KONSELING KELUARGA DI KELURAHAN RAWA BUAYA RPTRA SUGRIWA Anwar Prabu Mangkunegara. Melani Aprianti Fakultas Psikologi. Universitas Mercu Buana Email :anwar. mangkunegara@gmail. com, melaniaprianti@yahoo. ABSTRAK Ruang Publik Terpadu Ramah Anak atau juga dikenal dengan singkatan RPTRA adalah konsep ruang publik berupa ruang terbuka hijau atau taman yang dilengkapi dengan berbagai permainan menarik, pengawasan CCTV, dan ruangan-ruangan yang melayani kepentingan komuniti yang ada di sekitar RPTRA tersebut, seperti ruang perpustakaan. PKK Mart, ruang laktasi, dan lainnya. RPTRA juga dibangun tidak di posisi strategis, namun berada di tengah pemukiman warga, terutama lapisan bawah dan padat penduduk, sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh warga di sekitar. Tujuan dari kegiatan ini adalah menyediakan psikolog dan peer konselor untuk membantu masyarakat sekitar RPTRA Rawa Buaya untuk memahami persoalan yang mereka hadapi dan mengelola persoalan tersebut dengan lebih efektif. Pada RPTRA Sugriwa, permasalahan yang dialami sebagain besar terkait pemasalahan pengasuhan anak, terutama yang beranjak remaja. Dari hasil pemetaan yang dilakukan, para peserta mengeluhkan kondisi anak mereka yang hibi bermain internet,tawuran,narkoba dan kenakalan remaja lainnya. Setelah dibuka dengan penyuluhan tentang bagaimana mengasuh anak dengan positif, diantaranya dengan mengenal kecerdasan majemuk anak, kepribadian dan gaya belajar anak, sesi konsultasi dibuka dengan bentuk konseling kelompok sesuai permintaan pesertayang kurang nyaman dengan sesi konseling individual. Menurut Winkel dalam Lubis . konseling kelompok merupakan pelaksanaan proses konseling yang dilakukan oleh konselor professional dan beberapa peserta sekaligus dalam kelompok kecil. Gazda dalam Lubis . juga menjelaskan bahwa konseling kelompok ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan dorongan kepada peserta konseling untuk memecahkan masalahnya. Kata Kunci :Konseling. Keluarga. RPTRA PENDAHULUAN ANALISIS SITUASI Ruang Publik Terpadu Ramah Anak atau juga dikenal dengan singkatan RPTRA adalah konsep ruang publik berupa ruang terbuka hijau atau taman yang dilengkapi dengan berbagai permainan menarik, pengawasan CCTV, dan ruangan-ruangan yang melayani kepentingan komuniti yang ada di sekitar RPTRA tersebut, seperti ruang perpustakaan. PKK Mart, ruang laktasi, dan lainnya. RPTRA juga dibangun tidak di posisi strategis, namun berada di tengah pemukiman warga, terutama lapisan bawah dan padat penduduk, sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh warga di RPTRA menjadi tempat masyarakat, anak, remaja dan keluarga beraktifitas. Dalam rangka membangun manusia Indonesia yang seutuhnya sesuai dengan tujuan pembangunan bangsa Indonesia, pengembangan layanan bimbingan dan konseling bagi masyarakat merupakan saran dan wahana yang sangat baik untuk pembinaan sumber daya manusia. Bimbingan dan konseling yang keberadaannya semakin dibutuhkan dalam masyarakat merupakan suatu badan yang mempunyai fungsi sangat penting. Dengan kata lain, bimbingan dan konseling mempunyai peran dalam mencarikan jalan keluar dalam setiap kesulitan yang dihadapi suatu individu masyarakat dalam usaha mengembangkan Bimbingan dan konseling berfungsi untuk membantu kelancaran dan kesuksesan kehidupan seseorang. Artinya, dengan adanya bimbingan dan konseling di Konseling Keluarga Di Kelurahan Rawa Buaya Rptra Sugriwa dunia masyarakat secara intensif akan memberikan dampak, baik secara langsung maupun secara yang tidak langsung yang akhirnya akan kembali pada keberhasilan suatu individu orang tersebut. Bimbingan dan konseling menjadi faktor penting untuk membantu individu masyarakat dalam mengembangkan potensi dan bakat maupun cara suatu masyarakat menyelesaikan Dengan adanya bimbingan dan konseling di masyarakat khususya wilayah RPTRA Rawa Buaya, dapat membantu masyarakat tersebut untuk menemukan jalan keluar atas masalahnya dan juga mengenali dirinya sendiri dan mampu untuk mengembangkan potensi dan bakat dalam dirinya tersebut. Para bimbingan dan konseling ini sangat dibutuhkan dalam dunia masyarakat. Tidak hanya untuk membantu dalam bimbingan karier ataupun masalah pribadi, para konselor juga seringkali menjadi sukarelawan dalam upaya menghilangkan trauma pada masyarakat yang menjadi korban bencana yang akhir-akhir ini sering menimpa masyarakat Indonesia, gangguan kejiwaan dan mental, serta gangguan-gangguan yang cenderung kepada kenakalan remaja maupun permasalahan dalam keluarga. IDENTIFIKASI DAN PERUMUSAN MASALAH Berdasarkan analisis situasi diatas, dapat diketahui bahwa ketidaktahuan dan kurangnya pengetahuan suatu masyarakat tentang manfaat layanan bimbingan dan menimbulkan macam-macam kejadian, diantaranya fenomena-fenomena yang telah terlihat melalui media elektronik dan surat kabar, seperti contohnya tawuran antar warga, tawuran pelajar, narkoba dan banyaknya masyarakat yang mengalami gangguan kejiwaan atau mental maka fakultas Psikologi UMB mengajukan pengabdian untuk memberikan konseling kepada masyarakat yang membutuhkan agar mereka dapat memahami dan mengelola permasalahan dengan lebih efektif. METODE Kegiatan penyuluhan ini akan disampaikan dengan menggunakan metode konseling kelompok dan konseling individual. Adapun tahapan yang dilakukan dalam bimbingan konseling yang didapatkan oleh peserta antara . Membangun relasi. Kunci proses konseling adalah jalinan relasi yang harmonis antara Konselor dengan Konseli. Konselor harus mampu menyapa Konseli dengan baik sehingga Konseli merasa dirinya diterima. Semua atribut yang akan mengganggu harus diminimalkan, baik itu berhubungan dengan tempat, pakaian, status sosial ekonomi, persepsi dan pemikiran Konselor tentang Konseli. Observasi terhadap keberadaan Konseli harus dilakukan dengan hati-hati sehingga Konseli tidak merasa dinilai. Hal yang harus diobservasi dari Konseli adalah : penampilan fisik, motivasi, indikator-indikator kecemasan atau penolakan. Mendiskusikan prinsip-prinsip dan tujuan Konseli harus tahu apa hak, kewajiban dan peran selama proses konseling, karena subjek dan objek konseling adalah Konseli. Tujuan konseling harus ditetapkan bersama-sama dengan Konseli, sehingga tumbuh rasa tanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan, mengubah perilaku dan berkeinginan untuk mengembangkan diri. Pada tahap ini juga harus dibicarakan berapa lama waktu konseling dilakukan. Menggali permasalahan. Pada tahapan ini Konselor harus mengembangkan berbagai pertanyaan maupun pernyataan yang akan mendorong Konseli untuk menggali permasalahan yang dihadapi. Tujuan yang ingin dicapai melalui tahapan ini adalah pemahaman Konseli tentang masalah yang Jurnal Abdi Masyarakat (JAM). Volume 4 Nomor 1. September 2018, hlm. 8 - 11 dihadapi serta bagaimana hubungan atau dampak masalah terhadap diri. Pertanyaan maupun pernyataan dapat dikembangkan dari lima kata kunci yaitu 5WH. What . , why . , when . , where . , who . dan How . Pernyataan pernyataan sebagai respon terhadap ungkapan atau pernyataan Konseli serta umpan balik dapat berupa sebab akibat, mengurutkan berdasarkan kepentingan Konseli, mengurutkan berdasarkan waktu kejadian serta makna peristiwa bagi Konseli. Personalisasi. Prinsip personalisasi adalah bertanggung jawab untuk menyelesaikan. Besarnya kecilnya permasalahan sangat tergantung pada persepsi Konseli tentang masalah, sehingga kita dapat mengurangi kegelisahan, frustasi ataupun stress dalm diri Konseli dengan menempatkan permasalahan secara proporsional serta mendorong Konseli untuk berfikiran positif tentang dirinya. Menyusun rancangan tindakan serta monitoring atau evaluasi tindakan. Tugas Konselor pada tahap ini adalah mendukung klie untuk dapat membuat rancangan tindakan-tindakan apa yang dapat di- lakukan untuk menyelesaikan per- masalahan yang dihadapi. Dimulai dengan menetapkan tujuan yang ingin dicapai, tahapan kegiatan yang akan keterlibatan orang lain, penggunaan alat Bantu serta bagaimana Konselor dapat membantu memonitor ataumemberikan balikan terhadap usaha yang dilaksanakan oleh Konseli. Konselor harus mampu memberikan support agar Konseli memiliki kekuatan mental untuk dapat Secara tegas menetapkan kapan kegiatan akan dimulai. Jika memungkinkan Konselor dapat membantu tanpa sepengetahuan Konseli menciptakan berbagai kondisi yang mendukung terlaksananya kegiatan. umber: Yusi riksa Yustiana, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL No. Sebelum Penyuluhan Setelah Penyuluhan Tidak ada peserta yang memahami kecerdasan majemuk dan kepribadian anak Hanya 6 peserta yang mengetahui gaya belajar anak Tidak ada peserta yang pernah melakukan konsultasi PEMBAHASAN Pada RPTRA Sugriwa, permasalahan yang dialami sebagain besar terkait pemasalahan pengasuhan anak, terutama yang beranjak Dari hasil pemetaan yang dilakukan, para peserta mengeluhkan kondisi anak mereka yang hibi bermain internet, tawuran. Seluruh peserta memahami dan mengetahui kecerdasan dan kepribadian anak Peserta memahami gaya belajar anak 6 peserta melakukan konsultasi dalamkonseling narkoba dan kenakalan remaja lainnya. Setelah dibuka dengan penyuluhan tentang bagaimana mengasuh anak dengan positif, diantaranya dengan mengenal kecerdasan majemuk anak, kepribadian dan gaya belajar anak, sesi konsultasi dibuka dengan bentuk konseling kelompok sesuai permintaan Konseling Keluarga Di Kelurahan Rawa Buaya Rptra Sugriwa pesertayang kurang nyaman dengan sesi konseling individual. 4 KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Dari hasil pelaksanaan program pengabdian masyarakat kepada masyarakat di sekitar wilayah RPTRA Sugriwa dapat disimpulkan sebagai berikut . Pemberian konseling adalah hal yang baru dilaksanakan di RPTRA Sugriwa dan mendapatkan layanan ini dari pihak Pemberian konseling disambut antusias oleh warga dan mereka tertarik untuk proseslebih lanjutnya. Karakteristik warga yang belum pernah menjalani konseling menyebabkan mereka lebih nyaman melakukan konseling secara berkelompokdibandingkan individual. SARAN Untuk meningkatkan kualitas program pengabdiana masyarakat dapat disarankan Program pengabdian masyarakat berupa pemberian konseling dapat dilakukan lebih lanjut di lain kesempatan secara rutin. Program pengabdian masyarakat berupa pemberian konseling dapat dilakukan lebih luas dengan wilayah-wilayah lain sehingga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat DAFTAR PUSTAKA