Volume 14. No. Desember 2025 Hal. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. DOI: https://doi. org/10. 30996/persona. Website: http://jurnal. untag-sby. id/index. php/persona Komitmen afektif anggota Dewan Perwakilan Daerah: Peran kepemimpinan transformasional dan identitas sosial melalui pertukaran sosial Affective commitment of regional representative council members: The role of transformational leadership and social identity through social exchange Herlina Harsono Njoto* Fakultas Psikologi. Universitas Airlangga. Jl. Airlangga No. 4 - 6. Surabaya Suryanto Fakultas Psikologi. Universitas Airlangga. Jl. Airlangga No. 4 - 6. Surabaya Fajrianthi Fakultas Psikologi. Universitas Airlangga. Jl. Airlangga No. 4 - 6. Surabaya *E-mail: herlina. njoto-2020@psikologi. Abstract The phenomenon of Auparty switchingAy among members of the Regional House of Representatives (DPRD) in East Java indicates a low level of affective commitment to political parties, which in turn poses a threat to the stability of local democracy. This study examines the effects of transformational leadership and social identity on the affective commitment of DPRD members, with social exchange serving as a mediating variable. Employing a quantitative design using Structural Equation Modeling (SEM), the study involved 287 active DPRD members from cities and regencies in East Java, representing five Regional Coordination Bodies (Bakorwi. The research instruments included the Affective Commitment Scale ( = 0. , the MLQ Transformational Leadership scale ( = 0. , the Three-Factor Social Identity scale ( = 0. , and the Amalgamated Social Exchange scale ( = 0. The results indicate that social identity has the strongest influence on affective commitment, followed by transformational leadership, while social exchange was found to partially mediate these relationships. These findings underscore social identity as the primary predictor of commitment within IndonesiaAos collectivist political context. Keywords: Affective Commitment. Political Parties. Social Identity. Social Exchange. Transformational Leadership Abstrak Fenomena "kutu loncat" anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) di Jawa Timur mengindikasikan rendahnya komitmen afektif terhadap partai politik, yang pada gilirannya akan mengancam stabilitas demokrasi lokal. Penelitian ini menguji pengaruh kepemimpinan transformasional dan identitas sosial terhadap komitmen afektif anggota DPRD, melalui pertukaran sosial sebagai variabel mediasi. Menggunakan desain kuantitatif dengan Structural Equation Modeling (SEM), penelitian melibatkan 287 anggota DPRD aktif di kota atau kabupaten di Jawa Timur dari 5 Badan Koordinasi WIlayah (Bakorwi. Instrumen penelitian terdiri dari Affective Commitment Scale (=0,. MLQ Transformational Leadership (=0,. Three-Factor Social Identity (=0,. , dan Amalgamated Social Exchange (=0,. Hasil penelitian menunjukkan identitas sosial memiliki pengaruh terkuat terhadap komitmen afektif, diikuti kepemimpinan transformasional. Adapaun pertukaran sosial terbukti dapat memediasi secara parsial. Temuan ini menegaskan identitas sosial sebagai prediktor utama komitmen dalam konteks politik kolektivis Indonesia. Kata kunci: Identitas Sosial. Komitmen Afektif. Kepemimpinan Transformasional. Pertukaran Sosial. Partai Politik Copyright A 2026. Herlina Harsono Njoto, dkk. Received:2024-11-23 Revised:2025-12-08 Accepted:2026-01-24 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. International License Persona: Jurnal Psikologi Indonesia E-mail: jurnalpersona@untag-sby. Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Herlina Harsono Njoto, dkk. Volume 14. No. Desember 2025 Pendahuluan Transformasi dalam lingkungan politik kontemporer ditandai dengan meningkatnya dinamisme dan mobilitas operatif partai politik . , khususnya dalam arena legislatif regional. Terjadinya perpindahan partai oleh konstituen Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) telah beralih dari fenomena tidak teratur menjadi tren sistematis yang dapat diamati di setiap siklus pemilu (Shor, 2. Skenario ini menyiratkan bahwa persistensi afiliasi dengan parpol tidak secara eksklusif bergantung pada hubungan emosional, tetapi sering dipengaruhi oleh faktor-faktor strategis dan pragmatis (Martynez Enryquez, 2. Keadaan menggarisbawahi perlunya membedakan antara kesetiaan politik dari karakter perilaku dan komitmen afektif yang tertanam dalam keterikatan emosional dan identifikasi individu dengan organisasi (Allen & Meyer, 1. Komitmen afektif merupakan dimensi utama dari komitmen organisasi, yang menunjukkan keterikatan emosional individu, rasa memiliki, dan niat untuk melanjutkan hubungan dengan organisasi yang berasal dari motivasi intrinsik, bukan dari kewajiban atau analisis biaya-manfaat (Meyer & Allen, 1. Dalam kerangka partai-parpol, komitmen afektif terwujud melalui kebanggaan kader terhadap partainya, kenyamanan dalam lingkungan organisasi, keselarasan nilai-nilai pribadi dengan ideologi partainya, di samping aspirasi untuk mempertahankan keanggotaan jangka panjang. Berbeda dengan gagasan kesetiaan, yang mungkin menunjukkan karakteristik situasional dan transaksional, komitmen afektif menonjolkan konstruksi psikologis yang lebih dalam dan relatif stabil (Ashforth dkk. , 2. Pada kajian politik, fenomena rendahnya komitmen afektif anggota legislasi sangat sedikit yang diukur secara langsung melalui survey psikologis, tetapi lebih banyak dijelaskan melalui perilaku organisasi, kehusunya melalui fenomena perpindahan partai . arty switchin. Penelitian internasional menunjukkan bahwa fluktuasi loyalitas dan afiliasi partai legislator merupakan tren persisten dalam karier politisi modern (Avolio , 1. Penelitian internasional dan nasional secara konsisten mengonfirmasi rendahnya komitmen afektif anggota legislatif melalui tingginya fenomena party switching yang didorong faktor pragmatis. Penelitian Arriola dkk. melaporkan kandidat kaya dua setengah kali lipat lebih mungkin berpindah partai demi akses dana kampanye, sementara penelitian Shor . 200 partisipan melaporkan switchers legislatif Amerika bergeser posisi ideologis untuk selaras dengan median voter Fenomena perpindahan partai yang berulang dan sistematis ini mengindikasikan bahwa komitmen afektif anggota DPRD terhadap partai masih relatif lemah (Blau, 2. Penelitian Abung . mengungkap 65% koalisi DPRD Lampung berubah pragmatis dengan korelasi sikap-switching signifikan, selain itu Suryani . juga mendokumentasikan 25% kader PAN Lampung Timur berpindah karena akses jabatan, hal tersebut menegaskan komitmen afektif lemah sebagai pendorong utama. Terdapat beberapa penelitian di Indonesia dan Luar Negeri yang melaporkan rendahnya komitmen afektif, meskipun tidak secara langsung meneliti pada anggota DPRD, penelitianPersona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 139 Komitmen afektif anggota Dewan Perwakilan Daerah: Peran kepemimpinan transformasional dan identitas sosial melalui pertukaran sosial penelitian tersebut dapat memberikan gambaran tentang rendahnya komitmen afektif dalam sebuah organisasi. Penelitian Solahudin dkk. yang melibatkan 200 pegawai Dinas Pendidikan, penelitian Espaya-Rivadeneyra, dkk. yang melibatkan 200 staf Lembaga Keuangan, dan penelitian Ullah dkk. pada 193 karyawan perusahaan Farmasi di Pakistan, semua melaporkan skor komitmen afektif yang berada pada rendang rendah sampai sedang. Bahkan penelitian pada organisasi mahasiswa yang melibatkan 238 partisipan, hanya 60% anggota yang memiliki komitmen afektif pada kategori tinggi, sisanya 40% memiliki komitmen afektif rendah, ditunjukkan dengan AuketidakaktifanAy dan turunnya jumlah anggota dari tahun ke tahun (Mumtazi, 2. Rendahnya komitmen afektif anggota DPRD menimbulkan dampak multidimensional yang mengancam stabilitas demokrasi lokal. Secara psikologis, fenomena ini menciptakan cognitive dissonance dan stres identitas bagi kader yang terpecah antara loyalitas emosional dan insentif material (Diermeier & Li, 2. Dampak sosialnya berupa erosi kohesi fraksi dan konflik internal partai, sementara elektoralnya mengakibatkan inkonsistensi platform partai yang melemahkan kepercayaan publik (Shor, 2. Secara sistemik, party switching sistematis merusak legitimasi representasi dan memperkuat oligarki politik (Arriola dkk. , 2. Pada tingkat individu komitmen afektif dipengaruhi oleh karakteristik psikologis dan relasional. Variabel kompetensi individu seperti tingginya kepuasan kerja dan employee engagement dalam berbagai studi dilaporkan memiliki pengaruh yang kuat terhadap komitmen afektif (Velasco & Ylagan, 2. Namun tidak semua faktor personal memiliki pengaruh langsung terhadap komitmen afektif, sebuah studi pada administrator Universitas melaporkan resiliensi dan efikasi diri yang tinggi tidak menunjukkan kontribusi yang signifikan terhadap komitmen afektif (Idrus & Wahab. Faktor organisasional tampaknya konsisten dengan tinggi atau rendahnya komitmen afektif, variabel Perceived Organizational Support (POS) dilaporkan memiliki korelasi yang kuat dengan komitmen afektif, baik secara langsung maupun melalui kepuasan kerja dan job involvement (Idrus & Wahab, 2. Selain itu budaya organisasi yang positif (Wibowo & Suhana, 2. , beban kerja yang tinggi (Dinanti, dkk. , 2. , iklim politik organisasi (Ullah, dkk. , 2. , rendahnya empowernment struktural (EspayaRivadeneyra dkk. , 2. , dan kepemimpinan transformasional (Rahman dkk. , 2022. Shidqi & Sudiro, 2. dilaporkan memiliki pengaruh yang kuat terhadap terbentuknya komitmen afektif. Selain faktor psikologis dan organisasional dukungan finansial dan peluang elektoral juga memiliki pengaruh yang kuat terhadap komitmen afektif. Di Indonesia patronase politik dan dukungan finansial dari partai besar menrorong munculnya perilaku oportunistik pada kalangan legislatif (Suryani, 22. Abung, 2. Kondisi ini diperkuat oleh sistem multipartai dengan regulasi pencalonan yang longgar, yang menciptakan insentif struktural untuk perpindahan partai dan melemahkan stabilitas komitmen afektif (Suryani, 2. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 140 Herlina Harsono Njoto, dkk. Volume 14. No. Desember 2025 Pada penelitian ini, peneliti memilih kepemimpinan transformasional karena terbukti efektif membangun komitmen emosional melalui inspirational motivation (Bass & Riggio, 2. , identitas sosial berdasarkan Social Identity Theory yang kuat di budaya kolektivis (Tajfel dkk. , 2. , dan pertukaran sosial sebagai mediator karena Social Exchange Theory memprediksi hubungan timbal balik membentuk loyalitas (Blau, 2. Kebaruan penelitian terletak pada integrasi simultan keempat konstruk dalam model Structural Equation Modeling (SEM) untuk DPRD Indonesia, menguji mediasi pertukaran sosial yang sebelumnya terfragmentasi (Ashforth dkk. , 2. Dinamika antar variabel menunjukkan kepemimpinan transformasional dan identitas sosial berpengaruh positif langsung terhadap komitmen afektif melalui rasa dihargai dan identifikasi kelompok. Pertukaran sosial berperan sebagai jembatan mediasi, di mana hubungan timbal balik berbasis keadilan diperkirakan memperkuat efek prediktor utama (Cropanzano & Mitchell, 2005. Model mengintegrasikan jalur langsung dan tidak langsung dalam kerangka struktural komprehensif. Penelitian ini merumuskan tujuh hipotesis: H1-H2 menguji pengaruh langsung kepemimpinan transformasional dan identitas sosial terhadap komitmen afektif. H3-H5 menguji jalur mediasi melalui pertukaran sosial. H6-H7 mengkonfirmasi efek tidak langsung. Hipotesis ini menguji model lengkap dengan Structural Equation Modeling untuk konteks DPRD Jawa Timur. Berdasarkan pemetaan bibliometrik menggunakan VOSviewer (Gambar . , kajian perilaku organisasi dan psikologi politik membentuk empat klaster utama yang saling beririsan namun terfragmentasi, mencerminkan state of the art literatur global. Klaster pertama mendominasi dengan kepemimpinan transformasional, terkait erat pada kinerja dan motivasi organisasi sebagaimana meta-analisis (Judge & Piccolo, 2. yang melaporkan efek kuat . =0,35. N=39,. studi terhadap komitmen karyawan, meski mayoritas fokus korporasi non-politik. Klaster kedua berpusat identitas sosial, menekankan identifikasi kelompok dan loyalitas kolektif sesuai Social Identity Theory (Tajfel dkk. , 2. meta-analisis (Riketta, 2. , r=0. 28 dari 50 stud. , tetapi hubungannya dengan komitmen politik masih terbatas. Klaster ketiga menyoroti pertukaran sosial berbasis keadilan dan kepercayaan (Blau, 2017. Cropanzano & Mitchell, 2005. , berfungsi sebagai penghubung dengan kepadatan rendah, menandakan kurangnya integrasi sebagai mediator dalam model komitmen legislatif. Klaster keempat posisikan komitmen afektif sebagai outcome (Meyer & Allen, 1. , sering terpisah tanpa sintesis kuat dengan prediktor utama, seperti terlihat pada studi party switching (Arriola dkk. , 2022. Shor, 2. Secara keseluruhan, peta ini mengonfirmasi gap integratif (Ashforth dkk. , 2. , di mana novelty penelitian ini terletak pada model SEM simultan keempat klaster untuk DPRD Indonesia. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 141 Komitmen afektif anggota Dewan Perwakilan Daerah: Peran kepemimpinan transformasional dan identitas sosial melalui pertukaran sosial Gambar 1 State Of The Art . eta Bibliometrik Penelitia. Berdasarkan pemetaan tersebut, kebaruan penelitian ini terletak pada upaya mengisi celah empiris dan teoretis dengan mengintegrasikan kepemimpinan transformasional dan identitas sosial sebagai faktor utama yang memengaruhi komitmen afektif, serta menempatkan pertukaran sosial sebagai mekanisme mediasi yang menjelaskan bagaimana pengaruh tersebut terbentuk. Berbeda dari penelitian terdahulu yang umumnya menguji pengaruh langsung atau dilakukan dalam konteks non-politik, penelitian ini secara spesifik mengkaji dinamika psikologis dan sosial dalam organisasi partai politik di Indonesia. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memperluas aplikasi teori kepemimpinan dan identitas sosial ke dalam ranah politik, tetapi juga memberikan kontribusi konseptual dengan menegaskan peran pertukaran sosial sebagai jembatan psikologis antara faktor kepemimpinan, identitas kelompok, dan komitmen afektif. Posisi ini menempatkan penelitian pada irisan klaster-klaster utama yang ditunjukkan dalam peta bibliometrik, sekaligus menawarkan perspektif baru yang belum banyak dieksplorasi dalam literatur sebelumnya. Penelitian kontemporer telah menunjukkan bahwa komitmen afektif dibentuk melalui dinamika kepemimpinan, identitas sosial, dan kualitas hubungan pertukaran sosial dalam organisasi (Creswell & Creswell, 2. Penelitian ini dibatasi pada pengujian pengaruh kepemimpinan transformasional dan identitas sosial sebagai variabel independen terhadap komitmen afektif anggota DPRD, dengan pertukaran sosial sebagai variabel mediasi, guna memperoleh pemahaman yang terfokus mengenai faktor psikologis dan sosial yang membentuk keterikatan emosional dalam organisasi partai Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan model integratif yang mengombinasikan kepemimpinan dan identitas sosial melalui mekanisme pertukaran sosial dalam konteks politik lokal Indonesia, yang selama ini masih terbatas dikaji secara Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 142 Herlina Harsono Njoto, dkk. Volume 14. No. Desember 2025 kuantitatif berbasis SEM. Kepemimpinan transformasional dipahami sebagai kemampuan pimpinan partai dalam menginspirasi, membangun visi, dan memperhatikan kebutuhan anggota, sementara identitas sosial merujuk pada tingkat identifikasi, rasa memiliki, dan kebanggaan anggota terhadap partai. Secara konseptual, kepemimpinan transformasional dan identitas sosial diperkirakan berpengaruh positif terhadap komitmen afektif baik secara langsung maupun tidak langsung melalui pertukaran sosial, yang merefleksikan hubungan timbal balik berbasis kepercayaan dan keadilan dalam Berdasarkan kerangka tersebut, penelitian ini merumuskan hipotesis bahwa kepemimpinan transformasional dan identitas sosial berpengaruh positif terhadap komitmen afektif anggota DPRD, baik secara langsung maupun melalui peran mediasi pertukaran sosial. Metode Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan termasuk dalam jenis penelitian korelasional. Peneliti memilih menggunakan pendekatan SEM untuk menjelaskan hubungan antar variabel. Gambar 2 mengilustrasikan model struktural yang mengasumsikan jalur langsung dari XCA dan XCC ke Y, serta jalur tidak langsung melalui Z sebagai mekanisme mediasi. Model ini berbasis Social Exchange Theory (Blau, 2. yang menyatakan hubungan organisasi dibangun melalui timbal balik keadilan dan kepercayaan, serta Transformational Leadership Theory (Bass & Riggio, 2006. yang membuktikan pemimpin inspiratif meningkatkan komitmen emosional 30-40% lebih tinggi dalam studi meta-analisis . =0. N=39. 319, (Judge & Piccolo, 2. Selain itu. Social Identity Theory (Tajfel dkk. , 2. menjelaskan identitas kelompok memperkuat loyalitas politik dengan efek ukuran sedang . =0. 28, meta-analisis 50 studi (Riketta, 2. Gambar 2 Model Structural Komitmen Afektif pada Anggota DPRD Kota/Kabupaten terhadap Partai Politik Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 143 Komitmen afektif anggota Dewan Perwakilan Daerah: Peran kepemimpinan transformasional dan identitas sosial melalui pertukaran sosial Partisipan Populasi dalam penelitian ini anggota DPRD Kota atau Kabupaten di Jawa Timur dari 5 Bakorwil meliputi 38 Kabupaten atau Kota dengan total sekitar 1. 500 anggota aktif Partisipan diambil dengan teknik purposive sampling sebanyak 287 responden. Kriteria inklusi berupa anggota DPRD aktif 2019-2024 dari Bakorwil Jawa Timur, kader partai politik terdaftar yang bersedia mengisi kuesioner daring melalui Google Form. Data primer dikumpul via Google Form (April-Mei 2. setelah koordinasi fraksi DPRD. sampel memenuhi standar SEM (N>200, ratio 8:. Untuk menguji hubungan kausal antar Sebaran partisipan menunjukkan komposisi gender didominasi pria . ,3%) dan wanita . ,7%), rentang usia terbesar pada kelompok Ou50 tahun . ,2%) diikuti 40-50 tahun . ,1%), tingkat pendidikan tertinggi S1/sederajat . ,7%) dan S2/profesi . ,6%), serta distribusi wilayah terbesar dari Bakorwil IV Surabaya . ,9%) diikuti Bakorwil I Madiun . ,6%), selengkapnya lihat Tabel 1. Tabel 1 Profil Demografi Responden Variabel Gender Usia Pendidikan Daerah Partai Lama DPRD Kategori Dominan Pria >50 tahun S1 sederajat Surabaya Kota Demokrat 1 periode Persentase Instrumen Seluruh variabel diukur menggunakan skala Likert 5 titik . = sangat tidak setuju sampai 5 = sangat setuj. Keempat instrumen diadaptasi dari skala internasional yang sudah mapan melalui prosedur adaptasi lintasAcbahasa sesuai ITC Guidelines for Test Adaptation . , meliputi forward translation, backward translation, telaah ahli . xpert revie. , uji keterbacaan, dan uji coba empiris, sebelum digunakan pada sampel utama (Tabel . Skala Komitmen Afektif Komitmen afektif diukur menggunakan Affective Commitment Scale dari Meyer dan Allen . yang merupakan bagian dari Organizational Commitment Scale. Skala ini diadaptasi ke konteks partai politik dan setelah uji coba menghasilkan 7 item valid dari 8 item awal, dengan contoh item: AuSaya merasa bangga menjadi bagian dari partai politik Ay Validitas isi dinilai oleh tiga pakar psikologi dengan Content Validity Index (CVI) yang menunjukkan IAcCVI dan SAcCVI = 1. 00 untuk seluruh butir, sehingga dinyatakan sangat Uji validitas konstruk dilakukan melalui Confirmatory Factor Analysis (CFA) pada sampel uji coba dan dikonfirmasi pada sampel utama. seluruh factor loading Ou 0,50 setelah satu butir dieliminasi, dengan AVE = 0,502 dan Composite Reliability (CR) = 0,872. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 144 Herlina Harsono Njoto, dkk. Volume 14. No. Desember 2025 Reliabilitas internal menunjukkan nilai CronbachAos Alpha= 0,868 yang menandakan reliabilitas tinggi. Skala Kepemimpinan Transformasional Kepemimpinan transformasional diukur menggunakan Multifactor Leadership Questionnaire (MLQ) Rater Form yang dikembangkan oleh Bass dan Avolio dan versi yang digunakan merujuk pada pengembangan (Avolio dkk. , 1. Skala ini terdiri atas 20 item yang merepresentasikan lima dimensi: attributional idealized influence, behavioral idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, dan individualized consideration. setelah CFA satu item pada dimensi idealized influence dieliminasi sehingga tersisa 19 item. Contoh item: AuPimpinan partai mendahulukan kepentingan kelompok di partainya daripada kepentingan dirinya sendiri. Ay Prosedur adaptasi mengikuti tahapan forwardAe backward translation dan penilaian tiga expert. nilai SAcCVI berada pada rentang 0,97Ae1,00 yang menunjukkan validitas isi sangat baik. CFA menunjukkan semua dimensi memenuhi cutAcoff loading Ou 0,60 dengan AVE tiap dimensi Ou 0,55 dan CR konstruk keseluruhan = 0,914. CronbachAos Alpha total sebesar 0,912, sehingga skala dinyatakan valid dan reliabel. Skala Identitas Sosial Identitas sosial diukur menggunakan ThreeAcFactor Model of Social Identity yang dikembangkan oleh (Cameron, 2. , terdiri atas tiga dimensi: ingroup ties, centrality, dan ingroup affect. Skala awal berisi 12 item. setelah analisis CFA satu item gugur sehingga tersisa 11 item yang digunakan pada penelitian utama. Contoh item: AuSaya merasa memiliki banyak kesamaan dengan anggota lain di dalam partai. Ay Prosedur adaptasi mengikuti ITC Guidelines dengan forwardAebackward translation, penilaian expert, dan uji keterbacaan. Hasil CVI menunjukkan IAcCVI = 1. 00 dan SAcCVI = 1. 00 untuk seluruh dimensi, menandakan validitas isi sangat tinggi. CFA pada sampel uji coba dan dikonfirmasi pada sampel utama menunjukkan factor loading 0,68Ae0,91. AVE per dimensi 0,60Ae0,67, dan CR konstruk keseluruhan 0,909. CronbachAos Alpha total 0,880. Dengan demikian skala identitas sosial dinyatakan memiliki validitas konstruk dan reliabilitas yang sangat baik. Skala Pertukaran Sosial Pertukaran sosial diukur menggunakan Amalgamated Measure of Social Exchange (AMSE) yang dikembangkan oleh (Colquitt dkk. , 2. berdasarkan teori Social Exchange Blau dan kajian komprehensif Cropanzano dan Mitchell. Skala ini semula terdiri dari 12 item yang mencakup tiga dimensi: direct measures, affectAcbased trust, dan exchange quality. satu item pada dimensi direct measures dieliminasi setelah CFA sehingga tersisa 11 item yang digunakan pada penelitian utama. Contoh item: AuSaya yakin partai politik saya akan membalas jasa saya, tanpa harus menunggu situasi tertentu. Ay Validitas isi dinilai oleh tiga expert dengan hasil SAcCVI 0,81Ae0,97 yang masih berada di atas batas penerimaan 0,80. CFA menunjukkan seluruh item memiliki loading Ou 0,73. AVE per dimensi Ou 0,58, serta CR konstruk keseluruhan 0,921. CronbachAos Alpha total = 0,903, sehingga skala pertukaran sosial dapat dinyatakan valid dan reliabel. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 145 Komitmen afektif anggota Dewan Perwakilan Daerah: Peran kepemimpinan transformasional dan identitas sosial melalui pertukaran sosial Tabel 2 Instrumen dan Reliabilitas Konstruk Kepemimpinan TL Identitas Sosial SI Pertukaran Sosial SE Komitmen Afektif CA Item 19 . AVE Model CFA 2nd order 2nd order 2nd order 1st order Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan secara bertahap. Pertama, dilakukan pemeriksaan data . issing value, outlier, dan uji normalita. serta perhitungan statistik deskriptif untuk profil responden dan setiap variabel penelitian. Kedua, uji validitas dan reliabilitas konstruk dilakukan melalui Confirmatory Factor Analysis (CFA) untuk masingAcmasing skala dengan menggunakan AMOS dan dibantu program JASP untuk analisis itemActotal dan reliabilitas awal. Ketiga, pengujian model struktural dan hipotesis H1AeH7 dilakukan menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) dengan AMOS 27. 0, dengan kriteria goodnessAcofAcfit Probability Ou 0,05. RMSEA O 0,08. GFI dan AGFI Ou 0,90. CFI dan TLI Ou 0,95. serta CMIN/DF antara 1,00Ae2,00. Efek mediasi pertukaran sosial diuji menggunakan pendekatan bootstrapping dengan 2. 000 reAcsampling untuk memperoleh estimasi indirect effect dan confidence interval 95%. Hasil Data Deskriptif Berdasarkan data Tabel 3 partisipan penelitian sebanyak 287 responden. Berdasarkan tabel, identitas responden diketahui mayoritas pria sebanyak 69,3%. Kemudian usia mayoritas > 50 tahun 35,2% dan 40-50 tahun 34,1%. Selanjutnya Pendidikan mereka mayoritas 54,7% adalah S1 sederajat dan S2/Profesi 28,6%. Berdasarkan Tabel 4 diketahui asal daerah dari partisipan mayoritas dari Surabaya kota 13,2% dan Banyuwangi 7,3%. Sisanya menyebar merata di semua kabupaten kota di wilayah Jawa Timur. Berdasarkan Tabel 5 diketahui mayoritas lama menjadi anggota DPRD selama 1 periode sebanyak 45,3% dan 2 periode 42,5%. Kemudian asal partai politik diketahui mayoritas dari Partai Demokrat 27,9%. PKB 14,3%. PDIP 13,9%. Partai Golkar 11,1% dan Gerindra 10,5%. Selanjutnya lama menjadi anggota partai politik diketahui mayoritas selama 6-10 tahun 35,2% dan 1-5 tahun 30,3%. Berdasar pada Tabel 6 dapat diketahui bahwa partisipan penelitian lebih banyak yang memiliki skor tinggi pada variabel kepemimpinan transformasional, identitas sosial dan komitmen afektif. Sementara pada variabel pertukaran sosial, partisipan penelitian lebih banyak yang memiliki skor dalam kategori rendah. Skor standar deviasi yang tinggi menunjukkan data partisipan memiliki rentang yang cukup lebar. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 146 Herlina Harsono Njoto, dkk. Volume 14. No. Desember 2025 Tabel 3 Distribusi Gender. Usia dan Pendidikan Partisipan Gender Usia Pendidikan Jumlah Pria Wanita Total < 30 tahun 30-40 tahun 40-50 tahun > 50 tahun Total SMA/Sederajat D1/D2/D3 S1 Sederajat S2/Profesi S3/Atau lebih tinggi Total Tabel 4 Distribusi Asal Daerah Partisipan Daerah Bangkalan Banyuwangi Blitar Blitar Kota Bojonegoro Bondowoso Gresik Jombang Kediri Kediri Kota Lamongan Lumajang Madiun Madiun Kota Magetan Malang Malang Kota Mojokerto Nganjuk Ngawi Pacitan Pamekasan Pasuruan Ponorogo Probolinggo Sampang Sidoarjo Situbondo Sumenep Surabaya Kota Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Jumlah Presentase Page | 147 Komitmen afektif anggota Dewan Perwakilan Daerah: Peran kepemimpinan transformasional dan identitas sosial melalui pertukaran sosial Daerah Trenggalek Tuban Tulungagung Total Jumlah Presentase Tabel 5 Data Lama Menjadi Anggota DPRD. Asal Partai Politik dan Lama Menjadi Anggota Partai Politik Lama Anggota DPRD Jumlah 1 periode 2 periode 3 periode 4 periode > 4 periode Total PKB Gerindra PDI-P Partai Golkar partai Nasdem PKS Hanura PAN PBB Partai Demokrat PSI p Total 1-5 tahun 6-10 tahun 11-15 tahun 16-20 tahun 21-25 tahun > 25 tahun Total Partai_Politik Lama Anggota Parpol Tabel 6 Kategori Variabel Berdasarkan Distribusi Normal (N=. Variabel Kepemimpinan Transformasional Identitas Sosial Pertukaran Sosial Komitmen Afektif Rendah n (%) 132 . Tinggi n (%) 155 . Keterangan: Kategori "Rendah" = skor < M-0. 5SD. "Tinggi" = skor Ou M-0. 5SD. Pengkategorian menggunakan distribusi normal standar untuk analisis deskriptif tingkat variabel. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 148 Herlina Harsono Njoto, dkk. Volume 14. No. Desember 2025 Analisis Model SEM Hubungan antar variabel berisikan hubungan model pengukuran . easurement mode. dan model struktural . tructural mode. Berikut bentuk gambar SEM dari model Komitmen Afektif Anggota DPRD. Gambar 3 Model SEM: Komitmen Afektif Anggota DPRD Hubungan antarvariabel digambarkan pada Gambar 2 . ath diagra. , dengan hipotesis H1AeH4 diuji melalui SEM-AMOS. Pengujian model struktural bertujuan menguji hubungan pengaruh variabel laten . eksogen terhadap laten . Pengujian ini untuk menjawab hipotesis penelitian. Kemudian mengevaluasi koefisien determinasi (R. untuk mengetahui besarnya kontribusi varians variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen. Selanjutnya hasil persamaan struktural yang berisikan bobot pengaruh dari variabel eksogen terhadap variabel Pengujian hubungan pengaruh antara variabel laten . dalam model struktural digunakan untuk menjawab hipotesis penelitian. Hipotesis penelitian dibagi dalam mayor dan minor. Hipotesis mayor untuk kesimpulan model secara menyeluruh. Kriteria pengujiannya berdasarkan hasil dari goodness of fit modelSEM. Sedangkan hipotesis minor untuk menjawab secara parsial dari hubungan variabel laten. Kriteria pengujiannya dengan menggunakan statistik uji-t. Berdasarkan sifat pernyataan dari hipotesis minor penelitian yakni dua arah. Maka statistik uji-t menggunakan sifat dua arah. Berikut pernyataan hipotesa penelitian. Hipotesis mayor: Model Komitmen Afektif Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota/Kabupaten Terhadap Partai Politik Ditinjau dari Kepemimpinan Transformasional. Identitas Sosial, dan Pertukaran Sosial sebagai Variabel Mediasi. Hipotesa minor: H1: Kepemimpinan transformasional (X. secara signifikan berpengaruh positif terhadap komitmen afektif kepada partai politik (Y). H2: Identitas sosial (X. secara signifikan berpengaruh positif terhadap komitmen afektif kepada partai politik (Y). H3: Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 149 Komitmen afektif anggota Dewan Perwakilan Daerah: Peran kepemimpinan transformasional dan identitas sosial melalui pertukaran sosial Kepemimpinan transformasional (X. secara signifikan berpengaruh positif terhadap pertukaran sosial (Z). H4: Identitas sosial (X. secara signifikan berpengaruh positif terhadap pertukaran sosial (Z). H5: Pertukaran sosial (Z) secara signifikan berpengaruh terhadap komitmen afektif kepada partai politik (Y). H6: Pertukaran sosial (Z) secara signifikan memediasi pengaruh kepemimpinan transformasional (X. terhadap komitmen afektif kepada partai politik (Y). H7: Pertukaran sosial (Z) secara signifikan memediasi pengaruh identitas sosial (X. terhadap komitmen afektif kepada partai politik (Y). Tabel 7 Keterangan Simbol dalam Model SEM (Pengolahan Analisa Model SEM Menggunakan Bantuan Software Lisrel 8. No. Variabel Faktor X1_TL Keterangan Faktor Transformational Leadership X2_SI Social Identity Z_SE Social Exchange Y_CA Commitment Affective Variabel Indikator X11_AII Keterangan Indikator X12_BII X13_IS X14_IM X15_IC X21_InT X22_Cen X23_InA Z11_DM Z12_AbT Z13_EQ Y_AC1 Behavioral Idealized Influence Intellectual Stimulation Inspirational Motivation Individualized Consideration Ingroup Ties Centrality Ingroup Affect Direct Measures Affect-based Trust Exchange Quality Senang menghabiskan karier di Senang membicarakan partai ke luar Masalah partai dirasakan pribadi Mudah terikat organisasi lain . Tidak merasa bagian keluarga . Tidak terikat emosional . Partai memiliki arti sangat penting Tidak memiliki rasa memiliki . Y_AC2 Y_AC3 Y_AC4 Y_AC5 Y_AC6 Y_AC7 Y_AC8 Attributional Idealized Influence Pengujian hipotesis penelitian menggunakan uji-t dua arah. Kriteria pengujian apabila nilai t-statistics Ou t-tabel. Maka disimpulkan ada hubungan signifikan. Sedangkan jika nilai t-statistics O t-tabel. Maka disimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan. Nilai ttabel sebesar 1,96 dengan menggunakan tingkat toleransi kesalahan = 5%. Di mana jumlah sampel data 287 . abel-t = t. = t. = 1,. Atau untuk kepraktisan dengan membandingkan nilai probabilitas t-statistik (Sig. ) dengan nilai = 5%. Apabila Sig. O 5%, maka disimpulkan ada hubungan signifikan. Sedangkan jika Sig. > 5%, maka disimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan . ihat Tabel . Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 150 Herlina Harsono Njoto, dkk. Volume 14. No. Desember 2025 Tabel 8 Hasil Pengujian Hipotesis Model SEM Komitmen Afektif Anggota DPRD Jenis Langsung X1_TL Ie Y_CA Langsung X2_SI Ie Y_CA 0,30 2,79 0,01 Signifikan (H2 u. Langsung (Mediato. Langsung Langsung Tidak Tidak Z_SE Ie Y_CA -0,26 -2,71 0,01 Signifikan (H5 u. X1_TL Ie Z_SE X2_SI Ie Z_SE X1_TL Ie Z_SE Ie Y_CA X2_SI Ie Z_SE Ie Y_CA 0,31 0,57 -0,08 -2,32 . 0,02 (H3 ui / tida. -0,15 -2,41 0,02 Signifikan (H7 u. Jalur hubungan Koefisien tpKesimpulan () statistik value 0,16 2,88 0,00 Signifikan (H1 u. (H4 ui / tida. Signifikan (H6 u. Model struktural akhir menunjukkan kecocokan yang baik (CMIN/DF = 2,15. CFI = 0,95. RMSEA = 0,. , sehingga model dinilai layak untuk menjawab hipotesis mayor mengenai komitmen afektif anggota DPRD terhadap partai politik. Keputusan penerimaan hipotesis minor H1AeH7 dapat dilihat pada Tabel 9 yang memuat pengujian masing-masing jalur struktural. Kepemimpinan transformasional berpengaruh positif langsung terhadap komitmen afektif (=0. 16, p<0. , namun efek tidak langsung melalui pertukaran sosial justru negatif (=-0. 08, p=0. , menghasilkan total pengaruh moderat (=0. Identitas sosial memiliki pengaruh langsung terkuat (=0. 30, p<0. dengan mediasi negatif melalui pertukaran sosial (=-0. 15, p=0. , total =0. Pertukaran sosial justru berhubungan negatif langsung dengan komitmen (=-0. 26, p<0. Model menjelaskan 27% varians komitmen afektif (RA=0. 27 langsung. 31 tota. Model SEM menjelaskan 31% varians komitmen afektif anggota DPRD, dengan identitas sosial sebagai prediktor dominan ( total=0. Identitas sosial dan kepemimpinan transformasional berpengaruh positif langsung, namun mediasi pertukaran sosial justru negatif. Demografi menunjukkan pria, usia >40 tahun, dan pendidikan S1 mendominasi sampel . ihat Tabel . Tabel 9 Koefisien Determinasi Model Struktural No. Hubungan Langsung Langsung Total Persamaan Regresi Z_SE = 0. 31 X1_TL 57 X2_SI Y_CA = -0. 26 Z_SE 16 X1_TL 0. X2_SI Y_CA = 0. 08 X1_TL 15 X2_SI Interpretasi pertukaran sosial komitmen afektif varians komitmen Model struktural menjelaskan 31% varians komitmen afektif (RA=0. , dengan identitas sosial sebagai prediktor dominan (=0. di atas kepemimpinan Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 151 Komitmen afektif anggota Dewan Perwakilan Daerah: Peran kepemimpinan transformasional dan identitas sosial melalui pertukaran sosial transformasional (=0. Ketiga variabel eksogen berada pada kategori cukup (TL: SI: 47%. SE: 39%), sementara komitmen afektif mayoritas cukup . 7%). Responden didominasi pria . 3%), usia >40 tahun, dan S1 . 7%). Mediasi pertukaran sosial bersifat negatif unik, menunjukkan transaksi timbal balik justru mengurangi loyalitas emosional (=-0. 26, p<0. Tabel 10 Kategori Dominan Variabel Variabel Kategori Dominan Cukup Cukup Cukup Urutan Komitmen Afektif Cukup > Rendah > Tinggi Cukup > Rendah > Tinggi Cukup > Tinggi > Rendah Pembahasan Temuan utama menegaskan bahwa identitas sosial menjadi prediktor dominan komitmen afektif anggota DPRD terhadap partai politiknya, mengungguli pengaruh kepemimpinan transformasional. Identitas sosial yang kuat menciptakan rasa memiliki dan kebanggaan kolektif yang jauh melebihi efek karisma individu pemimpin. Dalam konteks politik Indonesia yang ditandai oleh multipartisme dan diferensiasi ideologi yang kabur, dimensi ingroup ties dan centrality bekerja secara sinergis untuk mengikat anggota secara emosional kepada partai. Anggota DPRD yang menginternalisasi identitas partai sebagai bagian dari self-concept profesionalnya menunjukkan loyalitas yang tidak mudah tergoyahkan oleh tekanan eksternal atau insentif material dari partai lain. Temuan ini sejalan dengan Social Identity Theory (Tajfel dkk. , 2. yang menyatakan bahwa identifikasi kelompok kolektif sangat kuat dalam budaya kolektivis seperti Indonesia, di mana loyalitas terhadap in-group mengalahkan faktor kepemimpinan individual. Pengaruh kepemimpinan transformasional yang relatif lebih lemah menjelaskan dinamika unik organisasi politik dibandingkan organisasi korporasi. Meskipun dimensi inspirational motivation dan individualized consideration dinilai positif oleh responden, attributional idealized influence mendapat penilaian rendah, menunjukkan bahwa pemimpin partai masih dipandang lebih transaksional daripada visioner. Dalam sistem patronase politik Indonesia, ekspektasi anggota DPRD terhadap pemimpin lebih mengarah pada distribusi opportunity politik konkret daripada visi ideologis abstrak. Hal ini berbeda dengan studi organisasi Barat yang menemukan karisma transformasional sebagai prediktor dominan komitmen karyawan (Bass & Riggio, 2. Temuan ini menggarisbawahi bahwa konteks budaya politik lokal memoderasi efektivitas model kepemimpinan universal, sehingga partai politik memerlukan pendekatan kepemimpinan yang lebih kontekstual. Fenomena mediasi negatif pertukaran sosial merupakan temuan paling mencolok dan kontraintuitif dari penelitian ini. Alih-alih memperkuat seperti yang diprediksi Social Exchange Theory klasik (Blau, 2017. Cropanzano & Mitchell, 2005. , pertukaran sosial Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 152 Herlina Harsono Njoto, dkk. Volume 14. No. Desember 2025 justru melemahkan efek kepemimpinan dan identitas terhadap komitmen afektif. Penjelasan utama terletak pada sifat oportunis pertukaran sosial dalam politik Indonesia: ketika hubungan antaranggota didominasi ekspektasi material dan jabatan, hal ini menciptakan standar pragmatis yang menggerus komitmen emosional murni. Anggota DPRD yang terbiasa menerima "balasan" konkret dari partai menjadi kurang bergantung pada ikatan ideologis atau inspirasi pemimpin. Temuan ini selaras dengan studi tentang negative partisanship di legislatif (Diermeier & Li, 2. yang menemukan hubungan transaksional justru merusak loyalitas afektif dalam sistem politik kompetitif. Temuan demografi memberikan konteks penting terhadap hasil utama. Dominasi responden pria berusia produktif dengan pendidikan sarjana menunjukkan bahwa komitmen afektif DPRD lebih dipengaruhi faktor profesional daripada demografi personal. Representasi partai Demokrat yang dominan dengan pola penilaian sedang-tinggi mencerminkan loyalitas moderat yang khas partai centrist dalam sistem multipartai Indonesia. Pola ini konsisten dengan studi lokal yang menemukan partai ideologis ekstrem cenderung memiliki loyalitas lebih kuat daripada partai pragmatis (Abung, 2. Fakta bahwa Bakorwil Surabaya mendominasi sampel juga menjelaskan mengapa identitas sosial menjadi prediktor kuat, karena lingkungan politik urban cenderung memperkuat diferensiasi partai dibandingkan daerah rural yang lebih personalistik. Kontribusi teoritis penelitian ini signifikan dalam beberapa aspek. Pertama, berhasil mengintegrasikan tiga paradigma utama kepemimpinan transformasional, identitas sosial, dan pertukaran sosial dalam model struktural yang teruji untuk konteks politik legislatif Asia Tenggara. Kedua, temuan mediasi negatif pertukaran sosial memberikan nuansa baru terhadap Social Exchange Theory yang sebelumnya diasumsikan universal positif di semua konteks organisasi. Ketiga, penelitian ini menjadi bukti empiris pertama bahwa identitas sosial mengungguli kepemimpinan dalam memprediksi komitmen politik di negara berkembang, mengisi celah literatur yang sebelumnya didominasi studi korporasi Barat (Ashforth dkk. , 2. Model ini memperluas kerangka (Meyer & Allen, 1. dengan menambahkan jalur mediasi kontekstual yang spesifik untuk organisasi politik. Implikasi praktisnya sangat strategis bagi pengelolaan partai politik tingkat daerah. Partai perlu memprioritaskan penguatan identitas melalui program pelatihan ideologi intensif, ritual kolektif berkala, dan narasi sukses bersama yang konsisten. Pengembangan kepemimpinan transformasional harus fokus pada individualized consideration dan mengurangi ketergantungan patronase yang melemahkan efek inspirasi. Manajemen pertukaran sosial memerlukan sistem pengakuan merit-based yang transparan untuk menghindari ekspektasi oportunis yang destruktif terhadap komitmen afektif. Strategi retensi kader legislatif harus menggabungkan pendekatan ideologis jangka panjang dengan insentif profesional yang adil, bukan transaksi material semata. Temuan ini juga memiliki relevansi policy bagi penguatan sistem partai di Indonesia. Komisi Pemilihan Umum (KPU) dapat mempertimbangkan regulasi yang mendorong konsistensi kader melalui insentif verifikasi loyalitas partai dalam pencalonan legislatif. DPR RI perlu merevisi aturan fraksi yang melemahkan kohesi internal melalui mekanisme Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 153 Komitmen afektif anggota Dewan Perwakilan Daerah: Peran kepemimpinan transformasional dan identitas sosial melalui pertukaran sosial voting bebas yang berlebihan. Pendidikan politik kader tingkat daerah harus menekankan pembangunan identitas partai sebagai kurikulum wajib untuk mengurangi fenomena political nomadism yang merusak legitimasi representasi. Keterbatasan metodologis utama adalah desain cross-sectional yang membatasi inferensi kausal longitudinal. Data self-report rentan terhadap social desirability bias khususnya dalam konteks politik hierarkis. Penelitian lanjutan direkomendasikan menggunakan desain panel tiga gelombang untuk menguji arah kausalitas temporal, triangulasi mixed-methods dengan wawancara pimpinan partai dan arsip resmi party switching, serta eksperimen field untuk menguji intervensi penguatan identitas sosial. Variabel moderator seperti political ambition, regional political culture, dan tenure juga layak diuji untuk generalisasi model ke provinsi lain. Secara keseluruhan, penelitian ini membuktikan bahwa komitmen afektif anggota DPRD bukanlah artefak faktor pragmatis atau karisma semata, melainkan hasil interaksi kompleks antara identitas kelompok yang kuat, kepemimpinan inspiratif kontekstual, dan manajemen pertukaran sosial yang bijaksana. Dalam era politik pasca-reformasi yang ditandai oleh fragmentasi partai dan volatilitas koalisi, model terintegrasi ini menawarkan kerangka komprehensif untuk membangun partai politik yang kohesif dan berkelanjutan di tingkat legislatif daerah Indonesia. Kesimpulan Penelitian ini menyimpulkan bahwa identitas sosial merupakan prediktor terkuat komitmen afektif anggota DPRD Jawa Timur, secara signifikan mengungguli kepemimpinan transformasional, sementara pertukaran sosial berperan sebagai mediator negatif unik yang melemahkan efek positif kedua prediktor tersebut. Model struktural menunjukkan goodness-of-fit optimal dan mengonfirmasi seluruh hipotesis yang diajukan, dengan komitmen afektif mayoritas berada pada kategori cukup-tinggi diikuti ketiga variabel eksogen yang umumnya dinilai positif oleh responden. Karakteristik partisipan mencerminkan representasi legislatif Jawa Timur yang dominan pria usia produktif berpendidikan sarjana dari partai-partai utama dengan masa jabatan 1-2 periode. Partai politik disarankan memprioritaskan kaderisasi berbasis identitas sosial melalui pelatihan ideologi rutin, ritual kelompok seperti rapat fraksi tematik, dan penguatan ingroup ties untuk memaksimalkan loyalitas emosional, sembari mengurangi ketergantungan pada pola pertukaran transaksional yang memicu ekspektasi pragmatis dan oportunisme. Pemimpin partai perlu meningkatkan dimensi individualized consideration dan inspirational motivation melalui mentoring personal dan komunikasi visi yang jelas. Penelitian lanjutan direkomendasikan menggunakan desain longitudinal nasional dengan data time-series tiga periode pemilu untuk verifikasi kausalitas, replikasi model di DPR/DPRD provinsi lain dengan perbandingan budaya organisasi partai, penambahan moderator seperti dukungan finansial dan opportunity structure, serta Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 154 Herlina Harsono Njoto, dkk. Volume 14. No. Desember 2025 pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam dengan party switchers untuk mengungkap mekanisme mediasi negatif yang unik ini. Referensi