Proceedings of PsychoNutrition Student Summit Volume 01. No. Desember 2024 ISSN: 3090-0956 https://proceedings. id/index. php/PINUSS Hubungan Peer Group dan Fomo Terhadap Impulsive Buying Dewasa Awal di Kota Surabaya Wardah Mahbubah1. Muhammad Syifaul Muntafi2. Malikah3 Fakultas Psikologi dan Kesehatan. UIN Sunan Ampel Surabaya Jln. Dr. Ir. Soekarno No. Gunung Anyar. Surabaya E-mail: wardahmahbubah459@gmail. Abstrak Fenomena impulsive buying di kalangan dewasa awal di Surabaya semakin menarik perhatian, terutama dalam konteks pengaruh peer group dan FoMO (Fear of Missing Ou. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara kedua faktor tersebut terhadap perilaku pembelian impulsif. Metode yang digunakan adalah wawancara mendalam dengan empat responden yang mewakili beragam latar belakang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keinginan untuk diterima dalam kelompok sosial dan ketakutan ketinggalan tren berkontribusi signifikan terhadap impulsive buying. Kesimpulannya, intervensi yang melibatkan edukasi dan pembentukan kelompok dukungan yang sehat sangat diperlukan untuk meminimalkan perilaku pembelian impulsif di kalangan dewasa awal. Kata Kunci: impulsive. peer group. Fear of Missing Out (Fom. Surabaya. PENDAHULUAN Fenomena impulsive buying semakin marak di kalangan dewasa awal, terutama di kota-kota besar seperti Surabaya, di mana gaya hidup dinamis dan akses mudah terhadap berbagai produk menjadi faktor pendorong. Impulsive buying sering dipicu oleh daya tarik promosi, diskon, serta kemudahan transaksi online yang meningkatkan kemungkinan seseorang membeli tanpa perencanaan sebelumnya (Putri Tri Iriani Dalam konteks ini, peer group atau kelompok sebaya memainkan peran penting, terutama bagi individu pada usia dewasa awal yang masih mencari identitas diri dan cenderung terpengaruh oleh lingkungan sosialnya (Gaiska Meindieta. Sulistiya Dewi. Sari Novita 2. Ketika teman-teman dalam lingkaran terlibat dalam konsumsi berlebihan, dorongan untuk mengikuti tren menjadi lebih kuat. Selain itu, fenomena FOMO (Fear of Missing Ou. semakin memengaruhi keputusan pembelian (Asroni. Cibro, and Simbolon FOMO, yang ditandai oleh kecemasan akan kehilangan kesempatan atau pengalaman yang dirasakan orang lain, mendorong individu untuk melakukan pembelian dengan cepat agar tidak merasa tertinggal (Asroni. Cibro, and Simbolon 2. Kombinasi dari tekanan sosial dan FOMO ini menciptakan lingkungan konsumsi yang memicu perilaku impulsif, terutama dalam budaya konsumerisme perkotaan. Perkembangan teknologi dan media sosial telah mengubah cara individu, terutama dewasa awal, mengakses informasi dan berinteraksi dengan tren konsumsi (Fumar et al. Dengan hanya beberapa ketukan layar, seseorang dapat melihat tren terbaru, rekomendasi produk, atau ulasan yang dibagikan oleh influencer. Hal ini meningkatkan paparan terhadap gaya hidup konsumtif dan mempermudah keputusan pembelian. Di sisi lain, dewasa awal, yang berada pada fase transisi menuju kemandirian finansial, sering kali belum sepenuhnya matang dalam mengelola keuangan (Harahap. Soemitra, and Nawawi 2. Mahbubah. Muntafi. Malikah. Hubungan Peer Group dan Fomo. Survei Populix dengan 1086 responden menunjukkan bahwa meski dalam ketidakpastian ekonomi, lebih dari 70% masyarakat Indonesia tetap aktif berbelanja, baik online maupun offline, terutama di kalangan kelas atas usia 25 tahun ke atas . ttps://csiconsultant. id/perilaku-berbelanja-di-indonesia/ di akses pada tanggai 9 August 2. Promosi seperti cashback dan bebas ongkir menjadi motivasi utama, sejalan dengan gaya hidup konsumtif di kota besar seperti Surabaya. Di tengah pesatnya perkembangan ekonomi dan gaya hidup urban, dorongan untuk berbelanja semakin kuat, terutama bagi dewasa awal yang masih rentan terhadap pengaruh eksternal seperti iklan dan tren sosial. Diskon pada hari-hari promo seperti 8. 8 atau 11. 11 semakin memicu impulsive buying, menggarisbawahi pentingnya pemahaman lebih dalam terhadap perilaku konsumsi di era modern ini (Pandowo 2. Di kota besar seperti Surabaya, dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat dan gaya hidup perkotaan yang glamor, dorongan untuk berbelanja semakin kuat. Lingkungan urban yang sarat dengan pusat perbelanjaan, kafe, dan tempat hiburan, serta gaya hidup modern, menciptakan atmosfer di mana perilaku konsumtif dianggap sebagai bagian dari norma sosial (Muhammad Asyraf Al Kholis 2. Penelitian mengenai hubungan antara peer group. FOMO, dan impulsive buying secara bersamaan masih relatif jarang, terutama di kota seperti Surabaya yang memiliki karakteristik urban yang dinamis. Padahal, kombinasi antara pengaruh kelompok sebaya, kecemasan FOMO, dan keputusan pembelian impulsif dapat menciptakan pola konsumsi yang merugikan, terutama bagi individu dewasa awal (Darilsyah Mahmud. Firman Nur Heryanto. Helmy Muzaki 2. Tanpa kontrol yang baik, impulsive buying berpotensi membawa dampak negatif bagi kesehatan finansial, seperti utang yang menumpuk atau pengelolaan anggaran yang tidak efektif (Kumala. Santoso, and Widhianingrum 2. Bagi dewasa awal yang baru merintis kemandirian ekonomi, dampak ini bisa menghambat stabilitas keuangan di masa Oleh karena itu, penting untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumsi ini. Dengan penelitian yang lebih mendalam, dapat merancang intervensi yang tepat, seperti edukasi keuangan atau kampanye kesadaran, yang membantu individu mengembangkan kontrol diri dan kemampuan pengambilan keputusan yang lebih bijak dalam menghadapi godaan konsumsi (Rahmah et al. METODE PENELITIAN Pendekatan fenomenologi, menurut Von Eckartsberg . , adalah studi interpretatif tentang pengalaman manusia yang bertujuan untuk memahami situasi, peristiwa, dan pengalaman sebagaimana yang muncul dalam kehidupan sehari-hari (Muktaf 2. Pendekatan ini memberikan kerangka kerja yang kuat untuk menggambarkan hubungan erat antara manusia dan lingkungannya, dengan fokus pada pemahaman subjek-objek secara mendalam (Syahrizal and Jailani 2. Tantangan utama dari fenomenologi terletak pada kemampuannya untuk menggambarkan keterkaitan antara manusia dan dunia dalam konteks yang saling mempengaruhi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk menggali hubungan antara peer group dan FOMO terhadap perilaku impulsive buying pada dewasa awal di Surabaya. Melalui wawancara mendalam dengan empat partisipan yang dipilih secara purposive sampling, penelitian ini mengeksplorasi pengalaman subyektif individu, terutama terkait tekanan sosial dari kelompok sebaya dan kecemasan yang ditimbulkan oleh FOMO (Yusanto 2. Dengan analisis tematik, pola-pola utama dalam perilaku impulsive buying diidentifikasi, memberikan pemahaman yang lebih jelas tentang dinamika sosial dan Prosiding PsychoNutrition Vol. 01 No. 1 Desember 2024 psikologis di balik keputusan pembelian (Yolanda et al. Triangulasi digunakan untuk memastikan validitas data, memperkuat hasil penelitian dengan pendekatan multimetode yang memadukan berbagai perspektif (Ramli et al. Melalui fenomenologi, penelitian ini mampu menawarkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang faktor sosial dan psikologis saling berhubungan dan mempengaruhi perilaku konsumtif dalam kehidupan sehari-hari dewasa awal di Surabaya (Assyakurrohim et al. HASIL PENELITIAN Berdasarkan hasil dari penelitian mengenai dengan impulsive buying dikota surabaya,didapatkan kondisi psikologis yang muncul pada subjek penelitian, kondisi psikologis yang dialami oleh impulsive buying dewasa awal di kota surabaya yaitu dilihat pada tabel 1 berikut. Tabel 1. Analisis Data Tema Subjek Subjek WU Subjek IZ Pemicu Tidak bisa untuk tidak Tertarik Terpengaruh Melihat dari Emosi positif saat membeli Merasa senang dan tidak sabar saat melihat Antusias saat melihat Puas karena murah dan Merasa puas saat Perasaan Banyak sia-sia Merasa Kadang dan kadang juga senang Kadang Haus Nyaman saat beli barang di Puas karena murah dan Mudah Dorongan yang tak untuk membeli Subjek Mahbubah. Muntafi. Malikah. Hubungan Peer Group dan Fomo. Hasil penelitian mengenai hubungan antara peer group dan FOMO (Fear of Missing Ou. terhadap impulsive buying pada dewasa awal di Surabaya menunjukkan dinamika menarik yang melibatkan aspek psikologis dan sosial (Sianturi, 2. Temuan ini mengungkap bahwa tekanan dari kelompok sebaya berkontribusi signifikan terhadap perilaku konsumsi impulsif, di mana individu cenderung mengikuti pola dan gaya hidup teman(Arinka Retna Wirasti. Ni Putu Pradipta Sari Puspita, 2. Misalnya, dalam wawancara, subjek WU menyatakan. AuPengaruhnya sih pengaruh banget dan mereka juga sama gitu jadi saling memberikan informasi terkait produk yang lagi promo. Ay Hal ini mencerminkan bagaimana interaksi sosial dapat memperkuat keputusan untuk berbelanja secara impulsif. Selain itu, emosi memainkan peran penting dalam keputusan pembelian. Subjek IZ menggambarkan penyesalan setelah melakukan pembelian impulsif, berkata. AuNyeselnya sih ngapain check out sih padahal ngga terlalu penting gitu,Ay menunjukkan dampak negatif dari impulsive buying. Di sisi lain, subjek WU mengungkapkan bahwa belanja bisa menjadi bentuk self-reward untuk mengurangi stres: AuIya saya membeli barang untuk mengurangi stres. Ay Tekanan psikologis seperti stres juga muncul sebagai faktor pendorong impulsive Subjek DW, misalnya, mengatakan. AuKalau misalkan udah ngerasa stres banget, belanjanya udah kayak melampaui batas gitu sih. Ay Hal ini menunjukkan bahwa keadaan emosional dapat memengaruhi pengambilan keputusan yang tidak rasional. Lebih lanjut, pengaruh iklan dan branding juga signifikan, dengan subjek IZ mencatat bagaimana iklan dapat menghipnotis: AuKalau di live di TikTok atau di Shopee itu kadang kita kayak kehipnotis gitu loh. Ay Menunjukkan bahwa lingkungan urban Surabaya, yang sarat dengan promosi, membuat individu lebih rentan terhadap impulsive buying. Keseluruhan temuan ini menggarisbawahi kompleksitas hubungan antara peer group. FOMO, dan kondisi psikologis individu dalam konteks perilaku konsumsi di Surabaya. Dengan memahami dinamika ini, pemasar dan pembuat kebijakan dapat merancang intervensi yang lebih efektif untuk mempromosikan pola konsumsi yang lebih sehat di kalangan dewasa awal. Fenomena FoMO (Fear of Missing Ou. terbukti memiliki korelasi positif yang kuat dengan perilaku impulsive buying(Saibaba, 2. Rasa takut untuk ketinggalan tren, acara, atau pengalaman yang dimiliki oleh teman-teman, mendorong individu untuk berbelanja secara spontan dan tidak terencana demi memenuhi kebutuhan untuk "tidak tertinggalAy (Nasr. Sunitiyoso, & Suhaimi, 2. Lingkungan urban Surabaya yang dinamis tampaknya memperkuat kecenderungan ini, di mana individu terus-menerus terpapar dengan berbagai peluang konsumsi dan pengalaman sosial(Luh. Maharani. Putri, & Saufi, 2. Hasil riset Populix terbaru, "Indonesian Shopper Behavior on Promotion Week in the Face of Economic Uncertainty 2023," menunjukkan bahwa 67% masyarakat Indonesia tetap antusias terhadap promosi belanja online meskipun di tengah ketidakpastian Menariknya, setengah dari responden cenderung melakukan impulsive buying, didorong oleh keinginan untuk membeli produk yang diidamkan atau sebagai bentuk selfreward. Survei yang melibatkan 1. 086 individu berusia 18-55 tahun ini juga menemukan bahwa 63% lebih menyukai berbelanja online, dengan alasan seperti efisiensi waktu dan kemampuan membandingkan harga . ttps://infobanknews. com/ekonomi-tak-pasti-67masyarakat-malah-antusias-sambut-promosi-belanja-online/ diakses pada tanggal 20 Febuari 2. Prosiding PsychoNutrition Vol. 01 No. 1 Desember 2024 Produk yang paling banyak dibeli mencakup kebutuhan utama seperti makanan dan minuman, serta barang perawatan diri. Kampanye promosi sangat menarik perhatian, dengan 91% responden pernah berbelanja saat momen promo besar, seperti Harbolnas. Namun, ada juga kekhawatiran, seperti membeli barang yang tidak dibutuhkan dan anggaran terbatas, yang membuat sebagian orang ragu (Luh et al. , 2. Dalam menghadapi isu resesi, 43% masyarakat berencana hanya membeli kebutuhan utama, sementara 20% merasa tidak akan mengubah perilaku belanja. Temuan ini memberikan wawasan penting bagi pelaku pasar untuk menyesuaikan strategi pemasaran dan memenuhi kebutuhan konsumen yang beragam di masa ketidakpastian ini. Menariknya, tingkat pendapatan juga muncul sebagai variabel yang turut memengaruhi impulsive buying. Semakin tinggi pendapatan individu, semakin besar pula kecenderungannya untuk melakukan pembelian impulsif. Hal ini dapat dikaitkan dengan tingkat disposable income yang lebih besar, serta akses yang lebih luas terhadap beragam produk dan layanan. Salah satu teori yang tepat untuk mengkaji hubungan antara peer group dan FOMO (Fear of Missing Ou. terhadap impulsive buying di kalangan dewasa awal di Surabaya adalah Teori Konformitas Sosial Teori konformitas sosial yang dipelopori oleh Sherif dan Asch. Sherif (Pusenius & Box, 2. Teori ini menjelaskan individu cenderung mengubah perilaku, sikap, atau pandangan agar sesuai dengan kelompok sosial yang mereka ikuti. Dalam konteks penelitian ini, tekanan dari peer group dapat mendorong individu untuk terlibat dalam perilaku konsumsi impulsif, di mana merasa perlu untuk membeli barang yang sama atau mengikuti tren yang dipromosikan oleh teman-teman sebaya. FOMO berperan sebagai penguat dalam dinamika ini, menciptakan rasa cemas jika tidak ikut serta dalam pengalaman atau pembelian yang sedang tren. Misalnya, individu mungkin merasa tertekan untuk membeli produk tertentu agar tidak ketinggalan atau untuk mendapatkan pengakuan dari teman-teman (Kang & Ma, 2. Lingkungan urban di Surabaya, yang kaya akan peluang konsumsi dan paparan terhadap berbagai iklan, semakin memperkuat perasaan ini. Dengan memanfaatkan Teori Konformitas Sosial, penelitian ini dapat mengungkap pola-pola perilaku konsumsi yang kompleks dan bagaimana interaksi sosial berkontribusi terhadap impulsive buying di kalangan dewasa awal (Pusenius & Box, 2. Hal ini memberikan wawasan berharga bagi pemasar dan pembuat kebijakan dalam merancang strategi yang lebih efektif untuk mengelola perilaku konsumsi yang sehat. PEMBAHASAN Pengaruh Peer Group terhadap Impulsive Buying Peer group pada dewasa awal adalah kelompok teman sebaya yang memiliki pengaruh signifikan dalam pembentukan identitas dan perilaku individu di fase transisi ini. Karakteristik utama dari peer group pada dewasa awal mencakup kesamaan minat, tujuan hidup, dan latar belakang sosial yang membuat individu merasa diterima dan didukung(Arini et al. Pada fase ini, individu mulai mencari validasi dan pengakuan dari teman sebaya, yang sering kali menjadi referensi utama dalam pengambilan keputusan, termasuk gaya hidup, pandangan politik, dan bahkan kebiasaan konsumsi. Peer group memainkan peran penting dalam membentuk nilai dan norma sosial yang diinternalisasi oleh anggotanya. Mahbubah. Muntafi. Malikah. Hubungan Peer Group dan Fomo. Mekanisme pengaruh sosial dalam peer group terjadi melalui proses konformitas, di mana individu cenderung menyesuaikan perilaku, sikap, atau keputusannya agar sejalan dengan kelompok (Efendi and Indartono 2. Hal ini bisa bersifat langsung, seperti tekanan sosial yang eksplisit, atau secara tidak langsung melalui peniruan dan keinginan untuk "cocok" dengan norma kelompok. Pada dewasa awal, mekanisme ini sering diperkuat oleh kecenderungan untuk mencari persetujuan dan rasa memiliki, yang menjadikan peer group sebagai salah satu faktor dominan dalam keputusan terkait gaya hidup, termasuk perilaku konsumsi seperti impulsive buying (Efendi and Indartono 2. Social influence dalam peer group beroperasi melalui interaksi sosial yang intens, memberikan ruang bagi pembentukan identitas sosial yang kuat dan terikat pada dinamika kelompok tersebut. Hubungan antara tekanan dan konformitas dalam peer group dengan kecenderungan impulsive buying sangat relevan di kalangan dewasa awal, terutama di kota besar seperti Surabaya. Tekanan sosial dari teman sebaya mendorong individu untuk mengikuti tren dan keputusan konsumsi yang didorong oleh grup, sehingga lebih rentan untuk terlibat dalam impulsive buying(Lospabai and Soetjiningsih 2. Ketika berada dalam peer group, individu sering merasa perlu menyesuaikan diri agar diterima, yang dapat mencakup keputusan untuk membeli barang-barang yang mungkin tidak dibutuhkan, tetapi dianggap "penting" oleh kelompok (Lospabai and Soetjiningsih 2. Dalam konteks Surabaya, dengan perkembangan ekonomi yang cepat dan budaya konsumsi yang berkembang, tekanan untuk tetap relevan di lingkaran sosial semakin kuat, terutama melalui gaya hidup modern yang sering kali ditampilkan melalui media sosial. Studi kasus di Surabaya menunjukkan bahwa peer group memiliki peran penting dalam membentuk pola konsumsi dewasa awal. Pengaruh ini sering diperkuat oleh fenomena Fear of Missing Out (FOMO), di mana individu merasa cemas jika tidak mengikuti tren yang sedang populer. Diskon dan promosi pada hari-hari spesial, seperti 11 atau 12. 12, juga memicu perilaku impulsive buying yang didorong oleh peer group (Iranto and Nisa 2. Keterlibatan dalam kegiatan belanja bersama atau berbagi informasi tentang promo terbaru menjadi bagian dari dinamika sosial yang memperkuat kecenderungan impulsive buying yang menunjukkan tekanan sosial dan konformitas dalam peer group di Surabaya tidak hanya memengaruhi gaya hidup, tetapi juga cara individu membuat keputusan pembelian secara spontan (Syafitri Rosyida 2. Dampak FOMO (Fear of Missing Ou. pada Perilaku Impulsive Buying Fear of Missing Out (FOMO) adalah konsep psikologis yang menggambarkan kecemasan seseorang karena merasa tertinggal dari pengalaman atau kesempatan yang dimiliki orang lain (Rahmadani. Ariqinanty, and Astin 2. Pada dewasa awal. FOMO menjadi sangat relevan karena individu berada dalam fase kehidupan di mana sedang mencari validasi sosial dan mencoba membentuk identitas diri. Perasaan ini cenderung terpengaruh oleh pencapaian atau kegiatan orang lain, terutama ketika merasa bahwa tidak ikut serta dalam tren atau aktivitas tertentu akan merugikan citra sosial. Dalam konteks ini. FOMO sering memicu perilaku konsumtif yang tidak rasional, seperti impulsive buying, di mana membeli barang atau jasa hanya untuk merasa "tetap relevan" dengan kelompok sebaya atau tren yang sedang berkembang (Handayani and Haryadi 2. Prosiding PsychoNutrition Vol. 01 No. 1 Desember 2024 Media sosial berperan besar dalam memicu FOMO di kalangan dewasa awal di Surabaya. Platform seperti Instagram. TikTok, dan Facebook memperlihatkan gaya hidup mewah, liburan, dan tren konsumsi yang terus-menerus diperbarui, menciptakan ilusi bahwa semua orang di sekitar sedang menikmati pengalaman yang lebih baik (Handayani and Haryadi 2. Di kota besar seperti Surabaya, di mana gaya hidup perkotaan sangat kuat, media sosial semakin memperkuat perasaan tertinggal ini. FOMO mendorong individu untuk terus terhubung dan mengikuti tren konsumsi, baik dalam hal fashion, teknologi, atau gaya hidup, sehingga tidak merasa "ketinggalan" dari lingkaran sosial atau Tingkat FOMO (Fear of Missing Ou. memiliki hubungan erat dengan frekuensi dan intensitas impulsive buying di kalangan dewasa awal. Semakin tinggi perasaan FOMO yang dirasakan seseorang, semakin besar kecenderungan mereka untuk melakukan pembelian tanpa pertimbangan matang (Astuti and Pratiwi 2. Dalam konteks ini, impulsive buying sering kali terjadi sebagai upaya untuk menghilangkan kecemasan akan ketinggalan tren atau pengalaman yang dirasakan orang lain. Individu yang mengalami FOMO merasa terdorong untuk segera membeli barang atau jasa, meskipun sebenarnya tidak terlalu membutuhkannya, hanya demi mempertahankan relevansi sosial dan menjaga citra diri di hadapan kelompok sebaya (Impulsif et al. Frekuensi pembelian impulsif pun meningkat, terutama ketika ada dorongan eksternal seperti promosi waktu terbatas atau tren konsumsi baru yang diikuti oleh banyak orang. Di Surabaya, terdapat beberapa faktor pemicu FOMO yang spesifik, termasuk perkembangan pesat ekonomi kota dan gaya hidup modern yang semakin Peran media sosial menjadi bagian dari platform seperti Instagram dan TikTok menampilkan gaya hidup glamor yang mudah diakses oleh penduduk kota. Surabaya juga dikenal dengan maraknya pusat perbelanjaan, tempat hiburan, dan acara-acara eksklusif yang memicu FOMO pada masyarakat yang ingin ikut serta dalam gaya hidup perkotaan. Fenomena hari-hari belanja spesial, seperti 11. 11 atau 12. 12, serta promosi besarbesaran dari marketplace, semakin memperkuat perasaan takut ketinggalan kesempatan berbelanja, sehingga mendorong individu untuk melakukan pembelian impulsif dengan intensitas yang lebih tinggi (Roliyanah 2. Interaksi Peer Group dan FOMO dalam Membentuk Pola Impulsive Buying Sinergi antara pengaruh peer group dan Fear of Missing Out (FOMO) sangat kuat dalam membentuk keputusan pembelian, terutama di kalangan dewasa awal. Ketika individu berada dalam lingkungan sosial yang dipenuhi dengan tekanan untuk berkonformitas, dorongan dari kelompok sebaya sering kali diperkuat oleh rasa cemas akan ketinggalan momen atau pengalaman yang dinikmati oleh orang lain (Assyarofi Dalam konteks ini, keputusan untuk membeli barang atau jasa menjadi bukan hanya sekadar kebutuhan, tetapi juga sebagai respons terhadap norma sosial yang dibentuk oleh peer group. Individu yang terpengaruh oleh peer group merasa perlu untuk mengikuti tren atau aktivitas yang diinginkan oleh kelompok, sementara FOMO memperburuk kecemasan jika mereka tidak ikut serta (Apolo. Kurniawati, and Tarumanagara 2. Mahbubah. Muntafi. Malikah. Hubungan Peer Group dan Fomo. Perbandingan kekuatan pengaruh, meskipun keduanya memiliki dampak signifikan, pengaruh peer group sering kali lebih kuat dalam konteks pengambilan keputusan yang bersifat jangka panjang. Peer group dapat memberikan tekanan langsung dan interaksi sosial yang mengubah perilaku konsumsi secara lebih mendalam(Apolo. Kurniawati, and Tarumanagara 2. Sementara itu. FOMO lebih cenderung beroperasi sebagai pemicu impulsif yang mengarahkan individu untuk melakukan pembelian cepat dalam momen-momen tertentu. Dengan demikian, dalam situasi di mana individu dihadapkan pada tekanan sosial yang kuat, pengaruh peer group mungkin lebih dominan, sedangkan FOMO berfungsi sebagai pendorong tambahan yang meningkatkan kecenderungan untuk impulsive buying (Nurul Inayah Taufiq 2. Sinergi ini menciptakan dinamika kompleks di mana keputusan pembelian dipengaruhi oleh interaksi sosial yang intens dan kebutuhan untuk merasa terlibat dalam pengalaman bersama. Pola impulsive buying di kalangan dewasa awal di Surabaya menunjukkan beberapa karakteristik khas yang dipengaruhi oleh faktor sosial dan ekonomi. Pertama, banyak individu cenderung melakukan pembelian impulsif saat mereka terpapar pada promosi atau diskon, terutama selama hari belanja spesial seperti 11. 11 atau saat ada event di pusat perbelanjaan. Kedua, pembelian yang dipicu oleh interaksi dengan peer group juga cukup umum. misalnya, ketika teman sebaya menunjukkan minat terhadap produk tertentu, individu sering merasa terdorong untuk ikut membeli demi mempertahankan status sosial. Ketiga. FOMO berperan penting dalam menciptakan rasa urgensi, di mana individu merasa harus segera membeli untuk tidak ketinggalan pengalaman yang sedang tren (Amirulloh et al. Implikasi dari temuan ini terhadap strategi pemasaran di Surabaya sangat Pemasar perlu mengadaptasi pendekatan mereka dengan memanfaatkan elemen-elemen sosial dalam kampanye iklan, seperti kolaborasi dengan influencer yang memiliki pengaruh di kalangan dewasa awal (Harry. Istianingsih, and Oda 2. Selain itu, menciptakan pengalaman berbelanja yang interaktif dan menarik di platform online maupun offline dapat meningkatkan keterlibatan konsumen. Di sisi lain, edukasi konsumen juga menjadi penting. perusahaan dan lembaga terkait perlu memberikan informasi yang jelas tentang pengelolaan keuangan dan dampak negatif dari impulsive buying. Dengan meningkatkan kesadaran akan perilaku konsumsi yang sehat, diharapkan masyarakat dapat membuat keputusan pembelian yang lebih bijaksana dan berkelanjutan(Harry. Istianingsih, and Oda 2. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini telah mengungkapkan bahwa peer group dan FoMO (Fear of Missing Ou. merupakan dua faktor kunci yang berperan signifikan dalam memicu perilaku impulsive buying pada dewasa awal di Surabaya. Keinginan untuk konformitas dan diterima oleh lingkaran pertemanan, serta rasa takut ketinggalan tren dan pengalaman sosial, menjadi pendorong utama bagi individu untuk melakukan pembelian spontan dan tidak terencana. Menariknya, faktor pendapatan juga turut memengaruhi kecenderungan ini, di mana semakin tinggi pendapatan, semakin besar pula potensi impulsive buying. Temuan-temuan ini menyoroti perlunya upaya komprehensif untuk mengatasi fenomena impulsive buying di kalangan dewasa awal di Surabaya. Pertama, diperlukan intervensi yang berfokus pada pembentukan peer group yang lebih sehat dan mendukung pola konsumsi yang bijak. Program-program pengembangan diri, pelatihan keterampilan Prosiding PsychoNutrition Vol. 01 No. 1 Desember 2024 manajemen keuangan, serta kampanye yang mengedukasi tentang dampak negatif impulsive buying dapat menjadi langkah awal yang efektif. Kedua, inisiatif untuk mengurangi dampak FoMO, misalnya melalui peningkatan literasi digital dan kesadaran akan penggunaan media sosial yang sehat, juga perlu dipertimbangkan. Ketiga, upaya pemberdayaan ekonomi dan peningkatan literasi finansial bagi dewasa awal dapat membantu meminimalkan risiko pembelian impulsif yang dipengaruhi oleh faktor Melalui pendekatan holistik yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemasar, psikolog, hingga pemerintah daerah, diharapkan dapat tercipta lingkungan yang lebih kondusif bagi pola konsumsi yang sehat dan berkelanjutan di kalangan dewasa awal di Surabaya. Upaya ini tidak hanya bermanfaat bagi individu, tetapi juga dapat memberikan dampak positif yang luas bagi stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. DAFTAR PUSTAKA