Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual ISSN : 2746-4814 Vol 5. No 2. Juli 2024 ANALISIS TEOLOGIS MAKNA IBADAH DALAM TRADISI MAAoPAUNDI DALAM BUDAYA TORAJA Enrique Fausto Iglesias Institut Agama Kristen Negeri Toraja quee5502@gmail. ABSTRAK Tulisan artikel ini menganalisis mengenai makna teologis peribadatan yang dilakukan dalam tradisi maAopaundi dalam kebudayaan orang Toraja. MaAopaundi adalah suatu tradisi kebudayaan orang Toraja yang termasuk ke dalam acara rambu soloAo sebab ini berkaitan dengan orang yang telah meninggal yang telah MaAopaundi adalah acara rambu soloAo yang didalamnya dilakukan prosesi adat dan agama. Tradisi adat dan kebudayaan Toraja yaitu maAopaundi salah satunya adalah prosesi mantunu. Mantunu ini dilakukan lama setelah jenazah itu dikuburkan. MaAopaundi dalam arti bahasa indonesianya . engikuti, menyusul yang kemudian atau setelahny. , maksudnya ialah prosesi maAopaundi dilakukan setelah jenazah orang yang telah meninggal sudah dikuburkan . Selain dalam upacara dan tradisi secara adat dan budaya, dalam acara maAopaundi ini juga pada masa sekarang ini sudah dibarengi dengan adanya peribadatan. jadi prosesi budaya dan agama berbaur secara langsung dalam tradisi maAopaundi ini baik dalam kegiatan mengorbankan babi dan kerbau (Mantun. maupun kegiatan ibadah yang dilakukan setelahnya. MaAopaundi adalah wujud rasa hormat dan penghargaan kepada orang yang telah meninggal dan secara peribadatan keluarga akan dikuatkan melalui firman yang disampaikan dalam ibadah. Orang yang sudah meninggal yang pada saat ia dikuburkan belum ada hewan yang dikorbankan (TaeAopa Dipantunua. , kemudian setelah beberapa waktu kemudian melalui kebersamaan keluarga (To MaAorap. dibuatlah tradisi maAopaundi ini untuk mengorbankan hewan yang pada saat jenazah dikuburkan belum ada hewan yang dikorbankan. MaAopaundi paundi punya banyak nilai dalam hal kebersamaan dan perdamaian, namun secara peribadatan ini masih menjadi tanda tanya, sebab maAopaundi adalah kegiatan budaya dan bukan kegiatan keagamaan. Tentu ini yang menjadi kajian utama dalam artikel ini bagaimana agama dapat masuk ke dalam sebuah tradisi budaya sehingga keduanya dapat berdialog . odel sintesi. mengenai paham tentang kematian. Kata Kunci : MaAopaundi. Ibadah, mantunu. Sintesis. Firman ABSTRACT This article analyzes the theological meaning of worship carried out in the ma'paundi tradition in Torajan Ma'paundi is a cultural tradition of the Toraja people which is included in the rambu solo' event because it is related to dead people who have been buried. Ma'paundi is a Rambu Solo' event in which traditional and religious processions are carried out. Toraja traditional and cultural traditions, namely ma'paundi, one of which is the mantunu procession. This mantunu is carried out long after the body is Ma'paundi in the Indonesian language means . ollowing, following after or afte. , the meaning is that the ma'paundi procession is carried out after the body of a deceased person has been buried . aid in Apart from traditional and cultural ceremonies and traditions, this ma'paundi event is also currently accompanied by worship. So cultural and religious processions mingle directly in this ma'paundi tradition, both in the activity of sacrificing pigs and buffalo (Mantun. and the worship activities carried out Ma'paundi is a form of respect and appreciation for people who have died and in worship the family will be strengthened through the words spoken in worship. People who have died who did not have any animals sacrificed at the time they were buried (Tae'pa Dipantunua. , then after some time, through family togetherness (To Ma'rap. , this ma'paundi tradition was created to sacrifice animals that were not yet buried when the body was buried. there were animals sacrificed. Ma'paundi paundi has many values in terms of togetherness and peace, but in terms of worship this is still a question mark, because ma'paundi is a cultural activity and not a religious activity. Of course, this is the main study in this article, how religion can enter a cultural tradition so that the two can have a dialogue . ynthesis mode. regarding the understanding of death. Keywords : Ma'paundi. Worship. Mantunu. Synthesis. Word PENDAHULUAN Ritual kematian di Tana Toraja yang disebut dengan Rambu soloAo adalah upacara adat kematian di Tana Toraja. Ritual ini dilakukan dengan tujuan penghargaan dan penghormatan kepada arwah orang yang telah meninggal. Orang Toraja dalam aluk todolo percaya bahwa setelah meninggal roh atau arwah . dari orang yang sudah meninggal dikumpulkan bersama-sama dengan para leluhur di tempat yang disebut Upacara dalam rambu soloAo orang Toraja punya susunan kegiatan yang sangat banyak mulai dari waktu orang meninggal sampai kepada prosesi pemakamannya. Mulai dari maAodioAo, maAopeduni, maAopasulluk, mangriu batu mesimbuang membalakaan, maAopasaAotedong, maAopapengkalao, mangisi lantang, maAopalaoalang, maAopasongloAo, katongkonan, attu katorroan, mataa padang dan masih banyak lagi. Ini sesuai dengan kondisi upacara yang akan dilakukan oleh keluarga . Jadi tidak semua prosesi ini dilakukan tentu menyesuaikan dengan kemampuan keluarga secara finansial dalam mempersiapkan upacara rambu soloAo ini. upacara rambu soloAo dalam kebudayaan orang Toraja tidak dapat dilepaskan dari ibadah bagi penganut agama Kristen. Ibadah kadang kala dilakukan tiga kali berturut-turut setelah orang meninggal. Dan setelah ibadah tiga kali itu maka akan menunggu informasi dari keluarga kapan kegiatan penerimaan tamu . llo katongkona. dilakukan sampai pada waktu penguburan itu tidak dapat dilepaskan dari ibadah Peribadatan dalam acara rambu soloAo . pacara pemakama. merupakan hal yang sudah biasa ditemui dalam kehidupan orang Kristen secara khusus bagi orang Toraja. Ibadah yang kadang kala dilakukan dalam upacara pemakaman bisanya berakhir di ibadah penguburan dan setelah itu jenazah akan dibawah ke kuburan . Setelah jenazah itu dimakamkan maka dapat dikata bahwa pelayanan duka atau pelayanan ibadah rambu soloAo itu sudah selesai. Namun dalam salah satu tradisi orang Toraja yang banyak dilakukan saat itu yaitu maAopaundi, dilakukan juga peribadatan di dalamnya. MaAopaundi adalah suatu kegiatan yang tergolong dalam acara rambu soloAo yang ditujukan untuk mengenang, menghormati dan menghargai orang yang sudah meninggal, dalam hal ini maAopaundi memiliki banyak prosesi-prosesi yang dilakukan di dalamnya baik itu mantunu . emotongan hewa. , tongkon . ertamu atau hadir mengambil bagian dalam kegiata. maupun ibadah. MaAopaundi kadang dilakukan lama setelah jenazah dikuburkan. Hal ini terjadi karena ada dua alasan mendasar yang membuat acara rambu soloAo terhambat ketika jenazah dikuburkan yaitu: belum adanya hewan seperti babi maupun kerbau yang akan dikorbankan oleh keluarga. Yang kedua adalah pada masa sekarang ini maAopaundi marak terjadi karena pada masa orang yang bersangkutan meninggal, ia meninggal pada masa covid 19 yang membuat mau tidak mau semua jenazah harus langsung dimakamkan secara terpaksa. MaAopaundi dilakukan dengan hal ini mencakup pengorbanan kerbau dan babi untuk sanak saudara yang telah meninggal, kadang-kadang lama setelah kematian mereka, jika ternak yang disembelih pada pemakaman awal dianggap tidak cukup untuk menjamin kesejahteraan mereka di akhirat, atau kurang dari keturunannya, awalnya berjanji. Beberapa penduduk desa memprotes bahwa ritual di Barat, yang dikaitkan dengan kematian, tidak dapat diadakan sebelum ritual pertanian, yang pada dasarnya di Timur, yang berkaitan dengan kehidupan dan kesuburan, telah selesai. Di masa lalu, pemisahan kedua dunia ini dilakukan dengan sangat ketat, dan pencampuran keduanya masih dianggap mengundang sanksi Oleh karena itu para pemegang ma'paundi menunda namun keterlambatan kita sendiri dalam melaksanakan ma'belundak. Maksudnya pada saat kita melakukannya, ma'paundi sebenarnya sudah Keluarga akan menerima jatah daging dari upacara tersebut, yang dimakan di sela-sela kegiatan ma'piong dan ma'belundak. Roxana Waterson. Paths and Rivers: SaAodan Toraja Society in Transformation (Netherlands: KITLV Press Leiden, 2. MaAopaundi kadang kala disamakan dengan tradisi maAoneneAo oleh sebagian orang sebab dalam tradisi maAoneneAo juga keluarga kadang kala menjadikan itu sebagai kesempatan untuk melakukan acara mantunu sebab pada saat keluarganya meninggal belum ada hewan yang diikorbankan. Jadi maAopaundi yang artinya menyusul bisa digabungkan dengan acara maAoneneAo yang adalah pembersihan jenazah dan mengganti peti Jadi tidak jarang maAopaundi ini dilakukan secara khusus dan tidak jarang juga digabungkan dengan kegiatan atau tradisi maAoneneAo. Untuk melihat bagaimana tata cara dan alur kegiatan dalam tradisi maAopaundi ini harus dikaji dari segi kebudayaan terlebih dahulu lalu kemudian melihat budaya itu dalam peribadatan yang dilakukan. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang dipakai dalam artikel ini adalah menggunakan salah satu model teologi kontekstual yang ada di dalam buku Bevans yaitu model sintesis. Model sintesis merupakan model yang biasa disebut jalan tengah, dimana model ini menekankan pengalaman masa kini yaitu mengenai pengalaman, kebudayaan, lokasi sosial, perubahan sosial dan pengalaman masa lampau . itab suc. Model sintesis bersandar pada hal pembenaran alkitabiah menyangkut keseluruhan proses penyusunan rupa-rupa sumber dalam Alkitab. la juga bersandar pada teori-teori tentang perkembangan doktrin yang memahami doktrin-doktrin sebagai sesuatu yang lahir dari interaksi yang majemuk antara iman Kristen dan rupa-rupa model sintesis juga dapat disebut model dialogis, model dwicakap, atau juga model analogis. Dengan istilah dialektis atau pun dialogis, model ini mengupayakan pengembangan pandangan yang dapat diterima oleh semua pihak. Model ini mengusahakan suatu interaksi dari berbagai pihak yang ada, baik itu konteks budayanya sendiri yang mencakup seluruh gerak sejarah dan perubahannya, ajaran Kitab Suci dan Tradisi Gereja, dan juga berbagai konteks dan ungkapan pemikiran yang lain. Model sintesis yang ditawarkan oleh Bevans ini mengacu pada mempertahankan injil sebagai suatu hal yang tetap dan tidak dapat diubah . Inilah yang berbahaya dari model sintesis yang ditakutkan adalah adanya kegiatan atau ritual kebudayaan yang tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab. Contohnya dalam acara maAoneneAo dan maAopaundi jika masih ada persembahan atau sesajen yang diletakkan di depan Ini bisa saja membuat penggunaan model sintesis ini sulit dilakukan sebab ada ketidakcocokan antara budaya dan agama. Namun perlu juga dikaji lebih dulu alasan atau motif pemberian sesajen itu atau hal yang dianggap bertentangan dengan ajaran firman Tuhan itu perlu dikaji lebih dalam. Model sintesis bertujuan ingin mendialogkan atau adanya dwicakap dalam berteologi, yaitu percakapan antara kebudayaan dengan injil kitab suci. Atau mendialogkan antara tradisi maAopaundi ini dengan peribadatan kekristenan. Dalam mengkaji tradisi ini dengan model sintesis perlu lebih dahulu mengkaji budaya dan apa saja yang dilakukan dalam tradisi maAopaundi ini mulai dari awal acara sampai pada akhirnya. Secara singkat bahwa seluk beluk tata cara atau prosesi dalam tradisi ini harus diketahui terlebih dahulu lalu kemudian dapat mempertemukannya dengan agama Kristen atau isi kitab suci. Dalam artian bahwa pengkajian hal ini harus lebih didahulukan pada budaya supaya setelah seluk beluk tata cara maAopaundi dietahui maka akan mudah menghubungkan atau mendialogkannya dengan peribadatan Jadi mulai dari prosesi mantunu, katongkonan, fenomena pakaian hitam sampai pada fenmena tangisan keluarga akan dihubungkan dengan peribadatan yang dilakukan di siang hari . ukaAo tu all. yang menggambarkan waktu peribadatan rambu tukaAo yang tentunya tidak sesuai dengan aturan adat di Toraja. Namun dalam hal ini yang diutamakan adalah makna teologis dalam peribadatan maAopaundi ini untuk mendialogkan antara paham kekristenan menganai orang yang sudah meninggal dengan paham kebudayaan Toraja mengenai orang mati. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemahaman Mengenai MaAopaundi MaAopaundi adalah tradisi dan kebudayaan di Tana Toraja yang secara turun temurun diwariskan mulai dari zaman adanya aluk todolo sampai sekarang ini dalam agama-agama yang ada di Indonesia termasuk kekristenan. MaAopaundi berdasarkan sejarahnya berasal dari aluk todolo yang sangat kental dengan adat dan kebudayaan yang terbangun oleh nenek moyang orang dulu . eneAo Tradisi maAopaundi pada zaman aluk todolo dilakukan dengan bebas dan tanpa intervensi Deflit Dujerslaim Lilo dan Yohanes Krismantyo Susanta. Penguatan Moderasi Beragama (Yogyakarta: PT Kanisius, 2. Stephen B. Bevans. Model-Model Teologi Kontekstual (Maumere: Ladalero, 2. dari agama lain, sebab belum ada agama yang berkembang pesat di Toraja saat aluk tolodo masih menjadi agama leluhur yang sangat ditaati ketika itu. seiring perkembangan zaman dan seiring dengan berjalannya waktu tradisi maAopaundi semakin hari semakin berubah dengan adanya agamaagama lain yang masuk ke Toraja. Perubahan itu terlihat dari praktik yang dilakukan, pemahaman masyarakat Toraja tentang orang yang telah meninggal dan berbagai tambahan praktik dan tambahan ritual yang semakin memperlihatkan perubahan melalui perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang sangat pesat. MaAo paundi adalah sebuah tradisi dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat Toraja yang diwariskan secara turun temurun mulai dari zaman nenek moyang orang Toraja. MaAopaundi adalah tradisi yang berhubungan dengan orang yang telah meninggal dan telah dikuburkan. MaAopaundi ini dilakukan hampir sama dengan katongkonan saat ada acara rambu soloAo. Dalam tradisi maAopaundi akan dilakukan berbagai macam acara atau kegiatan seperti pengorbanan hewan . , bertamu . , dan pada zaman sekarang sudah ada peribadatan secara kristiani. maAopaundi bagi orang Toraja itu dilakukan dengan berbagai alasan, ada yang karena masalah ekonomi dan ada juga yang karena masalah penyakit. MaAopaundi ini tidaklah dilakukan setiap ada orang yang meninggal, namun tradisi ini tergantung pada kesepakatan dari keluarga dalam melakukan tradisi ini. maAopaundi bukanlah kewajiban bagi orang Toraja yang punya keluarga yang meninggal melainkan ini hak yang dimiliki untuk melakukan tradisi ini. maAopaundi juga kadang kala dipadukan dengan tradisi maAoneneAo, sebab dalam tradisi maAoneneAo mantunu juga menjadi kegiatan yang pasti dilakukan dengan tujuan penghormatan dan penghargaan pada jenazah yang akan dibersihkan beserta dengan perlengkapan makamnya. MaAopaundi adalah kegiatan yang dilakukan di tongkonan atau di rumah orang yang sudah meninggal dan telah dimakamkan, jadi secara otomatis bahwa ketika acara maAopaundi dilakukan maka orang yang telah meninggal itu sudah dimakamkan dalam jangka waktu yang sudah lama, dan kemudian kegiatan maAopaundi ini dilakukan sekitar tiga atau empat tahun setelah jenazah Ada beberapa alasan besar mengapa orang Toraja melakukan tradisi maAopaundi yaitu: Ketika orang tersebut meninggal, keluarga sedang berada dalam kesulitan ekonomi sehingga jenazah orang yang meninggal dimakamkan dengan cepat tanpa adanya kegiatan mantunu yang dilakukan. Kadang juga ada prosesi mantunu namun jika itu tidak sesuai dengan harapan dan keinginan keluarga maka boleh saja melakukan tradisi maAopaundi ini. tidak adanya babi ataupun kerbau yang akan dikorbankan dalam acara pemakaman, akan membuat keluarga merencanakan maAopaundi ini sebagai penghargaan bahwa ketika orang tersebut dimakamkan belum ada hewan yang dikorbankan . aeAo pa tedong sia bai tu ditunuann. oleh sebab itu dilakukan maAopaundi yang artinya mengikut, setelah, yang kemudian mengartikan bahwa untuk pemakaman akan dilakukan saja dulu dan untuk prosesi mantunu akan dilakukan dalam tradisi maAopaundi tergantung kesepakatan keluarga. Alasan kedua ialah yang baru-baru saja mengguncang dunia ini yaitu covid 19 atau virus corona yang membuat banyak orang meninggal dan mau atau tidak jenazah orang yang terjangkit covid 19 harus langsung dimakamkan. Dan di Toraja juga banyak masyarakat yang terjangkit virus ini sehingga masyarakat Toraja yang meninggal karena covid harus langsung dimakamkan. Tentunya ini sangat bertentangan dengan kebudayaan orang Toraja, bagaimana pada umumnya orang Toraja yang Kristen meninggal kebanyakan akan lebih dari satu hari berada di rumah untuk lebih melalui prosesi pemakaman yaitu melalui tradisi dan peribadatan untuk menghibur keluarga. Sedangkan jika melihat dari aturan pemerintah dan dinas kesehatan tentang covid 19 maka untuk sementara kebudayaan dan agama harus mengalah sebab ini berdampak pada kesehatan orang lain jika tradisi dan praktik peribadatan dipaksakan. Dengan alasan inilah banyak orang Toraja melakukan tradisi maAopaundi sebab ketika meninggal keluarga mereka langsung dimakamkan tanpa adanya prosesi adat dan peribadatan. Alasan yang ketiga adalah adanya kebebasan dalam melakukan tradisi ini yaitu meskipun ketika prosesi pemakaman sudah dilakukan tradisi katongkonan dan mantunu, namun jika Ahmad Arif. Warga Bergerak: Catatan Kritis Pandemi Covid 19 Di Indonesia (Jakarta: KPG, 2. keluarga belum puas terhadap hal itu maka maAopaundi menjadi hak bebas semua orang Toraja yang mau melakukannya. Praktik Dan Tata Cara Dalam MaAopaundi Dalam tradisi maAopaundi tentunya memiliki tata cara dan beberapa kegiatan yang dilakukan baik secara adat, budaya maupun secara keagamaan. Secara kebudayaan yang secara turun temurun dilakukan tentunya tetap mengambil bagian dalam praktik maAopaundi ini sedangkan peran serta kekristenan yang tentunya baru-baru ini boleh menjadi bagian dari tradisi maAopaundi melalui berikut beberapa praktik yang dilakukan baik secara budaya maupun secara keagamaan dalam tradisi maAopaundi. Mantunu Mantunu adalah proses dalam kebudayaan Toraja yang dilakukan dalam upacara rambu soloAo. Atau secara sederhana mantunu adalah proses pemotongan atau penyembelihan hewan yang akan dikorbankan dalam sebuah kegiatan atau acara adat orang Toraja. Dalam tradisi orang Toraja yang biasa dikorbankan dalam upacara kematian ialah babi dan kerbau. Babi dan kerbau menjadi bagian dalam kehidupan orang Toraja sebab kedua hewan ini praktis selalu terlihat dalam upacara rambu soloAo bagi orang Toraja. Lalu mengapa ayam tidak termasuk dalam hewan yang disembelih dalam upacara rambu soloAo, hal ini dikarenakan ayam bagi orang Toraja adalah simbol sukacita dan merupakan simbol ucapan Untuk itu ayam hanya terlihat dalam upacara rambu tukaAo seperti pesta perkawinan dan syukuran. Mantunu dalam masyarakat Toraja sudah seperti kewajiban sebab orang Toraja mengenal yang namanya longkoAo atau rasa malu akan harga diri keluarga dan Tantangan dan merupakan beban bagi orang Toraja jika mereka tidak melakukan prosesi mantunu jika ada keluarga mereka yang meninggal paling tidak mereka mengorbankan babi sebab secara harga babi lebih murah dari kerbau, namun kerbau menunjukkan superioritas atau kuasa orang Toraja dalam menunjukkan penghargaannya kepada orang yang sudah meninggal. Jika berbicara soal mantunu dalam tradisi maAopaundi maka itu tidak jauh berbeda dengan mantunu dalam acara rambu soloAo yaitu tetap mengorbankan babi dan kerbau. Hewan yang telah dikorbankan ini akan dikerjakan oleh masyarakat atau dalam istilah Toraja disebut paAotondokan yang akan bekerja dalam memotong-motong daging dan membagikannya kepada setiap kepala keluarga dari warga paAotondokan yang ada dalam suatu daerah atau disebut dengan istilah manta dukuAo. Dalam prosesi mantunu juga bagi keluarga yang mengorbankan hewan baik itu babi maupun kerbau akan mendapatkan sebagian daging dari hasil korban yang ia berikan . Jadi mantunu dalam maAopaundi sama dengan mantunu dalam rambu soloAo atau dalam upacara pemakaman orang mati. Katongkonan/tongkon Tongkon atau katongkonan dalam adat kebudayaan Toraja artinya duduk yang artinya bahwa rampo tongkon dalam dalam adat Toraja terutama dalam rambu soloAo berarti datang untuk duduk, dan menjalin kebersamaan dengan keluarga atau duduk sama-sama dengan keluarga yang berdukacita. Tongkon dapat diartikan sebagai berbagi kedukaan dengan Ada juga masyarakat Toraja saat datang tongkon tentunya membawa sesuatu seperti membawa babi ataupun kerbau dalam kata lain rampo maAobullean bai sia rampo maAorenden tedong. Tujuan katongkonan adalah untuk menjalin kebersamaan dan persaudaraan dengan keluarga yang sedang berdukacita. Kehadiran orang dalam katongkonan menggunakan pakaian hitam menandakan turut berdukacita atas duka yang dialami oleh keluarga. Rampo tongkon ingin memperkuat hubungan kekeluargaan sebab kebanyakan orang Toraja yang datang tongkon pastinya adalah keluarga orang yang berduka baik keluarga jauh maupun dekat. Jadi tongkon dalam tradisi maAopaundi dapat didefinisikan sebagai suatu keinginan dan kemauan dari pelayat untuk hadir bersama-sama dengan keluarga mengenang orang yang telah meninggal dan saling menghiburkan dalam keadaan dukacita. Selain itu dalam tradisi maAopaundi tujuan pelayat dan to tongkon hadir Yekhonya F. T Timbang. Bunga Rampai Teologi Kontekstual & Kearifan Lokal Toraja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. ialah sama-sama bersyukur atas berkat dan penyertaan Tuhan yang dirasakan bagi semua keluarga dalam kehidupan mereka. Yang kemarin ketika keluarga atau orang tua mereka meninggal tidak dilakukan acara tongkon karena mempertimbangkan banyak faktor, namun saat maAopaundi dilakukan maka itu menjadi saat bagi keluarga dan bagi para pelayat untuk berbagi duka, berbagi sukacita dan berbagi kasih bersama-sama. MassabuAo patane MassabuAo patane adalah kegiatan yang biasanya dipadukan dengan acara maAopaundi. MassabuAo patane adalah syukuran makam bagi orang Toraja tepatnya ialah makam yang dibangun sendiri layaknya rumah dengan tiang beton yang kadang disebut dengan isitilah banua tang merambu atau rumah tanpa adanya dapur atau rumah yang tidak membutuhkan asap untuk memasak. Patane atau banua tang merambu merupakan makam yang kadang disyukuri oleh orang Toraja setelah pembangunannya rampung dilakukan, syukuran dilakukan melalui ibadah di patane tersebut sebagai wujud rasa syukur keluarga atas patane yang telah selesai dibangun. MassabuAo patane atau syukuran atas selesainya pembangunan makam kadang dipadukan dengan maAoneneAo dan maAopaundi sebab dalam acara massabuAo patane kadang ada mayat yang dipindahkan dari makam bawah tanah ke patane yang telah disyukuri dan biasanya diawali dengan mengganti peti, membersihkan jenazah layaknya tradisi maAoneneAo. Jika melihat saat ini tradisi massabuAo patane diwarnai dengan ibadah sebagai inti dari ucapan syukur kepada Tuhan, tentu ini berbeda ketika belum ada kekristenan di Toraja yang ada ialah pemujaan kepada Puang Matua, para Deata dengan neneAo todolota sebagai puang titanan tallu yang dipercaya oleh aluk todolo orang Toraja. MassabuAo patane dipadukan dengan maAopaundi tidaklah selalu terjadi tergantung pada keadaan dan keinginan keluarga dalam memadukan setiap tradisi dalam satu waktu. MaAoneneAo Tradisi maAoneneAo adalah tradisi dalam kebudayaan orang Toraja yang bertujuan untuk maAokassai tomate yang artinya bahwa membersihkan orang yang telah meninggal. Membersihkan jenazah dan juga mengganti peti kadang dilakukan dalam tradisi maAoneneAo. Tradisi maAoneneAo ini ditujukan sebagai penghormatan dan penghargaan kepada orang yang sudah meninggal. Sama halnya dengan tradisi maAopaundi, maAoneneAo juga bersumber dan berasal dari aluk todolo bagaimana orang Toraja menganut sistem kepercayaan Animisme namun sama dengan maAopaundi tradisi ini berubah seiring adanya kekristenan yang masuk di Toraja. Namun bukan berarti bahwa warga Toraja meninggalkan kepercayaan aluk todolo sepenuhnya. Praktis bahwa setelah masuknya kekristenan di Toraja, aluk todolo tidak hilang melainkan hanya sedikit berubah melalui pengaruh dari kekristenan, gereja dan para tokoh agama yang ada. Dalam tradisi maAoneneAo semua orang yang sudah meninggal dipanggil neneAo meskipun orang itu masih mudah. Pun juga dengan keluarga yang melakukan kegiatan maAoneneAo tidak boleh menangis di makam hal ini dikarenakan karena orang Toraja masih percaya dengan pemali yang masih dipegang kuat menjadi salah satu dasar hidup mereka. Peribadatan/Ibadah Ibadah ialah kegiatan orang Kristen dan agama lainnya untuk berkomunikasi dengan Tuhan yang disembah. Secara khusus bagi orang Kristen bahwa ibadah itu menekankan pada komunikasi, puji syukur dan permintaan kepada Tuhan. ibadah dalam kekristenan punya banyak jenis baik itu ibadah syukuran, ibadah penghiburan, ibadah hari minggu, maupun ibadah insidentil lainnya. Ibadah dalam maAopaundi dulunya tidak ada ketika kekristenan belum masuk ke Toraja, namun setelah kekristenan masuk ke Toraja maka pengaruh kekristenan terhadap aluk todolo mulai ada dan hal itu dibuktikan melalui diikutsertakannya praktik peribadatan dalam kekristenan. Yang artinya bahwa kekristenan punya pengaruh besar dalam kebudayaan orang Toraja. Ibadah dalam maAopaundi digolongkan ke dalam ibadah syukur namun jika secara adat Toraja maAopaundi adalah rambu soloAo atau acara Namun tentu baik kekristenan maupun tradisi budaya punya dasar masing6 Ferry Sutrisna Wijaya. Retret Ekologi Toraja (Makassar: Pustaka KSP Kreatif, 2. Indra. Toraja Dan Penghormatan Terhadap Jenazah Hingga Maraknya Pencurian Mumi (Jakarta: Tempo Publishing, 2. Daniel Fajar Panuntun. Seni Dan Kepemimpinan (Bandung: CV. Feniks Muda Sejahtera, 2. masing dalam menetapkan suatu doktrin tertentu dalam setiap kegiatan yang ada. Ibadah maAopaundi kadang juga dilakukan sebagai ibadah umum yaitu bukan rambu soloAo dan bukan juga rambu tukaAo hal itu biasa ditandai dengan kain merah yang menandakan suatu kegiatan yang umum. Penekanan Firman Dalam Ibadah MaAopaundi Ibadah dalam tradisi maAopaundi merupakan bagian yang saat ini menjadi kegiatan yang penting selain dua kegiatan yang lain yaitu tongkon dan mantunu. Dalam ibadah maAopaundi masyarakat Toraja menganggap ibadah ini sama saja dengan ibadah penghiburan atau ibadah pemakaman sebab maAopaundi dilakukan dengan tradisi budaya yang sama dengan upacara pemakaman atau rambu soloAo. Oleh karena itu orang Toraja menggolongkan maAopaundi dalam rambu soloAo. Berbeda dengan ajaran kekristenan dan gereja, pendeta-pendeta gereja Toraja memahami bahwa ibadah dalam tradisi maAopaundi adalah ibadah syukur. Syukur yang dimaksudkan bukan karena adanya orang meninggal yang kembali diungkit keberadaannya melainkan bersyukur atas penyertaan Tuhan kepada keluarga orang yang telah meninggal sehingga keadaan mereka yang dulunya tidak bisa melakukan kegiatan paAotomatean kini setelah mereka sukses dan berhasil, mereka kembali, berkumpul bersama dan mengadakan tradisi maAopaundi ini. Budaya dan adat Toraja menganggap ibadah maAopaundi sebagai ibadah penghiburan, gereja menganggap ibadah maAopaundi sebagai ibadah syukur, namun keluarga menganggap tradisi maAopaundi ini sebagai penghargaan dan penghormatan kepada keluarga yang meninggal dan tentunya ini semua disertai dengan rasa syukur yang dialami keluarga sehingga mereka dapat berkumpul bersama dengan segala penyertaan Tuhan dan dapat melaksanakan tradisi maAopaundi ini. jika kita melihat dari perspektif gereja atau pendapat para pendeta gereja Toraja maka kita akan mendapati sebuah penekanan firman Tuhan yang dibawakan dalam ibadah maAopaundi ialah tentang ucapan syukur atas berkat Tuhan dan ajakan untuk saling mengasihi antar keluarga yang berduka dan dengan orang lain. Penekanan tentang syukur dan tanda kasih antar keluarga menjadi pokok utama dalam ibadah maAopaundi. Ibadah maAopaundi bukanlah ibadah penghiburan, ibadah maAopaundi bukan juga untuk mendoakan orang mati namun ibadah maAopaundi tempat untuk mendoakan keluarga yang orang yang telah meninggal. Sebab gereja Toraja sangat anti dan sangat menentang paham dalam mendoakan orang yang sudah meninggal sebab dalam pemahaman gereja Toraja tidak ada lagi gunanya dalam mendoakan orang mati namun yang perlu didoakan ialah keluarganya. Keluarga bersukur atas penyertaan Tuhan dalam kehidupan mereka dan tetap didukung dalam doa untuk menjalani kehidupan selanjutnya. Kontekstualisasi Pemahaman Kekristenan Dan Kebudayaan Tentang Kematian Kontekstualisasi adalah upaya dalam interaksi dan dalam komunikasi dialektis. Teologi kontekstual itu adalah ungkapan dalam interaksi yang dinamis antara budaya dan injil bersama dengan gereja. Kontekstualisasi adalah proses penyesuaian injil dengan budaya. Interaksi dan juga komunikasi berfungsi agar injil dan budaya dapat saling menyesuaikan dan saling menghargai. Inti dalam kebudayaan orang Toraja adalah kematian atau rambu soloAo yang sangat kental dengan aluk todolo dan tentunya jika kita bertanya kepada penganut aluk todolo mengenai tata cara pemakaman jenazah maka orang itu akan menjawab berdasarkan metodologi berpikir aluk todolo dan mengabaikan paham kekristenan. Namun jika seorang Kristen yang ditanya tentang hal tersebut tentunya ia akan menjawab berdasarkan doktrin kekristenan yang ia anut atau berdasarkan pengakuan iman gerejanya. Agama itu hanyak berperan sedikit dalam upacara rambu soloAo sebab kadang dikatakan bahwa pemakaman dilakukan berdasarkan adat Toraja yang artinya keberadaan religi itu cenderung terabaikan. Budaya dan agama dapat saling menyesuaikan ketika ada interaksi dan dwicakap yang baik atau adanya dialog yang baik antara adat dan agama. Sealthiel Izaak. Firman Hidup 66: Khotbah-Khotbah Penghiburan Dan Kekuatan Dalam Kedukaan (Jakarta: BPK Gunung Mulia. Theodorus Kobong. Injil Dan Tongkonan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. Kontekstualisasi antara paham kebudayaan Toraja tentang orang mati dengan paham agama kristen tentang orang mati tentu akan sulit dikontekskan namun masuknya kekristenan di Toraja memunculkan hal yang semakin positif dalam berteologi kontekstual yaitu bagaimana ibadah sudah dilakukan dalam tradisi maAopaundi maupun tradisi lainnya yang ada di Toraja. Keterlibatan para tokoh agama seperti pendeta dan majelis gereja sudah sangat diperhitungkan dalam setiap kegiatan dan kebudayaan yang akan dilakukan. Artinya bahwa paham kekristenan sudah mulai memengaruhi dan sudah sedikit mengubah kebudayaan Toraja yang dulunya berpusat pada aluk todolo namun setelah kekristenan masuk maka hal yang berbau penyembahan berhala dan hal yang bertentangan dengan kekristenan mulai dihilangkan seiring berkembangnya aluk kasaraniandi Toraja. Model sintesis tentu secara nyata berkembang dan bekerja dalam hal ini bagaimana dwicakap atau dialog yang ada antara gereja dan budaya berjalan dengan baik dan itu ditandai dengan adanya peran serta gereja dalam tradisi budaya seperti maAopaundi dan maAoneneAo. Keberadaan kekristenan dapat dikatakan diterima dengan baik oleh para pengaku adat dan para tokoh masyarakat yang ada di Toraja bagaimana pengaruh agama Kristen sangat kuat dibawa oleh para misionaris yang membuat orang Toraja mulai meninggalkan aluk todolo yang dianggap tidak sesuai namun tetap melakukan yang dianggap masih sesuai. Artinya bahwa aluk todolo tidak ditinggalkan secara permanen namun hanya ada sedikit perubahan yang ada. Paham orang Toraja tentang orang yang telah meninggal dalam aluk todolo tentu percaya tentang kuasa nenek moyang atau neneAo todolota. Oleh sebab itu orang Toraja penganut aluk todolo akan menyembah orang yang sudah meninggal atau meminta berkat kepada orang mati. Mereka juga percaya akan adanya arwah nenek moyang mereka yang masih gentayangan di dunia ini oleh sebab itu mereka senang mendoakan arwah nenek moyang Sedangkan jika dibandingkan dengan paham orang Kristen tentang orang yang telah meninggal, maka orang Kristen akan berpendapat bahwa tidak ada arwah yang gentayangan, hanya kepada Tuhan yang layak disembah dan tidak ada gunanya dalam mendoakan orang yang sudah Hal inilah yang didialogkan untuk memperoleh hasil interaksi dan komunikasi seperti halnya yang terjadi dalam kehidupan orang Toraja yang melibatkan kekristenan dalam tradisi dan kebudayaan Toraja yang bermula dari aluk todolo. KESIMPULAN Dari keseluruhan materi yang telah dituliskan dapat disimpulkan bahwa kajian teologis ibadah dalam tradisi maAopaundi dalam kebudayaan Toraja ialah maAopaundi berakar dari aluk todolo namun setelah kekristenan masuk ke Toraja perubahan dalam tradisi itu terlihat jelas dengan dilibatkannya peribadatan Kristen dalam tradisi maAopaundi yang menjadi kesuksesan dalam teologi kontekstual dalam model dwicakap dan mengenai hal utama yang dikaji dalam jurnal ini bahwa hal teologis yang ditekankan dalam ibadah tersebut menekankan soal ucapan syukur kepada Tuhan atas penyertaanNya kepada keluarga orang yang meninggal sehingga berkat Tuhan tetap nyata dalam hidup mereka sampai mereka dapat melaksanakan kegiatan maAopaundi ini sebagai penghormatan dan penghargaan kepada keluarga yang telah meninggal. Selain itu penekanan teologis yang ditekankan dalam ibadah maAopaundi ialah tanda kasih keluarga kepada orang yang telah meninggal dan tanda kasih kepada sesama keluarga yang boleh berkumpul dan bersyukur atas penyertaan Tuhan sehingga yang dulunya mereka belum dalam keadaan berhasil atau sukses, namun saat mereka hadir dan melaksanakan acara maAopaundi mereka bersyukur dan bersukacita atas berkat Tuhan. DAFTAR PUSTAKA