Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 5 No. April 2013 FERMENTASI AMPAS KELAPA MENGGUNAKAN Trichoderma viride. Bacillus subtilis. DAN EM4 TERHADAP KANDUNGAN PROTEIN KASAR DAN SERAT KASAR SEBAGAI BAHAN PAKAN ALTERNATIF IKAN FERMENTATION OF COCONUT DREGS USING Trichoderma viride. Bacillus subtilis. AND EM4 AGAINST CRUDE PROTEIN AND CRUDE FIBER AS AN ALTERNATIVE FEED INGREDIENTS FOR FISH Hiprita Putri Karlina. Yudi Cahyoko dan Agustono Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Kampus C Mulyorejo - Surabaya, 60115 Telp. Abstract Feed plays an important role in fish farming. Feed requirements achieve 60-70% of the cost of fish farming operations. Availability of feed with quality and sufficient quantity is aimed in increasing fish production. A very high feed prices due to artificial feed ingredients used are expensive and required in large quantities. Therefore, it is necessary to find alternatives to fish directly or indirectly obtaining appropiate and adequate nutrition needs to grow. The raw material content used for feed is coconut dregs (Cocos nucifer. The availability of the coconut dregs is abundant and potensial for fish feed ingredients. The coconut dregs is also one type or plantation waste which still has potential to be processed into the manufacture of fish feed. The coconut dregs flour can be processed by fermentation to improve quality. This study was aimed to determine the increase in crude protein content and a decrease in crude fiber content of coconut dregs fermented with Trichoderma viride. Bacillus subtilis and EM4. The research method was an experiment with Completely Randomized Design (CRD). The treatments used without the addition of microbes (P. Bacillus subtilis 6% (P. Trichoderma viride 6% (P. , and EM4 6% (P. with 5 repeatitions each. The parameters observed were the content of crude protein and crude fiber after 7 days of fermentation. Data analysis used Analysis of Variance (ANOVA) and to determine the best treatments using Duncan Multiple Distance Test with 5% confidence interval. The results indicated that coconut dregs fermented with Bacillus subtilis (P. Trichoderma viride (P. , and EM4 (P. produced the difference of crude protein and fiber. The best treatment on the increase in crude protein content was Bacillus subtilis (P. The best treatment on the decrease in crude fiber content was EM4 (P. However, the results of the flour fermented coconut dregs can not be used as an alternative feed material because the fermented coconut dregs is not qualified for fish This is due to a lack of crude protein and high crude fiber content. Keywords : fermentation, coconut dregs, fish feed Pendahuluan Pakan memegang peranan penting dalam budidaya ikan. Kebutuhan pakan mencapai 60-70 % dari biaya operasional budidaya ikan (Hadadi dkk. , 2. Pemenuhan kebutuhan pakan yang berkualitas bagus dengan kuantitas yang cukup bertujuan untuk meningkatkan produksi perikanan (Suhana. Hal ini menyebabkan biaya yang dikeluarkan untuk pakan sangat tinggi. Harga pakan yang sangat tinggi disebabkan karena bahan baku pakan buatan yang digunakan mahal dan dibutuhkan dalam jumlah banyak. Oleh karena itu, perlu dicari alternatif lain agar ikan atau tidak memperoleh nutrisi yang sesuai dan mencukupi kebutuhannya untuk tumbuh dan berkembang Berbagai usaha telah dilakukan untuk memanfaatkan komponen nabati sebagai pengganti komponen hewani (Herviana, 2. Komponen nabati dapat menggunakan limbah rumah tangga, salah satunya adalah ampas kelapa (Cocos nucifer. karena persediaannya yang melimpah dan berpotensi menjadi bahan pakan ikan (Elyana, 2. Ampas kelapa juga merupakan salah satu jenis limbah hasil perkebunan yang masih memiliki potensi untuk diolah menjadi bahan pembuatan pakan ikan. Selama ini, ampas kelapa hanya dibuang atau dijadikan pakan ternak dengan harga pasar yang sangat rendah sehingga perlu diolah menjadi tepung ampas kelapa untuk meningkatkan nilai tambah (Kailaku dkk. , 2. Tepung ampas kelapa ini dapat diolah dengan cara fermentasi untuk meningkatkan kualitasnya. Pengolahan ampas Fermentasi Ampas Kelapa Menggunakan. kelapa melalui proses fermentasi dapat meningkatkan daya cerna proteinnya (Elyana. Fermentasi menggunakan mikroba bakteri, jamur, dan Kapang Trichoderma viride telah digunakan dalam fermentasi beberapa bahan pakan terutama bagi limbah, yang mampu memberikan hasil lebih baik dari pada Aspergillus kandungan protein kasar (Aboud, 1991 dalam Herviana, 2. Penggunaan bakteri Bacillus subtilis pada fermentasi dapat meningkatkan protein kasar pada limbah nangka (Ayuda. EM4 adalah campuran kultur yang mengandung Lactobacillus, jamur fotosintetik, bakteria fotosintetik. Actinomycetes, dan ragi (Arifin, 2. Fermentasi oleh Efektif Mikroorganisme-4 (EM. dapat menurunkan kadar serat kasar dan meningkatkan kadar energi daun ubi kayu (Santoso dan Aryani. Dari beberapa hasil penelitian, perlu dilakukan fermentasi pada ampas kelapa dengan berbagai macam mikroba untuk mencari hasil terbaik dalam meningkatkan kandungan protein kasar dan menurunkan serat kasar, sehingga ampas kelapa dapat dijadikan sebagai bahan baku alternatif untuk pakan ikan dalam menunjang produktivitas budidaya ikan. Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu: Mengetahui mikroba fermentor terbaik untuk menaikkan protein kasar ampas kelapa dan mengetahui mikroba fermentor terbaik untuk menurunkan serat kasar ampas kelapa. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada pembaca dan pembudidaya ikan mengenai kandungan protein kasar dan serat kasar ampas kelapa yang terfermentasi dengan berbagai jenis mikroba. Bahan ini diharapkan dapat digunakan sebagai alternatif bahan pakan pada ransum pakan buatan sehingga dapat menghemat biaya produksi pakan ikan. Metodologi Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dan Analisis Proksimat dilaksanakan di Laboratorium Pakan Ternak Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 20 Januari - 03 Maret 2012. Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari kantong plastik ukuran satu kg, baki, spuit, pH meter, timbangan digital, gelas ukur, botol sprayer, sendok, dan Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ampas kelapa (Cocos nucifera L. Trichoderma viride. Bacillus subtilis, probiotik Efektif Mikroorganisme-4 (EM. , dan tetes tebu. Ampas kelapa diperoleh dari para penjual makanan olahan di Surabaya. EM4 diperoleh dari PT. Songgolangit Persada. Bali. Trichoderma viride dan Bacillus subtilis diperoleh dari Laboratorium Bakteriologi dan Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Surabaya. Rancangan Penelitian Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan dan lima ulangan. Menurut Kusriningrum . , rumus yang digunakan untuk menentukan ulangan yang dilakukan adalah: Ou 15 Keterangan : t = total perlakuan . n = jumlah ulangan Penelitian kandungan protein kasar dan serat kasar dari ampas kelapa terfermentasi dengan perlakuan sebagai berikut. P0 : Ampas kelapa tetes tebu 3% aquadest 20% P1 : Ampas kelapa Bacillus subtilis 6% tetes tebu 3% aquadest 20% P2 : Ampas kelapa Trichoderma viride 6% tetes tebu 3% aquadest 20% P3 : Ampas kelapa EM4 6% tetes tebu 3% aquadest 20% Dosis Bacillus subtilis 6% berdasarkan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa fermentasi limbah nangka menggunakan Bacillus subtilis 6% menghasilkan kandungan protein tertinggi dan serat kasar terendah (Ayuda, 2. Dosis Trichoderma viride 6% berdasarkan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa fermentasi tepung kulit pisang menggunakan Trichoderma viride 5% mampu meningkatkan kandungan protein kasar dan serat kasar (Herviana, 2. Dosis tetes tebu 3% diperoleh dari literatur yang menyatakan bahwa penggunaan tetes tebu dalam pakan ikan berkisar 1-4 % (Luthan. Hasil dan Pembahasan Rata-rata hasil proksimat kandungan protein kasar berdasarkan bahan kering ampas kelapa yang difermentasi dengan Bacillus subtilis (P. Trichoderma viride (P. EM4 (P. dapat dilihat pada Tabel 1. Berdasarkan analisis statistik dengan menggunakan Analisis Varian Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 5 No. April 2013 dapat diketahui bahwa penggunaan B. viride dan EM4 pada proses fermentasi ampas kelapa menunjukkan adanya perbedaan nyata terhadap kandungan protein kasar berdasarkan bahan kering . < 0,. Berdasarkan hasil Uji Jarak Berganda Duncan (DuncanAos Multiple Range Tes. , maka diketahui bahwa kandungan protein kasar terendah adalah perlakuan P0 tetapi tidak berbeda nyata dengan P3 dan P2, dan kandungan protein kasar tertinggi adalah perlakuan P1 tetapi tidak berbeda nyata . >0. dengan perlakuan P2 dan P3. Tabel 1. Rata-rata Kandungan Protein Kasar Berdasarkan Bahan Kering Ampas Kelapa yang Difermentasi Kandungan Transformasi Perlakuan Protein Kasar (O. A SD (%) A SD 6,2301 A 2,4960 b A 0,4545 0,0921 7,5564 A 2,7489 a A 0,2919 0,0531 6,8982 A 2,6264 ab A 0,8580 0,1656 6,7926 A 2,6063 ab A 0,2457 0,0473 : Superskrip dalam kolom menunjukkan perbedaan nyata . <0,. Fermentasi menggunakan B. viride dan EM4 selama 7 hari yang disajikan pada Tabel 1 dan hasil Analisis Varian (ANOVA) menunjukkan memberikan pengaruh yang nyata atau signifikan pada peningkatan kandungan protein kasar ampas kelapa . <0,. Kandungan protein kasar tertinggi adalah pada penambahan subtilis (P. dengan rata-rata nilai kandungan sebesar 7,5564% namun tidak berbeda nyata dengan penambahan T. viride (P. dan EM4 (P. dengan nilai rata-rata kandungan protein kasar sebesar 6,8982% dan 6,7926%. Pada kandungan protein kasar terendah karena tidak ada penambahan fermentor . sehingga tidak dihasilkan enzim proteolitik yang berfungsi dalam peningkatan protein kasar. Penambahan B. subtilis dengan dosis 6% pada perlakuan P1 diketahui dapat meningkatkan kandungan protein kasar paling tinggi sebesar 7,5564% bila dibandingkan dengan T. viride 6% (P. dan EM4 6% (P. Hal ini disebabkan B. subtilis merupakan bakteri proteolitik dan menghasilkan enzim yang dapat bekerja pada kondisi lingkungan dengan suhu relatif tinggi dimana protein atau enzim lain dapat mengalami denaturasi. Salah satu protease mikroorganisme termofilik yaitu B. (Kosim dan Putra, 2. Bakteri ini dapat tumbuh optimum pada pH 4,5 dan suhu 40AC (Hossain Anantharaman, 2. Selama proses fermentasi memungkinkan untuk B. subtilis dapat tumbuh pada substrat karena suhu dan pH tetap terkendali berkisar 4-5. Enzim protease mampu memecah protein menjadi polipeptida, polipeptida akan dipecah menjadi polipeptida yang lebih sederhana kemudian dipecah lagi menjadi asam amino, sehingga asam amino tersebut dapat dimanfaatkan mikroba untuk memperbanyak Meningkatnya jumlah koloni mikroba selama proses fermentasi secara tidak langsung dapat meningkatkan protein kasar dari suatu bahan karena mikroba ini merupakan sumber protein sel tunggal (Wuryantoro, 2006 dalam Priskila, 2. Protein sel tunggal merupakan istilah yang digunakan untuk protein kasar murni yang berasal dari mikroorganisme bersel satu atau banyak yang sederhana, seperti bakteri, khamir, jamur, ganggang dan protozoa (Sumarlin, 2. Penambahan T. viride dengan dosis 6% (P. diketahui dapat meningkatkan protein kasar ampas kelapa namun tidak memberikan perbedaan yang nyata karena kapang ini cenderung lebih banyak menghasilkan enzim selulase pada bahan pakan yang berselulosa sehingga akan terangsang dikeluarkannya enzim selulase lebih banyak dibandingkan protease. Disisi lain. viride dapat menghasilkan enzim yang merupakan suatu protein sehingga tetap dapat meningkatkan protein bahan pakan (Poesponegoro, 1976 dalam Siregar, 2. Penambahan EM4 dengan dosis 6% (P. diketahui tidak dapat memberikan pengaruh yang nyata terhadap kandungan protein kasar ampas kelapa bila dibandingkan dengan B. subtilis 6% dan T. viride 6%. Hal ini disebabkan probiotik EM4 tidak mengandung mikroba proteolitik. EM4 memiliki kandungan bakteri Lactobacillus yang dominan, mikroba tersebut merupakan bakteri asam laktat. Bakteri asam laktat adalah kelompok bakteri yang mampu mengubah karbohidrat . menjadi asam laktat (Rostini, 2. Lactobacillus memiliki pH optimum 5-5,8 dengan pH maksimal 6,5 dan suhu optimum berkisar 25-30 AC (Nowroozi dkk. , 2. EM4 juga mengandung bakteri fotosintesis yang berfungsi membentuk zat-zat yang bermanfaat Fermentasi Ampas Kelapa Menggunakan. antara lain asam amino, asam nukleat dan karbohidrat dengan menggunakan sinar matahari sebagai sumber energi (Yuwono. Selama proses fermentasi berlangsung, kondisi lingkungan tidak mendukung untuk terjadinya fotosintesis sehingga protein kasar yang dihasilkan tidak optimal. Serat Kasar Rata-rata hasil proksimat kandungan serat kasar ampas kelapa berdasarkan bahan kering yang difermentasi dengan Bacillus subtilis (P. Trichoderma viride (P. EM4 (P. dapat dilihat pada Tabel 2. Berdasarkan analisis statistik dengan menggunakan Analisis Varian dapat diketahui bahwa penggunaan B. viride, dan EM4 pada proses fermentasi ampas kelapa menunjukkan adanya perbedaan yang sangat nyata terhadap kandungan serat kasar ampas kelapa berdasarkan bahan kering . <0,. Tabel 2. Rata-rata Kandungan Serat Kasar Berdasarkan Bahan Kering Ampas Kelapa yang Difermentasi Kandungan Transformasi Perlakuan Serat Kasar (O. A SD (%) A SD 25,0297 A 5,0029 a A 0,4826 0,0479 23,7269 A 4,8710 ab A 0,9515 0,0975 22,6432 A 4,7585 b A 0,9877 0,1033 22,3967 A 4,7325 b A 0,9242 0,0979 : Superskrip dalam kolom menunjukkan perbedaan nyata . <0,. Berdasarkan hasil Uji Jarak Berganda Duncan (DuncanAos Multiple Range Tes. , maka diketahui bahwa kandungan serat kasar tertinggi adalah perlakuan P0 namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan P1, sedangkan kandungan serat kasar terendah adalah perlakuan P3 namun tidak berbeda nyata . >0. dengan perlakuan P2 dan P1. Fermentasi menggunakan B. viride dan EM4 selama 7 hari yang disajikan pada Tabel 2 dan hasil Analisis Varian (ANOVA) menunjukkan memberikan pengaruh yang sangat nyata atau signifikan . <0,. pada penurunan kandungan serat kasar ampas kelapa bila dibandingkan dengan dosis 0% (P. Kandungan serat kasar terendah adalah pada penambahan EM4 (P. dengan rata-rata nilai kandungan sebesar 22,3967% namun tidak berbeda nyata dengan penambahan T. viride (P. dan B. subtilis (P. dengan nilai rata-rata kandungan serat kasar sebesar 22,6432% dan 23,7269%. Pada kandungan serat kasar tertinggi karena tidak ada penambahan fermentor . sehingga tidak dihasilkan enzim yang berfungsi dalam penurunan kandungan serat kasar. Penambahan subtilis dengan dosis 6% (P. dapat menurunkan kandungan serat kasar tetapi tidak memberikan pengaruh yang nyata bila dibandingkan dengan T. viride (P. dan EM4 (P. Hal ini disebabkan karena B. merupakan jenis bakteri yang potensial dalam menghasilkan enzim protease. Namun disisi lain, bakteri ini tetap dapat memproduksi enzim selulase dalam jumlah sedikit yang mampu mendegradasi selulosa. subtilis merupakan bakteri selulolitik yang memiliki kisaran pH 510 (Meryandini dkk. , 2. Sistem enzim selulase dibagi menjadi tiga kelmpok, yaitu endoselulase atau endoglukanase, eksoselulase Endoselulase bertugas menguraikan rantai polisakarida menjadi rantai baru berbentuk Eksoselulase menguraikan ujung rantai oligosakarida menjadi Glukosidase bertindak menguraikan disakarida menjadi monosakarida, yaitu glukosa . sebagai produk utama (Lynd et al. , 2. Glukosa sebagai sumber energi dalam pakan yang berguna untuk Hal tersebut sesuai dengan Hutagalung, . yang menyatakan bahwa glukosa digunakan untuk sumber energi dalam proses metabolisme. Penambahan T. viride dengan dosis 6% (P. diketahui dapat menurunkan kandungan serat kasar. viride merupakan kapang selulolitik yang menghasilkan enzim selulase dalam jumlah banyak dan sifatnya stabil (Noor , 1997 dalam Noor dkk. , 1. Meskipun demikian, kapang ini merupakan suatu organisme multiseluler terdiri dari konidia dan konidiofor yang tersusun menjadi hifa yang bersepta, kumpulan hifa disebut dengan Miselium inilah yang akan terlihat seperti kapas (McGinnis, 2003 dalam Jaelani. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Nuraini dkk. bahwa tingginya serat kasar disebabkan oleh perkembangan kapang karena miseliumnya yang mengandung serat kasar. Penambahan EM4 dengan dosis 6% (P. diketahui dapat menurunkan kandungan serat kasar terendah bila dibandingkan dengan subtilis 6% dan T. viride 6%. Hal ini disebabkan karena sejumlah mikroba probiotik Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 5 No. April 2013 menghasilkan senyawa atau zat-zat yang diperlukan untuk membantu proses pencernaan substrat bahan makanan dalam saluran pencernaan yaitu enzim. Mikroba dalam probiotik yang dominan yaitu Lactobacillus. Lactobacillus berperan menguraikan laktosa menjadi asam laktat. Kadar asam laktat yang dihasilkan mempengaruhi penurunan pH sehingga proses fermentasi terjadi dalam keadaan asam. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kusuma mempengaruhi penurunan nilai pH sehingga aktivitas fermentasi oleh bakteri ini dapat menghasilkan produk yang sempurna. EM4 juga Actinomycetes dilaporkan menghasilkan aktivitas selulase (Melwita, 2. Enzim selulase mampu memecah komponen serat kasar yang merupakan komponen yang sulit dicerna dalam saluran pencernaan menjadi glukosa yang dimanfaatkan oleh ikan. Proses mikroba (B. viride dan EM. dicampurkan dalam substrat mengakibatkan penambahan jumlah mikroba yang semakin Hal ini dikarenakan nutrisi yang terdapat pada pakan digunakan oleh mikroba untuk berkembangbiak dan tumbuh. Mikroba tersebut akan menghasilkan enzim-enzim, seperti protease dan selulase. Menurut Yandri . , mengemukakan bahwa enzim protease mampu menguraikan protein menjadi rantai yang lebih sederhana yaitu polipeptida, selanjutnya polipeptida akan dipecah menjadi asam amino. Jumlah asam amino yang banyaknya mikroba yang terdapat dalam Priskila . mengemukakan bahwa meningkatnya jumlah koloni mikroba selama proses fermentasi secara tidak langsung dapat meningkatkan protein kasar dari suatu bahan karena mikroba ini merupakan sumber protein sel tunggal. Asam amino merupakan sumber karbon untuk sintesis protein mikroba selulolitik (Baldwin dan Allison, 1. Penambahan asam meningkatkan pertumbuhan bakteri selulolitik dan menyebabkan aktivitasnya meningkat sehingga proses degradasi selulosa oleh enzim selulase menjadi semakin optimal (Zain dkk. Enzim selulase berperan menguraikan selulosa menjadi glukosa sebagai produk utama (Lynd et al. , 2. , oleh karena itu, enzim selulase dapat menurunkan kandungan serat kasar substrat atau bahan pakan yang Kesimpulan Berdasarkan hasil yang diperoleh pada menggunakan T. subtilis, dan EM4, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Fermentor mikroba B. subtilis menghasilkan peningkatan protein kasar tertinggi dari 6,2301% menjadi 7,5564% dibandingkan dengan T. viride dan EM4. Fermentor EM4 menghasilkan penurunan serat kasar tertinggi dari 25,0297% menjadi 22,3967% dibandingkan dengan T. viride dan B. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang diberikan oleh penulis yaitu menggunakan penambahan fermentor lain dan masa fermentasi yang berbeda untuk mengetahui efektivitas mikroba fermentor. Hal tersebut diharapkan memperoleh kemungkinan hasil yang lebih optimal dan dapat dijadikan sebagai bahan pakan alternatif untuk ikan sesuai dengan kebutuhan dan perhitungan ransum pakan yang tepat. Daftar Pustaka