Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Vol. No. Oktober 2025: 269-275 PERSPEKTIF FILOLOGIS TERHADAP BENDA-BENDA BUDAYA BERNUANSA SPIRITUAL PUSAKA NUSANTARA DALAM BABAD CIREBON Undang Ahmad Darsa1. Elis Suryani Nani Sumarlina2, dan Rangga Saptya Mohamad Permana3 Dosen dan Peneliti pada Departemen Sejarah dan Filologi. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Padjadjaran. Jatinangor. Sumedang Program Studi Televisi dan Film. Fakultas Ilmu Komunikasi. Universitas Padjadjaran. Jatinangor. Sumedang E-mail: 1undang. darsa@unpad. suryani@unpad. saptya@unpad. ABSTRAK. Artikel ini membahas tentang naskah Babad Cirebon. Kisah yang tertuang dalam teks naskah Babad Cirebon ini merupakan sebuah karya sastra bersifat sejarah daerah Cirebon yang berpusat pada kisah tokoh Raden Walangsungsang dan Sunan Gunungjati. Karya tersebut dapat dipandang sebagai refleksi masyarakat dan Dengan demikian, pengamatan, pendeskripsian, dan analisis terhadap benda-benda budaya sebagaimana tercatat dalam naskah Babad Cirebon ini tak lain dari pembicaraan tentang kebudayaan dan masyarakat yang menghasilkannya, baik dilihat dari dalam teks Babad Cirebon itu sendiri maupun dari luarnya. Pendekatan yang dilakukan terhadap hubungan naskah Babad Cirebon dengan alam sekitar pada dasarnya mempelajari naskah ini sebagai dokumen sosial, sebagai potret kenyataan sosial, mengingat ada semacam potret sosial yang bisa ditarik dari naskah Babad Cirebon. Kata-kata Kunci: Babad Cirebon. benda budaya. Nusantara PHILOLOGICAL PERSPECTIVES ON SPIRITUALLY INSPIRED CULTURAL OBJECTS OF THE INDONESIAN ARCHIPELAGO IN THE BABAD CIREBON ABSTRACT. This article discusses the Babad Cirebon manuscript. The story contained in the Babad Cirebon manuscript is a historical literary work of the Cirebon region that centers on the story of Raden Walangsungsang and Sunan Gunungjati. This work can be seen as a reflection of society and culture. Thus, the observation, description, and analysis of cultural objects as recorded in the Babad Cirebon manuscript are nothing other than discussions about culture and the society that produced them, both seen from within the Babad Cirebon text itself and from outside. The approach taken to the relationship of the Babad Cirebon manuscript with the surrounding environment is essentially studying this manuscript as a social document, as a portrait of social reality, considering that there is a kind of social portrait that can be drawn from the Babad Cirebon manuscript. Keywords: Babad Cirebon. cultural objects. Nusantara PENDAHULUAN Ada kecenderungan bahwa Babad Cirebon menghubungkan ceritanya dengan peristiwa Pembacanya seakan-akan dihadapkan kepada realitas kongkrit. Ini diperkuat dengan hubungan kejadian dengan tempat-tempat kongkrit sehingga menambah kesan kekongkritan Akan tetapi, apabila ditelaah lebih sungguh-sungguh, cerita dalam Babad Cirebon ini tidak mengeksplisitkan kronologi angka waktu suatu peristiwa yang nyata meskipun didukung dengan pelakunya yang kongkrit yang mungkin bertanggung jawab terhadap peristiwa itu. Hal tersebut mungkin berhubungan dengan kenyataan yang tidak nyata ke dalam kenyataan sehari-hari, yakni mengenai peristiwa keagamaan, mitos, legenda, dan pengetahuan lainnya sebagai suatu peristiwa secara lebih umum karena ada banyak pelaku yang terlibat dalam peristiwa itu. Dengan demikian, perbedaan hubungan sifat peristiwa dalam Babad Cirebon dapat ditafsirkan berdasarkan kerangka peristiwa yang terikat kepada suatu keadaan, meskipun kadang-kadang tak mungkin dilepaskan dari hubungan waktu. Dengan demikian, kerangka pemahaman tersebut perlu dipertimbangkan pula adanya hubungan benda-benda peninggalan kebudayaan masyarakatnya. METODE Naskah yang dijadikan objek pembahasan dalam artikel ini diperoleh dari koleksi Museum Negeri Jawa Barat . anpa bernomor kod. yang tersimpan dalam lemari khusus koleksi naskah Perspektif Filologis terhadap Benda-Benda Budaya Bernuansa Spiritual Pusaka Nusantara dalam Babad Cirebon (Undang Ahmad Dars. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 sehingga pada kesempatan ini diberi nama Babad Cirebon Museum Negeri Jawa Barat . isingkat BCMNJB). Pemberian judul Babad Cirebon terhadap naskah tersebut tersurat pada lembar halaman pertama yang berupa manggalasastra berisi doxologi, yaitu bentuk puji-pujian atau ucapan doa atas keagungan Tuhan YME, serta amanat bagi para pembaca cerita, sebagaimana tampak pada kutipan berikut: Bismillyhirrahmynirrahym. Jeung deui macana kudu hadiah heula maca fatihah sarta disuhunkeun karamatna. Hana Wawacan Babad Cirebon nyaritakeun ratuning pusaka terahing turunan Rasulullah Solallahu Alaihi Wassalam. Ieu minangka jimat nyaritakeun parnabi, parwali sakabyh, lan parmalaikat, parmumin sakabehing. Anu diwaca jeung deui ulah dipaky heureuy, hanteu meunang dipaky kaulinan . AoBismillyhirrahmynirrahym. AoDengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dan membacanya pun harus didahului oleh bacaan Fatihah serta dimohon keramatnya. Adalah Wawacan Babad Cirebon yang mengisahkan ratu pusaka keturunan Rasulullah Solallahu Alaiyhi Wassalam. Inilah azimat yang berisi kisah para nabi, para wali, dan para malaikat, serta para mukmin sekalian. Yang dibaca janganlah sekali-sekali dipakai lelucon, dan tidak boleh dipermainkanAo. Dalam meneliti naskah Babad Cirebon ini digunakan metode kajian filologi yang terfokus pada kritik naskah . ajian kodikolog. dan kritik teks . ajian tekstolog. Kajian kodikologi dilakukan untuk menginventarisasi, mengidentifikasi, dan mengdeskripsi naskah. Kajian tekstologi dimaksudkan guna mengungkap isi atau kandungan teks naskah. Adapun metode penelitian yang digunakan ialah metode kualitatif dalam lingkup deskriptif analisis yang dimaksudkan untuk mencatat, menuturkan, dan menafsirkan data melalui sebuah proses pemahaman yang akan sangat bergantung pada keadaan data dan nilai bahan atau data objek penelitian yang digarap. Dengan demikian metode tersebut digunakan untuk mendeskripsikan naskah dari berbagai aspek beserta menganalisis kandungan teks secara jelas dan terperinci. HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi Naskah BCMNJB Kondisinya naskah BCMNJB ini masih baik, dengan ukuran lembar halaman 20,5 x 17,5 cm. dan ukuran ruang tulisan 18 x 12,5 cm. Tebal keseluruhan ada 250 halaman, dan tiap-tiap halaman terdiri atas 13 baris kecuali lembar pertama yang memuat judul naskah berjumlah 9 baris serta lembar terakhir sebanyak 12 baris. Redaksi teks ditulis dalam aksara Pegon berukuran sedang dan rapih serta mudah dibaca, dengan menggunakan kertas tanpa garis. Digubah dalam bentuk wawacan yang terdiri atas 40 pupuh, diawali dengan pupuh Dangdanggula yang juga diakhiri dengan nama pupuh yang sama. Tetapi teks pada lembar pertama ditulis dengan model piramid terbalik dan tidak terikat dengan ketentuan metrum pupuh. Demikian pula gaya penulisan pada lembar terakhir sama sebagaimana halnya pada lembar pertama, namun terikat oleh ketentuan metrum pupuh Dangdanggula. Tiap-tiap padalisan dalam setiap pupuh ditandai garis miring kecil ), dan antara pada yang satu dengan pada lainnya dibatasi tanda berbentuk Adapun untuk menandai judul atau nama pupuh, bentuk tanda tersebut digunakan antara tiga hingga tujuh buah mengapit sebelah kiri-kanannya. Selanjutnya dinyatakan bahwa naskah ini mengisahkan manusia-manusia beserta para malaikat yang memegang peranan penting pengemban misi Tuhan untuk menyebarkan agama Islam kepada seluruh umat manusia. Hal ini tampak pada kutipan berikut ini: Hana Wawacan Babad Cirebon nyaritakeun ratuning pusaka terahing turunan Rasulullah Solallahu alaihi wassalam ieu minangka jimat nyaritakeun parnabi parwali sakabyh lan parmalaikat parmuAomin sakabyhing . AoAdalah Wawacan Babad Cirebon yang mengisahkan Ratu Pusaka keturunan Rasulullah SolallahiAoalaihi wassalam. Ini merupakan azimat tentang kisah para nabi, para wli, para malaikat, dan para mu. seluruhnyaAo. Redaksi teks naskah BCMNJB ini cenderung merupakan saduran dari naskah induk yang berbahasa Jawa sebagaimana tersurat secara eksplisit dalam redaksi teks berikut: Perspektif Filologis terhadap Benda-Benda Budaya Bernuansa Spiritual Pusaka Nusantara dalam Babad Cirebon (Undang Ahmad Dars. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 , asalna anu diturun, basa Jawa tapi ku kula, diganti ku basa Sunda, . : . Ao. , sumber asal yang disalin, berbahasa Jawa tetapi saya terjemahkan ke dalam bahasa Sunda, . Ao Berdasarkan kenyataan kisah yang tersurat pada redaksi teks lembar halaman akhir naskah ini, ceritera tamat hingga runtuhnya Kerajaan Galuh, yang para pembesar serta rajanya yang tidak tunduk kepada Sunan Gunungjati. Mereka menyatukan diri dengan bangsa siluman. Ratu Galuh geus iblis, marakayang campur jeung siluman, . (BCMNJB, 40: . Tamat wallahuAoalam tanggal 21 Sapar 1363 Hijriyah. AoRatu Galuh sudah menjadi iblis . , gentayangan bergabung dengan siluman, . Tamat WallahuAoama pada tanggal 21 Sapar 1362 H . Februari 1943 M)Ao. Model Penyajian BCMNJB Redaksi teks naskah BCMNJB ini menggunakan tiga cara penyajian. Pertama, bentuk monolog yang menunjukkan sebuah percakapan dengan diri sendiri menyangkut sikap, perbuatan atau kesadaran akan kedudukan dirinya, yang kadang-kadang muncul ide atau cita-citanya. Kedua, bentuk cerita yang sepenuhnya dikuasai oleh pengarang melalui ungkapan kalimat tak langsung dengan maksud mengisahkan masa lampau atau peristiwa yang telah terjadi. Ketiga, bentuk dialog yang diungkapkan melalui kalimat langsung mengaktifkan para tokoh ceritanya. Bentuk ini dapat dibedakan lagi atas dialog langsung dan dialog tak langsung. Dialog tak langsung dibedakan lagi menjadi dialog dengan orang lain, dan dialog dengan Hyang Gaib serta mahluk atau benda-benda pusaka. Bentuk-bentuk penuturan ini pun digubah ke dalam puisi tembang yang didasarkan atas konvensi metrum pupuh yang dalam khazanah susastra Sunda dikenal dengan istilah wawacan. Melalui bentuk penyajian seperti itu dimaksudkan dalam rangka: pertama, mengaktualisasikan masa lampau kepada masa kini. kedua, memberi gambaran atau dugaan atas masa yang akan datang. dan ketiga, menghidupkan cerita sehingga menarik serta bisa dinikmati para pembacanya. Itulah yang mungkin merupakan salah satu bukti dari sifat utile AobermanfaatAo dan dulce AonikmatAo sebagai tujuan dan fungsi karya sastra yang pertama kali dipaparkan oleh Horatius . SM-8 M). Tentunya sifat demikian akan senantiasa menjadi ciri dari sifat karya sastra yang berlaku dalam tiga dimensi waktu. masa lampau, masa sekarang, dan masa datang. Itu pulalah yang membuat BCMNJB berbeda dengan buku harian, atau surat dalam kaitannya dengan kenyataan. Dalam hal ini, tidak sekedar memandang naskah BCMNJB sebagai perwujudan pengalaman pengarang, tetapi merupakan mata rantai tradisi sastra dan konvensi. Bagaimanapun tetap ada hubungan, kesejajaran, dan kesamaan tidak langsung antara BCMNJB dan pengarangnya. Dengan kata lain. BCMNJB bisa merupakan topeng atau suatu konvensi yang didramatisir, yang dipakai jelas berdasarkan pengalaman dan kehidupannya Dalam konteks inilah kita berupaya mencari persamaan langsung antara pengalaman dan perasaan pengarang di dalam dan di luar Bias-bias Keberadaan Benda-benda Budaya dalam BCMNJB Gambaran mengenai keberadaan bendabenda budaya dalam teks naskah BCMNJB boleh dikatakan muncul semenjak awal-awal kisah penceritaan yang menyertai kemunculan tokohtokoh cerita dalam redaksi teks naskah tersebut. Hal yang dimaksud dapat diamati ketika terjadi peristiwa mimpi yang dialami Raden Walangsungsang bertemu dengan utusan Hyang Widi memberi wejangan tentang syariat agama Islam Nabi Muhammad kepadanya sehingga membuat ayahanda. Prabu Siliwangi, murka karena bertentangan dengan agama yang dianut kebanyakan masyarakat Pajajaran ketika itu. Keadaan inilah yang menyebabkan Walangsungsang meninggalkan keraton Pakwan Pajajaran hingga terlunta-lunta. Berdasarkan urutan peristiwa sejak kepergian tokoh Raden Walangsungsan itu dapat diidentifikasi keberadaan benda-benda budaya yang tertcatat dalan teks naskah BCMNJB, sebagai . Pertama-tama Raden Walangsungsang tiba di gunung Marapi (Tangkubanparah. Ia bertemu dengan pendeta Danuwarsih dan dinikahkan kepada putrinya. Nyai Indanggeulis. Di gunung Marapi (Tangkubanparah. ini pula Nyai Rarasantang yang dihadiahi pusaka azimat Baju Antakusumah oleh Nyai Indang Saketi (Sapiras. berhasil Perspektif Filologis terhadap Benda-Benda Budaya Bernuansa Spiritual Pusaka Nusantara dalam Babad Cirebon (Undang Ahmad Dars. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 menemukan kakaknya, yakni Raden Walangsungsang. Atas petunjuk mertuanya. Walangsungsang pergi menemui Sanghyang Nanggo di gunung Ciangkup disertai istri dan adiknya yang dimasukkan dalam Ali-ali Ampal pemberian dari mertuanya itu. Di gunung Ciangkup. Sanghyang Nanggo memberi Aji ilmu kedewaan dan sebilah Golok Cabang kepada Walangsungsang yang sekaligus disarankan untuk menemui Sanghyang Naga di gunung Kumbang. Di gunung Kumbang. Sanghyang Naga memberikan Aji ilmu kesaktian dan pusaka azimat berupa Kopeah Waring. Badong Batok, dan Umbul-umbul Waring kepada Walangsungsang yang sekaligus disarankan agar menemui Sanghyang Bangau yang berkuasa di gunung Cangak. Di gunung Cangak. Walangsungsang berhasil menjebak Raja Bangau berkat ilmu dan pusaka azimat yang telah dimilikinya. Raja Bangau memberikan tiga buah pusaka azimat berupa Piring Panjang. Pendilwesi, dan Piring Bareng (Bend. kepada Walangsungsang yang sekaligus menyarankannya agar menemui Syekh Nurjati yang berasal dari Mekah yang tinggal di gunung Jati dan telah memahami syariat ajaran agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Syarif Hidayat menyembuhkan Naga Pertala dan menerima azimat Cincin Marbut Putih lalu mendapat petunjuk jalan ke Pulau Majeti untuk menemui seorang pertapa. Syekh Nata Ula asal Mekah yang tak berhasil menemui Syekh Nurbayan bertapa di Pulau Marda alias Pulau Majeti bertemu dengan Syarif Hidayat lalu bersama-sama hendak mengambil Cincin Mamlukat. Syarif Hidayat memperoleh Cincin Mamlukat Nabi Sulaeman dan nama baru sebagai Imam Lukat Raspati. Syarif Hidayat bertemu dengan Kendi dan menerima Wangsit. Berkat Cincin Mamlukat akhirnya Syekh Nurjati dapat dijumpai oleh Syarif Hidayat. Syeh Nurjati dengan nama Syekh Lemah Abang atau Pangeran Madati menghilang setelah menyerahkan Kitab Agung kepada Syarif Hidayat. Syekh Bayanullah hendak berguru setelah melihat keampuhan Keramat Kalimat Syaha- dat yang diucapkan Syarif Hidayat bisa mengubah Buah Pohon Pinang menjadi emas. Syekh Nata Ula alias Syekh Damar Cahaya menyatakan hendak berguru ketika air tempat pertapaannya kering berkat Keramat Kalimat Syahadat Syarif Hidayat. Syarif Hidayat bermupakat kitab warisan Syarif Juned asal Mekah dengan Syekh Mayang. Sunan Kendal yang Bertapa Bisu namun ketahuan Syarif Hidayat, lalu ia hendak berguru kepada Syarif Hidayat. Syarif Hidayat bertemu dengan Syekh Makdum yang bertapa Muncung di Blambangan. Syarif Hidayat di Madura bertemu dengan Pangeran Kajoran yang bertapa menatap . Syarif Hidayat diberi tahu Nabi Khidir bahwa puteri itu adalah anaknya, lalu menerima Azimat Antabumi dan nama Nyi Junti untuk . Nyi Indang Geulis menyerahkan Kandaga atas pesan suaminya kepada Syarif Hidayat. Negeri Tuban dijual oleh Nurkamal, uangnya dibelikan dongeng dari kakek-kakek dan dihadiahi Keris si Bonet. Sahid Abdurahman menangkap Kelabang Putih yang keluar dari kemaluan putri dan berubah menjadi Keris Kalamuyeng. Syekh Mayang Dulkahfi memperlihatkan keampuhan Keramat Kalimat Syahadat kepada penyamun (Sahid Abdurahman alias Lokajay. Dewi Araswulan bermikraj dan dihadiahi Baju Kulit Ular oleh Dzulkarnaen. Dewi Araswulan siuman lalu menunggangi Kijang Jadi-jadian milik Nabi Khidir. Raja Rum yang tengah bertapa nyungsang dimintai pertanggungjawaban atas kehamilan Dewi Araswulan. Pangeran Drajat alias Kidang Talangkas lahir dari ibu jari Dewi Araswulan. Sahid Abdurahman diajari ilmu agama oleh Nabi Khidir serta diberi Sebilah Pisau di Pulau Hening. Sahid Abdurahman menerima Kitab Mustaka Jamus dari Prabu Kontea, lalu menemui Syarif Hidayat untuk mencoba kekuatan . Sahid Abdurahman menyerahkan Layang Kalimah dan Kitab Jamus kepada Syarif Perspektif Filologis terhadap Benda-Benda Budaya Bernuansa Spiritual Pusaka Nusantara dalam Babad Cirebon (Undang Ahmad Dars. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Hidayat. Syarif Hidayat mencetak wayang, mendirikan Mesjid Agung AuSang CiptarasaAy Cirebon. Sunan Kudus . lias Syekh Nata Ul. diangkat senapati Islam dengan dipinjami Baju Si Bonet oleh Sunan Kalijaga (Pangeran Tuba. Nyi Panguragan bersembunyi pada Jubah Sunan Purba. Pangeran Suka lemah. Patih Gempol dari Galuh tampil mengendarai Kuda Sembrani, tak terlawan oleh para panglima Islam. Pangeran Cakrabuana membawa Golok Cabang maju ke medan perang, melihat Patih Gempol mengendarai Kuda Terbang. Kuwu Sangkan (Pangeran Cakrabuan. melemparkan Kopeah Waring. Elek dan Igel linglung lalu tertangkap. Pangeran Cakrabuana masuk ke dalam Kendi tempat persembunyian Ratu Galuh. Golok Cabang. Aji ilmu kesaktian. Kopeah Waring. Badong Batok. Umbul-umbul Waring. Piring Panjang. Pendilwesi. Piring Bareng (Bend. Cincin Marbut Putih. Cincin Mamlukat (Nabi Sulaema. Kitab Agung. Keramat Kalimat Syahadat. Azimat Antabumi. Kandaga. Baju Si Bonet. Keris Kalamuyeng. Baju Kulit Ular. Sebilah Pisau. Kitab Mustaka Jamus. Jubah Sunan Purba. Kuda Sembrani. Kuda Terbang, dan Kendi. SIMPULAN Atmadja. Sastra. Boekoe Tjerita Babad Tjirebon (Hikajat ini ditjeritaken dari boekoe Bataviaasch Genootschap van Kunsten dan Wetenschappen, jang dikaloewarken oleh Dr. Rinkes. Tersalin ka Bahasa Melajoe Renda. Semarang: Kho Tjeng Bie & Co Batavia. Secara terminologis, benda-benda peninggalan kebudayaan . lihat Harahap, 1952. Satjadibrata, 1954. LBSS, 1. dapat dikategorikan ke dalam golongan atau kategori: Pertama, perkakas yaitu benda budaya yang berupa perabotan atau alat-alat yang dipakai sehari-hari, baik di rumah . empat tidur, lomari, ) maupun pada pertukangan atau profesi Kedua, senjata atau pakarang, gagaman yaitu benda budaya yang berupa perabotan atau alat-alat yang dipergunakan, baik untuk menyerang maupun untuk bertahan di medan pertempuran atau dan Ketiga, pusaka yaitu benda budaya yang awalnya sebagai perkakasas maupun senjata yang diperoleh melalui warisan secata turuntemurun, petunjuk ilapat atau wangsit hasil tirakat di tempat tertentu. Adapun bentuknya bisa berwujud . lisan seperti mantra dan/atau doa . tulisan-tulisan pada media tertentu. maupun benda dan/atau barang tertentu. Barang pusaka tersebut statusnya dianggap sebagai azimat yang dikeramatkan sehingga dianggap memiliki memiliki kekuatan supranatural yang berfungsi sebagai penjaga keselamatan dan penangkal segata Adapun benda-benda tinggalan budaya yang tercatat dalam naskah Babad Cirebon pada umumnya termasuk dalam kategori benda pusaka yang bernuansa supranatural, yakni: Baju Antakusumah. Ali-ali Ampal. Aji ilmu kedewaan. DAFTAR PUSTAKA