JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Juni 2024. PP 31-37 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 https://journal. id/widyadidaktika PRINSIP KESANTUNAN TUTURAN DALAM BAHASA JAWA Kinasih Yuliastuti1*. Bayu Indrayanto2, dan Ike Anisa2 1SMA N 1 Wedi Klaten 23FKIP Universitas Widya Dharma Klaten *E-mail: kinasihyuliastuti@gmail. Abstrak Prinsip kesantunan tuturan dalam bahasa Jawa merupakan pemakaian bahasa Jawa yang terjdi di masyarakat Jawa. Dalam menggunakan bahasa Jawa penutur harus memahami unggah-ungguh, akan tetapi sering terjadi kesalahan dalam penggunaan leksikon. Hal ini tidak dapat disalahkan sepenuhnya, sebab itu dapat terjadi karena adanya beberapa faktor, misalnya : kurangnya pengetahuan penutur tentang konsep unggah-ungguh dalam berbahasa Jawa, kurangnya penguasaan kosa kata bahasa Jawa oleh penutur. Biasanya hal ini dialami oleh pendatang yang telah lama menetap di luar Jawa atau oleh kaum muda . hususnya anak-ana. yang belum mengerti dan menguasai tentang unggah-ungguh. kesantunan berbahasa mencerminkan budi halus dan pekerti luhur seseorang dengan tidak menyakiti perasaan dan memberikan pilihan kepada orang lain. Prinsip kesantunan berbahasa itu bermakna sebuah sikap kepedulian kepada wajah atau muka, baik milik penutur, maupun milik mitra tutur. Kata Kunci: prinsip kesantunan, tingkat tutur Abstract The politeness principle speech act in Javanese is the use of Javanese that occurs in Javanese society. In using Javanese, speakers must understand speech act, however, errors often occur in the use of the This cannot be completely blamed, because it can occur due to several factors, for example: the speaker's lack of knowledge about the concept of speech act in Javanese, the speaker's lack of mastery of Javanese vocabulary. Usually this is experienced by immigrants who have lived outside Java for a long time or by young people . specially childre. who do not yet understand and master uploading. Politeness in language reflects a person's refined manners and noble character by not hurting feelings and giving choices to other people. The principle of language politeness means an attitude of concern for the face or face, both of the speaker and of the interlocutor. Keywords: politeness principle, speech act JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Juni 2024. PP 31-37 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 https://journal. id/widyadidaktika PENDAHULUAN Setiap individu dalam masyarakat yang melakukan interaksi bahasa, baik sebagai penutur maupun mitra tutur hendaknya memahami dan mematuhi kaidah kesantunan berbahasa demi keharmonisan diantaranya dalam upaya menghindari konflik dan gesekan bahasa. Kesantunan berbahasa berkaitan erat dengan penggunaan bahasa yang diujarkan masyarakat penutur Kesantunan dilatarbelakangi oleh adanya konteks yang berkaitan dengan tempat, waktu, situasi, dan latar belakang penutur baik itu budaya, sosial, pekerjaan dan sebagainya (Wijana. Berdasarkan pengalaman pribadi penulis mengunjungi berbagai daerah dengan latar belakang budaya berbeda, terkadang aplikasi kesantunan berbahasa yang diwujudkan dalam ujarannya itu berbeda-beda. Namun secara umum watak orang Indonesia dikenal sebagai bangsa yang menjunjung tinggi kesantunan dalam masyarakat Jawa yang kental dengan METODE PENELITIAN Artikel tentang AuPrinsip Kesantutan dalam Bahasa JawaAy dapat dikategorikan sebagai penelitian diskriptif, karena berupaya mencari kebenaran ilmiah dengan meneliti objek penelitian secara mendalam untuk memperoleh hasil yang cermat (Subroto. Edi. Jenis penelitian ini berbentuk deskriptif kualitatif dengan setting apa adanya . atural settin. yang pada dasarnya mendeskripsikan secara kualitatif dalam bentuk kata-kata dan bukan angka-angka matematis atau statistik. Data yang digunakan dari data lisan berupa tuturan dalam masyarakat Jawa disekitar penulis. Sumber data berdasarkan data lisan. Pengumpulan data menggumakam metode simak atau penyimakan yaitu menyimak penggunaan bahasa (Sudaryanto. Adapun teknik dasar yang dipakai adalah teknik sadap, sedangkan teknik lanjutan yang penulis gunakan yaitu teknik simak bebas libat cakap (SBLC), teknik rekam dan teknik catat. Teknik sadap digunakan untuk mendapatkan data. Dengan segenap pikiran dan kemampuan penulis menyadap pembicaraan atau penggunaan bahasa seseorang atau beberapa orang. Teknik ini juga dilakukan pada data yang berbentuk tulisan. Teknik SBLC penulis tidak ikut campur dalam proses pembicaraan baik sebagai pembicara maupun lawan bicara, baik secara bergantian maupun tidak, baik yang bersifat komunikasi . ua arah dan timbal bali. , maupun yang bersifat kontak . atu ara. Teknik analisis yang digunakan adalah metode Padan (Sudaryanto, 2. Teknik dasar: teknik Pilah Unsur Penentu (PUP). Alatnya adalah daya pilah yang bersifat metal yang dimiliki oleh peneliti. Teknik lanjutan : teknik hubung banding menyamakan . eknik HBS), alatnya: penyamakan standard penyamakan atau membedakan . eknik HBB), alatnya: standard pemerbedaan atau pembakuan. HASIL DAN PEMBAHASAN Prinsip Kesantunan Berbeda dengan prinsip kerjasama yang hanya dicetuskan oleh Cummings Louise . https://journal. id/widyadidaktika JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Juni 2024. PP 31-37 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 dikemukakan oleh banyak ahli. Dasar pendapat para ahli tentang konsep kesantunan, itu berbeda-beda. Dua wujud itu adalah prinsip kesantunan dan teori kesantunan . alam Rustono, 1999: 65-. Prinsip . oliteness principl. itu berkenaan dengan aturan tentang hal-hal yang bersifat sosial, estetis, (Harimurti,2. Alasan dicetuskannya prinsip kesantunan adalah bahwa di dalam tuturan penutur tidak cukup hanya mematuhi prinsip kerjasama. Prinsip kesantunan diperlukan untuk melengkapi prinsip kerjasama dan mengatasi kesulitan yang timbul akibat-akibat penerapan prinsip kerjasama . alam Rustono, 1999: . Prinsip kesantuan menurut Yule . tidak berkenaan dengan kaidahkaidah, tetapi menyangkut strategi-strategi . alam Rustono, 1999: . Ada lima strategi kesantuan yang dapat dipilih, strategi-strategi tersebut adalah: Melakukan tindak tutur secara apa adanya, tanpa basa-basi, dengan mematuhi prinsip kerjasama Grice. Melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan positif. Melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan negatif. Melakukan tindak tutur secara off records, dan . Tidak melakukan tindak tutur atau diam Secara lengkap Leech . 3: . mengemukakan prinsip kesantunan yang meliputi, maksim kebijaksanaan . act maxi. , maksim kemurahan . enerosity maxi. , maksim penerimaan . pprobation maxi. , maksim kerendahan hati . odesty maxi. , maksim kecocokan . greement maxi. , dan maksim kesimpatian . ympathy Prinsip kesantunan ini berhubungan dengan dua peserta percakapan, yakni diri sendiri, dan orang lain . Diri sendiri adalah penutur, dan orang lain adalah lawan tutur dan orang ketiga yang dibicarakan penutur dan lawan tutur. Sebelum membicarakan lebih jauh keenam maksim kesantunan di atas ada baiknya terlebih dahulu diterangkan mengenai bentuk-bentuk ujaran yang digunakan untuk mengekspresikan maksimmaksim di atas. Bentuk-bentuk ujaran yang dimaksud adalah bentuk ujaran imprositif, komisif, ekspresif, dan asertif. Bentuk ujaran komisif adalah bentuk ujaran yang berfungsi untuk menyatakan janji atau Ujaran impositif adalah ujaran yang digunakan untuk menyatakan perintah atau suruhan. Ujaran ekspresif adalah ujaran yang digunakan untuk menyatakan sikap psikologis pembicara terhadap sesuatu Ujaran asertif adalah ujaran yang lazim digunakan untuk menyatakan kebenaran proposisi yang diungkapkan. Maksim Kebijaksanaan Maksim ini diungkapkan dengan tuturan impositif dan komisif. Maksim ini menggariskan setiap peserta pertuturan untuk meminimalkan kerugian orang lain, atau memaksimalkan keuntungan bagi orang Maksim Penerimaan Maksim dengan kalimat komosif dan impositif. Maksim ini mewajibkan setiap peserta tindak tutur untuk memaksimalkan bagi diri sendiri, dan meminimalkan keuntungan diri Maksim Kemurahan Berbeda kebijaksanaan dan maksim penerimaan, maksim kemurahan diutarakan dengan https://journal. id/widyadidaktika JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Juni 2024. PP 31-37 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 kalimat ekspresif dan kalimat asertif. Penggunaan kalimat ekspresif dan asertif ini jelaslah bahwa tidak hanya dalam menyuruh dan menawarkan sesuatu seseorang harus mengungkapkan perasaan, dan menyatakan pendapat ia tetap diwajibkan berprilaku Maksim kemurahan menuntut memaksimalkan rasa hormat kepada orang lain, dan meminimalkan rasa tidak hormat kepada orang lain. Maksim Kerendahan Hati Maksim kerendahan hati juga diungkapkan dengan kalimat akspresif dan Bila maksim kemurahan berpusat pada orang lain, maksim kerendahan hati berpusat pada diri sendiri. Maksim kerendahan hati menuntut setiap peserta ketidakhormatan pada diri sendiri, dan meminimalkan rasa hormat pada diri sendiri. Maksim Kecocokan Seperti halnya maksim penerimaan dan maksim kerendahan hati, maksim kecocokan juga diungkapkan dengan kalimat ekspresif dan asertif. Maksim kecocokan menggariskan setiap penutur dan kecocokan di antara mereka, dan meminimalkan ketidakcocokan di antara Maksim Kesimpatian Sebagaimana kecocokan, maksim ini juga diungkapkan dengan tuturan asertif dan ekspresif. Maksim kesimpatian ini mengharuskan meminimalkan rasa antipati kepada lawan Jika lawan tutur mendapatkan kesuksesan atau kebahagiaan, penutur wajib memberikan ucapan selamat. Bila lawan tutur mendapatkan kesusahan, atau musibah penutur layak berduka, atau mengutarakan ucapan bela sungkaa sebagai tanda Kesantunan Tuturan dalam Bahasa Jawa Ketidaktepatan penggunaan tuturan/unggahungguh dalam bahasa Jawa dapat dikarenakan penguasaan yang kurang terhadap leksikon-leksikon bahasa Jawa, atau kurangnya pemahaman terhadap konsep ragam ngoko dan ragam krama. Contoh: Nyuwun pamit Pak, kula badhe kondur. APermisi pulang Bu, saya mau pulang. Konteks: berpamitan kepada tuan rumah. Frase badhe kondur tidak tepat, lebih tepat jika menggunakan badhe mantuk. Frase badhe kondur merupakan leksikon krama yang tidak tepat digunakan jika untuk menyatakan hal tentang dirinya sendiri. Penutur mungkin maksudnya baik, jika berbicara dengan orang yang lebih tua menggunakan ragam krama, namun penutur salah bahwa dalam unggah-ungguh bahasa Jawa juga mengenal merendahkan status leksikon-leksikon menunjuk dirinya tidak boleh dikramakan. Yen angsal, mangpundhutke gangsal iji mawon kangge kula AJika boleh. Anda mintakan lima biji saja untuk saya. Data 2 merupakan leksikon krama andhap yang digunakan oleh O1 yaitu oleh AsayaA. Namun, mangpundhutke menjadikan kalimat tidak dikarenakan O1 . menggunakan bentuk krama inggil pundhut Aminta, beli, ambilA untuk diri sendiri. Sehingga kata mangsuwunke diganti mangsuwunke pada data 2 menjadi berterima. https://journal. id/widyadidaktika JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Juni 2024. PP 31-37 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 Panjenengan kersa kula tukokaken gethuk goreng ? AAnda mau saya belikan . getuk goreng ?A Mbak Darmi badhe menehaken buku waosan punika . dhateng Pak Daliman. AKak Darmi akan memberikan buku bacaan ini kepada Pak Daliman. Begitu pula halnya dengan sufiks aken (-kake. yang terdapat pada contoh . di atas, sufiks itu tidak dapat bergabung dengan kata tuku AbeliA seperti pada *tukokaken AbelikanA . dan tidak dapat bergabung dengan kata weneh AberiA seperti pada *menehaken AmemberikanA . sehingga kalimat . pun tergolong Ketidakberterimaan kedua kalimat tersebut disebabkan pada kata tuku dan weneh mempunyai padanan bentuk krama dan krama inggil. Karena mempunyai padanan bentuk krama dan krama inggil, leksikon krama dan krama inggil itulah yang seharusnya dilekati afiks -ipun (-nipu. Jika kaidah ini dilanggar, kalimat akan menjadi tidak berterima. Padanan leksikon ngoko tuku adalah tumbas, dan padanan leksikon ngoko weneh adalah atur/caos. Sehubungan dengan itu, agar kalimat 3a menjadi berterima, kata tuku harus diganti dengan kata tumbas dan kata wenehaken diganti dengan aturaken/caosaken pada kalimat 3b, sehingga ubahannya menjadi. Panjenengan kersa kula tumbasaken gethuk goreng ? Mbak Darmi nyaosaken/ngaturaken buku waosan . Pak Daliman. Dalam unggah-ungguh bahasa Jawa terdapat fenomena dimana penutur akan merendahkan diri lewat bentuk ragam Penutur akan menggunakan kata/leksikon menyatakan dirinya dan memilih leksikon krama untuk mitra tuturnya. Anak-anak ketika berbicara dengan orang . A: Bu lawuhe apa? : kuwi le, neng njero lemari. Terjemahan : :ABu, lauknya apa?A) : AItu nak, di dalam almari. Konteks: seorang anak ketika pulang sekolah, lapar dan segera menuju Kurangnya unggah-ungguh Jawa menyebabkan terjadinya fenomena tersebut. Bisa saja anak itu berasal dari latar belakang sosial keluarganya. ayahnya berasal dari luar Jawa dan Ibu dari Jawa. Sangat dimungkinkan bahasa Jawa bukan menjadi prioritas utama dalam bertutur, apalagi dalam hal membedakan krama dan ngoko. Atau mungkin memang orang tuanya tidak mengajarkan unggah-ungguh bahasa Jawa, anak mendapat pembelajaran bahasa Jawa dari lingkungannya. Ketika orang tua berbicara kepada anaknya . asih keci. A : Mangke adik menawi sampun rampung matur nggeh. B : Nggeh Bu! Terjemahan : A :ANanti adik kalau sudah selesai, bilang ya. B : AYa Bu!A Konteks: orang tua sedang memberi pesan kepada anaknya yang sedang belajar. Pada tuturan orang tua tersebut bukan dalam rangka menghormati anaknya, tetapi dalam rangka mengajarkan kepada anak tentang unggah-ungguh bahasa Jawa. Keakraban yang melunturkan status sosial dan unggah-ungguh bahasa Jawa. JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Juni 2024. PP 31-37 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 https://journal. id/widyadidaktika . A : Ne, kenthongane wis mbok B : Durung Yu, kenthongen! Terjemahan : A : ANe, kenthongan itu sudah kamu pukul?A B :ABelum Yu, pukullah!A Konteks: Pembicaraan di pos ronda. berumur 30 tahun, seorang dosen dan B berumur 25 tahun, seorang karyawan pabrik. Mereka teman bermain sejak kecil. Bila A dan B bukan teman bermain sejak kecil atau tingkat keakrabannya kurang bahkan tidak akrab. B sangat dimungkinkan akan menggunakan ragam krama saat bertutur kepada A. : Ne, kenthongane wis mbok : Dereng Pak, dikenthong Terjemahan : : ANe, kenthongan itu sudah kamu pukul?A : ABelum Pak, pukullah! Tidak akrab dan kebutuhan akan sesuatu, penutur memunculkan bentuk bahasa krama kepada mitra tutur. A : Ndherek tanglet Mas! B : Njih Mas. A : Dalemipun Bu Marini menika pundi nggih? B : O. pertigaan niku ngetan, griya nomor kalih madhep ngaler. Terjemahan : A : AMau tanya Mas!A B : AYa Mas. A : ARumahnya Bu Marini itu dimana ya?A B : AO. pertigaan itu ke timur, rumah nomor dua menghadap ke utara. Konteks: A bertanya ke B mengenahi Marini, menunjukkan denah yang ada. Ketidakakraban penutur dengan mitra tutur dapat memunculkan ragam krama, padahal bisa jadi salah satu dari mereka memiliki usia yang lebih muda, status sosial yang lebih rendah, atau yang lainnya. Status sosial mitra tutur lebih rendah, maka mitra tutur harus menggunakan ragam krama kepada atasannya . meskipun jauh lebih muda dari penutur. A : Pak, sukete ngarep omah wis mbok resiki? B : Injih, sampun. Terjemahan : A : APak, rumput depan rumah itu sudah kau bersihkan?A B :AIya, sudah. Konteks: A adalah seorang juragan. B adalah tukang kebun Pak Bayu. Meskipun Nene berumur lebih tua, selayaknya dia menggunakan ragam krama kepada Bayu karena status sosialnya. Status sosial dalam hal ini sangat berperan penting dalam menentukan unggah-ungguh yang harus digunakan oleh penutur. Ciri kesantunan berbahasa menurut Chaer yaitu . semakin panjang tuturan seseorang semakin besar pula keinginannya untuk bersikap santun kepada lawan tuturnya, . tuturan yang diutarakan secara tidak langsung, lebih santun dibandingkan dengan tuturan yang diutarakan secara langsung, . memerintah dengan kalimat berita atau kalimat tanya dipandang lebih santun dibandingkan dengan kalimat perintah . Faktor pemakaian bahasa yang tidak santun di antaranya yaitu: menyampaikan kritik secara langsung dengan berkata kasar. emosi pada diri . protektif terhadap pendapat . penutur sengaja memojokkan mitra tutur. menuduh atas dasar kecurigaan terhadap mitra tutur. Faktor yang mempengaruhi kesantunan dalam bertutur dibedakan menjadi dua yaitu: . faktor kebahasaan seperti, intonasi, nada, pilihan JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Juni 2024. PP 31-37 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 https://journal. id/widyadidaktika kata . faktor nonkebahasaan seperti, pranata sosial budaya masyarakat, sikap penutur, topik yang dibicarakan. SIMPULAN Masyarakat Jawa bahasa Jawa harus mengenal unggahungguh, akan tetapi sering terjadi kesalahan dalam penggunaan leksikon. Hal ini tidak dapat disalahkan sepenuhnya sebab itu dapat terjadi karena adanya beberapa faktor, misalnya : kurangnya pengetahuan penutur tentang konsep unggah-ungguh dalam berbahasa Jawa, kurangnya penguasaan kosa kata bahasa Jawa oleh penutur. Biasanya hal ini dialami oleh pendatang yang telah lama menetap di luar Jawa atau oleh kaum muda . hususnya anak-ana. yang belum mengerti dan menguasai tentang unggah-ungguh. Kebiasaan menggunakan bahasa selain bahasa Jawa dalam pergaulan sehari-hari atau bahasa Jawa berupa ngoko, dikarenakan : . alasan keakraban antara O1 dan O2 . kemungkinan adanya perbedaan wilayah asal antara penutur dan mitra tutur . penggunaan bahasa ngoko lebih banyak digunkan sebab lebih mudah dipahami dalam menyampaikan informasi. Sehingga, mencerminkan budi halus dan pekerti luhur seseorang dengan tidak menyakiti perasaan dan memberikan pilihan kepada orang lain. Prinsip kesantunan berbahasa itu bermakna sebuah sikap kepedulian kepada wajah atau muka, baik milik penutur, maupun milik mitra tutur. Wajah dalam hal ini bukan berarti rupa fisik, akan tetapi public image atau harga diri. Harimurti Kridalaksana. Kamus Linguistik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Leech. Geoffrey. Prinsip-Prinsip Pragmatik (Alih Bahasa D. Ok. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. Rustono. Pokok-Pokok Pragmatik. Semarang: CV. IKIP Semarang Press. Subroto. Edi. Metode Penelitian Linguistik Tahap Awal. Yogyakarta : UNS Press. Sudaryanto. Metode dan Aneka Analisis Bahasa. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Wijana. I Dewa Putu. Dasar-Dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi Offset. Yule. George. Pragmatik. Penerjemah. Indah Fajar Wahyuni dan Rombe Mustajab. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. DAFTAR PUSTAKA