Journal of Science Education and Management Business (JOSEAMB) Vol. No. 1, tahun 2026, hlm. ISSN: 2828-3031 DAMPAK PERUBAHAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI PADA INDEKS KEPERCAYAAN KONSUMEN Afriany1. Rubianto Pitoyo2 1,2 UPI YPTK Padang. Indonesia Info Artikel ABSTRAK Sejarah artikel: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah perubahan pajak pertambahan nilai memberikan dampak berantai pada perubahan kepercayaan konsumen untuk jangka panjang. Dalam penelitian ini digunakan metode analisis jalur dengan model skema stimulus, orientasi, dan respons. Hasil penelitian menunjukan bahwa perubahan pajak pertambahan nilai memberikan dampak pada perubahan indeks kepercayaan konsumen melalui empat jalur alternatif, yang pertama adalah jalur pajak pertambahan nilai, indeks harga konsumen, dan indeks kepercayaan konsumen. Kedua, jalur pajak pertambahan nilai, indeks harga konsumen, indeks produksi industri. Pengangguran, dan indeks kepercayaan konsumen. ketiga, adalah jalur pajak pertambahan nilai, indeks harga konsumen, belanja konsumen dan indeks kepercayaan konsumen. dan yang terakhir adalah jalur pajak pertambahan nilai, indeks produksi industri, pengangguran, dan indeks kepercayaan Temuan dari penelitian ini adalah jalur pajak pertambahan nilai, indeks harga konsumen, indeks produksi industri, pengangguran dan indeks kepercayaan konsumen merupakan jalu kritis atau memberikan efek domino terpanjang, tetapi berdasar nilai koefisien deteminasi terbesar, ada pada jalur pajak pertambahan nilai, indeks harga konsumen, belanja konsumen dan indeks kepercayaan konsumen sebesar 31 persen. Implikasi dari adanya kenaikan pajak pertambahan nilai memberikan dampak pada pola belanja kaonsumen dan indeks kepercayaan konsumen. Received: 9 Des 2025 Revised: 14 Des 2025 Accepted: 7 Jan 2026 Published: 12 Jan 2026 Kata kunci: Belanja Konsumen Indeks Kepercayaan Konsumen. Indeks Harga Konsumen. Pajak Pertambahan Nilai Ini adalah artikel akses terbuka di bawah lisensi CC BY-SA. Penulis yang sesuai: Afriany UPI YPTK Padang Email: afrianybbs@gmail. Rubianto Pitoyo UPI YPTK Padang Email: rubiantopitoyo@gmail. PENDAHULUAN Sistem Pajak Pertambahan Nilai (PPN) memiliki potensi untuk menghasilkan pendapatan yang signifikan dan memberikan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi. Penerapan PPN mungkin mudah dan signifikan dari sudut pandang keuangan dan ekonomi. Kenaikan PPN dapat meningkatkan tax ratio dan memperkuat sumber pendanaan negara dan menjaga kesehatan anggaran secara konsisten. Banyaknya barang dan jasa yang dikenakan pajak menentukan besarnya penghasilan pajak yang dihasilkan dari PPN, hal ini disebabkan dalam sistem PPN, persentase pajak yang konsisten sangat berguna untuk populasi yang besar, sehingga membantu menyederhanakan pemungutan dari ekspor dan impor. (Alhumoudi & Johri, 2. Penerapan PPN pada berbagai macam produk dan jasa, selanjutnya dapat menghasilkan pendapatan pajak yang signifikan bagi pemerintah untuk dibelanjakan pada layanan publik, yang mengarah pada pertumbuhan dan Homepage jurnal: https://rcf-indonesia. org/jurnal/index. php/JOSEAMB/index A ISSN: 2828-3031 pembangunan sosial, keuangan dan ekonomi suatu negara. (Erero, 2. Dari sisi negatif. Kenaikan PPN yang berlebihan dapat memicu menyebabkan lonjakan harga pada sebagian besar barang konsumsi, termasuk kebutuhan pokok yang sebelumnya sudah mengalami tekanan inflasi. Sehingga dapat menurunkan daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah. (Mohammad et al. , 2. Selain itu Kenaikan PPN dapat meningkatkan risiko kerugian pelaku usaha, dan menurunkan daya saing industri karena biaya produksi meningkat serta berisiko menyebabkan banyaknya pemutusan hubungan kerja. Adanya hubungan yang signifikan secara statistik antara PPN dan pertumbuhan produktivitas disebabkan oleh alasan-alasan berikut: jika reformasi pajak dapat memperluas basis pajak secara memadai dengan menghilangkan beragam preferensi pajak, maka hal ini dapat menyebabkan peningkatan pajak. pasokan tenaga kerja, dan akibatnya produktivitas. (James et al. , 2. Di sisi lain, kenaikan PPN akan mengakibatkan penurunan konsumsi yang akibatnya menyebabkan peningkatan tabungan yang akan meningkatkan akumulasi modal. Penurunan konsumsi dan peningkatan akumulasi modal akan membuat pertumbuhan ekonomi melambat. (Trang & Phan, 2. Dampak PPN terhadap konsumen, ditemukan bahwa prioritas pembelian konsumen, konsumsi mereka, dan daya beli mereka diperkirakan akan terkena dampak dari penerapan pajak, oleh karena itu dampak ini mungkin juga berdampak negatif terhadap pemasok. (Ali, 2024. Nyore & Nweke, 2. Reaksi pertama dalam jangka pendek ketika tarif PPN meningkat adalah PPN memberikan pengaruh negatif pada PDB terdiri dari variabel-variabel tambahan, misalnya konsumsi dan Jika konsumsi diasumsikan sebagai proksi kesejahteraan rumah tangga, berarti bahwa dalam jangka pendek, kesejahteraan akan terkena dampak negatif dari guncangan PPN. Selain itu, sedikit perbaikan pada ekspor kemungkinan disebabkan oleh peningkatan permintaan domestik yang cukup besar sehingga berdampak pada kenaikan harga domestik. Namun dalam jangka panjang, pajak tidak langsung bersih dan PDB terus membaik sebagai dampak dari kenaikan tarif PPN. Hal ini sebagian besar menguntungkan pendapatan pemerintah dan variabel ekonomi makro lainnya. Hasil penelitian Caesaria et al. , menunjukkan bahwa PPN mempengaruhi harga barang dan jasa di pasar, meningkatkan biaya produksi dan harga jual, serta memperburuk inflasi. Namun kenaikan tarif PPN juga dapat meningkatkan penerimaan pajak pemerintah, mengurangi defisit anggaran, dan menstabilkan kondisi fiskal negara. Selain itu, kenaikan PPN dapat mempengaruhi perilaku konsumen dan investasi dunia usaha, khususnya pada sektor industri manufaktur, perdagangan, dan jasa. Sementara penelitian dari Mgammal et al. mengenai sistem pajak di Arab Saudi menunjukkan usulan kenaikan PPN sebesar 10 persen telah menyebabkan fluktuasi yang signifikan dalam metrik perusahaan, misalnya, penurunan laba rata-rata sebesar 2,16 persen, peningkatan jumlah perusahaan yang tidak aktif, dan kemungkinan kebangkrutan yang lebih tinggi di antara perusahaan. Dampak seperti ini tentu saja akan berdampak pada pengangguran dan mungkin menyebabkan berkurangnya pendapatan pajak dalam jangka panjang. PPN yang retrogresif mempengaruhi pola pengeluaran keluarga karena harga barang dan jasa yang dibeli oleh orang kaya sama dengan biaya yang juga dibayar oleh orang miskin untuk memperoleh barang dan jasa yang dapat dikonsumsi. (James et al. , 2. Analisis terhadap perubahan yang dilakukan oleh Inggris dan Kanada menunjukkan bahwa mungkin terdapat beberapa perubahan perilaku, khususnya arbitrase, di pihak konsumen. Perubahan perilaku akan lebih signifikan apabila tingkat perubahannya cukup besar, baik meningkat atau menurun. Analisis terhadap perubahan tarif di Kanada akan menunjukkan bahwa setiap perubahan tarif, setidaknya akan menghasilkan sedikit perubahan perilaku (Gelardi, 2. Sementara penelitian dari Hammour & Mckeown . menyebutkan bahwa sebagian masyarakat UEA telah menyerap biaya tambahan PPN tanpa mengubah kebiasaan belanja mereka namun kemungkinan besar akan mengubahnya di masa depan jika tarif PPN meningkat, sementara rumah tangga berpendapatan rendah lebih terkena dampak PPN. Berdasar dari beberapa penelitian diatas, dapat diketahui bahwa kenaikan PPN memberikan dampak pada kemampuan membeli konsumen dan juga memberikan dampak pada sektor industri serta perusahaan, yang mungkin akan di lanjutkan dengan dampak pemutusan hubungan kerja atau Dalam artikel ini, kami mencoba membuat analisis jalur untuk mengetahui apakah perubahan PPN memberikan dampak berantai pada sektor sektor ekonomi serta mengetahui besaran dampak pada perubahan indeks kepercayaan konsumen. JOSEAMB Vol. No. Tahun 2026 JOSEAMB ISSN: 2828-3031 TINJAUAN LITERATUR PPN menjadi salah satu sumber utama pendapatan bagi pemerintah. Penerimaan dari PPN digunakan untuk mendukung berbagai program pembangunan, infrastruktur, pendidikan, dan layanan publik lainnya. Kontribusi PPN terhadap pendapatan negara sangat signifikan. PPN tidak hanya berfungsi sebagai sumber pendapatan negara, tetapi juga memiliki fungsi lain yang penting bagi perekonomian. Fungsi utama PPN adalah sebagai sumber penerimaan negara yang memiliki peran signifikan. Dana yang diperoleh dari PPN adalah dana yang digunakan untuk membiayai berbagai kegiatan negara, seperti pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan lainnya. Tarif PPN yang berbeda dapat diterapkan pada jenis barang dan jasa tertentu untuk mendorong atau menghambat konsumsi. PPN adalah jenis pajak yang dapat digunakan pemerintah untuk menjalankan berbagai kebijakan, termasuk yang berkaitan dengan stabilitas harga. Kebijakan ini membantu mengendalikan inflasi, sehingga perekonomian negara dapat berjalan stabil. Selain itu fungsi utama PPN adalah sebagai alat untuk menghitung kekurangan atau kelebihan pajak yang harus dibayarkan oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP). Jika pajak yang dibayarkan saat membeli barang/jasa lebih besar daripada pajak saat menjual barang/jasa, maka PKP memiliki kelebihan bayar PPN. Meskipun begitu. PPN dapat berdampak pada keputusan konsumen dalam membeli barang dan jasa. Kenaikan harga akibat PPN bisa mengurangi daya beli konsumen atau mengubah preferensi Di sisi produsen. PPN dapat mempengaruhi harga jual produk serta margin keuntungan. PPN juga dapat digunakan sebagai alat regulasi ekonomi. Pengaturan tarif PPN oleh pemerintah dapat mengendalikan inflasi atau mengurangi defisit anggaran. Indeks Harga Konsumen (CPI) mengukur perubahan pada harga yang dibayarkan oleh konsumen atas penggunaan produk atau jasa dan biasanya digunakan untuk mengukur inflasi. Hasil asimetris jangka panjang dan jangka pendek juga menunjukkan jika terjadi dampak negatif, produksi industri dan CPI meningkatkan defisit perdagangan. Namun, dampak dampak dari hampir semua variabel dalam jangka pendek tidaklah signifikan, yang berarti bahwa keterkaitan antara defisit perdagangan, produksi industri, harga minyak, indeks harga konsumen, dan laju pertumbuhan PDB merupakan fenomena jangka panjang dan tidak dapat dinilai dalam jangka (Pan et al. , 2. Terdapat kausalitas dua arah antara indeks produksi industri dan CPI. Kenaikan . indeks produksi industri juga meningkatkan . CPI. Demikian pula peningkatan . CPI meningkatkan . indeks produksi industri (Ekonomisinde et al. , 2021. Remiguis & Victor, 2. Temuan Khan et al. menjelaskan bahwa PPI merupakan faktor utama yang berkontribusi terhadap CPI. Di sisi lain. CPI mempunyai dampak yang signifikan terhadap PPI hanya di Hongaria. Hasilnya berguna bagi pembuat kebijakan di negara-negara tersebut untuk merumuskan kebijakan penargetan inflasi dengan perhatian lebih besar terhadap PPI. Karena tingkat CPI dikaitkan dengan tingkat daya saing, dan ketika kita menghadapi nilai tukar yang tinggi, dan pada saat yang sama terdapat tingkat inflasi yang tinggi, pemerintah harus berupaya menurunkan tingkat inflasi dengan meningkatkan nilai tukar riil, dengan kerugian yang sesuai. daya saing. (Shaban et al. , 2. Indeks Produksi Industrial (IPI) mengukur tingkat dari produksi dan kapasitas pada manufaktur, pertambangan mining, kelistrikan, dan industri bahan bakar. Indeks Produksi Industrial di gunakan untuk mengamati dan menganalisis kegiatan ekonomi khususnya pada pertumbuhan Kinerja perusahaan manufaktur lebih baik di negara-negara yang mengenakan PPN, sedangkan intensitas ekspor berkinerja lebih baik di negara-negara tanpa PPN. Penting bagi pemerintah dan pengambil kebijakan untuk mengkaji ulang kebijakan insentif pajak dan rabat pajak guna meningkatkan kinerja manufaktur dan kinerja ekspor. (Yoke & Chan, 2. Hasil pengujian Shabani et al. dengan menggunakan analisis faktor dan uji nonparametrik dua dimensi menunjukkan bahwa PPN berpengaruh negatif dan signifikan terhadap produksi, penyerapan tenaga kerja, ukuran perusahaan, dan profitabilitas perusahaan. Berbeda dengan penelitian Omodero & Eriabie . yang menunjukkan bahwa tidak ada satupun golongan PPN yang mempunyai efek kausalitas satu sama lain, dan PPN impor tidak memiliki efek kausalitas terhadap kinerja sektor manufaktur. Yang mengejutkan, penelitian ini juga mengungkapkan bahwa output sektor manufaktur tidak menghasilkan penerimaan PPN, sehingga menegaskan bahwa tanggung jawab PPN terutama ditanggung oleh konsumen akhir, meskipun faktanya sektor manufakturlah yang memulai rantai pasokan. Oleh karena itu hasil PPN tidak memiliki efek ISSN: 2828-3031 kausalitas terhadap output manufaktur. Hasil akhirnya menunjukkan bahwa total PPN dan pengembalian PPN lokal berkontribusi positif dan signifikan terhadap pertumbuhan sektor industri Nigeria. Mengikuti model yang digunakan oleh Gatawa et al . dalam penyelidikan mereka mengenai dampak pajak pertambahan nilai dan pertumbuhan ekonomi di Nigeria. Penelitian Ibrohimjonov . mengadopsi model versi modifikasi, hasilnya menunjukkan bahwa guncangan positif dalam pemungutan PPN berpengaruh positif terhadap pertumbuhan PDB. Sehubungan dengan pengaruh tarif PPN terhadap pertumbuhan ekonomi yang diukur dengan PDB, temuan menunjukkan bahwa persentase perubahan tingkat insiden PDB merupakan peningkatan sebesar 7% untuk setiap unit penurunan PPN. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara tarif PPN dan PDB. Mengenai pengaruh tarif PPN terhadap pertumbuhan ekonomi yang diukur dengan CPI, temuan menunjukkan bahwa persentase perubahan tingkat insiden CPI merupakan peningkatan sebesar 9,2% untuk setiap satuan kenaikan PPN. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif yang tidak signifikan antara tarif PPN dan CPI. (Njogu, 2. Beberapa faktor penyebab terjadinya pengangguran antara lain adalah kesenjangan pendidikan dan keterampilan, kurangnya lapangan kerja, kurangnya pelatihan dan pendidikan nonformal, daya beli menurun, kemajuan teknologi, pertumbuhan penduduk yang cepat, pertumbuhan ekonomi yang tidak seimbang, persaingan global. Semua negara bertujuan untuk memastikan bahwa masyarakatnya hidup sejahtera dan perekonomian negaranya lebih maju jika dibandingkan dengan keadaan akhirnya, melalui kebijakan yang mereka terapkan. Konsep pertama yang terlintas dalam pembangunan tingkat kesejahteraan masyarakat adalah pengangguran, produksi industri dan pertumbuhan ekonomi. Perubahan struktural yang tiba-tiba pada indeks produksi industri berdampak pada tingkat pengangguran dalam jangka (Gunduz, 2020. Shah & Ullah, 2. Tingkat pengangguran yang tinggi, yang merupakan masalah perekonomian yang penting, telah menjadi pokok bahasan yang banyak dipelajari. oleh banyak ekonom dalam hal penyebab dan konsekuensinya. Selain permasalahan tersebut, cara untuk mengatasi permasalahan tersebut juga sudah mulai dibahas. Selain kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh konsep pengangguran, munculnya permasalahan-permasalahan sosial yang memprihatinkan dan berdampak pada masyarakat juga menyebabkan pengangguran dipandang sebagai suatu permasalahan yang perlu dipecahkan. Oleh karena itu, seluruh perekonomian dunia bertujuan untuk mengurangi pengangguran. (Fil,2. Dampak pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat pengangguran bersifat negatif dan signifikan secara statistik. Peningkatan tingkat pertumbuhan akan menurunkan tingkat pengangguran sekitar. Hasil ini sesuai dengan teori ekonomi . ukum Oku. yang menyatakan bahwa terdapat hubungan terbalik antara pertumbuhan ekonomi dan tingkat pengangguran. (Hjazeen et al. , 2021. Shiferaw, 2. Hasil penelitian Abdurachman et al. menunjukkan bahwa angkatan kerja berpengaruh signifikan terhadap output industri, dan perubahan output industri sangat meningkatkan permintaan tenaga kerja di pasar. Namun penanaman modal asing dan dalam negeri tidak secara signifikan mengurangi tingkat pengangguran di Indonesia dan tidak merangsang industri besar dan menengah untuk menyerap tenaga kerja di pasar. Pemerintah harus memanfaatkan modal asing dan dalam negeri seefisien mungkin untuk mengurangi tingkat Penelitian Dritsaki . menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang stabil dan signifikan secara statistik antara nilai indeks produksi industri dan perubahan tingkat pengangguran. Hasil menunjukkan bahwa siklus bisnis indeks produksi industri dengan volatilitas yang rendah berkaitan dengan tingkat pengangguran dengan tingkat volatilitas yang tinggi. Selain itu, koefisien korelasi silang menunjukkan bahwa hubungan antar variabel yang diteliti sangat bersifat countercyclical dan peningkatan indeks produksi industri akan mengubah tingkat pengangguran setiap bulannya. Dampak inflasi yang diukur dengan CPI terhadap belanja konsumen ternyata signifikan secara statistik (Manasseh et al. , 2. CPI mempunyai hubungan negatif terhadap Belanja Konsumen, artinya semakin tinggi inflasi maka semakin rendah belanja konsumen yang sejalan dengan teori permintaan, ini berarti ketika inflasi meningkat. (Sabrina & Nizam, 2. Temuan penelitian Olusola et al. menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif dan signifikan dalam jangka panjang antara inflasi dan pengeluaran konsumsi swasta di Ghana, yang berarti bahwa pengeluaran konsumsi swasta di Ghana berkurang pada produk dan jasa selama periode inflasi tinggi dibandingkan pada periode inflasi rendah. Berdasarkan temuan tersebut, ekspektasi inflasi mempunyai dampak yang merugikan terhadap sikap pengeluaran konsumsi swasta, khususnya di JOSEAMB Vol. No. Tahun 2026 JOSEAMB ISSN: 2828-3031 kalangan konsumen dalam situasi keuangan yang sangat menguntungkan. Belanja Konsumen turun secara signifikan pada saat terjadi pengangguran. Rumah tangga juga mengurangi pengeluaran dengan jumlah yang sama terlepas dari apakah mereka diperkirakan akan kehilangan pekerjaan atau Namun, rumah tangga akan mengurangi pengeluaran mereka lebih banyak jika mereka memperkirakan periode pengangguran akan terus berlanjut. Dampak pengangguran terhadap pengeluaran sangat kuat terutama bagi rumah tangga yang likuiditasnya terbatas dan selama krisis Sebaliknya, kekhawatiran akan hilangnya pekerjaan di masa depan mempengaruhi pengeluaran para pekerja yang tidak menjadi pengangguran. Secara keseluruhan, hasil kami memberikan bukti beragam untuk prediksi model konsumsi pekerja keras. (Penrose & Cava, 2021. Ganong & Noel, 2. Pada dasarnya Indeks kepercayaan konsumen (CCI) menggambarkan kondisi ekonomi makro dan ekonomi mikro karena Indeks keyakinan konsumen berkaitan langsung dengan konsumsi riil masyarakat, pendapatan rumah tangga, kekayaan yang dimiliki, dan tingkat suku bunga. Indikator keadaan ekonomi berfungsi sebagai proksi yang baik untuk tingkat kegiatan ekonomi, sedangkan indikator ekspektasi mempunyai korelasi yang lebih erat dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. Kedua, indikator tersebut berkorelasi erat dan secara umum berfungsi sebagai indikator laju pertumbuhan ekonomi. (Ludvigson, 2. Kepercayaan konsumen lebih kuat pada mereka yang sering mencari informasi terkait perekonomian. Orang-orang yang selalu mengikuti perkembangan data ekonomi, tren pasar, dan berita keuangan memiliki informasi yang dapat memandu pengambilan keputusan dan meningkatkan keprcayaan konsumen. Konsumen yang memiliki informasi lengkap mengenai indikator ekonomi sering kali menunjukkan tingkat kepercayaan konsumen yang lebih Orang-orang yang menyadari bagaimana indikator ekonomi mempengaruhi keuangan dan perilaku konsumen mereka akan mampu membuat pilihan yang tepat dan merasa lebih aman dalam mengambil keputusan keuangan. (Pavithra & Velmurugan, 2. Dalam penelitian ini, kami mempergunakan beberapa variabel yang akan diuji, antara lain PPN. CPI. IPI. Pengangguran. Belanja Konsumen, dan CCI. Variabel variabel tersebut kami petakan berdasar hubungan sebab akibat seperti terlihat pada gambar 1. Gambar 1. Hypothesis Analisis Jalur H0 : tidak terdapat pengaruh signifikan PPN terhadap CPI H1: terdapat pengaruh signifikan PPN terhadap CPI Ho : tidak terdapat pengaruh signifikan PPN terhadap IPI H2 : terdapat pengaruh signifikan PPN terhadap IPI Ho : tidak terdapat pengaruh signifikan PPN terhadap GDP H3 : terdapat pengaruh signifikan PPN terhadap GDP H0 : tidak terdapat pengaruh signifikan CPI terhadap IPI, jika PPN berpengaruh terhadap CPI H4 : terdapat pengaruh signifikan CPI terhadap IPI, jika PPN berpengaruh terhadap CPI H0 : tidak terdapat pengaruh signifikan IPI terhadap Unemplyoment, jika PPN berpengaruh terhadap IPI H5 : terdapat pengaruh signifikan IPI terhadap Unemplyoment, jika PPN berpengaruh terhadap IPI ISSN: 2828-3031 H0 : tidak terdapat pengaruh signifikan GDP terhadap Unemplyoment, jika PPN berpengaruh terhadap GDP H6 : terdapat pengaruh signifikan GDP terhadap Unemplyoment, jika PPN berpengaruh terhadap GDP H0 : tidak terdapat pengaruh signifikan CPI terhadap Belanja Konsumen, jika PPN berpengaruh terhadap CPI H7 : terdapat pengaruh signifikan CPI terhadap Belanja Konsumen, jika PPN berpengaruh terhadap CPI H0 : tidak terdapat pengaruh signifikan CPI terhadap CCI, jika PPN berpengaruh terhadap CPI H8 : terdapat pengaruh signifikan CPI terhadap CCI, jika PPN berpengaruh terhadap CPI H0 : tidak terdapat pengaruh signifikan Pengangguran terhadap CCI, jika IPI berpengaruh terhadap Pengangguran H9 : terdapat pengaruh signifikan Pengangguran terhadap CCI, jika IPI berpengaruh terhadap Pengangguran H0 : tidak terdapat pengaruh signifikan Pengangguran terhadap CCI, jika GDP berpengaruh terhadap Pengangguran H10 : terdapat pengaruh signifikan Pengangguran terhadap CCI, jika GDP berpengaruh terhadap Pengangguran H0 : tidak terdapat pengaruh signifikan Belanja Konsumen terhadap CCI, jika CPI berpengaruh terhadap Belanja Konsumen H11 : terdapat pengaruh signifikan Belanja Konsumen terhadap CCI, jika CPI berpengaruh terhadap Belanja Konsumen METODE Penelitian ini menggunakan sampel negara yang tergabung pada The Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) yang memberlakukan kenaikan dan penurunan tarif PPN. Data yang dipergunakannadalah data time series pada periode 2005 hingga 2023, dan untuk melakukan analisis pada dampak perubahan tarif PPN terhadap perubahan Indeks Kepercayaan Konsumen, kami mempergunakan analisis jalur sebagai metode uji korelasi antar variabel. Analisis jalur adalah teknik statistik untuk memeriksa dan menguji hubungan antara sekumpulan variabel yang diamati. Lebih jauh lagi, hubunganAiatau jalurAiini dapat digambarkan mewakili asosiasi langsung atau tidak langsung. Hal ini mengharuskan peneliti untuk memikirkan sebab, khususnya sistem hubungan sebab akibat . isebut 'model jalur'), dan memberikan hubungan yang jelas antara gagasan teoritis apriori tentang hubungan sebab akibat dan perkiraan kuantitatif dampak sebab Oleh karena itu, analisis jalur sangat berguna ketika mempertimbangkan fenomena yang Untuk memudahkan interpretasi, hubungan yang ditemukan dengan analisis jalur biasanya disajikan dalam bentuk diagram jalur yang mewakili variabel dan panah mewakili jalur (Satria et al. , 2. Analisis jalur model komunikasi, telah digunakan pertama-tama dan terutama untuk menguji penjelasan teoretis tentang hubungan sebab-akibat yang menempatkan suatu sistem hubungan di mana beberapa variabel, diyakini disebabkan oleh variabel lain, pada gilirannya dapat berdampak pada variabel lain. Model sebab-akibat seperti ini murni teortis: model ini menggambarkan dan merepresentasikan ekspektasi tentang cara-cara di mana beberapa variabel mungkin saling terkait satu sama lain. analisis jalur tidak dengan sendirinya menunjukkan kausalitas tetapi menelusuri implikasi dari sistem hubungan, dan apakah analisis jalur tersebut cukup sesuai dengan data. Dengan analisis jalur, peneliti dapat menentukan apakah serangkaian interpretasi yang diusulkan berbentuk model yang konsisten secara keseluruhan. Model komunikasi penting lainnya yang telah diuji dengan analisis jalur adalah model mediasi komunikasi yang awalnya dikembangkan oleh Jack McLeod dan Model ini menghubungkan penggunaan media berita dan partisipasi politik melalui serangkaian variabel mediasi, seperti diskusi antar pribadi. Model ini dikembangkan sebagai perkembangan dari skema orientasi, stimulus, dan respons, dan telah diperluas selama bertahun- JOSEAMB Vol. No. Tahun 2026 JOSEAMB ISSN: 2828-3031 tahun untuk mencakup pengaruh media online, periklanan, pengetahuan politik, dan efektivitas (Valenzuela & Bachmann, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambar 2. PPN Negara Negara OECD Source: w. org, 2024 Kenaikan PPN tertinggi di lakukan oleh Yunani sebesar 6%, disusul oleh Jepang dan Spanyol sebesar 5%. Jerman. Hungaria danKkolombia mengalami kenaikan 3% dan kenaikan 2% dialami oleh Italia. Belanda. Slovenia dan Luxemburg. Kenaikan terendah sebesar 1% dilakukan oleh Polandia. Mexico dan Slovakia. Sementara Kanada merupakan satu satunya negara yang mengalami penurunan PPN. Tabel 1. Hasil uji t PPN Hypotesis T value T table Sig. Alpha PPN on IPI -2,347 -2,110 ,031 ,05 PPN on CPI 2,278 2,110 ,036 ,05 PPN on GDP 0,458 2,110 ,653 ,05 Dari hasil uji t ( dua ara. antara PPN dengan IPI, di dapatkan t value < t tabel atau -2,347 < 2,110, dengan tingkat signifikansi 0,031 < 0,05. Dengan demikian H2 dapat dterima atau terdapat pengaruh signifikan PPN terhadap IPI. Hasil negatif menunjukan hubungan berlawanan dimana semakin tinggi PPN akan membuat IPI semakin rendah. Dari hasil uji t ( dua ara. antara PPN dengan CPI, di dapatkan t value > t tabel atau 2,278 > 2,110, dengan tingkat signifikansi 0,036 < 0,05. Demikian H1 dapat dterima atau terdapat pengaruh signifikan PPN terhadap CPI. Hasil positif menunjukan hubungan searah dimana semakin tinggi PPN akan membuat CPI semakin tinggi. Dari hasil uji t ( dua ara. antara PPN dengan GDP, di dapatkan t value < t tabel atau 0,459 < 2,110, dengan tingkat signifikansi 0,658 > 0,05. Demikian H1 di tolak atau tidak terdapat pengaruh signifikan PPN terhadap GDP. Dikarenakan tidak terdapat pengaruh signifikan PPN terhadap GDP, maka analisis jalur critical ( PPN- GDP Ae Pengangguran Ae CCI ) tidak dapat dilanjutkan. Hypotesis IPI on Pengangguran Tabel 2. Hasil uji t IPI T value T table -3,091 -2,110 Sig. ,007 Alpha ,05 Dari hasil uji t ( dua ara. antara IPI dengan pengangguran di dapatkan t value < t tabel atau 3,091 < -2,110, dengan tingkat signifikansi 0,007 < 0,05. Dengan demikian H4 dapat dterima atau terdapat pengaruh signifikan IPI terhadap pengangguran. Hasil negatif menunjukan hubungan berlawanan dimana semakin tinggi IPI akan membuat pengangguran semakin rendah. ISSN: 2828-3031 Tabel 3. Hasil uji t CPI T value T table -3,195 -2,110 2,219 2,110 -3,809 -2,110 Hypotesis CPI on IPI CPI on Belanja Konsumen CPI on CCI Sig. ,005 ,040 ,001 Alpha ,05 ,05 ,05 Dari hasil uji t ( dua ara. antara CPI dengan IPI di dapatkan t value < t tabel atau -3,195 < 2,110, dengan tingkat signifikansi 0,005 < 0,05. Dengan demikian H3 dapat dterima atau terdapat pengaruh signifikan CPI terhadap IPI. Hasil negatif menunjukan hubungan berlawanan dimana semakin tinggi CPI akan membuat IPI semakin rendah. Dari hasil uji t ( dua ara. antara CPI dengan Belanja Konsumen, di dapatkan t value > t tabel atau 2,219 > 2,110, dengan tingkat signifikansi 0,040 < 0,05. Demikian H5 dapat dterima atau terdapat pengaruh signifikan CPI terhadap Belanja Konsumen. Hasil positif menunjukan hubungan searah dimana semakin tinggi CPI akan membuat Belanja Konsumen semakin tinggi. Dari hasil uji t ( dua ara. antara CPI dengan CCI di dapatkan t value < t tabel atau -3,809 < -2,110, dengan tingkat signifikansi 0,001 < 0,05. Dengan demikian H6 dapat dterima atau terdapat pengaruh signifikan CPI terhadap CCI. Hasil negatif menunjukan hubungan berlawanan dimana semakin tinggi CPI akan membuat CCI semakin rendah Hypotesis Pengangguran on CCI Table 4. Hasil uji t Pengangguran T value T table -4,298 -2,110 Sig. ,00 Alpha ,05 Dari hasil uji t ( dua ara. antara Pengangguran dengan CCI di dapatkan t value < t tabel atau -4,298 < -2,110, dengan tingkat signifikansi 0,000 < 0,05. Dengan demikian H7 dapat dterima atau terdapat pengaruh signifikan Pengangguran terhadap CCI. Hasil negatif menunjukan hubungan berlawanan dimana semakin tinggi Pengangguran akan membuat CCI semakin rendah Table 5. Hasil uji t Belanja Konsumen Hypotesis T value T table Belanja Konsumen on CCI -2,990 -2,110 Sig. ,008 Alpha ,05 Dari hasil uji t ( dua ara. antara Belanja Konsumen dengan CCI di dapatkan t value < t tabel atau 2,990 < -2,110, dengan tingkat signifikansi 0,008 < 0,05. Dengan demikian H8 dapat dterima atau terdapat pengaruh signifikan Belanja Konsumen terhadap CCI. Hasil negatif menunjukan hubungan berlawanan dimana semakin tinggi Belanja Konsumen akan membuat CCI semakin rendah DISKUSI Dari hasil pengujian, di dapatkan bahwa H1. H2. H4. H5. H7. H8. H9 dan H11 diterima dengan tingkat signifikansi kurang dari 0,05. Sedangkan H3. H6, dan H10 ditolak. Hasil analisis jalur berdasar hipotesis terlihat seperti pada gambar 2 . JOSEAMB Vol. No. Tahun 2026 JOSEAMB ISSN: 2828-3031 Gambar 3. Hasil Analisis Jalur Peta analisis jalur pada gambar 3. , memperlihatkan perubahan PPN dapat mempengaruhi perubahan Indeks Kepercayaan Konsumen melalui beberapa jalur alternatif. Jalur pertama PPN mempengaruhi CPI yang kemudian memberikan efek pada CCI. Jalur kedua PPN mempengaruhi CCI melalui CPI dan Belanja Konsumen. Jalur ketiga PPN mempengaruhi CCI melalui CPI. IPI dan Pengangguran. Dan jalur terakhir PPN mempengaruhi CCI melalui IPI dan Pengangguran . PPN - CPI CPI - CCI Jalur PPN- CPI - CCI Tabel 6. Hasil Koefisien Determinasi Sig. 0,203 0,041 0,049 0,002 PPN- CPI - IPI- Pengangguran - CCI PPN - CPI 0,203 CPI - IPI 0,07 IPI - Pengangguran 0,362 Pengangguran Ae CCI 0,227 PPN- CPI Ae Belanja Konsumen Ae CCI PPN - CPI 0,203 CPI Ae Belanja Konsumen 0,015 Belanja Konsumen Ae CCI 0,526 PPN Ae IPI Ae Pengangguran Ae CCI PPN - IPI 0,024 IPI - Pengangguran 0,362 Pengangguran Ae CCI 0,227 0,041 0,005 0,131 0,051 R Total R2 Total 0,252 0,043 0,036 0,001 0,862 0,228 0,744 0,310 0,613 0,1825 0,036 0,005 0,007 0,000 0,041 0,0002 0,27 0,036 0,040 0,008 0,0005 0,131 0,051 0,031 0,007 0,000 Jalur PPN - CPI Ae CCI memiliki total koefisien determinasi sebesar 0,043 dengan demikian pada jalur ini perubahan PPN melalui CPI dapat menjelaskan perubahan CCI sebesar 4,3 persen. Pada jalur PPN Ae CPI Ae IPI Ae Pengangguran Ae CCI memiliki total koefisien determinasi sebesar 0,228 dengan demikian perubahan PPN melalui CPI. IPI, dan Pengangguran dapat menjelaskan perubahan CCI sebesar 22,8 persen. Sedangkan pada jalur PPN Ae CPI Ae Belanja Konsumen Ae CCI memiliki total koefisien determinasi sebesar 0,310 dengan demikian perubahan PPN melalui CPI dan Belanja Konsumen dapat menjelaskan perubahan CCI sebesar 31 persen. Dan pada jalur terakhir. PPN Ae IPI Ae Pengangguran Ae CCI memiliki total koefisien determinasi sebesar 0,1825 atau perubahan PPN melalui IPI dan Pengangguran dapat menjelaskan perubahan CCI adalah sebesar 18,25 persen. (Tabel 6. Jalur PPN Ae CPI Ae IPI Ae Pengangguran Ae CCI merupakan jalur yang memiliki total korelasi terbesar dibanding jalur lainnya, dengan demikian jalur ini dapat dikatakan jalur kritis. Jalur PPN Ae CPI Ae IPI ISSN: 2828-3031 Ae Pengangguran Ae CCI menunjukan efek domino terpanjang dari adanya kenaikan ataupun penurunan PPN. Namun jika di tinjau dari koefisien determinasi, jalur PPN Ae CPI Ae Belanja Konsumen Ae CCI memiliki nilai sebesar 0,310 atau 31 persen dan merupakan nilai koefisien determinasi terbesar dibanding jalur yang lain. Hal ini menjelaskan bahwa perubahan PPN melalui jalur CPI dan Belanja Konsumen memberikan dampak perubahan terbesar pada CCI sebesar 31 PPN-CPI-Belanja Konsumen-CCI Gambar 4. Perkembangan CPI Gambar 4. Memperlihatkan fluktuasi nilai CPI dari beberapa negara OECD. Adanya perubahan nilai PPN menyebabkan perubahan pada nilai CPI, yang mana berakhir pada kenaikan CPI pada akhir tahun 2022. Misalnya, jerman yang telah menaikan PPN pada tahun 2006 dan 2020 dan mengakibatkan kenaikan nilai CPI sebesar 6 poin pada akhir 2022, spain juga telah menaikan PPN pada tahun 2011-2012. Walaupun sempat menurunkan nilai CPI pada jangka pendek tetapi berakhir dengan kenaikan sebesar 5,5 poin pada akhir tahun 2022. Japan juga menaikan nilai PPN pada tahun 2014 dan 2019 dan berakhir dengan kenaikan CPI sebesar 2,5 poin pada tahun 2022. Gambar 5. Perkembangan Belanja Konsumen Seiring kenaikan CPI pada gambar5 mengakibatkan Belanja Konsumen pada negara negara OECD bergerak naik. Grafik penurunan belanja konsumen terjadi pada saat terjadnya Covid-19 tahun 2020 hingga 2021. Kenaikan PPN menyebabkan kenaikan inflasi dan harga barang konsusi sehingga JOSEAMB Vol. No. Tahun 2026 JOSEAMB ISSN: 2828-3031 berakibat jumlah nilai pengeluaran yang di bayar masyarakat meningkat, kenaikan tertinggi dari Belanja Konsumen dialami oleh United Kingdom dan Ireland. Kendatipun tahun 2022 Belanja Konsumen negara negara OECD sudah mulai bergerak turun, namun masih dapat mengembalikan pada tingkat sebelum terjadi kenaikan PPN. Gambar 6. Perkembangan CCI Apabila di tinjau dari efek negatif, kenaikan PPN menyebabkan kenaikan CPI, dan kenaikan Belanja Konsumen. Selanjutnya penurunan IPI menyebabkan adanya/kenaikan Pengangguran dan Belanja Konsumen pada akhirnya menyebabkan penurunan CCI. Kenaikan PPN dapat menyebabkan tingkat inflasi naik yang secara langsung akan membuat harga beli produk (CPI) naik, dan Kenaikan harga beli (CPI) akan menyebabkan konsumsi masyarakat turun sebagai akibat dari produsen yang menaikan tingkat biaya produksi (IPI). Apabila dalam jangka panjang siklus produksi tetap turun, maka di takutkan produsen tidak mampu lagi bertahan dan berimbas pada efisiensi atau pengurangan biaya dan mungkin akan berimbas pada pengurangan tenaga kerja (Penganggura. Tingginya tingkat pengangguran (Penganggura. menyebabkan pelaku ekonomi pesimis dan memandang kinerja perkenomian tidak pada kondisi yang baik atau kurang menjanjikan. Walaupun kenaikan PPN memberikan efek negatif pada pertumbuhan ekonomi, namun dalam jangka panjang pengaruh tersebut tidaklah signifikan. (Mohammad et al. , 2. Korelasi yang signifikan antara PPN dan awalnya akan mengakibatkan penurunan konsumsi yang akibatnya menyebabkan peningkatan tabungan yang akan meningkatkan akumulasi modal. Karena porsi konsumsi dan investasi secara keseluruhan akan menghasilkan pengurangan permintaan atau produksi. Dampaknya, pertumbuhan ekonomi akan menurun. Pertumbuhan konsumsi terhambat jika utang pemerintah dibiayai melalui pajak konsumsi (Hossein et al. , 2. KESIMPULAN Dari hasil koefisien determinasi pada analisis jalur sebesar 31 persen, terlihat bahwa perubahan PPN menyebabkan perubahan faktor makroekonomi (CPI) dan mikroekonomi (Belanja Konsume. yang berimbas pada perubahan CCI. Sedangkan sisanya sebesar 69 persen dapat di akibatkan oleh pandangan terhadap kredit . ngsuran dan tingkat bung. , faktor non ekonomi . , dan kondisi kinerja ekonomi lainnya. Fuhrer . dalam (Ludvigson . menemukan bahwa 70 persen variasi dalam Indeks Sentimen Konsumen Michigan dapat dijelaskan oleh variasi dalam pendapatan nasional, tingkat pengangguran, inflasi dan tingkat suku bunga riil. Namun demikian. Fuhrer juga menemukan bahwa beberapa pergerakan sikap konsumen tidak dapat dijelaskan dengan agregat ekonomi yang luas. Ada mungkin terdapat interaksi yang lebih kompleks, mungkin nonlinier, antara kepercayaan konsumen dan variabel ekonomi, seperti pasar saham atau Membuka dan menanmbah kesempatan kesempatan kerja bagi masyarakat menjadi A ISSN: 2828-3031 solusi atas adanya kenaikan pajak. Tambahan lapangan pekerjaan dan meningkatkan aktiitas produksi akan menjadi langkah alternatif untuk merangsang pertumbuhan ekonomi. (Banelien. Xiaoyi, 2019. Klevtsova et al. , 2. BATASAN Kami menyadari bahwa adanya keterbatasan waktu dan biaya, maka masih terdapat beberapa kekurangan dan perlu dilakukan penelitian lanjutan. Masih dirasakan perlu ditambahkan beberapa variabel untuk pengukuran seperti kebijakan fiskal, politik, dan faktor ekonomi mikro dan makro lainya. Perlu juga untuk disarankan untuk melakukan pengukuran uji co-integration Johansen untuk mengetahui kausalitas pada jangka panjang. Diharapkan untuk peneltian selanjutnya dapat melengkapi variabel penelitian khususnya untuk pengukuran di Indonesia. REFERENSI