Jurnal Pendidikan. Sains dan Teknologi Vol 13. No 01, 2026 pages 30 - 49 e-ISSN : 2655-3392 https://doi. org/10. 47668/edusaintek. INTEGRASI LEVEL OF SERVICE (LOS) DAN KEPADATAN UMKM SEBAGAI DASAR PENETAPAN PRIORITAS PENINGKATAN JARINGAN JALAN DI KOTA CIREBON Khairi Ahza Hail Keliwar1. Ummu Kultsum Muhammad2. Fathiyah Rahmi Hidayat3 1,2,3 Institut Teknologi Kalimantan. Indonesia *e-mail korespondensi: khairi. keliwar@lecturer. Abstract: Economic growth and increasing community mobility require a reliable and efficient transportation system. Nevertheless, classic transportation problems such as traffic congestion may reduce community income and hinder distribution systems. This study aims to assess the Level of Service (LoS) of road segments in Cirebon City as a basis for determining priority road network improvements to support the development of Micro. Small, and Medium Enterprises (MSME. in Cirebon City. The analytical methods employed include LoS analysis based on the Indonesian Road Capacity Guidelines (PKJI) 2023. Kernel Density Estimation (KDE) analysis, and spatial overlay analysis. The results indicate that 47. 37% of the observed road segments fall within LoS D-F, meaning that traffic conditions range from approaching instability to severe congestion. The KDE analysis reveals that the highest concentration of MSMEs is primarily located in Kejaksan District and Pekalipan District. Furthermore, the overlay analysis identifies priority road segments that require attention to support MSMEs in Cirebon City, namely Wahidin Sudirohusodo Street (LoS F) and Sunan Gunung Jati Street (LoS F) in Kejaksan District, as well as Pekalipan Street (LoS E) and Nyi Mas Gandasari Street (LoS D) in Pekalipan District. Based on these findings, the policy implications include the implementation of traffic management measures, infrastructure capacity enhancement on priority road segments, and interventions to improve overall road network capacity. Keywords: Level of Service (LoS). Micro Small and Medium Enterprises (MSME. Spatial Overlay. Abstrak: Pertumbuhan ekonomi dan mobilitas masyarakat membutuhkan sistem transportasi yang handal dan efektif. Meskipun demikian permasalahan klasik transportasi seperti kemacetan dapat dapat mengurangi pendapatan masyarakat dan menghambat sistem distribusi masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai Level of Service (LoS) ruas jalan di Kota Cirebon sebagai dasar penetapan prioritas peningkatan jaringan jalan dalam mendukung pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kota Cirebon. Adapun metode analisis yang digunakan antara lain analisis tingkat LoS berdasarkan Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI) 2023, analisis Kernel Density Estimation (KDE), dan analisis spatial overlay. Hasil penelitian menunjukkan nilai 47,37% termasuk pada tingkat LoS D-F yang berarti arus lalu lintas mulai mendekati tidak stabil hingga terjadi kemacetan. Hasil analisis KDE menunjukkan bahwa kepadatan UMKM tertinggi sebagian besar terpusat di Kecamatan Kejaksan dan Kecamatan Pekalipan. Sementara itu hasil analisis overlay menunjukkan bahwa ruas jalan prioritas yang perlu diperhatikan dalam mendukung UMKM Kota Cirebon adalah Jl Wahidin Sudirohusudo (LoS F) dan Jl Sunan Gunung Jati (LoS F) di Kecamatan Kejaksan serta Jl Pekalipan (LoS E) dan Jl Nyi Mas Gandasari (LoS D) di Kecamatan Pekalipan. Sehingga implikasi kebijakan berdasarkan hasil tersebut yaitu perlu adanya kebijakan manajemen lalu lintas, peningkatan kapasitas infrastruktur pada ruas jalan prioritas, serta intervensi peningkatan kapasitas jaringan jalan. Kata Kunci: Level of Service (LoS). Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Spatial Overlay. Histori Naskah Diserahkan: 30-03-2026 Direvisi: 26-02-2026 Diterima: 15-22-2025 This is an open access article under the CC BY-SAlicense. Copyright A2026 by Author. Published by STKIP PGRI Situbondo Integrasi Level Of Service (Lo. Dan Kepadatan Umkm Sebagai Dasar Penetapan Prioritas. Jurnal Pendidikan. Sains dan Teknologi Vol 13. No 01, 2026 PENDAHULUAN Kota Cirebon merupakan salah satu kota di Provinsi Jawa Barat dengan jumlah 679 jiwa (BPS, 2. Melalui Perpres 87 Tahun 2021. Kota Cirebon ditetapkan sebagai bagian dari Kawasan Metropolitan Rebana yang diarahkan sebagai pusat kegiatan wilayah (PKW) untuk mengurangi beban Metropolitan Bandung Raya (Setiawan & Chalil. Posisi strategis sebagai pusat perdagangan dan jasa, yang didukung infrastruktur transportasi seperti jalur kereta api dan akses Tol Cipali, memperkuat perannya sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi kawasan (Rachman & Ningrum, 2. Potensi tersebut juga didukung oleh peningkatan jumlah Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dalam beberapa tahun terakhir (Ahdi & Rochman, 2. , sejalan dengan peran signifikan UMKM dalam perekonomian nasional, baik terhadap PDB maupun penciptaan lapangan kerja (Kementerian Koperasi dan UMKM, 2. Dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, infrastruktur transportasi khususnya jaringan jalan memiliki peran penting (Sukesa & Papyrakis, 2. Pertumbuhan ekonomi dan sektor industri memerlukan dukungan transportasi sebagai input pembangunan (Pradhan & Bagchi, 2. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa aksesibilitas dan kualitas jaringan jalan berpengaruh terhadap kinerja UMKM (Aulia dkk. , 2024. Pradhan & Bagchi, 2013. RofiAoi. Namun demikian, permasalahan kemacetan akibat parkir liar dan kepadatan lalu lintas pada jam sibuk masih terjadi di Kota Cirebon (Riyanto dkk. , 2024. Aulia & Abdullah, 2. dan berpotensi menghambat distribusi serta menurunkan pendapatan masyarakat (Ramadhani , 2. Salah satu parameter utama dalam evaluasi kinerja jalan adalah Level of Service (LoS), yang menggambarkan tingkat pelayanan berdasarkan rasio volume lalu lintas terhadap kapasitas jalan sesuai standar PKJI 2023 (Tia dkk. , 2. Meskipun kajian LoS telah banyak dilakukan, penelitian tersebut umumnya berfokus pada aspek teknis lalu lintas. Di sisi lain, kajian UMKM lebih menitikberatkan aspek ekonomi tanpa mengaitkannya secara spasial dengan kinerja jaringan jalan. Dengan demikian, terdapat research gap berupa belum terintegrasinya analisis LoS dengan kepadatan UMKM berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). Penelitian ini menawarkan kebaruan melalui integrasi analisis Level of Service dan kepadatan UMKM menggunakan pendekatan spatial overlay berbasis SIG untuk menetapkan prioritas peningkatan jaringan jalan yang tidak hanya berorientasi pada kelancaran lalu lintas, tetapi juga pada penguatan aktivitas ekonomi lokal. Sehingga tujuan penelitian ini adalah untuk menilai tingkat pelayanan (LoS) ruas jalan sebagai dasar penetapan prioritas peningkatan jaringan jalan dalam mendukung pengembangan UMKM di Kota Cirebon. Sebagai langkah untuk mencapai tujuan tersebut, maka penelitian ini dilakukan dengan sasaran antara lain: Menganalisis tingkat LoS pada ruas jalan di Kota Cirebon berdasarkan PKJI Menganalisis tingkat kepadatan UMKM dengan metode Kernel Density Estimation (KDE). Melakukan analisis overlay untuk menggabungkan Peta LoS jalan dengan peta kepadatan UMKM di Kota Cirebon. Integrasi Level Of Service (Lo. Dan Kepadatan Umkm Sebagai Dasar Penetapan Prioritas. Jurnal Pendidikan. Sains dan Teknologi Vol 13. No 01, 2026 Penelitian ini diharapkan mampu berkontribusi dalam memperkaya kajian perencanaan transportasi dan perencanaan wilayah dan kota, khususnya dalam pengembangan pendekatan integratif antara kinerja jaringan jalan dan aktivitas ekonomi lokal. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi Pemerintah Kota Cirebon dalam menyusun kebijakan peningkatan dan pengelolaan jaringan jalan yang lebih tepat sasaran dan berbasis kebutuhan ekonomi lokal. Adapun alur penelitian adalah sebagai berikut. Gambar 1 Alur Penelitian METODE Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan melalui metode survei primer maupun survei sekunder. Pengumpulan data dengan metode survei primer dilakukan untuk mengumpulkan data survei lalu lintas (Traffic Countin. pada 19 ruas jalan di Kota Cirebon. 19 ruas jalan tersebut dipilih berdasarkan rekomendasi dari Dinas Perhubungan Kota Cirebon disebabkan beberapa alasan, antara lain tingkat kemacetan, sebagai pintu masuk dan/atau keluar barang maupun orang ke Kota Cirebon, serta berada pada titik-titik padat UMKM. Berdasarkan rekomendasi tersebut, maka nilai perhitungan LoS akan diintegrasikan dengan kepadatan UMKM di Kota Cirebon. Adapun waktu pengumpulan data dilakukan pada waktu hari kerja . dengan pertimbangan kemudahan mengumpulkan data perpindahan barang yang masuk dan/atau keluar dari Kota Cirebon. Selain itu, adanya keterbatasan waktu sehingga pengumpulan data dilakukan hanya pada waktu hari kerja. Survei ini dilakukan untuk mengumpulkan data volume kendaraan pada ruas jalan amatan yang menghasilkan volume kendaraan . mp/ja. sebagai dasar perhitungan Level of Service (LoS). Perhitungan volume kendaraan dilakukan pada berbagai jenis kendaraan antara lain berupa kendaraan ringan . ight vehicles/LV), kendaraan berat . eavy vehicles/HV), bus, sepeda motor . otorcyle/MC), kendaraan tak bermotor . nmotorized/NMT). Selain itu, traffic counting juga dilakukan untuk memperoleh gambaran hambatan samping pada ruas jalan yang Pengumpulan data dilakukan pada waktu berbeda berdasarkan kondisi lalu lintas puncak yang telah dianalisis terlebih dahulu melalui data arus lalu lintas yang diperoleh dari pengamatan google maps. Penetapan jam puncak ditentukan berdasarkan kondisi lalu lintas pada pagi hari, siang hari, serta sore hari pada setiap ruas jalan. Sebagai contoh penentuan jam puncak pada tiga ruas jalan sebagai berikut. Integrasi Level Of Service (Lo. Dan Kepadatan Umkm Sebagai Dasar Penetapan Prioritas. Jurnal Pendidikan. Sains dan Teknologi Vol 13. No 01, 2026 Gambar 2 Contoh penentuan jam puncak untuk pengumpulan data Adapun survei sekunder dilakukan untuk memperoleh data jaringan jalan dan atribut Data ini dapat diperoleh dari Bappeda. Dinas PU. Dinas Perhubungan Kota Cirebon dan didukung oleh data openstreetmap. Data yang dibutuhkan antara lain sebagai berikut. Tabel 1 Kebutuhan Data Sekunder Variabel Sub Variabel Data Jaringan Jalan Geometri jalan dan Atribut Jumlah lajur Kelas jalan Data Parameter LoS Kapasitas dasar Faktor penyesuaian (FCw. FCsp. FCSF. FCP) Data UMKM Jumlah unit Lokasi sebaran Sumber: olahan penulis, 2025 Metode Analisis Analisis Level of Service (LoS) Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis kinerja lalu lintas berdasarkan Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI) yang dikeluarkan oleh Kementerian Gambar 1 Langkah analisis LoS Integrasi Level Of Service (Lo. Dan Kepadatan Umkm Sebagai Dasar Penetapan Prioritas. Jurnal Pendidikan. Sains dan Teknologi Vol 13. No 01, 2026 Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui Surat Edaran Direktorat Jenderal Bina Marga No. 21/SE/Db/2023. Perhitungan arus lalu lintas Analisis arus lalu lintas dilakukan untuk mengidentifikasi arus lalu lintas atau volume lalu lintas per jam pada ruas jalan yang diteliti. data yang diperlukan untuk menghitung volume lalu lintas yaitu nilai ekivalasi mobil penumpang (EMP) setiap jenis kendaraan yang merupakan nilai ketentuan yang telah ditetapkan pada PKJI. Setelah data terkumpul maka perhitungan dapat dilakukan dengan persamaan berikut. q = . mpSM x SM empMP x MP empKS x KS] . Dengan, : Arus kendaraan dalam smp : ekivalen sepeda motor : Sepeda motor : ekivalen mobil penumpang : mobil penumpang : ekivalen kendaraan sedang : kendaraan sedang Perhitungan kapasitas jalan Setelah melakukan analisis volume lalu lintas pada ruas jalan penelitian, maka selanjutnya adalah menghitung nilai kapasitas ruas jalan tersebut. Berdasarkan PKJI, berikut persamaan yang digunakan untuk menentukan nilai kapasitas jalan. C = Co FClj FCpa FChs FCuk Dengan, : nilai kapasitas : kapasitas dasar FClj : faktor koreksi akibat perbedaan lebar lajur FCpa : faktor koreksi akibat pemisah arah FChs : faktor koreksi pada jalan yang dilengkapi bahu dan trotoar Fcuk : faktor koreksi ukuran kota Faktor koreksi sebagaimana menjadi dasar perhitungan nilai kapasitas merupakan nilai ketentuan yang ditetapkan dalam PKJI. Penentuan tingkat kinerja ruas jalan Penilaian tingkat pelayanan (LoS) diketahui melalui perhitungan nilai derajat kejenuhan dengan pedoman penilaian sebagai berikut. Tabel 2 Penyesuaian Nilai LoS Tingkat Karakteristik Derajat Kejenuhan Pelayanan Kondisi arus bebas dengan kecepatan tinggi 0-0. Pengemudi dapat memilih kecepatan yang diinginkan tanpa hambatan. Arus stabil tetapi kecepatan operasi dibatasi 0. oleh kondisi lalu lintas. Pengemudi memiliki kebebasan yang cukup untuk memilih kecepatan. Arus stabil tetapi kecepatdan dan gerak 0. Pengemudi dibatasi dalam memilih kecepatan. Integrasi Level Of Service (Lo. Dan Kepadatan Umkm Sebagai Dasar Penetapan Prioritas. Jurnal Pendidikan. Sains dan Teknologi Vol 13. No 01, 2026 Tingkat Pelayanan Karakteristik Derajat Kejenuhan Arus mendekati tidak stabil. Kecepatan 0. masih dikendalikan, q/C masih dapat Arus lalu lintas mendekati/berada pada 0. Arus yang tidak stabil. Kecepatan terkadang terhenti. Arus lalu lintas dipaksakan atau macet, >1 Kecepatan rendah, volume dibawah kapasitas. Antrian panjang dan terjadi hambatan-hambatan yang besar. Sumber: Irawan & Mazni, 2018 Hasil analisis tingkat LoS tersebut kemudian dipetakan menjadi peta LoS Jalan di Kota Cirebon dengan menggunakan software ArcGIS. Hasil tersebut akan menjadi dasar masukan untuk analisis spatial overlay dengan kepadatan UMKM. Analisis Kernel Density Estimation (KDE) Metode ini memungkinkan kamu untuk mengubah titik-titik lokasi UMKM menjadi peta raster yang menunjukkan intensitas atau kepadatan spasial dari titik-titik tersebut dalam suatu wilayah. Kernel Density Estimation digunakan dalam analisis spasial untuk menentukan distribusi kepadatan suatu variabel atau peristiwa di area geografis (Latue dkk. , 2. Hasil dari analisis kepadatan kernel umumnya ditampilkan dalam bentuk peta panas atau permukaan kontinu yang menggambarkan variasi tingkat kepadatan, baik yang tinggi maupun rendah, di suatu wilayah (Botev dkk. , 2. Pada penelitian ini hasil analisis tersebut kemudian diintegrasikan dengan hasil analisis tingkat LoS untuk menghasilkan prioritas peningkatan jaringan jalan dalam mendukung UMKM di Kota Cirebon. Pada penelitian ini digunakan software ArcGIS untuk menganalisis kepadatan UMKM dengan metode KDE. Analisis Spatial Overlay Analisis Spatial overlay dilakukan untuk menggabungkan Peta LoS jalan di Kota Cirebon dengan peta kepadatan UMKM yang telah dianalisis dengan metode KDE pada software ArcGIS. Metode spatial overlay adalah metode analisis spasial yang digunakan untuk menggabungkan dua atau lebih lapisan data spasial untuk menganalisis interaksi dan hubungan antara berbagai elemen geografis (Alharbi, 2. Gambar 3 Alur Metode Penelitian. Integrasi Level Of Service (Lo. Dan Kepadatan Umkm Sebagai Dasar Penetapan Prioritas. Jurnal Pendidikan. Sains dan Teknologi Vol 13. No 01, 2026 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian ini dilakukan untuk mengintegrasikan nilai LoS dengan Kepadatan UMKM di Kota Cirebon. Kota Cirebon sebagai salah satu kota dalam Kawasan Metropolitan Baru Rebana harus merespon peluang tersebut dengan persiapan yang baik. Kota Cirebon sebagai salah satu kota yang mengedepankan sektor UMKM sebagai sektor unggulan dalam meningkatkan ekonomi daerah perlu kesiapan pada infrastruktur pendukung, termasuk infrastruktu jalan yang akan memudahkan akses maupun distribusi barang UMKM kepada konsumen. Masalah kemacetan yang terjadi pada beberapa ruas jalan dapat menjadi penghambat distribusi barang bagi pelaku UMKM. Analisis Tingkat LoS Analisis untuk menilai tingkat kemacetan di Kota Cirebon dapat diketahui dari hasil analisis tingkat LoS yang diperoleh dari perhitungan pada Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI) 2023. Adapun ruas jalan yang dijadikan sebagai lokasi traffic counting adalah antara lain sebagai berikut. Tabel 3 Tipe Jalan dan Lebar Efektif Nama Jalan Tipe Jalan Lebar Efektif . Jl Kanggaraksan Jl Tuparev 2/2 TT 2/2 TT Jl Kalijaga 4/2 T Jl Bima 2/2 TT Jl Kepatihan 2/2 TT Jl Setia 2/2 TT Jl Winaon 2/2 TT Jl Dr Sutomo 2/2 TT Jl Pasuketan 2/1 T Jl Petratean 2/1 T Jl Sutawinangun 2/2 TT Jl Jenderal Sudirman 2/2 TT Jl Cipto Mangunkusumo 4/2 T Jl Nyi Mas Gandasari 2/2 TT Jl Pekalipan 2/1 T Jl Tentara Pelajar 4/2 TT Jl Wahidin Sudirohusudo 2/2 TT Jl Kalitanjung 2/2 TT Jl Sunan Gunung Jati 4/2 T Tabel 3 menunjukkan ruas jalan yang dijadikan sebagai objek penelitian untuk menilai tingkat LoS di Kota Cirebon. Lokasi tersebut dipilih berdasarkan rekomendasi Dinas Perhubungan Kota Cirebon yang perlu evaluasi tingkat LoS disebabkan beberapa alasan, antara lain: . sebagai titik masuk dan keluar barang dari dan/atau ke Kota Cirebon. ruas jalan dengan tingkat kemacetan tinggi di Kota Cirebon. Berada pada daerah padat UMKM. Gambar 3 berikut merupakan peta lokasi traffic counting dilakukan untuk memperoleh nilai LoS di Kota Cirebon. Integrasi Level Of Service (Lo. Dan Kepadatan Umkm Sebagai Dasar Penetapan Prioritas. Jurnal Pendidikan. Sains dan Teknologi Vol 13. No 01, 2026 Berdasarkan traffic counting yang dilakukan, maka selanjutnya adalah melakukan perhitungan sesuai prosedur yang telah dijelaskan sebelumnya. Berikut langkah analisis untuk menghasilkan nilai LoS di Kota Cirebon. Perhitungan Arus Lalu Lintas Nilai LoS dapat diketahui melalui perhitungan arus lalu lintas, yaitu menghitung volume kendaraan pada ruas jalan yang diamati. Perhitungan nilai arus lalu lintas dapat diketahui dengan persamaan . Adapun pedoman yang perlu diketahui adalah besaran nilai ekivalen . yang ditunjukkan pada tabel 4 dan tabel 5 sebagai berikut, dimana nilai ekivalen tersebut berbeda pada jalan terbagi dan tak terbagi. Gambar 4 Peta Lokasi Traffic Counting Tabel 4 EMP untuk tipe jalan tak terbagi Tipe jalan 2/2-TT Volume lalu-lintas total dua arah end/ja. <1800 >1800 EMPks LJalur <6 m EMPsm LJalur >6 m 0,35 0,25 Sumber: PKJI, 2023 Tabel 5 EMP untuk tipe jalan terbagi Tipe jalan 4/2-T atau 2/1 6/2-T atau 3/1 8/2-T atau 4/1 Volume lalu-lintas total dua arah . end/ja. <1050 EMPks EMPsm >1050 0,25 <1100 >1100 0,25 Sumber: PKJI, 2023 Penelitan ini dilakukan pada 19 ruas jalan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Sebagai upaya memudahkan penulisan penelitian, maka perhitungan arus lalu lintas dilakukan pada tiga ruas jalan sebagai contoh, yaitu ruas Jalan Kanggaraksan. Jalan Tuparev dan Jalan Kalijaga. Hasil perhitungan arus lalu lintas adalah sebagai berikut. Integrasi Level Of Service (Lo. Dan Kepadatan Umkm Sebagai Dasar Penetapan Prioritas. Jurnal Pendidikan. Sains dan Teknologi Vol 13. No 01, 2026 Tabel 6 Hasil analisis volume lalu lintas di Jalan Kanggaraksan kendaraan/jam Waktu EMP smp/jam 0,25 Sumber: Hasil analisis, 2025 Tabel 7 Hasil analisis volume lalu lintas di Jalan Tuparev kendaraan/jam Waktu EMP Sumber: Hasil analisis, 2025 smp/jam 0,25 Tabel 8 Hasil analisis volume lalu lintas di Jalan Kalijaga Ruas 1 Waktu kendaraan/jam EMP smp/jam 0,25 Ruas 2 Sumber: Hasil analisis, 2025 0,25 Hasil perhitungan menunjukkan nilai arus lalu lintas yang berbeda tiap ruas jalan. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, volume lalu lintas puncak ruas Jalan Kanggaraksan terjadi pada pukul 12. 00 WIB dengan jumlah 2. 102 smp/jam. Rata-rata arus lalu lintas yang melintasi Jalan Kanggaraksan pada saat hari kerja adalah 1. 921 smp/jam. Sementara pada ruas Jalan Tuparev volume lalu lintas puncak terjadi pada pukul 12. 30 WIB dengan 302 smp/jam. Rata-rata arus lalu lintas yang melintasi Jalan Tuparev pada saat hari kerja adalah 2. 229 smp/jam. Selanjutnya volume lalu lintas pada ruas 1 Jalan Kalijaga di jam puncak terjadi pada pukul 16. 00 WIB dengan jumlah 1. 546 smp/jam, dengan rata-rata volume arus lalu lintas adalah 1494 smp/jam. Sementara ruas 2 Jalan Kalijaga volume puncak terjadi pada pukul 17. 00 WIB, dengan rata-rata volume arus lalu lintas adalah 1. smp/jam. Ruas 1 Jalan Kalijaga merupakan ruas jalan yang menjadi penghubung pergerakan Integrasi Level Of Service (Lo. Dan Kepadatan Umkm Sebagai Dasar Penetapan Prioritas. Jurnal Pendidikan. Sains dan Teknologi Vol 13. No 01, 2026 dari Kota Cirebon menuju Kabupaten Cirebon. Sementara ruas 2 Jalan Kalijaga merupakan ruas jalan yang menuju ke Kota Cirebon dari Kabupaten Cirebon. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, maka dapat diketahui perbandingan nilai pada ketiga ruas jalan saat masing-masing jam puncaknya sebagai berikut. Perbandingan Arus Lalu Lintas Pada Jalan Kanggaraksan dan Jalan Tuparev saat jam Perbandingan Arus Lalu Lintas pada ruas 1 dan ruas 2 Jalan Kalijaga Kanggaraksan Ruas 1 Tuparev Gambar 5 Perbandingan Arus Lalu Lintas Jalan Kanggaraksan dan Jalan Tuparev pada Jam Puncak smp/jam smp/jam smp/jam smp/jam Ruas 2 Gambar 6 Perbandingan Arus Lalu Lintas Ruas 1 dan Ruas 2 Jalan Kalijaga Perhitungan Kapasitas Jalan Kapasitas jalan perkotaan dilakukan untuk mengetahui daya tampung ruas jalan dalam menampung kendaraan yang melewat ruas jalan tersebut. Berdasarkan data hambatan samping dan juga data lalu lintas harian yang telah dikumpulkan, perhitungan kapasitas jalan diperoleh sebagai berikut. Tabel 9 Kapasitas Jalan Jalan Faktor koreksi kapasitas FClj Fcpa FChs Kapasitas . mp/ja. Fcuk Jl Kanggaraksan 1,25 0,89 Jl Tuparev 1,25 0,92 Jl Kalijaga 1,08 0,98 3238,70 Hasil analisis menunjukkan kapasitas jalan Kalijaga paling tinggi disebabkan Jalan tersebut merupakan jalan 2 ruas yang dilengkapi dengan median jalan. Berbeda dengan kedua jalan lainnya. Meskipun demikian, adanya hambatan samping dapat menjadi penghambat arus lalu lintas pada tersebut. Analisis Kinerja Ruas Jalan Analisis kinerja lalu lintas dilakukan untuk menilai ruas jalan yang diamati. Penilaian dapat dilakukan melalui nilai derajat kejenuhan (D. yang diperoleh dari hasil pembagian antara volume lalu lintas dengan kapasitas pada ruas jalan yang diamati. Nilai derajat kejenuhan akan menjadi dasar dalam penentuan tingkat Level of Service (LOS) dengan kriteria Integrasi Level Of Service (Lo. Dan Kepadatan Umkm Sebagai Dasar Penetapan Prioritas. Jurnal Pendidikan. Sains dan Teknologi Vol 13. No 01, 2026 pengambilan keputusan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya pada bab metodologi. Berdasarkan hasil data yang telah dikumpulkan serta nilai volume dan kapasitas yang telah diperoleh pada perhitungan sebelumnya maka nilai derajat kejenuhan pada setiap ruas jalan yang diamati beserta tingkat LOS sebagai berikut. Tabel 10 Nilai Derajat Kejenuhan dan Level of Service Nama Jalan Tipe Jalan Lebar Efektif . Volume . mp/ja. Kapasitas . mp/ja. Derajat Kejenuhan LOS Jl Kanggaraksan 2/2 TT 2,102 2,804 Jl Tuparev 2/2 TT 2,302 2,898 Jl Kalijaga 4/2 T 2,991 3,239 Tabel 10 menunjukkan bahwa pada ketiga ruas jalan. Jalan Kalijaga menjadi jalan dengan tingkat kejenuhan tertinggi sehingga nilai LoS pada jalan tersebut termasuk kategori LoS E yang berarti arus lalu lintas mendekati/berada pada kapasitas. Arus yang tidak stabil. Kecepatan terkadang terhenti. Perbedaan ini menunjukkan adanya perbedaan volume arus lalu lintas serta pengaruh hambatan samping yang berbeda pada masing-masing jalan. Berdasarkan perhitungan yang sama dilakukan pada ruas jalan lainnya sehingga diperoleh nilai LoS pada masing-masing jalan sebagai berikut. Nama Jalan Jl Kanggaraksan Jl Tuparev Tabel 11 Nilai Level of Service (LoS) Lebar Tipe Volume Kapasitas Efektif Jalan mp/ja. mp/ja. 2/2 TT 2,102 2,804 2/2 TT 2,302 2,898 Jl Kalijaga Jl Bima Jl Kepatihan 4/2 T 2/2 TT 2/2 TT 2,990 3,239 0,09 0,20 Jl Setia Jl Winaon Jl Dr Sutomo Jl Pasuketan Jl Petratean 2/2 TT 2/2 TT 2/2 TT 2/1 T 2/1 T 0,15 0,12 0,25 0,34 0,25 Jl Sutawinangun Jl Jenderal Sudirman Jl Cipto Mangunkusumo Jl Nyi Mas Gandasari Jl Pekalipan Jl Tentara Pelajar Jl Wahidin Sudirohusudo Jl Kalitanjung Jl Sunan Gunung Jati 2/2 TT 0,40 2/2 TT 0,60 4/2 T 0,86 2/2 TT 0,81 2/1 T 4/2 TT 0,87 0,99 2/2 TT 1,19 2/2 TT 1,28 4/2 T 1,23 Derajat Kejenuha Integrasi Level Of Service (Lo. Dan Kepadatan Umkm Sebagai Dasar Penetapan Prioritas. LOS Jurnal Pendidikan. Sains dan Teknologi Vol 13. No 01, 2026 Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel 11 diatas, diketahui ruas jalan yang termasuk kategori F antara lain Jalan Wahidin Sudirohusudo. Jalan Kalintanjung, dan Jalan Sunan Kalijaga. Level of Service pada tingkat F menunjukkan bahwa pada ruas jalan tersebut arus lalu lintas dipaksakan atau macet, kecepatan rendah, volume dibawah kapasitas, antrian panjang dan terjadi hambatan-hambatan yang besar. Selain ketiga ruas jalan tersebut yang termasuk kategori F, terdapat juga tiga ruas jalan lainnya yang masih termasuk kategori LoS tingkat E dan dua ruas jalan berada pada tingkat D. Tingkat LoS E menunjukkan bahwa arus lalu lintas mendekati/berada pada kapasitas, arus yang tidak stabil, kecepatan terkadang terhenti. Sementara LoS pada tingkat D menunnjukkan arus mendekati tidak stabil, kecepatan masih dikendalikan, q/C masih dapat ditolerir. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat dipetakan tingkat LoS jalan pada masing-masing ruas jalan sebagai berikut. Analisis Kepadatan UMKM Kepadatan UMKM di Kota Cirebon diperoleh melalui analisis Kernel Density Estimation (KDE). Analisis ini diperoleh dari sebaran titik UMKM di Kota Cirebon. Pada tahun 2024 jumlah UMKM yang aktif dan terdaftar sebagai binaan Dinas Koperasi. Usaha Kecil. Menengah. Perdagangan Perindustrian (DKUKMPP) Kota Cirebon 276 pelaku UMKM. Berdasarkan jumlah UMKM pada tabel 12, kemudian divisualisasikan dalam bentuk peta sebaran sebagai dasar penentuan kepadatan UMKM di Kota Cirebon. Gambar 7 Peta Tingkat LoS Tabel 12 Jumlah UMKM Kota Cirebon Kecamatan Harjamukti Kesambi Kelurahan Jumlah UMKM Argasunya Kalijaga Harjamukti Kecapi Larangan Karyamulya Drajat Sunyaragi Kesambi Integrasi Level Of Service (Lo. Dan Kepadatan Umkm Sebagai Dasar Penetapan Prioritas. Jurnal Pendidikan. Sains dan Teknologi Vol 13. No 01, 2026 Lemahwungkuk Pekalipan Kejaksan Total Pekiringan Pegambiran Kesepuhan Lemahwungkuk Panjunan Jagasatru Pulasaren Pekalipan Pekalangan Kejaksan Kebonbaru Sukapura Kesenden Berikut visualisasi sebaran UMKM dan hasil analisis kepadatan UMKM di Kota Cirebon dengan analisis KDE. Gambar 8 Sebaran UMKM Gambar 9 Kepadatan UMKM dengan KDE Berdasarkan hasil analisis diketahui kepadatan paling tinggi berada pada Kecamatan Kejaksan dan Pekalipan. Sementara pada kecamatan Lemahwungkuk. Kesambi, dan Harjamukti pola kepadatan UMKM cenderung menyebar. Hal ini juga dipengaruhi oleh luas wilayah pada masing-masing kecamatan serta banyaknya jumlah penduduk dan persebaran bangunan pada masing-masing kecamatan. Analisis Spatial Overlay Analisis spatial overlay digunakan untuk memetakan integrasi hasil analisis LoS dan kepadatan UMKM di Kota Cirebon. Hasil akhir analisis spatial overlay akan menampilkan peta tumpang tindih LoS jalan dengan kepadatan UMKM. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut. Integrasi Level Of Service (Lo. Dan Kepadatan Umkm Sebagai Dasar Penetapan Prioritas. Jurnal Pendidikan. Sains dan Teknologi Vol 13. No 01, 2026 Gambar 10 Peta Overlay LoS danKepadatan UMKM Pembahasan Pengaruh LoS terhadap Pergerakan Ekonomi Hasil penelitian menunjukkan bahwa 47,37% ruas jalan berada pada tingkat LoS D-F, hal ini mengindikasikan kondisi arus mendekati tidak stabil hingga macet. Secara operasional, kondisi LoS E-F berkorelasi dengan penurunan kecepatan kendaraan hingga A15 km/jam (Kumar dkk. , 2. Penurunan kecepatan ini berdampak langsung terhadap: Meningkatnya biaya operasional kendaraan Meningkatnya waktu tempuh distribusi Penurunan reliabilitas logistik Temuan ini sejalan dengan studi Pradhan dan Bagchi . yang menunjukkan bahwa infrastruktur transportasi memiliki hubungan jangka panjang terhadap pertumbuhan ekonomi. Ketika kapasitas jalan tidak mampu mengimbangi volume lalu lintas, maka efeknya bukan hanya teknis transportasi, tetapi juga ekonomi regional. Sukesa dan Papyrakis . juga menegaskan bahwa kualitas infrastruktur transportasi berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah di Indonesia. Dengan demikian, tingginya proporsi LoS D-F di Kota Cirebon menunjukkan adanya potensi hambatan struktural terhadap daya saing ekonomi Berdasarkan hasil tersebut pada akhirnya akan mengganggu proses distribusi barang UMKM di Kota Cirebon. Jaringan jalan yang baik memungkinkan distribusi barang menjadi lebih efisien. Barang dikirim dengan cepat dan mudah dari produsen ke konsumen baik di dalam kota maupun di daerah sekitarnya. Hal ini menurunkan biaya logistik dan meningkatkan daya saing perusahaan (Aulia. , dkk. , 2. Menurut Royda . infrastruktur telah membantu meningkatkan produktivitas, daya saing, dan aksesibilitas, yang secara umum berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Dalam rangka mengatasi permasalahan LoS yang berada pada level D-F maka perlu mempertimbangkan manajemen lalu lintas yang baik agar dapat memberikan pelayanan yang lebih baik (Savitri, dkk. , 2. Integrasi Level Of Service (Lo. Dan Kepadatan Umkm Sebagai Dasar Penetapan Prioritas. Jurnal Pendidikan. Sains dan Teknologi Vol 13. No 01, 2026 Integrasi LoS dan Kepadatan UMKM Hasil analisis tingkat LoS kemudian diintegrasikan dengan hasil analisis kepadatan UMKM Kota Cirebon yang telah dilakukan sebelumnya dengan pendekatan spatial overlay. Hasil overlay menunjukkan bahwa ruas dengan LoS rendah (E-F) beririsan dengan kawasan kepadatan UMKM tinggi, khususnya di Kecamatan Kejaksan dan Pekalipan. Secara spasial, kondisi ini menunjukkan adanya ketidakselarasan antara intensitas aktivitas ekonomi dan kapasitas infrastruktur. Aulia dkk. , . menyatakan bahwa jaringan jalan yang baik menurunkan biaya logistik dan meningkatkan daya saing UMKM. Sebaliknya, kemacetan akan meningkatkan transaction cost dan mengurangi margin keuntungan pelaku usaha kecil. Temuan ini juga dapat dijelaskan melalui pendekatan Local Economic Development (LED) sebagaimana dikemukakan oleh Leigh dan Blakely . , yang menekankan pentingnya infrastruktur fisik sebagai komponen utama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi lokal. Pendekatan LED tidak hanya menekankan infrastruktur jalan hanya sebagai fasilitas transportasi, tetapi instrumen strategis untuk meningkatkan akses pasar, memperluas jaringan distribusi, dan menarik investasi lokal. Dengan demikian, kondisi LoS F pada Jalan Wahidin Sudirohusodo dan Jalan Sunan Gunung Jati tidak hanya menyinggung masalah kemacetan, tetapi berpotensi menjadi hambatan struktural terhadap konsentrasi ekonomi di pusat kota. Kedua ruas jalan tersebut merupakan jalan dengan aktivitas tinggi di Kota Cirebon yang terletak di Kecamatan Kejaksan. Ruas Jalan Wahidin Sudirohusodo merupakan ruas jalan kolektor primer yang menghubungkan pusat kegiatan ekonomi di Kota Cirebon, seperti mall, pertokoan, maupun perdagangan jasa lainnya sehingga tarikan yang dihasilkan pada ruas jalan tersebut termasuk tinggi. Sementara itu ruas Jalan Sunan Gunung Jati termasuk pada LoS tingkat F juga disebabkan lokasinya yang menghubungkan Kota Cirebon dengan Kabupaten Cirebon dari sisi Utara. Jalan Sunan Gunung Jati menjadi pintu masuk maupun keluar barang maupun orang dari dan ke Kota Cirebon. Sebagai bagian dari kawasan Rebana. Kota Cirebon berperan sebagai pusat kegiatan wilayah (Setiawan & Chalil, 2. Dalam teori ekonomi regional (Tarigan, 2. , pusat pertumbuhan membutuhkan dukungan konektivitas yang efisien agar efek multiplier dapat menyebar ke wilayah hinterland. Sehingga apabila akses utama masuk-keluar kota mengalami LoS F . isalnya Jalan Sunan Gunung Jat. , maka fungsi Cirebon sebagai growth pole dapat terhambat karena distribusi antarwilayah tidak efisien, waktu tempuh logistik meningkat, dan biaya distribusi regional bertambah. Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan LoS tidak hanya berdampak pada skala lokal, tetapi juga pada sistem metropolitan yang lebih luas. Ruas jalan lainnya yang terletak pada perbatasan Kecamatan Kejaksan dan Kesambi termasuk pada LoS tingkat E, yaitu Jalan Pemuda Pelajar. Jalan ini merupakan ruas jalan yang memiliki perlintasan sebidang kereta api. Arus kendaraan menjadi terhendi ketika kereta api melewati ruas jalan tersebut, bahkan sering kali menyebabkan kemacetan. Berdasarkan observasi dan wawancara yang dilakukan, kereta api yang melintas adalah sebanyak 140 kereta/hari (Hasil Wawancara KAI DAOP . Apabila disandingkan dengan Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Darat nomor SK. 770/KA. 401/DRJD/2005 yang menyatakan bahwa jumlah kereta api yang melintas pada lokasi min. 25 kereta/hari dan maks. 50 kereta/hari, maka jumlah kereta yang melintas pada ruas Jalan Pemuda Pelajar hampir 3 kali lebih banyak dari standar yang ditetapkan. Hal ini menjadi salah satu penyebab kemacetan pada ruas jalan Kecamatan Kejaksan pada analisis KDE yang dilakukan termasuk pada tingkat kepadatan UMKM sangat tinggi di Kota Cirebon dengan total jumlah UMKM sebanyak 618 UMKM atau sebesar 27,15% dari total keseluruhan UMKM di Kota Cirebon. Kepadatan UMKM di Kecamatan Kejaksan perlu didorong oleh perencanaan jaringan jalan yang baik. Integrasi Level Of Service (Lo. Dan Kepadatan Umkm Sebagai Dasar Penetapan Prioritas. Jurnal Pendidikan. Sains dan Teknologi Vol 13. No 01, 2026 Ruas Jalan Wahidin Sudirohusodo dan Jalan Sunan Gunung Jati yang melintas di Kecamatan Kejaksan pada jam puncaknya terjadi kemacetan yang tinggi dengan rata-rata kecepatan maksimal hanya mencapai 15 km/jam. Sementara itu, ruas Jalan Tentara Pelajar juga merupakan salah satu ruas jalan yang memiliki tingkat LoS rendah, yaitu pada tingkat E, padahal ruas jalan ini terletak pada perbatasan Kecamatan Kejaksan dan Kesambi. Tabel 13 Integrasi nilai LoS dan Lokasi UMKM Nama Jalan LOS Lokasi Kepadatan UMKM Kec. Kejaksan Tinggi-Sangat Tinggi Kec. Kejaksan Kec. KejaksanKesambi Kec. KejaksanKesambi Tinggi-Sangat Tinggi Kec. Kesambi Rendah Jl Wahidin Sudirohusudo Jl Sunan Gunung Jati Jl Tentara Pelajar Jl Tuparev Jl Cipto Mangunkusumo Jl Kalijaga Jl Nyi Mas Gandasari Jl Pekalipan Jl Kalitanjung Kec. Lemahwungku Kec. Pekalipan Kec. Pekalipan Kec. Harjamukti Rendah-Sedang Sangat Rendah Sangat Rendah Tinggi-Sangat Tinggi Tinggi-Sangat Tinggi Rendah Berdasarkan tabel 14 maka ruas jalan prioritas yang perlu diperhatikan adalah Jalan Wahidin Sudirohusudo dan Jalan Sunan Gunung Jati di Kecamatan Kejaksan yang termasuk Kepadatan UMKM tinggi hingga sangat tinggi di Kecamatan Cirebon. Selain itu. Jalan Pekalipan dan Nyi Mas Gandasari di Kecamatan Pekalipan juga perlu menjadi perhatian karena terletak pada kepadatan UMKM tinggi hingga sangat tinggi namun tingkat LoS jalan masih termasuk kategori rendah yaitu pada level E dan D. Implikasi Kebijakan Sektor UMKM di Kota Cirebon dalam konteks operasional dapat dihubungkan dengan pendekatan Local Economic Development (LED) muncul sebagai pendekatan yang menekankan pemanfaatan sumber daya, ide, dan potensi lokal untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. LED merupakan suatu proses di mana pemerintah lokal dan organisasi berbasis masyarakat berkomitmen untuk mengelola sumber daya yang ada dalam upaya menciptakan lapangan kerja dan menstimulasi aktivitas ekonomi (Leigh & Blakely, 2. LED memiliki empat komponen utama yang saling terintegrasi, salah satunya komponen locality merujuk pada kualitas geografis dan fisik wilayah yang mempengaruhi daya tarik dan potensi pembangunan, termasuk infrastruktur ekonomi. Dalam teori LED, infrastruktur fisik merupakan komponen utama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi lokal. Jika jalan pada kawasan ekonomi inti berada pada tingkat LoS F, maka biaya logistik meningkat, distribusi barang terganggu, dan daya saing UMKM menurun. Sektor UMKM di Kota Cirebon dalam hal ini sejalan dengan pendekatan tersebut untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di tingkat lokal. Sejalan dengan itu, maka perlu persiapan rencana infrastruktur yang mendukung sektor UMKM di Kota Cirebon. Integrasi Level Of Service (Lo. Dan Kepadatan Umkm Sebagai Dasar Penetapan Prioritas. Jurnal Pendidikan. Sains dan Teknologi Vol 13. No 01, 2026 Berdasarkan hasil integrasi yang dilakukan pada Tabel 14, maka dapat diketahui ruas-ruas jalan utama yang perlu ditingkatkan pelayanannya dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi di Kota Cirebon, antara lain Jl Wahidin Sudirohusudo dan Jl Sunan Gunung Jati di Kecamatan Kejaksan yang termasuk Kepadatan UMKM tinggi hingga sangat tinggi di Kecamatan Cirebon. Selain kedua ruas jalan tersebut Jl Jalan Pekalipan dan Jl Nyi Mas Gandasari di Kecamatan Pekalipan juga termasuk dalam wilayah kepadatan UMKM tinggi hingga sangat tinggi dengan nilai LoS masing-masing adalah E dan D. inerja ruas jalan pada tingkat LoS rendah (D. E, dan F) akan menghambat sektor UMKM di Kota Cirebon. Berdasarkan temuan-temuan penelitian di atas, maka implikasi kebijakan dapat dirumuskan dalam tiga pendekatan utama: Kebijakan manajemen lalu lintas . angka pende. , antara lain: Kebijakan manajemen lalu lintas diprioritaskan pada ruas jalan utama yang memiliki nilai LoS D-F dan berada pada lokasi dengan kepadatan UMKM tinggi-sangat tinggi. Dengan demikian, kebijakan manajemen lalu lintas diprioritaskan pada ruas jalan Jl Wahidin Sudirohusudo dan Jl Sunan Gunung Jati sebagai berikut. Penertiban parkir liar. Optimalisasi rekayasa lalu lintas satu arah. Pengaturan jam distribusi barang . ime-window deliver. Pengaturan kendaraan berat pada jam tertentu. Adapun langkah preventif yang dapat diambil untuk mencegah Jl Pekalipan dan Jl Nyi Mas Gandasari mengalami penurunan tingkat LoS (E ke F), maka perlu dilakukan beberapa hal antara lain: Pengaturan parkir berbasis zona komersial. Optimalisasi simpang dan akses keluar-masuk pertokoan. Penataan frontage UMKM agar tidak langsung mengganggu arus utama. Penguatan konektivitas pejalan kaki untuk mengurangi pergerakan kendaraan jarak pendek. Savitri dkk. , . menegaskan bahwa manajemen lalu lintas yang tepat dapat meningkatkan tingkat pelayanan tanpa perlu intervensi fisik besar. Peningkatan kapasitas infrastruktur pada ruas jalan prioritas, yaitu Jl Wahidin Sudirohusudo. Jl Sunan Kalijaga. Jl Pekalipan, dan Jl Nyi Mas Gandasari. Pada ruas Jl Wahidin Sudirohusudo maka kebijakan bersifat fisik dan struktural pada ruas yang telah mengalami tekanan tinggi sehingga perlu kebijakan antara lain pelebaran efektif lajur . ika ruang tersedi. , penyediaan kantong parkir terpusat, revitalisasi trotoar agar tidak menjadi area parkir, dan evaluasi lajur khusus distribusi/logistik. Sementara pada ruas Jl Sunan Kalijaga kebijakan yang perlu dilakukan untuk mendukung fungsinya sebagai koridor regional masuk-keluar Kota Cirebon antara lain pemisahan jalur kendaraan berat serta optimalisasi median dan manajemen akses. Adapun kebijakan untuk Jl Pekalipan dan Jl Nyi Mas Gandasari antara lain perbaikan desain simpang, penyediaan fasilitas parkir terintegrasi kawasan, dan intervensi pelebaran Intervensi peningkatan kapasitas jaringan jalan. Intervensi kebijakan akan berimplikasi terhadap sistem jaringan Kota Cirebon. Adapun kebijakan yang dapat diterapkan antara lain pengembangan jalan alternatif untuk menigkatkan konektivitas antar kecamatan serta membagi beban lalu lintas dari koridor ekonomi utama. SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, diketahui nilai LoS pada 19 ruas jalan yang diamati di Kota Cirebon memiliki level yang beragam. 47,37% termasuk pada tingkat LoS D-F yang berarti arus lalu lintas mulai mendekati tidak stabil hingga pada tingkat F terjadi Integrasi Level Of Service (Lo. Dan Kepadatan Umkm Sebagai Dasar Penetapan Prioritas. Jurnal Pendidikan. Sains dan Teknologi Vol 13. No 01, 2026 kemacetan dengan kecepatan maksimum hanya 15 km/jam. Adapun hasil analisis KDE menunjukkan bahwa kepadatan UMKM tertinggi sebagian besar terpusat di Kecamatan Kejaksan dan Kecamatan Pekalipan. Sementara itu hasil analisis overlay menunjukkan bahwa ruas jalan prioritas yang perlu diperhatikan dalam mendukung UMKM Kota Cirebon adalah Jalan Wahidin Sudirohusudo (LoS F) dan Jalan Sunan Gunung Jati (LoS F) di Kecamatan Kejaksan yang termasuk Kepadatan UMKM tinggi hingga sangat tinggi serta Jalan Pekalipan (LoS E) dan Nyi Mas Gandasari (LoS D) di Kecamatan Pekalipan juga perlu menjadi perhatian karena terletak pada kepadatan UMKM tinggi hingga sangat tinggi. Berdasarkan temuan penelitian tersebut, maka implikasi kebijakan dapat dirumuskan dalam tiga pendekatan utama, yaitu pertama perlu adanya kebijakan manajemen lalu lintas sebagai kebijakan jangka pendek, kedua peningkatan kapasitas infrastruktur pada ruas jalan prioritas, dan ketiga yaitu intervensi peningkatan kapasitas jaringan jalan. Meskipun penelitian ini berhasil mengintegrasikan nilai Level of Service (LoS) dengan kepadatan UMKM untuk menentukan prioritas peningkatan jaringan jalan di Kota Cirebon, terdapat beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan agar dapat menjadi masukan bagi penelitian lanjutan. Pertama, data lalu lintas yang digunakan dalam analisis LoS merepresentasikan kondisi pada hari kerja . dan jam puncak tertentu. Penelitian ini belum mengakomodasi variasi pola pergerakan pada hari libur . Kedua. Penelitian ini menggunakan pendekatan potret sesaat . ross-sectional analysi. , artinya tidak dilakukan analisis tren jangka panjang dan tidak memperhitungkan pertumbuhan UMKM tahunan. Ketiga, keterbatasan variabel pendukung, dimana penelitian ini belum mempertimbangkan variabel lain seperti pola parkir dan durasi parkir, pergerakan distribusi logistik, ketersediaan angkutan umum, serta karakteristik wisata dan event kota. DAFTAR RUJUKAN Alharbi. Mapping of Groundwater. Flood, and Drought Potential Zones in Neom. Saudi Arabia. Using GIS and Remote Sensing Techniques. Water (Switzerlan. , 15. DOI: https://doi. org/10. 3390/w15050966 Aulia. & Abduloh. Simulasi Rekayasa Lalu Lintas Terhadap Kemacetan Bundaran Kadipaten. Jurnal Konstruksia, 15. DOI: http://dx. org/10. 24853/jk. Aulia. , dkk. Analisis Peran Infrastruktur Dalam Pertumbuhan Ekonomi Pembangunan Di Kota Palembang. Jurnal Publikasi Ekonomi dan Akuntansi (Jupe. , 4. : 36-54 Botev. Grotowski. , & Kroese. Kernel density estimation via diffusion. Annals of Statistics, 38. , 2916-2957. https://doi. org/10. 1214/10-AOS799 BPS. Kota Cirebon Dalam Angka 2025. Cirebon. Capello. , & Nijkamp. Handbook of Regional Growth and Development Theories. Edward Elgar Publishing. DOI: https://doi. org/10. 4337/9781788970020 Cherchye. Productive efficiency analysis with unobserved inputs: An application to endogenous automation in railway traffic management. European Journal of Operational Research: 678-690. DOI: https://doi. org/10. 1016/j. Glasson. , & Marshall. Regional Planning . st ed. Routledge. DOI: https://doi. org/10. 4324/9780203938935 Haryani. Implementasi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro Kecil Dan Menengah Terhadap Pengembangan Usaha Anyaman Rumbai di Desa Sidang Mas Banyuasin i Kabupaten Banyuasin. Jurnal Ilmiah Administrasi dan Sosial, 17. , 76-88 Irawan. , & Mazni. Analisis Dampak Pelebaran Jalan Terhadap Kinerja Ruas Jalan Khatib S Ulaiman Kota Padang. Jurnal Teknik Sipil ITP, 5. Integrasi Level Of Service (Lo. Dan Kepadatan Umkm Sebagai Dasar Penetapan Prioritas. Jurnal Pendidikan. Sains dan Teknologi Vol 13. No 01, 2026 Kumar. , dkk. Level of Service of Urban and Rural Roads- A Case study in Bhimavaram. IOP Conf. Series: Materials Science and Engineering. Kundu. Gariy Z. Nyomboi T. Assessment of Level of Service for Roads under Performance Based Road Maintenance in Kenya. International Journal of Technology and Systems, 8. : 45-57 Latue. Manakane. , & Rakuasa. Analisis Perkembangan Kepadatan Permukiman di Kota Ambon Tahun 2013 dan 2023 Menggunakan Metode Kernel Density. Blend Sains Jurnal Teknik, 2. , 2634. https://doi. org/10. Liu. & Lv D. Spatial and temporal characteristics, spatial clustering and governance strategies for regional development of social enterprises in China. Heliyon 10: 1-22. DOI: https://doi. org/10. 1016/j. Leigh. , & Blakely. Planning Local Economic Development: Theory and Practice . th ed. SAGE Publications Inc. PKJI. Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia. Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Marga Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Pradhan. , & Bagchi. Effect of transportation infrastructure on economic growth in India: The VECM approach. Research in Transportation Economics, 38. DOI: https://doi. org/10. 1016/j. Rachman. & Ningrum S. The Economic Potential Of Cirebon City To Support The Rebana Area. Jurnal Pemikiran dan Penelitian Administrasi Publik dan administrasi Bisnis, 9 . : 134-145. Rahmadhani. Aini A. Hidayah N. Urgensi Transportasi Lrt Dalam Menekan Kerugian Di Bidang Ekonomi Akibat Kemacetan Di Perkotaan: Studi Kasus Kota Malang. Jurnal Wilayah Dan Kota. Vol. : 9-17 Ridha. Proses Penelitian. Masalah. Variabel dan Paradigma Penelitian. Jurnal Hikmah, 14. Riyanto. Setiawan I. Darwanto. Implementasi Kebijakan Penanggulangan Juru Parkir Liar Terhadap Ketertiban Di Tepi Jalan Umum Pada Dinas Perhubungan Kotacirebon. PRAJA Observer: Jurnal Penelitian Administrasi Publik. : 125-145 RofiAoi Y. The Impact of Accessibility and Creativity on the Financial Performance of SMEs. Indonesian Journal Economic Review, 5. : 1-11. DOI: https://doi. org/10. 59431/ijer. Royda. Pengaruh Belanja Pemerintah Untuk Pendidikan. Kesehatan Dan Infrastruktur Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan. Jurnal Integritas Serasan Sekundang, 4. , https://mail. id/index. php/jiss/article/view/49 Article 1 Savitri. , dkk. Analisis Level Of Service Ruas Jalan Raya Legian Selatan. Jurnal Teknik Transportasi Logistik dan Otomotif (Jutag. : 1-10 Setiawan. & Chalil T. Strategi Pengembangan Kawasan Metropolitan REBANA Menggunakan Interpretative Structural Modelling (Studi Kasus: Kabupaten Cirebon. Kabupaten Majalengka dan Kota Cirebo. Jurnal Multidisiplin West Science, 02. : 568-579 Stek. Mapping high R&D city-regions worldwide: a patent heat map approach. Quality & Quantity. Vol 54: 279-296. DOI: https://doi. org/10. 1007/s11135-019-00874-w Sukesa. & Papyrakis E. Hubungan Antara Pertumbuhan Ekonomi dan Infrastruktur Transportasi di Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia: Vol. : 146-169. DOI: https://scholarhub. id/jepi/vol23/iss2/3 Tarigan. Ekonomi Regional: Teori dan Aplikasi (Edisi Revis. Jakarta: Bumi Aksara Tia. Maliha. Prasetyo. , & Firdaus. Pemetaan Kemacetan Lalu Lintas Integrasi Level Of Service (Lo. Dan Kepadatan Umkm Sebagai Dasar Penetapan Prioritas. Jurnal Pendidikan. Sains dan Teknologi Vol 13. No 01, 2026 di Universitas Diponegoro (Studi Kasus: Kecamatan Tembalang dan Kecamatan Banyumanik. Kota Semaran. Jurnal Geodesi Undip: DOI: https://doi. org/10. 14710/jgundip. Wadud. Fitriani. Author. Kemasan. , & Produk. Pelatihan Desain Kemasan Dalam Rangka Peningkatan Nilai Jual Produk UMKM di Kabupaten Kuningan. Dimasejati: 3. , 177-186. Integrasi Level Of Service (Lo. Dan Kepadatan Umkm Sebagai Dasar Penetapan Prioritas.