Persona. Jurnal Psikologi Indonesia September 2012. Vol. No. 2, hal 143-154 Perilaku Asertif. Harga Diri dan Kecenderungan Depresi Rosa Imani Khan Alumni Program Magister Psikologi Pascasarjana Ae Untag Surabaya Abstract. This study aimed to find out correlations among assertive behaviors and self-esteem with tendency to depression. The study was conducted toward 119 adolescents, with ages 18 to 21 year . ast adolescen. Data were collected by scales of assertive behkavior, self-esteem and Beck Depression Inventory (BDI) in indonesian version. Techniques for the data analyses used statistical spearman rank correlation. SPSS for Windows Results of the analysis found a negative correlation between assertive behavior and tendency to depression. The more assertive behavior, the less tendency to depression, and adversely. Other finding also showed a negative correlation between self-esteem and tendency to depression. The more sel-esteem, the less tendency to depression, and adversely. Keywords: assertive behavior, self-esteem, depression Intisari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara perilaku asertif dan harga diri dengan tingkat kecenderungan depresi. Penelitian dilakukan pada 119 remaja berusia 18-21 tahun . emaja akhi. Alat pengumpul data berupa skala asertivitas, skala harga diri dan Beck Depression Inventory (BDI) versi bahasa Indonesia. Analisis data dilakukan dengan teknik statistik korelasi spearman rank, dengan bantuan program statistik SPSS versi 13. for Windows. Hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat korelasi negatif antara perilaku asertif dengan tingkat kecenderungan depresi. Semakin tinggi perilaku asertif maka tingkat kecenderungan depresi yang dimiliki akan semakin rendah, begitu pula Hasil yang lain juga menunjukkan bahwa terdapat korelasi negatif antara harga diri dengan tingkat kecenderungan depresi. Semakin tinggi harga diri maka tingkat kecenderungan depresi yang dimiliki akan semakin rendah, begitu pula sebaliknya. Kata kunci: perilaku asertif, harga diri, depresi. Masa remaja merupakan periode transisi antara masa anak-anak ke masa Batasan usianya tidak ditentukan dengan jelas, tetapi kira-kira berawal dari usia 12 sampai akhir usia 21 tahun, yaitu saat pertumbuhan fisik hampir lengkap (Atkinson, 1. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan Monks dkk. bahwa masa remaja secara global berlangsung antara umur 12 dan 21 tahun, dengan pembagian 12-15 tahun adalah masa remaja awal, 1518 tahun adalah masa remaja pertengahan, 18-21 tahun adalah masa remaja akhir. Masa remaja adalah masa perkembangan yang paling krusial, karena di akhir periodenya seorang remaja harus menghadapi sendiri kemanakah identitas egonya akan dibentuk (Feist & Feist, dalam Cynthia, 2. Hurlock . mengatakan bahwa dibandingkan dengan kelompok anak dan orang tua, periode remaja merupakan periode yang paling berat. Masa ini merupakan masa yang penuh perubahan, baik anatomis, fisiologis, fungsi mosional dan intelektual serta hubungan sosial, sebelum mencapai titik kulminasinya pada usia dewasa. Rosa Imani Khan Cole . alam Cynthia, 2. menjelaskan bahwa perubahan dari anak-anak yang tergantung menjadi individu mandiri, menyebabkan remaja harus menyesuaikan diri dengan banyak hal, yaitu yang berhubungan dengan kematangan emosional, mengembangkan ketertarikan terhadap lawan jenis, kematangan sosial, kemandirian di luar rumah, kematangan mental, permulaan dari kemandirian secara finansial, menggunakan waktu luang secara tepat atau yang disebut dengan proper uses of leisure, cara memandang kehidupan dan identifikasi diri sendiri. Kondisi tersebut menunjukkan banyaknya masalah yang dihadapi remaja, yang harus Apabila terdapat banyak masalah yang tidak teratasi, sangat mungkin dapat menyebabkan remaja menjadi merasa kecewa, tidak menghargai diri sendiri serta menganggap dirinya sebagai orang yang gagal atau tidak mampu. Kondisi ini jika berkelanjutan akan dapat menyebabkan depresi pada remaja. Carr . alam Aditomo & Retnowati, 2. mengatakan bahwa apabila ditinjau dari perspektif perkembangan, depresi memang mulai banyak muncul pada masa Studi-studi epidemologis menunjukkan bahwa angka prevalensi depresi untuk anak-anak adalah 2,5 persen dan meningkat menjadi 8,3 persen untuk Angka prevalensi ini akan meningkat sampai 25 persen apabila depresi ringan juga diperhitungkan (Stenber, dalam Aditomo & Retnowati, 2. Penelitian tentang depresi pada mahasiswa baru di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 70 persen di antaranya menunjukkan gejala-gejala depresi (Aero & Weiner, dalam Achmad, 1. Selain itu, penelitian pada mahasiswa Fakultas Kedokteran UGM menunjukkan bahwa rata-rata mengalami depresi sedang (R. Soegandhi dkk. , dalam Achmad, 1. Depresi merupakan suatu keadaan emosi yang ditandai dengan kesedihan dan penderitaan yang mendalam, perasaan tidak berharga dan bersalah, menarik diri dari orang lain, kehilangan selera makan, tidur, bahkan hasrat seksual atau kehilangan minat dan kesenangan dalam melakukan kegiatan yang biasanya menyenangkan (Davison & Neale, 1. Atkinson . menjelaskan bahwa depresi merupakan respon yang normal terhadap berbagai stres kehidupan. Depresi dikatakan tidak normal bila depresi tersebut melebihi proporsi dalam merespon terhadap suatu kejadian dan terus berlanjut melebihi batas dimana kebanyakan orang sudah pulih kembali. Perasaan depresi berupa perasaan sedih, kesal, lesu, dan tidak tertarik pada suatu kegiatan apapun sekalipun kegiatan itu dapat dipastikan dialami oleh hampir setiap orang pada saat-saat Hal ini menunjukkan bahwa depresi merupakan suatu konsepsi yang dapat diterapkan pada suatu rentang keadaan emosi, baik normal maupun Depresi normal merupakan periode sementara dari kesedihan dan kelelahan yang umum terjadi ketika merespon stressfull life events. Periode tersebut secara umum berlangsung tidak lebih dari 7-10 hari. Bila keadaan depresi terus berlanjut lebih lama dan simptom berkembang menjadi lebih kompleks dan berat, maka keadaan depresi telah sampai pada tingkatan klinis. Depresi pada tingkat klinis secara umum meliputi gangguan tidur, gangguan makan, anergia, perasaan tak ada lagi yang dapat diharapkan dan putus asa. Depresi pada tingkat yang lebih berat, dapat menimbulkan halusinasi, delusi, keadaan psikotik, bahkan keinginan untuk bunuh diri (Corsini, 1. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Bromberger dan Matthews . alam http:// org, diunduh pada tanggal 15 Agustus 2. pada tahun 1996 menunjukkan bahwa makin mampu seseorang mengekspresikan diri secara asertif, makin kuat daya tahannya dalam menghadapi stres, dan makin kecil kemungkinan untuk terserang depresi. Pengertian atau makna asertivitas menurut Rini . adalah suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain Orang-orang yang Perilaku Asertif. Harga Diri dan Kecenderungan Depresi tidak asertif biasanya pemalu, tertutup, dan tidak dapat menyatakan keinginannya. Mereka selalu mengerjakan apa yang disukai dan diperintahkan oleh orang lain tanpa banyak bertanya dan tanpa memperhatikan mana yang terbaik untuk dirinya sendiri. Orang yang tidak asertif biasanya cemas dalam situasi sosial dan mempunyai harga diri yang cenderung rendah (Devito, 1. Masih mengenai depresi, orang-orang yang mempunyai harga diri yang tinggi pada umumnya percaya pada kemampuannya sendiri, realistis, optimis dan efektif dalam menghadapi masalah-masalahnya, sehingga jarang mengalami gangguangangguan penyesuaian, apalagi gangguangangguan psikologis seperti depresi (Coopersmith, 1967 dalam Achmad, 1. Depresi merupakan suatu gangguan mental yang spesifik yang ditandai dengan adanya perasaan sedih, putus asa, kehilangan semangat, merasa bersalah, lambat dalam berpikir, menurunnya motivasi untuk melakukan aktivitas, dan lain Depresi cenderung diderita oleh remaja karena remaja cenderung memperhatikan citra tubuhnya, rentan mengalami peristiwa yang penuh stres, mengalami tekanan dalam penyesuaian diri dalam berinteraksi dengan orang lain. Hinton . mengatakan bahwa masa remaja merupakan masa perubahan hormonal, perubahan tingkat dan pola hubungan sosial sehingga remaja cenderung mempersepsikan orang tua secara berbeda. Selain itu, masa pertumbuhan remaja, jarang yang berlangsung dengan lancar. Banyak masalah yang terjadi dan bisa makin serius hingga menyebabkan depresi yang berkepanjangan. Remaja yang mengalami depresi akan menjadi apatis dan menyalahkan dirinya sendiri sehingga merasa enggan untuk mencari pertolongan. Depresi dapat mengakibatkan dampak yang merugikan bagi si penderita seperti terganggunya fungsi sosial, fungsi pekerjaan, mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi, mengalami ketidakberdayaan yang dipelajari, bahkan hingga tindakan bunuh diri yang menyebabkan kematian. Remaja hanya mengurung diri di kamar, hilangnya rasa percaya diri, semangat hidup, kreativitas, antusiasme, dan optimisme. Tidak mau bicara, tidak berani berjumpa dengan orang-orang, berpikir yang negatif tentang diri sendiri dan tentang orang lain, hingga hidup terasa sangat berat dan melihat masalah lebih besar dari dirinya. Remaja jadi pesimis memandang hidupnya, seakan hilang harapan, tidak ada yang bisa memahami dirinya, dan sebagainya . ttp://piipiiodd. com, diunduh pada tanggal 15 Agustus 2. Individu yang depresi tidak lagi merasa bergairah menghadapi hidup dan akhirnya perasaan hambar mewarnai pandangan Individu ini mulai membatasi pergaulan dengan orang lain dan kehilangan semangat dalam melaksanakan tanggung jawab sehari-hari. Orang-orang yang asertif biasanya mampu mengadakan dan membina hubungan yang akrab dan hangat dengan orang lain. Mereka mampu menyatakan perasaan dan pikiran-pikirannya dengan tepat dan jujur tanpa memaksakan kepada orang lain. Mereka juga mampu menghargai perasaan-perasaan dan pendapatpendapat orang lain, sehingga dalam hubungan antar pribadinya, orang-orang yang asertif mampu bertukar pengalaman, pikiran dan perasaan dengan orang lain. Mereka lebih banyak menerima tanggapan positif dan merasa lebih dimengerti oleh orang lain. Hal ini membuat mereka jarang mengalami gangguan depresi, karena bila mereka memiliki masalah biasanya mereka dapat menyatakannya dengan tepat kepada orang lain, sehingga mereka mendapat banyak keuntungan seperti memperoleh solusi, mendapatkan dukungan sosial dan dapat menjelaskan beban mental akibat masalahnya itu (Achmad, 1. Haye . alam Cynthia, 2. mengatakan bahwa faktor penyebab depresi antara lain adalah adanya tujuan-tujuan yang tidak tercapai yang menyebabkan kekecewaan serta adanya kegagalan yang menyebabkan kurangnya penghargaan terhadap diri. Individu dengan harga diri rendah cenderung memandang dirinya Rosa Imani Khan secara negatif dan terfokus pada kelemahan dirinya. Berbeda dengan orang-orang yang mempunyai harga diri yang tinggi, pada umumnya percaya pada kemampuannya sendiri, realistis, optimis dan efektif dalam menghadapi masalah-masalahnya, sehingga mereka jarang mengalami gangguangangguan penyesuaian, apalagi gangguangangguan psikologis seperti depresi (Coopersmith, dalam Achmad, 1. Pelham & Swan . alam Aditomo & Retnowati, 2. menjelaskan bahwa individu yang memiliki harga diri tinggi berarti memandang dirinya secara positif. Individu dengan harga diri tinggi sadar akan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya dan memandang kelebihan-kelebihan tersebut lebih penting daripada kelemahannya. Berdasarkan uraian di atas, diajukan hipotesis sebagai berikut : Ada korelasi negatif antara perilaku asertif dengan tingkat kecenderungan . Ada korelasi negatif antara harga diri dengan tingkat kecenderungan depresi Metode Subjek Penelitian : Subjek dalam penelitian ini adalah 119 remaja berusia 18-21 tahun . emaja Variabel Penelitian : Variabel Terikat : tingkat kecenderungan depresi Variabel Bebas 1 : perilaku asertif Variabel Bebas 2 : harga diri Alat Ukur : Tingkat Kecenderungan Depresi. Instrumen yang digunakan untuk mengukur tingkat kecenderungan depresi dalam penelitian ini adalah Beck Depression Inventory (BDI). Beck dkk. alam Craig & Dobson, 1. menyebutkan bahwa skala ini pertama kali muncul pada tahun 1961 dan disusun awalnya untuk mengukur intensitas depresi. Pada perkembangannya. BDI ini digunakan sebagai alat penjaringan komunitas dan instrumen penelitian klinis. Penggunaan BDI sebagai alat untuk mengukur tingkat kecenderungan depresi dalam penelitian ini didasarkan pada pertimbangan bahwa BDI dapat digunakan pada individu yang belum didiagnosa klinis menderita depresi. Untuk menegakkan diagnosa klinis apakah seseorang mengalami depresi ataukah tidak diperlukan proses assessmen yang lebih mendalam yang harus dilakukan oleh seorang psikolog atau psikiater, seperti ditambah dengan wawancara ataupun observasi (McDowell & Newell, 1. Skor yang didapat oleh subyek dalam penelitian ini, penulis hanya akan menyimpulkan mengenai tinggi-rendahnya kecenderungan subyek untuk dapat jatuh ke dalam kondisi Skala ini memiliki 21 aitem yang mencerminkan kategori sikap dan simptom Masing-masing aitem terdiri dari 4 tingkat pernyataan yang diwakili oleh angka 0, 1, 2 dan 3, jadi masing-masing aitem dinilai intensitasnya dalam skala 0-3. Skor tiap aitem adalah angka pernyataan paling tinggi yang dipilih oleh subyek . ubyek boleh memilih lebih dari 1 Karena nilai tertinggi yang bisa diperoleh pada masing-masing item adalah 3, maka jumlah total tertinggi yang mungkin adalah 63 . ang berarti bahwa didapat nilai 3 pada setiap ite. Karena nilai terendah yang bisa diperoleh pada masing-masing item adalah 0, maka nilai total terendah yang mungkin adalah 0 . ang berarti bahwa didapat nilai 0 pada setiap ite. Berikut klasifikasi interpretasi skor BDI yang dikemukakan oleh Beck . alam McDowell & Newell 1. Perilaku Asertif. Harga Diri dan Kecenderungan Depresi Interpretasi Skor Beck Depression Inventory (BDI) SKOR INTERPRETASI < 10 Tidak ada depresi / depresi minimal Depresi ringan hingga sedang Depresi sedang hingga berat Ou 30 Depresi berat Robinson . 1, dalam Aditomo & Retnowati, 2. mencatat bahwa validitas BDI berkisar antara 0,6-0,9. Achmad . alam Aditomo & Retnowati, 2. mencatat reliabilitas versi bahasa Indonesia sebesar 0,775, sedangkan Prabandari . alam Aditomo & Retnowati, 2. menemukan angka reliabilitas yang lebih besar, yakni 0,93. Perilaku Asertif. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur perilaku asertif adalah kuesioner tertutup yang berbentuk skala likert. Skala ini memiliki aitem favourable dan unfavourable. Respon yang digunakan berjumlah lima, antara lain: SS . angat sesua. S . R . agu-rag. TS . idak sesua. , dan STS . angat tidak Koefisien korelasi terendah dari aitem layak pakai adalah 0,257 dan koefisien korelasi tertinggi dari aitem layak pakai adalah 0,844. Hasil estimasi reliabilitas skala asertivitas menunjukkan koefisien sebesar 0,871 yang berarti bahwa skala asertivitas ini sangat reliabel. Harga Diri. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur harga diri adalah kuesioner tertutup yang berbentuk skala likert. Skala ini memiliki aitem favourable dan Respon yang digunakan berjumlah lima, antara lain: SS . angat sesua. S . R . agu-rag. TS . idak sesua. , dan STS . angat tidak sesua. Koefisien korelasi terendah dari aitem layak pakai adalah 0,258 dan koefisien korelasi tertinggi dari aitem layak pakai adalah 0,715. Hasil estimasi reliabilitas skala harga diri menunjukkan koefisien sebesar 0,941 yang berarti bahwa skala harga diri ini sangat reliabel. Prosedur : Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik nonparametrik berupa uji korelasi Spearman Rank, mengingat hasil uji normalitas dalam penelitian ini menunjukkan bahwa sebaran data yang diperoleh tidak normal. Uji korelasi dengan Spearman Rank menggunakan bantuan program statistik SPSS 13. for windows. Hasil Uji Asumsi : Uji asumsi normalitas dilakukan dengan menggunakan teknik perhitungan Kolmogorov Smirnov Test melalui program SPSS 0 for Windows. Ketentuan yang digunakan adalah sebaran data dikatakan normal jika signifikansi > 0,05 (Priyatno, 2. Berikut adalah hasil perhitungannya: Tabel 10. Tests of Normality Kolmogorov-Smirnov. Statistic Sig. Tingkat Perilaku Asertif Harga Diri Shapiro-Wilk Statistic Sig. 0,212 0,000 0,902 0,000 0,073 0,052 0,174 0,200* 0,975 0,979 0,025 0,065 This is a lower bound of the true significance Rosa Imani Khan a Lilliefors Significance Correction Berdasarkan perhitungan terhadap Beck Depression Inventory (BDI), skala asertivitas dan skala harga diri yang telah dilakukan, diperoleh bahwa signifikansi data tingkat kecenderungan depresi adalah 0,000, dimana 0,000 < 0,05 sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa sebaran untuk data tingkat kecenderungan depresi pada 119 subyek penelitian adalah tidak normal. Uji linearitas dalam penelitian ini dilakukan dengan bantuan program SPSS 0 for Windows menggunakan Test for Linearity pada taraf 0,05. Dua variabel dikatakan memiliki hubungan yang linear apabila memiliki signifikansi < 0,05 (Priyatno, 2. Penulis menggunakan teknik ini karena teknik ini lebih mudah dalam penggunaan dan interpretasinya. Berikut adalah hasil perhitungannya: ANOVA Table Tingkat_Kecenderu ngan_Depresi * Perilaku_Asertif Between Groups Sum of Squares Mean Square Sig. 977,360 37,591 10,077 ,000 657,722 657,722 176,315 ,000 319,638 12,786 ,000 343,194 1320,555 3,730 (Combine. Linearity Deviation Linearity Within Groups Total Berdasarkan tabel anova di atas, diketahui bahwa signifikansi yang dihasilkan sebesar 0,000. Hal ini berarti terjadi suatu hu- bungan yang linear antara variabel perilaku asertif dan tingkat kecenderungan depresi. Sum of Squares Tingkat_Kecenderu ngan_Depresi * Harga_Diri Between Groups 3,427 Mean Square Sig. (Combine. Linearity Deviation from Linearity Within Groups Total Berdasarkan tabel anova di atas, diketahui bahwa signifikansi yang dihasilkan sebesar 0,000. Hal ini berarti terjadi suatu hu- 1062,855 20,840 5,418 ,000 610,897 610,897 158,829 ,000 451,957 9,039 2,350 ,001 257,700 1320,555 3,846 bungan yang linear antara variabel harga diri dan tingkat kecenderungan depresi. Perilaku Asertif. Harga Diri dan Kecenderungan Depresi Hasil Uji Korelasi Spearman's Tingkat_Kece nderungan_De Perilaku_Asert Harga_Diri Tingkat_Kecende rungan_Depresi Perilaku_Asertif Harga_Diri 1,000 -,678 -,699 ,000 ,000 -,678 1,000 ,650 ,000 ,000 -,699 ,650 1,000 ,000 ,000 Correlation Coefficient Sig. Correlation Coefficient Sig. Correlation Coefficient Sig. Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, diperoleh angka korelasi antara variabel perilaku asertif dengan tingkat kecenderungan depresi sebesar -0,678 sedangkan angka probabilitas atau p sebesar 0,000. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, dapat dikatakan bahwa ada korelasi antara variabel perilaku asertif dengan tingkat kecenderungan depresi. TandaAe. pada angka korelasi berarti bahwa kedua variabel memiliki korelasi yang berlawanan, yakni semakin tinggi perilaku asertif maka tingkat kecenderungan depresi yang dimiliki akan semakin rendah, begitu pula sebaliknya, semakin rendah perilaku asertif maka tingkat kecenderungan depresi yang dimiliki akan semakin tinggi. Begitu pula dengan angka korelasi yang diperoleh antara variabel harga diri dengan tingkat kecenderungan depresi sebesar 0,699 sedangkan angka probabilitas atau p sebesar 0,000. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, dapat dikatakan bahwa ada korelasi antara variabel harga diri dengan tingkat kecenderungan depresi. Tanda Ae . pada angka korelasi berarti bahwa kedua variabel memiliki korelasi yang berlawanan, yakni semakin tinggi harga diri maka tingkat kecenderungan depresi yang dimiliki akan semakin rendah, begitu pula sebaliknya, semakin rendah harga diri maka tingkat kecenderungan depresi yang dimiliki akan semakin tinggi. Pembahasan Hasil penelitian ini secara umum telah menjawab bahwa seluruh hipotesis yang telah dirumuskan dalam penelitian ini diterima atau terbukti kebenarannya. Hipotesis pertama dalam penelitian ini adalah ada korelasi negatif antara perilaku asertif dengan tingkat kecenderungan Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Bromberger dan Matthews . alam http://sabda. org, diunduh pada tanggal 15 Agustus 2. pada tahun 1996 yang mengatakan bahwa semakin mampu individu mengekspresikan diri secara asertif, maka semakin kuat daya tahannya dalam menghadapi stres dan semakin kecil kemungkinannya terserang Depresi ibarat penyakit jantung koroner dimana salah satu penyebab umumnya adalah penyumbatan saluran darah ke jantung itu sendiri. Ketidakmampuan mengutarakan isi hati secara asertif dapat menimbulkan "penyumbatan" emosional dalam batin individu. Kalau ini terjadi terus-menerus dan dalam kurun waktu Rosa Imani Khan yang berkepanjangan, maka rasa ketertekanan . pun makin menumpuk. Beban emosional yang menumpuk akan menyumbat kemampuan untuk menjalankan fungsi sehari-hari dengan lapang dan Apabila kondisi tersebut berlangsung terus menerus, maka akan membuka pintu terhadap depresi. Individu tidak lagi merasa bergairah menghadapi hidup dan akhirnya perasaan hambar mewarnai pandangan hidupnya. Individu kemudian mulai membatasi pergaulan dengan orang lain dan kehilangan semangat memenuhi tanggung jawab sehari-hari. Individu yang tidak asertif biasanya pemalu, tertutup, dan tidak dapat menyatakan keinginannya. Individu ini selalu mengerjakan apa yang disukai dan diperintahkan orang lain tanpa banyak bertanya dan tanpa memperhatikan mana yang terbaik untuk dirinya sendiri. Individu ini biasanya juga cemas dalam situasi sosial dan mempunyai harga diri yang cenderung rendah (Devito, 1. Individu yang asertif biasanya mampu mengadakan dan membina hubungan yang akrab dan hangat dengan orang lain, serta mampu menyatakan perasaan dan pikiranpikirannya dengan tepat dan jujur tanpa memaksakan kepada orang lain. Individu ini juga mampu menghargai perasaanperasaan dan pendapat-pendapat orang lain sehingga dalam hubungan antar pribadinya, individu ini mampu bertukar pengalaman, pikiran dan perasaan dengan orang lain, lebih banyak menerima tanggapan positif dan merasa lebih dimengerti oleh orang lain. Kondisi ini membuat individu ini jarang mengalami gangguan depresi, karena bila memiliki masalah biasanya individu ini dapat menyatakannya dengan tepat kepada orang lain, sehingga mendapat banyak keuntungan seperti memperoleh solusi, mendapatkan dukungan sosial dan dapat menjelaskan beban mental akibat masalahnya itu (Achmad, 1. Hasil pengolahan data dari penelitian ini menunjukkan bahwa 11 orang atau 9,2% dari keseluruhan subyek penelitian menunjukkan perilaku asertif yang sangat tinggi, 29 orang atau 24,4% dari keseluruhan subyek penelitian menunjukkan perilaku asertif yang tinggi, 47 orang atau 39,5% dari keseluruhan subyek penelitian menunjukkan perilaku asertif yang sedang, 28 orang atau 23,6% dari keseluruhan subyek penelitian menunjukkan perilaku asertif yang rendah, dan 4 orang atau 3,3% dari keseluruhan subyek penelitian menunjukkan perilaku asertif yang sangat rendah. Hasil penelitian ini secara umum juga telah menjawab bahwa hipotesis kedua dalam penelitian ini yang berbunyi ada korelasi negatif antara harga diri dengan tingkat kecenderungan depresi diterima atau terbukti kebenarannya. Haye . alam Cynthia, 2. mengatakan bahwa faktor penyebab dari depresi antara lain adalah adanya tujuan-tujuan yang tidak tercapai yang menyebabkan kekecewaan serta adanya kegagalan yang menyebabkan kurangnya penghargaan terhadap diri. Individu dengan harga diri rendah cenderung memandang dirinya secara negatif dan terfokus pada kelemahan dirinya. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penjelasan Coopersmith . alam Achmad, 1. yang mengatakan bahwa orangorang yang mempunyai harga diri yang tinggi pada umumnya percaya pada kemampuannya sendiri, realistis, optimis dan efektif dalam menghadapi masalahmasalahnya, sehingga jarang mengalami gangguan-gangguan penyesuaian, apalagi gangguan-gangguan psikologis seperti Pelham & Swan . alam Aditomo & Retnowati, 2. juga menjelaskan bahwa individu yang memiliki harga diri tinggi berarti memandang dirinya secara Individu dengan harga diri tinggi sadar akan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya dan memandang kelebihankelebihan tersebut lebih penting daripada Subyek penelitian dengan harga diri yang rendah memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk mengalami depresi. Bisa dikatakan bahwa subyek yang memandang dan menilai dirinya negatif lebih mungkin mengalami depresi daripada subyek yang menghargai dirinya secara positif. Perilaku Asertif. Harga Diri dan Kecenderungan Depresi Berdasarkan hasil pengolahan data, didapat 10 orang atau 8,41% dari keseluruhan subyek penelitian menunjukkan harga diri yang sangat tinggi, 32 orang atau 26,89% dari keseluruhan subyek penelitian menunjukkan harga diri yang tinggi, 44 orang atau 36,97% dari keseluruhan subyek penelitian menunjukkan harga diri yang sedang, 24 orang atau 20,17% dari keseluruhan subyek penelitian menunjukkan harga diri yang rendah, dan 9 orang atau 7,56% dari keseluruhan subyek penelitian menunjukkan harga diri yang sangat rendah. Tampak pula dari hasil pengolahan data, didapat 62 orang subyek penelitian atau 52% dari keseluruhan jumlah subyek penelitian memiliki tingkat kecenderungan depresi yang dimiliki sangat rendah. Terdapat 57 orang atau 48% dari keseluruhan subyek penelitian memiliki tingkat kecenderungan depresinya rendah. Tidak terdapat atau 0% dari keseluruhan subyek penelitian memiliki tingkat kecenderungan depresi yang tinggi dan sangat tinggi. Masa remaja adalah masa perkembangan yang paling krusial, karena di akhir periodenya seorang remaja harus menghadapi sendiri kemanakah identitas egonya akan dibentuk (Feist & Feist, dalam Cynthia, 2. Hurlock . mengatakan bahwa dibandingkan dengan kelompok anak dan orang tua, periode remaja merupakan periode yang paling berat. Masa ini merupakan masa yang penuh perubahan, baik anatomis, fisiologis, fungsi emosional dan intelektual serta hubungan sosial, sebelum mencapai titik kulminasinya pada usia dewasa. Cole . alam Cynthia, 2. menjelaskan bahwa perubahan dari anak-anak yang tergantung menjadi individu mandiri, menyebabkan remaja harus menyesuaikan diri dengan banyak hal, yaitu yang berhubungan dengan kematangan emosional, mengembangkan ketertarikan terhadap lawan jenis, kematangan sosial, kemandirian di luar rumah, kematangan mental, permulaan dari kemandirian secara finansial, menggunakan waktu luang secara tepat atau yang disebut dengan proper uses of leisure, cara memandang kehidupan dan identifikasi diri sendiri. Kondisi tersebut menunjukkan banyaknya masalah yang dihadapi remaja, yang harus Apabila terdapat banyak masalah yang tidak teratasi, sangat mungkin dapat menyebabkan remaja menjadi merasa kecewa, tidak menghargai diri sendiri serta menganggap dirinya sebagai orang yang gagal atau tidak mampu. Kondisi ini jika berkelanjutan akan dapat menyebabkan depresi pada remaja. Subjek dalam penelitian ini adalah 119 remaja yang berusia 18-21 tahun. Usia tersebut dikategorikan sebagai masa remaja akhir (Monks, 1. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa subjek memiliki tingkat kecenderungan depresi yang sangat rendah dan rendah. Tidak satupun subjek memiliki tingkat kecenderungan depresi yang tinggi dan sangat tinggi. Individu yang tengah berada dalam masa remaja akhir menunjukkan peningkatan kestabilan dalam aspek-aspek fisik dan psikis. Pada masa remaja akhir terjadi keseimbangan tubuh dan anggota badan, panjang dan besar yang berimbang. Demikian pula mengenai sikap dan cara pandang mereka. Pada masa remaja awal, individu sangat sering memandang dirinya lebih tinggi ataupun lebih rendah dari keadaan yang Kebanyakan yang terjadi dalam masa remaja awal adalah pandangan yang negatif yaitu lebih rendah, lebih kurang, lebih jelek dari keadaan sesungguhnya. Hal yang demikian merupakan refleksi dari rasa tidak puas individu terhadap apa yang dimiliki. Tetapi dalam masa remaja akhir, keadaan semacam itu telah berkurang. Individu telah mulai menilai dirinya sebagaimana adanya, menghargai miliknya, keluarganya, orangorang lain seperti keadaan sesungguhnya. Akibat positif dari keadaan remaja akhir seperti itu adalah timbulnya perasaan puas, menjauhkan mereka dari rasa kecewa. Perasaan puas itu merupakan sebagaian syarat penting tercapainya kebahagiaan bagi remaja. Sebenarnya bentuk-bentuk masalah yang dihadapi individu pada masa remaja akhir relatif sama dengan masalah yang Rosa Imani Khan dihadapi pada masa remaja awal. Perbedaannya terletak pada cara individu menghadapi masalah yang dimaksud. Kalau pada masa remaja awal individu sering memperlihatkan kemarahan-kemarahannya, sering sangat sedih dan kecewa, maka pada masa remaja akhir, hal yang demikian tidak lagi sering nampak. Umumnya individu yang tengah memasuki masa remaja akhir mulai mampu menghadapi permasalahan-permasalahannya dengan lebih tenang dan matang. Ketenangan dan kematangan dalam menghadapi kekecewaan-kekecewaan ditunjang oleh adanya kemampuan berpikir logis dan realistis serta kemampuan untuk menguasai perasaan-perasaannya. Keadaan yang realistis dalam menentukan sikap, minat dan cita-cita mengakibatkan individu tidaklah terlalu kecewa dengan adanya kegagalan-kegagalan kecil yang dijumpai. Usaha-usaha pemecahan masalah yang dihadapi juga dapat dilakukan dengan berdiskusi bersama teman-teman sebaya. Langkah-langkah pemecahan masalah tersebut mengarahkan remaja akhir pada tingkah laku yang lebih well adjusted, lebih dapat menyesuaikan diri dalam banyak situasi lingkungan dan situasi perasaan-perasaan sendiri. Akibatnya rasa bahagia bagi remaja akhir menjadi Kebahagiaan akan semakin kuat jika individu mendapat penghargaan dari orang dewasa, orang tua, guru dan teman-teman mereka di sekolah, terhadap diri dan usaha-usaha individu . id diunduh pada tanggal 22 Desember Daftar Pustaka