Volume 5 No 2 July 2024 EISSN 2722-2861 Progress in Social Development EVALUATION OF THE IMPLEMENTATION OF ADIPALA COMMUNITY EMPOWERMENT THROUGH THE ADIPALA BATIK VILLAGE PROGRAM EVALUASI PELAKSANAAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT ADIPALA MELALUI PROGRAM KAMPUNG BATIK ADIPALA Taufik HidayantoA. Galih Eka PurnomoA. Ayu WidyaningrumA 1,2,3PT PLN Indonesia Power UBP Jawa Tengah 2 Adipala Email Correspondance: Ataufik. hidayanto@plnindonesiapower. Agalihekapurnomo24@gmail. Aayuwidyaningrum. aw@gmail. ABSTRACT: Efforts to have a significant impact on the process of community self-development in Indonesia are still accompanied by the powerlessness of vulnerable groups in accessing self-development facilities. However, the inclusive approach has become a common goal of various stakeholders in involving the active participation of all levels of society to create independence in the development process. PT PLN Indonesia Power UBP Jawa Tengah 2 Adipala initiated a new way to maximize community potential by organizing the Kampung Batik Adipala Program. This program initiative was born in 2021 and has collaborated with various stakeholders in Adipala Village. This article discusses the evaluation of the development of the Kampung Batik Adipala Program from its early stages to its achievements that create systemic The approach used to discuss the Kampung Batik Adipala Program uses qualitative methods. In line with this, the results show that the Kampung Batik Adipala Program has gone through a gradual and inclusive process in empowering vulnerable groups in Adipala Village. Based on innovative activities in the creative industry, the Kampung Batik Adipala Program has succeeded in bringing systemic changes to improve multidimensional living standards covering social, economic, environmental, and welfare aspects. Keywords: Batik. Empowerment. Adipala ABSTRAK: Upaya memberikan dampak signifikan terhadap proses pengembangan diri masyarakat di Indonesia masih dibarengi dengan ketidakberdayaan kelompok rentan dalam mengakses fasilitas pengembangan diri. Namun, pendekatan inklusif telah menjadi tujuan bersama berbagai pemangku kepentingan dalam melibatkan partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat untuk menciptakan kemandirian dalam proses pembangunan. PT PLN Indonesia Power UBP Jawa Tengah 2 Adipala menggagas cara baru dalam memaksimalkan potensi masyarakat dengan menyelenggarakan Program Kampung Batik Adipala. Inisiatif program ini lahir pada tahun 2021 dan telah berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan di Desa Adipala. Artikel ini membahas tentang evaluasi terhadap pengembangan Program Kampung Batik Adipala dari tahap awal hingga pencapaiannya yang menciptakan perubahan sistemik. Pendekatan yang digunakan membahas Program Kampung Batik Adipala ini menggunakan metode kualitatif. Sejalan dengan hal tersebut, hasil penelitian menunjukkan bahwa Program Kampung Batik Adipala telah melalui proses bertahap dan inklusif dalam proses pemberdayaan kelompok rentan di Desa Adipala. Berlandaskan kegiatan inovatif di bidang industri kreatif. Program Kampung Batik Adipala berhasil membawa perubahan yang sistemik sehingga mampu meningkatkan taraf hidup multidimensi yang mencakup aspek sosial, ekonomi, lingkungan, dan kesejahteraan. Kata Kunci: Batik. Pemberdayaan. Adipala Article Info Received Januari 2024 Accepted Published DOI July 2024 July 2024 Copyright and License Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License that allows others to share the work with an acknowledgment of the work's authorship and initial publication in this journal. Journal homepage: psd. fisip-unmul. id/index. php/psd PENDAHULUAN Batik merupakan warisan asli Indonesia yang dibuat dengan menggunakan teknik, memiliki simbolisme, dan budaya yang sangat lekat dengan budaya Indonesia. Produk kerajinan dan batik merupakan seni budaya bangsa Indonesia yang perlu dilestarikan keberadaannya dan merupakan komoditas yang dapat menyumbang pendapatan negara. Salah satu cara untuk meningkatkan pendapatan negara dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas kerajinan dan desain batik, misalnya dengan memperbaiki desain etnik daerah (Eustasia dan Masiswo, 2. Oleh karena itu. Batik ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (ICH) atau warisan budaya takbenda oleh UNESCO pada tanggal 2 Oktober 2009. Sejalan dengan hal tersebut, pemerintah memprakarsai dikeluarkannya Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009 yang menetapkan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. Kondisi ini bertujuan sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam upaya perlindungan dan pengembangan batik di Indonesia. Industri kreatif merupakan salah satu sektor yang berpotensi meningkatkan pendapatan negara. Batik sendiri merupakan salah satu jenis ekonomi kreatif yang telah lama menjadi bagian dari budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia. Sektor ekonomi kreatif menyumbang sekitar 7,8% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional pada tahun 2023. Ekonomi kreatif tumbuh kuat hingga melebihi Rp1. triliun dan telah tercipta lebih dari 22 juta lapangan kerja. Nilai tambah ekonomi kreatif mencapai Rp1. 414,77 triliun. Selain itu, ekspor produk ekonomi kreatif diperkirakan mencapai US$26,46 miliar atau Rp397,98 triliun (Kemenparekraf, 2. Kinerja nilai ekspor kategori kain dan bahan sandang yang diproduksi Indonesia sepanjang tahun 2023 tercatat sebesar USD473,31 juta. Terdapat lima negara yang menjadi tujuan utama ekspor kain/bahan sandang Indonesia, yaitu Jepang . lokasi 19,6%). Vietnam . ,6%). India . ,4%). Amerika Serikat . ,1%) dan Korea Selatan . ,8%) . Nilai kinerja ekspor batik mencapai USD 17,45 juta pada tahun 2023. Batik asal Indonesia paling tinggi diekspor ke negara-negara: Amerika Serikat . orsi 74,75%). Jerman . ,61%). Singapura . ,23%). Malaysia . ,82%), dan Kanada . ,92%). Sebagai eksportir dan pemasok bahan pakaian. Indonesia terus mengembangkan potensi desain kain dan melakukan terobosan untuk menjangkau pasar yang lebih luas (BPS, 2. Indonesia mempunyai beberapa daerah yang terkenal sebagai penghasil batik, salah satunya adalah Jawa Tengah. Wilayah Jawa Tengah menjadi salah satu provinsi penghasil batik terbesar di Indonesia. Hal ini dikarenakan batik asal Provinsi Jawa Tengah mempunyai keunikan tersendiri yang membedakan batik dengan daerah lain. Kondisi ini dipengaruhi oleh kondisi awal pembatikan di Jawa Tengah. Pada tahun 2024, 800 desa pengrajin kain dan tenun di Jawa Tengah. Industri batik juga sebagian besar berada di wilayah Jawa Tengah, yaitu sebanyak 2. 191 unit usaha mikro-kecil-menengah dan 108 unit usaha skala menengah besar. Dengan demikian. Provinsi Jawa Tengah mempunyai peran yang cukup besar terhadap industri batik di Indonesia (BPS Provinsi Jawa Tengah, 2. Cilacap merupakan salah satu daerah di Jawa Tengah yang memiliki ciri khas kain motif batik, walaupun bukan kota yang identik dengan penghasil kain batik seperti Pekalongan. Solo, atau Cirebon. Meski demikian, kabupaten ini juga memiliki keunikan batik. Batik Cilacap sering kali mengangkat tema AuLautAy yang menggambarkan kisah kejayaan prajurit Mataram di perairan Cilacap. Motif batik Cilacap biasanya menggunakan warna hitam, coklat, atau abu-abu sebagai warna dasarnya. Selain itu ada juga motif AuParangAy yang terinspirasi dari pesan pantang menyerah, jika kita membayangkan ombak laut yang tidak pernah berhenti bergerak. Batik parang dapat menggambarkan hubungan yang tidak terputus, baik dalam arti upaya memperbaiki diri, upaya memperjuangkan kesejahteraan, maupun bentuk ikatan kekeluargaan. Desa Adipala yang terletak di sebelah timur Kota Cilacap dan berjarak sekitar 24 km dari pusat kota merupakan salah satu kawasan penghasil batik di Cilacap. Selain itu. Sentra Kerajinan Batik Cilacap juga telah berkontribusi besar terhadap pengembangan batik sebagai warisan budaya Indonesia. Gambar 1. Nilai Indeks Desa Membangun Desa Adipala Progress in Social Development: Volume 5 No 2 July 2024 Salah satu desa penghasil batik di Cilacap adalah Desa Adipala yang terletak di Kecamatan Adipala. Kabupaten Cilacap. Provinsi Jawa Tengah. Secara kuantitatif, untuk melihat kondisi pembangunan suatu desa dapat diukur melalui Indeks Pembangunan Desa. Indeks tersebut terdiri dari 5 status desa, yaitu status desa ditentukan mulai dari desa sangat tertinggal, desa tertinggal, kemudian desa berkembang, desa maju, dan yang terbaru adalah status Desa Mandiri. Untuk desa sangat tertinggal, nilai indeksnya berkisar antara 0 hingga 0,4906. Selanjutnya untuk desa tertinggal, rentang indeksnya dimulai dari 0,4907 hingga 0,5988. Sedangkan desa berkembang memiliki nilai indeks 0,5989 hingga 0,7071. Selanjutnya Desa Maju memiliki rentang indeks berkisar antara 0,7072 hingga 0,8154 dan yang terakhir adalah nilai desa paling tertinggi di Desa Mandiri, hingga lebih dari 0,8155 (Dirjen PPM Kementerian PDT RI, 2. Berdasarkan nilai Indeks Desa Berkembang tahun 2019. Desa Adipala mempunyai skor sebesar 0,698 yang menandakan Desa Adipala tahun 2019 masuk dalam kategori Desa Berkembang. Penilaian ini diperoleh dari nilai keseluruhan Indeks Ketahanan Sosial. Ketahanan Ekonomi, dan Ketahanan Lingkungan. Pada Indeks Ketahanan Sosial Desa Adipala mempunyai Nilai Indeks sebesar 0,8286. Selanjutnya nilai Indeks Ketahanan Ekonomi berada pada angka 0,5333. Dan terakhir, ketahanan lingkungan dengan skor indeks sebesar 0,7333. Terlihat pada tahun 2019 meskipun masuk dalam kategori Desa Berkembang namun memiliki nilai indeks ketahanan ekonomi yang paling rendah. Sedangkan pada tahun 2023 nilai Indeks Desa Adipala mengalami peningkatan. Nilai Indeks Membangun Desa sebesar 0,8843 dengan kategori Desa Mandiri. Penilaian tersebut diperoleh dari 3 indikator, yang pertama adalah Indikator Ketahanan Sosial yang mempunyai nilai indeks sebesar 0,9029. Selanjutnya ketahanan ekonomi memiliki nilai indeks sebesar 0,8833. Dan terakhir, indeks ketahanan lingkungan hidup berada pada nilai 0,8667. Terlihat indeks ketahanan ekonomi masih berada pada nilai indeks terendah meskipun Desa Adipala sudah menjadi Desa Mandiri. Perlu adanya intervensi kolaboratif untuk meningkatkan jaring pengaman ekonomi di Desa Adipala. Oleh karena itu, pada tahun 2020 PT PLN Indonesia Power UBP Jawa Tengah 2 Adipala menginisiasi program dengan melakukan pemetaan sosial awal serta melakukan sosialisasi terkait program pemberdayaan lingkungan setempat. Pemetaan sosial dimaksudkan untuk mengetahui potensi dan permasalahan yang ada di Desa Adipala sehingga dalam mengawali program pemberdayaan masyarakat dapat memaksimalkan potensi yang ada dan menyelesaikan permasalahan terkait di Desa Adipala dan masyarakat menjadi mandiri serta tidak rentan terhadap permasalahan ekonomi. Sebagai upaya mengatasi rendahnya ketahanan ekonomi warga di Desa Adipala. PT PLN Indonesia Power UBP Jawa Tengah 2 Adipala mencoba melakukan intervensi secara asosiatif dengan melakukan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) yang dilakukan perusahaan. Mengingat Desa Adipala merupakan bagian dari wilayah operasional PT PLN Indonesia Power UBP Jawa Tengah 2 Adipala, maka pihak perusahaan berinisiatif membantu warga yang berada di Ring-1 mereka dengan mendukung perkembangan kelompok Batik Seloka. Sebagai tahap awal, perusahaan memberikan inisiatif intervensi kepada kelompok masyarakat di Desa Adipala. Ada salah satu kelompok masyarakat yang mempunyai kegiatan membatik dan sudah menghasilkan produk, namun karena dirasa tidak ada kemajuan akhirnya beberapa anggota kelompok memutuskan untuk vakum. Kelompok Batik Seloka merupakan kelompok batik di Desa Adipala yang mendapatkan intervensi dari PT PLN Indonesia Power UBP Jawa Tengah 2 Adipala melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat. Salah satu upaya awal yang dilakukan untuk menunjang kegiatan adalah dengan mengadakan pelatihan membatik bagi anggota kelompok Batik Seloka di Desa Adipala. Sebagai pertimbangan dalam menyalurkan program pemberdayaan di Desa Adipala. PT PLN Indonesia Power UBP Jawa Tengah 2 Adipala melihat 3 kondisi yang ada di desa tersebut, yaitu faktor lingkungan, sosial, dan ekonomi. Berawal dari permasalahan lingkungan di Desa Adipala, para pengrajin batik di Desa Adipala karena kegiatan operasionalnya menyebabkan pencemaran lingkungan khususnya pada air sumur warga. Apalagi bagi warga yang tinggal di kawasan dekat workshop batik. Sebab, limbah hasil pencucian bahan batik dibuang begitu saja ke pekarangan atau lahan sekitar workshop batik. Tumpukan residu yang mengandung bahan kimia tersebut akhirnya terbawa air sehingga menyebabkan pencemaran air sumur warga untuk konsumsi sehari-hari. Sedangkan dari faktor sosial, angka pengangguran pada usia produktif masih cenderung tinggi yang merupakan salah satu permasalahan sosial yang muncul. Pada tahun 2020 angka pengangguran di Kabupaten Cilacap mencapai angka 9,10%, bahkan angka tersebut meningkat dari tahun sebelumnya, pada tahun 2018 Angka pengangguran di Kabupaten Cilacap sebesar 7,49% dan mengalami penurunan pada tahun berikutnya tahun 2019 menjadi sebesar 7,24% (BPS Jawa Tengah , 2. Selain itu, masih adanya kelompok rentan lanjut usia dan penyandang disabilitas yang memiliki hak untuk mendapatkan kesempatan kerja yang sama bahkan sempat dikucilkan oleh kelompok masyarakat di Desa Adipala sehingga menyebabkan PT PLN Indonesia Power UBP Jawa Tengah 2 Adipala melakukan intervensi program pemberdayaan masyarakat. Sedangkan di bidang perekonomian, melalui data Indeks Desa Mandiri, yang paling rentan adalah ketahanan ekonomi yang memiliki nilai di bawah faktor lain sehingga mempengaruhi penilaian tersebut. Akibatnya terjadi ketimpangan antar masyarakat dalam kehidupan Pemberian pelatihan pengembangan produk batik di Desa Adipala merupakan salah satu dukungan perusahaan yang didasari oleh kondisi dan potensi. Hal tersebut merupakan salah satu penanganan faktor penghambat, penyebab menurunnya produktivitas kegiatan membatik di Desa Adipala. Para pembatik di Desa Adipala menilai keterampilan pengrajin dalam membatik masih pada tingkat dasar sehingga berdampak pada ketersediaan inovasi produk kelompok. Perlunya diversifikasi produk menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan inovasi produk kelompok dan memperluas pasar kelompok Batik Seloka di Desa Adipala. Dalam memberikan intervensi pada program pemberdayaan kelompok Batik Seloka. PT PLN Indonesia Power UBP Jawa Tengah 2 Adipala mengembangkan berbagai infrastruktur untuk mendukung berbagai kegiatan kelompok. Mulai dari infrastruktur berupa alat hingga pembangunan IPAL untuk mengatasi permasalahan lingkungan akibat dampak kegiatan kelompok. Selain itu. PT PLN Indonesia Power UBP Jawa Tengah 2 Adipala gencar memberikan bantuan kepada kelompok Batik Seloka dalam program pemberdayaan baik secara administratif, teknis, dan mengatasi kendala-kendala yang ada dalam berjalannya program Bersamaan dengan meningkatnya jumlah permintaan pasar, manajemen keuangan mempunyai peranan penting dalam berjalannya usaha untuk mengelola aspek keuangan. Salah satu tujuan pengelolaan keuangan adalah untuk meningkatkan nilai bisnis dan mengurangi risiko keuangan. Ada beberapa kendala yang ditemukan pada kelompok Batik Seloka, salah satunya adalah permasalahan terkait keuangan. Belum adanya laporan keuangan pada Kelompok Batik Seloka Adipala menyebabkan mereka belum mampu menyusun laporan keuangan berdasarkan standar akuntansi yang berlaku pada UMKM. Hal ini terlihat dari bukti pencatatan yang dilakukan yaitu hanya mencatat kas masuk dan keluar saja, serta tidak mencatat seluruh harta kekayaan yang dimiliki. Situasi seperti ini mengakibatkan UMKM Seloka Adipala tidak dapat mengetahui segala macam kegiatan yang dapat mempengaruhi penurunan dan peningkatan nilai suatu aset yang dimiliki, jumlah kewajiban yang harus dibayar dan jumlah modal yang dimiliki, serta bukti-buktinya. Transaksi yang terjadi selama periode tertentu tidak diarsipkan atau Secara keseluruhan hal ini mengakibatkan kesulitan dalam persiapannya (Mutia, 2. Selain itu, kelompok menjelaskan bahwa salah satu permasalahan yang dihadapi Perajin Batik Seloka adalah kapasitas produksi yang cenderung kecil, variasi motif yang kurang bervariasi, serta aspek pemasaran dan penjualan yang masih belum maksimal. Proses evaluasi sendiri secara umum terdiri dari dua skema yang terbagi menjadi evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Neuman . menjelaskan evaluasi formatif dilakukan pada saat pengembangan atau pelaksanaan program dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas rancangan dan pelaksanaan program. Sedangkan evaluasi sumatif dilakukan pada akhir program untuk menilai tingkat efektivitas dan melakukan penilaian berhasil tidaknya mencapai tujuan. Intinya, kedua jenis evaluasi ini penting untuk keutuhan proses evaluasi dan dapat digunakan sebagai pelengkap untuk memberikan pemahaman komprehensif tentang efektivitas program yang akan dievaluasi. Namun mengingat program tanggung jawab sosial perusahaan/CSR PT PLN Indonesia Power UBP Jawa Tengah 2 Adipala saat ini masih dalam tahap pengembangan dan belum memasuki tahap akhir, maka peneliti akan lebih fokus pada evaluasi formatif sehingga tersedia informasi yang menggambarkan kinerja program sejauh ini telah dilaksanakan. Evaluasi formatif cenderung berfokus pada kegiatan, layanan, materi, staf, dan struktur administrasi yang membentuk Secara komprehensif. CSR merupakan wujud tanggung jawab atau kepedulian perusahaan terhadap lingkungan dan kepedulian sosial dengan cara melindungi dan memberikan kontribusi kepada masyarakat di lingkungan sekitar wilayah operasional perusahaan. Faktor kunci munculnya CSR adalah isu pentingnya menciptakan hubungan yang harmonis antara pemangku kepentingan dan pemegang saham perusahaan (Post, et al. , 1. United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) menjelaskan bahwa CSR merupakan sebuah konsep dimana perusahaan memperhatikan aspek lingkungan dan sosial yang diintegrasikan dengan operasional bisnis sebagai suatu kebutuhan sekaligus memenuhi harapan pemangku kepentingan (Lindawati dan Puspita, 2. Konsep Corporate Social Responsibility (CSR) pertama kali dikemukakan oleh Howard R. Bowen . dalam bukunya yang berjudul. AuSocial Responsibility of the BusinessmanAy, dalam buku tersebut disebutkan bahwa CSR adalah suatu keputusan perusahaan untuk memberikan nilai positif dan memberikan manfaat bagi perusahaan serta manfaat sosial bagi masyarakat sekitar. Dalam tatanan internasional saat ini, banyak perusahaan yang menyamakan CSR dengan mengacu pada ISO 26000. Carroll . menjelaskan bahwa CSR merupakan sebuah konsep global yang terus berkembang dan merupakan representasi dari hubungan dan komunikasi bahasa serta pandangan mengenai pemahaman praktik industri yang tidak sekedar menghasilkan keuntungan tetapi juga mematuhi peraturan. Elkington . alam Elkington & Hartigan, 2. mengemukakan suatu konsep untuk mengukur dan mengevaluasi kinerja suatu organisasi dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap aspek-aspek yang Progress in Social Development: Volume 5 No 2 July 2024 Perancangan ini merupakan sebuah konsep yang dapat kita sebut dengan Triple Bottom Line tentang tanggung jawab sosial dan lingkungan. Perancangan ini mengacu pada pendekatan yang melibatkan pertimbangan tiga dimensi penting, yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan. Secara konseptual, tanggung jawab sosial perusahaan yang memenuhi kewajiban bisnis kepada masyarakat perlu mencakup kategori urgensi yang mencakup ekonomi, hukum, etika, dan kebijaksanaan terkait kinerja bisnis. Keempat urgensi mendasar ini mewakili perspektif tanggung jawab sosial perusahaan dengan menghubungkan beberapa kategori sebelumnya sekaligus mengklasifikasikan tanggung jawab sosial bisnis secara lebih universal. Mengenai acuan logis evaluasi mengenai pelaksanaan program tanggung jawab sosial/CSR PT CSR PT PLN Indonesia Power UBP Jawa Tengah 2 Adipala, tim penulis mengadopsi kerangka evaluasi yang digunakan oleh Lafferty dan Mahoney . Kerangka model logika evaluasi didasarkan pada teori perubahan dan bertujuan untuk menganalisis program yang sedang berjalan terhadap beberapa komponen . Inputs, yaitu mencakup seluruh sumber daya yang disalurkan dalam melaksanakan program tanggung jawab sosial / CSR PT PLN Indonesia Power UBP Jawa Tengah 2 Adipala . Activities, yaitu mencakup rangkaian kegiatan yang dilakukan selama pelaksanaan Program Kampung Batik Adipala. Outputs, yaitu capaian yang diharapkan timbul dari kegiatan yang dilaksanakan. Outcomes, yaitu hasil jangka pendek dari capaian yang telah terealisasi. Impacts, yaitu dampak jangka Panjang yang timbul dari hasil yang dicapai oleh program. Gambar 2. Kerangka Model Evaluasi Pelaksanaan Program CSR PT PLN Indonesia Power UBP Jawa Tengah 2 Adipala Sumber: Hasil Olahan Peneliti . Mengingat keterbatasan waktu penelitian, maka peneliti memfokuskan pada komponen masukan dalam pelaksanaan program tanggung jawab sosial PT PLN Indonesia Power UBP Jawa Tengah 2 Adipala. Kerangka model logika evaluasi di atas akan digunakan peneliti untuk mengidentifikasi dan menganalisis jenis masukan dan kegiatan yang telah dilakukan dalam pelaksanaan program. Kemudian, tim peneliti akan mengevaluasi secara mendalam kinerja penggunaan komponen input dalam kegiatan pelaksanaan program. METODE Menurut Creswell . , metode penelitian kualitatif berfokus pada upaya mengeksplorasi dan memahami makna sejumlah individu atau kelompok orang yang dianggap berasal dari suatu masalah atau fenomena sosial. Penelitian kualitatif mempunyai kecenderungan untuk mengkaji proses dan kasus sosial serta berfokus pada interpretasi fenomena, yaitu bagaimana seseorang menciptakan pemahaman dan makna sosial (Neuman, 2. Kemudian. Denzin dan Lincoln . menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah suatu proses yang digunakan untuk memperoleh pemahaman mendalam tentang fenomena sosial dengan cara mengumpulkan data melalui interaksi dengan partisipan penelitian. Pendekatan ini menggunakan proses analisis data yang fleksibel dan introspektif dengan menggunakan berbagai teknik yang relevan dengan konteks penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemberdayaan perajin batik yang dilakukan oleh PT PLN Indonesia Power UBP Jawa Tengah 2 Adipala melalui kegiatan CSR-nya di Desa Adipala merupakan rangkaian Program Kampung Batik Adipala. Program yang memberdayakan para pengrajin batik dengan potensi yang menjanjikan serta sumber daya manusia yang memadai sehingga memberikan nilai tersendiri. Program pemberdayaan dilakukan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dimana dapat meningkatkan nilai sosial, ekonomi, dan lingkungan. Program Kampung Batik Adipala dirancang untuk menjadi alternatif solusi dari kendala operasional dalam pembuatan batik yang dialami oleh para pengrajin di Desa Adipala. Secara gamblang. Program Kampung Batik Adipala menetapkan para pengrajin batik yang ada di Desa Adipala sebagai penerima manfaat program. Hal tersebut diawali dengan pelatihan membatik yang sempat diberikan oleh pemerintah. Sempat berjalan dengan beberapa kegiatan, namun hasil pemaparan dari anggota kelompok menjelaskan bahwa mereka mendapati beberapa kendala terkait dengan diversifikasi produk batik mereka. Permasalahan pengrajin batik di Desa Adipala Kecamatan Adipala merupakan pengetahuan yang dimiliki oleh anggota kelompok dalam membatik belum luas yang mampu mencakup beberapa model batik di Indonesia, selanjutnya Kelompok Batik Seloka mengalami kesulitan dalam memasarkan produk batik mereka sehingga tidak dapat memberikan dampak ekonomi, sosial, maupun lingkungan bagi masyarakat Desa Adipala. Hal tersebut terjadi karena anggota kelompok dari Batik Seloka hanya mendapatkan pelatihan awal membatik yang digagas oleh pemerintah, setelah pelatihan tersebut hanya 2 anggota dari Batik Seloka yang bertahan. Ilmu yang anggota dapat dirasa belum dapat mewakili secara teknis maupun non teknis membatik ditambah dengan keterbatasan akses pasar yang mampu diakses dari anggota kelompok Batik Seloka. Sebagai upaya dalam menangani masalah tersebut. PT PLN Indonesia Power UBP Jawa Tengah 2 Adipala menstimulasi masyarakat Desa Adipala khususnya bagi kelompok Batik Seloka untuk dapat mengembangkan kegiatan ekonomi berbasis masyarakat melalui program pemberdayaan dari kegiatan CSR Pemilihan beberapa motif batik dipertimbangkan sebagai modal dalam mengembangkan kompetensi kelompok. Selanjutnya dalam menginventarisasi kegiatan kelompok. PT PLN Indonesia Power UBP Jawa Tengah 2 Adipala menyelenggarakan pelatihan untuk menciptakan diversifikasi metode dalam pembuatan batik kepada Kelompok Batik Seloka. Pelatihan diberikan oleh perusahaan merupakan pelatihan batik cap serta pelatihan batik eco printing. Pelatihan ini diikuti oleh seluruh anggota kelompok Batik Seloka yang berjumlah 29 orang. Selain memberikan pelatihan terkait metode membatik, program kegiatan CSR PT PLN Indonesia Power UBP Jawa Tengah 2 Adipala melanjutkan dengan pelatihan pemasaran menggunakan Teknik digital marketing. Pelatihan penggunaan marketplace untuk mitra binaan Program Kampung Batik Adipala ditujukan meningkatkan kemampuan para perajin untuk mengelola pasar daring sesuai dengan perkembangan zaman saat ini. Sampai saat ini kelompok Batik Seloka telah memiliki berbagai macam media sosial untuk menunjang penjualan mereka mulai dari website hingga marketplace sebagai media penjualan. Program Kampung Batik Adipala diimplementasikan sebagai salah satu solusi dalam menangani masalah sosial di Desa Adipala. Meningkatnya tingkat pengangguran dari tahun ke tahun menyebabkan berbagai masalah sosial. Hadirnya Program Kampung Batik Adipala mampu menekan jumlah pengangguran yang ada di Desa Adipala. Selanjutnya, terdapat kelompok Penyandang Disabilitas sebagai kelompok rentan yang juga menjadi pengangguran akhirnya dapat terserap menjadi tenaga kerja pada program Program Kampung Batik Adipala. Dari 35 Penyandang Disabilitas yang berada di Desa Adipala. Program Kampung Batik Adipala mampu menyerap hingga 7 Penyandang Disabilitas untuk turut serta diberdayakan dalam program CSR yang diinisiasi oleh PT PLN Indonesia Power UBP Jawa Tengah 2 Adipala. Proses pengembangan penjualan juga dilakukan melalui pengembangan produk sehingga tersedia berbagai macam produk untuk ditawarkan kepada konsumen, praktik ini memberikan ruang bagi konsumen dalam memilih pemenuhan kebutuhannya. Beberapa produk yang ditawarkan pada Program Kampung Batik Adipala sebagai Tabel 1. Harga Batik Sumber : PT PLN Indonesia Power UBP Jawa Tengah 2 Adipala Proses pengembangan Program Kampung Batik Adipala dilakukan melalui penerapan pelatihan untuk mengembangan masyarakat dengan berwawasan lingkungan. Penerima manfaat program mulai di bina melalui pengenalan bahan bahan ramah lingkungan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Progress in Social Development: Volume 5 No 2 July 2024 sehingga dapat bermanfaat bagi dirinya juga lingkungannya. Pelatihan penggunaan pewarna alami mengajak penerima manfaat untuk melakukan benchmarking pada pengrajin batik terkenal di daerah Semarang yang merupakan mitra binaan dari PT PLN Indonesia Power UBP Semarang yaitu Batik Zie. Melalui program ini anggota kelompok mampu membuat desain menggunakan bahan - bahan yang ramah lingkungan, memiliki teknik pencantingan menggunakan pewarna alami, serta memiliki teknik pewarnaan serta pelorodan. Pelatihan ini memberikan dampak terkait dengan diversifikasi produk kelompok serta terbukanya wawasan baru dengan pengelolaan batik yang ramah lingkungan dan mampu mengembangkan kreativitas pengrajin batik dalam membentuk pola batik. Pelatihan berikutnya merupakan pelatihan terkait dengan pembuatan motif yang diselenggarakan melalui kegiatan CSR perusahaan. Pelatihan batik cap bertujuan untuk memangkas waktu membatik hingga mencapai 75% serta kebutuhan pasar yang lebih memiliki minat lebih besar pada batik cap dibandingkan dengan batik batik dengan metode yang lain. Selanjutnya yang terakhir tentu untuk meningkatkan jumlah ketersediaan produk yang dimiliki oleh kelompok terkait dengan metode membatik mereka. Sehingga pelatihan ini memberikan kemampuan baru pada anggota kelompok Batik Seloka untuk membuat kain batik yang dibutuhkan konsumen. Pelatihan yang meningkatkan diversifikasi produk mitra binaan lainnya adalah dengan menerapkan metode eco print, pelatihan ramah lingkungan dengan menjiplak dedaunan untuk membuat motif batik, hal ini mampu mengurangi modal dalam operasional pembuatan produk batik. Pelatihan eco print memberikan perubahan cara membatik yang dilakukan oleh anggota Batik Seloka, proses ini mampu memangkas waktu dan biaya operasional kelompok dalam proses pemberdayaan yang dilakukan. Sehingga dapat memberikan lebih banyak variasi yang dapat meningkatkan penjualan dari berbagai metode teknik membatik yang dilakukan oleh kelompok serta pendampingan dari perusahaan. Untuk meningkatkan penjualan dari pelaksanaan pelatihan yang telah dilakukan, perusahaan melalui kegiatan CSRnya melaksanakan pelatihan digital marketing. Pelatihan marketplace bertujuan untuk meningkatkan keterampilan pengrajin batik dalam mengelola penjualan produk batiknya. Hal ini dilakukan sebagai upaya mengikuti perkembangan zaman dan pergeseran masyarakat yang mulai menggunakan sistem pembelian online dibandingkan sistem pembelian offline karena dapat menghemat waktu lebih banyak untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Pelatihan ini meliputi pengembangan website kelompok dan media sosial sehingga anggota kelompok dapat mengelola media sosialnya untuk branding produk yang dimiliki. Dengan adanya pelatihan digital marketing ini kelompok dapat meningkatkan promosi untuk memperkenalkan berbagai macam produk batik sehingga penjualan dapat meningkat karena membuka pasar yang lebih luas dibandingkan pemasaran offline. Selanjutnya, untuk meningkatkan pemberdayaan kelompok rentan. PT PLN Indonesia Power UBP Jawa Tengah 2 Adipala telah menyelenggarakan pelatihan bagi anggota kelompok penyandang disabilitas dan lansia untuk dapat berpartisipasi dalam melaksanakan kegiatan membatik dalam Program Kampung Batik Adipala. Kelompok Penyandang Disabilitas diarahkan untuk mengikuti pelatihan batik cap dan batik tulis untuk memberikan produk yang cukup bagi kelompoknya sehingga kelompok Penyandang Disabilitas dan lansia dapat mengenal proses pembuatannya dan mempunyai kemampuan dalam menciptakan kreasi batik cap dan batik tulis. Dengan hadirnya kelompok Penyandang Disabilitas dan lansia dalam pengembangan produk batik, maka kelompok Batik Seloka dapat meningkatkan variasi produk dan mempersingkat waktu dalam memenuhi kebutuhan konsumen dari berbagai kalangan di dalamnya. Pelatihan ini mampu meningkatkan pengetahuan dan kemampuan kelompok rentan dalam menerapkan teknik membatik sehingga dapat menghasilkan produk yang memiliki ciri khas tersendiri. Selanjutnya pada tahun 2023, beberapa pegawai dari departemen dari PT PLN Indonesia Power UBP Jawa Tengah 2 Adipala melakukan sharing pengetahuan dari berbagai sektor mulai dari departemen keuangan, teknologi, lingkungan hidup, dan manajemen. Kegiatan ini dilaksanakan dalam beberapa periode sebagai langkah kehadiran berbagai departemen dalam menularkan ilmu yang dimiliki kepada masyarakat agar dapat diimplementasikan dalam kegiatan operasional kelompok. Knowledge sharing bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan penerima manfaat di berbagai sektor untuk mendukung kegiatan operasional ke arah yang lebih baik. Jadi, dengan adanya penyebarluasan pengetahuan yang dilakukan perusahaan dapat meningkatkan peran individu sebagai anggota kelompok dalam efektifitas kegiatan sehingga tidak hanya satu atau dua orang saja yang menonjol namun berbagai sektor dalam kelompok tersebut dapat menonjol secara seimbang untuk mencapai tujuan bersama dalam proses pemberdayaan kelompok melalui program CSR PT PLN Indonesia Power UBP Jawa Tengah 2 Adipala. Dimensi dampak yang dapat dihasilkan meliputi aspek sosial, ekonomi, lingkungan hidup, dan Program Kampung Batik Adipala menjadi wadah aktualisasi diri yang produktif dan inklusif bagi 29 anggota kelompok dengan membuat replikasi program yang beranggotakan 10 orang di Desa Adiraja dan 7 penyandang disabilitas di Desa Adipala. Secara ekonomi dapat dijelaskan pada tabel bahwa pada tahun 2024, berbagai lapisan masyarakat akan mengenal produk Program Kampung Batik Adipala dan melakukan pembelian berulang untuk kebutuhan kelompok dan individu: Tabel 2. Data Penjualan 2022-2024 Sumber : PT PLN Indonesia Power UBP Jawa Tengah 2 Adipala Pada tahun 2022 total pembelian batik sebanyak 374 buah setelah mendapat pendampingan intensif dari program CSR PT PLN Indonesia Power UBP Jawa Tengah 2 Adipala. Kemudian, pada tahun 2023 pesanan yang masuk meningkat signifikan hingga kelompok mempunyai omzet sebesar Rp 335. 000 di tahun itu. Pada tahun 2024, proses operasional kelompok tetap berjalan dan terus memenuhi pesanan, walaupun jumlahnya belum mencapai hasil pada tahun 2023, namun hingga saat ini sudah ada 409 produk yang terjual ke pasar luas dengan omzet sementara sebesar Rp 94. Selain itu, 26 orang yang tergabung dalam Batik Seloka memiliki pendapatan tetap sebesar Rp625. 000 hingga Rp750. 000, bahkan ada pula anggota yang memiliki pendapatan tetap hingga Rp1. Di bidang lingkungan hidup, selain menerapkan batik ramah lingkungan dengan pewarna alami dan metode baru berupa eco-print, melalui program CSR perusahaan telah membangun 2 IPAL yang membantu kelompok untuk mengolah limbah pewarna batik menggunakan bahan kimia sehingga mereka tidak lagi mencemari air sumur penduduk setempat yang berada di dekat bangunan operasional kelompok. Selain itu. Program Kampung Batik Adipala juga memberikan dampak pada dimensi kesejahteraan berupa pemberian akses peningkatan kemampuan bagi anggota kelompok Batik Seloka, disabilitas, dan lansia di Desa Adipala yang berjumlah 29 penerima manfaat langsung lalu berkembang dengan memiliki 1 replikasi program yang memiliki penerima manfaat sebanyak 10 orang. selain itu perusahaan juga melibatkan penyandang disabilitas dengan total 7 orang penyandang disabilitas dan 5 lansia, serta penerima manfaat tidak langsung yaitu masyarakat di Desa Adipala yang berjumlah lebih dari 212 orang. Dengan kata lain. Program Kampung Batik Adipala telah mampu menciptakan dampak multidimensi dengan menerapkan metode dan mengembangkan teknik baru dalam program pemberdayaan pengrajin Batik di Desa Adipala. Kecamatan Adipala. Cilacap. Jawa Tengah. KESIMPULAN Desa Adipala merupakan kawasan Ring 1 di sekitar PT PLN Indonesia Power PLTU Jawa Tengah 2 Adipala. Meningkatnya angka pengangguran pada kelompok usia produktif menjadi isu strategis dalam rangka pelaksanaan proses pemberdayaan melalui pengembangan kelompok Batik Seloka sebagai upaya mengakomodasi pembangunan masyarakat inklusif. PT PLN Indonesia Power UBP Jawa Tengah 2 Adipala menginisiasi program kolaborasi strategis yang melibatkan berbagai sektor dalam merancang proses pemberdayaan berkelanjutan. Kerjasama ini dituangkan dalam program community development yang bertemakan Program Kampung Batik Adipala. Melalui kegiatan pengembangan masyarakat yang dilaksanakan dengan kolaborasi komprehensif. Program Kampung Batik Adipala telah melalui serangkaian tahapan pengembangan dimulai dari tahap prompt yang merupakan tahap awal identifikasi permasalahan dan potensi untuk menciptakan perubahan yang sistemik. Secara inklusif, program Kampung Batik Adipala telah membimbing lebih dari 29 orang sebagai anggota kelompok dalam meningkatkan pendapatannya menuju pemberdayaan kemandirian melalui inkubasi bisnis secara inklusif berbasis metode ramah lingkungan. Mulai dari tahap perencanaan, peningkatan kemampuan dengan berbagai pelatihan yang terintegrasi hingga mampu menciptakan perubahan sistemik yang berdampak luas. Program Kampung Batik Adipala mengedepankan inklusivitas dengan memberikan porsi keterlibatan aktif masyarakat rentan sebagai subjek pemberdayaan Selain itu program juga berdampak tidak langsung pada lebih dari 212 orang di Desa Adipala. Hasilnya. Program Kampung Batik Adipala telah menciptakan dampak multidimensi dengan cakupan sosial, ekonomi, lingkungan, dan kesejahteraan bagi berbagai penerima manfaat. DAFTAR PUSTAKA