ISSN 3090-0441 GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan This is an open access article under the CC-BY license Pengaruh Konseling Kelompok Pendekatan Cognitive Behaviour dalam Mereduksi Nomophobia Siswa XI F8 SMA Negeri 2 Padang Panjang Foneka Stevanny1. Silvianetri2 1Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar. Indonesia . 2Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar. Indonesia Email:1 fonekastevanny@gmail. 2silvianetri@uinmybatusangkar. Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya fenomena frekuensi penggunaan smartphone yang mengakibatkan munculnya nomophobia pada siswa, khususnya siswa SMA yang cenderung mengalami kecemasan ketika jauh dan tidak dapat berinteraksi dengan smartphone. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian one group pre-test post-test. Subjek penelitian ini berjumlah 8 orang siswa yang dipilih dengan teknik random sampling. Instrumen penelitian menggunakan skala nomophobia yang telah diuji validitas dan Data analisis secara deskriptif melalui perhitungan rata-rata skor, perhitungan N-Gain, serta uji hipotesis dengan paired sampel t-test. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan skor nomophobia dari rata-rata pre-test sebesar 114,75 menjadi rata-rata post-test sebesar 68,5. Nilai N-Gain yang diperoleh sebesar - 0,5013550136 yang termasuk dalam kategori Uji paired sample t-test juga menghasilkan nilai signifikansi < 0,001 dimana kecil dari 0,05 yang artinya hipotesis alternatif diterima. Hal ini menunjukkan bahwa konseling kelompok pendekatan cognitive behaviour berpengaruh signifikan dalam mereduksi nomophobia pada Kata Kunci: Cognitive Behaviour. Konseling Kelompok. Nomophobia Pendahuluan Perkembangan teknologi informasi membawa perubahan signifikan dalam kehidupan manusia, salah satunya melalui hadirnya smartphone yang tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai media interaksi sosial dengan memanfaatkan berbagai aplikasi seperti WhatsApp. Instagram. Telegram. TikTok, hingga e-mail (Yanti, 2. Pada bidang pendidikan, smartphone turut dimanfaatkan untuk mengakses materi pembelajaran yang dapat menunjang pengetahuan dan prestasi siswa (Fakhruddin & Nurhidayat, 2. Namun demikian, penggunaan smartphone yang semakin meluas membawa konsekuensi lain, baik positif maupun negatif, khususnya pada kalangan remaja. Di Indonesia, jumlah pengguna smartphone terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2015, sekitar 28,6% penduduk telah menggunakan smartphone, dan angka tersebut melonjak menjadi 63,3% pada tahun 2019. Bahkan GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan Volume x Nomor x Bulan 20. Copyright A 20. Penulis Pertama dan Penulis Kedua ISSN 3090-0441 GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan This is an open access article under the CC-BY license diprediksi pada tahun 2025, sebanyak 89,2% populasi Indonesia akan menggunakan Survei Puslitbang Aptika IKP Kominfo juga menunjukkan bahwa kelompok usia 9Ae19 tahun merupakan salah satu pengguna aktif smartphone, dengan persentase mencapai 65,34% (Sari et al. , 2. Data ini mengindikasikan bahwa smartphone telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan remaja, sehingga berpotensi membentuk perilaku tertentu, termasuk ketergantungan dan kecanduan. Penggunaan smartphone yang berlebihan dapat memunculkan masalah psikologis seperti nomophobia . o mobile phone phobi. , yaitu kondisi kecemasan berlebihan ketika individu tidak dapat berinteraksi dengan smartphone-nya (Rodryguez-Garcya et al. , 2. Fenomena ini ditandai dengan perilaku selalu mengecek notifikasi, membawa pengisi daya ke mana pun, hingga merasakan ketidaknyamanan jika kehilangan jaringan atau baterai habis smartphone (Bragazzi & Del Puente, 2. Studi yang dilakukan di Peru bahkan menemukan bahwa 25,7% mahasiswa mengalami nomophobia sedang dan 7,4% mengalami nomophobia berat (Copaja-Corzo et al. Temuan tersebut memperkuat fakta bahwa nomophobia telah menjadi masalah global yang berdampak serius pada kalangan muda. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa nomophobia tidak hanya menimbulkan kecemasan, tetapi juga mengganggu aspek sosial dan akademik. Misalnya, siswa cenderung mengabaikan interaksi langsung dengan teman sebaya atau keluarga karena lebih fokus pada dunia maya (Fadhilah et al. , 2. Penggunaan smartphone yang berlebihan juga berpotensi menimbulkan perilaku tidak produktif, menurunkan motivasi belajar, bahkan dapat memicu perilaku menyimpang seperti cyber-crime (Sudarji, 2. Dari perspektif religius, fenomena ini menunjukkan adanya bentuk menyianyiakan waktu, padahal Al-QurAoan melalui QS. Al-AoAsr menegaskan pentingnya memanfaatkan waktu untuk amal kebaikan dan saling menasehati dalam kebenaran serta kesabaran. Fenomena nomophobia ini juga ditemukan pada siswa SMA Negeri 2 Padang Panjang, khususnya di kelas XI F 8. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, siswa menunjukkan ketergantungan yang tinggi terhadap smartphone, baik untuk bermain game, mengakses media sosial, maupun berbelanja online. Bahkan terdapat siswa yang merasa tidak nyaman jika jauh dari smartphone karena khawatir kehilangan informasi, tidak dapat berkomunikasi, atau sekedar merasa bosan. Kondisi ini menunjukkan bahwa nomophobia telah menjadi masalah nyata yang memerlukan penanganan khusus, terutama di lingkungan pendidikan. Kajian-kajian sebelumnya telah banyak membahas dampak penggunaan smartphone berlebihan dan munculnya nomophobia, baik dari sisi psikologis maupun Namun, penelitian tentang strategi untuk mengurangi perilaku nomophobia di kalangan remaja, khususnya melalui layanan bimbingan dan konseling di sekolah, masih relatif terbatas. Dalam penelitian ini layanan yang diberikan memanfaatkan pendekatan cognitive behaviour dengan teknik restrukturisasi kognitif yang memfokuskan untuk perubahan pola pikir negatif dan tidak adaptif menjadi pola pikir yang positif dan adaptif. Terjadinya perubahan pola pikir yang sehat dan adaptif. GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan Volume x Nomor x Bulan 20. Copyright A 20. Penulis Pertama dan Penulis Kedua ISSN 3090-0441 GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan This is an open access article under the CC-BY license sehingga dapat membantu individu dalam meningkatkan kesejahteraan emosional dan Oleh karena itu, penelitian ini memiliki signifikansi dalam memberikan kontribusi baru pada bidang bimbingan dan konseling dengan menghadirkan pendekatan praktis yang dapat digunakan oleh guru BK untuk membantu siswa mengelola perilaku nomophobia. Metode Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain Penelitian kuantitatif merupakan pendekatan yang memanfaatkan data berupa angka dan analisis statistik untuk menguji hipotesis secara objektif (Waruwu. Tujuan utamanya adalah mengukur hubungan antar variabel serta menilai efektivitas perlakuan yang diberikan. Metode eksperimen dipilih karena mampu menguji pengaruh perlakuan tertentu pada kondisi yang terkendali (Rangkuti, 2. Desain penelitian yang digunakan adalah one group pre-test post-test design (Latief, 2. Pada desain ini, subjek penelitian diberikan tes awal . re-tes. , kemudian diberikan perlakuan berupa layanan konseling kelompok pendekatan cognitive behaviour, dan selanjutnya dilakukan tes akhir . ost-tes. Dengan demikian, perbedaan hasil pre-test dan post-test dapat menunjukkan pengaruh perlakuan yang diberikan (Abdullah et al. , 2. Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 2 Padang Panjang, khususnya pada siswa kelas XI F 8 tahun ajaran 2024/2025. Waktu penelitian dimulai pada 29 April 2025 hingga 29 Juni 2025. Populasi penelitian berjumlah 34 siswa, sedangkan sampel ditentukan dengan teknik simple random sampling (Sugiyono, 2. Sesuai keterbatasan waktu dan merujuk pada ketentuan jumlah ideal dalam konseling kelompok . Ae10 oran. , maka ditetapkan sebanyak 8 siswa dengan tingkat nomophobia tinggi sebagai subjek penelitian. Instrumen penelitian berupa skala nomophobia yang dikembangkan berdasarkan skala Likert. Skala terdiri dari 36 pernyataan dengan lima pilihan jawaban, yaitu Sangat Setuju (SS). Setuju (S). Netral (N). Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Skala ini mengukur empat dimensi nomophobia, yakni: tidak dapat berkomunikasi, kehilangan hubungan, tidak dapat mengakses informasi, dan meninggalkan kemudahan (Jahrami et al. , 2. Uji validitas instrumen dilakukan melalui validitas empiris dan expert judgment, sedangkan reliabilitas diuji menggunakan CronbachAos Alpha dengan hasil 0,846, yang menunjukkan tingkat reliabilitas tinggi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui pemberian skala nomophobia sebelum dan sesudah layanan konseling kelompok. Selain itu digunakan observasi terstruktur untuk memperkuat data mengenai perilaku siswa dalam kelompok. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan inferensial. Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan skor pre-test dan post-test. GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan Volume x Nomor x Bulan 20. Copyright A 20. Penulis Pertama dan Penulis Kedua ISSN 3090-0441 GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan This is an open access article under the CC-BY license sedangkan analisis inferensial dilakukan dengan uji paired t-test menggunakan taraf signifikansi 0,05. Uji prasyarat meliputi uji normalitas dengan Shapiro-Wilk dan uji homogenitas dengan LeveneAos test. Selanjutnya, perhitungan N-Gain digunakan untuk mengetahui peningkatan pemahaman siswa setelah diberikan layanan, dengan kategori rendah (<0,. , sedang . ,3Ae0,. , dan tinggi (>0,. Kategori umum N-Gain yang digunakan berasal dari penelitian (Hake, 1. Dengan metode ini, penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran empiris mengenai pengaruh layanan konseling kelompok pendekatan cognitive behaviour dalam mereduksi perilaku nomophobia pada siswa. Hasil Hasil Pre-test Pengukuran awal . re-tes. dilakukan pada tanggal 23 Mei 2025 dengan tujuan mengetahui tingkat nomophobia siswa sebelum diberikan perlakuan. Instrumen penelitian berupa skala nomophobia berjumlah 36 item dengan lima alternatif Tabel 1. Hasil pre-test nomophobia siswa Inisial Skor Keterangan DKT Sedang DPA Sedang HAA Sedang MZH Sedang NEP Sedang NWK Sedang Sedang ZNR Sedang Total Rata-rata Rata-rata skor pre-test sebesar 114,75 dan termasuk dalam kategori sedang. Skor siswa berkisar antara 109 hingga 122 dengan rentang yang sempit, menunjukkan homogenitas tingkat nomophobia pada subjek penelitian. Hasil Post-test GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan Volume x Nomor x Bulan 20. Copyright A 20. Penulis Pertama dan Penulis Kedua ISSN 3090-0441 GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan This is an open access article under the CC-BY license Setelah diberikan layanan konseling kelompok dengan pendekatan cognitive behaviour, dilakukan post-test pada tanggal 18 Juni 2025. Tabel 2. Hasil post-test nomophobia siswa Inisial Skor Keterangan DKT Rendah DPA Rendah HAA Rendah MZH Rendah NEP Rendah NWK Rendah Sangat rendah ZNR Rendah Total Rata-rata Rata-rata skor post-test sebesar 68,5 yang termasuk dalam kategori rendah. Terdapat satu siswa dengan skor 61 yang masuk kategori sangat rendah, sedangkan tujuh siswa lainnya berada pada kategori rendah. Selisih Pre-test dan Post-test Tabel 3. Selisih pre-test dan post-test nomophobia siswa Inisial Pre-test Post-test Selisih DKT DPA HAA MZH NEP NWK ZNR GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan Volume x Nomor x Bulan 20. Copyright A 20. Penulis Pertama dan Penulis Kedua ISSN 3090-0441 GUIDELINE: This is an open access article under the CC-BY license Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan Hasil selisih skor menunjukkan bahwa seluruh siswa mengalami penurunan skor nomophobia dengan rentang 41 hingga 51. Statistik Deskriptif Tabel 4. Statistik Deskriptif pre-test dan post-test Statistik Pre-test Post-test Maksimum Minimum Mean 114,75 Median Range Rata-rata skor menurun 46,25 poin, dari kategori sedang ke kategori rendah. Uji Prasyarat Analisis Uji Normalitas (Shapiro-Wil. Pre-test: p = 0,614 > 0,05 Ie data normal. Post-test: p = 0,407 > 0,05 Ie data normal. Uji Homogenitas (LeveneAos Tes. Sig. = 0,425 > 0,05 Ie data homogen. Uji Hipotesis Hasil uji paired t-test menunjukkan nilai signifikansi p < 0,001, lebih kecil dari 0,05. Dengan demikian, terdapat perbedaan signifikan antara skor pre-test dan posttest. Artinya, layanan konseling kelompok dengan pendekatan cognitive behaviour berpengaruh signifikan dalam mereduksi nomophobia siswa. Analisis N-Gain Tabel 5. Hasil N-Gain Inisial Pre-test Post-test Selisih N-Gain Kategori DKT -0,373 Rendah DPA -0,426 Rendah HAA -0,458 Rendah GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan Volume x Nomor x Bulan 20. Copyright A 20. Penulis Pertama dan Penulis Kedua ISSN 3090-0441 GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan This is an open access article under the CC-BY license MZH -0,425 Rendah NEP -0,367 Rendah NWK -0,445 Rendah -0,429 Rendah ZNR -0,398 Rendah Nilai rata-rata N-Gain kelompok sebesar -0,50, yang menunjukkan adanya penurunan konsisten pada seluruh siswa. Dalam konteks penelitian ini, nilai negatif menandakan keberhasilan intervensi karena skor post-test lebih rendah dari pre-test, artinya tingkat nomophobia menurun. Pembahasan Pengaruh Konseling Kelompok Cognitive Behaviour Terhadap Nomophobia Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa layanan konseling kelompok dengan pendekatan cognitive behavior memberikan pengaruh yang signifikan dalam mereduksi nomophobia pada siswa kelas XI F 8 SMA Negeri 2 Padang Panjang. Rata-rata skor nomophobia siswa mengalami penurunan dari 114,75 pada pre-test . ategori sedan. menjadi 68,5 pada post-test . ategori renda. Hasil uji paired t-test menghasilkan nilai signifikansi p < 0,001, lebih kecil daripada 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara skor pre-test dan post-test, sehingga hipotesis penelitian diterima. Dengan demikian, konseling kelompok pendekatan cognitive behavior terbukti efektif dalam mereduksi perilaku nomophobia Hakikat Nomophobia Hasil pre-test memperlihatkan bahwa siswa memiliki tingkat nomophobia yang cukup tinggi sebelum intervensi. Temuan ini sejalan dengan (Ramos et al. , 2. yang mendefinisikan nomophobia sebagai kondisi psikologis yang muncul akibat penggunaan smartphone secara berlebihan dan berdampak pada aspek pendidikan, sosial, maupun keluarga. Yildirim . juga menegaskan bahwa nomophobia merupakan gangguan psikologis berupa kecemasan ketika individu tidak dapat mengakses smartphone. Gejala yang ditunjukkan siswa, seperti ketakutan kehilangan koneksi, keinginan memeriksa ponsel secara berulang, hingga rasa tidak nyaman tanpa akses internet, konsisten dengan temuan smartphone (Bragazzi & Del Puente, 2. Yildirim & Correia . mengidentifikasi empat aspek utama nomophobia yang juga tampak pada siswa, yaitu: . ketidakmampuan berkomunikasi, . kehilangan keterhubungan, . tidak dapat mengakses informasi, dan . kehilangan Faktor usia remaja, kebutuhan sosial, dan keterikatan pada media sosial (Bianchi & Phillips, 2. memperkuat kecenderungan ini. Dengan demikian. GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan Volume x Nomor x Bulan 20. Copyright A 20. Penulis Pertama dan Penulis Kedua ISSN 3090-0441 GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan This is an open access article under the CC-BY license fenomena nomophobia tidak hanya berkaitan dengan perilaku penggunaan smartphone, tetapi juga melibatkan aspek kognitif dan emosional. Efektivitas Konseling Kelompok Pendekatan Cognitive Behaviour Konseling kelompok dengan pendekatan cognitive behavior dilaksanakan melalui empat tahap, yakni tahap awal, transisi, kerja, dan akhir (Corey, 2. Pada tahap awal, siswa mulai membangun rasa percaya sehingga proses eksplorasi masalah pada tahap transisi berjalan lebih lancar. Pada tahap kerja, teknik cognitive restructuring digunakan untuk menantang pikiran irasional, misalnya keyakinan AuSaya tidak bisa hidup tanpa ponsel. Ay Hal ini sejalan dengan teori (Beck & Wynnewood, 1. yang menekankan bahwa perilaku bermasalah berakar dari pikiran irasional yang perlu direstrukturisasi menjadi lebih adaptif. Dalam buku (Darimis, 2. menjelaskan tujuan konseling CBT adalah menghilangkan diskorsi dalam berpikir, sehingga individu mampu berfungsi lebih Penekanannya yaitu pada cara individu memproses informasi yang dapat menyebabkan perilaku tidak berpengaruh, diskorsi pemikiran konseli ditantang, diuji dan dibahas untuk membantu perasaan, pikiran, dan perilaku yang lebih positif. Konselor berperan dalam memperbaiki skema kognitif yang mereka alami. King . menyatakan bahwa alih-alih belajar bagaimana menghadapi kesulitan mereka, yang idealnya, individu dengan gangguan panik malah memperkuat ketergantungan pada smartphone dan mengembangkan perilaku ketergantungan Dalam situasi serupa, hubungan ini dapat dianalogikan dengan mendorong seseorang yang menua untuk membutuhkan kehadiran seseorang sebagai dukungan psikologis, atau selalu menyiapkan obat kecemasan. Perawatan melalui teknik CBT memperkuat perilaku otonomi dan mendorong pasien untuk mandiri dan menangani masalahnya sendiri. Dinamika kelompok juga memberikan kontribusi penting. Sesuai pendapat Corey . , interaksi kelompok memungkinkan siswa saling berbagi pengalaman, memperoleh dukungan sosial, dan belajar dari teman sebaya. Dalam penelitian ini, dukungan sosial terbukti membantu siswa lebih termotivasi mengurangi ketergantungan pada smartphone setelah mendengar pengalaman positif anggota lain. Keterkaitan Konseling Kelompok Cognitive Behaviour dengan Nomophobia Hasil analisis uji paired t-test menguatkan adanya perbedaan signifikan skor nomophobia sebelum dan sesudah intervensi. Penurunan rata-rata skor sebesar 46,25 poin menegaskan efektivitas intervensi. Hal ini sesuai dengan temuan (Kurnia, 2. dan (Purwaningrum et al. , 2. bahwa konseling kelompok dengan pendekatan cognitive behavior efektif dalam mengurangi nomophobia melalui modifikasi pikiran irasional serta peningkatan keterampilan pengendalian diri. Praktik cognitive behavior menekankan adanya suatu proses kognitif terhadap perilaku yang lebih memusatkan perhatian dan perilakunya untuk mencapai berbagai kesempatan besar dengan mendapatkan penguatan perilaku dengan mengembangkan mood (Fortuna & Rosada, 2. Lebih lanjut, dukungan kelompok menjadi faktor yang GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan Volume x Nomor x Bulan 20. Copyright A 20. Penulis Pertama dan Penulis Kedua ISSN 3090-0441 GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan This is an open access article under the CC-BY license memperkuat perubahan. Siswa merasa tidak sendirian dalam menghadapi kecemasan terkait smartphone, sehingga proses perubahan perilaku berjalan lebih optimal. Teknik yang digunakan dalam pelaksanaan konseling kelompok adalah cognitive restructuring yaitu teknik yang memusatkan perhatian pada upaya mengidentifikasi dan mengubah pikiran atau pernyataan diri negatif dan keyakinan konseli yang tidak rasional. Cognitive restructuring menggunakan asumsi bahwa respon perilaku dan emosional yang tidak adaptif dipengaruhi oleh keyakinan, sikap, dan persepsi konseli (Amelia S & Silvianetri, 2. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa konseling kelompok dengan pendekatan cognitive behaviour efektif mereduksi nomophobia siswa. Temuan ini mendukung teori Beck tentang pentingnya restrukturisasi kognitif, memperkuat pandangan Corey mengenai peran dinamika kelompok, serta konsisten dengan penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa intervensi berbasis CBT dapat menurunkan kecemasan terkait smartphone. Meskipun demikian, hasil N-Gain yang berada pada kategori sedang mengindikasikan perlunya optimalisasi strategi konseling ke depan agar hasil yang diperoleh dapat lebih maksimal. Analisis Hasil Treatment Konseling Pelaksanaan intervensi dalam empat kali pertemuan menunjukkan progres yang konsisten. Pertemuan pertama berfokus pada identifikasi pola penggunaan smartphone dan pengenalan cognitive restructuring. Pertemuan kedua membangun kesadaran akan hubungan antara kebiasaan penggunaan smartphone dengan munculnya nomophobia. Pertemuan ketiga memperdalam latihan perubahan pola pikir irasional menjadi rasional. Pertemuan keempat menekankan refleksi pengalaman, komitmen jangka panjang, serta strategi pencegahan nomophobia. Hasil observasi memperlihatkan bahwa setiap sesi memperkuat kesadaran siswa mengenai dampak negatif nomophobia sekaligus meningkatkan motivasi untuk mengurangi ketergantungan pada smartphone. Kehadiran dukungan sosial dalam kelompok juga memperkuat perubahan perilaku karena siswa merasa memiliki pengalaman bersama dalam mengatasi kecemasan. Intervensi dilaksanakan dalam empat kali pertemuan. Pertemuan pertama fokus pada pengukuran awal dan identifikasi pola pikir maladaptif. Pertemuan kedua menekankan kesadaran akan hubungan antara kebiasaan penggunaan smartphone dengan kecemasan. Pertemuan ketiga difokuskan pada penerapan cognitive restructuring untuk membentuk persepsi baru yang lebih rasional. Pertemuan terakhir diarahkan pada pembentukan komitmen jangka panjang dan strategi pencegahan nomophobia, disertai pengisian post-test. Proses konseling menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa mengenai dampak negatif nomophobia dan tumbuhnya motivasi untuk mengurangi Dukungan sosial dalam kelompok turut membangun rasa kebersamaan sehingga siswa merasa tidak sendirian dalam menghadapi kecemasan. GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan Volume x Nomor x Bulan 20. Copyright A 20. Penulis Pertama dan Penulis Kedua ISSN 3090-0441 GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan This is an open access article under the CC-BY license Hal ini sesuai dengan hasil penelitian relevan bahwa dinamika kelompok berperan penting dalam memperkuat perubahan perilaku. Interpretasi Analisis N-Gain Analisis N-GAbdullah. Jannah. Aiman. Hasda. Fadilla. Taqwin. Masita. Ardiawan. , & Sari. Metodologi Penelitian Kuantitatif. In PT Rajagrafindo Persada (Vol. Issue . https://w. br/infodesign/article/view/355http://w. br/revista/index. php/ae/article/view/731http://w. br/revista/index. php/ae/article/view/269http://w. br/revist a/index. php/ae/article/view/106 Amelia S. , & Silvianetri. Konseling Kelompok Dengan Teknik Cognitive Restructuring Untuk Mereduksi Keterlambatan Peserta Didik. Realita : Jurnal Bimbingan Dan Konseling, 8. , 1987. https://doi. org/10. 33394/realita. Beck. , & Wynnewood. Thinking and Depression II. Theory and Therapy. Archives of General Psychiatry, 10, 562. Bianchi. , & Phillips. Psychological predictors of problem mobile phone Cyberpsychology and Behavior, 8. , 39Ae51. https://doi. org/10. 1089/cpb. Bragazzi. , & Del Puente. A proposal for including nomophobia in the new DSM-V. Psychology Research and Behavior Management, 7, 155Ae160. https://doi. org/10. 2147/PRBM. S41386 Copaja-Corzo. Aragyn-Ayala. Taype-Rondan, yA. , & Nomotest-Group. Nomophobia and Its Associated Factors in Peruvian Medical Students. International Journal of Environmental Research and Public Health, 19. https://doi. org/10. 3390/ijerph19095006 Fadhilah. Hayati. , & Bashori. Nomophobia di Kalangan Remaja. Jurnal Diversita, 7. , 21Ae29. https://doi. org/10. 31289/diversita. Fakhruddin. , & Nurhidayat. StudentsAo Perception on Quizziz As Game Based Learning in Learning Grammar in Writen Discourse. Wiralodra English Journal, 4. , 28Ae38. https://doi. org/10. 31943/wej. Fortuna. , & Rosada. Keefektifan Layanan Konseling Kelompok Teknik Cognitive Restructuring dalam Mengatasi Nomophobia pada Siswa. Guidance, 19. , 177Ae185. https://doi. org/10. 34005/guidance. Hake. Interactive-engagement versus traditional methods: A sixthousand-student survey of mechanics test data for introductory physics courses. American Journal of Physics, 66. , 64Ae74. https://doi. org/10. 1119/1. Jahrami. Saif. Trabelsi. Bragazzi. , & Vitiello. Internal consistency and structural validity of the nomophobia questionnaire (NMP-Q) GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan Volume x Nomor x Bulan 20. Copyright A 20. Penulis Pertama dan Penulis Kedua ISSN 3090-0441 GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan This is an open access article under the CC-BY license and its translations: A systematic review with meta-analysis. Heliyon, 9. , https://doi. org/10. 1016/j. King. Valenya. , & Nardi. Nomophobia: The Mobile Phone in Panic Disorder With Agoraphobia. Cognitive and Behavioral Neurology, 23. , 52Ae https://doi. org/10. 1097/wnn. Kurnia. Efektivitas Konseling Kelompok Cognitive Behavior Therapy untuk Mereduksi Perilaku Nomophobia pada Mahasiswa. Prophetic : Professional. Empathy. Islamic Counseling Journal, 7. , 18Ae31. Purwaningrum. Makin. Irnawati. , & Sidiq. Konseling Kelompok Teknik Systematic Desensitization dan Cognitive Restructuring untuk Mereduksi Nomophobia Mahasiswa. Jurnal Bimbingan Dan Konseling Ar-Rahman, 9. , 295. https://doi. org/10. 31602/jbkr. Ramos. Lypez. , & Quiles. Adaptaciyn y validaciyn de la escala de nomofobia de yildirim y correia en estudiantes espayoles de la educaciyn secundaria obligatyria. Health and Addictions/Salud y Drogas, 17. , 201Ae213. http://ojs. org/index. php/haaj/article/view/332/pdf Rangkuti. METODE PENDIDIKAN PENELITIAN Pendekatan Kuantitatif. Kualitatif. PTK, dan Penelitian Pengembangan. Rodryguez-Garcya. Belmonte. , & Moreno-Guerrero. Nomophobia: An individualAos growing fear of being without a smartphoneAia systematic literature review. International Journal of Environmental Research and Public Health, 17. https://doi. org/10. 3390/ijerph17020580 Sari. Suryani. Rochsantiningsih. , & Suharno. Digital learning, smartphone usage, and digital culture in indonesia education. Integration of Education, 24. , 20Ae31. https://doi. org/10. 15507/19919468. Sudarji. Hubungan Antara Nomophobia Dengan Kepercayaan Diri. Psibernetika, 10. , 51Ae61. https://doi. org/10. 30813/psibernetika. Sugiyono. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Kualitatif dan R & D. Alfabeta. Bandung. Waruwu. Pendekatan Penelitian Pendidikan: Metode Penelitian Kualitatif. Metode Penelitian Kuantitatif dan Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Metho. Jurnal Pendidikan Tambusai , 7. , 2896Ae2910. Yanti. Dampak Gadget Terhadap Perubahan Perilaku Sosial Siswa Di Sdit Madani Islamic School Payakumbuh. IbtidaAoiy : Jurnal Prodi PGMI, 7. , 49. https://doi. org/10. 31764/ibtidaiy. Yildirim. , & Correia. Exploring the dimensions of nomophobia: Development and validation of a self-reported questionnaire. Computers in Human Behavior, 49, 130Ae137. https://doi. org/10. 1016/j. GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan Volume x Nomor x Bulan 20. Copyright A 20. Penulis Pertama dan Penulis Kedua ISSN 3090-0441 GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan This is an open access article under the CC-BY license ain menunjukkan nilai rata-rata kelompok sebesar -0,50. Secara teknis, nilai negatif ini menandakan penurunan skor yang konsisten setelah treatment. Meskipun termasuk kategori rendah menurut klasifikasi (Hake, 1. , dalam konteks penelitian ini nilai negatif justru menunjukkan keberhasilan layanan karena menandakan adanya reduksi perilaku yang tidak diinginkan. Dengan demikian, hasil ini memperkuat temuan uji paired t-test bahwa konseling kelompok pendekatan cognitive behavior berpengaruh signifikan dalam mereduksi nomophobia siswa. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian hipotesis mengenai pengaruh konseling kelompok dengan pendekatan cognitive behavior dalam mereduksi nomophobia siswa kelas XI F 8 SMA Negeri 2 Padang Panjang, dapat disimpulkan bahwa layanan konseling kelompok dengan pendekatan ini terbukti berpengaruh Hal ini ditunjukkan melalui penurunan rata-rata skor nomophobia dari 114,75 pada pre-test menjadi 68,5 pada post-test, dengan hasil uji paired t-test menunjukkan nilai p < 0,01 . < 0,. Artinya. HCA ditolak dan HCa diterima, sehingga terdapat perbedaan yang signifikan antara kondisi sebelum dan sesudah perlakuan. Selain itu, konseling kelompok dengan pendekatan cognitive behavior terbukti membantu siswa mengubah pola pikir irasional menjadi rasional, serta menurunkan perilaku maladaptif menjadi perilaku adaptif. Seluruh peserta mengalami penurunan skor secara konsisten, yang mengindikasikan bahwa intervensi berjalan efektif. Dengan demikian, pendekatan cognitive behavior dalam konseling kelompok dapat dijadikan alternatif layanan bimbingan dan konseling untuk mereduksi perilaku nomophobia pada siswa. Beberapa saran yang dapat penulis berikan adalah untuk guru BK hendaknya lebih intensif memberikan layanan konseling yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan siswa, khususnya dalam menghadapi fenomena baru seperti nomophobia. Model konseling kelompok dengan pendekatan cognitive behavior dapat dijadikan alternatif strategi karena efektif dalam mengubah pola pikir irasional menjadi rasional dan perilaku maladaptif menjadi adaptif. Selain itu, sekolah juga disarankan untuk membatasi penggunaan smartphone di lingkungan belajar agar tidak mengganggu proses pembelajaran. Selanjutnya, siswa diharapkan mampu mengontrol dan memanajemen diri dalam penggunaan smartphone. Interaksi sosial secara langsung dengan teman sebaya perlu diutamakan dibandingkan ketergantungan pada media digital. Dengan demikian, siswa dapat mengurangi resiko munculnya kecemasan berlebih ketika tidak menggunakan smartphone dan lebih fokus dalam kegiatan belajar. Bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini masih memiliki keterbatasan, khususnya dalam jumlah sampel dan alokasi waktu penelitian. Oleh karena itu, peneliti berikutnya diharapkan dapat menambah jumlah sampel, memperpanjang durasi intervensi, serta mengombinasikan GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan Volume x Nomor x Bulan 20. Copyright A 20. Penulis Pertama dan Penulis Kedua ISSN 3090-0441 GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan This is an open access article under the CC-BY license pendekatan cognitive behavior dengan model konseling lainnya agar diperoleh hasil yang lebih komprehensif dan mendalam. Pengakuan Penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian ini. Ucapan terima kasih disampaikan kepada SMA Negeri 2 Padang Panjang, khususnya guru Bimbingan dan Konseling yang telah memberikan izin serta fasilitas sehingga penelitian dapat terlaksana dengan baik. Terima kasih juga kepada dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan arahan, masukan, dan bimbingan selama proses penelitian berlangsung. Tidak lupa, penulis menyampaikan terima kasih kepada seluruh siswa kelas XI F 8 yang telah bersedia menjadi subjek penelitian dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan konseling Akhirnya, penulis berharap hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan layanan bimbingan konseling di sekolah, khususnya dalam upaya mereduksi nomophobia pada remaja. Referensi