitas hidup pasien hipertensi menjadi variabel dependen. Kepatuhan diukur menggunakan instrumen Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-. , sedangkan kualitas hidup diukur dengan World Health Organization Quality of Life-BREF (WHOQOL-BREF). Penelitian ini berlandaskan Health Belief Model (HBM) sebagai kerangka teoritis utama untuk Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2. Desember 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 menjelaskan perilaku kepatuhan terhadap Dalam HBM, kepatuhan minum obat dipengaruhi oleh pengobatan . erceived benefit. , hambatan yang dirasakan dalam menjalani terapi . erceived terhadap kemampuan diri dalam mengelola pengobatan secara konsisten . elf-efficac. Persepsi manfaat yang tinggi dan hambatan yang rendah, disertai efikasi diri yang kuat, mendorong perilaku patuh terhadap terapi Perilaku patuh tersebut selanjutnya berkontribusi pada terbentuknya persepsi positif terhadap kualitas hidup, khususnya pada aspek psikologis dan lingkungan, melalui peningkatan rasa aman, kontrol diri terhadap penyakit, serta pengalaman yang lebih baik dalam mengakses dan memanfaatkan sistem Dengan menempatkan kepatuhan minum obat menjembatani komponen kognitif HBM dan luaran kualitas hidup, penelitian ini menawarkan kebaruan konseptual berupa penguatan hubungan tidak langsung antara konstruk HBM dan kualitas hidup pasien Pendekatan ini memperluas aplikasi HBM yang selama ini lebih berfokus pada prediksi perilaku, dengan menegaskan hipertensi, sebagaimana didukung oleh temuan-temuan penelitian sebelumnya . Ae Berdasarkan uraian tersebut, peneliti bertujuan menganalisis hubungan antara kepatuhan minum obat antihipertensi dengan kualitas hidup pasien hipertensi di RSUD Jailolo. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional serta rancangan cross sectional. Desain tersebut dipilih karena sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu untuk menelaah hubungan antara kepatuhan minum obat antihipertensi dan kualitas hidup pasien hipertensi di RSUD Jailolo. Maluku Utara yang diukur pada satu waktu pengambilan data tanpa adanya intervensi peneliti. Populasi penelitian terdiri atas seluruh pasien hipertensi yang menjalani pengobatan di RSUD Jailolo Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman sepanjang tahun 2024 dengan jumlah total 272 pasien, sebagaimana tercatat dalam data rekam medis rumah sakit. Jumlah sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 5%, sehingga diperoleh 162 responden. Proses pemilihan sampel dilakukan secara acak . andom samplin. dengan kriteria inklusi pasien yang telah terdiagnosis hipertensi berdasarkan rekam medis, berusia minimal 17 tahun, sedang menjalani terapi hipertensi minimal 3 bulan, kondisi klinis stabil, dan bersedia menjadi responden. Sedangkan kriteria eksklusinya adalah pasien yang dalam kondisi klinis tidak stabil, seperti krisis hipertensi maupun komplikasi kardiovaskular akut pada saat proses pengumpulan data berlangsung, pasien dengan gangguan kognitif, serta pasien dengan komplikasi berat/kronik. Data terstruktur yang terdiri dari dua bagian utama. Bagian pertama menggunakan Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-. untuk menilai tingkat kepatuhan minum obat. Instrumen ini secara luas telah divalidasi dan digunakan dalam berbagai penelitian global pengobatan penyakit kronis serta memiliki reliabilitas dan validitas yang tinggi. Uji validitas MMAS-8 dengan nilai CronbachAos = 0,759 dan uji ulang . est-retes. sebesar r = 0,860, menunjukkan tingkat keandalan yang MMAS-8 terdiri dari 8 item pertanyaan dengan rentang skor total 0Ae8, yang kemudian diklasifikasikan menjadi kepatuhan rendah (<. , kepatuhan sedang . Ae<. , dan kepatuhan tinggi . Bagian kedua penelitian menggunakan WHOQOL-BREF World Health Organization (WHO) untuk menilai kualitas hidup berdasarkan empat domain utama, yaitu fisik, psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan . Instrumen ini telah diskriminan yang memadai, dan meskipun dilaporkan lebih rendah dalam beberapa studi lintas budaya akibat keterbatasan jumlah item dan variasi respons sosial. WHOQOL-BREF Proses dilakukan melalui teknik back-translation dan penilaian validitas isi oleh para ahli untuk Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2. Desember 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 kesesuaian dengan konteks budaya lokal. WHOQOL-BREF terdiri dari 26 item dengan skala Likert lima poin . Ae. , di mana skor ditransformasikan ke dalam skala 0Ae100 sesuai pedoman WHO. Skor yang lebih tinggi menunjukkan kualitas hidup yang lebih baik, dan analisis dilakukan secara terpisah pada masing-masing domain tanpa menghitung skor total . Pengumpulan data dilaksanakan pada Agustus hingga Oktober 2025, setelah peneliti memperoleh izin resmi dari RSUD Jailolo. Sebelum pengisian kuesioner, setiap responden diberikan penjelasan mengenai tujuan, manfaat, dan prosedur penelitian serta diminta menandatangani lembar persetujuan partisipasi . nformed consen. Pengisian dilakukan secara mandiri dengan pendampingan peneliti untuk memastikan kelengkapan dan akurasi jawaban. Data menggunakan IBM SPSS Statistics versi 26. Analisis mendeskripsikan karakteristik responden yaitu usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan. Indeks Massa Tubuh (IMT), dan tekanan darah. Sedangkan analisis bivariat digunakan untuk menguji hubungan antara kepatuhan minum obat dan kualitas hidup. Berdasarkan hasil uji normalitas Shapiro-Wilk didapatkan data tidak berdistribusi normal, sehingga digunakan uji nonparametrik Uji Kruskal-Wallis. Nilai p < 0,05 ditetapkan sebagai batas signifikansi untuk menentukan Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etik dari Komite Etik Penelitian Kesehatan ITSK RS dr. Soepraoen dengan nomor KEPK-EC/403/XI/2025. Sebelum berpartisipasi, responden diberikan informasi lengkap mengenai hak dan kewajiban sebagai partisipan serta menandatangani persetujuan tertulis. Kerahasiaan data dijaga menggunakan kode anonim dan seluruh kepentingan ilmiah. Pelaksanaan penelitian mengikuti prinsip etika penelitian kesehatan, yaitu beneficence, respect for persons, dan justice . Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman HASIL Karakteristik Responden Tabel 1. Karakteristik Responden . Karakteristik Frekuensi Presentase Usia 17 Ae 25 26 Ae 35 36 Ae 45 46 Ae 55 56 Ae 65 >65 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pekerjaan IRT Petani Nelayan Wiraswasta Lainnya Pendidikan SMP SMA Lainnya IMT Normal Overweight Obesitas Tekanan Darah Pre hypertension Hypertension Hypertension Severe Penelitian ini melibatkan sebanyak 162 hipertensi di RSUD Jailolo. Berdasarkan kategori usia, sebagian besar responden termasuk dalam kelompok lansia akhir . Ae 65 tahu. sebanyak 47 orang . ,0%), diikuti oleh manula (>65 tahu. sebanyak 41 orang . ,3%), serta lansia awal . Ae55 tahu. sebanyak 40 orang . ,7%). Temuan ini menegaskan bahwa penderita hipertensi lebih banyak berasal dari kelompok usia Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2. Desember 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 lanjut, yang secara fisiologis lebih rentan mengalami peningkatan tekanan darah akibat proses degeneratif dan perubahan metabolik seiring bertambahnya usia. Sementara itu, kelompok usia termuda, yakni remaja akhir . Ae25 tahu. , hanya berjumlah 2 orang . ,2%), yang menunjukkan rendahnya prevalensi hipertensi pada kelompok usia muda. pra-hipertensi . ,3%). Temuan menandakan bahwa mayoritas pasien telah berada pada tahap hipertensi sedang hingga berat, sehingga memerlukan pengawasan medis yang intensif dan kepatuhan tinggi mencegah komplikasi lebih lanjut. Dari segi jenis kelamin, jumlah perempuan . ,5%) lebih banyak dibandingkan laki-laki . ,5%). Perbedaan ini dapat mencerminkan kecenderungan bahwa perempuan lebih sering melakukan pemeriksaan kesehatan atau lebih proaktif dalam mengelola kondisi kesehatannya, termasuk dalam pemantauan tekanan darah. Berdasarkan jenis pekerjaan, (IRT) mendominasi dengan jumlah 51 orang . ,5%), diikuti oleh wiraswasta . ,3%), nelayan . ,3%), petani . ,3%), serta kategori lainnya . ,6%). Distribusi ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden berasal dari sektor pekerjaan informal yang memiliki tingkat aktivitas fisik dan stres kerja yang beragam, sehingga dapat berpengaruh terhadap kestabilan tekanan darah. Tabel 2. Kepatuhan minum Obat . = . Dalam responden memiliki tingkat pendidikan SMP . ,9%), disusul oleh SMA . ,3%). SD . ,7%), dan pendidikan lainnya . ,1%). Data ini mengindikasikan bahwa sebagian besar pasien hipertensi memiliki latar belakang pendidikan menengah, yang kemungkinan memengaruhi kemampuan mereka dalam memahami instruksi medis dan menjaga kepatuhan terhadap pengobatan. Berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT), sebanyak 71,6% responden memiliki status gizi normal, sementara 22,2% termasuk kategori kelebihan berat badan . , dan 6,2% tergolong obesitas. Walaupun mayoritas memiliki IMT dalam batas normal, proporsi responden dengan berat badan berlebih tetap menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan risiko hipertensi dan komplikasi kardiovaskular. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kategori hipertensi derajat 2 . ,7%), diikuti oleh hipertensi berat . ,3%), hipertensi derajat 1 . ,7%), dan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Kepatuhan Minum Obat Hipertensi Kepatuhan minum obat Rendah Frekuensi Sedang Tinggi Berdasarkan hasil penelitian yang melibatkan 162 responden, diperoleh gambaran bahwa tingkat kepatuhan pasien hipertensi terhadap konsumsi obat antihipertensi di RSUD Jailolo Mayoritas responden, yaitu 102 orang . ,0%), menunjukkan tingkat kepatuhan rendah, diikuti oleh 54 orang . ,3%) dengan tingkat kepatuhan sedang, sementara hanya 6 orang . ,7%) yang memiliki kepatuhan tinggi. Temuan ini mengisyaratkan bahwa sebagian besar pasien belum melaksanakan regimen terapi sesuai anjuran tenaga kesehatan secara konsisten, sehingga berpotensi memengaruhi efektivitas pengobatan dan kestabilan tekanan darah mereka. Kualitah Hidup Tabel 3. Kualitas Hidup berdasarkan Domain = . Domain Kualitas Hidup Fisik Psikologis Hubungan Sosial Lingkungan Median IQR MinimumAe Maksimum 46,43 7,14 32,14Ae67,86 50,00 8,33 29,17Ae79,17 50,00 8,33 25,00Ae58,33 50,00 9,38 37,50Ae75,00 Berdasarkan Tabel. 3, hasil analisis univariat kualitas hidup pasien hipertensi menunjukkan variasi antar domain WHOQOL-BREF. Domain fisik memiliki median skor terendah . , yang mengindikasikan bahwa keterbatasan fisik dan kondisi kesehatan Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2. Desember 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 masih menjadi masalah utama yang dirasakan pasien. Sebaliknya, domain menunjukkan median skor yang relatif lebih tinggi, yaitu masing-masing sebesar 50,00, meskipun dengan variasi skor yang cukup luas sebagaimana ditunjukkan oleh nilai IQR dan rentang minimumAemaksimum. Rentang skor yang lebar pada seluruh domain mencerminkan adanya perbedaan persepsi kualitas hidup antar individu, terutama pada aspek psikologis dan Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa kualitas hidup pasien hipertensi berada pada tingkat sedang, dengan aspek fisik sebagai domain yang paling terdampak dibandingkan domain Hubungan Kepatuhan dengan Kualitas Hidup Minum Obat Tabel 4. Hubungan Tingkat Kepatuhan Minum Obat dan Kualitas Hidup Pasien Hipertensi . = . Domain Kualitas Hidup Kepatuhan Minum Obat (Mean Ran. pRendah Sedang Tinggi . Fisik 77,44 88,08 91,25 2,180 0,336 Psikologis 73,41 93,88 107,58 9,220 0,010* Hubungan 78,24 84,21 112,58 4,949 0,084 Sosial Lingkungan 75,68 87,37 127,58 8,616 0,013* Keterangan: Uji statistik menggunakan KruskalAeWallis. * Bermakna secara statistik pada = 0,05 Berdasarkan hasil uji KruskalAeWallis, terdapat variasi skor kualitas hidup pasien hipertensi menurut tingkat kepatuhan minum obat pada beberapa domain WHOQOLBREF. Pada domain fisik, meskipun terlihat kecenderungan peningkatan mean rank seiring meningkatnya tingkat kepatuhan . ,44 pada kepatuhan rendah menjadi 91,25 pada kepatuhan tingg. , perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik (H = 2,180. = 0,. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan minum obat belum menunjukkan pengaruh yang bermakna terhadap persepsi kualitas hidup fisik pasien. Pada perbedaan yang bermakna secara statistik antar tingkat kepatuhan minum obat (H = Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 9,220. p = 0,. Mean rank skor kualitas hidup psikologis meningkat secara konsisten dari kelompok kepatuhan rendah . ke kepatuhan sedang . dan tertinggi pada kepatuhan tinggi . Temuan ini mengindikasikan bahwa pasien dengan kepatuhan minum obat yang lebih baik cenderung memiliki kondisi psikologis yang lebih positif, termasuk perasaan tenang, optimisme, dan kemampuan mengelola stres terkait penyakit kronis. Pada domain hubungan sosial, meskipun menunjukkan mean rank yang lebih besar . dibandingkan kelompok kepatuhan rendah . , perbedaan tersebut tidak mencapai signifikansi statistik (H = 4,949. Hal ini mengindikasikan bahwa kualitas interaksi sosial pasien hipertensi tidak semata-mata dipengaruhi oleh tingkat kepatuhan minum obat, tetapi kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lain seperti dukungan keluarga, peran sosial, dan kondisi lingkungan sosial. Sementara itu, pada domain lingkungan, terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara tingkat kepatuhan minum obat dan kualitas hidup (H = 8,616. p = 0,. Mean rank tertinggi terdapat pada kelompok kepatuhan tinggi . , diikuti kepatuhan sedang . dan kepatuhan rendah . Hasil ini menunjukkan bahwa pasien yang patuh terhadap pengobatan cenderung memiliki persepsi yang lebih baik terhadap aspek lingkungan, termasuk rasa aman, akses pelayanan kesehatan, ketersediaan sumber daya, dan kondisi tempat tinggal. Secara menunjukkan bahwa kepatuhan minum obat dengan kualitas hidup pada domain psikologis dan lingkungan, namun tidak berhubungan signifikan pada domain fisik Temuan menegaskan bahwa dampak kepatuhan pengobatan pada pasien hipertensi lebih kuat tercermin pada aspek non-fisik kualitas hidup, khususnya kesejahteraan psikologis dan persepsi terhadap lingkungan hidup. PEMBAHASAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas pasien hipertensi masih berada pada tingkat kepatuhan minum obat yang Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2. Desember 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 rendah, dengan kualitas hidup yang secara umum berada pada kategori sedang di seluruh domain WHOQOL-BREF. Uji bivariat memperlihatkan adanya hubungan yang signifikan antara kepatuhan minum obat dan kualitas hidup pada domain psikologis serta Sebaliknya, tidak ditemukan hubungan signifikan pada domain fisik dan Temuan mengindikasikan bahwa kepatuhan terhadap terapi antihipertensi tidak berdampak seragam pada seluruh aspek kualitas hidup, melainkan memengaruhi domain tertentu secara lebih dominan. Berdasarkan kerangka Health Belief Model (HBM), perilaku kepatuhan dipengaruhi oleh persepsi individu terhadap kerentanan . erceived susceptibilit. , tingkat keparahan penyakit . erceived severit. , manfaat pengobatan . erceived benefit. , hambatan yang dirasakan . erceived barrier. , isyarat untuk bertindak . ues to actio. , serta efikasi diri . elf-efficac. Hubungan signifikan antara kepatuhan dan kualitas hidup pada domain psikologis dapat dipahami melalui mekanisme tersebut, di mana keyakinan terhadap manfaat terapi dan efikasi diri yang baik mendorong perilaku patuh, yang selanjutnya berkontribusi pada stabilitas emosional, rasa aman, dan kontrol psikologis terhadap penyakit. Hal ini mendukung pandangan bahwa kepatuhan pengobatan tidak hanya berimplikasi pada aspek klinis, tetapi juga berperan dalam meningkatkan kesejahteraan mental pasien . Signifikansi lingkungan juga sejalan dengan perspektif HBM. Pasien yang patuh umumnya memiliki akses yang lebih baik terhadap informasi kesehatan, pelayanan medis, serta dukungan sistem layanan, yang berfungsi sebagai cues to action. Kondisi lingkungan yang mendukungAitermasuk ketersediaan obat, kemudahan menjangkau fasilitas kesehatan, dan interaksi yang konstruktif dengan tenaga kesehatanAidapat mengurangi hambatan yang dirasakan dan memperkuat perilaku Pada saat yang sama, faktorfaktor tersebut turut meningkatkan persepsi kualitas hidup pada domain lingkungan. Temuan ini konsisten dengan laporan sebelumnya yang menunjukkan keterkaitan antara kepatuhan pengobatan dan persepsi positif terhadap sistem pelayanan kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman serta lingkungan tempat tinggal pasien . ,7,12,. Tidak bermakna pada domain fisik dan hubungan determinan kualitas hidup pada pasien Secara HBM mengasumsikan bahwa perilaku kesehatan akan menghasilkan perbaikan kesehatan. namun pada hipertensi, manfaat fisik dari kepatuhan sering kali tidak dirasakan secara langsung karena karakter penyakit yang kronis dan sering tanpa gejala. Selain itu, sebagian besar responden berada pada kelompok usia lanjut dan memiliki tingkat hipertensi sedang hingga berat, yang berpotensi menyebabkan keterbatasan fisik menetap meskipun kepatuhan pengobatan relatif baik. Temuan ini sejalan dengan laporan Mannan et al. dan Kim yang menegaskan bahwa komorbiditas serta lamanya menderita penyakit memiliki kontribusi besar terhadap penurunan kualitas hidup fisik, terlepas dari tingkat kepatuhan minum obat . Pada domain hubungan sosial, tidak signifikannya hubungan dengan kepatuhan dapat dipahami melalui pengaruh faktor eksternal yang lebih dominan, seperti dukungan keluarga, peran sosial, kondisi ekonomi, dan norma budaya. Dalam kerangka HBM, faktor-faktor tersebut dikategorikan sebagai modifying factors yang memengaruhi perilaku dan hasil kesehatan secara tidak langsung. Tinjauan sistematik oleh Shahin et al. menegaskan bahwa independen terhadap kepatuhan dan kualitas hidup, sehingga kepatuhan pengobatan saja belum tentu cukup untuk meningkatkan kualitas hidup sosial pasien hipertensi . samping itu, jumlah item yang terbatas pada WHOQOL-BREF pengukuran pada domain ini . Secara umum, hasil penelitian ini selaras dengan sejumlah studi terdahulu yang melaporkan adanya hubungan antara kepatuhan minum obat dan kualitas hidup pasien hipertensi, khususnya pada aspek psikologis dan lingkungan . Ae7,21Ae. Namun, perbedaan temuan pada domain fisik mempertimbangkan karakteristik populasi, kondisi klinis, serta konteks sosial budaya Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2. Desember 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 dalam menafsirkan hubungan tersebut. Dengan demikian, kepatuhan pengobatan dapat dipandang sebagai determinan penting kualitas hidup, tetapi tidak berdiri sendiri sebagai satu-satunya faktor penentu. Dari sisi praktis, temuan ini menekankan perlunya strategi peningkatan kepatuhan minum obat yang tidak hanya berfokus pada berbasis HBM. Upaya peningkatan persepsi manfaat, pengurangan hambatan, serta penguatan efikasi diri pasien menjadi kunci dalam meningkatkan kepatuhan sekaligus Sejumlah menunjukkan bahwa intervensi berbasis HBM efektif dalam memperbaiki kepatuhan dan kualitas hidup pada pasien hipertensi maupun penyakit kronis lainnya . Ae. Dalam praktik layanan kesehatan, khususnya keperawatan, pendekatan edukasi dan konseling psikososial perlu diintegrasikan hipertensi guna mendukung kesejahteraan psikologis dan persepsi lingkungan pasien. Secara teoretis, penelitian ini memperkuat penerapan HBM dalam konteks hipertensi di Indonesia dengan menunjukkan bahwa perilaku kesehatan berupa kepatuhan minum obat memiliki dampak multidimensional terhadap kualitas hidup. Temuan ini juga kerangka HBM dengan mempertimbangkan peran faktor lingkungan dan sosial sebagai determinan penting kualitas hidup, bukan sekadar sebagai faktor pendukung perilaku Adapun keterbatasan penelitian ini perlu Desain cross sectional membatasi kemampuan untuk menarik kesimpulan kausal antara kepatuhan dan kualitas hidup. Penggunaan instrumen berbasis laporan diri berpotensi menimbulkan bias sosial dan kesalahan ingatan. Selain itu, variabel lain yang berpotensi memengaruhi kualitas hidup, seperti dukungan sosial, lama menderita hipertensi, dan jumlah komorbiditas, belum dianalisis secara mendalam. Oleh karena itu, penelitian berikutnya disarankan untuk menggunakan desain longitudinal atau mixed-method, memperluas populasi ke menambahkan variabel seperti tingkat Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman dukungan keluarga. Selain itu, penerapan analisis model struktural (Structural Equation Modelin. mengidentifikasi mekanisme hubungan tidak langsung antara kepatuhan pengobatan dan kualitas hidup pasien hipertensi. SIMPULAN Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat kepatuhan minum obat antihipertensi dengan kualitas hidup pasien hipertensi di RSUD Jailolo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan minum obat memiliki hubungan dengan kualitas hidup pada domain psikologis dan lingkungan, sedangkan pada domain fisik dan hubungan sosial tidak ditemukan hubungan yang bermakna. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap terapi antihipertensi tidak berdampak secara merata pada seluruh aspek kualitas hidup, melainkan lebih berpengaruh pada dimensi tertentu yang berkaitan dengan kondisi mental serta persepsi terhadap lingkungan dan layanan Ditinjau dari perspektif teoretis, hasil penelitian ini mendukung relevansi Health Belief Model (HBM) dalam menjelaskan perilaku kepatuhan minum obat serta konsekuensinya terhadap kualitas hidup pasien hipertensi. Kepatuhan sebagai perilaku kesehatan tidak hanya dipengaruhi oleh persepsi individu mengenai manfaat dan hambatan pengobatan, tetapi juga berkaitan dengan luaran psikososial yang bersifat kompleks dan multidimensional. Dengan pemahaman dalam kerangka HBM bahwa kualitas hidup, terutama pada domain psikologis dan lingkungan, merupakan salah satu hasil penting dari perilaku kepatuhan pengembangan model konseptual. Dari aspek praktis, penelitian ini memberikan kontribusi bagi upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan, khususnya dalam manajemen pasien hipertensi. Strategi untuk meningkatkan kepatuhan minum obat sebaiknya dilakukan secara menyeluruh melalui pendekatan edukatif dan konseling yang tidak hanya menitikberatkan pada terapi farmakologis, tetapi juga mengakomodasi kondisi psikologis dan lingkungan pasien. Temuan ini dapat dimanfaatkan oleh tenaga Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2. Desember 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 kesehatan, terutama perawat, sebagai landasan dalam merancang intervensi berbasis perilaku dan pendidikan kesehatan yang lebih terarah guna mendukung peningkatan kualitas hidup pasien hipertensi. Namun demikian, penelitian ini memiliki Penggunaan desain cross sectional membatasi kemampuan untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat. Selain itu, beberapa faktor lain yang berpotensi dukungan sosial, durasi menderita hipertensi, diikutsertakan dalam analisis. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk menerapkan desain longitudinal atau intervensi, memperluas cakupan populasi, serta menambahkan variabel psikososial atau pendekatan kualitatif guna memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai dinamika kepatuhan minum obat dan kualitas hidup pada pasien hipertensi. UCAPAN TERIMA KASIH Peneliti menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada pihak manajemen serta seluruh staf RSUD Jailolo atas izin dan pelaksanaan pengumpulan data. Ucapan terima kasih yang mendalam juga ditujukan kepada para responden yang telah dengan sukarela berpartisipasi dan memberikan kerja sama yang baik sepanjang proses penelitian Tidak lupa, peneliti memberikan penghargaan yang tulus kepada dosen pembimbing dan rekan sejawat atas bimbingan, saran, serta masukan berharga yang telah membantu dalam penyusunan dan penyelesaian penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA