Jurnal Pengabdian West Science Vol. No. Oktober, 2024, pp. Peningkatan Pemahaman Manajemen Terpadu Balita Sakit Berbasis Masyarakat Nurhasmadiar Nandini1*. Rani Tiyas Budiyanti2. Septo Pawelas Arso3. Wulan Kusumastuti4. Sutopo Patria Jati5 1,2,3,4,5 Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Diponegoro *Corresponding author E-mail: nurhasmadiar@lecturer. Article History: Received: Oct, 2024 Revised: Oct, 2024 Accepted: Oct, 2024 Abstract: Berdasarkan data Puskesmas Padangsari, diketahui bahwa cakupan pelayanan balita sudah mencapai 100% atau sebanyak 1. 167 balita pada Namun, kasus penyakit pada balita masih cukup tinggi. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk upaya peningkatan pengetahuan dan kemampuan masyarakat, khususnya ibu balita untuk menerapkan MTBS berbasis masyarakat di lingkungan rumah untuk penurunan angka kesakitan pada bayi dan balita. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan pada tahun 2024 dengan peserta kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah ibu bayi dan balita, kader FKK, dan kader kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Padangsari. Kegiatan dilaksanakan di Posyandu di Kelurahan Jabungan. Pada kegiatan tersebut disampaikan mengenai tanda bahaya pada balita, upaya perawatan di rumah untuk kasus diare, demam, dan batuk, perlindungan dari kekerasan dan kekerasan seksual bagi balita, dan lain sebagainya. Ibu balita di wilayah Puskesmas Padangsari khususnya di Kelurahan Jabungan menunjukkan partisipasi yang baik. Para ibu balita menunjukkan komitmen yang baik untuk melakukan pemantauan kesehatan balita mereka. Keywords: Pemahaman. Manajemen Terpadu Balita Sakit Berbasis Masyarakat. Kader. Ibu Balita Pendahuluan Pada tahun 2023, jumlah kasus pneumonia di Kota Semarang sebanyak 3293 kasus, dengan 2. 327 kasus diantaranya adalah balita. Sedangkan kasus diare hingga Juli 2023 sebanyak 21. 059 kasus (Dinas Kesehatan Kota Semarang, 2. Salah satu upaya penanganan kasus pneumonia dan diare pada balita adalah dengan menggunakan konsep Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) yang dapat dilaksanakan di level Puskesmas/FKTP, dan juga level masyarakat. Manajemen Terpadu Balita Sakit Berbasis Masyarakat (MTBS-M) merupakan https://wnj. westscience-press. com/index. php/jpws Vol. No. Oktober, 2024, pp. suatu pendekatan pelayanan kesehatan bayi dan anak balita yang terintegrasi dengan melibatkan masyarakat sesyai dengan standar Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Dengan pelibatan masyarakat tersebut, balita sakit dapat memperoleh penanganan dini yang tepat sehingga dapat menurunkan mortalitias dan morbiditas bayi dan anak balita (Sudirman & Ali, 2. Pada Buku Bagan MTBS yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, terdapat beberapa materi yang perlu disampaikan dan dilaksanakan oleh ibu balita di rumah, antara lain terkait cara pemberian obat di rumah, pengobatan infeksi lokal di rumah, pengenalan tanda bahaya pada balita, pemberian makan pada bayi dan balita, pencegahan cedera pada anak, dan lain sebagainya (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2. Puskesmas Padangsari merupakan salah satu puskesmas di Kota Semarang yang terletak di Kecamatan Banyumanik. Kota Semarang dengan wilayah kerja terdiri dari Kelurahan Padangsari. Kelurahan Pedalangan, dan Kelurahan Jabungan. Jumlah penduduk di wilayah Puskesmas Padangsari adalah 28. 880 jiwa. Berdasarkan data Puskesmas Padangsari, diketahui bahwa cakupan pelayanan balita sudah mencapai 100% atau sebanyak 1. 167 balita pada tahun 2023. Namun, kasus penyakit pada balita masih cukup tinggi. Untuk kasus pneumonia, tercatat 305 kasus pneumonia pada balita pada tahun 2023 dan juga masih ada beberapa kasus kejadian penyakit pada Berdasarkan hasil analisis situasi tersebut, maka perlu untuk dilaksanakan upaya peningkatan pengetahuan dan kemampuan masyarakat, khususnya ibu balita untuk menerapkan MTBS berbasis masyarakat di lingkungan rumah. Metode Pelaksanaan kegiatan pengabdian dilaksanakan selama 4 bulan, mulai bulan Februari-Juni 2024 di wilayah kerja Puskesmas Padangsari Kota Semarang. Peserta kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah ibu bayi dan balita, kader FKK, dan kader kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Padangsari. Tahapan kegiatan pengabdian ini antara lain: pertemuan tim pengabdian berserta mitra untuk izin dan koordinasi pelaksanaan kegiatan, analisis situasi dan persiapan pelaksanaan intervensi, penyusunan media edukasi, pelaksanaan intervensi, evaluasi kegiatan dan diskusi bersama, penyusunan laporan kegiatan dan artikel publikasi. Hasil Vol. No. Oktober, 2024, pp. Berdasarkan koordinasi dengan Puskesmas Padangsari, lokasi pelaksanaan difokuskan pada Posyandu di Kelurahan Jabungan. Jumlah Balita di Kelurahan Jabungan sebesar 402 balita, ditemukan 46 kasus pneumonia, dan 109 kasus diare pada tahun 2023. Penanganan pneumonia dan diare balita dapat dilakukan di Tingkat Puskesmas, namun untuk upaya pencegahan dan percepatan penyembuhan, keluarga atau ibu balita dapat menerapkan MTBS berbasis masyarakat di rumah. Penyusunan materi terkait Manajemen Terpadu Balita Sakit Berbasis Masyarakat berdasarkan buku bagan MTBS yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Materi disusun dalam bentuk lembar balik yang akan diberikan kepada Puskesmas. Kader, dan juga ibu balita di wilayah Puskesmas Padangsari. Gambar 1. Materi dalam Modul/Lembar Balik MTBS Berbasis Masyarakat Kegiatan dilaksanakan di Posyandu di Kelurahan Jabungan dihadiri oleh kader di Keluarahan Jabungan, perwakilan Puskesmas, serta ibu balita di wilayah Kelurahan Jabungan. Pada kegiatan tersebut disampaikan mengenai tanda bahaya pada balita, upaya perawatan di rumah untuk kasus diare, demam, dan batuk, perlindungan dari kekerasan dan kekerasan seksual bagi balita, dan lain sebagainya. Vol. No. Oktober, 2024, pp. Gambar 2. Pelaksanaan Kegiatan Peserta ibu balita menunjukkan respon yang baik pada saat pemaparan materi serta saat proses diskusi. Hal ini ditunjukkan dengan partisipasi aktif ketika proses Salah satu ibu menanyakan mengenai apakah diperbolehkan pemberian obat diare pada balita, sehingga dijelaskan pula bahwa jika terjadi diare pada balita diupayakan untuk tidak diberi obat sendiri melainkan dibawa ke Puskesmas untuk mendapatkan pengobatan yang sesuai dan pemeriksaan sehingga tidak terjadi dehidrasi pada balita. Selain itu, ibu balita juga menanyakan terkait perawatan rumah untuk kasus demam dan batuk. Hal ini penting karena tingginya kasus balita yang demam dan batuk. Kegiatan monitoring dan evaluasi dilakukan dengan berkoordinasi dengan Puskesmas dan Kader di Kelurahan Jabungan terkait respon dari ibu balita setelah proses pelaksanaan pengabdian. Hasil monitoring dan evaluasi menunjukkan bahwa ibu balita menjadi lebih aware dan waspada ketika balita mereka menunjukkan gejala penyakit dan segera ditindaklanjuti dengan membawa balita ke Puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Penyusunan laporan berdasarkan hasil kegiatan dan penyusunan artikel publikasi di jurnal pengabdian masyarakat. Selain itu modul MTBS berbasis masyarakat juga telah didaftarkan untuk mendapatkan HKI. Vol. No. Oktober, 2024, pp. Gambar 3. HKI Modul MTBS Berbasis Masyarakat Diskusi