224 JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. ANALISIS POTENSI FINANCIAL DISTRESS PADA PERUSAHAAN YANG BERISIKO DELISTING Midian Cristy Rori1*. Indah Eunike Kakunsi2. Pingkan Elni Wowor3 1,2,3 Universitas Sam Ratulangi midiancristy@unsrat. ABSTRACT This study analyzes the potential financial distress in companies at risk of delisting listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX). The capital market serves as a crucial long-term funding mechanism and investment avenue, yet numerous issuers face prolonged financial pressures leading to financial distress and potential delisting. Utilizing secondary data from financial statements of at-risk companies, this research applies the Altman Z-Score. Springate, and Zmijewski models to assess financial health through key ratios including liquidity, profitability, leverage, and activity ratios. Findings reveal that most sample companies exhibit negative EBIT, deficit retained earnings, and excessive leverage, consistent across all three models indicating severe distress conditions. The combined application of these models provides comprehensive early warning signals for delisting risk. This research underscores the urgency for management corrective actions, enhanced regulatory oversight, and prudent investor decision-making to safeguard market stability. Keywords: Financial Distress. Altman Z-Score. Springate model. Zmijewski model, delisting risk. Financial Performance. Indonesia Stock Exchange ABSTRAK Penelitian ini menganalisis potensi financial distress pada perusahaan berisiko delisting yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pasar modal berperan penting sebagai sarana pendanaan jangka panjang dan alternatif investasi, namun tidak sedikit emiten mengalami tekanan keuangan berkepanjangan yang mengarah pada financial distress dan risiko delisting. Menggunakan data sekunder dari laporan keuangan perusahaan berisiko delisting, penelitian menerapkan model Altman Z-Score. Springate, dan Zmijewski untuk mengukur kesehatan keuangan melalui rasio likuiditas, profitabilitas, leverage, dan aktivitas. Hasil menunjukkan sebagian besar perusahaan sampel memiliki EBIT negatif, laba ditahan defisit, dan leverage tinggi yang konsisten terdeteksi ketiga model sebagai indikasi distress serius. Kombinasi ketiga model memberikan sistem peringatan dini yang komprehensif terhadap risiko Penelitian ini menekankan perlunya tindakan perbaikan manajemen, pengawasan regulator yang lebih ketat, serta pengambilan keputusan investasi yang bijaksana untuk menjaga stabilitas pasar modal. Kata Kunci: Financial Distress. Altman Z-Score. Springate model. Zmijewski model. Risiko Delisting. Kinerja Keuangan. Bursa Efek Indonesia. ISSN: 1412 - 3681 . ISSN: 2442 - 4617 . , https://journal. id/index. php/jakpi JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. PENDAHULUAN Pasar modal memiliki peran penting sebagai sarana pendanaan jangka panjang bagi perusahaan sekaligus sebagai alternatif investasi bagi masyarakat, salah satunya melalui perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Keberlangsungan pencatatan saham perusahaan di BEI mencerminkan kepercayaan pasar terhadap kinerja dan prospek usaha emiten, sehingga kondisi keuangan yang sehat menjadi syarat utama agar perusahaan mampu mempertahankan statusnya sebagai perusahaan tercatat dan terhindar dari risiko delisting. Namun, dalam praktiknya tidak sedikit perusahaan yang mengalami tekanan keuangan berkepanjangan yang dapat mengarah pada kondisi finansial distress dan meningkatkan risiko penghapusan pencatatan dari bursa. Financial distress merupakan kondisi ketika perusahaan berada pada tahap kesulitan keuangan yang ditandai oleh menurunnya kemampuan memenuhi kewajiban, memburuknya profitabilitas, dan terganggunya kelangsungan usaha yang pada akhirnya dapat berujung pada kebangkrutan. Di Indonesia, perusahaan yang tidak lagi memenuhi ketentuan pencatatan, mengalami kerugian berulang, tidak menyampaikan laporan keuangan, atau menghadapi permasalahan kelangsungan usaha berpotensi dikenakan forced delisting oleh BEI. Kondisi tersebut menimbulkan risiko kerugian yang signifikan bagi investor, kreditor, dan pemangku kepentingan lainnya sehingga diperlukan upaya deteksi dini terhadap potensi financial distress pada perusahaan berisiko delisting. Sebagai gambaran awal mengenai kondisi keuangan perusahaan yang berisiko delisting, berikut disajikan data keuangan utama beberapa emiten yang menjadi objek penelitian: Tabel 1a. Data Keuangan Perusahaan Berisiko Perusahaan Aset Lancar (R. Total Aset (R. Liabilitas Lancar (R. Total Liabilitas (R. DEFI MGNA HDTX SMRU WSKT BUVA DPUM IIKP JKSW Sales (R. Sumber: Data olahan . ANALISIS POTENSI FINANCIAL DISTRESS PADA PERUSAHAAN YANG BERISIKO DELISTING (Midian Cristy Rori. Indah Eunike Kakuns. JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. Tabel 1b. Data Keuangan Perusahaan Berisiko EBIT (R. Working Capital (R. DEFI MGNA HDTX SMRU WSKT BUVA DPUM IIKP JKSW Perusahaan Laba Ditahan (R. Nilai Buku Ekuitas (R. Nilai Buku Utang (R. Sumber: Data olahan . Data tersebut menunjukkan adanya indikasi tekanan keuangan pada sejumlah perusahaan, antara lain tercermin dari laba yang negatif, tingginya total liabilitas, serta posisi laba ditahan yang defisit, yang menguatkan urgensi analisis potensi financial distress secara lebih Berbagai model prediksi seperti Altman Z-Score. Springate, dan Zmijewski banyak digunakan untuk mengidentifikasi potensi kebangkrutan dan mengklasifikasikan kondisi kesehatan keuangan perusahaan, sehingga relevan diterapkan pada perusahaan berisiko delisting di BEI. Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis potensi financial distress pada perusahaan berisiko delisting yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan menggunakan model Altman Z-Score. Springate, dan Zmijewski serta membandingkan kemampuan masing-masing model dalam mengidentifikasi tingkat kesulitan keuangan perusahaan. Dengan demikian, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: . bagaimana potensi financial distress pada perusahaan berisiko delisting yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia berdasarkan model Altman Z-Score. Springate, dan Zmijewski. model manakah di antara Altman Z-Score. Springate, dan Zmijewski yang menunjukkan kemampuan lebih baik dalam memprediksi financial distress pada perusahaan berisiko delisting di Bursa Efek Indonesia. KAJIAN PUSTAKA Kajian pustaka dalam penelitian ini berfokus pada konsep finansial distress, fenomena delisting di Bursa Efek Indonesia, serta model prediksi financial distress Altman Z-Score. Springate, dan Zmijewski dengan mengacu pada penelitian enam tahun terakhir dan mengikuti ketentuan penulisan sitasi. Financial distress umumnya didefinisikan sebagai kondisi kesulitan keuangan serius yang ditandai dengan penurunan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban, penurunan profitabilitas, dan meningkatnya risiko kebangkrutan (Astuti, 2. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kelangsungan usaha perusahaan, tetapi juga pada pemegang saham, kreditor, dan stabilitas pasar modal, sehingga pengukuran dan prediksinya menjadi penting dalam analisis kinerja perusahaan (Nasution, 2. ANALISIS POTENSI FINANCIAL DISTRESS PADA PERUSAHAAN YANG BERISIKO DELISTING (Midian Cristy Rori. Indah Eunike Kakuns. JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. Dalam konteks pasar modal Indonesia, financial distress memiliki keterkaitan erat dengan fenomena delisting di Bursa Efek Indonesia. Penelitian terhadap perusahaan delisting periode 2013Ae2019 menunjukkan bahwa mayoritas perusahaan yang dihapus pencatatannya telah mengalami tekanan keuangan yang tercermin dari penurunan rasio likuiditas, profitabilitas, dan peningkatan leverage beberapa tahun sebelum delisting (Rachmawati. Penelitian lain menemukan bahwa forced delisting umumnya dialami perusahaan dengan kerugian yang berulang, saldo laba ditahan negatif, dan struktur utang yang tidak sehat, sehingga financial distress dapat dipandang sebagai sinyal awal terhadap risiko penghapusan pencatatan saham (Kusuma, 2. Dengan demikian, analisis financial distress berfungsi sebagai alat peringatan dini bagi perusahaan yang berisiko kehilangan statusnya sebagai emiten di BEI (Astuti, 2. Model Altman Z-Score merupakan salah satu model klasik yang banyak digunakan untuk memprediksi kebangkrutan melalui kombinasi beberapa rasio keuangan, seperti working capital to total assets, retained earnings to total assets, earnings before interest and taxes to total assets, serta rasio lainnya yang digabung menjadi satu skor ((Altman, 1. dalam (Ginting, 2. Penelitian terbaru di Indonesia menunjukkan bahwa Altman Z-Score masih cukup akurat dalam mengidentifikasi perusahaan yang berada dalam kondisi financial distress, meskipun tingkat akurasi dapat berbeda antar sektor dan periode penelitian (Rahmawati, 2. Studi lain yang menganalisis perusahaan tercatat dan delisting di BEI menemukan bahwa nilai Z-Score yang rendah cenderung berkorelasi dengan meningkatnya probabilitas delisting, sehingga model ini relevan digunakan dalam penelitian terkait risiko penghapusan pencatatan (Rachmawati, 2. Model Springate dikembangkan sebagai penyederhanaan dari Altman dengan menggunakan empat rasio utama, yaitu working capital to total assets, earnings before interest and taxes to total assets, earnings before taxes to current liabilities, dan sales to total assets yang digabung menjadi S-Score (Springate, 1978 dalam Putri, 2022: . Penelitian beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa model Springate memiliki kemampuan yang baik dalam mengidentifikasi financial distress dan pada beberapa sampel mampu mencapai tingkat akurasi di atas 90% (Putri, 2. Studi lain yang menguji Springate pada perusahaan di Bursa Efek Indonesia menemukan bahwa model ini lebih sensitif dalam mengklasifikasikan perusahaan ke kondisi rawan distress dibandingkan beberapa model lain, sehingga cocok digunakan sebagai alat deteksi dini (Sari, 2. Sensitivitas tersebut menjadikan Springate relevan dikombinasikan dengan Altman dalam mengkaji perusahaan berisiko delisting di BEI (Nasution, 2. Model Zmijewski menggunakan pendekatan yang menitikberatkan pada rasio profitabilitas, leverage, dan likuiditas, antara lain return on assets, debt to total assets, dan current ratio untuk menghasilkan X-Score yang menentukan apakah perusahaan termasuk kategori distress atau non-distress (Zmijewski, 1984 dalam Raharjo, 2023: . Beberapa penelitian terkini menunjukkan bahwa model Zmijewski sering kali memberikan tingkat akurasi yang kompetitif, bahkan dalam beberapa kasus lebih unggul dibanding Altman dan Springate, terutama pada sektor dengan tingkat leverage tinggi seperti perbankan dan BUMN (Wulandari, 2. Studi lain yang membandingkan Altman. Springate. Zmijewski, dan Grover menemukan adanya perbedaan hasil klasifikasi antar model serta menyimpulkan bahwa Zmijewski cenderung lebih peka terhadap perubahan rasio leverage dan profitabilitas (Hidayat, 2. Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan lebih dari satu model prediksi financial distress dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi keuangan perusahaan (Ginting, 2. ANALISIS POTENSI FINANCIAL DISTRESS PADA PERUSAHAAN YANG BERISIKO DELISTING (Midian Cristy Rori. Indah Eunike Kakuns. JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. Berbagai penelitian komparatif di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menegaskan bahwa tidak ada satu model yang selalu paling akurat di semua konteks, sehingga pemilihan model perlu disesuaikan dengan karakteristik sampel dan tujuan penelitian (Hidayat, 2. Penelitian terhadap perusahaan di BEI menunjukkan bahwa kombinasi model Altman ZScore. Springate, dan Zmijewski dapat meningkatkan keandalan analisis karena masingmasing model memiliki sensitivitas yang berbeda terhadap aspek likuiditas, profitabilitas, dan leverage (Nasution, 2021. Sari, 2. Berdasarkan kajian pustaka tersebut, penelitian ini menggunakan dan membandingkan model Altman Z-Score. Springate, dan Zmijewski untuk menganalisis potensi financial distress pada perusahaan berisiko delisting di Bursa Efek Indonesia, sehingga diharapkan dapat memperkaya literatur empiris dan memberikan masukan praktis bagi investor, manajemen, dan regulator pasar modal (Rachmawati, 2021. Wulandari, 2. METODE PENELITIAN Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif-verifikatif. Metode deskriptif digunakan untuk menggambarkan kondisi atau nilai variabel secara apa adanya tanpa melakukan manipulasi, sedangkan metode verifikatif digunakan untuk menguji kebenaran hipotesis melalui analisis statistik (Sugiyono, 2018: . Pendekatan ini dipilih karena penelitian tidak hanya bertujuan memotret kondisi financial distress pada perusahaan berisiko delisting, tetapi juga memverifikasi kemampuan model Altman Z-Score. Springate, dan Zmijewski dalam memprediksi financial distress pada perusahaan tersebut. Subjek penelitian adalah perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan termasuk dalam kategori berisiko delisting pada periode pengamatan tertentu, sedangkan objek penelitian adalah kondisi financial distress yang diukur melalui rasio-rasio keuangan yang menjadi komponen model Altman Z-Score. Springate, dan Zmijewski. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa laporan keuangan tahunan dan laporan tahunan perusahaan yang diperoleh secara tidak langsung melalui media perantara, seperti situs resmi BEI dan situs resmi emiten. Data sekunder sendiri diartikan sebagai data yang diperoleh dari pihak lain atau berasal dari laporan dan dokumen historis yang telah dipublikasikan (Sujarweni, 2015: . Variabel yang dicatat meliputi aset lancar, total aset, liabilitas lancar, total liabilitas, penjualan, laba sebelum bunga dan pajak (EBIT), laba ditahan, ekuitas, dan utang, yang kemudian diolah menjadi rasio keuangan sesuai rumus masing-masing model. Pemilihan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan menggunakan pertimbangan atau kriteria tertentu agar data yang diperoleh lebih representatif sesuai tujuan penelitian (Sugiyono, 2010: . Dalam penelitian ini, kriteria sampel ditetapkan sebagai berikut: . perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia pada awal periode pengamatan. termasuk dalam daftar perusahaan berisiko delisting pada periode penelitian. memiliki laporan keuangan tahunan lengkap yang dipublikasikan untuk seluruh tahun pengamatan. Dengan demikian, sampel yang dipilih diharapkan benar-benar mencerminkan karakteristik populasi perusahaan yang berisiko delisting. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi, yaitu pengumpulan data melalui penelaahan dokumen-dokumen resmi seperti laporan keuangan, laporan tahunan, dan publikasi lain yang relevan. Metode dokumentasi lazim digunakan dalam penelitian keuangan karena memanfaatkan bukti-bukti tertulis dan arsip laporan historis yang telah disusun secara sistematis oleh pihak terkait (Bahri, 2. (Bahri, 2. Peneliti mengunduh laporan keuangan dan laporan tahunan perusahaan sampel dari situs resmi BEI ANALISIS POTENSI FINANCIAL DISTRESS PADA PERUSAHAAN YANG BERISIKO DELISTING (Midian Cristy Rori. Indah Eunike Kakuns. JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. dan emiten, kemudian mencatat data yang diperlukan ke dalam lembar kerja . ata shee. yang disusun sebagai instrumen penelitian. Analisis data dilakukan melalui beberapa tahapan. Pertama, menghitung rasio-rasio keuangan yang diperlukan sesuai dengan komponen model Altman Z-Score. Springate, dan Zmijewski untuk setiap perusahaan sampel. Kedua, menghitung skor financial distress berdasarkan ketiga model tersebut dan mengelompokkan perusahaan ke dalam kategori sehat, grey area, atau distress sesuai kriteria masing-masing model. Ketiga, melakukan analisis deskriptif untuk menggambarkan kondisi financial distress perusahaan berisiko delisting yang menjadi sampel (Sugiyono, 2014: . Keempat, melakukan analisis komparatif dengan cara membandingkan hasil klasifikasi financial distress antar model untuk menilai konsistensi dan perbedaan kemampuan prediksi di antara Altman Z-Score. Springate, dan Zmijewski (Kasmir, 2019: . Hasil analisis tersebut kemudian digunakan sebagai dasar pembahasan dalam mengkaji potensi financial distress dan relevansinya terhadap risiko delisting pada perusahaan yang diteliti. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian disajikan secara sistematis untuk menjawab tujuan penelitian, yaitu menganalisis potensi financial distress pada perusahaan berisiko delisting dan membandingkan kemampuan model Altman Z-Score. Springate, dan Zmijewski. Data keuangan dasar perusahaan yang menjadi sampel ditunjukkan pada Tabel 1a dan Tabel 1b, sedangkan skor komponen rasio ketiga model prediksi financial distress ditampilkan pada Tabel 2. Tabel 2a. Skor Komponen Finansial Distress Model Altman Z-Score Perusahaan Altman X1 Altman X2 Altman X3 Altman X4 DEFI 0,987 0,693 -0,074 102,993 MGNA 0,051 -1,121 -0,032 0,459 HDTX -0,918 -8,459 -0,075 -0,279 SMRU -0,697 -1,688 -0,102 0,155 WSKT -0,001 -0,125 -0,042 0,138 BUVA -0,024 -0,784 0,010 1,272 DPUM 0,158 -0,582 0,075 0,559 IIKP 0,228 -0,851 -0,162 8,098 JKSW 0,160 -3,629 0,002 -0,757 Sumber: Data olahan . ANALISIS POTENSI FINANCIAL DISTRESS PADA PERUSAHAAN YANG BERISIKO DELISTING (Midian Cristy Rori. Indah Eunike Kakuns. JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. Tabel 2b. Skor Komponen Finansial Distress Model Springate, dan Zmijewski Perusahaan Springate Springate Springate Springate Zmijewski Zmijewski Zmijewski DEFI 0,987 -0,074 -7,703 0,040 -0,074 0,010 103,628 MGNA 0,051 -0,032 -0,225 0,347 -0,032 0,686 1,363 HDTX -0,918 -0,075 -0,078 0,000 -0,075 1,388 0,039 SMRU -0,697 -0,102 -0,128 0,388 -0,102 0,866 0,128 WSKT -0,001 -0,042 -0,176 0,115 -0,042 0,879 0,995 BUVA -0,024 0,010 0,062 0,217 0,010 0,440 0,850 DPUM 0,158 0,075 0,504 0,767 0,075 0,641 2,070 IIKP 0,228 -0,162 -45,324 0,050 -0,162 0,110 64,697 JKSW 0,160 0,002 0,030 0,000 0,002 4,115 2,923 Sumber: Data olahan . Tabel 1a dan 1b menunjukkan kondisi keuangan yang mengkhawatirkan pada sebagian besar perusahaan sampel, terutama terlihat dari EBIT negatif (DEFI. MGNA. HDTX. SMRU. WSKT), laba ditahan defisit (MGNA. HDTX. SMRU. WSKT), dan ekuitas negatif (HDTX. JKSW). Kondisi ini konsisten dengan karakteristik perusahaan berisiko delisting yang diidentifikasi Rachmawati . yang menemukan bahwa perusahaan delisting umumnya mengalami kerugian berulang dan struktur modal yang tidak sehat. Tabel 2a dan 2b mengungkapkan variasi hasil antar model. Model Altman Z-Score menunjukkan X2 . etained earnings/total asset. yang negatif pada hampir semua perusahaan . ecuali DEFI), mengindikasikan akumulasi kerugian yang berkepanjangan. Model Springate menyoroti X3 (EBIT/total liabilitie. yang sangat negatif pada DEFI . dan IIKP (-45,. , menunjukkan ketidakmampuan memenuhi beban bunga. Model Zmijewski dengan X2 . otal liabilities/total asset. yang tinggi pada HDTX . dan JKSW . mengindikasikan leverage ekstrem. Temuan ini sejalan dengan penelitian Ginting . yang menyatakan bahwa ketiga model memberikan perspektif berbeda terhadap financial distress. Pembahasan lebih lanjut menunjukkan bahwa perusahaan seperti HDTX dan JKSW dengan ekuitas negatif dan leverage tinggi kemungkinan besar masuk kategori distress pada ketiga model, konsisten dengan kriteria klasifikasi Altman . 8 dalam Ginting, 2022: . Springate . 8 dalam Putri, 2022: . , dan Zmijewski . 4 dalam Raharjo, 2023: . Sebaliknya. DPUM dengan EBIT positif dan working capital baik menunjukkan indikasi lebih sehat meskipun laba ditahan negatif. Perbedaan klasifikasi ini mengkonfirmasi temuan Hidayat . bahwa tidak ada model tunggal yang selalu akurat, sehingga kombinasi ketiga model memberikan gambaran komprehensif mengenai potensi financial distress perusahaan berisiko delisting di BEI. ANALISIS POTENSI FINANCIAL DISTRESS PADA PERUSAHAAN YANG BERISIKO DELISTING (Midian Cristy Rori. Indah Eunike Kakuns. JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. SIMPULAN Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan berisiko delisting yang menjadi sampel berada dalam kondisi tekanan keuangan serius yang tercermin dari EBIT negatif, laba ditahan defisit, dan tingkat leverage yang tinggi, sehingga mengindikasikan potensi financial distress yang kuat. Penerapan model Altman Z-Score. Springate, dan Zmijewski memperlihatkan bahwa ketiga model mampu mendeteksi indikasi distress, namun memberikan tingkat sensitivitas dan klasifikasi yang berbeda antar perusahaan sehingga tidak ada satu model yang sepenuhnya dominan, dan kombinasi ketiganya lebih tepat digunakan untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi financial distress pada perusahaan berisiko delisting di Bursa Efek Indonesia. Saran dari penelitian ini adalah agar manajemen perusahaan berisiko delisting menggunakan hasil analisis financial distress sebagai dasar untuk merumuskan langkah perbaikan struktur keuangan, khususnya melalui pengendalian utang dan peningkatan profitabilitas, serta bagi investor dan regulator disarankan untuk memanfaatkan secara simultan model Altman ZScore. Springate, dan Zmijewski sebagai alat peringatan dini dalam menilai risiko investasi dan merumuskan kebijakan pengawasan emiten. Selain itu, peneliti selanjutnya disarankan untuk memperluas periode observasi dan menambah model prediksi lain seperti Grover atau Ohlson, serta memasukkan variabel nonkeuangan sehingga analisis financial distress terhadap perusahaan berisiko delisting menjadi lebih kaya dan akurat. DAFTAR PUSTAKA