JURNAL EMPATHY Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. Juni 2024 DOI : https://doi. org/10. 37341/jurnalempathy. Penguatan Pemahaman dan Persepsi Positif Perawat dalam Melaksanakan Dokumentasi Asuhan Keperawatan sebagai Upaya Meningkatkan Mutu Layanan Kesehatan di Rumah Sakit Heryyanoor Heryyanoor1*. Melinda Restu Pertiwi2. Diana Hardiyanti3 Program Studi Profesi Ners. Stikes Intan Martapura. Banjar. Indonesia Program Studi Sarjana Administrasi Rumah Sakit. Stikes Intan Martapura. Banjar. Indonesia Program Studi Diploma Tiga Keperawatan. Stikes Intan Martapura. Banjar. Indonesia *Email : heryyanoor37@gmail. Abstract Background: Problems related to the documentation of nursing care are still a global problem in Various factors, such as knowledge, attitudes, skills, and different perceptions between nurses when carrying out nursing documentation, also become obstacles. Methods: The design applied in the service refers to qualitative discrimination, with activities carried out to socialize research results, followed by FGD (Focus Group Discussio. with an interview guide consisting of nine statements to 10 nurses representing the treatment room as participants. Results: There was a change in understanding and shared positive perceptions among participants regarding the implementation of nursing documentation, starting with assessment, data analysis, formulation of nursing diagnoses, and Conclusion: increasing nurses' understanding and positive perceptions regarding nursing documentation can be done through FGDs, training, and workshops, as well as ongoing assessment. Keywords: hospital, nursing documentation, positive perception, understanding. PENDAHULUAN Dokumentasi asuhan keperawatan perlu dilaksanakan dengan baik oleh seluruh perawat dilayanan kesehatan, terutama di rumah sakit. Penerapan tersebut karena dokuemntasi merupakan cerminan kualitas layanan kesehatan yang dapat mempengaruhi kepuasan pasien. Masalah dalam penerapan dokumentasi asuhan keperawatan masih menjadi fenomena yang perlu di sikapi dengan baik dirumah sakit (Heryyanoor et al. , 2. , terutama dari aspek kualitas yang dilakukan perawat secara global (Abd El Rahman. Ibrahim, & Diab, 2. Studi yang dilakukan dibeberapa negara menyatakan pelaksanaan dokumentasi asuhan keperawatan masih belum optimal, misalnya di salah satu rumah sakit di Yemen baik hanya 46,1% (Fouad. Gopal, & Mohammed, 2. , rumah sakit di Khartoum Sudan baik hanya 69% (Ali. Albashir, & Mariod, 2. , sedengkan di Etiopia pelaksanaan dokumentasi keperawatan baik hanya berkisar antara 37,4% - 48,6% (Bolado. Ayalew. Feleke. Haile, & Geta, 2. Di Indonesia, dokumentasi keperawatan juga masih menjadi masalah (Kamil. Rachmah, & Wardani, 2. Hasil penelitian Supratti & Ashriady, . disalah satu rumah sakit di Indonesia terdapat capaian indikator dokumentasi asuhan keperawatan kurang dari 60%. Penelitian Jaya et al. , . menerangkan bahwa diskripsi pendokumentasian asuhan keperawatan yang dilakukan perawat, berkategori baik hanya 33%, sedangkan penelitian Masamah et al. , . juga menunjukan bahwa pelaksanaan dokumentasi asuhan keperawatan di tiap ruangan masih belum optimal dengan rerata berada pada rentang 66% - 81%. Hal ini tentu belum sesuai dengan target capaian yang ditetapkan Kemenkes RI yaitu minimal 90%. Berbagai faktor yang menjadi penyebab belum optimalnya pelaksanaan dokumentasi keperawatan diantaranya kurangnya pengetahuan https://jurnalempathy. com/index. php/jurnalempathy/ | 35 atau pemahaman perawat, serta minimnya persepsi positif tentang pentingnya pendokumentasian asuhan keperawatan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Heryyanoor et al. , . yang dilakukan sebelumnya di salah satu rumah sakit daerah disimpulkan bahwa terdapat perbedaan pemahaman dan persepsi perawat tentang pentingnya penerapan dokumentasi keperawatan yang lengkap, terutama dalam meningkatkan mutu layanan kesehatan. Faktor lain seperti sikap yang kurang percaya diri untuk mendokumentasikan asuhan keperawatan, motivasi yang lemah, tidak adanya supervisi dari manajer (Kamil et al. , kurangnya sumber daya manusia (SDM) berdampak pada beban kerja tinggi dan waktu yang tidak sesuai dalam melengkapi catatan dokumentasi (Mutshatshi. Mothiba. Mamogobo, & Mbombi, 2. Kurang optimalnya pendokumentasian asuhan keperawatan berakibat pada menurunnya mutu layanan kesehatan dirumah sakit, seperti menurunnya kepuasan pasien sebagaimana hail penelitian (Agung & Wijaya, 2. , dan yang lebih parah berdasarkan hasil studi Collins et al. , . ketidaktepatan atau kelalayan dalam pendokumentasian asuhan keperawatan beresiko menjadi faktor penyebab kematian pasien, sehingga perlu upaya yang baik untuk memnimalkan risiko terjadinya dampak tersebut. Upaya yang dapat dilakukan dalam mengatasi permasalahan tersebut diantaranya dengan kegiatan pengabdi kepada masyarakat. Kegiatan ini dalam rangka perwujudan tri dharma perguruan tinggi dan penerapan hasil penelitian yang telah dilekukan oleh Dosen Stikes Intan Martapura Divisi Keperawatan Dasar dan Manajemen Keperawatan. Bentuk kegiatan beruapa FGD (Focus Group Discussio. untuk menguatkan pemahaman dan persepsi positif perawat dalam melaksanakan dokumentasi asuhan keperawatan guna meningkatkan mutu Layanan Kesehatan dirumah sakit. TINJAUAN PUSTAKA Dokumentasi keperawatan merupakan informasi alam bentuk tulisan maupun yang dihasilkan secara elektronik tentang pasien. Dokumentasi menjadi sangat penting untuk dilaksanakan oleh semua perawat baik secara tertulis maupun elektronik. Dokumentasi berisi tentang kondisi kesehatan pasien yang berfungsi sebagai bahan komunikasi bagi seluruh tenaga kesehatan (Rahmi, 2. Tujuan utama dokumentasi keperawatan dalam Rahmi, . yaitu sebagai database catatan kesehatan pasien, sebegai bukti aktivitas yang dilakukan perawat dalam memberikan asuhan kepada pasien, untuk kepentingan mutu dan sebagai indikator kualitas layanan kesehatan dirumah sakit. Secara spesifik tujuan dokumentasi keperawatan yaitu: . komunikasi antar tim kesehatan. perawatan yang . professional accountability. legal untuk bukti hukum dipengadilan. quality assurance. fanding and resource management. Dokumentasi bermanfaat untuk kepentingan hukum, indikator kualitas layanan kesehatan, sebagai komunikasi, sumber data kinerja untuk keuangan, pendidikan,kebutuhan penelitian dan keperluan akreditasi rumah sakit (Rahmi, 2. Semua langkah dalam pelaksanaan asuhan keperawatan harus didokumtasikan dengan baik secara tertulis melalui format yang disediakan dan secara eletronik melalui sistim aplikasi komputerisasi. Tahapan atau langkah tersebut yaitu pengkajian, analisa data, perumusan diagnosa keperawatan, rencana intervensi dan implementasi serta tahap evaluasi dalam asuhan keperawatan. https://jurnalempathy. com/index. php/jurnalempathy/ | 36 DESAIN PENELITIAN Desain pengabdian masyarakat yang digunakan adalah mengacu pada desain penelitian diskriptif kualitatif dengan FGD menggunakan lembar wawancara. Langkahlangkah yang telah dilaksanakan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini yaitu : Tahap persiapan, dimana pada tahapan ini pengabdi melakukan analisa terkait penelitian yang dilakukan sebelumnya untuk diterapkan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat, membuat proposal pengabdian sekaligus melakukan analisa situasi, menentukan lokalsi dan sasaran kegiatan yang dipersentasikan di forum Dosen. Tahap pelaksanaan pengabdian masyarakat diawali dengan proses perizinan tempat pada rentang bulan Februari dan pelakasanaan puncak kegiatan di RSUD Ratu Zalecha Martapura pada hari kamis 28 Maret 2024. Metode pelaksanaan pengabdian masyarakat yang digunakan yaitu ceramah tanya jawab/ FGD tentang pelaksanaan dokumentasi keperawatan terhadap 10 partisipan sebagai perwakilan perawat pelaksana di tiap ruangan. Lembar wawancara yang terdiri dari 9 pernyataan menjadi alat ukur kegiatan. Pernyataan yang didiskusikan sebagai berikut: Pernyataan 1: Apa faktor penghambat atau penyulit dalam melengkapi dokumentasi keperawatan bagi saudara . ? Pernyataan 2: Bagaimana proses pengkajian secara menyeluruh yang saudara . biasa lakukan di rungan terhadap pasien? Pernyataan 3: Seberapa penting tahap analisa atau pengelompokan data hasil pengkajian menurut saudara . ? Pernyataan 4: Sejauhmana penegakan diagnosa keperawatan risiko dan promosi kesehatan diterapkan dan didokumentasikan dalam asuhan keperawatan, selain diagnosa aktual? Pernyatan 5: Kita contohkan pada kasus pasien dengan diagnosa medis diabetes melitus dengan luka gangren pada area punggung kaki. Kemungkinan diagnosa keperawatan yang dapat ditegakkan apa saja menurut saudara . ? Pernyataan 6: Bagimana kita memprioritaskan masalah keperawatan menurut saudara . ? Pernyatan 7: Dasar dalam menentukan intervensi/implementasi keperawatan yaitu atau diantaranya dengan buku SIKI, sejauhmana saudara menerapkannya terutama pada ranah terapeutik dan edukasi? Pernyataan 8: Bagaimana manajemen evaluasi yang dilakukan terhadap implementasi yang dilakukan dalam upaya mengatasi masalah keperawatan? Pernyataan 9: Menurut saudara, bagaimana solusi yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan/ mengoptimalisasi pelaksanaan dokumentasi asuhan keperawatan HASIL PENELITIAN Hasil pengabdian masyarakat yang didapatkan berupa peningkatan pemahaman dan persepsi positif perawat dalam melaksanakan dokumentasi asuhan keperawatan guna meningkatkan mutu layanan kesehatan dirumah sakit, persentase kesamaan pemahaman dan persepsi positif sebelum dilaksanakan FGD sekitar 60% sedangkan setelah FGD kesamaan pemahaman dan persepsi positif menjadi 100% dengan diskripsi pernyataan sebagai berikut: https://jurnalempathy. com/index. php/jurnalempathy/ | 37 Tabel. Diskripsi pemahaman dan persepsi positif perawat dalam melaksanakan dokumentasi asuhan keperawatan guna meningkatkan mutu layanan kesehatan di rumah sakit setelah sosialisasi dan kegiatan FGD . Pernyataan/ Bahan Diskusi Apa faktor penghambat atau penyulit dalam melengkapi dokumentasi saudara . ? Bagaimana menyeluruh yang saudara . biasa lakukan di rungan terhadap pasien? Seberapa penting tahap hasil pengkajian menurut saudara . ? Sejauhmana penegakan kesehatan diterapkan dan didokumentasikan dalam Pemahaman Persepsi Positif menyatakan bahwa faktor melengkapi dokumentasi rutinitas yang dijalankan, 20% terkait sikap dan melakukan dokumentasi terlebih karena sebagian Rekam Medis Elektronik (RME). Sedengkan 20% lainnya menyatakan tidak ada terhadap pasien dengan terkait data dan berbagai melakukan pemeriksaan menyatakan sangat penting melakukan analisa data, untuk dapat menegakkan kepegrawatan yang tepat. Faktor penghambat dan penyulit yang berasal dari diri perawat harus di sikapi motivasi, sikap dan upaya meningkatkan pemahaman dalam mendokumentasikan asuhan keperawatan dengan Sedangkan terkait faktor manajemen waktu/ rutinitas yang dijalankan memperhatikan beban kerja dan jumlah tenaga perawat ditiap ruangan. promosi kesehatan masih Pengkajian menerapkan anamnesa dan pemeriksaan fisik secara lengkap, serta menilai hasil Analisa pengelompokan data hasil pengkajian harus dilakukan referensi yang tepat seperti SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesi. Diagnoasa terdiri atas diagnosa aktual, semuanya dapat ditegakan https://jurnalempathy. com/index. php/jurnalempathy/ | 38 Pernyataan/ Bahan Pemahaman Diskusi keperawatan, ditegakkan. selain diagnosa aktual? Kita contohkan pada kasus pasien dengan diagnosa medis diabetes melitus dengan luka Kemungkinan diagnosa keperawatan yang dapat ditegakkan apa saja menurut saudara . ? menyatakan diagnosa yang dapat ditegakkan yaitu gangguan integritas kulit/ jaringan dan nyeri akut. Sedangkan keperawatan lainnya yaitu hambatan mobilitas fisik, serta risiko infeksi. Bagaimana menurut saudara . ? memprioritaskan masalah keperawatan berdasarkan mengancam jiwa yang mengacu kepada hiraki promosi kesehatan. sesuai dengan diagnosa pada ranah observasi dan Namun hanya 40% yang menyatakan intervensi dalam ranah dilakukan dengan SOAP minimal setiap satu kali memastikan keberhasilan dalam pemberian asuhan Dasar dalam menentukan intervensi/implementasi keperawatan yaitu atau diantaranya dengan buku SIKI, saudara menerapkannya terutama pada ranah terapeutik dan edukasi? Bagaimana manajemen evaluasi yang dilakukan terhadap implementasi yang dilakukan dalam upaya mengatasi masalah Persepsi Positif kriteria mayor dan minor dalam penegakkan diagnosa Dalam memperhatikan data hasil pengkajian yang didapatkan, kita dapat mengacu kepada sehingga ada kemungkinan akan tegak diagnosa yang bersifat risiko dan promosi kesehatan selain diagnosa Prioritas masalah sangat penting untuk diketahui, prioritas masalah yang utama berdasarkan kondisi yang mengancam jiwa, kebutuhan maslow, serta berdasarkan sifat diagnosa aktual, risiko dan promosi Intervensi berdasarkan diagnosa yang ditegakkan, akan tetapi observasi, terapeutik atau kolaborasi perawat dan Evaluasi keberhasilan dalam keperawatan dilakukan dan didokumentasikan di lembar https://jurnalempathy. com/index. php/jurnalempathy/ | 39 Pernyataan/ Bahan Diskusi Menurut bagaimana solusi yang dapat kita lakukan untuk pelaksanaan dokumentasi asuhan keperawatan ini? Pemahaman Persepsi Positif sosialiasai dan pelatihan asuhan keperawatan, 20% menyamakan persepsi, dan 30% selalu dilakukan monitoring evaluasi terkait keperawatan secara rutin perkembangan pasien. Pengetahuan pendokumentasian asuhan keperawatan perlu dipelajari kembali melalui forum perawat lebih memahami dan mempunyai persepsi yang sama pada setiap tahapan dokumentasi asuhan keperawatan baik yang dilakukan secara manual maupun yang berbasih Berdasarkan penjelasan sebelumnya seacara persentase kesamaan pemahaman dan persepsi positif sebelum dilaksanakan FGD sekitar 60% sedangkan setelah FGD kesamaan pemahaman dan persepsi positif menjadi 100% dengan peningkatan sebanyak 40% yang kesamaan pemahaman dan persepsi positif dalam melaksanakan dokumentasi asuhan keperawatan sebagai upaya meningkatkan mutu layanan kesehatan dirumah sakit setelah dilakukan FGD. Hasil FGD memastikan bahwa: Faktor penghambat dan penyulit yang berasal dari diri perawat harus di sikapi dengan baik terutama motivasi, sikap dan upaya meningkatkan pemahaman dalam mendokumentasikan asuhan keperawatan dengan baik. Sedangkan terkait faktor manajemen waktu/ rutinitas yang dijalankan menjadi masukan bagi manajemen untuk memperhatikan beban kerja dan jumlah tenaga perawat ditiap ruangan. Pengkajian penting dilakukan dengan menerapkan anamnesa dan pemeriksaan fisik secara lengkap, serta menilai hasil pemeriksaan penunjang sebagai acuan dalam menetapkan masalah keperawatan. Analisa data dan pengelompokan data hasil pengkajian harus dilakukan dengan baik sebelum menetapkan diagnosa keperawatan berdasarkan referensi yang tepat seperti buku SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesi. Diagnoasa keperawatan terdiri atas diagnosa aktual, risiko dan promosi kesehatan yang mana semuanya dapat ditegakan apabila sesuai dengan kriteria mayor dan minor dalam penegakkan diagnosa keperawatan. Dalam menegakkan diagnosa selain memperhatikan data hasil pengkajian yang didapatkan, kita dapat mengacu kepada kebutuhan biopsikososial dan kultural pasien, sehingga ada kemungkinan akan tegak diagnosa yang bersifat risiko dan promosi kesehatan selain diagnosa aktual. Prioritas masalah sangat penting untuk diketahui, prioritas masalah yang utama berdasarkan kondisi yang mengancam jiwa, berdasar pada hiraki kebutuhan maslow, serta berdasarkan sifat diagnosa aktual, risiko dan promosi kesehatan. https://jurnalempathy. com/index. php/jurnalempathy/ | 40 Intervensi disusun berdasarkan diagnosa yang ditegakkan, akan tetapi perlu memuat ranah observasi, terapeutik atau tindakan mandiri dan kolaborasi perawat serta Evaluasi keberhasilan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan dilakukan setiap kali tindakan keperawatan dilakukan dan didokumentasikan di lembar evaluasi atau catatan perkembangan pasien. Pengetahuan dan keterampilan dalam pendokumentasian asuhan keperawatan perlu dipelajari kembali melalui forum diskusi berdasarkan referensi terbaru agar perawat lebih memahami dan mempunyai persepsi yang sama pada setiap tahapan dokumentasi asuhan keperawatan baik yang dilakukan secara manual maupun yang berbasih elektronik. Gambar 1. Dokumentasi Kegiatan Gambar 2. Dokumentasi Kegiatan https://jurnalempathy. com/index. php/jurnalempathy/ | 41 Gambar 3. Dokumentasi Kegiatan Gambar 1-3. Pelaksanaan sosialisasi dan FGD penguatan pemahaman dan persepsi positif perawat dalam melaksanakan dokumentasi asuhan keperawatan untuk meningkatkan mutu layanan kesehatan dirumah sakit. PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian msayarakat berupa sosialisasi dan FGD telah menguatkan pemahaman dan persepsi positif perawat dalam upaya melaksanakan dokumentasi asuhan keperawatan di rumah sakit. Kegiatan ini diapresiasi oleh seluruh partisipan dan dihadiri oleh Kabid Keperawatan serta bagian manajemen mutu rumah sakit. Secara umum terjadi peningkatan sebesar 40% pemahaman tentang dokumentasi asuhan keperawatan yang dibuktikan dengan kesamaan persepsi positif bahwa dokumentasi asuhan keperawatan sangat penting untuk dilaksanakan dengan baik. Pentingnya pelaksan dokumentasi keperawatan menjadi bukti terpenuhinya laporan kondisi kesehatan pasien (Togubu. Korompis, & Kaunang, 2. , sebagai bahan laporan untuk perawat dan tim kesehatan lain, menjadi bukti administrasi, medis, hukum, keuangan, penelitian pendidikan, akreditasi, statistik, komunikasi (Hidayat, 2. , dan untuk peningkatan mutu rumah sakit (Abd El Rahman et al. , 2. Namun pelaksanaannya terkadang tidak maksimal karena berbagai faktor yang berasal dari diri perawat dan pengaruh faktor eksternal atau penunjang. Faktor penghambat dalam pelaksanaan dokumentasi asuhan keperawatan yang berasal dari diri perawat seperti pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dimiliki (Noviari & Susanti, 2. Pengetahuan yang dimaksud terdiri dari komponen dalam pelaksanaan dokumentasi asuhan keperawatan seperti ketepatan dalam pengkajian, analisis data, perumusan diagnosa keperawatan, penetapan intervensi/implementasi keperawatan dan evaluasi kemajuan pasien. Pengetahuan yang baik harus diimbangi dengan sikap, motivasi dan keterampilan yang baik dalam melaksanakan dokumentasi keperawatan, karena semua komponen tersebut harus terdokumentasi dengan baik dan https://jurnalempathy. com/index. php/jurnalempathy/ | 42 Keseimbangan semuanya akan berdampak kepada kepuasan pasien sebagaimana penelitian Meilina & Bernarto, . yang menyatakan bahwa pengetahuan, sikap dan keterampilan yang baik akan meningkatkan kepuasan pasien yang nanti akan meningkatkan mutu layanan rumah sakit. Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi pelaksanaan dokumentasi keperawatan yaitu beban kerja, manajemen waktu, budaya organisasi dan jumlah tenaga pearawat (Noviari & Susanti, 2. (Nursalam, 2. Dokumentasi hasil pengkajian dilakukan dengan menerapkan anamnesa dan pemeriksaan fisik secara lengkap, serta menilai hasil pemeriksaan penunjang sebagai acuan dalam menetapkan masalah keperawatan. Ketepatan dalam pengkajian akan menentukan analisa data yang akan menjadi dasar penetapan diagnosa keperawatan dan rencana intervensi yang akan dilaksanakan. Kesalahan dalam tahap pengkajian akan berdampak kepada salah dalam menetapkan diagnosa keperawatan yang sangat merugikan pasien sehingga berpengaruh pada kepuasan pasien dan mutu layanan kesehatan dirumah sakit. Dari FGD telah disepakati bahwa semua tahapan dari asuhan keperawatan harus terdokumentasi dengan baik dan benar mulai dari tahap pengkajian hingga tahap evaluasi yang dilakukan oleh perawat. Tahap pengkajian secara menyeluruh dan lengkap kemudian dianalisa untuk mengklasifikasikan kriteria mayor dan minor untuk dapat ditetapkan diagnosa keperawatan yang sesuai jenis diagnosa. Diagnosa keperawatan yang terdiri dari tiga jenis yaitu aktual, resiko dan promosi kesehatan sesuai SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesi. (Tim Pokja SDKI DPP PPNI. Pendokumentasian diagnosa keperawatan harus memenuhi prinsip penulisan diagnosa keperawatan yang sesuai berdasar unsur atau rumus P E S . roblem/respons, etiologi, symptom/sig. Contoh pada kasus diabetes melitus dengan luka pada kaki, diganosa keperawatan yaitu gangguan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan perubahan sirkulasi ditandai dengan kerusakan jaringan atau lapisan kulit. Diagnosa keperawatan risiko dengan rumus probelem dibuktikan dengan faktor risiko, sedengkan diagnosa promosi kesehatan dengan rumus problem dibuktikan dengan tanda dan gejala yang mengarah ke arah positif/ perbaikan (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2. (Herdman. Kamitsuru. Takao Lopes, & North American Nursing Diagnosis Association, 2. Semua diagnosa yang diangkat diprioritaskan berdasarkan masalah yang utama berdasarkan kondisi yang mengancam jiwa, berdasar pada hiraki kebutuhan maslow, atau berdasarkan sifat diagnosa aktual, risiko dan promosi kesehatan. Rencana intervensi/ implementasi keperawatan yang dilakukan mengacu kepada diagnosa keperawatan yang ditegakkan dan harus didokumentasikan. Setiap intervensi yang disusun perlu memuat ranah observasi, tindakan terapeutik mandiri dan kolaborasi, serta edukasi. Sebagai contoh pada diagnosa keperawatan gangguan integritas kulit/ jaringan tahap observasi yaitu mengkaji kondisi luka, tahap terapeutik memberikan perawatan luka dengan prinsip perawatan luka modern, tahap edukasi tentang manajemen nutrisi untuk luka atau manajemen pencegahan infeksi (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2. Tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan dilakukan evaluasi sejaumana keberhasilan atau kemajuan setiap saat. Evaluasi keberhasilan mengacu pada indikator luaran yang ditetapkan sebelumnya sesuai dengan diagnosa dan intervensi keperawatan yang ditetapkan. Contoh pada diagnosa keperawatan gangguan integritas kulit/jaringan mempunyai luaran utama integritas kulit dan jaringan tidak terganggu atau membaik, https://jurnalempathy. com/index. php/jurnalempathy/ | 43 luaran tambahan luka sembuh, status sirkulasi membaik, status nutrisi terpenuhi, dan lainnya yang mengarah pada perbaikan. Penulisan dapat dilakukan dengan kalimat Ausetelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam maka gangguang integritas kulit/ jaringan mengarah keperbaikan dengan kriteria hasil ada proses penyembuhan luka, (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2. , jaringan luka didominasi warna luka merah (Sugiarto et al, 2. Evaluasi didokumentasikan dapat menggungakan SOAP (Subjektif. Objektif. Analisa/Penilaian. Planning/Perencanaa. dan dicatat pada lembar khusus evaluasi keperawatan atau di CPPT . atatan perekembangan pasien terintegras. Upaya yang dapat dilakukan manajemen maupun perawat secara umum agar dapat mempertahankan kebiasaan dalam melakukan proses dokumentasi asuhan keperawatan yaitu menjadikan kegiatan dokumentasi keperawatan merupakan budaya kerja yang baik, selalu meningkatkan pemahaman dan keterampilan terkait dokumentasi keparawatan. Perlu difasiliatsi pelatihan seperti pelatihan pengkajian komprehensif, sebagaimana penelitian Kartikasari et al. , . dan Risna et al. , . yang menerangkan bahawa pelatihan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan perawat terkait dokumentasi keperawatan yang akan berdampak pada ketepatan pendokumentasian keperawatan. Penelitian Limbong. , et al . juga menerangkan bahwa terjadi perubahan pengetahuan, sikap dan ketarampilan perawat dirumah sakit dalam melaksanaan dokumentasi keperawatan setelah diberikan pelatihan. Namun pelatihan saja tidaklah cukup, evaluasi berkelanjutan dan pendampingan pasca pelatihan juga harus diperhatikan sebagai wujud rencana tindak lanjut (Fitri & Ramadini, 2. KESIMPULAN DAN SARAN Peningkatan pemahaman dan kesamaan persepsi positif perawat dalam menerapkan dokumentasi keperawatan dapat meningkatkan mutu layanan kesehatan dirumah sakit telah disepakati bersama oleh partisipan. Hasil sosialisasi temuan penelitian dan FGD yang dilakukan secara bersama dapat memberikan gambaran terkait pentingnya penguatan kebiasaan dalam pelaksanaan dokumentasi keperawatan dengan Hal ini juga dapat dijadikan pihak manajemen sebagai dasar pelaksanaan peningkatan keterampilan tentang dokumentasi asuhan keperawatan baik yang bersifat tertulis maupun secara elektronik melalui kegiatan pelatihan dan workshop. UCAPAN TERIMAKASIH Terimakasih kepada Ketua Stikes Intan Martapura. Ketua Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Stikes Intan Martapura yang telah mendukung dalam pendanaa kegiatan ini. Apresiasi kepada rekan Dosen dan Mahasiswa yang terlibat. Direktur dan Kabid Keperawatan RSUD Ratu Zalecha Martapura, serta partisipan yang terlibat dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini. DAFTAR PUSTAKA