Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan VOLUME 6 NOMOR 2. SEPTEMBER 2025 https://ejournal. id/index. php/jurnalalurwatulwutsqo/ ISSN: 2721-5504 DIGITAL LEARNING CULTURE DI SEKOLAH BERBASIS BOARDING SCHOOL: STUDI ADAPTASI SISWA SERTA GURU PADA PEMBELAJARAN DI SEKOLAH Ahmad Setyo Widadi. Evi Fatimatur Rusydiyah UIN Sunan Ampel Surabaya Email : ahmadwidadi02@gmail. evifatimatur@uinsa. Abstract This study aims to explore the digital learning culture at SMP Al Hikmah Boarding School Batu, focusing on the adaptation of students and teachers in technology-based learning processes. A qualitative approach was employed using observation, semi-structured interviews, and documentation. The research informants included the principal, teachers, and active students at the school. The findings indicate that the full integration of the Learning Management System (LMS) in daily teaching and learning activities has transformed learning patterns into more independent, flexible, and interactive ones. Teachers act as facilitators and digital mediators, guiding students to use technology productively and responsibly. However, challenges such as infrastructure limitations and disparities in digital literacy among users remain. Collaborative solutions including regular training, teacher discussion forums, and student mentoring are key factors for successfully fostering an inclusive and sustainable digital learning culture. This study is expected to serve as a reference for boarding schools in optimizing digital learning implementation. Keywords: Adaptation. Boarding School. Digital Learning. Learning Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi budaya belajar digital di SMP Al Hikmah Boarding School Batu dengan fokus pada adaptasi siswa dan guru dalam proses pembelajaran berbasis teknologi. Pendekatan kualitatif digunakan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi. Informan penelitian meliputi kepala sekolah, guru, dan siswa aktif di sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi Learning Management System (LMS) secara penuh dalam kegiatan belajar mengajar telah mengubah pola belajar menjadi lebih mandiri, fleksibel, dan interaktif. Guru berperan sebagai fasilitator dan mediator digital yang membimbing siswa dalam penggunaan teknologi secara produktif dan bertanggung jawab. Meskipun demikian, terdapat tantangan seperti keterbatasan infrastruktur dan kesenjangan literasi digital antar pengguna. Solusi kolaboratif berupa pelatihan rutin, forum diskusi guru, serta pendampingan siswa menjadi kunci keberhasilan budaya belajar digital yang inklusif dan berkelanjutan. Penelitian ini diharapkan menjadi referensi bagi sekolah berbasis boarding school dalam mengembangkan pembelajaran digital secara optimal. Kata kunci: Adaptasi. Boarding School. Digital Learning. Pembelajaran PENDAHULUAN Pembelajaran berbasis agama yang menekankan pelestarian kitab klasik dikenal dengan istilah pesantren Hingga saat ini, perdebatan mengenai pesantren salaf dan pesantren modern masih berlangsung. Pesantren salaf tetap mempertahankan sistem pembelajaran tradisional, sementara pesantren modern lebih mengutamakan peran teknologi dalam proses pembelajaran (Marliani et al. , 2. Perubahan ini menunjukkan bahwa teknologi telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dunia pendidikan, berperan sebagai alat untuk meningkatkan keterampilan, pengetahuan, dan pemahaman santri sesuai dengan kebutuhan mereka. Namun, pemanfaatan teknologi yang tidak tepat dapat menjadi hambatan dalam proses pembelajaran maupun pengembangan keterampilan. Baik siswa di sekolah maupun santri di pesantren memiliki peran dan tanggung jawab sebagai generasi penerus bangsa yang berkontribusi dalam membangun Indonesia yang lebih Kehadiran teknologi di lingkungan pesantren tidak dapat sepenuhnya dihindari. Dengan berkembangnya teknologi ini telah mengubah berbagai aspek termasuk pendidikan. Digitalisasi pembelajaran kini menjadi tren global yang memungkinkan siswa untuk mengakses berbagai sumber belajar secara fleksibel dan interaktif (Gikas & Grant, 2. Akan tetapi sebagian pesantren menolak dengan adanya internet dengan membatasi Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 pemakaian smartphone. Di samping itu berbagai sekolah telah mengadopsi digital learning culture, di mana teknologi menjadi bagian integral dalam proses pembelajaran. Namun, kebanyakan penelitian lebih banyak membahas penerapan digital learning di sekolah umum, sedangkan penelitian di sekolah berbasis boarding school masih terbatas. Di era digital, teknologi informasi dan komunikasi berperan penting dalam pendidikan, termasuk dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Pemanfaatan sumber belajar digital, seperti platform interaktif, aplikasi, dan video pembelajaran, menjadi kebutuhan mendesak untuk mendukung proses belajar yang lebih efektif dan dinamis (Azka et al. , 2. Pemanfaatan sumber belajar digital ini sangat penting untuk meningkatkan daya tarik dan relevansi materi. Teknologi seperti video, animasi, dan aplikasi mobile membantu menyampaikan konsep agama secara visual dan interaktif, memudahkan siswa memahami serta menghafal doa dan ayat Al-Qur'an. Dengan sumber digital, guru dapat menyesuaikan pembelajaran sesuai kebutuhan dan tempo belajar siswa, menciptakan pengalaman yang lebih kontekstual dan personal (Hsb. Selain itu. Pemanfaatan teknologi digital memperluas akses terhadap materi pembelajaran secara fleksibel, memungkinkan siswa belajar kapan saja dan di mana saja. Platform online dan aplikasi mendukung pembelajaran mandiri, kolaborasi virtual, serta kerja kelompok tanpa batasan geografis (Nugroho, 2. Namun. Meskipun sumber belajar digital memiliki banyak manfaat, tantangan seperti keterbatasan akses teknologi, literasi digital, dan integrasi kurikulum masih perlu diatasi. Oleh karena itu, pendidik harus mampu mengintegrasikan sumber digital secara efektif dalam pembelajaran PAI serta memastikan akses yang merata bagi semua siswa. SMP Al Hikmah Boarding School Batu merupakan salah satu sekolah yang telah menerapkan sistem pembelajaran berbasis digital secara penuh dengan penggunaan laptop dalam seluruh aktivitas akademik. Karakteristik sekolah ini yang berbasis asrama membuatnya menjadi objek penelitian yang menarik, karena lingkungan belajar yang lebih terkendali dan sistem pembelajaran digital yang diterapkan secara terstruktur. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana budaya belajar digital berkembang di lingkungan SMP Al Hikmah Boarding School Batu, dengan fokus pada transformasi pola belajar siswa, peran guru dalam literasi digital, serta tantangan dan solusi yang dihadapi dalam implementasinya. Pembelajaran digital di boarding school dapat membawa perubahan signifikan dalam pola belajar siswa. Akan tetapi, bisa juga mengakibatkan sebaliknya yaitu tidak membawa perubahan positif dalam pembelajaran siswa, semua tergantung pada kesadaran siswa itu dan kontroling guru selama proses pembelajaran. Penggunaan laptop secara penuh dalam kegiatan belajar mengajar memungkinkan siswa untuk lebih mandiri dalam mencari sumber belajar dan mengelola waktu belajar mereka (Selwyn, 2. Namun, perubahan ini juga dapat menimbulkan tantangan, seperti kurangnya pengawasan langsung dalam penggunaan teknologi dan potensi distraksi dari platform non-akademik (MCCOY, 2. Oleh karena itu, memahami bagaimana siswa SMP Al Hikmah Boarding School Batu beradaptasi dengan digital learning menjadi hal yang penting dalam penelitian ini. Selain perubahan pada siswa, peran guru dalam membimbing literasi digital juga menjadi aspek krusial dalam pembelajaran berbasis teknologi. Guru di SMP Al Hikmah Boarding School Batu tidak hanya bertindak sebagai fasilitator pembelajaran tetapi juga sebagai mentor dalam mengarahkan penggunaan teknologi secara produktif dan etis (Hobbs, 2. Kemampuan literasi digital yang baik di kalangan guru menjadi faktor kunci dalam keberhasilan implementasi digital learning culture di boarding school ini. Guru perlu mengembangkan keterampilan dalam mengelola kelas digital, merancang materi pembelajaran yang interaktif, serta memastikan bahwa siswa menggunakan teknologi dengan bertanggung jawab (Erstad, 2. Di sisi lain, penerapan digital learning di SMP Al Hikmah Boarding School Batu juga menghadapi berbagai tantangan, baik dari aspek teknis, sosial, maupun pedagogis. Tantangan teknis meliputi infrastruktur dan konektivitas internet yang harus memadai untuk mendukung pembelajaran digital (Cardullo & Clark. Tantangan sosial berkaitan dengan pola interaksi antara siswa dan guru dalam lingkungan digital yang berbeda dengan pembelajaran konvensional. Sedangkan dari aspek pedagogis, guru perlu mengembangkan metode pembelajaran yang tidak hanya berbasis teknologi tetapi juga tetap mempertahankan kedekatan interpersonal yang khas dalam lingkungan boarding school (Anderson & Dron, 2. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini berfokus pada Bagaimana budaya belajar digital berkembang di SMP Al Hikmah Boarding School Batu? Bagaimana peran guru dalam membimbing siswa dalam literasi digital? Apa saja tantangan dan solusi dalam membangun digital learning culture di boarding school ini? Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, penelitian ini diharapkan dapat memberikan Ahmad Setyo Widadi. Evi Fatimatur Rusydiyah Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 wawasan baru mengenai bagaimana digitalisasi pembelajaran dapat dioptimalkan dalam lingkungan boarding school serta bagaimana sekolah dapat mengembangkan strategi terbaik untuk membangun budaya belajar digital yang efektif dan berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan analisis berdasarkan JISC Digital Learning Culture Framework untuk menganalisis perkembangan budaya belajar digital di SMP Al Hikmah Boarding School Batu. Framework ini mencakup lima dimensi utama: Institutional Culture, yang menilai dukungan dan integrasi teknologi dalam Staff Digital Capability, yang mengevaluasi kesiapan dan kemampuan guru dalam memanfaatkan Learner Experience & Expectations, yang berfokus pada pengalaman siswa dan ekspektasi mereka terhadap pembelajaran digital. Technology Infrastructure & Support, yang mengukur kecukupan infrastruktur untuk mendukung pembelajaran digital. serta Leadership and Governance, yang menilai peran kepemimpinan sekolah dalam mengarahkan penggunaan teknologi. Dengan menggunakan JISC Framework, penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai bagaimana budaya belajar digital berkembang, tantangan yang dihadapi, dan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan implementasinya di lingkungan boarding school (Beetham et al. , 2. Studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan teori pendidikan digital, khususnya dalam konteks sekolah berbasis boarding school. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi referensi bagi SMP Al Hikmah Boarding School Batu serta sekolah lain yang ingin menerapkan pembelajaran berbasis teknologi secara optimal. Dengan memahami transformasi pola belajar siswa, peran guru, serta tantangan dalam implementasi digital learning culture, sekolah dapat merancang kebijakan yang lebih efektif dalam mengelola digitalisasi pembelajaran di lingkungan boarding school. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah dengan pendekatan kualitatif yang fokus pada suatu fenomena untuk diselidiki. Pendekatan ini dipakai karena cocok digunakan untuk menganalisis sebuah fenomena yang kompleks dalam konteks nyata, seperti budaya digital pada pembelajaran di sekolah Boarding School. Penelitian ini dilakukan di SMP Al Hikmah Boarding School Kota Batu (Creswell & Creswell, 2. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer . erdiri dari interview dengan beberapa narasumbe. dan data sekunder . tudi dokumen yang mendukung dalam arsi. Peneliti mengambil 7 informan yang meliputi Kepala sekolah, guru dan siswa sebagai sumber data utama dalam Dalam pengumpulan data,peneliti menggunakan 4 tahapan menurut Creswell & Creswell . , yaitu melalui observasi, wawancara, dokumentasi, pengumpulan audio dan visual (Sugiyono, 2. Pada tahapan observasi, peneliti menggunakan observasi partisipasi pasif dan terus terang. Peneliti tidak secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran, namun hanya mengamati secara pasif dan menyampaikan maksud penelitian secara langsung kepada pihak terkait. Kemudian ketika melakukan wawancara dengan para informan, peneliti menggunakan wawancara semi terstruktur dengan menyiapkan instrumen penelitian yng berbentuk beberapa pertanyaan tertulis sebagai pedoman dalam wawancara dan ketika praktik atau melaksanakan wawancara lebih bebas dari wawancara terstruktur untuk menemukan permasalahan yang lebih luas dan terbuka. Setelah pengumpulan data, kemudian data itu dianalisis untuk memperoleh hasil sesuai dengan tujuan Proses analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik yang dikemukakan oleh Gioia et al. , dengan 3 tahapan. oerde pertama . engelompokan ke beberapa kategori berdasarkan data yang didapa. , orde kedua . engubah menjadi subtem. , kemudian orde ketiga . enyaring sub tema menjadi dimensi agrega. (Gioia et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan Budaya Belajar Digital di SMP Al Hikmah Boarding School Batu Integrasi LMS dalam Keseharian Belajar Di SMP Al Hikmah Boarding School Batu, penggunaan Learning Management System (LMS) AuSekolahkuAy telah menjadi bagian yang sangat penting dalam keseharian pembelajaran. LMS ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat untuk mengakses materi pelajaran, tetapi juga sebagai platform untuk tugas, diskusi, dan evaluasi pembelajaran. Sejak awal berdirinya, sekolah ini telah memanfaatkan LMS untuk mempermudah proses belajar mengajar, memungkinkan siswa untuk mengakses materi kapan saja dan di mana saja tanpa perlu membawa banyak buku. Kepala Sekolah menyatakan bahwa tujuan Ahmad Setyo Widadi. Evi Fatimatur Rusydiyah Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 penggunaan LMS adalah untuk mempermudah siswa dalam belajar, sekaligus memberikan fleksibilitas untuk mengikuti pelajaran, terutama bagi siswa yang tidak bisa hadir di kelas. Hal ini sangat dirasakan oleh Agung, salah satu siswa, yang menyebutkan. AuPembelajaran digital lebih nyaman karena semua ada di laptop, tidak perlu membawa banyak Saya bisa mengakses materi di mana saja. Ay Penggunaan LMS memungkinkan siswa untuk belajar secara mandiri, mengakses materi kapan pun mereka butuh, tanpa terikat pada waktu dan tempat tertentu. Selain itu. LMS juga menyediakan berbagai fitur seperti pengumpulan tugas, forum diskusi, dan kuis online yang semakin memperkaya pengalaman belajar siswa. Ustadz Irfan, salah satu guru, menambahkan. AuSetiap siswa wajib mengumpulkan tugas melalui LMS. Kami juga membuat forum diskusi untuk membahas topik tertentu, dan di akhir pelajaran seringkali diadakan kuis untuk mengukur pemahaman mereka. Ay Ini menunjukkan bahwa LMS tidak hanya berfungsi untuk menyampaikan materi, tetapi juga sebagai platform interaktif yang mendorong siswa untuk berkolaborasi dan berdiskusi secara digital. Putra, siswa lainnya, menyatakan bahwa forum diskusi dalam LMS memudahkan mereka untuk berinteraksi dengan teman-teman dan guru mengenai materi yang belum dipahami. AuForum diskusi membuat kami lebih aktif, karena bisa bertanya langsung ke teman-teman dan guru jika ada materi yang sulit dipahami. Ay Dengan demikian. LMS bukan hanya sebagai alat untuk mengakses materi, tetapi juga sebagai sarana untuk menciptakan pembelajaran yang lebih kolaboratif dan interaktif, yang selaras dengan dimensi "Learner Experience" dan "Digital Practices" dalam framework JISC. Namun, meskipun LMS memberikan banyak kemudahan, tantangan tetap ada, seperti kesulitan dalam menjaga konsentrasi siswa yang mudah teralihkan oleh akses bebas internet. Putra menyebutkan bahwa salah satu tantangan terbesar adalah menjaga fokus selama pembelajaran digital, mengingat siswa sering terdistraksi dengan aplikasi lain yang tidak berhubungan dengan pelajaran. Oleh karena itu. Kepala Sekolah menekankan pentingnya kebijakan yang jelas untuk mengontrol penggunaan internet oleh siswa agar tetap terfokus pada materi pembelajaran. Meskipun ada tantangan, integrasi LMS telah mengubah pola belajar siswa yang sebelumnya lebih bergantung pada metode konvensional menjadi lebih mandiri dan fleksibel. Ini juga mencerminkan transformasi yang terjadi dalam budaya belajar, yang mengarah pada pembelajaran berbasis teknologi yang lebih efektif dan efisien. Sejalan dengan teori Transformative Learning oleh Mezirow, yang menyatakan bahwa pembelajaran dapat mengubah perspektif individu melalui pengalaman baru, penggunaan LMS di SMP Al Hikmah telah menjadi sarana untuk mengubah cara pandang siswa terhadap pembelajaran (Cranton. Di sisi lain, pengelolaan penggunaan teknologi ini juga memerlukan peran aktif dari guru untuk memastikan bahwa siswa menggunakan teknologi secara produktif. Ustadz Irfan mengungkapkan. AuKami juga mengarahkan siswa untuk menggunakan LMS secara produktif, dan tidak sekadar sebagai media hiburan atau distraksi. Ay Secara keseluruhan, integrasi LMS dalam kegiatan belajar mengajar di SMP Al Hikmah Boarding School Batu menunjukkan bahwa digitalisasi pendidikan dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih fleksibel dan efektif, meskipun tetap ada tantangan yang perlu diatasi. Perubahan Pola Belajar dan Kebiasaan Digital Semenjak berdirinya. SMP Al Hikmah Boarding School Batu telah menerapkan sistem pembelajaran berbasis digital, tanpa melalui fase konvensional yang mengandalkan buku dan pembelajaran tatap muka sepenuhnya. Hal ini menjadikan Al Hikmah sebagai pionir dalam penerapan digital learning di tingkat sekolah boarding. Dengan penerapan teknologi sejak awal, sekolah ini berhasil menciptakan budaya belajar yang berbasis teknologi dan lebih adaptif terhadap perkembangan zaman. Kepala Sekolah menyatakan. AuSejak awal berdiri, kami memutuskan untuk menggunakan digital learning karena kami percaya bahwa teknologi bisa mempercepat dan mempermudah proses pembelajaran. Kami tidak melalui fase konvensional seperti kebanyakan sekolah pada umumnya. Ay Hal ini menunjukkan komitmen Al Hikmah untuk mengembangkan pendidikan berbasis teknologi yang lebih fleksibel dan relevan dengan kebutuhan siswa di era digital. Perubahan pola belajar yang terjadi di Al Hikmah tidak hanya mencakup penggunaan teknologi dalam proses belajar mengajar, tetapi juga berfokus pada penerapan model pembelajaran yang lebih mandiri dan fleksibel. Siswa di sekolah ini diberikan kebebasan untuk belajar secara mandiri menggunakan laptop dan LMS sebagai alat utama mereka. Agung, salah seorang siswa, mengungkapkan. Ahmad Setyo Widadi. Evi Fatimatur Rusydiyah Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 AuDulu kita harus membawa banyak buku dan mencatat manual, sekarang semuanya ada di laptop. Belajar jadi lebih fleksibel, bisa di mana saja. Ay Perubahan ini mencerminkan transformasi signifikan dalam cara siswa di SMP Al Hikmah belajar, yang sebelumnya terikat pada metode konvensional menjadi lebih mandiri, berbasis teknologi, dan Hal ini selaras dengan teori Transformative Learning oleh Mezirow, yang menyatakan bahwa perubahan besar dalam cara belajar seseorang terjadi ketika individu mengalami pengalaman baru yang memungkinkan mereka melihat dunia secara berbeda (Mezirow, 2. Di Al Hikmah, digital learning telah menjadi pengalaman transformatif yang mengubah cara siswa mengakses dan memproses informasi. Selain itu, pembelajaran di SMP Al Hikmah juga mengadopsi model blended learning yang menggabungkan antara pembelajaran tatap muka dan pembelajaran online. Putra, siswa lainnya. AuKami tidak lagi hanya duduk di kelas mendengarkan guru mengajar, sekarang kami belajar menggunakan video, aplikasi, dan materi yang ada di LMS. Terkadang kami juga mendapatkan tugas untuk belajar mandiri dari rumah. Ay Pembelajaran berbasis digital ini memungkinkan siswa untuk lebih mandiri dalam belajar, mengakses materi di luar jam pelajaran, dan melibatkan diri dalam pembelajaran yang lebih interaktif. Meskipun demikian, tantangan dalam menjaga konsentrasi dan kontrol terhadap penggunaan teknologi tetap menjadi perhatian. Seperti yang diungkapkan oleh Baim. AuBelajar pakai laptop memang enak, tapi kadang kalau tidak diawasi kita bisa saja bermain game atau buka media sosial yang nggak ada hubungannya dengan pelajaran. Ay Ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi memberikan banyak manfaat, pengawasan dan kontrol terhadap penggunaan teknologi oleh siswa tetap diperlukan untuk memastikan bahwa teknologi digunakan secara efektif dan tidak disalahgunakan. Perubahan pola belajar ini juga memperlihatkan bahwa siswa di SMP Al Hikmah semakin terbiasa dengan metode pembelajaran digital, yang tidak hanya memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu, tetapi juga mengubah cara siswa belajar. Dengan demikian. SMP Al Hikmah tidak hanya mengadopsi teknologi dalam proses pembelajaran, tetapi juga berhasil membentuk kebiasaan belajar yang lebih mandiri, fleksibel, dan berbasis teknologi. Hal ini juga sejalan dengan dimensi "Learner Experience" dalam framework JISC, yang menekankan bahwa pembelajaran digital harus mampu memberikan pengalaman belajar yang kaya dan interaktif bagi siswa (Tariq, 2. Al Hikmah telah berhasil menciptakan lingkungan yang mendukung perubahan tersebut melalui penerapan digital learning yang komprehensif dan sistematis. Kepemimpinan Sekolah dan Komitmen Transformasi Digital Kepemimpinan sekolah memainkan peranan sentral dalam membangun dan mengembangkan budaya belajar digital di SMP Al Hikmah Boarding School Batu. Kepala Sekolah secara konsisten menunjukkan komitmen kuat terhadap transformasi digital sejak awal berdirinya sekolah. Hal ini tercermin dari kebijakan strategis yang mendukung penerapan digital learning secara menyeluruh, termasuk pelatihan guru, pengawasan penggunaan LMS, dan evaluasi berkala terhadap efektivitas program digital. Kepala Sekolah menegaskan. AuKami selalu melakukan evaluasi pekanan, bulanan, dan semesteran untuk memastikan digital learning berjalan dengan efektif dan terus berkembang. Ay Komitmen ini menunjukkan bahwa keberhasilan budaya digital learning bukan hanya bergantung pada ketersediaan teknologi, tetapi juga pada kepemimpinan yang visioner dan mampu mengelola perubahan institusional. Pelatihan dan pengembangan kapasitas guru menjadi salah satu fokus utama yang dijalankan secara Guru-guru diberikan pelatihan formal oleh yayasan serta pendampingan dari akademisi dan ahli, seperti supervisi dari guru besar UNESA untuk penyusunan modul pembelajaran digital. Hal ini menguatkan peran guru sebagai agen perubahan yang mengimplementasikan kebijakan digital secara efektif di kelas. Ustadz Irfan, salah satu guru, menyampaikan bahwa pelatihan dan bimbingan yang diberikan membantu guru mengoptimalkan fitur LMS serta mendukung pembelajaran yang interaktif dan Selain pelatihan, adanya SOP (Standard Operating Procedur. penggunaan LMS juga menjadi instrumen penting yang menata tata kelola digital learning secara sistematis. Komitmen sekolah juga tercermin dalam penyediaan infrastruktur dan fasilitas pendukung, seperti jaringan internet yang memadai dan perangkat laptop bagi seluruh siswa, yang memungkinkan proses pembelajaran digital berjalan tanpa hambatan berarti. Kendati demikian. Kepala Sekolah mengakui adanya beberapa kendala teknis, terutama terkait kestabilan koneksi internet, namun komitmen untuk terus memperbaiki aspek infrastruktur ini tetap menjadi prioritas utama. Ahmad Setyo Widadi. Evi Fatimatur Rusydiyah Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 Peran Guru dalam Membimbing Siswa dalam Pembelajaran Digital Peran Guru sebagai Fasilitator dan Mediator Digital Peran guru dalam pembelajaran digital di SMP Al Hikmah Boarding School Batu sangat krusial sebagai fasilitator dan mediator yang mengarahkan siswa agar dapat menggunakan teknologi secara optimal dan bertanggung jawab. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga membimbing siswa dalam memanfaatkan Learning Management System (LMS) serta berbagai aplikasi pembelajaran digital lainnya secara efektif. Ustadz Irfan menyatakan. AuKami selalu mengarahkan siswa untuk menggunakan LMS secara produktif, tidak hanya sekadar membuka aplikasi tapi benar-benar memahami dan mengerjakan materi secara serius. Ay Hal ini menegaskan peran aktif guru dalam memastikan bahwa teknologi tidak hanya menjadi alat semata, tetapi menjadi media pembelajaran yang Selain itu, guru juga berperan sebagai mediator yang menjembatani kesenjangan literasi digital antara siswa dengan teknologi. Dalam wawancara. Ustadz Zakky menyampaikan bahwa guru harus mampu mengenali berbagai tingkat kemampuan digital siswa dan memberikan pendampingan yang sesuai, sehingga semua siswa dapat mengikuti pembelajaran digital tanpa merasa tertinggal. Proses pembimbingan ini mencakup pendampingan teknis, motivasi belajar, serta pengawasan agar siswa tetap fokus pada pembelajaran. Hal ini sejalan dengan teori TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledg. , di mana guru perlu mengintegrasikan pengetahuan teknologi dengan pedagogi dan konten pembelajaran agar proses belajar berjalan efektif (Content & Framework, 2. Guru juga bertindak sebagai penghubung antara siswa dan sumber belajar digital, memberikan umpan balik yang konstruktif serta membantu siswa mengatasi kendala teknis maupun konseptual. Misalnya, ketika siswa mengalami kesulitan mengakses materi atau mengikuti kuis online, guru secara proaktif memberikan solusi atau bimbingan tambahan. Hal ini membangun lingkungan belajar digital yang inklusif dan mendukung, sebagaimana dikemukakan dalam framework DigCompEdu yang menekankan pentingnya kompetensi guru dalam digital pedagogy (Ghoml & Pinkwart, 2. Dari perspektif siswa, peran guru sebagai fasilitator dan mediator digital sangat terasa membantu. Putra menyatakan. AuGuru selalu siap membantu jika kami kesulitan menggunakan LMS atau aplikasi Mereka juga memberikan motivasi agar kami tetap semangat belajar meskipun menggunakan cara yang berbeda dari biasanya. Ay Dukungan guru seperti ini memberikan rasa aman dan nyaman bagi siswa dalam menghadapi proses pembelajaran digital yang terkadang menantang. Secara keseluruhan, peran guru di SMP Al Hikmah Boarding School Batu tidak hanya sebatas pengajar, tetapi juga sebagai fasilitator dan mediator yang mengoptimalkan penggunaan teknologi dalam Keberhasilan pembelajaran digital sangat bergantung pada kemampuan guru dalam membimbing siswa agar dapat menggunakan teknologi dengan efektif dan bertanggung jawab, sekaligus menciptakan suasana belajar yang interaktif dan mendukung perkembangan kognitif serta afektif siswa. Dukungan Teknis dan Emosional dari Guru Peran guru tidak hanya terbatas pada aspek teknis dalam penggunaan teknologi pembelajaran, tetapi juga meliputi dukungan emosional dan motivasional yang sangat dibutuhkan siswa agar dapat beradaptasi dengan budaya belajar digital. Guru di SMP Al Hikmah Boarding School Batu secara aktif membantu siswa mengatasi berbagai kendala teknis, seperti kesulitan mengakses LMS, gangguan jaringan, dan penggunaan fitur aplikasi yang belum dipahami sepenuhnya. Ustadz Irfan menjelaskan. AuKami selalu sigap membantu siswa saat mereka mengalami kesulitan teknis, baik secara langsung maupun melalui forum diskusi digital. Ay Bantuan teknis yang diberikan oleh guru memastikan bahwa siswa tidak terhambat dalam proses belajar dan tetap dapat mengikuti pembelajaran secara efektif. Lebih dari itu, guru juga berperan memberikan dukungan emosional yang membangun semangat dan motivasi belajar siswa dalam lingkungan pembelajaran digital yang terkadang terasa berbeda dan Ustadz Zakky mengungkapkan. AuKami berusaha memberikan dorongan dan semangat kepada siswa agar tetap konsisten belajar, terutama saat mereka merasa jenuh atau kesulitan beradaptasi dengan metode digital. Ay Sikap suportif ini menciptakan suasana belajar yang ramah dan mendukung, sehingga siswa merasa nyaman untuk bertanya dan aktif berpartisipasi dalam pembelajaran digital. Hal ini sesuai dengan konsep dalam DigCompEdu yang menekankan bahwa kompetensi guru juga meliputi kemampuan untuk menciptakan digital-friendly environment yang inklusif dan suportif (Ghoml & Pinkwart, 2. Dari sudut pandang siswa, dukungan guru sangat berarti dalam membantu mereka menghadapi kendala teknis dan menjaga motivasi belajar. Putra menuturkan. AuKalau ada masalah dengan laptop atau LMS, guru selalu siap membantu dan tidak membuat kami merasa malu jika bertanya. Ay Dukungan ini Ahmad Setyo Widadi. Evi Fatimatur Rusydiyah Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 meminimalkan rasa frustrasi dan mendorong siswa untuk lebih percaya diri dalam menggunakan teknologi sebagai alat belajar. Variasi dalam Pemanfaatan Fitur LMS Meskipun seluruh guru di SMP Al Hikmah Boarding School Batu menggunakan LMS sebagai media pembelajaran utama, terdapat variasi dalam cara mereka memanfaatkan fitur-fitur yang tersedia di dalam platform tersebut. Beberapa guru lebih aktif menggunakan berbagai fitur interaktif seperti forum diskusi, kuis online, dan video pembelajaran untuk meningkatkan keterlibatan siswa, sementara sebagian guru lainnya cenderung menggunakan LMS hanya sebagai tempat mengunggah materi dan tugas tanpa eksplorasi fitur lebih lanjut. Ustadz Irfan menyatakan. AuSaya berusaha menggunakan berbagai fitur LMS seperti kuis dan forum diskusi agar siswa lebih aktif dan tidak hanya pasif menerima materi. Ay Namun, ada guru lain yang menurut wawancara, menggunakan LMS secara lebih sederhana, hanya untuk mengunggah bahan ajar dan menerima tugas siswa. Variasi ini menunjukkan adanya perbedaan tingkat penguasaan literasi digital di kalangan guru, yang berpotensi mempengaruhi kualitas pengalaman belajar siswa. Kesenjangan ini menjadi tantangan penting yang harus diatasi oleh pihak sekolah. Kepala Sekolah menegaskan. AuKami rutin mengadakan pelatihan dan supervisi untuk memastikan semua guru dapat memanfaatkan LMS secara maksimal, sehingga tidak ada yang tertinggal dalam penguasaan teknologi. Ay Penguatan kompetensi guru dalam digital pedagogy melalui program pelatihan dan mentoring sangat diperlukan agar penggunaan LMS dapat optimal dan konsisten di seluruh mata pelajaran. Fenomena variasi dalam pemanfaatan LMS ini juga mencerminkan kebutuhan akan pengembangan kapasitas guru yang berkelanjutan dan sistematis, sesuai dengan framework DigCompEdu, yang menempatkan kompetensi guru dalam penggunaan teknologi sebagai salah satu kunci keberhasilan digital learning culture. Pengembangan keterampilan guru tidak hanya penting untuk mendukung aspek teknis, tetapi juga untuk menciptakan metode pembelajaran yang lebih inovatif, interaktif, dan sesuai dengan kebutuhan siswa di era digital. Tantangan dan Solusi dalam Membangun Digital Learning Culture SMP Al Hikmah Boarding School Batu sebagai pelopor digital learning sejak awal menghadapi sejumlah tantangan yang mempengaruhi optimalisasi budaya belajar digital. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan infrastruktur dan akses teknologi. Kepala Sekolah mengakui bahwa meskipun sekolah telah menyediakan perangkat laptop bagi seluruh siswa dan koneksi internet, kestabilan jaringan masih menjadi masalah terutama di lingkungan asrama. Gangguan koneksi internet ini menghambat proses pembelajaran online dan mengurangi efektivitas penggunaan LMS secara maksimal. Hal ini juga diamini oleh guru dan siswa yang merasa terkadang pembelajaran digital terputus atau terganggu akibat koneksi yang tidak stabil. Kondisi ini mencerminkan dimensi AuInfrastructure & SupportAy dalam framework JISC, yang menegaskan bahwa dukungan teknis dan infrastruktur yang memadai merupakan prasyarat penting dalam implementasi pembelajaran digital (Banwell et al. , 2. Tantangan berikutnya adalah kesenjangan literasi digital antar pengguna, terutama antara guru senior dan guru muda serta antara siswa yang aktif menggunakan teknologi dan yang masih pasif. Beberapa guru lebih cepat menguasai fitur-fitur LMS dan metode pembelajaran digital, sementara sebagian lain masih terbatas pada penggunaan fungsi dasar seperti upload materi saja. Hal ini berimbas pada pengalaman belajar siswa yang tidak merata. Kepala Sekolah dan guru menyadari perlunya pemerataan kompetensi digital secara institusional melalui pelatihan dan supervisi berkelanjutan. Perbedaan kemampuan digital ini menuntut sekolah untuk mengembangkan strategi penguatan kompetensi yang lebih adaptif dan inklusif, sesuai dengan kesadaran institusional yang termuat dalam teori literasi digital dan kerangka kerja DigCompEdu (Batz et al. Selain itu, tantangan sosial-pedagogis juga muncul dalam hal pengawasan penggunaan teknologi oleh Siswa mudah terdistraksi oleh akses bebas internet, seperti media sosial dan game online, yang mengurangi fokus belajar mereka. Guru dan kepala sekolah menerapkan aturan dan kesepakatan dengan siswa mengenai tata tertib penggunaan perangkat digital selama jam belajar. Strategi ini merupakan bentuk adaptasi lokal yang menggabungkan penguatan disiplin dan pengelolaan sumber daya digital secara bijaksana. Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut. SMP Al Hikmah menerapkan berbagai solusi kolaboratif dan adaptasi lokal. Salah satunya adalah pelatihan rutin dan upgrading bagi guru yang dilaksanakan oleh yayasan dan didukung oleh akademisi dari universitas mitra, guna meningkatkan kemampuan digital pedagogy secara menyeluruh. Selain itu, sekolah mengadakan forum internal seperti program Kamisan yang memberikan ruang bagi guru untuk berbagi pengalaman dan saling mendukung dalam pemanfaatan teknologi pembelajaran. Ahmad Setyo Widadi. Evi Fatimatur Rusydiyah Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 Di sisi siswa, program mentoring dan learning buddy diterapkan untuk mendampingi siswa yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran digital, sehingga mereka tidak merasa tertinggal dan tetap termotivasi. Pendekatan kolaboratif ini sejalan dengan konsep Community of Practice yang menekankan pentingnya budaya gotong royong dan partisipasi aktif dalam pengembangan keterampilan bersama (Hindmarsh, 2. Budaya kolaborasi antar guru dan antar siswa menjadi modal penting bagi keberhasilan pembelajaran digital yang inklusif dan berkelanjutan di SMP Al Hikmah Boarding School Batu. Secara keseluruhan, meskipun SMP Al Hikmah telah menerapkan digital learning culture sejak awal, tantangan teknis, sosial, dan pedagogis tetap harus dihadapi dengan solusi yang adaptif dan kolaboratif. Kepemimpinan sekolah yang visioner, pelatihan berkelanjutan, penguatan literasi digital, serta budaya kolaborasi menjadi kunci utama dalam membangun dan mempertahankan budaya belajar digital yang efektif di lingkungan boarding school ini. PENUTUP Penelitian ini menunjukkan bahwa SMP Al Hikmah Boarding School Batu telah berhasil mengembangkan budaya belajar digital yang kuat sejak awal berdirinya dengan mengintegrasikan Learning Management System (LMS) sebagai sarana utama dalam proses pembelajaran sehari-hari. Integrasi teknologi ini mengubah pola belajar siswa menjadi lebih mandiri, fleksibel, dan interaktif, serta mendorong transformasi budaya belajar yang sesuai dengan perkembangan zaman. Peran kepala sekolah yang visioner dan komitmen penuh dari seluruh elemen sekolah menjadi faktor kunci dalam keberhasilan transformasi digital ini. Selain itu, guru berperan aktif sebagai fasilitator dan mediator digital yang tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga membimbing dan memotivasi siswa agar mampu menggunakan teknologi secara produktif dan bertanggung jawab. Meski demikian, terdapat berbagai tantangan yang masih dihadapi, seperti keterbatasan infrastruktur, kesenjangan literasi digital antar pengguna, serta pengawasan terhadap penggunaan teknologi oleh siswa. SMP Al Hikmah mengatasi hal ini dengan pendekatan kolaboratif melalui pelatihan rutin bagi guru, forum diskusi internal, serta pendampingan bagi siswa yang membutuhkan. Budaya gotong royong dan partisipasi aktif menjadi modal penting dalam membangun digital learning culture yang inklusif dan berkelanjutan. Dengan demikian, keberhasilan pembelajaran digital di lingkungan boarding school ini tidak hanya bergantung pada teknologi semata, tetapi juga pada pengelolaan sumber daya manusia, kebijakan yang mendukung, dan kolaborasi antar seluruh pemangku kepentingan. DAFTAR PUSTAKA