Journal of Holistic and Health Sciences (Jurnal Ilmu Holistik dan Kesehata. ISSN 2548-9070 (Prin. ISSN 2548-9089 (Onlin. DOI: 10. 51873/jhhs. Volume 8. Nomor 2 . Formulasi dan evaluasi fisik sediaan spray gel ekstrak daun bandotan (Ageratum conyzoides l. ) sebagai pengobatan luka bakar Kusdi Hartono *1. Taufik Septiyan Hidayat 2. Yunita Al Azzahra 3. Isfina Azmiyanti 1 1 Program Studi Farmasi. Fakultas MIPA Universitas Al Ghifari. Bandung. Jawa Barat. Indonesia 2 Program Studi Farmasi. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Holistik. Purwakarta. Jawa Barat. Indonesia 3 Akademi Farmasi Bumi Siliwangi. Bandung. Jawa Barat. Indonesia *Korespondensi: Jl. Cisaranten Kulon No 140. Cisaranten Kulon. Kec. Arcamanik Email: kusdihanif2@gmail. ABSTRAK Latar belakang: Daun bandotan (Ageratum conyzoides L. ) mengandung berbagai jenis senyawa metabolit sekunder didalamnya yaitu senyawa flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, steroid, terpenoid, kumarin dan minyak atsiri yang secara tradisional tanaman daun bandotan dapat digunakan untuk mengobati luka bakar, luka memar, memiliki khasiat sebagai analgetik, antiinflamasi, bakteriosida yang barvariasi di berbagai daerah. Tujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan sediaan spray gel yang optimal yang mengandung daun bandotan (Ageratum conyzoides L. ) dengan kemampuan untuk mengobati luka bakar. Metode penelitian: Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental yaitu dengan menggunakan variasi konsentrasi HPMC 0,1%, 0,3%, 0,5% dan ekstrak sebanyak 5%. Ekstrak daun bandotan diperoleh melalui proses maserasi menggunakan pelarut etanol 70%, diikuti dengan pengentalan menggunakan rotary evaporator. Selanjutnya, ekstrak tersebut diformulasikan menjadi sediaan spray gel. Sediaan dengan hasil terbaik kemudian diujikan pada kelinci yang telah diinduksi luka bakar. Hasil: Formulasi terbaik sediaan spray gel ekstrak daun bandotan adalah formula F2 dengan konsentrasi HPMC sebanyak 0,3%. Formula terbaik dipilih berdasarkan hasil evaluasi pH sediaan yang stabil, formulasi F2 yang lebih banyak disukai dari segi tekstur dan warna berdasarkan hasil pengujian hedonik dan tidak mengiritasi kulit. Formulasi terbaik spray gel ekstrak daun bandotan yaitu formula F2 juga memberikan pengaruh terhadap luka bakar pada hewan percobaan kelinci dengan berkurangnya luas diameter luka bakar seiring bertambahnya waktu. Simpulan: Formulasi terbaik spray gel ekstrak daun bandotan (F. karena menunjukkan hasil evaluasi fisik yang baik, tidak menyebabkan iritasi dan berdasarkan uji hedonik lebih disukai oleh responden, formula ini juga memberikan pengaruh lebih baik terhadap luka bakar pada hewan percobaan kelinci dengan berkurangnya diameter luas luka bakar seiring bertambahnya waktu. Keyword: Daun bandotan, spray gel, luka bakar ABSTRACT Background: Bandotan leaves (Ageratum conyzoides L. ) contain various types of secondary metabolite compounds, namely flavonoids, alkaloids, saponins, tannins, steroids, terpenoids, coumarins and essential oils. Traditionally, bandotan leaves can be used to treat burns, bruises, and have analgesic, anti-inflammatory and bactericidal properties that vary in different regions. Research purposes: This study aims to formulate an optimal spray gel preparation containing bandotan leaves (Ageratum conyzoides L. ) with the ability to treat burns. Research methods: This study was conducted using an experimental method, namely by using variations in HPMC concentrations of 0. 1%, 0. 3%, 0. 5% and 5% extract. The preparation of bandotan leaf extract was carried out by the maceration method using 70% ethanol solvent then thickened Submitted: 14 November 2024 | Final Revised: 29 Desember 2024 | Accepted: 30 Desember 2024 Published: 2 Januari 2025 Formulasi dan evaluasi fisik sediaan spray gel ekstrak daun bandotan (Ageratum conyzoides l. ) sebagai pengobatan luka DOI: 10. 51873/jhhs. with a rotary evaporator, after which a spray gel preparation was made, then the preparation with the best results was tested on rabbits induced by burns. Results: The best formulation of bandotan leaf extract spray gel preparation is formula F2 with HPMC concentration of 0. The best formula was chosen based on the results of the evaluation of the stable pH of the preparation, formulation F2 which is more preferred in terms of texture and color based on the results of hedonic testing and does not irritate the skin. The best formulation of bandotan leaf extract spray gel, namely formula F2, also has an effect on burns in experimental rabbits with a decrease in the diameter of the burn area over time. Conclusion: The best formulation of spray gel extract of bandotan leaves (F. because it showed good physical evaluation results, did not cause irritation and based on hedonic tests was preferred by respondents, this formula also had a better effect on burns in experimental rabbits with a decrease in the diameter of the burn area over time. Keywords: Bandotan leaves, spray gel, burns PENDAHULUAN Luka bakar merupakan keadan ketika kulit kehilangan sebagian jaringan yang disebabkan oleh adanya kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, radiasi, listrik dan bahan kimia, luka ini tidak hanya menyebabkan kerusakan pada kulit tetapi juga dapat mempengaruhi seluruh sistem pada tubuh . Luka bakar pada kulit dapat menyebabkan kerusakan pada fungsi kulit dimana kulit berfungsi untuk melindungi manusia dari lingkungan berbahaya, mempertahankan lingkungan internal yang homeostatis dan melindungi jaringan yang ada dibawahnya dari matahari, bahan kimia dan bakteri . Agar kulit dapat berfungsi kembali dengan baik sebagaimana mestinya maka luka bakar harus segera diobati sehingga proses penyembuhan dapat terjadi. Pada prinsipnya pengobatan yang dapat dilakukan untuk luka bakar yaitu dengan mencegah terjadinya infeksi sekunder dan meningkatkan proses pembentukan jaringan kolagen agar sel epitel yang masih terdapat dalam jaringan kulit dapat berkembang sehingga permukaan luka dapat tertutupi . Salah satu cara yang dapat digunakan untuk penyembuhan luka adalah dengan menggunakan obat tradisional . Obat tradisional telah menjadi warisan budaya bangsa Indonesia yang perlu terus dilestarikan serta lebih dikembangkan sehingga dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan pelayanan kesehatan . Masyarakat Indonesia banyak memanfaatkan pengobatan tradisional, hal ini karena penggunaan banyak tanaman di Indonesia yang dipercaya secara empiris dapat berkhasiat dan telah digunakan secara turun-temurun untuk menjaga kesehatan, menyembuhkan penyakit dan untuk meningkatkan kebugaran tubuh . Pemanfaatan obat tradisional salah satunya yaitu untuk mengobati luka, secara historis, tanaman dan bahan nabati telah banyak penanganan berbagai jenis luka . Tanaman (Ageratum conyzoides L. ) dapat ditemukan di daerah sub tropis dan tropis, berdasarkan hasil penapisan fitokimia bagian daun bandotan menunjukkan bahwa metabolit sekunder yang terkandung didalamnya adalah senyawa flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, steroid, terpenoid, kumarin dan minyak atsiri dan secara empiris daun bandotan dapat digunakan untuk mengobati luka memar, luka bakar, analgetik, antiinflamasi, bersifat bakteriosida dan dapat bervariasi di berbagai daerah . , kemudian daun bandotan juga dipercaya dapat menghetikan pendarahan pada luka, mencegah terjadinya infeksi yang disebabkan oleh bakteri sehingga dapat mempercepat proses penyembuhan luka . Sediaan topikal adalah sediaan yang digunakan pada bagian luar tubuh. Sediaan yang umum digunakan untuk pengobatan luka bakar adalah dalam bentuk gel, hal ini dikarenakan sediaan gel memiliki beberapa kelebihan yaitu untuk menyejukkan, penggunaannya mudah, melembabkan. Copyright . The Authors This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Formulasi dan evaluasi fisik sediaan spray gel ekstrak daun bandotan (Ageratum conyzoides l. ) sebagai pengobatan luka DOI: 10. 51873/jhhs. mudah berpenetrasi di kulit dan memiliki kadar air yang tinggi, salah satu bentuk pengembangan dari sediaan gel adalah gel semprot . pray ge. yang berfungsi sebagai penutup luka . Gel semprot . pray ge. mengandung fase air 10- 90% dari berat Sediaan gel semprot . pray ge. memiliki keunggulan berupa kemudahan dalam penggunaannya. Spray gel dapat mencegah dan meminimalkan kontaminasi dengan cara disemprotkan tanpa kontak langsung dengan tangan. Selain itu, spray gel memiliki waktu kontak obat yang lebih lama dengan kulit berkat adanya agen pembentuk gel . elling agen. Menurut penelitian yang dilakukan oleh . , ekstrak metanol daun bandotan dengan konsentrasi 5% menunjukkan aktivitas penyembuhan luka bakar yang paling efektif pada tikus putih. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan merancang formulasi sediaan gel semprot . pray ge. yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formulasi terbaik dari perbandingan tiga jenis basis sebagai pengobatan luka bakar pada kelinci. METODOLOGI PENELITIAN Alat dan Bahan Alat Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah penjepit, pisau bedah, alumunium foil, toples kaca, penangas air, thermometer, timbangan analitik, seperangkat alat maserator, kertas saring. Hot plate, cawan porselin, pH meter, blender, rotary evaporator, gelas kimia, tabung teaksi, rak tabung reaksi, wadah spray dan batang pengaduk, viskometer Brookfield ametek, pisau cukur, plate logam diameter 2 cm, kapas, wadah tertutup. Bahan Bahan Ae bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah daun bandotan tua dan muda, mayer, dragendroff, serbuk Mg. HCl pekat, amil alkohol. HPMC, propilen glikol, metil paraben, propil paraben, aquadest, etanol 70%. Prosedur Penelitian Determinasi Tanaman Pemeriksaan tanaman dilakukan di Herbarium Jatinangor. Laboratorium Taksonomi Tumbuhan. Departemen Biologi. FMIPA. Universitas Padjadjaran. Pengumpulan Bahan Tanaman yang akan digunakan pada penelitian ini adalah daun bandotan yang diambil dari Balai Pengujian Standar Instrumen Tanaman Rempah. Obat dan Aromatik (BPSI TROA) Cikampek. Penyiapan Sampel dan Pembuatan Simplisia Penyiapan sampel dan pembuatan simplisia daun bandotan pada penelitian ini dilakukan di Balai Pengujian Standar Instrumen Tanaman Rempah. Obat dan Aromatik (BPSI TROA) Cikampek. Bagian tanaman yang digunakan pada penelitian ini yaitu daun bandotan yang telah dipetik kemudian dilakukan sortasi basah dengan cara memisahkan dari kerikil, tanah, dan pengotor lainnya yang tidak digunakan serta pengotor lainnya yang terbawa pada saat pengumpulan daun, selanjutnya daun dicuci menggunakan air mengalir. Selanjutnya, daun bandotan dirajang untuk mempercepat proses pengeringan. Setelah perajangan, daun dikeringkan dengan cara dianginanginkan tanpa terpapar sinar matahari Setelah itu bahan uji disortasi kering dengan cara benda asing dan pengotor lain yang masih tersisa pada simplisia kering dipisahkan dari daun bandotan . Susut Pengeringan Susut pengurangan berat bahan setelah proses pengeringan, yang diukur sesuai dengan metode yang telah ditetapkan. Pengukuran dilakukan dengan menentukan sisa zat setelah pengeringan pada suhu 105EE selama 30 menit atau hingga mencapai berat konstan . %susut menggunakan rumus berikut : Copyright . The Authors This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Formulasi dan evaluasi fisik sediaan spray gel ekstrak daun bandotan (Ageratum conyzoides l. ) sebagai pengobatan luka DOI: 10. 51873/jhhs. yaAycuycaycuyc ycaycycaycoOeyaAycuycaycuyc ycaycoEaycnyc % Susut Pengeringan = y 100% yaAycuycaycuyc ycaycycayco Uji Kadar Air Pengujian kadar air simplisia daun bandotan dilakukan menggunakan alat moisture analyzer. Pada pengujian ini sebanyak 2 gram simplisia daun bandotan dimasukkan kedalam moisture analyzer, kemudian atur suhu 105 EE dan tunggu selama beberapa menit hingga muncul hasil kadar air . Pembuatan Ekstrak Daun Bandotan Pembuatan maserasi dengan 3 kali pergantian pelarut . Sebuk kering simplisia sebanyak 250 gram dimasukkan ke dalam maserator. Tambahkan pelarut etanol 70% kemudian rendam selama 6 jam pertama ambil sesekali diaduk, setelah itu diamkan selama 18 jam. Pada saat didiamkan maserator harus dalam keadaan tertutup. Pisahkan maserat dengan cara filtrasi. Kemudian proses ekstraksi dilakukan kembali dengan menggunakan etanol 70% dan volume pelarut sebanyak setengah kali jumlah pelarut pada ekstraksi pertama. Kumpulkan semua maserat kemudian diuapkan dengan menggunakan Rotary Evaporator hingga diperoleh ekstrak Nilai rendemen dihitung yaitu presentase bobot . dengan rumus %Rendemen = Bobot Ekstrak y 100% Bobot Simplisia Uji Fitokimia Uji fitokimia yang dilakukan bandotan yaitu identifikasi alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, steroid, terpenoid. Ekstrak digunakan untuk uji fitokimia untuk sekunder dengan pereaksi tertentu dan memperhatikan perubahan warna yang sesuai . Uji Alkaloid Uji alkaloid dilakukan dengan cara, ekstrak dicampur dengan kloroform dan amoniak masing-masing sebanyak 5 mL kemudian panaskan selanjutnya dikocok dan Pada larutan tersebut tambahkan asam sulfat 2N 5 tetes pada masing-masing filtrat, kemudian kocok dan diamkan, ambil bagian amil alkohol pada filtrat kemudian pisahkan kedalam 3 tabung reaksi, masingmasing tabung reaksi diuji dengan pereaksi Mayer. Dragendroff, dan satu tabung reaksi digunakan sebagai blanko. Hasil positif menunjukan adanya endapan berwarna putih atau kuning untuk pereaksi Mayer, endapan coklat untuk pereaksi Dragenfroff . Uji Flavonoid Uji flavonoid dilakukan dengan menimbang 1 gram sampel, yang kemudian ditambahkan 10 ml aquadest dan dididihkan selama 5 menit. Setelah itu, campuran disaring dalam keadaan panas. Filtrat yang dihasilkan diambil sebanyak 5 ml, lalu ditambahkan 0,1 gram serbuk Mg, 1 ml HCl pekat, dan 2 ml amil alkohol. Campuran tersebut dihomogenkan dan didiamkan hingga terjadi pemisahan lapisan. Warna merah, jingga, atau kuning yang terbentuk pada lapisan amil alkohol menunjukkan hasil positif untuk keberadaan flavonoid . Uji Saponin Uji saponin dilakukan dengan mengambil 2 ml larutan ekstrak, kemudian menambahkan 10 ml air panas. Larutan tersebut didinginkan dan dikocok kuat selama 10 detik hingga terbentuk busa. Setelah itu, ditambahkan 1 tetes HCl 2N. Jika terbentuk busa permanen, maka hasil uji menunjukkan positif untuk saponin . Uji Tanin Uji tanin dilakukan dengan cara, larutan ekstrak diambil sebanyak 2 mL, ditambahkan 5 ml aquadest selanjutnya disaring lalu encerkan filtrat hingga tidak berwarna kemudian tambahkan beberapa tetes FeCl3. Terbentuknya warna biru hingga kehitaman atau hijau hingga kehitaman menunjukkan hasil positif . Copyright . The Authors This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Formulasi dan evaluasi fisik sediaan spray gel ekstrak daun bandotan (Ageratum conyzoides l. ) sebagai pengobatan luka DOI: 10. 51873/jhhs. Uji Terpenoid Uji terpenoid dilakukan dengan cara, 2 mL larutan ekstrak ditambahkan dengan Liebermann-Burchard. Terbentuknya warna coklat kemerahan atau violet menunjukkan hasil positif terpenoid . Formulasi Bandotan Spray Ekstrak Daun Formulasi spray gel pada penelitian ini merujuk pada penelitian yang telah dilakukan oleh . , dengan melakukan perbandingan pada konsentrasi gelling agent HPMC. Kemudian konsentrasi ekstrak pada penelitian ini merujuk pada penelitian . dimana ekstrak metanol daun bandotan sebanyak 5% memiliki aktifitas paling baik dalam menyembuhkan luka bakar pada Formulasi lengkap Spray gel ekstrak daun bandotan disajikan pada tabel 1. Tabel 1 Formulasi Spray gel Ekstrak Daun Bandotan Bahan Ekstrak daun bandotan HPMC Propilen glikol Metil paraben Propil paraben Etanol 70% Aquadest Ad Fungsi Zat aktif Gelling agent Humectant Bahan pengawet Bahan pengawet Pelarut Pelarut Pembuatan Spray gel Ekstrak Daun Bandotan Pembuatan spray gel ekstrak daun bandotan merujuk pada jurnal . Siapkan bahan dan peralatan yang akan digunakan untuk pembuatan spray gel. Kemudian timbang semua bahan sesuai dengan masing-masing formula. Pada campuran A, secara terpisah HPMC dikembangkan dengan air panas didalam mortir dan digerus hingga Pada campuran B. Larutkan metil paraben dan propil paraben dengan propilen glikol. Larutkan ekstrak daun bandotan dengan etanol 70%, dihomogenkan kemudian tambahkan campuran metil paraben dan propil paraben yang telah dilarutkan dengan propilen glikol. Selanjutnya masukkan campuran B ditambahkan ke campuran A kedalam mortir, kemudian homogenkan hingga benar-benar tercampur. Tambahkan aquadest hingga batas 100 0,18 0,02 3 ml Formula (%) 0,18 0,02 3 ml 0,18 0,02 3 ml Evaluasi Fisik Sediaan Spray gel Ekstrak Daun Bandotan Organoleptis Uji organoleptis dilakukan dengan mengamati bentuk fisik spray gel yaitu berupa konsistensi, bentuk, warna dan bau Kriteria sediaan spray gel yang baik yaitu sediaan yang transparan atau bening, tidak keruh, dan tidak terdapat gelembung . Pengujian dilakukan pada hari ke 0, 7, 14, 21, 28. Homogenitas Pemeriksaan homogenitas dilakukan dengan menyemprotkan spray gel pada objek glass kemudian ditempelkan objek glass lainnya agar sediaan spray tersebar merata, diamati dengan memperhatikan ada atau tidaknya partikel yang belum tercampur secara homogen . Pengujian homogenitas dilakukan pada hari ke 0, 7, 14, 21, 28. Pengukuran pH Pengukuran pH sediaan dilakukan menggunakan pH meter, di mana elektroda Copyright . The Authors This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Formulasi dan evaluasi fisik sediaan spray gel ekstrak daun bandotan (Ageratum conyzoides l. ) sebagai pengobatan luka DOI: 10. 51873/jhhs. pH meter dicelupkan ke dalam spray gel dan dibiarkan hingga nilai pH stabil. Pengukuran ini bertujuan untuk memastikan bahwa pH sediaan berada dalam rentang pH kulit yang disyaratkan, yaitu 4,5-7 . Pengukuran pH dilakukan secara berkala pada hari ke-0, 7, 14, 21, dan 28. Uji Viskositas Viskositas diukur menggunakan viskometer Brookfield Ametek dengan cara meletakkan sejumlah sampel dalam tabung kaca, kemudian memasukkan spindel nomor 3 hingga mencapai batas yang ditentukan. Spindel diputar dengan kecepatan 30 rpm, dan hasil viskositas dicatat setelah angka pada viskometer menunjukkan nilai yang Viskositas yang ideal untuk spray gel berkisar antara 25Ae250 cPs (Indalifiany et , 2. Pengukuran viskositas dilakukan secara berkala pada hari ke-0, 7, 14, 21, dan Uji Pola Penyemprotan Uji pola penyemprotan dilakukan dengan menyemprotkan sediaan spray gel ke selembar plastik mika yang telah Penyemprotan dilakukan dari jarak 3 cm, 5 cm, 10 cm, dan 15 cm. Setelah sediaan disemprotkan, langkah selanjutnya adalah mengamati pola formasi semprotan dan mengukur diameter pola semprotan yang dihasilkan. Setelah itu, dilakukan penimbangan lembar plastik mika untuk menentukan massa sediaan yang menempel, dihitung dalam gram, sebagai indikasi jumlah sediaan yang keluar dalam setiap penyemprotan . Uji Daya Sebar Lekat Pengujian daya sebar dan daya lekat sediaan spray gel dilakukan pada permukaan kulit lengan atas dari jarak 3 cm. Setelah penyemprotan, waktu dihitung selama 10 detik untuk memeriksa apakah gel tetap menempel di kulit atau mengalir ke bawah . Uji Iritasi Uji iritasi dilakukan pada 10 orang sukarelawan dengan cara open patch test . ji tempel terbuk. dengan cara spray gel disemprotkan ke kulit, lalu dibiarkan dalam kondisi terbuka selama 30 menit. Selanjutnya, diamati apakah terdapat gejala iritasi, seperti kemerahan, gatal atau reaksi alergi, pembengkakan, atau rasa perih pada area kulit yang terpapar sediaan spray gel . Daerah tempat test yang akan diuji yaitu pada lengan bawah bagian volar . isi belakang tanga. Uji Hedonik Uji hedonik dilakukan untuk mengetahui tingkat kesukaan pada sediaan spray gel dengan parameter aroma/bau, warna, bentuk. Uji ini dilakukan pada 10 orang sukarelawan . Uji Aktivitas Anti Luka Sediaan Spray gel Daun Bandotan Pada Luka Bakar Kelinci Pada pengujian aktivitas sediaan spray gel ini dilakukan setelah didapatkan formulasi terbaik dari ketiga gelling agent. Salah satu dari formulasi terbaik pada tiga gelling agent diuji dengan menggunakan hewan uji kelinci dengan umur 2-3 bulan sebanyak 3 ekor, diaklimatisasi selama 5 hari sebelum penelitian dilakukan. Hal ini dilakukan agar hewan uji terbiasa dengan lingkungan dan perlakuan yang baru dan diberi makan yang cukup setiap harinya. Sebanyak 3 ekor dibagi menjadi tiga kelompok perlakuan yaitu, sebagai kontrol negatif . idak diberikan apapu. , kontrol uji . pray gel ekstrak daun bandotan dengan formulasi terbai. dan kontrol positif . Sebelum hewan uji diberikan luka bakar, rambut pada punggung hewan uji terlebih dahulu dibersihkan menggunakan pisau cukur sampai licin, kemudian desinfeksi menggunakan kapas yang diberi etanol 70%. Kelinci dianestesi menggunakan krim emla dan biarkan selama 60 menit . , selanjutnya kelinci ditempeli plate logam dengan diameter 2 cm yang telah dipanaskan menggunakan api selama 3 menit lalu ditempelkan pada punggung kelinci selama 5 detik . Setelah diberikan perlakuan pada hewan uji selanjutnya diberikan perawatan 2 kali sehari selama 14 hari, kemudian masing-masing hewan uji diberi perlakuan sebagai kontrol negatif . idak diberikan apapu. , uji . pray gel ekstrak daun Copyright . The Authors This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Formulasi dan evaluasi fisik sediaan spray gel ekstrak daun bandotan (Ageratum conyzoides l. ) sebagai pengobatan luka DOI: 10. 51873/jhhs. bandotan dengan formulasi terbai. dan kontrol positif . Analisis Data Analisis data yang dilakukan pada penelitian ini yaitu dengan menggunakan metode ANOVA (Analysis of Varian. yang dibantu dengan aplikasi SPSS versi 22. Adapun penyembuhan luka bakar dihitung dengan rumus sebagai berikut: P% = d0 Oe dx y 100% Keterangan: P%: persentase penyembuhan luka d0: luas luka bakar awal dx: luas luka bakar pada hari tertentu HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Determinasi Determinasi tanaman dilakukan untuk memastikan identitas yang benar dari tanaman yang akan diteliti. Proses ini bertujuan menghindari kesalahan dalam pengumpulan bahan dan mencegah potensi tercampurnya tanaman yang diteliti dengan spesies lain. Determinasi tanaman dilakukan di Herbarium Jatinangor Laboratorium Taksonomi Tumbuhan Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Padjajaran (UNPAD) pada bulan Januari 2024 berdasarkan surat hasil determinasi No. 15/HB/12/2023 menyatakan bahwa benar tanaman uji adalah daun bandotan (Ageratum conyzoides L. Hasil Uji Susut Pengeringan Penetapan dilakukan untuk mengukur sisa zat setelah pengeringan pada suhu 105 EE selama 30 Pada suhu 105EE, air akan menguap, dan senyawa yang memiliki titik didih lebih rendah dari air juga akan ikut menguap . Data hasil penetapan susut pengeringan serbuk simplisia daun bandotan (Ageratum conyzoides L. ) disajikan dalam Tabel 2. Tabel 2 Hasil Susut Pengeringan Berat sampel dan cawan . 65,24 Berat sampel . Bobot konstan . 65,04 Hasil susut pengeringan yang diperoleh yaitu 10%. Hal ini sesuai dengan dengan literatur pada Farmakope herbal dimana kadar susut pengeringan tidak lebih dari 10%. Hasil Uji Kadar Air Penetapan kadar air yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan alat moisture analyzer. Tujuan penetapan kadar air adalah untuk mengetahui batasan maksimal atau rentang besaran kandungan air dalam simplisia dikarenakan hal ini berkaitan dengan kemurnian dan adanya kontaminan dalam % Susut pengeringan (%) bahan, sehingga penghilangan kadar air dalam jumlah tertentu dapat berguna untuk daya tahan simplisia selama waktu penyimpanan, kemudian simplisia dinilai cukup aman apabila mempunyai kadar air yang kurang dari 10% . Hasil uji kadar air pada simplisia daun Bandotan (Ageratum conyzoides L. ) adalah 8,26%. Hasil uji kadar air sesuai dengan literatur pada Farmakope herbal dimana kadar air tidak lebih dari Hasil Ekstraksi Hasil ekstraksi disajikan dalam tabel 3. Copyright . The Authors This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Formulasi dan evaluasi fisik sediaan spray gel ekstrak daun bandotan (Ageratum conyzoides l. ) sebagai pengobatan luka DOI: 10. 51873/jhhs. Tabel 3. Hasil Ekstraksi Daun Bandotan Berat Pelarut Berat Rendemen (%) Etanol 101,35 20,27 Dalam penelitian ini, metode ekstraksi yang diterapkan adalah maserasi. Istilah maserasi berasal dari bahasa Latin, "macerare," yang berarti merendam. Oleh karena itu, maserasi dapat didefinisikan sebagai suatu teknik ekstraksi yang sederhana, di mana serbuk simplisia direndam dalam pelarut yang sesuai tanpa memerlukan pemanasan . Metode maserasi pada penelitian ini menggunakan pelarut etanol 70% dengan cara merendam simplisia sampai dengan terendam dengan pelarut etanol 70% didalam bejana tertutup rapat dan terhindar dari sinar matahari selama 3 hari, dengan pergantian pelarut setiap 24 jam agar zat aktif pada tanaman tertarik oleh pelarut. Berat ekstrak yang diperoleh 101,35 gram dengan % rendemen yang diperoleh yaitu 20,27%. Hal ini sesuai dengan dengan literatur pada Farmakope herbal dimana rendemen yang diperoleh tidak kurang dari 9,6%. Hasil Skrining Fitokimia Skrining fitokimia adalah tahap awal untuk mengidentifikasi senyawa kimia yang terkandung didalam suatu simplisia, pada penelitian ini skrining fitokimia dilakukan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder dengan menggunakan beberapa pereaksi untuk melihat perubahan warna yang terjadi pada ekstrak daun bandotan. Hasil skrining fitokimia ekstrak daun bandotan disajikan dalam tabel 4. Tabel 4. Skrinning Fitokimia Ekstrak Daun Bandotan Senyawa Alkaloid Flavonoid Reagen Mayer Dragendroff Serbuk Mg. HCl pekat dan amil alkohol Saponin HCl 2N Tanin FeCl3 Terpenoid Liebermann-Burchard Sampel Terdapat endapan kuning Terdapat endapan merah bata Terdapat warna coklat kemerahan pada lapisan amil alkohol Terdapat busa permanen selama 10 menit Terdapat endapan hijau tua Terdapat warna coklat kemerahan Hasil Uji Organoleptis Uji organoleptis pada penelitian ini dilihat berdasarkan bentuk fisik spray gel yaitu berupa konsistensi, bentuk, warna dan Reaksi bau sediaan spray gel ekstrak etanol daun bandotan yang dilakukan selama 28 hari. Hasil pengamatan uji organoleptis disajikan dalam tabel 5. Tabel 5 Hasil Uji Organoleptis Formulasi Pengamatan Tekstur Warna Gel cair Hujau tua Cair Hujau tua Hari ke14 Cair Hujau tua Cair Hujau tua Hujau tua Copyright . The Authors This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Formulasi dan evaluasi fisik sediaan spray gel ekstrak daun bandotan (Ageratum conyzoides l. ) sebagai pengobatan luka DOI: 10. 51873/jhhs. Aroma Warna Aroma Khas Gel cair Hujau tua Khas Khas Gel cair Hujau tua Khas Tekstur Gel kental Gel kental Warna Aroma Hujau tua Khas Hujau tua Khas Tekstur Hasil uji organoleptis pada penelitian ini menunjukan adanya perubahan yang cukup signifikan pada tekstur sediaan terutama pada F1 dimana sediaan menjadi lebih cair pada hari ke-7 sedangkan pada F2 dan F3 tekstur sediaan terlihat berubah pada hari ke-14, untuk warna dan bau sediaan tidak terjadi perubahan dari hari ke-0 hingga hari ke-28. Perubahan tekstur pada sediaan dapat disebabkan oleh menurunnya viskositas sehingga sediaan menjadi lebih cair dari sebelumnya. Khas Khas Khas Gel cair Gel cair Gel cair Hujau tua Khas Gel cair Hujau tua Khas Hujau tua Khas Gel cair Hujau tua Khas Hujau tua Khas Gel cair Hujau tua Khas Hasil Uji Homogenitas Uji homogenitas dilakukan untuk menentukan adanya atau tidaknya partikel yang tidak larut dalam sediaan . Uji ini juga bertujuan untuk mengevaluasi tingkat pencampuran bahan-bahan dalam sediaan spray gel, karena sediaan tersebut harus bebas dari partikel atau gumpalan kasar yang dapat dirasakan saat disentuh . Hasil uji homogenitas disajikan dalam tabel Tabel 6 Hasil Uji Homogenitas Hari ke1 Uji Homogenitas Homogen Homogen Homogen Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Hasil uji homogenitas pada sediaan ini yaitu homogen pada hari ke-0 dan sediaan menjadi tidak homogen pada hari ke-7 hingga hari ke-28, hal ini disebabkan adanya partikel ekstrak yang mengendap pada dasar botol. Partikel ekstrak yang mengendap dikarenakan ekstrak yang digunakan cukup banyak sehingga tidak dapat dilakukan penyaringan setelah dilarutkan oleh etanol 70%, namun tidak terdapat gumpalan gel dari perbedaan konsentrasi HPMC pada masing-masing formula jika dilihat dari pengujian dengan menggunakan 2 kaca preparat. Hasil Uji pH Dalam penelitian ini, uji pH dilaksanakan menggunakan pH meter. Tujuan dari pengujian ini adalah untuk menentukan derajat keasaman dari spray gel . Hasil uji pH disajikan dalam tabel 7. Copyright . The Authors This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Formulasi dan evaluasi fisik sediaan spray gel ekstrak daun bandotan (Ageratum conyzoides l. ) sebagai pengobatan luka DOI: 10. 51873/jhhs. Tabel 7 Hasil Uji pH Hari ke0 Uji pH Hasil didapatkan pada sediaan F1. F2. F3 mengalami perubahan pada hari ke-7 dimana pH mengalami penurunan walaupun tidak terlalu signifikan, akan tetapi pH sediaan pada hari ke-14 hingga hari ke-28 tidak mengalami perubahan. Pengukuran nilai pH dilakukan untuk memeriksa pH pada sediaan dan harus memenuhi persyaratan rentang pH pada kulit yaitu . ,5-. Berdsarkan hasil yang didapatkan pH mengami perubahan namun masih masuk kedalam rentang batas persyaratan pH untuk kulit. Penurunan pH yang terjadi dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, termasuk suhu dan metode penyimpanan yang tidak optimal . Selain itu, pH sediaan juga dapat berubah akibat dekomposisi media yang dipengaruhi oleh suhu selama proses pembuatan atau penyimpanan, yang dapat menghasilkan asam atau basa. Perubahan pH juga dapat disebabkan oleh faktor penyimpanan yang mempertimbangkan kelembaban . Hasil Uji Viskositas Uji viskositas dilakukan bertujuan untuk mengetahui kemampuan spray gel dalam mengalir. Syarat viskositas untuk sediaan spray gel adalah 25-250 Cps, hal ini bertujuan untuk mempermudah saat pengaplikasian yaitu dengan cara disemprot . Uji viskositas yang digunakan pada penelitian ini menggunakan alat viskometer brookfield ametek, no spindel yang digunakan adalah 62 dan kecepatan yang digunakan adalah 60 rpm. Hasil uji viskositas disajikan dalam tabel 8. Tabel 8 Hasil Uji Viskositas Hari 5,50 Uji Viskositas (Cp. 81,50 54,00 22,00 15,00 9,00 94,50 Hasil uji viskositas pada penelitian ini terdapat perbedaan pada masing-masing formula. Hal ini disebabkan oleh variasi konsentrasi HPMC, yang berdampak pada tingkat viskositas. Peningkatan jumlah HPMC akan meningkatkan kemampuan alir dari spray gel. HPMC memiliki kemampuan untuk mengabsorbsi pelarut, sehingga pelarut tersebut tertahan dan membentuk massa gel yang padat. Konsentrasi HPMC yang lebih tinggi dapat meningkatkan kemampuan absorpsi, yang pada gilirannya menyebabkan peningkatan viskositas pada spray gel . Uji viskositas dilakukan selama 28 Berdasarkan tabel 4. 7 dan grafik 4. Hasil uji viskositas mengalami penurunan pada F1. F2 dan F3 setiap minggunya, hal ini dapat disebabkan karena terjadinya synersis yang merupakan karakteristik dari sebuah gel, synersis merupakan proses di mana cairan yang terjebak dalam gel keluar, memungkinkan cairan tersebut bergerak ke Akibatnya, spray gel mengalami penurunan viskositas. Selain itu, penurunan Copyright . The Authors This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Formulasi dan evaluasi fisik sediaan spray gel ekstrak daun bandotan (Ageratum conyzoides l. ) sebagai pengobatan luka DOI: 10. 51873/jhhs. viskositas juga dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti suhu dan metode penyimpanan . Suhu selama proses penyimpanan memengaruhi struktur gel, di mana pada suhu yang tinggi, rantai polimer dapat melepaskan gulungan dan membentuk struktur bola . mengakibatkan viskositas gel menurun . , sebaliknya jika gel disimpan pada suhu dingin, rantai polimer akan memendek dan terikat satu sama lain sehingga menyebabkan menyusut . Hasil Uji Pola Penyemprotan Uji pola penyemprotan ini dilakukan pada hari ke-0 dan ke-28 untuk melihat apakah ada perubahan pada pola penyemprotan, diameter dan bobot yang keluar dari aplikator. Hasil uji pola penyemprotan disajikan dalam tabel 9. Tabel 9 Hasil Uji Pola Penyemprotan Hari ke-0 Formula Jarak Diameter . Hari ke-28 Pola Menyeb Menggu Menggu Berat Jarak Diameter . 0,19 0,17 0,17 0,14 0,14 0,16 0,17 0,19 0,09 0,18 0,16 0,16 Hasil pola penyemprotan yang telah dilakukan didapatkan hasil yang bervariasi pada setiap formulasi hal ini dapat dilihat pada jarak dan diameter penyemprotan dimana semakin jauh jarak penyemprotan maka diameternya semakin lebar. Diameter pola penyemprotan juga dapat dipengaruhi oleh viskositas hal ini dapat dilihat setelah dilakukan uji pola penyemprotan pada hari ke-0 dan hari ke-28 terdapat perubahan. Perubahan yang terjadi pada diameter disemprotkan yaitu diameter sediaan terjadi pelebaran dengan rata-rata sebanyak 2,65 cm pada F1, 2,1 cm pada F2, 1,4 cm pada F3, sedangkan untuk pola penyemprotan pada sediaan terjadi perubahan pada F2 dimana pada hari ke-0 sediaan menyemprot lurus dengan pola menggumpal dengan ketinggian 3-15 cm sedangkan pada pola penyemprotan hari ke-28 dengan ketinggian semprot 10 cm dan 15 cm menyebar. Berdasarkan Pola Berat Menyebar Agak Menyebar Agak 0,14 0,15 0,08 0,14 0,13 0,13 0,14 0,15 0,16 0,15 0,13 pemeriksaan bobot pada F1. F2 dan F3 pada hari ke-0 tidak ada perbedaan yang cukup signifikan hal ini dapat dikarenakan mengeluarkan sediaan dengan cukup baik begitu pula dengan bobot pada F1. F2 dan F3 pada hari ke-0 tidak ada perbedaan yang cukup signifikan namun antara hari ke-0 dan ke-28 bobot yang keluar pada F1. F2. F3 mengalami menurunan hal ini dapat disebabkan gel yang dikeluarkan cukup cair dan menyebar pada saat disemprotkan sehingga bobot menurun walaupun tidak Pada penyemprotan yang telah dilakukan pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penyebab berubahnya pola penyemprotan, diameter dan bobot dapat disebabkan oleh menurunnya viskositas seiiring dengan bertambahnya waktu. Hasil Uji Daya Sebar Lekat Copyright . The Authors This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Formulasi dan evaluasi fisik sediaan spray gel ekstrak daun bandotan (Ageratum conyzoides l. ) sebagai pengobatan luka DOI: 10. 51873/jhhs. Uji daya sebar lekat bertujuan untuk mengetahui seberapa cepat sediaan menyebar dan memastikan sediaan dapat menyebar secara merata saat diaplikasikan pada kulit . Hasil dari uji daya sebar lekat pada penelitian ini terhadap keempat formula dengan jarak semprot 3 cm pada kulit lengan atas pada F1 menyebar namun tidak melekat selama 10 detik dimana sediaan mengalir setelah disemprotkan, sedangkan untuk F2 dan F3 menggumpal setelah disemprotkan namun melekat selama 10 detik kemudian mengalir kebawah sedikit demi sedikit dimana F2 mengalir lebih cepat daripada F3 hal ini dapat dikarenakan viskositas dan kadar HPMC pada F3 lebih tinggi daripada F2, dan F1. Hasil Uji Iritasi Pemeriksaan uji iritasi yang telah dilakukan pada 10 orang responden hasil yang didapatkan disajikan dalamm tabel 10. Tabel 9 Hasil Uji Iritasi Parameter yang Diuji Merah Gatal/alergi Bengkak Perih Skala Kesukaan Tidak timbul Timbul Sangat timbul Tidak timbul Timbul Sangat timbul Tidak timbul Timbul Sangat timbul Tidak timbul Timbul Sangat timbul Terdapat satu orang yang merasa gatal setelah pemberian spray gel F3 pada lengan bagian bawah volar, timbulnya alergi dapat dikarenakan pada substansi zat uji dan riwayat dermatitis kontak partisipan. Salah satu kondisi kulit yang disebabkan oleh reaksi inflamasi suatu alergen adalah dermatitis kontak atau juga dikenal sebagai eksim kontak. Alergen dapat menembus penghalang kulit dan membentuk kompleks Penilaian Kompleks ini kemudian berinteraksi dengan sistem imun yang terkait dengan mukosa kulit (SALT atau Skin-Associated Lymphoid Tissu. , serta mediator lain yang berperan dalam reaksi inflamasi . Hasil Uji Hedonik Uji hedonik dilakukan terhadap 10 responden, hasil disajikan dalam tabel 11. Tabel 11 Hasil Uji Hedonik Parameter yang Diuji Skala Kesukaan Tekstur Sangat suka Suka Agak suka Tidak suka Sangat tidak suka Sangat suka Suka Warna Penilaian (%) Copyright . The Authors This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Formulasi dan evaluasi fisik sediaan spray gel ekstrak daun bandotan (Ageratum conyzoides l. ) sebagai pengobatan luka DOI: 10. 51873/jhhs. Agak suka Tidak suka Sangat tidak suka Sangat suka Suka Agak suka Tidak suka Sangat tidak suka Aroma Berdasarkan hasil pemeriksaan uji hedonik sediaan spray gel daun bandotan pada 10 orang responden dapat dilihat presentase kesukaan pada segi tekstur responden lebih menyukai F2 dengan presentase nilai sebanyak 90%, sedangkan presentase pada F1 dan F3 yaitu sebanyak Pada segi warna responden menyukai F1. F2 dan F3 dengan presentase 90%, hal ini dapat dikarenakan ekstrak yang digunakan sama banyak sehingga tidak menimbulkan perbedaan warna. Pada segi aroma responden menyukai F1. F2 dan F3 dengan presentase 80%. Berdasarkan hasil uji hedonik yang telah dilakukan pada penelitian ini didapatkan sediaan yang lebih banyak disukai berdasarkan tekstur, warna dan aroma secara berurutan adalah F2. F1, dan F3. Hasil Uji Aktivitas Anti Luka Sediaan Spray gel Daun Bandotan Pada Luka Bakar Kelinci Hasil uji aktivitas anti luka sediaan spray gel daun bandotan pada luka bakar kelinci disajikan dalam tabel 12 dan 13. Grafik 1 dan 2. Tabel 12 Luas Luka Bakar Pada Kelinci Hari Kontrol Negatif 2,10 2,12 2,10 2,12 2,12 2,10 2,05 2,10 2,10 2,05 2,00 2,03 2,03 1,90 1,95 1,98 1,75 1,73 1,85 1,85 1,63 1,78 1,83 1,60 1,75 1,75 1,45 1,63 1,63 1,28 1,43 1,33 1,25 1,33 1,30 1,15 1,28 1,23 Ratarata 2,07 2,11 2,08 2,05 1,98 1,89 1,81 1,74 1,70 1,57 1,34 1,29 1,22 Luas Luka Bakar . Kontrol Positif Ratarata 2,06 2,06 2,04 1,94 2,01 1,98 1,93 1,88 1,95 1,92 1,63 1,76 1,81 1,73 1,53 1,69 1,71 1,64 1,50 1,53 1,60 1,54 1,40 1,50 1,60 1,50 1,40 1,48 1,53 1,47 1,40 1,43 1,43 1,42 1,35 1,40 1,43 1,39 1,20 1,40 1,43 1,34 1,20 1,40 1,43 1,34 1,20 1,33 1,43 1,32 Kontrol F2 2,08 2,05 2,25 2,08 2,05 2,25 2,05 1,80 2,20 1,80 1,73 2,15 1,75 1,70 2,08 1,73 1,68 2,00 1,58 1,68 1,70 1,50 1,65 1,70 1,38 1,63 1,70 1,28 1,53 1,20 1,05 1,50 1,20 0,93 1,38 1,13 0,90 1,15 0,65 Copyright . The Authors This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Ratarata 2,13 2,13 2,02 1,89 1,84 1,80 1,65 1,62 1,57 1,33 1,25 1,14 0,90 Formulasi dan evaluasi fisik sediaan spray gel ekstrak daun bandotan (Ageratum conyzoides l. ) sebagai pengobatan luka DOI: 10. 51873/jhhs. Luas Luka Bakar . Kontrol Negatif . Kontrol Positif . Kontrol F2 . Grafik 1 Luas Luka Bakar Pada Kelinci Tabel 13 Persentase Luas Luka Bakar Pada Kelinci Hari Kontrol Negatif Ratarata 0,00 -0,05 -0,05 -0,05 -0,05 -0,01 0,03 0,14 0,19 0,20 0,28 0,36 0,38 0,43 0,00 0,00 -0,06 -0,02 -0,02 -0,01 0,01 0,08 0,11 0,13 0,19 0,29 0,34 0,36 0,00 -0,06 -0,06 -0,05 0,00 0,05 0,13 0,08 0,09 0,13 0,19 0,34 0,35 0,39 0,00 -0,04 -0,06 -0,04 -0,03 0,01 0,05 0,10 0,13 0,15 0,22 0,33 0,35 0,39 Luas Luka Bakar (%) Kontrol Positif Rataluka luka 2 luka 3 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 -0,03 -0,03 -0,02 0,00 0,03 -0,01 0,01 0,04 0,06 0,03 0,04 0,19 0,12 0,09 0,13 0,24 0,16 0,14 0,18 0,25 0,24 0,20 0,23 0,30 0,25 0,20 0,25 0,30 0,26 0,24 0,27 0,30 0,29 0,29 0,29 0,33 0,30 0,29 0,30 0,40 0,30 0,29 0,33 0,40 0,30 0,29 0,33 0,40 0,34 0,29 0,34 Kontrol F2 Ratarata 0,00 -0,04 -0,04 -0,02 0,10 0,13 0,14 0,21 0,25 0,31 0,36 0,48 0,54 0,55 0,00 -0,02 -0,02 0,10 0,14 0,15 0,16 0,16 0,18 0,19 0,24 0,25 0,31 0,43 0,00 -0,13 -0,13 -0,10 -0,08 -0,04 0,00 0,15 0,15 0,15 0,40 0,40 0,44 0,68 0,00 -0,06 -0,06 -0,01 0,05 0,08 0,10 0,18 0,19 0,22 0,33 0,38 0,43 0,55 Luas Luka Bakar (%) Kontrol Negatif (%) 10 11 12 13 14 Kontrol Positif (%) Kontrol F2 (%) Grafik 2 Persentase Luas Luka Bakar Pada Kelinci Copyright . The Authors This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Formulasi dan evaluasi fisik sediaan spray gel ekstrak daun bandotan (Ageratum conyzoides l. ) sebagai pengobatan luka DOI: 10. 51873/jhhs. Berdasarkan tabel 13, 14 dan grafik 4, 5 uji aktivitas anti luka sediaan spray gel daun bandotan pada saat pemberian luka bakar terjadi peningkatan luas luka bakar pada hari ke-2 pada kelinci kontrol negatif luka 1 dan 3, kontrol positif luka 2 dan 3 dan kontrol F2 luka 1, 2 dan 3, kemudian luas luka bakar kembali meningkat pada hari ke3 pada kontrol negatif luka 2. Peningkatan luas luka bakar dapat terjadi karena reaksi inflamasi yang berlangsung sejak terjadinya Proses mekanisme yang terjadi ketika tubuh berusaha menetralisir dan menghilangkan agen-agen berbahaya di area yang terluka, sekaligus mempersiapkan kulit untuk memperbaiki jaringan yang rusak . Proses penyembuhan luka bakar terdiri dari 3 fase yaitu fase inflamasi . , proliferatif . , dan maturasi . (Saputro, 2. Pada penelitian yang telah dilakukan, fase inflamasi dengan adanya eritema, edema dan peningkatan suhu pada area luka terjadi selama 3-4 hari setelah terjadinya luka. Fase proliferatif dan fibroblas disebut juga sebagai fase fibrosis karena ditandai dengan adanya tonjolan, yang menonjol ini adalah proliferasi fibroblas yaitu pembentukan pembuluh darah baru dan kolagen yang mulai muncul pertama kali pada hari ke-3 kelompok pemberian F2, hari ke-4 pada kelompok kontrol positif dan hari ke-5 kelompok kontrol negatif. Proses penyembuhan luka bakar pada setiap kelompok mengalami penyembuhan yang linear, luas diameter luka bakar berkurang sedikit-demi sedikit seiring bertambahnya waktu. Pada fase maturasi . terjadi pematangan dan resorpsi jaringan berlebih, berakhirnya fase ini ditandai ketika semua tanda peradangan hilang, pada penelitian ini setiap kontrol membutuhkan waktu penyembuhan yang berbeda-beda hal ini tergantung pada efek sediaan dan faktor fisiologi hewan uji. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, sediaan spray gel ekstrak daun menyembuhkan luka yang dapat dilihat dari berkurangnya diameter luka selama 14 hari pada kelinci. Hal ini dapat dikarenakan kandungan senyawa fitokimia yang terdapat dalam daun bandotan yang telah dilakukan skrining fitokimia pada penelitian ini yaitu terdapat kandungan senyawa fitokimia seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan terpenoid. Hasil dari penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian . dimana pada daun bandotan terkandung senyawa flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, steroid, terpenoid, kumarin dan minyak atsiri. Beberapa bahan alami banyak diteliti dalam penyembuhan luka bakar karena memiliki kandungan fitokimia seperti flavonoid dimana flavonoid memiliki efek biologis tertentu yang berkaitan dengan antiinflamasi. Beberapa zat metabolit sekunder mempunyai fungsinya masing-masing dalam mencegah terjadinya infeksi sekunder dan sebagai antiinflamasi. Senyawa flavonoid permeabilitas dinding sel bakteri, mikrosom, dan lisosom melalui interaksinya dengan DNA bakteri. Proses ini menghasilkan transduksi energi ke membran sitoplasma bakteri dan menghambat motilitasnya. Selain itu, flavonoid juga memiliki kemampuan untuk meningkatkan sirkulasi darah ke seluruh tubuh, mencegah penyumbatan pembuluh darah, serta memiliki sifat anti-inflamasi yang membantu mengurangi rasa sakit saat terjadi pendarahan atau pembengkakan . Senyawa saponin berfungsi sebagai antimikroba dan berkontribusi dalam mempercepat proses penyembuhan luka, pembentukan sel epitel baru. Senyawa tanin bekerja sebagai antibakteri melalui reaksi dengan membran sel, inaktivasi enzim, serta destruksi atau inaktivasi fungsi materi Selain itu, tanin memiliki sifat astringen yang membantu mengecilkan poripori kulit, memperkuat kulit, dan menghambat pendarahan pada luka yang Di sisi lain, senyawa alkaloid aktivitas enzim yang terlibat dalam sintesis Hasil Analisis Data Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan untuk mengevaluasi signifikansi perbedaan antar kelompok Copyright . The Authors This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Formulasi dan evaluasi fisik sediaan spray gel ekstrak daun bandotan (Ageratum conyzoides l. ) sebagai pengobatan luka DOI: 10. 51873/jhhs. perlakuan, dilakukan uji One Way ANOVA (Analysis of Varianc. Hipotesis yang akan diuji berkaitan dengan perbandingan antar kelompok tersebut adalah H0: tidak terdapat perbedaan luas diameter luka bakar antara kontrol (-), kontrol ( ), dan kontrol F2. H1: paling sedikit terdapat satu perbedaan luas diameter luka bakar antara kontrol (-), kontrol ( ), dan kontrol F2. Tabel 14 Hasil Uji ANOVA ANOVA Luas Luka Bakar Sum of Squares Mean Square Within Groups Total Between Groups Berdasarkan tabel 14 hasil uji ANOVA, diperoleh nilai signifikansi 0,037. Dengan = 0,05. Nilai signifikansi yang diperoleh adalah 0,037 < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima, artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara luas luka bakar antara kontrol (-), kontrol ( ), dan kontrol F2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan simpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Ekstrak etanol daun bandotan dapat diformulasikan kedalam bentuk sediaan Sig. spray gel dengan menggunakan gelling agent HPMC. Formulasi terbaik sediaan spray gel ekstrak daun bandotan adalah formula F2 dengan konsentrasi HPMC sebanyak 0,3%. Formula berdasarkan hasil evaluasi pH sediaan yang stabil, formulasi F2 yang lebih banyak disukai dari segi tekstur dan warna berdasarkan hasil pengujian hedonik dan tidak mengiritasi kulit. Formulasi terbaik spray gel ekstrak daun bandotan yaitu formula F2 juga memberikan pengaruh terhadap luka bakar pada hewan percobaan kelinci dengan berkurangnya luas diameter luka bakar seiring bertambahnya waktu. REFERENSI