Equilibrium : Jurnal Pendidikan Vol. Issu 3. September Ae Des 2022 PAeISSN : 2339-2401/E-ISSN : 2477-0221 https://journal. id/index. php/equilibrium/index Prodi Pendidikan Sosiologi Equilibrium : Jurnal Pendidikan Vol. Issu 3. Sep-Des 2022 Sosiologi http://journal. id/index. php/equilibrium Motivasi Perempuan Bekerja Sebagai Buruh Tani (Studi Buruh Tani Pada Pengusaha Tanaman Cabai Besar dan Tomat di Desa Yosomulyo. Kabupaten Banyuwang. Ari Widiyawati Sosiologi. IAIN Pontianak Email : Ari. widiya90@gmail. Abstract. This study aims to identy motivation of women to work as a farm worker in chili and tomato plants entrepreneur at Yosomulyo Village. Banyuwangi district. The type of research used research qualitative The data collection technique used purposive sampling that is women to work as a farm worker in chili and tomato plants entrepreneur at Yosomulyo Village. The results of the research showed they work as a farm worker are caused three motivations there are motivies intrinsic, motivies extrinsic, and motivies of The intrinsic motivies are caused by economic problems, low education, and, old age. The extrinsic motivies are caused by positive work environment consis of salary, policy, work relationship, and supervice. The religiosity motivies are caused work to get reward and pleasure from God . Keywords : Motivation. Women. Farm Worker Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motivasi perempuan bekerja sebagai buruh tani pada pengusaha tanaman cabai besar dan tomat di Desa Yosomulyo. Kabupaten Banyuwangi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengambilan data menggunakan prosedur purposive yaitu orang yang terlibat langsung dalam penelitian, dalam hal ini adalah buruh tani perempuan yang bekerja pada pengusaha tanaman cabai besar dan tomat. Hasil penelitian menunjukan motivasi para perempuan menjadi buruh tani karena tiga motif yaitu motif intrinsik, motif ekstrinsik, dan motif religiusitas. Motif intrinsic yaitu karena masalah ekonomi. Pendidikan yang rendah, dan usia yang tidak lagi muda. Motif ekstrinsik karena lingkungan dan kenyamanan dalam bekerja yang terdiri dari gaji, kebijakan, hubungan kerja, dan pengawasan. Selanjutnya motif religiusitas disebabkan bekerja untuk mendapatkan pahala dan memperoleh ridha dari Allah. Kata kunci : Motivasi. Perempuan. Buruh tani PENDAHULUAN Kesetaraan gender dalam dunia kerja saat ini sudah mulai dirasakan oleh kaum perempuan. Perempuan yang dulunya menyandang pekerjaan domestik . engerjakan pekerjaan rumah tangg. saat ini sudah memiliki kesempatan yang sama untuk bekerja di sektor publik . uar ruma. Sektor pekerjaan yang umumnya di geluti oleh kaum laki-laki pun kini telah banyak diisi oleh kaum Misalkan dalam pekerjaan formal kini telah ada pilot, nahkoda, tentara, bupati/walikota, rector, polisi, dan hakim perempuan. Sedangkan dalam ranah pekerjaan informal saat ini telah ada juru parkir, tukang kebersihan, satpam, serta buruh tani perempuan. Berdasarkan data dari BPS di tahun 2019 sektor pertanian merupakan sektor yang paling banyak menyerap lapangan pekerjaan dengan jumlah 27,33 persen meskipun mengalami penurunan di tahun 2018 sebanyak 28,79 persen (Nur Hamidah 2. Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menyebutkan Equilibrium : Jurnal Pendidikan Vol. Issu 3. September Ae Des 2022 PAeISSN : 2339-2401/E-ISSN : 2477-0221 https://journal. id/index. php/equilibrium/index bahwa di tahun 2018, jumlah petani perempuan ada sekitar 8 juta orang, yang berarti bahwa 24 % dari 25,4 juta petani di Indonesia adalah petani perempuan . yahyiuti dan pasaribu 2. Pertanian masih menjadi salah satu sektor pekerjaan yang paling banyak diminati utamanya bagi perempuan pedesaan karena tanpa memandang pendidikan, umur, dan skill khusus. Kendati demikian diberbagai penelitian menunjukkan keterlibatan perempuan dalam sektor pertanian ternyata memiliki andil yang sangat besar dalam pembangunan ekonomi pertanian maupun dalam menunjang kesejahteraan keluarga. Hal tersebut menunjukan bahwa kini seorang perempuan tidak hanya berpangku tangan mengandalkan pendapatan suami. Untuk kesejahteraan keluarga, mereka tampil membantu mencari pundi-pundi rupiah dengan bekerja bahkan rela menjadi buruh tani. Sekalipun buruh tani identik dengan pekerjaan kotor, banyak menguras tenaga, harus rela bekerja ditengah terik matahari, rela mereka lakoni untuk membantu meningkatkan pendapatan ekonomi keluarganya. Fenomena ini peneliti jumpai di Desa Yosomulyo. Kabupaten Banyuwangi. Kabupaten Banyuwangi merupakan kabupaten terbesar di Jawa Timur. Selain wilayahnya yang luas. Banyuwangi merupakan daerah agraris. Sektor pertanian menyumbang pendapatan terbesar dan merupakan sektor penyangga perekonomian di Banyuwangi. Menurut Badan Statistik Kabupaten Banyuwangi . alam Kabupaten Banyuwangi, 2. , sektor pertanian menjadi salah satu sektor penyumbang terbesar dalam produk domestik regional bruto menurut lapangan usaha. Selain itu pertanian di Banyuwangi tidak hanya sebagai sumber pendapatan, tetapi juga memiliki andil dalam penyerapan tenaga kerja. Seperti yang terjadi di Desa Yosomulyo, salah satu desa yang berada di Kabupaten Banyuwangi ini rata-rata penduduknya bekerja sebagai petani, karena memang luas wilayah Desa Yosomulyo sebagian besar adalah area persawahan. Lahan pertanian di Desa Yosomulyo tidak hanya ditanami padi tetapi juga tanaman hortikultura berjenis buah-buahan seperti, jeruk, buah naga, semangka, melon, timun, dll, dan jenis sayuran seperti, bawang merah, tomat, cabai, kacang Panjang, dll. Petani di Desa Yosomulyo dapat diklasifikasikan menjadi empat, yakni petani yang mengolah lahan sendiri, petani penyewa yang menggarap sawah orang lain, pengedok yakni petani penggarap dengan system bagi hasil, petani subsisten dan buruh tani. Petani subsisten merupakan petani yang hanya membantu mengolah lahan pertanian keluarga tanpa di bayar. Sedangkan buruh tani merupakan pekerjaan membantu mengolah lahan pertanian yang dibayar dan bahkan menjadikannya sebagai mata pencaharian utama. Fenomena menarik yang penulis jumpai di Desa Yosomulyo adalah adanya buruh tani perempuan yang bekerja pada satu juragan yang berinisial M. Bapak M ini merupakan pengusaha tanaman cabai besar dan tomat yang memiliki sekitar 150 pekerja/buruh tani perempuan. Mereka bekerja dari jam 6 pagi sampai jam 1 siang. Setiap harinya ada 4 mobil pick up yang menjemput mereka menuju area persawahan karena lokasinya jauh dan ada di beberapa tempat. Dalam satu mobil diisi 30-40 orang, dua orang duduk disamping sopir dan lainnya berdiri di bak pick up bagian belakang. Uniknya aktivitas pertanian yang mereka kerjakan tidak hanya sekedar menanam, merawat, dan memanen, tetapi mereka juga melakukan penyemprotan termasuk meracik obat untuk tanaman yang umumnya dilakukan oleh laki-laki. Dalam hal ini penulis tertarik menggali data terkait motivasi para perempuan di Desa Yosomulyo bekerja menjadi buruh tani. Penggalian data dibatasi pada buruh tani perempuan yang bekerja pada Bapak M seorang pengusaha tanaman cabai besar dan tomat. METODE PENELITIAN Fokus penelitian ini untuk mengetahui motivasi Perempuan bekerja sebagai buruh tani. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian yang berusaha menggali makna dari suatu fenomena (Djamal 2. Pendekatan deskriptif dimana data yang diperoleh berupa kata-kata atau dijelaskan secara deskriptif. Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara dan observasi. Dalam wawancara peneliti menggunakan prosedur purposive yaitu menetapkan informan dengan pertimbangan atau kriteria tertentu (Sugiyono 2. Dalam hal ini peneliti memilih informan yang terlibat langsung dalam penelitian Equilibrium : Jurnal Pendidikan Vol. Issu 3. September Ae Des 2022 PAeISSN : 2339-2401/E-ISSN : 2477-0221 https://journal. id/index. php/equilibrium/index sekaligus membatasi informan yaitu hanya buruh tani perempuan yang bekerja pada Bapak M seorang pengusaha tanaman cabai besar dan tomat. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Keberhasilan kinerja pertanian tentu tidak lepas dari seseorang yang bekerja disektor pertanian Dalam usaha penanaman cabai besar dan tomat peran pegawai memiliki andil yang sangat besar dalam keberhasilan perolehan hasil panen. Untuk mendukung usahanya tersebut Bapak M memiliki ratusan pegawai/buruh tani yang terdiri dari laki-laki dan perempuan, namun lebih didominasi oleh perempuan yakni sekitar 150 orang. Dari jumlah tersebut para buruh tani ini terbagi menjadi 4 kelompok berdasarkan lokasi rumah atau kedekatan tempat tinggal. Lahan pertanian tanaman cabai besar dan tomat Bapak M seluas kurang lebih 5 hektar, dari luas lahan pertanian tersebut ada yang ditanami cabai besar dan ada yang ditanami tomat dengan lokasi yang terpisah. Sawah tersebut tidak semua milik pribadi, melainkan ada yang menyewa. Lahan pertanian yang ditanami cabai besar dan tomat ini berada di 4 lokasi yang berbeda-beda dimana dalam pengerjaannya para buruh tani tersebut dibagi menjadi 4 kelompok, sehingga masing-masing kelompok mengerjakan satu lokasi. Bapak M selaku pengusaha tanaman cabai besar dan tomat ini tidak pernah berhenti menanam. Ketika tanaman itu sudah selesai panen maka akan segera di bongkar dan ditanami kembali sehingga pekerjaan yang melibatkan buruh tani tersebut akan selalu ada dan tidak pernah terputus. Dari hasil wawancara dengan narasumber, tahapan proses penanaman tanaman cabai besar dan tomat dari awal sampai pasca panen yaitu mulai dari : Mencangkul lahan persawahan yang akan dilakukan penanaman, . Membuat bendengan yakni meninggikan tempat yang akan ditanami, . Memupuk tanah, sebelum tanah ditanami diberi pupuk terlebih dahulu untuk selanjutnya, . Penutupan bendengan dengan plastic, tanah yang telah diberi pupuk ditutup dengan plastik . Melubangi plastik, fungsinya sebagai media tempat bertumbuhnya tanaman, . Gejik, tanah dilubangi menggunakan alat untuk proses penanaman bibit, . Penyemprotan, tanaman disemprot menggunakan pestisida untuk mendukung pertumbuhannya, . Wiwil, pembuangan cabang pohon yang kecil, . Nglanjari, menancapkan semacam kayu atau bambu kecil untuk menopang tanaman, . Naleni, menali tanaman ke kayu atau bambu kecil atau lanjaran, . Mbendeng/Gawir, memberikan tali samping bagian atas tanaman dengan mengaitkan ke kayu/lanjarang satu dengan lainnya, . Matun, membersihkan rumput-rumput disekitar tanaman agar tidak mengganggu pertumbuhan . Memanen, memetik hasil buah, dan yang terahir, . Pasca panen akan dilakukan mencabutan tanaman dari bedengan Dari 14 step mulai dari penanaman . abai besar dan toma. hingga pasca panen sebagian besar dilakukan oleh buruh tani perempuan. Hanya beberapa step saja yang tidak bisa mereka lakukan yaitu seperti mencangkul, membuat bedengan, dan Mbendeng/Gawir. Selebihnya bisa mereka kerjakan semua termasuk dalam menyemprot tanaman. Penyemprotan tanaman yang umumnya dilakukan oleh laki-laki kini sudah bisa dilakukan oleh perempuan karena peralatan pertanian yang semakin Penyemprotan tanaman tidak lagi dengan menggendong alat semprot melainkan hanya dengan mengulir selang. Sehingga buruh tani perempuan hanya belajar cara meracik obat/pestisida yang akan disemprotkan ke tanaman untuk mendukung pertumbuhan tanaman tersebut. Dari hasil penggalian data, dahulu pekerjaan penyemprotan diberikan oleh buruh tani laki-laki, namun telah ada kejadian obat-obat pestisida banyak yang hilang, sehingga saat ini pekerjaan tersebut dipercayakan oleh tenaga perempuan setelah sekali- dua kali diajarkan meracik obat oleh juragan Equilibrium : Jurnal Pendidikan Vol. Issu 3. September Ae Des 2022 PAeISSN : 2339-2401/E-ISSN : 2477-0221 https://journal. id/index. php/equilibrium/index Dalam melakukan aktivitas pertanian, para buruh tani ini tidak ada spesialisasi tenaga kerja. Meminjam istilah Durkheim mereka ini bekerja secara solidaritas mekanik. Suatu masyarakat yang dicirikan dimana semua orang adalah generalis. Semua orang terlibat pada aktivitas yang sama atau serupa dan memiliki tanggung jawab yang sama (George 2. Dari berangkat kerja, memulai pekerjaan, istirahat sampai dengan pulang para buruh tani perempuan ini kompak mengerjakan secara bersama-sama. Begitu juga dalam proses penanaman hingga pasca panen sebagian besar pekerjaan tersebut mereka kerjakan secara bersama-sama tanpa ada spesialisasi pekerjaan. Setelah wawancara terkait peran buruh tani perempuan dalam kegiatan pertanian, peneliti kembali menggali data berupa motivasi mereka bekerja menjadi buruh tani. Data didapat bahwa bekerja menjadi buruh tani pada Bapak M ini berbeda dengan menjadi buruh tani di tempat lain. Jika ditempat lain adalah musiman, misal bekerja ketika panen saja, di tempat Bapak M ini mereka akan senantiasa bekerja karena pekerjaan yang selalu ada, tidak pernah terputus. Dengan kata lain sebenernya yang mereka harapkan adalah memperoleh pendapatan yang pasti, selalu punya pendapatan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Seperti yang diungkap oleh salah satu narasumber yang mengatakan Aubondo tenogo hasil pastiAy yang memiliki makna hanya dengan bermodal tenaga akan mendapatkan hasil . yang pasti. Latar belakang perekonomian para buruh tani perempuan ini bisa dibilang menengah ke bawah. Suami mereka rata-rata bekerja menjadi petani pengedok, buruh tani, tukang bangunan, pedagang. Pendapatan suami mereka tidak tentu dan tidak setiap hari suami mereka bekerja atau menghasilkan uang, tentu hal ini berbanding terbalik dengan kebutuhan rumah tangga yang harus mereka penuhi setiap harinya. Maka dalam hal ini sang istri membantu mencukupi kebutuhan rumah tangga dengan ikut bekerja. Selain itu dari data yang didapat ternyata ada buruh tani yang harus menjadi tulang punggung karena suaminya sakit sehingga tidak bisa bekerja, dan ada pula yang suaminya sudah meninggal sehingga buruh tani tersebut harus mencukupi kebutuhan hidupnya Latar belakang pendidikan buruh tani perempuan ini paling tinggi setingkat SMA, namun sangat banyak sekali yang hanya sampai jenjang SMP bahkan SD. Dari segi usia, rata-rata umur mereka 40 tahunan ke atas. Dari Pendidikan dan pertimbangan usia tersebut mereka mengaku kesulitan dalam mencari kerja terlebih di daerah pedesaan sendiri yang memang tidak banyak variasi pekerjaan yang bisa mereka masuki. Bekerja menjadi buruh tani pada Bapak M ini juga sangat mudah sekali. Dimana tidak ada kebijakan atau aturan khusus dalam bekerja. Semua orang yang ingin bekerja pada Bapak M ini akan diterima tanpa melihat ijazah atau memiliki ketrampilan khusus. Kalimat yang dilontarkan oleh Bapak M kepada para pegawainya adalah Aupenggawean ketok moto ae mosok gak isoAy yang memiliki makna pekerjaan yang terlihat mata pasti bisa dikerjakan semua orang. Bapak M ini mempercayakan semua pekerjaan pada pegawainya, termasuk dalam bekerja pun mereka jarang diawasi. Ketika ke sawah Bapak M hanya datang untuk mengontrol tanaman dan menginstruksikan pekerjaan yang harus di kerjakan nantinya. Dalam bekerja pun mereka tidak terikat oleh aturan. Jika buruh tani tersebut tidak masuk kerja mereka tidak perlu meminta ijin kepada juragan. Cukup memberitahu kepada teman yang bertugas mencatat dan nantinya tidak akan dimasukan dalam list bayaran. Jika ingin berhenti bekerja pun juga diperbolehkan, termasuk ketika ingin bergabung untuk bekerja kembali juga tidak dipermasalahkan. Dalam kesehariannya jam 05. 30 para buruh tani akan standby di depan rumah masing-masing atau jika rumah mereka jauh dari jalan raya maka mereka akan menunggu dipinggir jalan. Sebelum 00 mereka akan dijemput dengan mobil pick up. Waktu kerja buruh tani tersebut mulai dari 00 sampai dengan jam 13. 00 dengan gaji sebesar Rp. 000, kecuali untuk pekerjaan menyemprot tanaman mereka mendapatkan upah lebih besar yakni Rp. Jika ada lembur perjamnya mereka akan mendapat tambahan Rp 10. Gaji tersebut dibayarkan seminggu sekali. Untuk hari raya biasanya juragan mereka akan memberikan sembako kepada masing-masing pegawai/buruh. Mereka mengaku gaji tersebut lumayan cukup. Equilibrium : Jurnal Pendidikan Vol. Issu 3. September Ae Des 2022 PAeISSN : 2339-2401/E-ISSN : 2477-0221 https://journal. id/index. php/equilibrium/index Dari hasil wawancara dengan narasumber setelah tiba dilokasi mereka akan sarapan terlebih dahulu, mereka membuka bekal bersama-sama pada momen itu juga terjadi saling tukar-menukar sayur atau lauk. Setelah selesai makan mereka akan memulai pekerjaan bersama, disela-sela kerja mereka mengobrol dan bercanda satu sama lain, saat waktunya istirahat pun mereka akan istirahat bersama dan mengakhiri pekerjaan secara bersama. Apabila akan lembur mereka membawa mukena dari rumah agar bisa melaksanakan shalat di sawah dengan mengambil air wudhu di parit sungai. Mereka juga mengaku wallahualam sholatnya diterima atau tidak karena baju yang mungkin kotor, tetapi mereka tidak mau meninggalkan kewajiban sholat. Sesama buruh tani perempuan mereka memiliki hubungan yang sangat erat dan jarang terjadi konflik. Kalaupun ada perselisihan hanya terjadi ditempat, dan pada saat itu saja, tidak di pendam dan tidak berlarut-larut. Hal inilah yang membuat mereka nyaman bahkan ada rasa kangen jika mereka tidak bekerja. PEMBAHASAN Motivasi perempuan dalam bekerja tentu tidak sama antar satu orang dengan orang lain. Seorang ibu rumah tangga memutuskan untuk bekerja pasti memiliki makna tersendiri karena bukan merupakan tanggung jawab utama dalam mencari nafkah. Motivasi adalah suatu pendorong bagi seseorang untuk melakukan sesuatu pada keadaan dan waktu tertentu. Alasan pendorong tersebut muncul ketika seseorang memiliki kebutuhan dan sebagian besar kebutuhan itulah yang mendorong seseorang untuk memiliki motivasi tersebut (Utaminingsih 2. Lebih lanjut lagi menurut Wahjosumidjo dalam (Silvia dan Andriani 2. motivasi dapat timbul karena dua hal yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang timbul dari dalam diri seseorang yakni dapat disebabkan oleh suatu kepribadian, pendidikan, cita-cita, ambisi, atau pengalaman. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul dari luar diri seseorang yakni dapat dipengaruhi oleh lingkungan seperti keluarga, teman, kolega, dll. Menurut Manullang dalam (Maulana. Hamid, dan Mayoan 2. menjabarkan factor ekstrinsik dapat dipengaruhi oleh gaji, kebijakan, hubungan kerja, lingkungan kerja dan supervise atau pengawasan. Ada sudut pandang lain yang mengkategorikan motivasi perempuan bekerja, yaitu perempuan bekerja karena motif ekonomi dan perempuan bekerja karena motif religiusitas. Kategori pertama berhubungan dengan kebutuhan ekonomi dimana seseorang bekerja untuk memenuhi atau mencukupi kebutuhan ekonominya. Sedangkan kategori kedua berhubungan dengan agama. Kategori kedua ini maksudnya adalah perempuan bekerja bukan semata-mata karena ekonomi akan tetapi ada alasan lain yang mendasarinya yaitu ingin mendapatkan pahala (Wantini dan Kurniati 2. Dalam Islam hal ini terdapat dalam QS. At-Taubah ayat 105. a a aEa IEaO aNEa aEa a OEI aE aIa IcaEaa OAOA OaEIa aEaCA Artinya : AuKatakanlah . ahai Muhamma. , bekerjalah kalian! Maka Allah. Rasul-Nya, dan para mukminin akan melihat pekerjaanmuAy. Dalam surat tersebut dapat diartikan bahwa semua orang yang melakukan pekerjaan dinilai sebagai ibadah. Termasuk seorang istri yang bekerja untuk membantu mencukupi kebutuhan rumah tangga merupakan sebuah pahala yang besar untuknya. Dari teori tersebut dan dari hasil wawancara, dapat disimpulkan motivasi perempuan bekerja menjadi buruh tani pada pengusaha tanaman cabai besar dan tomat Bapak M dapat diklasifikasikan menjadi 3 motif, yaitu motif intrinsik, ekstrinsik, dan juga motif religiusitas. Motif Instrinsik Dorongan dalam diri yang meliputi kepribadian, harapan, pengalaman, dan Pendidikan. Dorongan tersebut saling mengkualifikasi artinya mendukung satu sama lain. Dari hasil wawancara motivasi terbesar perempuan bekerja menjadi buruh tani karena keadaan ekonomi. Equilibrium : Jurnal Pendidikan Vol. Issu 3. September Ae Des 2022 PAeISSN : 2339-2401/E-ISSN : 2477-0221 https://journal. id/index. php/equilibrium/index Perekonomian keluarga yang dirasa kurang membuat mereka harus terlibat dalam membantu mencari nafkah. Membantu perekonomian keluarga dan mencukupi kebutuhan hidup dengan bekerja menjadi buruh tani tentu bukan tanpa alasan. Mengingat usia yang tidak lagi muda dan rendahnya pendidikan tidak banyak pekerjaan yang bisa mereka pilih. Rendahnya pendidikan formal yang dimiliki akan mempengaruhi keterampilan dan kemampuan sehingga akses untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik akan sangat terbatas. Terlebih di daerah pedesaan sendiri yang memang sedikit sekali lapangan pekerjaan. Sehingga menjadi buruh tani merupakan pilihan atas kondisi Jika dilihat dari pengalaman dan kepribadian. Pengalaman dalam bertani tidaklah asing bagi Para buruh tani ini dibesarkan dilingkungan pertanian, orang tua mereka rata-rata adalah Sehingga aktivitas pertanian akan mudah mereka pelajari, apalagi dalam bertani tidak memerlukan ketrampilan kusus, sehingga dengan diajarkan dan melihat pun akan mudah mereka Hal ini seperti yang terjadi di tempat penelitian. Setiap ada pegawai/buruh tani yang baru masuk tidak perlu diajarkan secara khusus atau intens, mereka hanya melihat teman yang sedang bekerja lalu mereka akan mengikuti sendiri. Dalam hal kepribadian umumnya masyarakat desa adalah masyarakat yang mensibukkan diri, pribadi yang tidak bisa diam. Sehingga ketika mengetahui kebutuhan ekonomi yang semakin besar, pendapatan suami yang masih kurang untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga maka mereka tidak bisa hanya berdiam diri dirumah. Dorongan untuk bekerja membantu suami pun akan tumbuh dan membuat mereka rela bekerja apapun termasuk menjadi buruh tani. Harapannya agar bisa membantu mencukupi kebutuhan dan meningkatkan perekonomian . Motif Ekstrinsik Dorongan dari luar diri seseorang dan kenyamanan dalam bekerja. Bisa dipengaruhi oleh lingkungan kerja dan insentif pekerjaan. Jika dianalisis para buruh tani perempuan yang bekerja pada pengusaha tanaman cabai besar dan tomat ini memang memiliki ikatan yang kuat, dimana semua aktivitas mereka lakukan secara bersama-sama. Menurut Ferdinand Tonnies dalam (Susanti dan Sismudjianto 2. mereka termasuk pada kelompok sosial gemeinscaft yaitu bentuk kehidupan bersama dimana anggotanya diikat oleh hubungan batin yang kuat, memiliki solidaritas yang tinggi, dan hubungan emosional yang bersifat kekeluargaan. Selain mereka diikat oleh hubungan yang didasarkan pada kedekatan tempat tinggal, mereka juga memiliki ikatan yang didasarkan atas kesamaan dalam keinginan dan tindakan . Hal tersebut menjadi suatu kenyamanan tersendiri apalagi ditambah dengan tidak adanya peraturan dan pengawasan yang ketat dalam bekerja. Dalam segi intensif pekerjaan, yang menjadi pendorong terbesar mereka menjadi buruh tani pada pengusaha Bapak M ini karena pekerjaan yang selalu ada, sehingga mereka bisa bekerja setiap hari dan memiliki pemasukan yang bisa diandalkan. Selain itu gaji yang dirasa cukup membuat mereka betah dan bertahan hingga bertahun-tahun menjadi buruh tani. Motif Religiusitas Buruh tani perempuan ini bisa dibilang memiliki tingkat religiusitas yang tinggi. Meskipun mereka bekerja di sawah, mereka tidak melalaikan ibadah sholat. Tidak jarang mereka membawa mukena dari rumah apabila bekerja di sawah yang jaraknya cukup jauh atau dirasa akan lembur. Ketika sudah memasuki waktu dhuhur mereka akan istirahat makan siang lalu melaksanakan sholat di gubuk dan melanjutkan aktivitas pertanian yang belum selesai. Seorang perempuan yang membantu perekonomian keluarga dan rela menjadi buruh tani tentu merupakan hal yang istimewa. Mereka tidak hanya bertanggung jawab dalam mengurus rumah tangga tetapi juga mempunyai naluri untuk membantu mencukupi kebutuhan rumah Keterlibatan perempuan dalam membantu menopang perekonomian keluarga tentu merupakan sebuah kemuliaan yang memiliki pahala yang besar dan bernilai sedekah. Seperti dalam hadis riwayat Bukhari yang mengatakan Auapabila seorang muslim memberikan nafkah kepada Equilibrium : Jurnal Pendidikan Vol. Issu 3. September Ae Des 2022 PAeISSN : 2339-2401/E-ISSN : 2477-0221 https://journal. id/index. php/equilibrium/index keluarganya dan dia mengharapkan pahala darinya, maka itu bernilai sedekahAy (M. Nashirudin Hasil wawancara dengan narasumber mereka mengaku bahwa selain bekerja untuk membantu mencukupi kebutuhan sehari-hari, bekerja juga merupakan suatu ibadah, dan juga mencari ridho Allah. Bekerja adalah usaha atau salah satu ikhtiar untuk mendapatkan rezeki. Menjadi buruh tani adalah pekerjaan yang halal disamping itu mereka juga masih bisa mengurus rumah tangga. KESIMPULAN Dewasa ini semakin tinggi peran serta perempuan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarganya dengan ikut bekerja. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya perempuan yang terjun dalam sektor publik . ekerja diluar ruma. , tidak hanya bekerja di perkantoran berada disebuah ruangan yang nyaman, tetapi juga rela bekerja menjadi buruh tani, bekerja ditempat yang kotor, becek, dan berada di bawah terik matahari. Seperti di Desa Yosomulyo, banyak perempuan yang menjadi buruh tani pada pengusaha tanaman cabai besar dan tomat. Dari hasil penelitian dapat diambil kesimpulan motivasi perempuan tersebut bekerja menjadi buruh tani karena tiga motif yakni motif instrinsik, motif ekstrinsik, dan motif religiusitas. Motif instrinsik adalah motif yang berasal dari dalam individu. Dalam hal ini motivasi mereka karena keadaan ekonomi. Keadaan ekonomi yang kurang membuat mereka membantu dengan ikut bekerja karena tingkat pendidikan yang rendah dan usia yang tidak lagi muda membuat mereka bekerja menjadi buruh tani. Sedangkan motif ekstrinsik, dorongan dari luar individu yaitu karena lingkungan dan kenyamanan dalam bekerja. Hal ini didukung oleh gaji, kebijakan, hubungan kerja, lingkungan kerja, dan supervise. Selanjutnya adanya motif religiusitas, yakni bekerja bukan semata-mata karena ekonomi akan tetapi juga untuk mendapatkan pahala. Selain buruh tani bekerja untuk membantu mencukupi kebutuhan rumah tangga mereka bekerja juga untuk mengharapkan pahala dan bentuk ikhtiar untuk mendapatkan rezeky dan ridho dari Allah. DAFTAR PUSTAKA