STRATEGI SELF-REGULATED LEARNING (Perspektif Teoriti. Abd. Mukhid Abstrak: Self-regulated learning secara umum dicirikan sebagai partisipan yang aktif yang mengontrol secara efisien pengalaman belajar mereka sendiri dengan cara yang berbeda, mencakup menentukan lingkungan kerja yang produktif dan menggunakan sumber-sumber secara efektif, mengorganisir dan melatih informasi untuk dipelajari, memelihara emosi yang positif selama tugas-tugas akademik, dan mempertahankan kepercayaan motivasi yang positif tentang kemampuan mereka, nilai belajar, dan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar. Pebelajar pengaturan diri . elf-regulation learner. belajar melalui pengalaman dan refleksi diri . elf-reflectio. Kata kunci : Self-regulated learning, metakognisi, motivasi, perilaku, evaluasi, monitoring diri Pendahuluan Self-regulated learning menunjuk kepada belajar yang sebagian besar terjadi dari pikiran, perasaan, strategi, dan perilaku yang dihasilkan pebelajar sendiri yang ditujukan kepada pencapaian tujuan. Self-regulated learners tidak saja perlu memiliki kognisi . nowledge to build upo. , dan metakognisi . nowledge and monitoring learning strateg. , tetapi mereka juga harus termotivasi menggunakan strategi metakognisi mereka untuk membangun pemahaman mereka terhadap bahan-bahan pembelajaran. 2 Penelitian menunjukkan bahwa kemampaun personal yang memungkinkan pebelajar menjadi pebelajar Schunk dan B. Zimmerman. Self-regulated Learning: From Teaching to Self-Reflective Prctice (New York: The Guilford Press, 1. , hlm. Pintrich dan De Groot. AuMotivational and Self-regulated learning Component of Classroom Acedemic PerformanceAy, dalam Journal of Educational Psychology, . , 1, 1. , hlm. Strategi Self-regulated Learning yang independen dan mengembangkan inti kegembiraan . adalah sangat berhubungan dengan prestasi . Pemahaman konsep tentang self-regulation adalah penting dalam pengembangan kemampuan prestasi pebelajar. Self-regulated learning adalah tindakan prakarsa diri . elf-initiate. yang meliputi goal setting dan usaha-usaha pengaturan untuk mencapai tujuan, pengelolaan waktu, dan pengaturan lingkungan fisik dan sosial. Untuk membantu pebelajar agar belajar mereka menjadi efektif, pendidik hendaknya membantu pebelajar menjadi percaya atas caracara alternatif terhadap pendekatan situasi belajar. 5 Tetapi Weistein dan Mayer menjelaskan bahwa strategi belajar itu bisa cocok bagi seorang pebelajar, dan mungkin tidak cocok bagi pebelajar yang lain. Pengertian Self-regulated learning Ada beberapa kata yang dipadankan dengan self-regulated learning seperti pengendalian diri . elf-contro. , disiplin diri . elf-discipline. , dan pengarahan diri . elf-directe. Meski demikian, kesemuanya memiliki pengertian yang berbeda-beda. Self-regulated learning adalah kemampuan untuk menjadi partisipan yang aktif secara metakognisi, motivasi, dan perilaku . di dalam proses belajar. 7 Secara metakognisi, self-regulated learner merencanakan, mengorganisasi, mengarahkan diri, memonitor diri, dan mengevaluasi diri pada tingkatan-tingkatan yang berbeda dari apa yang mereka pelajari. Secara Zimmerman dan M. Martinez-Pons. AuDevelopment of Structured Interview for Assessing Student use of Self-regulated learning StrategiesAy dalam American Educational Research Journal, . , 1. , hlm. Zimmerman dan Risemberg R. AuSelf-Regulatory Dimensions of Academic Learning and MotivationAy dalam D. Phye (Ed. Handbook of Academic Learning: Constructing of Knowledge (San Diego: Academic Press, 1. , hlm. McKeachie. AuThe Need for Study Strategy Training. In C. Weinstein Au dalam E. Goetz, & P. Alezander (Ed. Learning and Study Strategies: Issues in Assessment. Instruction, and Evaluation (San Diego: Academic Press, 1. , hlm. Weistein dan R. Mayer. AuThe Teaching and Learning StrategiesAy dalam M. Wittrock (Ed. Handbook of Research on Teaching (New York: MacMillan,1. Zimmerman. AuA Social Cognitive View of Self-regulated LearningAy dalam Journal of Educational, . , 1. Tadrys. Volume 3. Nomor 2. Abd. Mukhid motivasi, mereka merasa diri mereka sendiri kompeten, selfefficacious, dan mandiri . Secara perilaku . , mereka memilih, menyusun, dan membuat lingkungan mereka untuk belajar yang optimal. Di samping itu, self-regulated learning juga merupakan motivasi secara intrinsik dan strategi. 8 Pengertian lain diberikan oleh Corno dan Mandinach bahwa self-regulated learning adalah suatu usaha untuk memperdalam dan memanipulasi jaringan asosiatif dalam suatu bidang khusus . ang tidak perlu membatasi pada isi akademi. , dan memonitor serta meningkatkan proses-proses yang mendalam. 9 Selfregulated learning mengacu pada perencanaan yang hati-hati dan monitoring terhadap proses-proses kognitif dan afektif yang tercakup dalam penyelesaian tugas-tugas akademik yang berhasil dengan baik. Bandura mendefinisikan self-regulation sebagai kemampuan untuk mengontrol perilaku mereka sendiri dan juga pekerja keras. Bandura mengajukan 3 . langkah self-regulation: . observasi diri . , kita melihat diri kita sendiri, perilaku kita, dan . , membandingkan apa yang dilihat dengan suatu standar. respon diri . elf-respons. , jika kita lebih baik dalam perbandingan dengan standar kita, kita memberi penghargaan jawaban diri pada diri kita sendiri. Jika menjadi kurang baik, kita memberi hukuman jawaban diri pada diri kita sendiri. Strategi self-regulated learning mencakup evaluasi diri . elf-evaluatio. , pengorganisasian dan transformasi, penetapan dan perencanaan tujuan . oal-setting & plannin. , pencarian informasi . eeking informatio. , pencarian dokumen . eeking record. dan monitoring, pembangunan lingkungan . nvironmental structurin. , konsekuensi diri . elf-consequatin. Winne & N. Perry. AuMeasuring Self-regulated LearningAy dalam M. Boekaerts et. (Ed. Handbook of Self-regulation (Orlando. L: Academic Press. Lihat juga B. Zimmerman. AuSelf-regulated Learning and Academic Achievement: An OverviewAy dalam Educational psychologist, . , 1. Corno dan EB. Mandinach. AuThe Role of Cognitive Engagement in Classroom Learning and MotivationAy dalam Educational Psychologist, 18 . , 1. , hlm. Ibid. Bandura. Social Learning Theory (Englewood Cliffs. NJ: Prentice Hall Publishers, 1. Tadrys. Volume 3. Nomor 2. Strategi Self-regulated Learning pelatihan . dan penghafalan . , mencari bantuan sosial, dan pemeriksaan laporan . eviewing record. 12 Yang . melaporkan bahwa pada self-regulatory learners: . pebelajar dengan pengaturan yang tinggi . igh regulator. cenderung belajar lebih baik di bawah control pebelajar dari pada control program. pebelajar pengaturan diri yang tinggi dapat memonitor, mengevaluasi, atau mengelola belajar mereka dengan efektif selama pembelajaran terkontrol dengan memberikan pelekatan pertanyaan-pertanyaan. control pebelajar mereduksi waktu/jam pembelajaran yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pelajaran. pebelajar pengaturan diri yang tinggi mengelola belajar dan waktu mereka dengan efisien. Pintrich mendefinisikan self-regulated learning sebagai suatu proses yang aktif, konstruktif, di mana pebelajar menetapkan tujuan belajar mereka dan kemudian memonitor, mengatur, dan mengontrol kognisi, motivasi, dan perilaku mereka, yang dipandu oleh tujuantujuan mereka dan segi kontekstual terhadap lingkungan. 14 Selfregulated learning secara umum dicirikan sebagai partisipan yang aktif yang mengontrol secara efisien pengalaman belajar mereka sendiri dengan cara-cara yang berbeda, mencakup menentukan lingkungan kerja yang produktif dan menggunakan sumber-sumber secara efektif, mengorganisir dan melatih informasi untuk dipelajari, memelihara emosi yang positif selama tugas-tugas akademik, dan mempertahankan kepercayaan motivasi yang positif tentang kemampuan mereka, nilai belajar, dan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar. Zimmerman. AuModels of Self-regulated learning and Academic AchievementAy dalam B. Zimmerman & D. Schunk (Ed. Self-regulated learning and Academic Achievement: Theory. Research, and Practice (New York: SpringerVerlag, 1. , hlm. Yang. AuThe Effects of Self-Regulatory Skills and Type of Instructional Control on Learning from Computer-Based InstructionAy dalam International Journal of Instructional media, 20. , 1. , hlm. Pintrich. AuThe Role of Goal Orientation in Self-regulated learningAy dalam M. Boekaerts,et. (Ed. Handbook of Self-regulation (San Diego: Academic, 2. Schunk dan B. Zimmerman (Ed. Self-regulation on Learning and Performance: Issues and Educational Applications. (Hillsdale: Lawrence Erlbaum Associates, 1. Tadrys. Volume 3. Nomor 2. Abd. Mukhid Para ahli teori sosial menganggap bahwa self-regulation yang efektif tergantung pada kepercayaan pebelajar dalam kemampuan mereka untuk mencapai jenis-jenis performan yang ditunjuk . eperti perasaan self-efficacy mereka. 16 Menurut Schunk, self-regulated learners adalah self-efficacious untuk belajar dengan ketrampilan selfregulatory yang lebih rendah, yang terlebih dahulu percaya bahwa mereka dapat menggunakan ketrampilan pengaturan diri mereka untuk membantu belajar mereka. Secara umum, para peneliti yang mempelajari pengaturan diri akademik berusaha memahami bagaimana pebelajar menjadi ahli atas proses-proses belajar mereka sendiri. Satu segi atau keistimewaan dari definisi ini adalah bagaimana dan mengapa pebelajar memilih menggunakan proses atau strategi yang khusus. Segi atau keistimewaan utama self-regulated learning adalah metakognisi. Metakognisi berkenaan dengan kesadaran . , pengetahuan . , dan kontrol kognisi. Tiga proses yang membangun kegiatan pengaturan diri . elf-regulator. metakognitif adalah perencanaan, monitoring, dan pengaturan . Pebelajar pengaturan diri . elf-regulation learner. belajar melalui pengalaman dan refleksi diri . elf-reflectio. Guru dapat mengajar dengan cara membantu pebelajar menjadi pebelajar self-regulating. 17 Self-regulated learning terutama sekali cocok untuk mahasiswa, karena mereka memiliki kontrol yang besar melebihi rencana waktu mereka sendiri, dan bagaimana mereka mendekati pelajaran dan belajar mereka. Bandura. Self-Efficacy: The Exercise of Control (New York: W. Freeman and Company, 1. Lihat juga B. Zimmerman. AuAttaining Self-regulation: A Social Cognitive PerspectiveAy dalam Boekaerts, et. (Ed. Handbook of Self-regulation (San Diego: Academic, 2. , hlm. Lihat juga D. Schunk. AuSelf-regulated Learning: The Educational Legacy of Paul R. PintrichAy dalam Educational Psychologist, 2. McCombs. AuSelf-regulated Learning and Academic Achievement: A Phenomenological ViewAy dalam B. Zimmerman & D. Schunk (Ed. Selfregulated Learning and Academic Achievement: Theory. Research, and Practice (New York: Springer-Verlag, 1. Pintrich. AuUnderstanding Self-regulated learningAy dalam R. Menges & M. Svinicki (Ed. Understanding Self-regulated learning. New Directions for Teaching and Learning (San Francisco: Jossey-Bass Publishers, 1. , hlm. Tadrys. Volume 3. Nomor 2. Strategi Self-regulated Learning Karakteristik Self-regulated Learning Menurut Zimmerman, self-regulating students dicirikan oleh partisipasi aktif pebelajar dalam belajar dari metakognitif, motivasi, dan perilaku. 19 Karakteristik yang berhubungan pada self-regulating persons serupa dengan karakteristik yang berhubungan dengan performan yang tinggi, kecakapan pebelajar yang tinggi . igh-capacity student. , sebagai lawan dari performan yang rendah atau ketidakmampuan belajar . earning disabilitie. Berdasarkan hasil penelitian,21 karakteristik perbedaan para pebelajar yang belajar dengan self-regulate dengan yang tidak adalah: Mereka familiar dengan dan mengetahui bagaimana menggunakan suatu seri strategi kognitif . epetisi, elaborasi, dan organisas. , yang membantu mereka menyelesaikan, mengubah . , mengatur . , memperluas . , dan memperoleh kembali informasi . ecover informatio. Mereka mengetahui bagaimana merencanakan, mengontrol dan mengatur proses mental mereka terhadap pencapaian tujuan-tujuan personal . Mereka menunjukkan sekumpulan kepercayaan motivasi . otivational belief. , seperti perasaan academic self-efficacy, pemakaian tujuan-tujuan belajar, pengembangan emosi positif terhadap tugas-tugas . eperti kegembiraan, kepuasan, dan semangat Mereka merencanakan dan mengontrol waktu dan upaya yang digunakan untuk tugas-tugas, dan mereka mengetahui bagaimana membuat dan membangun lingkungan belajar yang baik, seperti menemukan tempat belajar yang cocok, dan pencarian bantuan . elp-seekin. dari guru/teman sekelas ketika menemui kesulitan. Untuk perluasan konteks yang diberikan, mereka menunjukkan upaya-upaya yang lebih besar untuk ambil bagian dalam control Zimmerman. AuBecoming a Self-Regulated Learner, hlm. Zimmerman. AuDeveloping Self-Fullfilling Cycles of Academic Regulation: An Analysis of Exemplary Instructional ModelAy, dalam D. Schunk & B. Zimmerman (Ed. Self-regulated Learning: From Teaching to Self-Reflective Practice (New York: Guilford, 1. , hlm. Corno. AuVolitional Aspects of Self- Regulated LearningAy dalam Zimmerman dan Schunk (Ed. Self-regulated Learning, hlm. Tadrys. Volume 3. Nomor 2. Abd. Mukhid dan pengaturan tugas-tugas akademik, suasana dan struktur kelas, desain tugas-tugas kelas, dan organisasi kelompok kerj. Pada akhirnya, karakteristik pebelajar self-regulated learning adalah mereka melihat diri mereka sebagai agen perilaku mereka sendiri, mereka percaya belajar adalah proses proaktif, mereka memotivasi diri dan menggunakan strategi-strategi yang memungkinkan mereka meningkatkan hasil akademik yang diinginkan. Komponen Self-regulation of Learning Self-regulation of learning merupakan kegiatan memonitor dan mengontrol belajar diri pebelajar itu sendiri. Pengaturan belajar memiliki beberapa komponen, seperti motivasi, kepercayaan asal . pebelajar, metakognisi, strategi belajar, dan pengetahuan sebelumnya . roir knowledg. Motivasi membantu pebelajar mengambil usaha yang diperlukan untuk memonitor dan mengontrol Kepercayaan epistemik adalah apa yang pebelajar percaya tentang sifat-dasar belajar . ature of learnin. Metakognisi adalah berfikir tentang pikiran . hinking about thinkin. , yakni kemampuan untuk memahami apa yang perlu dikerjakan dalam suatu keadaan yang 22 Metakognisi membantu pengaturan dengan memberikan pengetahuan tentang strategi belajar yang hendak digunakan. Strategi belajar adalah aktifitas mental yang digunakan pebelajar ketika mereka belajar untuk membantu diri mereka sendiri dalam memperoleh, mengorganisasi, atau mengingat pengetahuan yang baru masuk yang lebih efisien. Weinstein dan MacDonald mengajukan kategorisasi strategi belajar sebagai berikut:23 Tambahan pengetahuan . nowledge acquisitio. seperti analogis, yang membantu pebelajar mengorganisasi pengetahuan baru dan mengintegrasikannya dengan pengetahuan sebelumnya. Monitoring menyeluruh . eperti praktek, yang membantu pebelajar mengetahui kapan mereka harus atau tidak belaja. Reed dan S. Giessler. AuPrior Computer-Related Experiences and Hypermedia MetacognitionAy dalam Computer in Human Behavior, 11. -4, 1. Weinstein dan J. MacDonald. AuWhy does a School psychologist Need to Know About Learning Strategies?Ay dalam Journal of School Psychology, hlm. Tadrys. Volume 3. Nomor 2. Strategi Self-regulated Learning Strategi belajar aktif . eperti mencatat tugas, yang memungkinkan pebelajar membangun pengetahuan secara aktif dan partisipator. Strategi yang mendukung . eperti mengorganisasi meja yang akan menjadikan belajar kondusi. Corno dan Mandinach membagi komponen self-regulation menjadi lima komponen penting yang dikelompokkan ke dalam dua kategori, yaitu: . proses pemerolehan informasi, yang meliputi kesiapsiagaan . enerima dan mengikuti jalan informasi dan monitoring. proses transformasi atas kemampuan memilih . , menghubungkan . , dan merencanakan . Fase-Fase Self-regulated Learning Menurut Pintrich, proses-proses regulatory dikelompokkan ke dalam empat fase, yaitu perencanaan, monitoring diri, kontrol, dan evaluasi, di mana dalam setiap fase aktifitas self-regulation tersusun ke dalam empat area, yaitu kognitif, motivasional/afektif, behavioral, dan Empat fase tersebut menggambarkan rangkaian umum di mana pebelajar melangkah terus menyelesaikan tugas, tetapi mereka tidak menyusunnya secara hirarkhi atau linier. Fase-fase tersebut dapat terjadi secara simultan . dan dinamis, yang menghasilkan interaksi ganda di antara proses-proses dan komponen-komponen yang Meski demikian, tidak semua tugas-tugas akademik secara eksplisit . engan tega. meliputi self-regulation. Terkadang, prestasi atau performan pada tugas-tugas tertentu tidak mewajibkan siswa secara strategi merencanakan, mengontrol, dan mengevaluasi apa yang dikerjakan siswa. Pelaksanaan self-regulated learning dapat dilakukan lebih atau kurang secara otomatis . tau secara mutlak/implisi. Pada fase pertama, proses self-regulating dimulai dengan perencanaan, di mana aktifitas-aktifitas penting di dalamnya seperti serangkaian tujuan yang diinginkan atau tujuan khusus yang diminta setelah tugas . enetapan tujuan yang ditargetka. Bidang kognitif ini adalah aktivasi/penggerakan atau pengetahuan sebelumnya tentang bahan dan pengetahuan metakognisi . engakuan kesulitan-kesulitan Corno dan Mandinach. AuThe Role of Cognitive Engagement, hlm. Lihat Pintrich. AuThe Role of Goal Orientation. Tadrys. Volume 3. Nomor 2. Abd. Mukhid yang tercakup dalam tugas-tugas yang berbeda, identifikasi pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan mereka, pengetahuan tentang sumber-sumber dan strategi yang dapat digunakan dalam menujukan tugas, dan seterusny. Bidang motivasional/afeksi adalah penggerakan kepercayaan motivasi . elf-efficacy, tujuan, nilai yang diberikan pada tugas, minat pribad. dan emosi-emosi. Bidang perilaku . adalah perencanaan waktu dan usaha untuk tugas-tugas. Sedang bidang kontekstualnya adalah penggerakan persepsi berkenaan dengan tugas dan konteks kelas. Fase kedua adalah monitoring diri, suatu fase yang membantu pebelajar menjadi sadar atas keadaan kognisi, motivasi, penggunaan waktu dan usaha, betapa pun kondisi dan konteks itu. Aktifitas-aktifitas ini jelas ketika para pebelajar sadar bahwa mereka membaca terlalu cepat untuk jenis teks yang rumit atau pada serangkaian tujuan-tujuan yang mereka miliki . eperti, memahami ide-ide utam. , atau ketika mereka secara aktif mengamati pemahaman bacaan mereka sendiri, menanyakan pertanyaan-pertanyaan mereka sendiri untuk melihat apakah mereka telah paham. Fase ketiga adalah aktifitas kontrol, meliputi pemilihan dan penggunaan strategi pengendalian pikiran . enggunaan strategi kognitif dan metakogniti. , motivasi dan emosi . trategi motivasional dan strategi kontrol emosi, yang praktis berhubungan dengan pengaturan waktu dan usaha, dan kontrol terhadap bermacam-macam tugas akademik, dan kontrol terhadap suasana dan struktur kelas. Fase keempat adalah refleksi atau evaluasi, yang meliputi pertimbangan atau putusan, evaluasi yang berkenaan dengan pelaksanaan tugasnya, membandingkannya dengan kriteria yang ditetapkan . leh diri pebelajar sendiri atau gur. sebelumnya, atribusi/sifat yang dibuat berkenaan dengan penyebab keberhasilan atau kegagalan, reaksi afektif yang dialami atas hasil, sebagai konsekuensi atas atribusi yang dibuat, dan pilihan perilaku yang bisa diikuti dalam masa yang akan datang. Jika digambarkan, fase-fase dan bidang-bidang self-regulated learning adalah sebagai berikut:26 Fase-fase dan bidang self-regulated learning. Lihat Ibid. , hlm. Tadrys. Volume 3. Nomor 2. Strategi Self-regulated Learning Fasefase Perenca Aktivasi /Pengge Monitor Motivasi/ Affect (Pengaru. Kognisi Penetapan sasaran tujuan. Aktifasi/ Aktifasi Kesadaran Adopsi Pertimbangan/ keputusan efficacy. Kemudahan putusan belajar . asy of Learning judgements (EOL. Persepsi Aktifasi nilai tugas. Aktivasi minat/perhatian. Kesadaran dan affek. Kontrol Pemilihan dan kognitif untuk Pemilihan dan adaptasi strategi untuk mengelola motivasi dan affek. Reaksi Refleksi Atribusi Atribusi reaksi afektif Perilaku/ Jalan (Behavio. Perencanaan Perencanaan observasi diri Kesadaran dan observasi diri Peningkatan/ Bertahan,meny Mencari perilaku/jalan Pemilihan perilaku /jalan Tadrys. Volume 3. Nomor 2. Konteks Persepsi Persepsi Monitorin tugas dan Merubah tugas atau Evaluasi Abd. Mukhid Sub Proses Self-regulated Learning Self-regulation berkenaan dengan proses-proses di mana pebelajar menggerakkan dan menyokong perilaku, kognisi, dan affeks yang secara sistematis berorientasi ke arah pencapaian tujuan belajar. 27 Teori kognitif sosial memandang self-regulation terdiri dari 3 . sub proses, observasi diri . elf-observatio. , keputusan diri . , dan reaksi diri . elf-reactio. 28 Ketiga sub proses tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi satu dengan yang lain. Observasi diri Pebelajar mengobservasi perilaku mereka sambil sibuk dalam tugas-tugas belajar. Tujuan observasi perilaku mereka ini adalah untuk menilai perilaku mereka terhadap tujuan-tujuan atau estyndar-standar yang telah disusun oleh pebelajar, instruktur, atau pebelajar lain melalui pemodelan sosial. Proses-proses observasi diri meliputi menyelesaikan dan memusatkan pembelajaran. 29 Observasi diri adalah perhatian pebelajar yang diberikan pada perilakunya saat belajar. Keputusan diri . elf-judgmen. Self-judgment adalah perbandingan performan saat sekarang dengan tujuan-tujuan seseorang. Bandura memberikan 2 . faktor atau komponen penting pengaturan diri . elf-regulatio. yaitu keputusan . membandingkan perkembangan seseorang pada standar sosial atau standar internal pada sifat-sifat tujuan . aitu absolut melawan normati. Antara absolut atau tujuan Zimmerman. AuSelf-regulated learning and Achievement: The Emergence of a Sociual Cognitive PerspectiveAy, dalam Educational Psychology Review, . , 1. Bandura. Social Foundations of Thought and Action: A Social Cognitive Theory (New Jersey: Prentice-Hall, 1. Schunk. AuSelf-Monitoring as a Monivator During Instruction with Elementary School StudentsAy. Dipresentasikan pada the Annual Meeting of the American Education Research Association. Chicago. IL. (ERIC Document Reproduction Service No. ED404035, 1. Bandura. Social Foundations of Thought. Tadrys. Volume 3. Nomor 2. Strategi Self-regulated Learning personal . dan tujuan normatif . menyumbang informasi yang berharga pada diri atau perbandingan internal. Setelah pebelajar membuat keputusan tentang perkembangan pencapaian tujuan, mereka mungkin menghubungkan . keberhasilan atau kegagalan mereka pada pengunaan strategi, keberuntungan, kemampuan, atau usaha. Atribusi adalah proses keputusan diri yang vital yang menghubungkan monitoring dan penggunaan strategi. Reaksi diri . elf-reactio. Kemampuan . elf-reflec. mempertimbangkan fungsi manusia yang paling unik pada sub proses pengaturan diri . elf-regulatio. Reaksi diri pada perkembangan tujuan mengajukan . Strategi Self-regulated Learning Self-regulated learning menjadi komponen integral terhadap fungsi formatif belajar. Fungsi ini merupakan suatu budaya belajar yang mendorong pebelajar melatih strategi belajar pengaturan diri ketika ikut ambil bagian dalam suatu kegiatan atau ketika belajar atau mengerjakan pekerjaan rumah. Strategi self-regulated learning adalah himpunan rencana yang dapat digunakan pebelajar agar mencapai Rencana-rencana aksi ini berdasar pada fase-fase, prosesproses, dan sub proses pebelajar pengaturan diri. Penggunaan strategi self-regulated learning mengurangi kecemasan dan meningkatkan selfefficacy, yang secara langsung berhubungan dengan pencapaian tujuan dan prestasi akademik. Strategi self-regulated learning diklasifikasikan menjadi dua kategori, yaitu strategi kognitif dan strategi metakognitif. Strategi kognitif adalah strategi yang memfokuskan pada proses informasi seperti latihan/ulangan . , perluasan . , dan Strategi metakognisi membicarakan perilaku yang diperlihatkan pebelajar selama situasi belajar. Beberapa taktik ini membantu pebelajar dalam mengontrol perhatian, kecemasan, dan Metakognisi adalah kesadaran, pengetahuan, dan kontrol Bandura. AuSocial Cognitive Theory of Self-regulationAy dalam Organizational Behavior and Human Decision Processess, . , 1. , hlm. Tadrys. Volume 3. Nomor 2. Abd. Mukhid terhadap kognisi. Terdapat tiga proses umum yang membuat kegiatan self-regulatory: perencanaan, monitoring, dan pengaturan. Perencanaan mencakup kegiatan seperti merangkai tujuan . oal-settin. dan analisis Strategi ini membantu menggerakkan . , atau memperlengkapi, aspek-aspek pengetahuan sebelumnya yang relevan yang membuat pengorganisasian dan pemahaman bahan yang lebih Aktifitas monitoring meliputi mengikuti jejak perhatian seseorang yang serentak membaca, tes diri . elf-testin. , dan Monitoring membantu pebelajar memahami bahan dan menggabungkannya dengan pengetahuan sebelumnya. Regulating menunjuk kepada penalaran yang lebih baik . ine-tunin. dan penyesuaian diri . yang terus menerus terhadap aktifitas kognitif seseorang. Aktifitas regulating diambil untuk meningkatkan performan dengan bantuan pebelajar dalam mengecek dan mengoreksi perilaku yang mereka hasilkan dalam suatu tugas. Instrumen Pengukuran Self-regulated Learning Untuk memberikan bukti bahwa self-regulation itu benar-benar terjadi, perlu adanya pengembangan instrumen harus dikembangkan untuk menilai proses-proses tersebut. Observasi, dorongan ingatan, interview, dan kuesioner, semuanya dapat digunakan dalam setting 33 Ada 3 . instrumen yang dapat digunakan dalam menilai self-regulation, yaitu: . The Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ), . The Learning and Study Strategy Inventory (LASSI), dan . The Componens of Self-regulated learning (SRLIS). The Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ) Pada asalnya. Strategi Motivasi untuk Kuesioner Belajar atau The Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ) ini Higgins. AuAn Analysis of the Effects of Integrated Instruction of Metacognitive and Study Skills Upon the Self-Efficacy and Achievement of Male and female StudentsAy (Masters Thesis. Miami University, 2. Garcia dan P. Pintrich. AyRegulating Motivation and Cognition in the Classroom: The Role of Self-Schemas and Self-Regulatory StrategiesAy dalam Schunk dan Zimmerman (Ed. Self-regulation of Learning and performance: Issues and Educational Applications (Hillsdale. NJ: Erlbaum, 1. , hlm. Jr. Robert Cobb. The Relationship Between Self-regulated learning Behaviors and Academic Performance in Web-Based Courses (Virginia: Blacksburg, 2. Tadrys. Volume 3. Nomor 2. Strategi Self-regulated Learning digunakan sebagai alat dalam usaha mengevaluasi Aulearning to learnAy course di Universitas Michigan. AuLearning to learnAy ini menekankan konsep-konsep psikologi kognitif dan bagaimana konsep tersebut dapat diaplikasikan pada strategi belajar. 35 MSLQ adalah instrumen laporan diri . elf-repor. yang didesain untuk menilai orientasi motivasi siswa dan penggunaan strategi pada strategi belajar yang berbeda. Strategi ini didasarkan pada pandangan kognitif sosial umum terhadap motivasi dan strategi Dalam pengembangan MSLQ, pebelajar dianggap menjadi suatu prosesor aktif informasi yang kepercayaan dan kognisinya merupakan mediator penting input pembelajaran dan karakteristik Instrumen ini menjawab hubungan antara motivasi dan MSLQ tersusun pada dua bagian utama, yaitu bagian motivasi dan bagian strategi belajar. Bagian motivasi meliputi tujuan siswa dan kepercayaan nilai . alue belief. pada pelajaran, kepercayaan mereka tentang skill mereka untuk berhasil, dan kecemasan mereka tentang tes. Terdapat 2 . subskala di dalam bagian motivasi yang menilai perasaan self-efficacy. Terdapat 3 . subskala lain yang digunakan untuk mengukur kepercayaan nilai yaitu: . orientasi tujuan instrinsik, . orientasi tujuan ekstrinsik, dan . kepercayaan nilai tugas. Bagian strategi belajar meliputi penggunaan strategi metakognitif dan strategi kognitif serta manajemen sumber-sumber belajar yang berbeda. Subskala metakognisi meliputi perencanaan, monitoring, dan pengaturan . Adapun strategi kognitif yang digunakan pebelajar dinilai dengan tiga subskala pula, yaitu: latihan/ulangan . strategi pengaturan . Item manajemen sumber mengelaborasi strategi pengaturan, seperti manajemen waktu, pembangunan lingkungan, usaha, belajar teman sebaya . eer learnin. , dan pencarian bantuan . elp seekin. Pengukuran Deming et al. AyThe Reliability and Validity of the Learning and Study Strategies Inventory (LASSI) with College Development StudentAy dalam Research and Instruction, . , 4, 1. , hlm. Tadrys. Volume 3. Nomor 2. Abd. Mukhid dengan MSLQ ini menggunakan skala Likert 7 nilai. Wigfield & Eccles bersama Pintrich membuat 81 item alat laporan diri . yang didasarkan pada model motivasi nilai waktu harapan . dengan tujuan pengukuran komponen motivasional yang berbeda dan penggunaan strategi belajar dalam pelajaran atau bahan pelajaran. Di Amerika Serikat. MSLQ ini digunakan secara luas dalam kajian berkenaan motivasi dan strategi belajar. Bidang penelitian ini mencakup motivasi dan performan,37 motivasi, strategi belajar dan prestasi, 38 self-efficacy,39 pembelajaran pengaturan diri dan pembelajaran berbasis web. 40 Salah satu keuntungan instrumen ini adalah dapat diterapkan pada tingkat pendidikan yang berbeda, baik universitas maupun non universitas. The Learning and Study Strategy Inventory (LASSI). LASSI adalah angket laporan diri . elf-reporting questionnair. dengan 77 item yang didesain untuk untuk mengases strategi belajar yang digunakan oleh mahasiswa universitas. Pada versi tahun 1987, item-item tersebut dikelompokkan ke dalam 10 skala, yaitu: sikap, motivasi, organisasi waktu, kecemasan, konsentrasi, pemrosesan informasi, pemilihan ide utama, penggunaan teknik dan bahan-bahan dukungan, penilaian diri . elf-assessmen. dan Wigfield dan J. Eccles. AuExpectancy-Value Theory of Achievement MotivationAy dalam Contemporary Educational Psychology, . , 2. , hlm. Lin dan W. McKeachie. AuCollege Student Intrinsic and/or Extrinsic Motivation and LearningAy, (ERIC Document Reproduction Service No. ED435954, DeKeyrel, et. AuUsing Motivational Strategies to Improve Academic Achievement of Middle School StudentsAy, (ERIC Document Reproduction No. ED443550, 2. Bong. AuTest of the Internal/External Frames of Reference Model with SubjectSpecific Academic Self-Efficacy and Frame-Specific Academic Self-ConceptsAy, dalam Journal of Educational Psychology, . , 1. , hlm. McManus. AuIndividualizing Instruction in Web-Based Hypermedia Learning Environment: Nonlinearity. Advance Organizers, and Self-Regulated LearnersAo dalam Journal of Interactive Learning Research, 11. , 2. , hlm. Tadrys. Volume 3. Nomor 2. Strategi Self-regulated Learning strategi tes. 41 Instrumen ini merupakan pengembangan instrumen diagnostik untuk mengases strategi belajar individu yang ingin masuk pada pendidikan yang lebih tinggi . igher educatio. LASSI dikembangkan untuk kebutuhan instrumen diagnostik yang dapat digunakan oleh para penasehat akademik, staf perguruan tinggi, atau para penasehat untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan mahasiswa. LASSI juga digunakan untuk mengukur perubahan kognitif dan pertumbuhan afektif secara tetap yang diakui mahasiswa dan studi perkembangan mahasiswa. 42 LASSI juga dimodifikasi untuk mengases bagaimana pebelajar sekolah lanjutan belajar. Item-item dimodifikasi menggunakan kosa kata tingkat sekolah lanjutan, dan refleksi tugas belajar, serta tuntutan lingkungan sekolah lanjutan. The Self-regulated learning Interview Schedule (SRLIS). Instrumen SRLIS ini dikembangkan oleh Zimmerman dan Pons. SRLIS merupakan salah satu prosedur interview yang paling luas digunakan untuk mengukur self-regulated learning. 44 SRLIS merupakan tes pandu . ilot teste. dalam 6 . konteks yang berbeda, yaitu: kelas, rumah, tugas menulis di luar kelas, tugas matematika di luar kelas, persiapan tes . est preparatio. , dan di saat motivasi lemah. Tujuan utama SRLIS adalah mengukur strategi self-regulated learning. Sedang tujuan sekunder SRLIS adalah untuk menentukan adakah korelasi antara penggunaan strategi self-regulated learning dan jejak prestasi mahasiswa. Tujuan lain yang ingin dicapai SRLIS adalah mengidentifikasi Prus, et. AuThe Learning and Study Strategies Inventory (LASSI) as a Predictor of First-Year College Academic SuccessAy, dalam Journal of the Freshman Year Experince, . , 1. , hlm. Nist, et. AyMeasuring the Affective and the Cognitive Growth of Regularly Admitted and Developmental Studies Students Using the Learning and Studies Strategies Inventory (LASSI)Adalam ReadingReaserch and Instruction . Eldredge dan D. Palmer. AyLearning and Study Strategies Inventory-High School Version (LASSI-HS)Ay, dalam Journal of Reading, 34 . , 1. , hlm. Zimmerman dan Martinez-Pons. AuConstruct Validation of a Strategy Model of Student Self-regulated learningAy dalam Journal of Educational Psychology, . , 1. , hlm. Tadrys. Volume 3. Nomor 2. Abd. Mukhid strategi self-regulated learning yang paling luas digunakan mahasiswa dalam pencapaian prestasi yang tinggi. Skedul interview adalah instrumen laporan diri yang bersifat terbuka . pen-ende. dan data yang terkumpul yang diukur menurut penggunaan strategi, frekuensi strategi, dan ketetapan Terdapat 15 kategori yang tergabung dalam SRLIS yang menentukan dasar penelitian dan teori self-regulated learning, seperti dalam tabel berikut: Kategori Strategi Evaluasi diri . Pengorganisasian . dan transformasi informasi . Penyusunan . dan perencanaan tujuan . Pencarian informasi . Penjagaan catatan/rekaman . dan monitoring . Pembentukan lingkungan . Konsekuensi diri . Pelatihan . dan penghafalan . ehearsing & memorizin. Pencarian bantuan sosial Tinjauan catatan . eviewing record. Lain . Definisi Pernyataan yang mengindikasikan evaluasi yang diajukan pebelajar terhadap kualitas atau perkembangan kerja mereka Pengaturan kembali dengan jelas atau samar atas bahan-bahan pembelajaran Penyusunan tujuan dan sub tujuan dan penyempurnaan kegiatan yang terkait dengan Usaha mendapatkan informasi dari sumbersumber non sosial Usaha mencatat/merekam kejadian atau hasil Memilih atau menyusun keadaan fisik untuk membuat belajar lebih mudah Rencana ganjaran atau hukuman bagi keberhasilan atau kegagalan Usaha menghafal bahan dengan praktek yang jelas atau samar Meminta bantuan dari teman sebaya . , guru, dan orang dewasa Membaca kembali tes, catatan, atau buku teks untuk persiapan pada kelas atau tes yang akan datang Perilaku belajar yang diajukan oleh lainnya seperti guru atau orang tua, dan semua jawaban verbal yang tidak jelas Tadrys. Volume 3. Nomor 2. Strategi Self-regulated Learning Penutup Self-regulated learning merupakan perpaduan keterampilan . dan keinginan . Pebelajar yang strategis adalah pebelajar yang belajar merencanakan, mengontrol dan mengevaluasi kognitifnya, motivasi/afektif, perilaku dan proses-proses yang kontekstual. Pebelajar yang mengetahui bagaimana belajar adalah pebelajar yang memotivasi diri, mengetahui kemungkinan dan keterbatasannya, mengontrol dan mengatur proses-proses belajar agar membiasakan diri pada tujuan tugas dan konteks, beroptimis atas performan dan meningkatkan ketrampilan melalui praktek. Salah satu ciri pebelajar yang mengatur diri pada belajarnya adalah kontrol terhadap motivasi dan emosi mereka. Di samping itu adalah bahwa pebelajar mengorientasikan pada tujuan prestasi . yang memperlihatkan motivasi, kognitif dan pola perilaku yang mencerminkan belajar dan performan. Kuesioner pelaporan diri . elf-reportin. hingga saat ini merupakan instrumen yang banyak digunakan dalam mengevaluasi proses-proses yang berbeda dalam self-regulated learning. Strategi self-regulated learning pada saat ini banyak digunakan dalam penelitian untuk mengetahui bagaimana motivasi, emosi, dan self-efficacy pebelajar. Selain itu, banyak penelitian yang mengkaitkan strategi self-regulted learning dengan performan atau prestasi pebelejar. Pembelajaran dengan menggunakan strategi self-regulated learning dapat terjadi dengan mengetahui bagaimana orientasi tujuan, kepercayaan, dan minat intrinsik pebelajar. pembelajaran diri . elf-instructio. , monitoring diri, dan refleksi diri atau evaluasi diri. observasi diri, keputusan diri, dan reaksi diri pebelajar. Strategi tersebut dilakukan dengan menerapkan strategi kognitif dan metakognitif melalui kegiatan latihan . , perluasan . , dan pengorganisasian belajar, di samping kegiatan perencanaan, monitoring dan pengaturan belajar, yang prosesnya dapat diukur dengan menggunakan instrument MSLQ. LASSI, maupun SRLIS. Strategi-strategi tersebut digunakan agar tujuan utama pebelajar dalam meningkatkan dan mencapai prestasi belajar dapat dicapai. Wa Allyh AAolam bi al-Shawyb. Tadrys. Volume 3. Nomor 2.