Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 MAKNA SIMBOLIK TRADISI BARIKAN DAN RELEVANSINYA DENGAN PATTIDANA DALAM BUDDHISME Sarwi Kepenyuluhan Buddha STABN Raden Wijaya Wonogiri Jawa Tengah sarwiputra6@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan, makna simbolik, dan relevansi tradisi barikan dengan pattidana. Tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Jawa dari tahun ke tahun secara turun temurun diwariskan dari generasi ke generasi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data dikumpulkan dengan cara observasi secara langsung, dokumentasi dilapangan, dan wawancara dengan informan. Informan dalam penelitian ini adalah sesepuh dan beberapa tokoh masyarakat di Desa Giling. Berdasarkan deskripsi data dan analisis data dapat diketahui dan dapat ditemukan bahwa dalam tradisi barikan dilaksanakan sejak zaman penjajahan, terdapat makna simbolik yang terkandung dalam ubopame maupun ritual didalam tradisi barikan, tradisi barikan memiliki relevansi dengan pattidana. Implikasi yang terbentuk adalah mempertahankan dan melestarikan nila-nilai luhur bersumber dari tradisi nenek moyang sebagai ciri khas peradaban suatu bangsa. Kata kunci: Makna Simbolik. Relevansi. Tradisi. Buddha Abstract This study aims to describe the implementation, symbolic meaning, and relevance of the barikan tradition with pattidana. Traditions carried out by the Javanese people from year to year are passed down from generation to generation. This research is a qualitative research. Data were collected by direct observation, field documentation, and interviews with informants. The informants in this study were elders and several community leaders in Giling Village. Based on data descriptions and data analysis, it can be seen and it can be found that in the barikan tradition carried out since the colonial era, there are symbolic meanings contained in ubopame and rituals in the barikan tradition, the barikan tradition has relevance to pattidana. The implication that is formed is to maintain and preserve the noble values derived from the traditions of the ancestors as a characteristic of the civilization of a nation. Keywords: mplementation. Symbolic Meaning. Relevance. Tradition membentuk suatu keraifan budaya lokal PENDAHULUAN Tradisi yang teraplikasi pada sikap tingkah dimasyarakat Indonesia akan memiliki laku, budaya, dan karya seni yang ada peranan penting dalam kehidupan sosial di suatu daerah tertentu. Di pulau Jawa masyarakat disuatu wilayah tertentu. terdapat banyak jenis tradisi yang karena dengan adanya tradisi akan | 102 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 AubarikanAy. Tradisi Barikan kemajemukan tradisi yang berkembang jarang terjadi kecelakaan. di pulau Jawa khususnya di wilayah Tradisi barikan sebagian besar Pati Jawa Tengah. Barikan adalah dilakukan oleh masyarakat generasi tua, melalukan selamatan atau kenduren barikan tersebut. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu tokoh dilakukan masyarakat Dusun Glagah masyarakat di Dukuh Glagah Desa Desa Giling Tradisi Sukasan Gunungwungkal kabupaten Pati Jawa bahwa hanya saja para Tengah pada hari Kamis malam Jumat generasi muda yang berminat untuk Wage. Giling Berdasarkan mengikuti tradisi barikan. Daya tarik generasi muda di Dusun Glagah Desa Dusun Glagah Desa Giling pada tanggal Giling 25 April 2020, diperoleh informasi barikan sangat rendah. Generasi muda bahwa sebagian masyarakat percaya di Dusun Glagah Desa Giling lebih apabila melakukan tradisi barikan akan memilih untuk mempelajari hal-hal mendapatkan berkah dan diberikan yang cenderung bersifat modern. Di Era modern seperti sekarang teknologi- Masyarakat memiliki alasan melakukan barikan diperempatan atau di pertigaan berdampak pada pola berpikir dan jalan, masyarakat menganggap setiap perempatan atau pertigaan jalan terdapat Glagah Desa Giling. Pola berfikir penunggu yang menjaga jalan tersebut. generasi muda di Dusun Glagah Desa Kepercayaan Giling muda di Dusun dengan adanya kasus-kasuas kecelakaan menjadi serba instan, tanpa adanya Apabila hal ini dibiarkan secara tradisi barikan akan punah. Apabila | 103 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 masyarakat Dusun Glagah Desa Giling, anak cucu nanti tidak bisa merasakan pelaksanaan upacara tradisi barikan. Berdasarkan permasalahan tersebut di atas, penulis bermaksud untuk melakukan penggalian fenomena, dan menemukan hipotesis. HASIL DAN PEMBAHASAN Asal Pelaksanaan Tradis Barikan lebih mendalah tentang tradisi barikan. Tradisi Langkah yang ditempuh oleh penulis setiap satu bulan sekali . ulan dalam adalah dengan melakukan penelitian tahun jaw. atau 5 minggu sekali, lebih mendalam dengan judul: AuMakna setiap hari Kamis malam Jumat Simbolik Wage. Tradisi Barikan Dan Tradisi Relevansikan dengan Pattidana dalam dilaksanakan sejak zaman penjajahan BudhismeAy. Adapun penelitian akan sebelum Negara Kesatuan Republik dilaksanakan di Dusun Glagah Desa Indonesia merdeka. Tradisi barikan Giling Kecamatan Gunungwungkal Kabupaten Pati Jawa Tengah. moyang masyarakat Dusun Glagah METODE Desa Giling secara turun temurun dari generasi ke generasi selanjutnya pendekatan studi kualitatif. Menurut sampai dengan saat ini. Asal usul Sugiyono . 8: . , metode penelitian tradisi barikan dimualai pada zaman kualitatif adalah metode penelitian yang penjajahan, dimana tradisi barikan berasal adanya hal-hal suprantural Penelitian Dusun digunakan untuk meneliti pada kondisi Glagah Desa Giling, dengan adanya obyek yang alamiah, di mana peneliti hal-hal tersebut masyarakat memiliki adalah sebagai instrumen kunci, teknik sebuah inisiatif untuk melakukan pengumpulan data dilakukan secara sebuah upacara atau ritual yang dilakukan sampai dengan sekarang. abungan wawancara, dokumentas. , data yang Tradisi diperoleh cenderung data kualitatif, salah satu ungkapan masyarakat analisis data bersifat induktif, dan hasil Dusun Glagah Desa Giling sebagai | 104 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 rasa wujud penghormatan terhadap Wujud syukur dan rasa sesaji . para leluhur akan penghormatan terhadap leluhur di merasa kecewa. Dengan adanya hal Dusun Glagah Desa Giling dengan cara pemikiran untuk membuat sebuah melakukan makan bersama ditengah ritual dan kegiatan untuk mengatasi masalah tersebut. Oleh karena itu Masyarakat tradisi barikan diperempatan maupun barikan, dengan tujuan para leluhur dipertigaan memiliki asumsi bahwa bisa makan makanan yang disajikan di perempatan maupun di pertigaan dalam tradisi barikan. Makna dari tradisi barikan menunggu jalan tersebut. Apabila adalah mewujudkan rasa syukur masyarakat Dusun makhluk-makhluk Giling Glagah Desa yang melintas. Selain hal tersebut kesehatan dan keselamatan dalam masyrakat mempercayai para leluhur Selain itu makna dari tradisi apabila pulang kerumah melewati barikan adalah salah satu wujud perempatan atupun pertigaan jalan. syukur masyarakat Dusun Glagah Desa Giling kepada alam semesta hari Kamis malam Jumat Wage. Hal tersebut memiliki alasan tersendiri . yang cukup, oleh karena Dusun itu masyarkat Dusun Glagah Desa Glagah Desa Giling. Alasan tradisi Giling tidak merasa kekurangan barikan dilakukan setiap hari Kamis pangan . Tradisi barikan malam Jumat Wage, karena dimalam Jumat Wage masyarakat meyakini makan leluhur yang telah meinggal. para leluhur berdatangan kerumah. Memberi makan leluhur yang sudah Leluhur berdatangan kerumah untuk tidak diurus oleh keluarganya, atau keluarganya telah melupakan jasa- mencari makanan. Apabila dirumah jasa yang dilakukan oleh leluhurnya. tidak ada yang memberi makan, atau Oleh karena itu didalam tradisi Tradisi barikan dilakukan stiap | 105 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 barikan ini leluhur bisa makan Desa Giling. Penyakit tersebut bisa makanan yang ada dalam tradisi terjadi pada ternak, tanaman, ataupun Masyarakat Dari kepercayaan bahwa setiap malam masyarakat Dusun Jumat Wage, para leluhur pulang Giling kerumah untuk makan dan juga barikan yang sudah dilakukan dari meminta doa. Masyarakat Dusun Glagah Glagah Desa Desa Giling percaya dengan adanya Tradisi barikan dilakukan pada mitos Bahasa Jawa Aupercoyo ora sore hari dan malam hari. Tradisi percoyoAy. barikan yang dilakukan masyarakat beranggapan Aupercoyo ora percoyo Dusun Glagah Desa Giling adalah yen saben-saben dalang iku ono pada Jam 6 sore. Masyarakat Dusun Glagah Desa Giling melakukan ritual Masyaarakat peremptan utawa pertigaan dalanAy. Masyarakat Dusun Glagah Desa uborampe dari rumah masing-masing Giling mempercayai bahwa di setiap menuju ke perempatab atau pertigaan jalan pasti terdapat penunggu jalan Uborampe yang dibawa adalah Penunggu jalan disini yang dimaksut adalah makhluk yang tidak kebiasaan atau yang sudah dilakukan bisa terlihat oleh mata manusia oleh generasi-generasi sebelumnya. Khususnya diperempatan- Masyarakat Dusun Glagah Desa Giling biasanya membawa nasi liwet. Masyaraakat dimana nasi liwet tersebut memiliki Dusun Glagah Desa Giling harus rasa yang asin, jadi guruh ketika di melakukan tradisi barikan. Apabila Selain nasi liwet masyarakat masyarakat Dusun Glagah Desa kulup-kulupan Giling tidak melakukan tradisi yang . ayur-sayuran. sudah ada sejak dulu. Dusun Glagah kulupan tersebut terdapat 7 jenis Desa Giling akan terkena suatu masalah dengan desa lain atau terjadi banyak penyakit di Dusun Glagah Dusun Glagah Desa Giling. (Sayura. Dimana | 106 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 kulup terdapat telur ayam jawa yang Masyarakat Dusun Glagah Desa di kukus dan dibelah menjadi dua Giling sudah mengerti apabila ada Sebagian masyarakat ada yang melakukan sore hari dan juga yang membawa jajan pasar seperti, malam hari, sehingga pasti ada gethuk, cethot, ondhe-ondhe dan jajan-jajan yang digemari anak kecil. pertigaan-pertigaan Masyakat Dusun Glagah Desa perempatan-perematan Giling sebagian melakukan tradisi melaksanakan tradisi barikan di sore barikan pada malam hari yaitu berkisar jam 8 malam samapai dengan jam 10 malam. Hal ini bisa Makna Simbolik Tradisi Barikan Adapun Dusun terjadi karena pada saat sore hari Glagah Desa Giling adalah nasi liwet masyarakat masih ada yang memiliki yang dibuat memiliki rasa asin. Sebagian masyarakat masih kulup-kulupan . , telur ayam ada yang di ladang, sawah, ataupun kampung yang dibelah menjadi dua bekerja yang lainnya. Oleh karena itu bagian, jajan pasar yang beraneka Uborampe tersebut memiliki barikan pada malam hari. Dalam makna yang sangat bermanfaat bagi masyarakat Dusun Glagah Desa waktunya berbeda juga memilki Giling. Nasi liwet yang memiliki rasa asin berarti wujud rasa syukur Perempatan ataupun pertigaan yang kepada Tuhan Yang Maha Esa. Wujud rasa syukur karena tuhan telah memeberikan kenikmatan yang ada didunia ini. Oleh karena itu rasa dijadikan sebagai tempat melakukan kehidupan didunia ini tidak hambar. tradisi barikan. Masyarakat harus Kulup-kulupan memilih tempat perempatan atau sebagai lauk pauk yang ada pada pertigaan jalan zaman dahulu. Kulup-kulupan atau sorenya belum dijadikan sebagai sayuran berjumplah tujuh, hal ini tempat melakukan tradisi barikan. memiliki makna bahwa tujuh dalam . | 107 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 bahasa jawa adalah pitu. Oleh karena Giling dalam melaksanakan tradisi itu berkaitan dengan kata jawa barikan melakukan kondangan atau Dalam bahasa Jawa kata suatu proses dimana masyarakat Masyakat Dusun Glagah menyampaikan suatu harapan dengan Desa Giling mempercayai dengan melakukan tradisi barikan dapat Selain Kenduren mantra-mantra, dilakukan masyarakat Dusun Glagah Desa Giling dengan cara melingkar di perempatan dan bersikap jongkok. Hal Kenduren Telur ayam kampung merupakan sebuah symbol dari bumi Selain sebagai wujud hormat sesama manusia, juga bertujuan menghormat dilambangkan dengan telur. Telur kepada sang maha pencipta hal ini dipecah menjadi dua bagian, hal ini menandakan bahwa manusia tidak memiliki arti bahwa didalam dunia lebih tinggi dari Tuhan Yang Maha terdapat adanya dua sisikehidupn. Esa. Sebagai contohnya laki-laki dan perempuan, siang hari dan malam hari, baik dan jelek, man masih banyak lainya. Jajan pasar memiliki arti bahwa manusia tidak memulu Tradisi Manusia makan makanan yang ada dirumah. Hal membeli makanan dari luar, baik itu dikarenakan tradisi barikan bertujuan makanan ringan taupun makanan makluk-makluk Glagah Desa Dalam masyarakat Dusun maklukSelain | 108 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 memberi makan para leluhur yang Relavansi Tradisi Barikan tidak dberi makan dirumah sanak dengan Pattidana Ritual pertigaan merupakan tempat yang Berkum Sikap Jongkok Sesepuh Perempatan makhluk yang tidak terlihat oleh ataupun pertigaan. Selain adanya makhluk-makhluk yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia normal, para leluhur ketika pulang kerumah sanak saudara, masyarakat percaya akan melewati perempatan ataupun pertigaan yang ada di jalan tengahtengah desa. Relevansi Tradisi Barikan dengan Pattidana Relevansi dengan dengan konsep ajaran Agama Buddha Pattidana. Tradisi barikan memiliki relevansi dengan Pattidana yaitu dalam tradisi barikan yang dalam hal informasi kepada Bapak Marjan tentang relevansi tradisi barikan Agama Buddha Pattidana. Dalam tradisi barikan mempunyai relevan dengan Pattidana. Tabel 4. Keteranga Dalam Dusun Glagah Desa Giling an disuatu titik yaitu jalan serta Dalam barikan ini Dusun Glagah Desa Giling n sandang . akaian Dalam Analisis Pattidana Berkumpul yang memiliki makna, berbaur dengan masyarakat mulai anak-anak, perkumpul untuk memberikan doa dan pelimpahan jasa kepada para makhluk-makhluk yang tidak terlihat oleh mata orang Dilihat Agama Buddha Pattidana, perupakan wujud Menghormati jasa-jas kebaikan yang telah leluhur lakukan semasa Hal ini kewajiban sanak Dalam pembacaan | 109 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 Makan atau di n jalan barikan ini Dipercayai mantra ini tidak untuk diri sendiri n banyak Dusun Glagah Desa Giling Tradisi bersama di bertujuan untuk jasa-jasa leluhur yang leah Doadoa dipanjatkan oleh sangat bermanfaat bagi masyarakat bagi leluhur yang n atupun telah meninggal leluhur untuk ikut kebahagian yang dirasakan sanak masih hidup. Sumber: peneliti dan informan Dari hasil wawancara dengan beberapa informan, maka peneliti mengambil suatu kesimpulan bahwa tradisi barikan memiliki relevansi dengan Pattidana. Relevansi ritual ritual dalam tradisi barikan ini memiliki relevansi dengan pattidana karena tujuan dari tradisi barikan ini memberi makan dan mengirimkan doa-doa kepada para leluhur yang telah meninggal. Didalam tradisi Barikan jasa-jasa Makan di tengah atupun dipertiaan sama rasa dan sama suka antara masyarakat, hal kebahagian yang makhluk yang tidak dapat dilihat oleh manusia biasa. PENUTUP Pelaksanaan tradisi barikan di Dusun Glagah Desa Gunungwungkal Giling Kecamatan Kabupaten Pati dilaksanakan setiap selapan ( satu bulan dalam penanggalan Jaw. sekali pada hari Kamis malam Jumat Wage. Tradisi ini dilakukan sore hari | 110 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 atupun malam hari. Tradisi barikan dunia terdapat adanya dua sisi. masyarakat, dari anak-anak, dewasa, banyaknya keinginan yang dimiliki Masyarakat membawa uborampe keperempatan Tradisi oleh manusia. Tradisi barikan memiliki relevansi Hal atupun pertigaan yang ada di Dusun teraplikasi dari ritual-ritual yang Glagah dijalankan dalam tradisi barikan. Desa Giling Kecamatan Ritual Gubungwungkal Kabupaten Pati. Makna Simbolik tardisi barikan di Dusun Glagah Desa Giling Kecamatan Gunungwungkal adalah pertigaan memiliki relevansi dengan sebagai berikut: . Nasi liwet yang pelimpahan jasa dalam pattidana, memiliki rasa asin berarti wujud rasa duduk Jongkok di tengah perempatan syukur kepada Tuhan Yang Maha atupun pertigaan relevan dengan Esa, karena tuhan telah memeberikan wujud hormat menghormati kepada kenikmatan yang ada didunia ini, para leluhur menghormati jasa-jasa sehingg rasanya tidak hambar. kebaikan yang telah leluhur lakukan kulup-kulupan semasa leluhur masih hidup, sesepuh berjumplah tujuh, hal ini memiliki atau modin membacakan mantra makna bahwa tujuh dalam bahasa relevan dengan melimpahkan jasa- jawa adalah pitu, hal ini berkaitan jasa kebajikan yang telah dilakukan dengan kata jawa pitulngan, dimana sanak saudara kepada para leluhur kata pitulungan ini memiliki arti yang leah meninggal, dan Makan penolong, menyingkirkan pagebluk bersama di perempatan atau di masyarakat, . telur ayam kampung berkaitan dengan kebahagian yang symbol dari bumi yang berbentuk kemudian dilimpahkan kepada sanak bulan yang dilambangkan dengan saudara yang telah meninggal. telur, telur dipecah menjadi dua, hal ini memiliki arti bahwa di dalam sesuai permasalahan penelitian, dapat | 111 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 langkah selanjutnya. Saran dapat berupa temuan penelitian. masukan bagi peneliti berikutnya, dapat DAFTAR PUSTAKA Dhammadhiro. Paritta Suci. Yayasan Sangha Theravada Indonesia: Jakarta. Dharmojo. Sistem Simbol dalam Munaba Waropen Papua. Jakarta: Pusat Bahasa. Endraswara. Suwardi. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka