SOSFILKOM Vol. XI No. 01 Tahun 2017 LAGU TARLING DAN CAMPURSARI DUA BAHASA (Realisasi Linguistik Puitis Dalam Komunikasi Lintas Buday. Muhammad Kamaluddin Dosen Tetap Prodi D3 Kehumasan FISIP Universitas Muhammadiyah Cirebon Jl. Tuparev No. 70 Cirebon. Telp/Fax: 0231-209806 Email: enceque_kedawung@yahoo. Abstrak Komunikasi Lintas Budaya (KLB) dalam masyarakat dapat dilihat dalam beberapa perwujudan. Satu diantaranya melalui syair lagu dua bahasa yang dinyanyikan bersama iringan musik dengan berbagai jenis genrenya. Penelitian ini mengkaji syair lagu Tarling dan Campursari yang menampakkan hal tersebut. Syair lagu yang menunjukkan adanya KLB diuraikan dengan apa yang disebut sebagai linguistik puitis. Beberapa data berupa syair lagu tersebut didapatkan sekaligus diuraikan melaui pendekatan kualitatif deskriptif. Sedemikian sehingga diketahui bahwa KLB yang ada dalam kedua genre musik tersebut mengandung berbagai unsur linguistik puitis. Adapun misalnya yaitu rima, idiom, aliterasi, asonansi, repetisi dan onomatopea. Ihwal beberapa unsur itulah yang secara nyata melancarkan proses komunikasi diantara dua budaya yang berbeda. Selain itu, berbagai unsur tadi secara inderawi menampilkan keindahan ragam bahasa dalam Kata-kata kunci: Komunikasi Lintas Budaya. Tarling. Campursari, linguistik puitis. Tarling sendiri merupakan genre musik tradisional daerah yang tumbuh dan berkembang di wilayah sepanjang Pantura (Pantai Utar. Jawa Barat. Jenis genre musik ini terdapat misalnya di sebagian besar wilayah Cirebon dan Indramayu. Selain itu pula musik ini dapat ditemui beberapa pementasan langsungnya di daerah pesisir Subang dan Karawang. Tarling sendiri merupakan akronim dari dua nama instrumen musik yang dipadupadankan menjadi satu. Harmonisasi keduanya merupakan perpaduan dari nada-nada yang berasal dari petikan gitar . ar-) dan tiupan seruling (-lin. Di sisi lain, yang dimaksud dengan Campursari adalah jenis genre musik yang tumbuh dan berkembang di daerah ekskaresidenan Kedu. Jawa Tengah. Genre musik jenis ini dapat ditemui di sekitar wilayah Surakarta Yogyakarta. Bahkan persebarannya mencapai sebagian daerah di Jawa Timur, seperti Madiun. Ngawi. Nganjuk. Jombang dan Lamongan. samping itu, penyebaran lagu dengan musik bergenre Campursari malah telah sampai di negara Eropa. Belanda dan Suriname, sebuah negara bagian di Amerika Serikat. Sekaitan dengan hal di atas, beberapa kajian yang membahas tentang KLB setidaknya ditemukan dalam dua jurnal PENDAHULUAN Praktik komunikasi di masyarakat terjadi dalam berbagai bentuk cara Bentuk-bentuk penyampaian itu sebagai misal yakni sajian berita di televisi, radio, surat kabar, kampanye, iklan dan lain sebagainya. Dari berbagai macam cara penyampaian tersebut ada pula yang berbentuk syair lagu-lagu yang dinyanyikan dengan iringan beragam jenis genre musik. Sebuah lagu, dalam perannya sebagai bentuk komunikasi verbal memiliki kekhasan dalam penyampaiannya. Lagu biasanya disampaikan dengan iringan musik sesuai dengan genrenya. Berbagai macam genre musik tersebut diantaranya yakni pop, rock, jazz, reggae, dangdut, keroncong dan lain Pada gilirannya, ada pula sebuah syair lagu yang dapat diiringi oleh lebih dari satu jenis genre musik. Sekaitan dengan hal di atas, syair lagu-lagu berbahasa daerah lazimnya ditampilkan dengan iringan genre musik berinstrumen lokal. Instrumen musik tersebut berupa seperangkat lengkap alat seperti gamelan maupun beberapa dari bagiannya saja seperti kendang dan seruling. Contoh dari sekian banyak genre musik daerah berwarna tradisional yakni Tarling dan Campursari. SOSFILKOM Vol. XI No. 01 Tahun 2017 Pertama adalah yang dikemukakan oleh Iskandar . Kedua adalah apa yang disampaikan oleh Suryani . Keduanya sama-sama membahas tentang KLB secara Meskipun demikian, yang pertama disebutkan membahasnya berdasarkan data kasus yang terjadi di masyarakat. Di sisi lain yang kedua membahas KLB sebatas pengungkapan teori-teori dari beberapa pakar ilmu komunikasi tanpa adanya kasus yang Untuk yang pertama ialah Iskandar . yang membahas peran KLB dalam menguraikan konflik antara suku Madura dan Dayak di Kalimantan. Dikatakannya bahwa dalam tahap menguraikan konflik seperti yang pernah terjadi di Pontianak beberapa waktu silam, ada beberapa hal yang mesti dilakukan. Satu diantara yang mesti dilakukan adalah menegaskan ihwal identitas budaya antar suku yang berkonflik agar tercipta rasa saling menghormati dan menghargai dari masingmasing kelompok yang bertikai. Sebagaimana diketahui kemudian bahwa muara dari konflik kedua etnis ini adalah saling melabeli satu sama lain. Label yang sepadan artinya dengan stereotiping yang cenderung menjadi akar permasalahan daripada menjadi identitas masing-masing etnis untuk saling toleransi. Yang kedua adalah tulisan yang dibuat oleh Suryani . Dikatakan olehnya bahwa komunikasi antar budaya sejogjanya dapat berjalan secara efektif oleh pengaruh beberapa faktor. Beberapa faktor tersebut yakni disebutkan olehnya berupa keterbukaan, empati, perasaan positif, memberi dukungan dan memelihara keseimbangan. Jika kesemua hal tadi diciptakan, maka niscaya komunikasi akan jauh dari nuansa stereotipe, jarak sosial dan sikap diskriminatif. Adapun tulisan ini mengkaji tentang bagaimana ragam unsur linguistik puitis direalisasikan dalam KLB. Melalui syair lagu dua bahasa dari genre musik Tarling dan Campursari yang dijadikan sebagai data, berbagai realisasi tersebut dijabarkan. Sedemikian sehingga diketahui bahwa beberapa fitur linguistik puitis turut mengupayakan terjadinya KLB. KAJIAN PUSTAKA Komunikasi Lintas Budaya (KLB) atau ada yang menyebutnya sebagai Komunikasi Antarbudaya menurut Liliweri . merupakan bentuk komunikasi diantara pribadi-pribadi dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda. Kaitannya dengan hal tersebut, dikatakannya juga bahwa satu dari unsur penting dalam sebuah kebudayaan adalah bahasa. Maka, dari apa yang dikatakan, secara sederhana boleh juga menganggap bahwa KLB mencakup perihal komunikasi antar individu dengan bahasa yang berbeda. Al Wasilah . mendefinisikan komunikasi sebagai proses yang di dalamnya melibatkan pihak yang berkomunikasi, informasi yang dikomunikasikan dan alat Dikatakannya juga bahwa yang dimaksud sebagai alat komunikasi adalah tidak lain merupakan satu dari sekian fungsi Dengan kata lain, komunikasi mutlak menggunakan bahasa sebagai alatnya. Selain sebagai alat komunikasi, fungsi Kridalaksana . dan Kadarisman . adalah fungsi puitis. Keduanya berangkat dari konsep Jakobson . mengenai fungsi puitis bahasa yang mengedepankan nilai estetis dari dalam bahasa itu sendiri. Artinya, bahasa digunakan untuk menampilkan keindahannya sendiri. Hal ini berarti, bahasa dapat dikatakan indah atau sebaliknya hanya dengan menampilkan secara artistik atau tidak apa yang ada dalam bahasa itu sendiri. Hal lain yang patut dipahami bersama yakni apa yang dikatakan oleh Sibarani . bahwa dalam berkomunikasi, manusia sejogjanya mematuhi aturan-aturan Hal tersebut sama artinya bahwa dalam berkomunikasi, manusia wajib memperhatikan secara komprehensif hal ihwal aturan kemasyarakatan dimana suatu bahasa dipergunakan oleh penutur jatinya. Penutur jati sebuah bahasa dalam KLB dituntut untuk menguasai bahasa ibu/asing mulai dari menghafal bunyi alfabet hingga menulis wacana secara komprehensif. Dari sana kemudian dapat disampaikan dengan berbagai gaya sembari memperhatikan aturan tata bahasa dan norma budaya yang ada. Hal SOSFILKOM Vol. XI No. 01 Tahun 2017 ini penting karena menurut Keraf . bahasa sebagai media mengungkapkan pikiran sekaligus menunjukkan kerendahan hati para penuturnya. Selain itu, bahasa sejogjanya didekati kepada semua varian menurut fungsinya. Secara umum dari setiap fungsinya menuntut untuk dilakukan survei singkat mengenai faktor-faktor konstitutif dalam berbagai bentuk situasi ujar dan tindakan komunikasi Pada saat penutur berkomunikasi mengirimkan sebuah pesan kepada kawan tuturnya misalnya. Tentu saja agar dapat berjalan dengan baik, pesan tersebut mesti memperhatikan konteks situasinya. Konteks tersebut hendaknya dapat dipahami oleh kedua belah pihak yang berkomunikasi baik itu komunikator maupun komunikan dalam beragam macam bentuk ujarannya. Seorang sarjana dalam ilmu bahasa. Hopkins . menyatakan bahwa suatu ujaran secara keseluruhan atau sebagiannya adalah mengulangi sejumlah suara yang sama layaknya sebuah puisi. Tetapi kemudian muncul sebuah pertanyaan, apakah semua ujaran itu berarti puisi? Jawabannya adalah fungsi puitis menjadi sewenang-wenang di luar domain puisi itu sendiri. Hal ini dapat dilihat misalnya dalam penyampaian beberapa jingle iklan produk terkini. Ihwal kepuitisan, dalam arti yang lebih luas hal itu bukan hanya dalam puisi, tetapi juga di luar puisi yang menjadi domain dari fungsi puitis bahasa. Maka, jika ambiguitas dalam sebuah pesan diyakini terdapat dalam karakter intrinsik pesan itu sendiri, menurut Empson . ambiguitas itu bukan hanya terjadi pada pesannya saja, tetapi juga pada penutur dan kawan tuturnya Artinya, supremasi dari fungsi puitis atas fungsi referensial misalnya, tidak menghilangkan referensinya itu sendiri, tetapi membuatnya menjadi ambigu. Setelah hal itu dilakukan, apa yang didengar kemudian ditranskripsikan ke dalam bentuk Lalu hasil transkripsi berupa syair lagu Tarling berbahasa Cirebon dan Campursari berbahasa Jawa yang diperoleh kemudian dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia. Alih bahasa ini tentu saja merujuk pada kamus standar dengan penyesuaian sekaitan dengan keterbacaan syair lagu dengan maksud KLB yang hendak disampaikan masingmasing penyanyinya. Setelah itu semua itu dilakukan, syair lagu yang didapat kemudian diuraikan kategori unsur-unsur linguistik yang menampakkan perihal kepuitisannya. TEMUAN DAN PEMBAHASAN Kajian ini membahas tiga buah syair lagu yang menggunakan dua bahasa dengan latar belakang budaya yang berbeda di Lagu pertama adalah lagu bergenre musik Tarling yang dinyanyikan oleh biduan Yoyo S. bersama biduanita Itih S. Jawa-Sunda dalam bahasa Jawa dan Sunda. Lagu kedua adalah berjudul Jambu Alas dengan genre musik Campursari yang dinyanyikan oleh penyanyi Campursari populer Didi Kempot bersama penyanyi bergenre musik Tarling kawakan Nunung Alvi dalam bahasa Jawa dan Cirebon. Terakhir adalah lagu dengan judul Sepur Argo Lawu dengan genre musik Campursari yang dinyanyikan oleh artis senior Cak Diqin bersama tandemnya Wiwid dalam bahasa Jawa dan Indonesia. Adapun ketiga lagu yang dibahas ini semuanya dinyanyikan secara duet oleh penyanyi laki-laki dan perempuan. Lagu Jawa-Sunda dinyanyikan oleh Yoyo S. bersama Itih S. secara resiprokal berbentuk Lagu berjudul Sepur Argo Lawu yang dinyanyikan oleh Cak Diqin dan Wiwid pun demikian adanya. Di sisi lain, lagu berjudul Jambu Alas yang dinyanyikan oleh Didi Kempot tidak dinyanyikan secara dialogis. Peran Nunung Alvi sebagai rekan duet Didi Kempot hanya sebatas penyela saja. Berikut ini adalah syair lagu Tarling yang dinyanyikan oleh Yoyo S. dan Itih S. berjudul Jawa-Sunda. METODE PENELITIAN Penelitian paradigma penelitian kualitatif. Melalui pendekatan deskriptif, data didokumentasikan dengan mengunduh syair lagu Tarling dan Campursari dua bahasa dari laman daring com untuk disimak secara seksama. Jawa-Sunda SOSFILKOM Vol. XI No. 01 Tahun 2017 Nyai . demenan reang aja sedih wong ayu lan aja melang ANyai . jangan bersedih orang cantik dan jangan bimbang kakang demen . kakang sayang . eu percaya . buktina akang mah mata karanjang kakak cinta . kakak sayang . idak percay. buktinya kakak mata keranjang akang micinta abdi hoyong enggal-enggal nikah jika kakak memang cinta aku ingin cepat-cepat nikah abdi isin . ang sapa?) ka ema jeung bapa . h masa?) aku malu . ada siapa?) kepada ibu dan ayah . h masa?) aja watir wong Jawa janjine nyata jangan khawatir orang Jawa janjinya nyata saumpami tos nikah abdi teh gaduh pamenta seumpama sudah menikah aku punya permintaan njaluk apa bruk ngomonga asal aja njaluk dunya minta apa silahkan katakan saja asal jangan minta dunia abdi alim dikantun komo jeung bari dicandung aku tidak mau dibawa apalagi sembari dipoligami ora niat wayuhan rabi siji gen kangelan tidak niat poligami istri satu juga kesulitan abdi Sunda . ula Jaw. saya Sunda . aya Jaw. abdi cinta . ula tresn. saya cinta . aya cint. rumah tangga bahagia rumah tangga bahagiaA Lagu yang dinyanyikan oleh duet Yoyo S. bersama dengan Itih S. di atas menyajikan bentuk KLB antara Cirebon dan Sunda. Hal ini dapat ditenggarai oleh karena daerah Cirebon merupakan tempat dimana masyarakat berbudaya Cirebon dan Sunda bercampur dalam interaksi sehari-hari. Sekaitan dengan hal itu, genre musik Tarling sebagai musik tradisional kedaerahan ternyata tumbuh, hidup dan berkembang di sana. Maka dari itu tidaklah heran jika pengaruh keduanya pun masuk ke dalam syair lagu yang diringi oleh genre musik tersebut. Sebagaimana diketahui juga bahwa baik bahasa Cirebon maupun bahasa Sunda merupakan muatan lokal wajib dalam kurikulum pembelajaran pada setiap sekolah yang ada di Cirebon. Dalam lagu di atas, unsur linguistik puitis yang tampak diantaranya yakni idiom mata karanjang Amata keranjangA. Frasa mata karanjang sendiri dalam KBBI . berarti sifat selalu merasa birahi apabila SOSFILKOM Vol. XI No. 01 Tahun 2017 melihat lawan jenisnya. Kemudian ada juga repetisi yang merupakan perulangan kata aja, kakang dan njaluk. Selanjutnya terdapat onomatopea yang merupakan tiruan bunyi yang dihasilkan oleh benda berupa kata bruk. Lalu tampak pula aliterasi berupa perulangan konsonan nasal /ng/ dan /h/ pada beberapa Terakhir terdapat fitur asonansi yang berwujud perulangan bunyi vokal /a/ pada larik-lariknya. Kemudian syair lagu Campursari berjudul Jambu Alas yang dinyanyikan oleh Didi Kempot dan Nunung Alvi adalah sebagai berikut ini. Jambu Alas Kelingan manis eseme trus kelingan ramah gemuyune tresna lan kasih, kasih sayange karep atiku kelakon dadhi bojone ATeringat manis senyumnya selalu teringat ramah tertawanya cinta dan kasih, kasih sayangnya maksud hatiku terwujud menjadi suaminya sayange wis nduwe bojo nanging aku, aku wis kadung tresno nelongso rasa ning ati yen aku ra kelakon melu nduweni sayangnya sudah punya suami tapi aku, aku sudah terlanjur cinta sengsara rasa di hati jika aku tidak terwujud ikut memiliki jambu alas kulite ijo sing digagas wis duwe bojo ada gula ada semut durung rondo ojo direbut jambu hutan kulitnya hijau yang diincar sudah punya suami ada gula ada semut belum janda jangan direbut Feat: sumpah ning batin yen kula bli dadi kawin tekad ning ati ora bakal luru ganti sumpah di batin jika aku tidak jadi menikah tekad di hati tidak akan mencari ganti sumpah wis janji arep sehidup semati seneng lan sedih bareng-bareng dilakoni sumpah sudah janji akan sehidup semati senang dan sedih sama-sama dijalani jambu alas manis rasane snajan tilas tak enteni randane jambu hutan manis rasanya meskipun bekas ku tunggu jandanyaA Lagu yang dibawakan oleh Didi Kempot dan Nunung Alvi di atas merupakan contoh fragmen KLB antara orang Jawa bercorak Mataram dan orang Jawa bernuansa Pantura (Pantai Utar. Jawa Barat. Bisa jadi dibangun atas sejarah dua budaya dan bahasa yang masih berkerabat. Meskipun hingga saat ini masih saja ada silang pendapat diantara para ahli bahasa perihal bahasa Cirebon. Satu sisi mengatakan bahwa itu sebagai sub varian dialek bahasa Jawa standar Mataram. Sisi lain menyatakan bahwa itu merupakan sebuah bahasa yang memang sudah mandiri dengan berbagai aturan kebahasaan dan kekayaan kosa katanya. Untuk lagu di atas tadi, unsur linguistik puitis yang terlihat yakni rima /a-aa-a/, /a-a-b-b/ dan /a-b-a-b/. Kemudian terdengar ada repetisi yang bewujud perulangan kata kelingan AteringatA, kasih AkasihA dan ada AadaA. Lalu terlihat pula aliterasi berupa perulangan konsonan /k/, /s/ dan /p/ pada beberapa lariknya. Terakhir ditemukan asonansi yang berupa perulangan bunyi vokal /i/, /o/ dan /e/ dalam sekian SOSFILKOM Vol. XI No. 01 Tahun 2017 Demikian pula syair lagu Campursari berjudul Sepur Argo Lawu yang dinyanyikan oleh Cak Diqin dan Wiwid di bawah ini. Sepur Argo Lawu Sepur-sepur Argo Lawu mlayune nang Yogjokarto ancur-ancur atiku bacut edan kowe ra tresno AKereta-kereta Argo Lawu larinya ke Yogyakarta hancur-hancur hatiku terlanjur gila kamu tidak cinta kreta-kreta Dwi Pangga berhenti mampir di Jogja bukannya aku tak cinta karena dimarah oleh bapak saya kereta-kereta Dwi Pangga berhenti mampir di Yogya bukannya aku tidak cinta karena dimarahi oleh bapak saya kreta api Argo Wilis aku opo kurang manis sepure Argo Muria kurang bagus opo kurang gagah kereta api Argo Wilis aku apa kurang manis keretanya Argo Muria kurang bagus apa kurang gagah kreta api Argo Anggrek tampang manis tidak jelek sepure Argo Bromo pilihane bapak wong sing sugih dunyo kereta api Agro Anggrek tampang manis tidak jelek keretanya Argo Bromo pilihannya bapak orang yang kaya dunia sepur-sepure Sri Tanjung larane pacaran wurung wis tak pikir tak petung pethuk bapakmu sesuk tak pentung kereta-keretanya Sri Tanjung sakitnya berpacaran batal sudah dipikir sudah dihitung bertemu bapakmu besok kupukulA Lagu yang dibawakan oleh pasangan Cak Diqin dan Wiwid di atas merupakan sebuah model lagu berlatar belakang budaya Jawa Suroboyoan. Hal ini tampak dari ragam warna bahasa Suroboyoan yang lebih dominan dibandingkan Mataraman. Kaitannya dengan hal itu, bahasa Indonesia sebagai bahasa berbahasa oleh penyanyinya. Dengan kata lain, warna penutur Jawa tampak tidak serta merta lepas begitu saja saat ia menuturkan bahasa Indonesia. Hal ini dapat disimak dari apa yang oleh masyarakat Jawa sendiri sebut sebagai medok. Istilah lokal yang lahir dari usaha memproduksi suara bahasa kedua dari penutur bahasa Jawa sebagai bahasa ibunya atau dengan kata lain menurut KBBI . masih kentara sekali aksen Adapun unsur linguistik puitis yang tampak terdengar dari lagu ini diantaranya adalah susunan rima /a-b-a-b/, /a-a-a-a/ dan /a-a-b-b/ dalam beberapa lariknya. Kemudian juga ada repetisi yang berupa perulangan frasa wis tak Asudah di-A dan kurang AkurangA. Selanjutnya terdengar aliterasi berupa perulangan konsonan /k/ dan /p/ dalam beberapa lariknya. Terakhir terlihat wujud asonansi yang berupa perulangan bunyi vokal /e, /a/ dan /u/ pada beberapa bagian lariknya. Menarik untuk dicermati dari temuan tiga lagu di atas adalah masing-masing lagu memberikan peran penutur bahasa pertama . ahasa ib. kepada penyanyi laki-laki sebagai pihak pertama. Sedangkan penyanyi Kesemuanya persis dibawakan seperti tanya jawab interaktif secara simultan SOSFILKOM Vol. XI No. 01 Tahun 2017 Iskandar. AuIdentitas Budaya dalam Komunikasi Antar-Budaya: Kasus Etnik Madura dan Etnik DayakAy. Jurnal Masyarakat dan Budaya. Vol. No. 2: hlm. Jakobson. AuLinguistics and PoeticsAy. The Discourse Reader. New York: Routledge. Kadarisman. AuPuitika Linguistik Pasca-Jakobson: Tantangan Menjaring Makna SimbolikAy. PELBBA 19. (Penyunting Yassir Nasaniu. Jakarta: PKBB Atma Jaya. Keraf. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Kridalaksana. Kamus Linguistik. Gramedia Pustaka Utama. Liliweri. Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sibarani. Antropolinguistik. Medan: Poda. Suryani. AuKomunikasi Antar Budaya yang EfektifAy. Jurnal Dakwah Tabligh. Vol. No. 1: hlm. Tim Penyusun Kamus. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Ketig. Jakarta: Balai Pustaka. tanpa diawali dengan alih kode terlebih Jadi jelaslah bahwa telah terjadi sebuah kontak budaya dengan bahasa yang Saat bernyanyi, mereka . satu sama lain dapat melakukan komunikasi secara aktif dan efektif dalam sebuah syair Di snsi, komunikasi yang dibangun dengan latar bahasa dan budaya yang berbeda terlihat dapat menghasilkan sebuah sinergitas yang harmonis satu sama lain. SIMPULAN KLB yang terjadi di dalam syair lagu Tarling dan Campursari dinyana tidak mereduksi keindahannya masing-masing. Struktur syair-syair lagu dari kedua genre tersebut begitu kentara dilihat dan didengar mengandung berbagai unsur linguistik puitis. Meskipun liriknya ditulis dalam dua bahasa dan berlatar budaya yang berbeda, namun tidak menghalangi berbagai fitur linguistik puitik masuk ke dalam beberapa larik dan Unsur linguistik puitis berupa berupa rima, idiom, aliterasi, asonansi, repetisi dan onomatopea nyatanya membangun struktur syair lagu dari kedua genre musik tersebut terasa lebih indah dan bermakna. Berbagai unsur linguistik puitis seperti halnya yang terdapat dalam syair-syair lagu yang dibahas di atas jika dikehendaki dapat pula dimasukkan ke dalam struktur bentuk KLB lainnya. Hal ini tentu saja bermaksud agar apa yang diungkapkan dapat terdengar lebih berkesan dan tersampaikan maksudnya. Meskipun demikian, semua itu kiranya dapat terjadi jika pemahaman budaya dari kedua belah pihak yang saling berkomunikasi terbangun dengan baik. Sedemikian sehingga, jika pemahaman lintas budaya masing-masing pihak yang berkomunikasi telah terbangun dengan baik, maka niscaya realisasinya berlangsung dengan baik pula. REFERENSI