29 Buana Sains Vol 18 No 1: 29 - 34, 2018 PENGARUH PYRACLOSTROBIN PADA PEMBENTUKAN BUAH KOPI ROBUSTA (Coffea canephor. Wiharyanti Nur Lailiya1. Karuniawan Puji Wicaksono2, dan Eko Widaryanto2 Program Pascasarjana. Fakultas Pertanian. Universitas Brawijaya. Malang Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Brawijaya Abstract Robusta coffee (Coffea canephor. is one of the commodities that have high economic value among other plantation crops. Coffee is also one of the three nonalcoholic beverages . offee, tea, chocolat. are widespread. Indonesia and among the countries located in the international coffee world, because Indonesia is the third largest coffee exporter after Brazil and Vietnam. Coffee production in Indonesia reached an average of 11. 250 tonnes per year. The purpose of this study is studying the ability of pyraclostrobin on coffee fertilization, thereby reducing the occurrence of fruit drop and determining the appropriate concentrations for spraying treatment pyraclostrobin on fertilization and reduce fruit drop robusta coffee. This study was conducted in JanuarySeptember 2016 in the coffee plantation Tlogosari. Tirtoyudo subdistrict. Malang regency which is located an altitude of 560 m above sea level. The method that used in this study is a randomized block design, consisting of 6 treatments and 4 replications. While the treatment is P0 . ithout sprayin. P1 (Spraying once a week with a concentration of 150 pp. P2 (Spraying once a week with a concentration of 300 pp. P3 (Spraying once a week with a concentration of 450 pp. P4 (Spraying once a week with a concentration of 600 pp. P5 (Spraying once a week with a concentration of 750 pp. Giving pyraclostrobin with a concentration of 600 ppm may increase the amount of fruit compared to the treatment without giving pyraclostrobin. Keywords: Robusta coffee. fruit drop. Pendahuluan Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki peminat cukup besar di tingkat nasional maupun Dari empat jenis kopi (Arabika. Robusta. Liberika dan Exsels. kopi Arabika memiliki permintaan hingga 70 persen di pasar dunia tetapi Indonesia hanya menyumbang 10 persen. Jenis Robusta mutunya dibawah Arabika yang memiliki permintaan 24 persen produksi dunia dan Indonesia menyumbang 90 persen dari jumlah tersebut, sedangkan Liberika dan Ekselsa masing-masing 3 Produktivitas kopi Nasional terus menurun mulai tahun 2010-2012. Tetapi, pada tahun 2013 mengalami peningkatan yaitu mencapai 755 Kg ha-1. Sedangkan luas area perkebunan terus meningkat sejak tahun 2010-2013. Proses pembuahan tanaman kopi merupakan perubahan fase vegetatif menjadi fase Peristiwa pada terjadinya kerontokan buah biasanya diakibatkan oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu kegagalan proses pembuahan, fisiologis dan hama penyakit. Faktor fisiologis Lailiya. Wicaksono dan E. Widaryanto/ Buana Sains Vol 18 No 1 : 29-34 terjadi melalui pengaruh iklim terutama kelembaban dan kekeringan yang berpengaruh pada kerontokan buah. Selama perkembangan buah diduga terjadi pemindahan karbohidrat dari bagian lain tanaman ke percabangan yang mempunyai pembuahan yang lebat. Apabila kekurangan karbohidrat maka akan terjadi keguguran daun dan buah. Kelembaban yang terlalu tinggi juga lapisan absisik sehingga sel-selnya menjadi rusak menyerupai tepung dan mendorong terjadinya daun dan buah kopi rontok (Vaast et al. , 2. Pyraclostrobin ialah suatu senyawa dari dengan memblokir transfer elektron dalam rantai respirasi (Ammermann et al. Pyraclostrobin atau dengan nama kimia . ethyl N- . -chloropheny. 1H-pyrazol-3y. methoxy-, methyl este. diketahui dapat menghambat senescenes dengan cara memperlambat aktivitas sintesa asam 1aminocyclopropane-1carboxylic (AAC) (Grossmann dan Retzlaff, 1. Pyraclostrobin memiliki rumus senyawa C19H18CIN3O4. Unsur Cl berfungsi sebagain toksin dan unsur N sebagai penambah unsur hara di dalam tanaman. Nitrogen ialah komponen penting dari asam amino, asam nukleat dan protein. Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan di kebun kopi kecamatan Tirtoyudo, kabupaten Malang yang terletak pada ketinggian 560 m dpl. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan JanuariAeApril 2016. Alat yang digunakan berupa kamera dan peralatan tulis Untuk kamera digunakan sebagai dokumentasi yang dapat menunjang dan melengkapi data di lapangan. Bahanbahan yang digunakan ialah tanaman kopi arabika yang berumur 4 tahun dan Penelitian ini dilakukan menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok yang tediri dari 6 perlakuan dan 4 ulangan. Pengamatan yang dilakukan pada parameter pertumbuhan tanaman meliputi jumlah cluster, jumlah daun, luas daun dan jumlah buah. Sedangkan parameter pengamatan panen meliputi jumlah buah, bobot buah dan hasil buah t ha-1. Pengamatan destruktif dilakukan untuk mengamati tumlah stomata dan kandungan klorofil. Data pengamatan yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis ragam . ji F) pada taraf 5%. Bila dari hasil pengujiandiperoleh perbedaan yang nyata perbandingan antar perlakuan dengan menggunakan Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Hasil dan Pembahasan Aplikasi meningkatkan pertumbuhan tanaman serta meningkatkan hasil pada tanaman Giuliani et al. , . menerangkan memberikan dampak positif pada fisiologis tanaman yang menyebabkan peningkatan terhadap hasil tanaman hormon dan menunda penuaan tanaman. (Koehle et al. , 2. menambahkan bahwa pyraclostrobin mengubah stasus fitohormon yang terkandung pada Pyraclostrobin meningkatkan toleransi terhadap stres lingkungan, terutama kekeringan . usim kerin. Hormon etilen ialah hormon yang merespon ketika tanaman mengalami stres, termasuk stres kekeringan akibat peningkatan suhu udara (Taiz dan Zeiger. Kanungo dan Juhie . juga Lailiya. Wicaksono dan E. Widaryanto/ Buana Sains Vol 18 No 1 : 29-34 meningkatkan laju fotosintesis dan memperpanjang masa hidup daun bendera dengan kandungan klorofil yang Analisis Stomata Daun Tanaman Daun merupakan organ tanaman yang berfungsi sebagai tempat proses fotosintesis dan sebagai kontrol dalam mempercepat penyerapan air atau unsur hara dari dalam tanah sehingga jumlah daun dan luas daun akan sangat mempengaruhi proses fotosintesis. Jika jumlah daun banyak dan luas daun lebih besar maka kemampuan fotosintesis lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah daun dan luas daun sedikit. Hal ini sesuai dengan pernyataan Djumali . bahwa semakin luas ukuran daun semakin banyak energi yang terpanen sehingga proses fotosintesis semakin Pada pengamatan jumlah daun dan luas daun, hasil analisis ragam menunjukkan bahwa metode aplikasi pyraclostrobin dengan konsentrasi yang berbeda tidak memberikan pengaruh nyata jumlah daun dan luas daun yang terbentuk pada cabang bagian atas, tengah dan bawah pada tiap-tiap Hal ini terjadi karena tanaman kopi merupakan tanaman tahunan dan tanaman tersebut dalam kondisi yang Tetapi, terdapat perbedaan jumlah daun pada cabang bagian atas tengah dan bawah. Berkurangnya energi cahaya matahari yang dapat diserap oleh tanaman dapat mengakibatkan tanaman mengalami etiolasi (Gunadi et al. , 2. Lambers et al. menyatakan bahwa salah satu bentuk penyesuaian akibat dari berkurangnya cahaya yang dapat diserap oleh tanaman ialah dengan meningkatnya luas daun agar terpenuhi kebutuhan cahaya yang aktif dalam proses Kanungo dan Juhie . menambahkan bahwa pengaplikasian pyraclostrobin pada tanaman dapat meningkatkan laju fotosintesis dan memperpanjang masa hidup daun bendera (Gambar . Gambar 1. Histogram kandungan klorofil daun tanaman kopi bagian pada berbagai konsentrasi pytraclostrobin Lailiya. Wicaksono dan E. Widaryanto/ Buana Sains Vol 18 No 1 : 29-34 Tabel 1. Rata-rata jumlah buah kopi per cabang bagian atas pada berbagai konsentrasi pyraclostrobin Cabang Atas Pyraclostrobin . 4 MSA 6 MSA P0 . 74,84 a 74,01 a P1 . 97,97 ab 90,81 ab P2 . 129,91 bc 124,02 ab P3 . 123,54 bc 118,53 ab P4 . 144,98 c 136,93 b P5 . 134,09 bc 92,96 ab BNT 5% 45,84 54,75 KK % 25,88 15,74 8 MSA 61,19 a 84,47 abc 119,03 c 114,10 bc 127,45 c 74,00 ab 44,82 17,30 Keterangan: Bila didampingi huruf yang sama pada umur dan kolom yang sama menunjukkan tidak beda nyata berdasarkan uji BNT 5%. msa=minggu setelah aplikasi Tabel 2. Rata-rata jumlah buah kopi per cabang bagian tengah pada berbagai konsentrasi pyraclostrobin Cabang Tengah Pyraclostrobin . 4 MSA 6 MSA 8 MSA P0 . 57,93 52,14 a 50,24 a P1 . 111,56 81,35 ab 79,14 ab P2 . 115,36 90,93 b 84,54 ab P3 . 122,32 108,47 bc 108,32 bc P4 . 156,63 143,77 c 141,26 c P5 . 104,66 84,96 ab 78,34 ab BNT 5% 56,85 41,55 41,32 KK % 33,87 23,28 16,88 Keterangan: Bila didampingi huruf yang sama pada umur dan kolom yang sama menunjukkan tidak beda nyata berdasarkan uji BNT 5%. msa=minggu setelah aplikasi Tabel 3. Rata-rata jumlah buah kopi per cabang bagian bawah pada berbagai konsentrasi pyraclostrobin Cabang Bawah Pyraclostrobin . 4 MSA 6 MSA 8 MSA P0 . 55,36 a 42,84 a 42,22 a P1 . 69,98 ab 40,58 a 39,79 a P2 . 76,87 ab 62,00 ab 60,43 cd P3 . 100,67 b 76,82 bc 75,20 d P4 . 100,90 b 96,08 c 92,87 e P5 . 69,22 ab 55,39 ab 56,68 bc BNT 5% 35,82 23,25 16,85 KK % 22,79 18,98 16,92 Keterangan: Bila didampingi huruf yang sama pada umur dan kolom yang sama menunjukkan tidak beda nyata berdasarkan uji BNT 5%. msa=minggu setelah aplikasi Lailiya. Wicaksono dan E. Widaryanto/ Buana Sains Vol 18 No 1 : 29-34 Jumlah Buah Tanaman Kopi Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pada metode penyemprotan pyraclostrobin memberikan pengaruh yang nyata pada jumlah buah kopi pada cabang atas, tengah dan bawah. Pengamatan 4 msa pada cabang bagian atas menunjukan bahwa perlakuan P4 . jumlah buah meningkat sebesar 48,37% dibandingkan dengan perlakuan P0 . anpa Penyemprota. Sedangkan pada umur pengamatan 6 msa cabang bagian atas menunjukkan bahwa perlakuan P4 . jumlah buah meningkat sebesar 45,73% dibandingkan . anpa Selanjutnya pada cabang bagian atas umur pengamatan 8 msa menunjukkan bahwa P4 . jumlah buah meningkat sebesar 51,98% . anpa penyemprota. seperti yang ditunjukkan pada tabel 1. Pada cabang bagian tengah umur pengamatan 4 msa menunjukan bahwa perlakuan P4 . jumlah buah meningkat sebesar 44,64% dibandingkan . anpa Sedangkan pada umur pengamatan 6 msa cabang bagian tengah menunjukkan bahwa perlakuan P4 . jumlah buah meningkat sebesar 63,73% dibandingkan dengan perlakuan P0 . anpa penyemprota. Selanjutnya pada cabang bagian tengah umur pengamatan 8 msa P4 . jumlah buah meningkat sebesar 64,43% dibandingkan dengan P0 . anpa penyemprota. seperti yang ditunjukkan pada table 2. Pada pengamatan jumlah buah menunjukkan bahwa jumlah buah dan bobot buah tertinggi terdapat P4 . Hal ini sesuai dengan pernyataan Anand et al. , . yang menyatakan bahwa keguguran buah terjadi karena faktor fisiologis yang terjadi melalui pengaruh kerontokan buah. Koehle et al. , . menambahkan bahwa pyraclostrobin selain beraktivitas pada mitokondria pada tanaman juga berperan mereduksi respirasi dalam tanaman tersebut. Penurunan respirasi membuat tanaman mampu untuk menyimpan lebih banyak senyawa karbon untuk pertumbuhan dan memacu reaksi rantai dari perubahan fisiologis dalam tanaman. Pengaruh positif dari perubahan fisiologis dapat meningkatkan aktivitas nitrat reduktase yang merupakan enzim yang digunakan untuk pembentukan nitrogen pada Beberapa manfaat lain dari peningkatan aktivitas nitrat reduktase pada tanaman antara lain meningkatkan aktivitas enzim superoksida dismutase dan peroksidase yang menghilangkan Enzim ini dapat mengurangi stres oksidasi untuk merespon lingkungan yang kacau seperti kerusakan ozon dan stres panas. Koehle et al. , . pyraclostrobin mampu meningkatkan toleransi terhadap panas. Stres panas aktivitas enzim superoksida dismutase (SOD). Nitrat oksida juga dihubungkan dengan peningkatan toleransi terhadap panas (Larson, 1. Pyraclostrobin akan membantu pupuk tambahan pada saat aplikasi. Mengidentifikasi sumber pupuk yang sinergis meningkatkan hasil dengan pengaplikasian pada tanaman akan tanaman, dapat mengurangi biaya dan memberi pupuk tambahan ketika permintaan tanaman dalam kondisi maksimum (Kuswanto dan Wicaksono. Pyraclostrobin juga berperan untuk meningkatkan toleransi terhadap Hormon yang merespon ketika tanaman mengalami cekaman atau stres ialah hormon etilen. Hormon etilen Lailiya. Wicaksono dan E. Widaryanto/ Buana Sains Vol 18 No 1 : 29-34 dapat menyebabkan tanaman lebih cepat masak daripada fase pematangan secara nirmal dan menyebabkan keguguran bunga dan biji saat merespon stres. Hormon etilen ini muncul ketika tanaman mengalami proses kematangan, mengalami luka ketika pengguguran daun dan sebelum patogen memicu kematian Dengan pyraclostrobin pada tanaman dapat menghambat enzim-enzin yang terlibat langsung dalam produksi hormon etilen sehingga memperlambat pemasakan (Taiz dan Zeiger, 2. Kesimpulan Pemberian meningkatkan jumlah buah dan hasil Pemberian pyraclostrobin dengan meningkatkan bobot biji sebesar 81,15% serta menurunkan terjadinya keguguran 55,75% dibandingkan dengan perlakuan tanpa pemberian pyraclostrobin. Daftar Pustaka