98 JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. TATA KELOLA PERUSAHAAN. PENGUNGKAPAN EMISI KARBON DAN NILAI PERUSAHAAN. DENGAN KINERJA KEUANGAN SEBAGAI VARIABEL INTERVENING Yolifiandri1*. Islamiah Kamil2 Universitas Dian Nusantara. Jakarta. Indonesia yolifiandri@undira. ABSTRACT This study aims to examine the role of corporate governance and carbon emission disclosure in influencing firm value, with financial performance serving as an intervening variable. Corporate governance is represented by the audit committee, independent commissioners, and institutional ownership, while financial performance is measured using Return on Assets (ROA). The research focuses on mining companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) during the 2019Ae2023 A quantitative approach was employed using multiple linear regression analysis with SPSS Prior to hypothesis testing, classical assumption testsAiincluding normality, multicollinearity, and heteroscedasticityAiwere conducted, and the results indicate that the regression model satisfies all required assumptions. The findings reveal that, simultaneously, corporate governance variables, carbon emission disclosure, and financial performance do not have a significant effect on firm value. However, when examined partially, only the audit committee shows a positive and significant influence on firm In contrast, independent commissioners, institutional ownership, carbon emission disclosure, and financial performance do not exhibit significant effects. The relatively low coefficient of determination suggests that firm value in the mining sector is largely influenced by factors outside the research model, such as macroeconomic conditions, commodity price fluctuations, and market sentiment. These results indicate that, within the Indonesian mining industry, the market has not yet fully responded to corporate governance mechanisms and carbon emission disclosure in shaping firm value. Keywords: corporate governance, carbon emissions, financial performance, firm value, mining ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana peran tata kelola perusahaan dan pengungkapan emisi karbon dalam memengaruhi nilai perusahaan, dengan kinerja keuangan sebagai variabel Tata kelola perusahaan dalam penelitian ini dilihat melalui komite audit, komisaris independen, dan kepemilikan institusional, sedangkan kinerja keuangan diukur menggunakan Return on Assets (ROA). Objek penelitian adalah perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2019-2021. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi linear berganda menggunakan perangkat lunak SPSS. Sebelum pengujian hipotesis dilakukan, data terlebih dahulu diuji melalui uji asumsi klasik yang mencakup uji normalitas, multikolinearitas, dan heteroskedastisitas, dan hasilnya menunjukkan bahwa model penelitian memenuhi seluruh asumsi yang disyaratkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara bersama-sama tata kelola perusahaan, pengungkapan emisi karbon, dan kinerja keuangan belum mampu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap nilai perusahaan. Namun, jika dilihat secara individual, hanya komite audit yang terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Sementara itu, komisaris independen, kepemilikan institusional, pengungkapan emisi karbon, serta kinerja keuangan ISSN: 1412 - 3681 . ISSN: 2442 - 4617 . , https://journal. id/index. php/jakpi JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Nilai koefisien determinasi yang relatif rendah mengindikasikan bahwa nilai perusahaan pertambangan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian, seperti kondisi ekonomi makro, fluktuasi harga komoditas, dan sentimen pasar. Temuan ini menunjukkan bahwa dalam sektor pertambangan, pasar belum sepenuhnya merespons mekanisme tata kelola perusahaan dan pengungkapan emisi karbon dalam membentuk nilai perusahaan. Kata kunci: Tata Kelola Perusahaan. Emisi Karbon. Kinerja Keuangan. Nilai Perusahaan. Perusahaan Pertambangan. PENDAHULUAN Perhatian terhadap perubahan iklim dan keberlanjutan global semakin meningkat dan menjadi bagian integral dalam praktik bisnis modern. Perusahaan tidak hanya diharapkan meraih profit secara finansial, tetapi juga menunjukkan tanggung jawab atas dampak lingkungan yang Menurut informasi Statistical Review of World Energy 2024. Negara Indonesia sepanjang tahun 2023 termasuk dalam urutan ke 6 sebagai negara dengan emisi karbon terbesar di dunia yaitu mencapai 704 juta ton setara CO2, oleh karena itu, salah satu bentuk akuntabilitas lingkungan yang mulai banyak diterapkan adalah pengungkapan emisi karbon. Praktik ini dinilai mampu memperkuat citra perusahaan, meningkatkan kepercayaan dari publik dan pemegang saham, serta menjadi nilai tambah di mata investor ((Makarim et al. , 2. Di sisi lain, penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG) dianggap penting dalam menjamin kredibilitas manajemen serta transparansi dalam pengambilan keputusan. Komponen GCG seperti keberadaan komite audit, proporsi komisaris independen, dan keterlibatan institusi dalam struktur komisaris telah dikaji dalam banyak penelitian terkait kontribusinya terhadap peningkatan nilai perusahaan, termasuk dalam aspek pengungkapan informasi lingkungan. Hasil kajian dari berbagai peneliti masih menunjukkan temuan yang beragam dan belum sepenuhnya konsisten. Demikian pula, pengungkapan emisi karbon oleh perusahaan menunjukkan dampak yang berbeda-beda terhadap nilai perusahaan. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh positif dari keterbukaan emisi karbon terhadap nilai perusahaan, sementara yang lain justru menemukan pengaruh negatif, terutama karena beban biaya yang muncul dari kewajiban kepatuhan ((Nasih et al. , 2. Jika ingin meningkatkan nilai perusahaan maka perusahaan perlu melakukan pengungkapan tentang lingkungan untuk mengundang investor untuk ikut partisipasi dalam perusahaan (. Kamil et al. , 2. Untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai hubungan tersebut, kinerja keuangan khususnya Return on Assets (ROA) digunakan sebagai variabel intervening. ROA mencerminkan seberapa efisien perusahaan dalam mengelola asetnya untuk menghasilkan laba, sehingga dapat menjadi penghubung antara mekanisme GCG dan pengungkapan emisi karbon dengan penciptaan nilai perusahaan. Menurut penelitian . iti arofah, 2. ) bahwa Kinerja keuangan ROA memberikan pengaruh kuat Tata kelola terhadap nilai perusahaan. Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana pengaruh komite audit, komisaris independen, komisaris institusional dan Pengungkapan Emisi karbon terhadap nilai perusahaan? Apakah kinerja keuangan (ROA) berperan sebagai variabel intervening dalam pengaruh Komite Audit. Komisaris independent, komisaris Institusional dan pengungkapan emisi karbon terhadap nilai perusahaan? TATA KELOLA PERUSAHAAN. PENGUNGKAPAN EMISI KARBON DAN NILAI PERUSAHAAN. DENGAN KINERJA KEUANGAN SEBAGAI VARIABEL INTERVENING Yolifiandri1*. Islamiah Kamil2 JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. KAJIAN PUSTAKA Nilai Perusahaan Nilai perusahaan pada dasarnya menunjukkan bagaimana pasar memandang sebuah perusahaan, baik dari sisi kinerja saat ini maupun prospeknya di masa depan. Bagi investor, nilai perusahaan menjadi gambaran kepercayaan terhadap kemampuan manajemen dalam mengelola sumber daya dan menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan. Nilai ini umumnya tercermin melalui harga saham dan rasio pasar yang menggambarkan ekspektasi investor atas keuntungan yang akan diperoleh. Namun, pada perusahaan pertambangan, nilai perusahaan tidak semata-mata ditentukan oleh kinerja internal. Faktor eksternal seperti fluktuasi harga komoditas, kondisi ekonomi global, dan kebijakan pemerintah sering kali memiliki pengaruh yang lebih dominan. Akibatnya, nilai perusahaan di sektor ini cenderung berfluktuasi dan tidak selalu mencerminkan kondisi internal perusahaan secara langsung. Menurut ((Aldiyan Rizky, 2. ), mengatakan Tingginya nilai perusahaan mencerminkan performa yang solid dan menimbulkan keyakinan bagi investor bahwa perusahaan memiliki prospek yang menjanjikan di masa depan. Tata Kelola Perusahaan Tata kelola perusahaan hadir sebagai mekanisme untuk memastikan bahwa perusahaan dikelola secara transparan, akuntabel, dan bertanggung jawab. Melalui tata kelola yang baik, diharapkan hubungan antara pemegang saham, manajemen, dan pemangku kepentingan lainnya dapat berjalan secara seimbang. Tata kelola juga berperan penting dalam mengurangi potensi konflik kepentingan antara manajemen dan pemilik perusahaan. Dalam konteks pasar modal, penerapan tata kelola yang baik sering dikaitkan dengan peningkatan kepercayaan investor. Oleh karena itu, tata kelola perusahaan menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan dalam menilai nilai perusahaan, khususnya melalui peran komite audit, komisaris independen, dan kepemilikan institusional. Komite Audit Komite audit memiliki peran penting dalam membantu dewan komisaris menjalankan fungsi pengawasan, terutama yang berkaitan dengan pelaporan keuangan dan pengendalian internal. Keberadaan komite audit yang aktif diharapkan mampu memastikan bahwa laporan keuangan disusun secara wajar dan dapat dipercaya. Ketika kualitas informasi keuangan meningkat, risiko kesalahan informasi dapat ditekan, sehingga kepercayaan investor terhadap perusahaan juga Oleh karena itu, komite audit sering dipandang sebagai salah satu mekanisme tata kelola yang secara langsung berkaitan dengan persepsi pasar dan nilai perusahaan. Menurut teori keagenan, keberadaan komiti audit berperan dalam menekan ketidakseimbangan informasi yang terjadi antara pihak manajemen dan para pemegang saham ((Yamin & Aryati, 2. Komisaris Independen Dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, komisaris independen adalah orang yang dipilih melalui keputusan RUPS dan berasal dari luar lingkaran pemegang saham mayoritas, direksi, maupun komisaris lainnya. Dengan kata lain, mereka hadir sebagai pihak yang benar-benar netral untuk menjaga objektivitas. Untuk menilai variabel ini, digunakan rumus tertentu yang membantu mengukur tingkat independensi tersebut. Menurut (La Ode Sumail, 2. ), kehadiran komisaris independen secara signifikan mempengaruhi pengambilan keputusan strategis TATA KELOLA PERUSAHAAN. PENGUNGKAPAN EMISI KARBON DAN NILAI PERUSAHAAN. DENGAN KINERJA KEUANGAN SEBAGAI VARIABEL INTERVENING Yolifiandri1*. Islamiah Kamil2 JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. Kepemilikan Institusional Kepemilikan institusional mencerminkan porsi kepemilikan saham oleh lembaga atau institusi Investor institusional umumnya memiliki kapasitas analisis yang lebih baik serta sumber daya yang memadai untuk melakukan pengawasan terhadap manajemen perusahaan. Dengan adanya pengawasan tersebut, manajemen diharapkan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan dan lebih berorientasi pada penciptaan nilai jangka panjang. Meskipun demikian, tingkat keterlibatan investor institusional dalam pengawasan perusahaan dapat berbeda-beda, sehingga pengaruh kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan tidak selalu menunjukkan hasil yang konsisten. Pengungkapan Emisi Karbon Pengungkapan emisi karbon merupakan bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh aktivitas operasionalnya. Bagi perusahaan pertambangan, isu lingkungan menjadi perhatian penting karena kegiatan operasionalnya berpotensi memberikan dampak besar terhadap lingkungan. Secara teori, keterbukaan perusahaan dalam mengungkap emisi karbon dapat membantu memperkuat legitimasi sekaligus membangun citra positif di mata para pemangku kepentingan. Namun, dalam kenyataannya di pasar modal Indonesia, informasi mengenai emisi karbon belum menjadi fokus utama bagi investor ketika menilai perusahaan. (Azizah & Rachmawati . , 2. ) menemukan bahwa perusahaan dengan transparansi yang lebih tinggi dalam pelaporan karbon cenderung memiliki nilai perusahaan yang lebih tinggi, karena pengungkapan tersebut meningkatkan kepercayaan Dalam penelitian ini, pengungkapan emisi karbon mengacu pada upaya perusahaan untuk melaporkan informasi mengenai emisi gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkan dari kegiatan operasionalnya. Tingkat pengungkapan diukur menggunakan indikator spesifik yang mencerminkan cakupan dan kualitas informasi yang diberikan dalam laporan keberlanjutan. Kinerja Keuangan Kinerja keuangan menggambarkan kemampuan perusahaan dalam mengelola sumber daya yang dimilikinya untuk menghasilkan laba. Return on Assets (ROA) digunakan sebagai indikator untuk menilai sejauh mana perusahaan mampu memanfaatkan asetnya secara efisien. ROA memberikan gambaran hubungan antara laba yang dihasilkan dengan total aset yang Menurut siti arofah K Dalam penelitian ini, kinerja keuangan diposisikan sebagai variabel intervening yang secara konseptual diharapkan dapat menjembatani pengaruh tata kelola perusahaan dan pengungkapan emisi karbon terhadap nilai perusahaan. Namun, pada sektor pertambangan yang memiliki aset besar dan laba yang cenderung fluktuatif. ROA sering kali kurang mampu menangkap dinamika pembentukan nilai perusahaan secara menyeluruh. bahwa Kinerja keuangan ROA memberikan pengaruh kuat Tata kelola terhadap nilai perusahaa, berbanding lurus dengan penelitian yang dilakukan oleh . iti arofah, 2. dalam penelitiannya bahwa Kinerja keuangan ROA memberikan pengaruh kuat Tata kelola terhadap nilai Hubungan Antarvariabel Secara konseptual, tata kelola perusahaan yang baik dan pengungkapan emisi karbon yang memadai diharapkan dapat mendorong peningkatan kinerja keuangan perusahaan, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan nilai perusahaan. Namun, karakteristik industri pertambangan yang sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal membuat hubungan tersebut tidak selalu terlihat secara jelas dalam praktik. Oleh karena itu, penelitian ini menjadi penting untuk TATA KELOLA PERUSAHAAN. PENGUNGKAPAN EMISI KARBON DAN NILAI PERUSAHAAN. DENGAN KINERJA KEUANGAN SEBAGAI VARIABEL INTERVENING Yolifiandri1*. Islamiah Kamil2 JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. memahami sejauh mana faktor internal perusahaan mampu menjelaskan pembentukan nilai perusahaan di tengah pengaruh kuat faktor eksternal. Adapun Kerangka Pemikiran dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Komite audit Komisaris independen Kinerja keuangan Kepemilikan Institusional Pengungkapan emisi karbon Nilai perusahaan Gambar 1. Kerangka Pemikiran METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksplanatori yang bertujuan untuk menguji hubungan kausal, baik secara langsung maupun tidak langsung, antara tata kelola perusahaan (GCG) dan pengungkapan emisi karbon terhadap nilai perusahaan. Dalam hubungan ini, kinerja keuangan perusahaan yang diukur dengan Return on Assets (ROA) digunakan sebagai variabel mediasi. Dua teori utama yang menjadi dasar analisis adalah Teori Agensi dan Teori Legitimasi. Teori Agensi menyoroti pentingnya peran mekanisme pengawasan internal, seperti komite audit dan komisaris independen, dalam mengurangi asimetri informasi serta potensi konflik kepentingan antara manajemen dan pemilik. Di sisi lain. Teori Legitimasi menjelaskan bahwa perusahaan terdorong untuk mengungkapkan informasi terkait keberlanjutan guna mempertahankan dukungan dari masyarakat dan pemangku kepentingan, salah satunya melalui pelaporan emisi karbon ((Alfayerds & Setiawan, 2. Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari laporan tahunan dan laporan keberlanjutan perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode lima tahun, yaitu 2019 hingga 2021. Teknik pemilihan sampel dilakukan secara purposive sampling, dengan kriteria bahwa perusahaan harus tercatat secara konsisten di BEI selama periode tersebut dan menyediakan informasi yang lengkap sesuai kebutuhan penelitian. Proses analisis data dilakukan dengan bantuan perangkat lunak SPSS. Teknik analisis yang digunakan mencakup statistik deskriptif, uji asumsi klasik, regresi linear berganda, serta pengujian mediasi menggunakan pendekatan Baron & Kenny dan konfirmasi dengan Sobel test. Operasional Variabel Penelitian. Operasional variabel penelitian dengan judul AuTata Kelola Perusahaan. Pengungkapan Emisi Karbon, dan Nilai Perusahaan dengan Kinerja Keuangan sebagai Variabel Intervening (Studi pada Perusahaan Pertambangan di BEI Tahun 2019Ae2. TATA KELOLA PERUSAHAAN. PENGUNGKAPAN EMISI KARBON DAN NILAI PERUSAHAAN, DENGAN KINERJA KEUANGAN SEBAGAI VARIABEL INTERVENING Yolifiandri1*. Islamiah Kamil2 JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. Variabel Variabel dependen (Y) Nilai Perusahaan Variabel (X. Komite Audit Variabel (X. Komisaris Independen Variabel (X. Kepemilikan Institusional Definisi Persepsi pasar terhadap kinerja perusahaan yang tercermin dalam harga saham dan Indikator Skala Sumber TobinAos Q = (Nilai Pasar Saham Total Liabilita. Total Aset Rasio (Nasih et al. Organ perusahaan yang komisaris dalam Jumlah dalam Rasio terhadap proses keuangan dan Anggota kepemilikan, dan maupun pemegang saham pengendali Kepemilikan Institusional diukur dengan melalui jumlah Persentase (Jumlah komisaris independen / Total dewan komisari. y Persentase (Jumlah komisaris institusional / Total Rasio Rasio ((Yamin Aryati, 2. UndangUndang Nomor 40 Tahun 2007 Perseroan Terbatas (Dan et al. , 2. TATA KELOLA PERUSAHAAN. PENGUNGKAPAN EMISI KARBON DAN NILAI PERUSAHAAN, DENGAN KINERJA KEUANGAN SEBAGAI VARIABEL INTERVENING Yolifiandri1*. Islamiah Kamil2 JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. Variabel Variabel (X. Pengungkapan emisi karbon Variabel Intervening (X. Kinerja Keuangan (ROA) Definisi Indikator Skala dewan komisari. total 100% Perusahaan mengacu pada mengenai emisi gas rumah kaca (GRK) dihasilkan dari Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba pemanfaatan aset yang dimiliki upaya perusahaan untuk melaporkan informasi mengenai emisi gas rumah kaca (GRK) yang ROA = Laba Bersih / Total Aset Sumber Rasio iti arofah. Rasio TATA KELOLA PERUSAHAAN. PENGUNGKAPAN EMISI KARBON DAN NILAI PERUSAHAAN, DENGAN KINERJA KEUANGAN SEBAGAI VARIABEL INTERVENING Yolifiandri1*. Islamiah Kamil2 JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1 Statistik Descriptif Descriptive Statistics Km Audit Minimum Maximum Mean Std. Deviation Komindep Kominsti Ems Crbn NL Prshn ROA Valid N . Statistik deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran awal mengenai karakteristik data perusahaan pertambangan yang menjadi sampel penelitian. Analisis ini bertujuan untuk menunjukkan kondisi umum masing-masing variabel penelitian sebelum dilakukan pengujian lebih lanjut. Jumlah observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 72 data yang mencerminkan kondisi perusahaan pertambangan selama periode penelitian. Variabel komite audit memiliki nilai minimum sebesar 3 dan maksimum sebesar 6 dengan nilai rata-rata sebesar 3,67. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum perusahaan pertambangan telah memenuhi ketentuan jumlah anggota komite audit sesuai regulasi, dengan tingkat variasi yang relatif rendah antar perusahaan. Variabel komisaris independen memiliki nilai rata-rata sebesar 0,34 dengan rentang nilai antara 0,20 hingga 0,50. Nilai ini mengindikasikan bahwa proporsi komisaris independen pada perusahaan pertambangan telah memenuhi ketentuan minimum, meskipun masih terdapat variasi antar perusahaan. Kepemilikan institusional menunjukkan nilai rata-rata sebesar 0,48 dengan nilai minimum 0,36 dan maksimum 0,68. Hal ini mencerminkan bahwa kepemilikan saham oleh investor institusional relatif besar namun tetap bervariasi antar perusahaan pertambangan. Pengungkapan emisi karbon memiliki nilai rata-rata sebesar 0,79 dengan nilai maksimum mencapai 1,00. Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan telah melakukan pengungkapan emisi karbon, meskipun tingkat kelengkapannya masih berbeda-beda. Kinerja keuangan yang diproksikan oleh ROA memiliki nilai rata-rata sebesar 0. Nilai ini menunjukkan bahwa profitabilitas perusahaan pertambangan selama periode penelitian cenderung berfluktuasi. Nilai perusahaan yang diukur dengan logaritma natural nilai perusahaan (LN_NLPRSH_W) memiliki nilai rata-rata sebesar 0,24. Variasi nilai ini menunjukkan perbedaan persepsi pasar terhadap kinerja dan prospek masing-masing perusahaan. TATA KELOLA PERUSAHAAN. PENGUNGKAPAN EMISI KARBON DAN NILAI PERUSAHAAN, DENGAN KINERJA KEUANGAN SEBAGAI VARIABEL INTERVENING Yolifiandri1*. Islamiah Kamil2 JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. Asumsi Klasik Tabel 2. Uji Normalitas Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Statistic df Sig. Unstandardized Residual . Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel terikat, variabel bebas atau keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau penyebaran data statistik pada sumbu diagonal dari grafik distribusi normal . Hasil pengujian asumsi klasik menunjukkan bahwa model regresi telah memenuhi seluruh asumsi yang dipersyaratkan. Uji normalitas menunjukkan bahwa residual terdistribusi normal dengan nilai Sig. Tabel 3. Uji Multikolinearitas Coefficientsa Collinearity Statistics Model Tolerance VIF komite audit komisaris idpdn kms institusional emisi karbon ROA Dependent Variable: nilai perusahaan Uji multikolinearitas menunjukkan tidak adanya hubungan linear yang kuat antar variabel independen, . Uji multikolinearitas menunjukkan nilai Tolerance > 0,10 dan VIF < 10, sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat masalah multikolinearitas antar variabel independen. Tabel 4. Uji Heterokdastisitas Coefficientsa Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients Std. Error Beta 866E-16 Sig. Dependent Variable: Unstandardized Residual TATA KELOLA PERUSAHAAN. PENGUNGKAPAN EMISI KARBON DAN NILAI PERUSAHAAN. DENGAN KINERJA KEUANGAN SEBAGAI VARIABEL INTERVENING Yolifiandri1*. Islamiah Kamil2 JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. Selanjutnya, uji heteroskedastisitas menunjukkan bahwa seluruh variabel independen memiliki nilai signifikansi di atas 0,05, yang menandakan tidak terjadi heterokedastisitas dalam model Dengan demikian, model regresi dinyatakan memenuhi asumsi klasik dan layak untuk dilakukan pengujian hipotesis. Tabel 5. Uji Koefisien Determinasi Model Summaryb Model Adjusted R Square R Square Std. Error of the Estimate Predictors: (Constan. LN_ROA, komisaris idpdn, kms Institinstitusional, komite audit, emisi karbon Dependent Variable: LN_NLPRSH_W Dari uji koefisien determinai bisa kita lihat Hanya 1,8% variasi nilai perusahaan dapat dijelaskan oleh variabel komite audit, komisaris independen, kepemilikan institusional, pengungkapan emisi karbon, dan kinerja keuangan (LN_ROA). Sedangkan: 98,2% variasi nilai perusahaan dijelaskan oleh faktor lain di luar model penelitian. Berdasarkan hasil uji koefisien determinasi, nilai Adjusted R Square sebesar 0,018 menunjukkan bahwa sebesar 1,8% variasi nilai perusahaan dapat dijelaskan oleh variabel komite audit, komisaris independen, kepemilikan institusional, pengungkapan emisi karbon, dan kinerja keuangan. Sementara itu, sebesar 98,2% variasi nilai perusahaan dipengaruhi oleh variabel lain di luar model penelitian. Ay AuKinerja keuangan diposisikan sebagai variabel intervening secara konseptual untuk menjelaskan mekanisme hubungan antara tata kelola perusahaan dan nilai perusahaan. Namun, pengujian empiris dalam penelitian ini dilakukan dengan memasukkan ROA sebagai variabel independen dalam model regresi. Tabel 6. Uji Simultan (Uji F) ANOVAa Model Regression Residual Total Sum of Squares 448,71 Mean Square Sig. Dependent Variable: LN_NLPRSH_W Predictors: (Constan. Kominsti. Komindep. Km Audit Hasil uji simultan menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,291 (> 0,. Hal ini menunjukkan bahwa secara bersama-sama komite audit, komisaris independen, kepemilikan institusional, pengungkapan emisi karbon, dan kinerja keuangan (ROA) tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Dengan demikian, hipotesis keenam (H. dalam penelitian ini TATA KELOLA PERUSAHAAN. PENGUNGKAPAN EMISI KARBON DAN NILAI PERUSAHAAN. DENGAN KINERJA KEUANGAN SEBAGAI VARIABEL INTERVENING Yolifiandri1*. Islamiah Kamil2 JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. Tabel 7. Uji Hipotesis Parsial Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Std. Error -,489 Standardized Coefficients Beta Sig. Komite audit berpengaruh terhadap nilai perusahaan Komisaris independen berpengaruh terhadap nilai perusahaan 0,709 Komisaris Institusional berpengaruh terhadap nilai perusahaan Pengungkapan emisi carbon berpengaruh terhadap nilai Kinerja keu (ROA) berpengaruh terhadap nilai perusahaan Komite audit, komisaris independen, kepemilikan institusional, pengungkapan emisi karbon, dan kinerja keuangan berpengaruh secara simultan terhadap nilai perusahaan 0,522 0,725 Ditolak Ditolak 0,733 0,291 Ditolak Ditolak (Constan. Km Audit Komindep Kominsti Emisi karbon Ln. _ ROA Dependent Variable: LN_NLPRSH_W Dari tabel diatas, diperoleh hasil sbb. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, hanya variabel komite audit yang terbukti berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa efektivitas fungsi pengawasan melalui komite audit memiliki peran dalam meningkatkan kepercayaan pasar terhadap perusahaan pertambangan. Sementara itu, variabel komisaris independen, kepemilikan institusional, pengungkapan emisi karbon, dan kinerja keuangan (ROA) tidak menunjukkan pengaruh signifikan secara parsial terhadap nilai perusahaan. Selain itu, hasil uji simultan juga menunjukkan bahwa seluruh variabel independen dan variabel mediasi secara bersama-sama belum mampu menjelaskan variasi nilai perusahaan secara signifikan. Pada penelitian ini dari uji hipotesis komite audit berpengaruh terhadap nilai perusahaan, hal ini juga sejalan dengan penelitian yg dilakukan oleh sulhan manaf dimana komite audit berpengaruh terhadap nilai Hal ini berbeda dengan yang dilakukan oleh ((Putri, 2. ), komite audit tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan, hal ini disebabkan belum di rasakan peranan komite audit dalam perusahaan. Hasil uji hipotesis ke2 komisaris independen tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan, hal ini sejalan dengan penelitian (Putri, 2. dimana peranan komisaris independen belum dirasakan manfaatnya. Hasil uji hipotesis ketiga, komisaris institusional tidak berpengarauh terhadap nilai perusahaan, hal ini sejalan dengan penelitian aryanto, dimana komisaris institusional belum berjalan maksimal peranannya. Uji hipotesis ke 4 pengungkapan emisi karbon tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan, hal ini disebabkan masih banyak masyarakat atau investor belum memiliki informasi cukup tentang pentingnya pengungkapan emisi karbon sebagai upaya perusahaan untuk menjaga lungkungan. Hipotesis ke 5 kinerja keuangan dalam hal ini ROA tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan, hal ini makin besar jumlah aset perusahaan makin tinggi juga biaya yang harus di alokasikan perusahaan, sehingga kenaikan aset pun kurang dirasakan manfaatnya bagi perusahaan. Berbeda dengan penelitian . utri,anggit. yang menyatakan bahwa kinerja keuangan dapat TATA KELOLA PERUSAHAAN. PENGUNGKAPAN EMISI KARBON DAN NILAI PERUSAHAAN. DENGAN KINERJA KEUANGAN SEBAGAI VARIABEL INTERVENING Yolifiandri1*. Islamiah Kamil2 JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. mempengaruhi nilai perusahaan, karena sebagian investor masih memandang jika kinerj perusahaan meningkat maka dapat meningkat harga saham perusahaan. SIMPULAN Penelitian ini sudah dijalankan sesuai dengan prosedur ilmiah, namun tentu saja masih ada beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan. Penelitian ini hanya menyoroti perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Karena itu, hasilnya belum tentu bisa langsung diterapkan pada sektor lain yang memiliki karakteristik berbeda. Variabel yang digunakan masih terbatas. Fokus penelitian hanya pada tata kelola perusahaan . elalui komite audit, komisaris independen, dan kepemilikan institusiona. , pengungkapan emisi karbon, serta kinerja keuangan (ROA). Padahal, nilai perusahaan di sektor pertambangan juga dipengaruhi oleh banyak faktor lain, seperti harga komoditas global, kondisi ekonomi makro, risiko politik, dan kebijakan pemerintah yang belum masuk ke dalam model penelitian Ketiga, periode pengamatan hanya mencakup tahun 2019-2021. Masa ini bertepatan dengan ketidakstabilan ekonomi global, sehingga fluktuasi kinerja keuangan dan nilai perusahaan bisa saja lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal di luar kendali perusahaan. Keempat, pengukuran pengungkapan emisi karbon masih bergantung pada informasi yang tersedia di laporan tahunan dan laporan keberlanjutan perusahaan. Karena kualitas dan kelengkapan laporan tiap perusahaan berbeda, hasil pengukuran variabel ini bisa ikut terpengaruh. Saran untuk Penelitian Selanjutnya Melihat keterbatasan tersebut, ada beberapa hal yang bisa dilakukan pada penelitian berikutnya: Memperluas objek penelitian ke sektor industri lain agar hasilnya bisa dibandingkan dan digeneralisasikan lebih luas. Menambahkan variabel lain yang mungkin berpengaruh terhadap nilai perusahaan, seperti ukuran perusahaan, leverage, pe komisaris rtumbuhan, harga komoditas, atau variabel Dengan begitu, model penelitian bisa lebih kuat dalam menjelaskan variasi nilai perusahaan. Menggunakan periode pengamatan yang lebih panjang serta mencoba metode analisis yang berbeda, misalnya model data panel atau pendekatan mediasi dan moderasi yang lebih Hal ini akan membantu mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang hubungan antar variabel. Meningkatkan pengukuran pengungkapan emisi karbon dengan indeks yang lebih komprehensif atau standar pelaporan keberlanjutan yang lebih mutakhir. Dengan cara ini, peran aspek lingkungan terhadap nilai perusahaan bisa dianalisis lebih akurat. DAFTAR PUSTAKA