Tamasya: Jurnal Pariwisata Indonesia Volume 2. Nomor 3. September 2025 e-ISSN: 3064-3260. p-ISSN: 3064-3287. Hal. DOI: https://doi. org/10. 62383/tamasya. Tersedia: https://ejournal. id/index. php/Tamasya Pengembangan Pariwisata Berbasis Kewirausahaan melalui Pemberdayaan Masyarakat Lokal di Pantai Tedunan. Seluma Diki Ramadhani1*. Denny Kurnia Putra2. Andi Abdulrozzaq3 Jon Bon JopiA. Arum PuspitasariAA Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam. Fakultas Ushuluddin. Adab dan Dakwah. Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu. Indonesia *Penulis Korespondensi: dikirmdhn7@gmail. Abstract. Tedunan Beach in Seluma Regency. Bengkulu, holds exceptional potential as an ecotourism asset, attributed to its authentic and untouched natural landscape, featuring white sand stretches and a unique mangrove Sustainable tourism development, however, demands active participation and entrepreneurship from the local community, which is key to ensuring the equitable distribution of economic benefits and environmental This research aims to analyze the current community entrepreneurship models, identify challenges hindering business growth, and formulate strategic opportunities for development. Using a qualitative approach with a case study method, data was collected through in-depth interviews with business actors and community leaders, participant observation, and documentation studies. Findings indicate that community-based businesses have grown organically, albeit on a micro scale, encompassing fresh seafood culinary stalls, tourist hut rentals, and local guide services. Nevertheless, this growth is hampered by fundamental constraints: limited access to formal working capital, minimal promotion hindering market penetration, and a lack of professional training in financial management and tourism service standards. In response, an integrated development model is formulated recommending: increasing human resource capacity through business management and tourism awareness training, facilitating access to capital through partnerships, and strengthening digital-based promotion. Tedunan Beach tourism can be sustainable if supported by a comprehensive empowerment program that not only boosts economic income but also essentially fosters a sense of ownership and community responsibility towards the destination's preservation. Keywords: Entrepreneurship Tourism. Tedunan Beach. Ecotourism. Community Empowerment. Tourism Development. Abstrak. Pantai Tedunan di Kabupaten Seluma. Bengkulu, memiliki potensi besar sebagai aset ekowisata berkat bentang alamnya yang autentik dan belum terjamah, didukung oleh hamparan pasir putih dan ekosistem mangrove yang khas. Pengembangan pariwisata berkelanjutan sangat bergantung pada partisipasi aktif dan kewirausahaan dari masyarakat lokal, yang merupakan kunci untuk menjamin distribusi manfaat ekonomi yang adil dan pelestarian lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis model kewirausahaan masyarakat yang ada, mengidentifikasi tantangan yang menghambat pertumbuhan usaha, dan merumuskan peluang strategis untuk Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pelaku usaha dan tokoh masyarakat, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha berbasis komunitas telah berkembang secara organik pada skala mikro, mencakup kuliner hidangan laut, penyewaan pondok, dan jasa pemandu lokal. Namun, pertumbuhan ini terhambat oleh kendala fundamental: keterbatasan akses modal formal, minimnya promosi untuk menembus pasar luas, dan kurangnya pelatihan profesional dalam manajemen keuangan serta standar pelayanan pariwisata. Sebagai respons, dirumuskan model pengembangan terintegrasi yang merekomendasikan: peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan manajemen usaha dan kesadaran wisata, fasilitasi akses permodalan melalui kemitraan, dan penguatan promosi digital. Kesimpulannya, pariwisata Pantai Tedunan akan berkelanjutan jika didukung oleh program pemberdayaan komprehensif yang tidak hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga menumbuhkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab masyarakat terhadap kelestarian destinasi. Kata Kunci: Pariwisata Kewirausahaan. Pantai Tedunan. Ekowisata. Pemberdayaan Masyarakat. Pengembangan Pariwisata. LATAR BELAKANG Pariwisata telah lama diakui sebagai penggerak ekonomi yang kuat, khususnya di negara-negara berkembang seperti Indonesia yang kaya akan sumber daya alam dan budaya. Pergeseran paradigma global kini berfokus pada pariwisata berkelanjutan yang berbasis Naskah Masuk: 21 Juli 2025. Revisi: 12 Agustus 2025. Diterima: 20 September 2025. Terbit: 30 September 2025 Pengembangan Pariwisata Berbasis Kewirausahaan melalui Pemberdayaan Masyarakat Lokal di Pantai Tedunan. Seluma komunitas dan ekowisata, di mana pemberdayaan masyarakat lokal menjadi kunci utama. Hal ini mendorong lahirnya kewirausahaan yang inovatif dan mandiri, sebuah jembatan penting antara potensi alam yang melimpah dan kesejahteraan masyarakat. Di Provinsi Bengkulu. Kabupaten Seluma menyimpan sebuah permata tersembunyi, yaitu Pantai Tedunan. Pantai ini menawarkan keindahan alam yang memukau garis pantai yang panjang, pasir bersih, pohon cemara, dan bebatuan unikAiyang ideal untuk ekowisata. Sayangnya, potensi ini belum terkelola secara optimal. Kondisi saat ini menunjukkan bahwa meskipun ada kunjungan wisatawan, infrastruktur pendukung masih minim, dan sebagian besar dikelola secara tradisional oleh masyarakat. Partisipasi ekonomi masyarakat masih terbatas pada usaha mikro dan informal, seperti warung sederhana dan penyewaan tikar, tanpa adanya inovasi produk atau layanan yang terstruktur. Tanpa kerangka kerja kewirausahaan yang kuat, destinasi ini berisiko stagnan atau bahkan mengalami degradasi lingkungan dan sosial. Oleh karena itu, penelitian ini menjadi sangat penting. Tujuannya adalah untuk menganalisis bagaimana kewirausahaan dapat menjadi solusi dalam mengembangkan pariwisata di Pantai Tedunan. Penelitian ini tidak hanya akan melihat dari perspektif ekonomi, tetapi juga dari sisi sosial, budaya, dan lingkungan. Dengan menganalisis model kewirausahaan yang ada dan merumuskan strategi yang tepat, diharapkan pariwisata di Pantai Tedunan dapat berkembang secara berkelanjutan, memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi masyarakat lokal tanpa mengorbankan kelestarian alamnya. Kewirausahaan pariwisata menjadi jembatan antara potensi alam yang melimpah dengan kesejahteraan masyarakat yang Berdasarkan analisis latar belakang, beberapa masalah utama yang teridentifikasi adalah keterbatasan manajemen profesional, rendahnya partisipasi inovatif masyarakat, kendala ekonomi seperti keterbatasan modal, kurangnya dukungan peningkatan kapasitas, dan potensi dampak negatif jika tidak dikelola dengan baik. Melihat permasalahan ini, penelitian ini merumuskan beberapa pertanyaan utama: Bagaimana model kewirausahaan pariwisata yang telah diterapkan oleh masyarakat lokal? Apa saja tantangan dan peluang yang mereka hadapi? Dan, bagaimana strategi yang paling efektif untuk meningkatkan partisipasi, inovasi, dan keberlanjutan kewirausahaan pariwisata berbasis masyarakat di Pantai Tedunan? Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, penelitian ini mengidentifikasi tantangan dan peluang, serta merumuskan strategi pengembangan yang terintegrasi dan berkelanjutan. Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah ilmu di bidang kewirausahaan pariwisata dan pemberdayaan masyarakat. Secara Tamasya Ae Volume 2. Nomor 3. September 2025 e-ISSN: 3064-3260. p-ISSN: 3064-3287. Hal. mengembangkan usaha, menjadi pertimbangan strategis bagi pemerintah daerah, dan dasar bagi pelaku usaha atau investor untuk mengambil keputusan yang lebih efektif dan KAJIAN TEORITIS Kewirausahaan pariwisata didefinisikan sebagai proses dinamis penciptaan, pengembangan, dan manajemen inisiatif bisnis baru dalam sektor pariwisata. Konsep ini melampaui sekadar aktivitas bisnis biasa. ia secara esensial melibatkan identifikasi peluang unik, pengambilan risiko terukur, dan penerapan inovasi yang berkelanjutan. Di Pantai Tedunan, kewirausahaan pariwisata memiliki potensi untuk terwujud dalam berbagai rupa, mencakup Usaha Mikro dan Kecil (UMK) seperti kuliner khas lokal dan penjualan kerajinan tangan, hingga penyediaan jasa tur yang terorganisir. Penting untuk dicatat bahwa inisiatif ini tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan, melainkan juga memiliki dimensi sosial yang kuat dikenal sebagai kewirausahaan sosial di mana tujuannya adalah menciptakan dampak positif yang signifikan bagi komunitas lokal. Konteks Pantai Tedunan sangat ideal untuk pengembangan ekowisata, yang merupakan bentuk pariwisata bertanggung jawab dengan tiga komponen utama: konservasi lingkungan, penciptaan manfaat bagi masyarakat lokal, dan penyediaan pengalaman edukatif bagi Ekowisata menjadi bagian integral dari konsep Pariwisata Berkelanjutan, yang menekankan pembangunan yang mampu memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan peluang di masa depan. Konsep berkelanjutan ini didukung oleh tiga pilar utama, yaitu ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan. Dalam konteks ini, kewirausahaan berfungsi sebagai instrumen vital untuk mencapai pilar ekonomi, memastikan bahwa keuntungan yang dihasilkan dari aktivitas pariwisata akan tetap berputar dan berada di tangan masyarakat lokal. Dalam paradigma pariwisata modern, telah terjadi pergeseran yang menempatkan masyarakat lokal sebagai subjek pembangunan. Kerangka kerja yang mendukung hal ini adalah Pariwisata Berbasis Masyarakat (CBT), di mana komunitas lokal memiliki kendali substansial atas pengembangan pariwisata, memastikan sebagian besar manfaat ekonomi terdistribusi di dalam komunitas. Penerapan CBT secara langsung meningkatkan kesejahteraan ekonomi sekaligus memberdayakan masyarakat secara sosial. Dengan adanya rasa kepemilikan yang kuat ini, masyarakat menjadi termotivasi secara inheren untuk menjaga kebersihan lingkungan dan melestarikan warisan budaya mereka, menjadikannya model yang sangat bergantung pada inisiatif kewirausahaan lokal. Pengembangan Pariwisata Berbasis Kewirausahaan melalui Pemberdayaan Masyarakat Lokal di Pantai Tedunan. Seluma Keberhasilan kewirausahaan dalam sektor pariwisata sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Salah satu hambatan utama adalah keterbatasan modal dan akses pendanaan, sehingga skema pendanaan alternatif seperti microfinance atau Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi krusial untuk mendorong Selain itu, daya saing sangat ditentukan oleh Inovasi dan Kreativitas Produk, yang dapat diwujudkan dalam bentuk pengalaman baru . isalnya paket tur uni. , proses . istem pemesanan yang efisie. , atau model organisasi . operasi wisat. Aspek Pemasaran dan Pemanfaatan Teknologi Digital juga tidak terhindarkan, di mana penggunaan media sosial dan platform online memungkinkan jangkauan audiens yang lebih luas dengan biaya rendah, menuntut literasi digital yang memadai dari para wirausahawan. Lebih lanjut, keberhasilan juga ditopang oleh Dukungan Institusional dan Kebijakan, karena lingkungan eksternal seperti regulasi pemerintah yang suportif dan pembangunan infrastruktur yang memadai memainkan peran penting. Terakhir. Jaringan dan Kolaborasi dengan sesama pelaku usaha dan komunitas lain sangat esensial untuk berbagi informasi, mengatasi tantangan, dan menciptakan kekuatan kolektif, misalnya melalui pembentukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwi. Landasan penting bagi studi ini adalah serangkaian penelitian terdahulu yang memberikan kerangka kerja solid untuk memahami faktor-faktor keberhasilan dan tantangan dalam pariwisata berbasis komunitas. Subagyo . , misalnya, menemukan bahwa modal sosial berupa kepercayaan dan jejaring yang kuat saja tidak cukup tanpa intervensi finansial dan manajerial. Sementara itu. Handoko dan Setyawan . menunjukkan korelasi positif antara promosi digital dan peningkatan kunjungan, namun mencatat rendahnya literasi digital masyarakat setempat. Rosita . mengidentifikasi bahwa kepemimpinan lokal yang kuat dan inisiatif kolektif merupakan kunci dalam mengorganisir produk wisata yang terintegrasi, dan Wibowo . memperkuat temuan ini dengan menekankan pentingnya ekosistem pendukung yang kuat, mencakup akses permodalan, dukungan kebijakan, dan kemitraan Penelitian-penelitian ini secara kolektif menyediakan kerangka kerja yang solid. karena itu, studi ini berupaya mengisi celah dengan menerapkan kerangka tersebut secara spesifik pada konteks Pantai Tedunan di Seluma. Bengkulu, yang belum banyak diteliti. Tujuannya adalah tidak hanya mengkonfirmasi temuan umum, tetapi juga menganalisis interaksi kompleks antara faktor-faktor tersebut dalam lingkungan sosial dan geografis yang Tamasya Ae Volume 2. Nomor 3. September 2025 e-ISSN: 3064-3260. p-ISSN: 3064-3287. Hal. METODE PENELITIAN Pendekatan dan Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena tujuannya adalah memahami secara mendalam fenomena sosial yang kompleks dari perspektif subjek penelitian. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk menggali makna di balik tindakan, pengalaman, dan persepsi para pelaku usaha serta masyarakat lokal di Pantai Tedunan. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus, yang sangat relevan karena memungkinkan eksplorasi mendalam terhadap kasus tunggal aktivitas pariwisata kewirausahaan di Pantai Tedunan dalam konteks kehidupan nyata yang unik. Dengan studi kasus, peneliti bisa mendapatkan informasi yang rinci dan komprehensif mengenai model kewirausahaan, tantangan, dan peluang yang ada. Lokasi dan Subjek Penelitian Penelitian ini dilakukan di Pantai Tedunan, yang terletak di Desa Tedunan. Kecamatan Semidang Alas Maras. Kabupaten Seluma. Provinsi Bengkulu. Lokasi ini dipilih secara karena dianggap sebagai kasus ideal untuk mengkaji fenomena pariwisata kewirausahaan yang memiliki potensi besar namun belum tergarap maksimal. Berdasarkan metode yang diterapkan, subjek penelitian atau informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling, yaitu sebuah metode yang berfokus pada pemilihan individu atau kelompok yang dinilai paling relevan dan memiliki informasi kunci terkait topik yang diteliti. Informan yang diwawancarai dalam studi ini memiliki komposisi yang beragam untuk memastikan kedalaman dan keluasan data. Secara spesifik, mereka meliputi Pelaku Usaha Lokal, yang menjadi sumber utama untuk memahami model bisnis yang diterapkan serta tantangan operasional yang dihadapi sehari-hari. Selain itu, dilibatkan pula Tokoh Masyarakat, yang memberikan wawasan penting mengenai dinamika sosial dan peran komunitas dalam pengembangan pariwisata. Penelitian ini juga menyertakan Pengelola Pariwisata, dengan tujuan untuk menggali informasi mengenai struktur pengelolaan yang telah ada di destinasi. Terakhir, diwawancarai pula Perwakilan Pemerintah, yang perannya sangat penting dalam memberikan data dan konteks mengenai kebijakan pariwisata dan rencana pembangunan daerah yang relevan. Teknik Pengumpulan Data Untuk menjamin perolehan data yang kaya dan kredibel, penelitian ini menerapkan teknik triangulasi data, yaitu kombinasi sinergis dari beberapa teknik pengumpulan data. Teknik utama yang digunakan adalah Wawancara Mendalam (In-depth Intervie. , yang bersifat semi-terstruktur guna menjaga fleksibilitas, dan bertujuan menggali secara rinci pengalaman, pandangan, serta harapan dari para informan. Metode ini kemudian dilengkapi Pengembangan Pariwisata Berbasis Kewirausahaan melalui Pemberdayaan Masyarakat Lokal di Pantai Tedunan. Seluma dengan Observasi Partisipatif (Participant Observatio. , di mana peneliti melakukan pengamatan langsung di lokasi untuk memverifikasi aktivitas pariwisata dan interaksi ekonomi yang terjadi, sekaligus mengkonfirmasi informasi yang diperoleh dari wawancara. Terakhir, dilakukan Studi Dokumentasi (Documentation Stud. untuk mengumpulkan data sekunder dari berbagai sumber seperti laporan resmi desa dan media sosial, yang berfungsi untuk melengkapi konteks dan memvalidasi keseluruhan temuan penelitian. Teknik Analisis Data Data kualitatif yang telah terkumpul dianalisis menggunakan model interaktif yang dikembangkan oleh Miles. Huberman, dan Saldana. Proses analisis ini merupakan siklus yang terdiri dari tiga tahap utama dan diperkaya dengan langkah sintesis data yang spesifik. Tahap pertama adalah Reduksi Data (Data Reductio. , yaitu proses menyeleksi, menyederhanakan, dan memfokuskan data mentah agar benar-benar relevan dengan rumusan masalah penelitian. Selanjutnya, data yang telah direduksi masuk ke tahap Penyajian Data (Data Displa. , di mana informasi disajikan dalam bentuk narasi yang terstruktur atau matriks untuk memudahkan peneliti dalam melihat pola, tren, dan hubungan antar data secara cepat. Sebagai langkah sintesis yang penting, peneliti kemudian menggunakan Analisis SWOT untuk memadukan temuan. Analisis ini berfungsi untuk merumuskan strategi yang paling sesuai, misalnya dengan memanfaatkan Kekuatan (Strength. yang merupakan faktor internal keunggulan . eperti keindahan alam dan keramahan pendudu. untuk meraih Peluang (Opportunitie. sebagai faktor eksternal yang dapat dimanfaatkan . eperti tren ekowisata atau dukungan pemerinta. , dikenal sebagai Strategi SO. Sebaliknya, analisis ini juga membantu dalam mengidentifikasi Kelemahan (Weaknesse. sebagai faktor internal penghambat . isalnya, keterbatasan modal dan kurangnya infrastruktu. dan Ancaman (Threat. sebagai faktor eksternal yang dapat menghambat . eperti persaingan atau potensi kerusakan lingkunga. , guna merumuskan Strategi WT, yaitu upaya mengatasi kelemahan untuk menghindari ancaman. Tahap akhir dari keseluruhan proses adalah Penarikan Kesimpulan (Conclusion Drawin. , di mana peneliti menginterpretasikan data secara komprehensif untuk menjawab pertanyaan penelitian dan merumuskan kesimpulan akhir. Uji Keabsahan Data Untuk memastikan keabsahan data yang dikumpulkan, penelitian ini menerapkan teknik triangulasi secara komprehensif. Triangulasi ini dibagi menjadi dua jenis: pertama adalah Triangulasi Sumber, yang dilakukan dengan cara membandingkan dan mencocokkan informasi yang diperoleh dari berbagai informan . eperti pelaku usaha, tokoh masyarakat, dan perwakilan pemerinta. guna mengonfirmasi konsistensi dan kredibilitas temuan. Kedua. Tamasya Ae Volume 2. Nomor 3. September 2025 e-ISSN: 3064-3260. p-ISSN: 3064-3287. Hal. digunakan Triangulasi Metode, yaitu penggunaan kombinasi dari wawancara, observasi, dan studi dokumentasi untuk menguji fenomena yang sama dari berbagai perspektif yang berbeda. Selain teknik triangulasi, penelitian ini juga akan menggunakan member checking untuk mengonfirmasi kembali interpretasi dan kesimpulan akhir kepada para informan, sehingga menjamin akurasi dan kesesuaian hasil penelitian dengan pandangan dan konteks mereka. Melalui kombinasi metodologi yang ketat dan berlapis ini, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang valid dan mendalam mengenai potensi pariwisata kewirausahaan di Pantai Tedunan. HASIL DAN PEMBAHASAN Profil Pariwisata Pantai Tedunan dan Karakteristik Kewirausahaan Lokal Gambar 1 dan 2. Kondisi Pantai Tedunan. Sumber: Olah data Penulis Berdasarkan hasil observasi dan wawancara. Pantai Tedunan adalah destinasi wisata pesisir yang dicirikan oleh kealamian lanskapnya. Deretan pohon cemara laut, hamparan pasir yang bersih, dan suasana yang relatif sepi menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang mencari ketenangan. Aktivitas ekonomi yang terjadi bersifat organik dan tumbuh dari inisiatif masyarakat setempat. Para aktor kewirausahaan di Pantai Tedunan sebagian besar adalah penduduk asli yang terlibat dalam sektor pariwisata untuk menambah pendapatan keluarga. Keterlibatan mereka didorong oleh motivasi pragmatis, bukan sebagai strategi bisnis jangka panjang. Usaha yang dijalankan berbasis pada modal sosial dan pengetahuan lokal, yang sesuai dengan temuan Subagyo . tentang pentingnya modal sosial di lingkungan komunitas. Keterbatasan modal finansial menjadi faktor penentu dalam skala dan jenis usaha yang mereka jalankan. Pengembangan Pariwisata Berbasis Kewirausahaan melalui Pemberdayaan Masyarakat Lokal di Pantai Tedunan. Seluma Model Kewirausahaan yang Diterapkan dan Implikasinya Model kewirausahaan yang ditemukan di Pantai Tedunan dapat dikategorikan sebagai mikro dan informal, dengan bentuk usaha yang paling dominan adalah warung makan dan minuman sederhana, persewaan tikar dan ban renang, serta jasa parkir. Model bisnis ini memiliki karakteristik yang jelas. Pertama, ditandai dengan Sistem Manajemen Keluarga, di mana pengelolaan usaha dilakukan sepenuhnya oleh anggota keluarga tanpa adanya struktur organisasi formal. Kedua, dalam hal pemasaran, promosi sangat mengandalkan Word-of-Mouth . erita dari mulut ke mulu. , sebuah pendekatan yang secara inheren membatasi jangkauan pasar. Karakteristik ketiga adalah Keterbatasan Inovasi Produk, terlihat dari produk dan layanan yang cenderung homogen, mengindikasikan bahwa para wirausahawan belum sepenuhnya mengadopsi prinsip inovasi sebagai keunggulan kompetitif, sebuah temuan yang sejalan dengan pandangan Hjalager . Meskipun model ini berhasil menciptakan pariwisata berbasis komunitas (CommunityBased Tourism atau CBT) yang otentik, sifatnya yang informal juga membawa implikasi negatif, berupa kerentanan yang tinggi terhadap tantangan eksternal, ketidakstabilan pendapatan, serta kesulitan signifikan untuk berkembang tanpa adanya intervensi strategis. Analisis Strategis dan Rencana Bisnis Terintegrasi Berdasarkan hasil analisis SWOT. Peneliti merumuskan rencana bisnis yang mengintegrasikan kelemahan, kekuatan, peluang, dan ancaman yang telah diidentifikasi. Penataan Organisasi sebagai Solusi Kelemahan Internal Sebagai langkah fundamental untuk menopang keberlanjutan pengembangan pariwisata, penelitian ini merekomendasikan pembentukan badan pengelola yang jelas dan Struktur ini harus melibatkan kerja sama erat antara tiga entitas utama. Pertama. Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisat. akan berperan sebagai wadah sukarela bagi masyarakat, fokus pada pengelolaan aktivitas harian dan peningkatan standar pelayanan Kedua. BUMDes (Badan Usaha Milik Des. akan mengambil alih pengelolaan unit-unit bisnis yang memerlukan struktur legal dan dukungan finansial yang lebih formal, seperti Pusat Kuliner dan Penginapan Homestay, yang sekaligus berfungsi memfasilitasi akses terhadap permodalan. Terakhir, dibentuk pula Tim Pengelola Pantai dengan tugas spesifik yang berorientasi pada penataan fisik area wisata serta pengelolaan lingkungan, demi memastikan pencegahan kerusakan ekosistem yang merupakan aset utama Pantai Tedunan. Tamasya Ae Volume 2. Nomor 3. September 2025 e-ISSN: 3064-3260. p-ISSN: 3064-3287. Hal. Pengembangan Produk dan Layanan Berbasis Keunggulan dan Peluang Rencana bisnis selanjutnya berfokus pada pengembangan produk yang unik dan inovatif, dimulai dengan inisiatif Homestay Berbasis Komunitas. Jaringan penginapan ini akan dikelola oleh keluarga lokal, memanfaatkan kekuatan utama berupa keramahan masyarakat sekaligus memanfaatkan peluang dari tren pariwisata otentik yang mencari pengalaman tinggal bersama penduduk setempat. Sejalan dengan itu, diperlukan Penataan dan Diversifikasi Sektor Kuliner melalui pembangunan Pusat Kuliner UMKM yang Area ini akan menampung kios-kios yang menjual makanan laut segar dan masakan khas Bengkulu, dengan tujuan menciptakan pengalaman kuliner yang lebih terstruktur dan terjamin kualitasnya. Selain itu, direkomendasikan Pengembangan Produk Inovatif dan Atraksi Tambahan, seperti penyewaan hammock atau kasur gantung di antara pohon cemara serta pendirian kafe tematik. Strategi ini secara cerdas memanfaatkan keunikan lanskap dan peluang promosi digital, di mana konten visual yang menarik dapat menjadi alat pemasaran gratis yang efektif, sejalan dengan temuan Handoko & Setyawan . Untuk memastikan keberlanjutan dan ketahanan ekonomi, rencana ini juga berfokus pada diversifikasi produk dan aktivitas. Salah satunya adalah dengan mendirikan Pusat Oleh-Oleh dan Kriya Lokal, yang berfungsi mengatasi kelemahan berupa ketergantungan pada kunjungan harian. Produk yang dijual akan dikemas secara menarik dan diperkaya dengan narasi cerita tentang budaya setempat. Selain itu, penelitian merekomendasikan Program Konservasi Penyu, yang akan mengubah ancaman kerusakan lingkungan menjadi peluang ekowisata yang unik. Program ini akan menawarkan pengalaman edukatif bagi wisatawan, seperti pelepasan tukik, yang juga secara aktif membangun citra positif Terakhir, perlu adanya Penyelenggaraan Event dan Keramaian secara berkala, seperti konser musik akustik, yang diadakan di luar musim liburan puncak untuk menarik pengunjung secara lebih konsisten. Strategi ini secara langsung mengatasi ancaman berupa ketergantungan pendapatan musiman yang sering dialami destinasi wisata pantai. Temuan penelitian ini mengonfirmasi bahwa model kewirausahaan pariwisata di Pantai Tedunan sedang dalam tahap embrionik. Kekuatan internal seperti modal sosial dan kealamian alam menjadi fondasi yang kokoh, sejalan dengan konsep pariwisata berbasis masyarakat (Scheyvens, 2. Namun, kelemahan seperti minimnya modal dan keterampilan manajerial menunjukkan perlunya intervensi strategis, sesuai dengan teori yang diungkapkan oleh Peters . Pengembangan Pariwisata Berbasis Kewirausahaan melalui Pemberdayaan Masyarakat Lokal di Pantai Tedunan. Seluma Peluang eksternal seperti tren ekowisata dan pemanfaatan teknologi digital menawarkan jalan keluar dari tantangan internal. Oleh karena itu, strategi yang diusulkan berupaya mengintegrasikan kekuatan internal . odal sosia. dengan peluang eksternal . igitalisasi, dukungan pemerinta. Penerapan model ini diharapkan dapat menjawab ancaman yang ada, seperti persaingan dan degradasi lingkungan, dan memastikan bahwa pengembangan pariwisata di Pantai Tedunan dapat berkelanjutan secara ekonomi, sosial, dan lingkungan. Hasil ini juga sejalan dengan penelitian Wibowo . yang menemukan bahwa ekosistem pendukung yang kuat sangat krusial untuk keberhasilan kewirausahaan KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun Pantai Tedunan memiliki potensi besar sebagai destinasi pariwisata kewirausahaan, model yang berkembang saat ini masih bersifat informal dan mikro, sehingga rentan terhadap hambatan pertumbuhan. Modal sosial yang kuat, berupa keramahan dan semangat gotong royong masyarakat, menjadi fondasi utama. Namun, potensi ini belum dapat dimanfaatkan secara optimal akibat keterbatasan modal, minimnya keterampilan manajerial dan pemasaran digital. Transformasi menuju model yang lebih terstruktur sangat diperlukan untuk mengintegrasikan inisiatif lokal dengan peluang eksternal, seperti tren pariwisata berkelanjutan dan promosi digital, sambil memitigasi ancaman dari persaingan dan risiko kerusakan lingkungan. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pihak terkait melalui penguatan kelembagaan, fasilitasi akses permodalan, dan adopsi teknologi menjadi kunci untuk mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan. Berdasarkan temuan tersebut, disarankan agar pemerintah daerah memfasilitasi pembentukan kelembagaan formal seperti BUMDes dan Pokdarwis, serta menyediakan pelatihan manajemen dan akses permodalan mikro. Masyarakat dan pelaku usaha didorong untuk segera membentuk organisasi kolektif, mendiversifikasi produk, dan mengadopsi pemasaran digital untuk meningkatkan daya saing. Penelitian ini memiliki keterbatasan karena hanya berfokus pada studi kasus kualitatif di satu lokasi. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya sangat disarankan untuk melakukan studi komparatif dengan destinasi lain dan menggunakan metode kuantitatif guna menganalisis dampak ekonomi secara lebih mendalam. Tamasya Ae Volume 2. Nomor 3. September 2025 e-ISSN: 3064-3260. p-ISSN: 3064-3287. Hal. DAFTAR REFERENSI Ateljevic. , & Doorne. Starting out: The experiences of women entrepreneurs in International Journal of Tourism Research, 2. , 295Ae307. Buhalis. , & Law. Progress in information technology and tourism management: 20 years on and 10 years after the Internet. The state of eTourism research. Tourism Management, 29. , 609Ae623. Ceballos-Lascuryin. Tourism, ecotourism and protected areas. IUCN. Cole. Beyond the host-guest dichotomy: An exploration of the social roles of volunteers in local communities. Tourism Recreation Research, 30. , 1Ae12. Cooper. , & Hall. Contemporary tourism: An international approach. Routledge. Creswell. Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches . th ed. SAGE Publications. Damanik. , & Weber. Ekowisata: Perencanaan, pengembangan, dan implementasi. Pustaka Pelajar. Denzin. The research act: A theoretical introduction to sociological methods. Aldine. Denzin. , & Lincoln. (Eds. The SAGE handbook of qualitative research . th ed. SAGE Publications. Getz. Event management & event tourism . nd ed. Cognizant Communication Corporation. Gjendel. , et al. Community-based tourism for sustainable development. UNWTO. Hall. Tourism and innovation. Routledge. Hall. , & Williams. Tourism and innovation. Routledge. Handoko. , & Setyawan. Dampak promosi digital terhadap peningkatan kunjungan wisata di pedesaan Jawa Tengah. Jurnal Pariwisata, 5. , 112Ae125. Hjalager. A review of tourism and innovation research. Tourism Management, 31. , 1Ae12. Holden. Tourism, poverty and development. Routledge. Kvale. , & Brinkmann. InterViews: Learning the craft of qualitative research interviewing . nd ed. SAGE Publications. Lincoln. , & Guba. Naturalistic inquiry. SAGE Publications. Lumpkin. , & Dess. Clarifying the entrepreneurial orientation construct and linking it to performance. Academy of Management Review, 21. , 135Ae172. Pengembangan Pariwisata Berbasis Kewirausahaan melalui Pemberdayaan Masyarakat Lokal di Pantai Tedunan. Seluma Lundberg. Tourism business networks. Channel View Publications. Miles. Huberman. , & Saldaya. Qualitative data analysis: A methods sourcebook . rd ed. SAGE Publications. Moleong. Metodologi penelitian kualitatif (Edisi revis. Remaja Rosdakarya. Mowforth. , & Munt. Tourism and sustainability: Development, global practice and new approaches . rd ed. Routledge. Patton. Qualitative research & evaluation methods . th ed. SAGE Publications. Peters. Entrepreneurship and tourism. OECD. Rosita. Model pengembangan pariwisata berbasis agrowisata di Bali. Jurnal Pariwisata Indonesia, 12. , 45Ae58. Scheyvens. Ecotourism and the empowerment of local communities. Tourism Management, 20. , 245Ae249. Scheyvens. Tourism for development: Empowering communities. Pearson Education. Shane. , & Venkataraman. The promise of entrepreneurship as a field of research. Academy of Management Review, 25. , 217Ae226. Shaw. , & Williams. Tourism and entrepreneurship. Pearson Education. Spradley. Participant observation. Holt. Rinehart and Winston. Stake. The art of case study research. SAGE Publications. Subagyo. Peran modal sosial dalam pengembangan pariwisata berbasis komunitas. Jurnal Sosial Humaniora, 10. , 221Ae235. Suryana. Kewirausahaan: Model, strategi, dan manajemen. Salemba Empat. Thomas. , & Zippel. Tourism entrepreneurship. CABI. UNWTO. Making tourism more sustainable: A guide for policy makers. UNWTO. Wibowo. Perbandingan model pengelolaan pariwisata di dua desa pesisir: Studi kasus di Jawa Barat. Jurnal Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, 8. , 30Ae45. Wood. Ecotourism: The principles and practices. The Ecotourism Society. WTO. International ecotourism declaration. WTO. Yin. Case study research: Design and methods . th ed. SAGE Publications. Tamasya Ae Volume 2. Nomor 3. September 2025