AL IRFAN: JURNAL ILMU PENDIDIKAN DAN PENELITIAN Vol. No. Oktober 2025, pp. DOI: https://doi. org/10. 64877/g4szey60 PENGEMBANGAN PENILAIAN GURU TINGKAT MI/SD DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA Akmalun Najmi1. Ali Ridho2. Ismail Ismail3 1,2,3Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan E-mail: anwarmuki0@gmail. com1 aldo. okfor@gmail. com2 yajlisismail@gmail. Article Info Article history: Received 09 30, 2025 Revised 10 20, 2025 Accepted 10 31, 2025 Keywords: Assesment Development Level MI/SD Improving Student Learning Outcomes ABSTRACT The key factor in determining success in learning is assessment, as it serves as the teacherAos process for making decisions regarding studentsAo academic achievement. Therefore, assessments need to be developed to become more systematic and valid. Monoton assessment instruments that are not based on students' developmental stages often eliminate crucial elements in learning, such as creativity capacity, critical thinking, and life skills competence. This research aims for educators to develop a more comprehensive and diverse assessment system, as well as constructive assessment and feedback processes, which are also becoming increasingly important aspects for facilitating more effective and efficient evaluations. Whereas this is study employs a library research method. Drawing on books, journal articles, and publications listed in the references. In this way, all available sources of information can be utilized optimally in generating ideas relevant to the research. The findings of this study on developing assessment at the elementary and madrasah ibtidaiyah (MI/SD) level highlight that teachersAo efforts to evaluate students should involve three types of assessment tools: cognitive, affective, and psychomotor aspects. Furthermore, the development of assessments at the MI/SD level can be advanced through competency-based evaluation, the integration of technology and the enhancement of teachersAo skills. As a result, the implementation of assessments can be carried out more systematically, efficiently and effectively. *Corresponding Author: Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan Email: anwarmuki0@gmail. PENDAHULUAN Lembaga pendidikan dasar, baik di Madrasah Ibtidaiyah (MI) maupun Sekolah Dasar (SD), sangat berperan dalam membangun dasar pembelajaran bagi siswa. Pada tahap ini, para peserta didik tidak hanya dikenalkan pada pelajaran akademis, tetapi juga diarahkan untuk mengasah keterampilan sosial, emosional, dan karakter yang akan mempersiapkan mereka untuk menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan yang lebih luas. Dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan yang komprehensif, sistem penilaian yang diterapkan di sekolah-sekolah dasar menjadi kunci utama untuk mengetahui sejauh mana proses pembelajaran berhasil mencapai tujuan tersebut (Mustadi. Penilaian di tingkat MI/SD bukan hanya untuk mengukur seberapa banyak pengetahuan yang dikuasai siswa, tetapi juga harus mampu menilai keterampilan praktis. Al Irfan: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Penelitian Vol. No. 02 Tahun 2025, pp. sikap, serta perilaku yang berkembang pada setiap individu. Dalam kurikulum yang berbasis pada pengembangan kompetensi, penilaian harus mencakup berbagai aspek, mulai dari pengetahuan akademik hingga keterampilan hidup yang mencakup kemampuan sosial, kerjasama, dan pengendalian diri. Oleh karena itu, pengembangan penilaian yang lebih holistik, berbasis pada kompetensi, dan berorientasi pada penguatan karakter sangat diperlukan (Nurlaeli, 2. Namun, pada kenyataannya, masih banyak tantangan yang dihadapi dalam pengembangan sistem penilaian yang efektif di jenjang MI/SD. Penilaian yang seringkali terfokus pada aspek kognitif, seperti tes tertulis, belum sepenuhnya mencerminkan kemampuan dan potensi siswa secara menyeluruh. Banyak siswa yang mungkin menunjukkan kemampuan luar biasa dalam aspek praktis atau sosial, tetapi tidak dapat mengungkapkan hal tersebut dalam ujian tertulis. Selain itu, metode penilaian yang tidak beragam dan tidak berbasis pada kebutuhan perkembangan siswa, seringkali mengabaikan aspek penting dalam proses belajar mengajar, seperti kreativitas, kritikal thinking, serta keterampilan hidup. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan bagi para pendidikan untuk mengembangkan sistem penilaian yang lebih komprehensif dan beragam. Sebab dalam penilaian, pendidik tidak hanya menilai hasil belajar secara tradisional, tetapi juga mempertimbangkan perkembangan karakter, keterampilan sosial, serta kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa. Penggunaan teknologi dalam proses penilaian dan umpan balik yang konstruktif juga menjadi aspek yang semakin penting untuk memfasilitasi evaluasi yang lebih efektif dan efisien. Dengan demikian, pengembangan penilaian yang lebih holistik di tingkat MI/SD dapat memberikan gambaran yang lebih utuh tentang kemajuan siswa, serta mendukung tercapainya tujuan pendidikan yang berkualitas dan METODE Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut Denzin dan Lincoln penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menggunakan latar alamiah, dengan maksud menafsirkan suatu keadaan yang terjadi seacara langsung dan disesuaikan dengan berbagai metode yang ada (Rukin, 2. Penelitian ini bersifat deskriptif-analitis dengan menelaah berbagai sumber literature yang relevan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan . ibrary researc. Literatur yang dipakai dalam studi ini terdiri dari berbagai buku, artikel jurnal dan publikasi yang tercantum dalam daftar pustaka. Dengan demikian, seluruh sumber informasi dapat dimanfaatkan secara optimal dalam pengembangan ide-ide terkait penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Dasar Penilaian dalam Pembelajaran tingkat MI/SD Definisi Penilaian dalam Pendidikan Definisi penilaian dalam konteks pendidikan adalah semua aktivitas yang direncanakan dan teratur untuk membuat keputusan mengenai keberhasilan atau pencapaian tujuan pendidikan demi mendapatkan hasil belajar siswa dalam sebuah proses pembelajaran (Hidayah, 2. Menurut Sudaryono, penilaian adalah keseluruhan proses yang mencakup metode dan pengambilan keputusan mengenai hasil pembelajaran siswa dalam suatu kegiatan belajar yang telah disusun dan Al Irfan P-ISSN: 3089-6800 X E-ISSN: 3089-7300 dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu (Sudaryono, 2. Sumintono dan Widhiarso enjelaskan bahwa penilaian pendidikan dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengenali potensi belajar siswa, sehingga para guru atau pendidik dapat membimbing mereka sesuai dengan kemampuannya masing-masing (Suprananto, 2. Dari berbagai pendapat diatas, dapat dianalisis bahwa penilaian adalah serangkaian langkah yang bertujuan untuk mengetahui ketercapaian pembelajaran dan memberikan umpan balik serta mendiagnosis pengetahuan siswa dalam mengambil keputusan. Adapun metode penilaian dapat berupa tes, observasi, portofolio, proyek, atau teknik lainnya yang relevan dengan tujuan dan konteks Jenis-jenis penilaian tingkat MI/SD Dalam jenis-jenis penilaian tingkat MI/SD harus ada tiga komponen utama dalam proses belajar, yaitu aspek kognitif . , afektif . , dan psikomotorik . Dengan demikian, penilaian dapat dilakukan secara terstruktur dan dapat dipercaya. Berikut beberapa jenis-jenis penilaian yang diterapkan dalam tingkat MI/SD antara lain: Penilaian Jenis kognitif Penilaian kognitif adalah jenis penilaian ang bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa dalam bidang pengetahuan, yaitu kemampuan berpikir, memahami, mengingat, menganalisis, dan menyelesaikan masalah (MA, 2. Adapun bentuk-bentuk penialaian dalam ranah kognitif yang diterapkan pada tingkat MI/SD yaitu tes tulis, teslisan dan pemberian tugas. Sehingga penilaian kognitif dapat terukur dan mudah diterapkan oleh pendidik. Penilaian Jenis Afektif Penilaian jenis afektif adalah proses evaluasi untuk mengukur hasil belajar terlihat pada siswa dalam berbagai prilaku, seperti memperhatikan, merespons, menghargai, serta mengorganisasi (Magdalena et al. , 2. Penilaian ini tidak hanya fokus pada apa yang diketahui seseorang tetapi juga pada bagaimana perasaan, perilaku, atau sikap mereka terhadap suatu hal. Adapun bentuk penialaian yang diterapkan untuk tingkat MI/SD yaitu, observasi, evaluasi diri, penilaian teman sejawat dan jurnal catatan. Sehingga guru tidak hanya menilai dari bagaimana siswa mampu memahami, namun juga dapat bagaimana siswa merespon terhadap apa yang diketahui. Penilaian Jenis Psikomotorik Penilaian jenis psikomotorik dalah proses evaluasi yang bertujuan untuk mengukur kemampuan seseorang dalam aspek keterampilan fisik atau motorik, yang mencakup tindakan atau gerakan yang melibatkan koordinasi antara pikiran dan tubuh. Penila. ian ini fokus pada bagaimana seseorang melakukan suatu keterampilan atau tugas yang memerlukan aktivitas fisik dan sensorimotor (Hutapea, 2. Penilaian ini berfokus pada keterampilan praktis untuk mengukur sejauh mana seseorang mampu melakukan aktivitas yang membutuhkan kecepatan, ketepatan, kekuatan, keseimbangan, atau koordinasi. Adapun bentu penilaian yang digunakan yaitu Portofolio, proyek, unjuk kerja dan Sehingga guru betul-betul dapat mengetahui keterampilan siswa dari hasil belajarnya. Prinsip-prinsip penilaian yang efektif Agar penilaian hasil belajar siswa dapat mencerminkan gambaran yang sebenarnya. Adi Suryanto dalam modul ajarnya berpendapat bahwa sangat penting Al Irfan: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Penelitian Vol. No. 02 Tahun 2025, pp. untuk memperhatikan prinsip-prinsip berikut dalam pelaksanaan pembelajaran (Suryanto, 2. Berorientasi pada pencapaian kompetensi Penilaian dakam hal ini bertujuan untuk mengukur sejauh mana siswa mencapai kompetensi yang sudah ditentukan dalam kurikulum. Penilaian harus diarahkan untuk menilai kemampuan sesuai dengan target pembelajaran yang Contoh: Jika siswa diharapkan mampu mempraktikkan cara mencangkok yang benar dalam pelajaran IPA, maka tidak cukup hanya menggunakan tes tertulis. Guru perlu menilai keterampilan siswa secara langsung dengan mengamati praktik mencangkok mereka menggunakan rubrik penilaian yang telah disiapkan. Valid Penilaian harus mengukur hal-hal yang seharusnya diukur, yaitu dengan memanfaatkan instrumen yang sah dan dapat dipercaya. Jika kompetensi yang diukur adalah keterampilan, maka metode penilaian harus relevan dengan kompetensi tersebut. Contoh: Menilai kemampuan mencangkok dengan tes praktik, bukan hanya soal teori. Adil Setiap siswa harus memiliki kesempatan yang sama dalam proses penilaian. Penilaian tidak boleh memberi perlakuan berbeda yang dapat merugikan salah satu pihak. Contoh: Dalam tes tertulis, jika siswa diberikan pilihan untuk menjawab sebagian soal, peluang yang tidak setara dapat memengaruhi hasil Sebaiknya, semua siswa mengerjakan soal yang sama. Objektif Penilaian harus bebas dari bias atau pengaruh subjektivitas. Objektivitas penilaian dapat dijaga dengan menggunakan alat penilaian yang jelas seperti rubrik, menghindari efek seperti halo effect . esan awal memengaruhi penilaian berikutny. atau carry over effect . asil sebelumnya memengaruhi penilaian Berkesinambungan Penilaian dilakukan secara terus menerus atau tidak hanya dilakukan pada akhir semester. Dengan penilaian berkelanjutan, guru dapat memperoleh informasi perkembangan belajar siswa secara lebih akurat, memberikan umpan balik, dan menyusun rencana perbaikan pembelajaran ke depan. Menyeluruh Penilaian harus mencakup seluruh aspek kompetensi dalam kurikulum, mulai dari ranah kognitif . , afektif . , dan psikomotorik . Terbuka Kriteria penilaian harus transparan sehingga siswa dan pihak-pihak terkait memahami bagaimana hasil penilaian diperoleh dan diputuskan. Bermakna Hasil penilaian harus memberikan manfaat bagi siswa dan pihak yang Penilaian ini seharusnya memberikan informasi mengenai pencapaian siswa, kelemahan, kelebihan, serta potensi mereka untuk perbaikan pembelajaran di masa depan. Dengan menggunakan prinsip-prinsip penilaian di atas, pendidik bisa memastikan bahwa penilaian mencerminkan prestasi siswa dengan tepat dan memberikan dampak positif yang baik untuk proses pembelajaran. Al Irfan P-ISSN: 3089-6800 X E-ISSN: 3089-7300 Tantangan dalam penilaian tingkat MI/SD Penilaian di tingkat MI/SD merupakan bagian integral dalam proses belajar Meski demikian, dalam penerapannya, terdapat berbagai tantangan yang harus dihadapi oleh para pendidik dan lembaga pendidikan. Tantangan-tantangan ini dapat berasal dari aspek teknis, pedagogis, hingga manajemen pendidikan. Seperti halnya tantangan berikut ini: Tingkat kemampuan siswa yang beragam Pada jenjang pendidikan dasar, baik yang ada dibawah naungan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau Sekolah Dasar (SD), keberagaman tingkat kemampuan siswa merupakan salah satu tantangan utama dalam pelaksanaan penilaian. Setiap siswa memiliki karakteristik dan kemampuan yang unik, baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Perbedaan ini dapat terlihat dalam kemampuan memahami materi, menyelesaikan tugas, hingga mengekspresikan diri secara emosional dan (Nadlir & Fardiya, 2. Keberagaman ini sering kali menjadi tantangan bagi guru, terutama ketika mereka harus menetapkan standar penilaian yang sama untuk semua siswa. Siswa dengan kebutuhan khusus atau mereka yang memiliki kecepatan belajar lebih lambat, misalnya, sering kali kesulitan untuk mencapai standar yang diharapkan. Situasi ini tidak hanya membuat siswa merasa tertinggal, tetapi juga dapat menurunkan motivasi belajar mereka. Bagi guru, keberagaman kemampuan ini menuntut pengembangan strategi penilaian yang lebih inklusif dan adil. Guru perlu menyesuaikan metode penilaian agar sesuai dengan kebutuhan dan potensi setiap siswa. Misalnya, siswa yang mengalami kesulitan dalam ujian tertulis dapat diberikan kesempatan untuk menunjukkan pemahamannya melalui wawancara atau tugas proyek yang lebih sesuai dengan gaya belajar mereka. Namun, upaya ini tentu membutuhkan waktu, energi, dan kreativitas yang lebih besar dari pihak guru. Kurangnya pemahaman guru tentang penilaian modern Banyak guru yang masih mengandalkan metode penilaian tradisional, yang cenderung hanya mengukur kemampuan kognitif siswa. Penilaian autentik atau berbasis proyek, yang seharusnya mampu mengukur kompetensi secara lebih holistik, sering kali diabaikan karena guru belum sepenuhnya memahami cara merancang dan menerapkannya. Akibatnya, aspek penting dalam perkembangan siswa, seperti keterampilan praktis dan sikap, tidak terukur dengan baik, yang berdampak pada ketidaklengkapan evaluasi terhadap kemampuan siswa secara menyeluruh (Ruslan & Alawiyah, 2. Keterbatasan fasilitas dan sumber daya Keterbatasan pada fasilitas dan sumber daya menjadi tantangan signifikan dalam pelaksanaan penilaian di tingkat MI/SD, terutama di sekolah-sekolah yang berada di daerah terpencil. Minimnya ketersediaan alat peraga, teknologi, atau materi pendukung sering kali menyulitkan guru dalam melaksanakan penilaian yang komprehensif, seperti penilaian praktik ibadah atau keterampilan lainnya. Dalam kondisi ini, guru terpaksa berimprovisasi dengan sumber daya yang terbatas, yang dapat memengaruhi akurasi dan kualitas hasil penilaian. Hal ini menuntut perhatian lebih dari pihak terkait agar dapat memberikan dukungan yang memadai bagi proses pembelajaran dan penilaian di setiap sekolah (Lestari, 2. Fokus pada nilai akademik Banyak sekolah dan orang tua masih lebih fokus pada hasil penilaian akademik dibandingkan aspek non-akademik seperti karakter dan keterampilan sosial. Al Irfan: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Penelitian Vol. No. 02 Tahun 2025, pp. Akibatnya, guru sering kali hanya mengutamakan penilaian dari ujian tertulis, sementara aspek penting seperti kerja sama, kedisiplinan, dan kejujuran siswa kurang mendapat perhatian. Ketidakseimbangan ini berpotensi membuat siswa kehilangan kesempatan untuk mengembangkan karakter yang seharusnya menjadi bagian integral dari pembelajaran, sehingga pembentukan kompetensi mereka tidak berjalan secara menyeluruh. Beban administrasi guru yang tinggi Guru tidak hanya memiliki tanggung jawab mengajar, tetapi juga harus menyelesaikan berbagai tugas administrasi terkait penilaian. Misalnya, pengisian laporan nilai yang detail, seperti dalam format kurikulum 2013, sering kali memakan waktu yang sebenarnya bisa digunakan untuk mempersiapkan dan melaksanakan Beban administratif ini membuat guru rentan merasa kelelahan, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kualitas penilaian yang mereka lakukan (Ruslan & Alawiyah, 2. Kendala teknologi dalam penilaian digital Meskipun teknologi mulai digunakan di beberapa sekolah, kendala teknis seperti keterbatasan akses internet dan ketersedian alat elektronik, tetap menjadi tantangan utama. Tidak semua siswa memiliki perangkat yang diperlukan untuk mengikuti penilaian daring atau menggunakan aplikasi berbasis teknologi. Akibatnya, peluang untuk menerapkan metode penilaian modern menjadi terbatas, sehingga sebagian siswa dan guru belum sepenuhnya dapat memanfaatkan kemajuan teknologi dalam mendukung proses evaluasi pembelajaran (Lailia et al. Subjektivitas dalam penilaian Penilaian yang dilakukan oleh guru, terutama pada aspek afektif, terkadang dipengaruhi oleh subjektivitas. Misalnya, guru mungkin cenderung memberikan nilai lebih tinggi kepada siswa yang terlihat lebih aktif atau sopan, meskipun kinerjanya tidak lebih baik dibandingkan dengan siswa lainnya. Hal ini menyebabkan penilaian menjadi kurang objektif dan tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuan atau pencapaian siswa secara akurat, sehingga berpotensi mengurangi keadilan dalam evaluasi (Yusuf, 2. Strategi pengembangan penilaian tingkat MI/SD dalam meningkatkan hasil belajar Strategi pengembangan penilaian Tingkat MI/SD adalah sebuah upaya yang bertujuan untuk memberikan penilaian yang baik guna membantu guru memahami kebutuhan siswa, efektivitas metode pengajaran, dan penyesuaian strategi Penilaian juga dapat memotivasi siswa untuk belajar lebih baik melalui umpan balik yang jelas dan konstruktif. Dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan siswa melalui penilaian yang diukur, guru dapat memberikan bimbingan yang lebih. Hasil belajar dapat ditingkatkan jika siswa memahami tujuan belajar dan mengajar. Berikut beberapa strategi pengembangan penilaian tingkat MI/SD guna meningkatkan mutu pembelajaran dan capaian pembelajaran sebagai berikut: Penilaian berbasis kompetensi Penilaian kompetensi adalah suatu proses yang dilakukan dengan teratur yang melibatkan pengumpulan data, analisis, dan penafsiran informasi guna mendukung pengambilan keputusan. Yusuf memandang kompetensi merupakan gabungan dari pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dapat ditunjukkan oleh siswa melalui cara berpikir dan berperilaku. (Nurdyansyah & Fahyuni, 2. Dengan ini, penilaian berbasis komputer dapat mengukur seberapa baik dan cakap siswa dalam Al Irfan P-ISSN: 3089-6800 X E-ISSN: 3089-7300 menyelesaikan tugas sesuai dengan kriteria kompetensi yang ditetapkan. Adapun alat ukur kompetensi siswa sebagai berikut (Nurdyansyah & Fahyuni, 2. Instrumen kompetensi kognitif Berikut beberapa instrumen kemampuan kognitif untuk mengukur penilaian siswa, yaitu: Pengetahuan Dengan kemampuan kompetensi ini, siswa bisa dilihat melalui ingatan dan hafalan. Contohnya: mengingat simbol, fakta, definisi, argumen, prosedur, pendekatan, serta metode. Misalnya, jika diberikan sebuah pecahan, siswa bisa menentukan penyebutnya. Pemahaman Merupakan proses mengkonversi informasi menjadi format yang lebih relevan dan memberikan makna. Seperti contoh dalam pelajaran matematika, misalnya mengubah soal yang berbentuk kata-kata menjadi simbol atau sebaliknya, mampu memahami suatu persamaan dan dapat memprediksi suatu pola dari grafik. Aplikasi Berkaitan dengan individu yang berhubungan dengan apa yang telah didapatkan dalam situasi yang baru dan konkret. Analisis Terkait dengan membagi informasi ke dalam elemen-elemen yang diperlukan, menemukan hubungan antar elemen, dapat mengidentifikasi bagian-bagiannya, serta bagaimana bagian-bagian tersebut saling terkait dan terstruktur, membedakan antara kenyataan dan imajinasi. Sintesis Dapat mengatur dan beroperasi dengan baigan-bagiannya dan unsurunsurnya untuk menjadi suatu keterkaitan seperti pola yang struktur. Evaluasi Ketika siswa mampu memberikan kesimpulan dan penilaian terhadap suatu bidang ilmu. Instrumen kompetensi afektif Dalam penilaian afektif yang dapat diukur yaitu berkaitan dengan sikap, ketertarikan, dan pengertian diri. Proses evaluasi dilakukan secara menyeluruh. Alat ukur ini terdiri dari beberapa komponen yang sesuai Peraturan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan, yaitu (Pendidikan & Nomor, 23 C. Recaiving/Attending Tingkat kepekaan siswa terhadap rangsangan yang berkaitan dengan materi pelajaran yang muncul dalam berbagai bentuk, seperti permasalahan, kondisi, gejala, dan lain-lain. Responding Tanggapan peserta didik terhadap rangsangan yang berkaitan dengan Ini mencakup keakuratan reaksi, emosi, dan lain-lain. Valuing Terkait dengan nilai serta kepercayaan terhadap rangsangan. Ini mencakup keinginan untuk menerima nilai, latar belakang, dan hal-hal Al Irfan: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Penelitian Vol. No. 02 Tahun 2025, pp. Organisasi Terkait dengan kemajuan nilai-nilai dalam sebuah sistem organisasi, meliputi keterkaitan nilai dengan nilai lainnya, peneguhan, urutan nilai yang dimiliki, dan hal-hal lainnya. Karakteristik Kesatuan seluruh sistem nilai yang dimiliki individu yang memengaruhi cara berpikir dan perilakunya. Instrumen Penilaian Psikomotorik Berikut beberap hasil psikomotor yang mencerminkan kelanjutan dari pembelajaran kognitif dan afektif, antara laian: Siswa mengajukan pertanyaan kepada guru mengenai contoh-contoh perilaku disiplin dari seseorang. Siswa mencari dan membaca buku-buku atau sumber lain yang membahas tentang disiplin. Siswa dapat menjelaskan kepada teman-temannya tentang pentingnya disiplin di sekolah, di rumah, atau dalam kehidupan sosial. Siswa bisa mengajarkan nilai disiplin kepada orang lain. Siswa mampu memberikan contoh nyata tentang disiplin (Rizeki Afiah & Ahnaf Fi Faruq, 2. Pemanfaatan teknologi Dalam menilai hasil belajar, lembaga perlu melakukan inovasi dengan menerapkan penilaian berbasis TIK untuk siswa. Ini merupakan cara menggunakan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, agar dapat meningkatkan kualitas evaluasi hasil belajar di sekolah tersebut. (Fitriani, 2. Karena itu, teknologi media harus dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam evaluasi hasil belajar siswa, mengingat selama ini pengajar melakukan penilaian kepada siswa dengan metode tradisional yaitu menggunakan kertas. Beberapa keuntungan yang bisa diperoleh dari penerapan TIK antara lain: Mesin komputer mampu menyelesaikan tugas dalam waktu yang singkat. Dapat melakukan pekerjaan yang sama berulang kali dengan konsistensi. Bisa menjalankan tugas dengan akurasi yang tinggi dan mengurangi kesalahan Dengan kecepatan, konsistensi, dan ketepatan, bisa dipastikan bahwa keputusan yang dibuat bisa diandalkan sehingga hasil yang sama dapat diperoleh berulang kali dalam meningkatkan produktivitas maupun kreativitas (Sutrisno 2. Seperti contoh penilaian yang menggunakan teknologi dengan berbagai fitur penilaian meliputi penggunaan google classroom, testmoz, quizizz, proprofs, dan quiz Dengan memanfaatkan alat penilaian hasil belajar berbasis teknologi, ada beberapa aspek penting yang bisa dipertimbangkan, antara lain berdasar pada nilai yang efisien, ekonomis, dan kemudahan pelaksanaannya di sekolah. Nilai-nilai ini diterapkan untuk menciptakan suasana belajar yang lebih baik, efektif, dan Pada dasarnya, nilai efisien dapat memberikan kemudahan dalam setiap tahapan yang dilakukan dengan bantuan teknologi. Peningkatan keterampilan guru Peningkatan keterampilan guru adalah cara guru dalam mengukur pencapaian siswa, meningkatkan kualitas pembelajaran dan dapat membantu siswa berkembang untuk memenuhi standar kurikulum. Berikut beberapa aspek yang perlu ditingkatan dalam keterampilan guru: Al Irfan P-ISSN: 3089-6800 X E-ISSN: 3089-7300 Pemahaman prinsip penilaian: Guru harus memahami prinsip-prinsip penilaian yang baik, seperti validitas, reliabilitas, objektivitas, dan keadilan. Kemampuan merancang penilaian: Guru perlu terampil dalam menyusun instrumen penilaian yang sesuai dengan kompetensi, seperti soal tes, rubrik penilaian, atau lembar observasi. Penggunaan metode penilaian yang beragam: Guru harus mampu memilih untuk menentukan dan menggunakan metode yang tepat, seperti: tes tertulis, penilaian kinerja . , observasi, portofolio, proyek atau produk. Analisis hasil penilaian: Guru perlu memahami cara menganalisis hasil penilaian untuk menentukan tindak lanjut, seperti perbaikan/revision, dan pelaporan hasil belajar siswa juga harus komunikatif dan mudah dipahami. Pemanfaatan Teknologi dalam Penilaian: Guru perlu memahami dan menggunakan alat atau aplikasi digital untuk membuat dan menganalisis penilaian, seperti google forms dan lainnya. Pemberian Umpan Balik (Rewar. : Guru harus mampu memberikan umpan balik yang jelas, spesifik, dan membangun kepada siswa untuk mendukung terhadap prestasi hasil belajarnya. Dari beberapa aspek diatas dapat dianalis bahawa penting bagi guru dalam strategi peningkatan keterampilan guru dalam penilaian dapat dibentuk melalui: Pelatihan yaitu menyelenggarakan program pelatihan bagi para guru untuk meningkatkan pemahaman mereka mengenai prinsip, teknik, dan alat untuk melakukan penilaian. Pengembangan profesional berkelanjutan yaitu guru mengikuti program pengembangan profesional, seperti seminar, dan lainnya. Kolaborasi dan praktik berbagi yaitu guru dapat berbagi pengalaman dan praktik terbaik dengan sesama guru melalui forum diskusi atau rapat. Bimbingan dan supervisi yaitu guru mendapat pendampingan dari pengawas, kepala sekolah, atau ahli pendidikan untuk memperbaiki kualitasnya. Panduan penggunaan penilaian yaitu guru menggunakan pedoman atau modul penilaian yang sesuai dengan standar kurikulum yang diterapkan Dengan memanfaatkan keterampilan penilaian guru, guru dapat memberikan penilaian lebih akurat dan dapat merancang pembelajaran yang lebih efektif berdasarkan situasinya serta meningkatkan motivasi siswa melalui penilaian yang adil dan umpan balik guna membantu siswa mencapai kompetensi yang diharapkan secara optimal. Dengan keterampilan penilaian yang baik, guru tidak hanya menjadi evaluator, tetapi juga pembimbing yang mendukung keberhasilan belajar siswa. SIMPULAN Pengembangan penilaian di tingkat MI/SD memiliki peranan yang sangat signifikan dalam memperbaiki mutu pembelajaran dan hasil belajar para siswa. Penilaian tidak sekadar digunakan untuk menilai penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga perlu mencakup aspek emosional dan keterampilan motorik. Hal ini bertujuan agar lebih menyeluruh dan sesuai dengan tujuan pendidikan yang menyeluruh. Oleh karena itu, pennilaian berfungsi sebagai alat bagi guru untuk mengenali potensi, kebutuhan, serta perkembangan siswa secara keseluruhan, sekaligus memberikan umpan balik yang positif demi perbaikan proses belajar. Berdasarkan hasil analisis penelitian ini menunjukkan bahwa. Pertama, penelitian ini menegaskan pentingnya sinergi sistematis antara panilaian kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam satu struktur penilaian yang terencana. Keunikan dari penelitian ini Al Irfan: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Penelitian Vol. No. 02 Tahun 2025, pp. adalah penekanan bahwa ketiga elemen tersebut perlu dilaksanakan secara bersamaan dan berkesinambungan untuk menciptakan gambaran menyeluruh mengenai perkembangan Kedua, penelitian ini mengidentifikasi tiga pilar utama yang mendukung pengembangan penilaian, yaitu penilaian yang berbasis kompetensi, penggunaan teknologi, serta peningkatan kemampuan guru, yang kedalaman konsepnya terletak pada model integratif yang melihat ketiga elemen ini sebagai satu kesatuan yang saling Ketiga, penelitian ini berkontribusi dengan mengidentifikasi tujuh masalah spesifik yang dihadapi oleh guru MI/SD dalam penerapan penilaian modern, di mana analisis menyeluruhnya memberikan dasar empiris untuk merancang intervensi yang lebih tepat sasaran. Keempat, penelitian ini menawarkan kerangka kerja instrumen penilaian yang terstruktur dan terukur untuk setiap domain, dengan pengoperasian yang jelas dari tiap tingkatan yang disertai contoh penerapan dalam konteks MI/SD. Kelima, temuan konseptual yang signifikan adalah pergeseran dari penilaian hasil belajar menjadi penilaian untuk mendukung pembelajaran, di mana penilaian berfungsi sebagai alat untuk mendiagnosis kebutuhan siswa, merancang strategi pembelajaran, memberikan umpan balik yang konstruktif, serta menjadi motivasi bagi siswa dalam belajar. Keenam, penelitian ini mengadopsi delapan prinsip penilaian yang efektif dengan penyesuaian khusus untuk tingkat MI/SD, disertai dengan contoh penerapan praktis. Implikasi dari penelitian ini adalah memperkenalkan model integratif yang mengaitkan teori penilaian dengan praktik di lapangan, menyajikan pemetaan yang sistematis tentang perbedaan antara kondisi ideal dan kenyataan penilaian di MI/SD, mengusulkan solusi berlapis yang tidak hanya bersifat teknis-pedagogis tetapi juga melibatkan elemen teknologi dan pengembangan profesional guru, serta menyediakan kerangka operasional yang dapat berfungsi sebagai panduan praktis bagi guru dan pemangku kepentingan pendidikan, meskipun penelitian ini dapat diperkuat dengan menambah data empiris mengenai efektivitas penerapan strategi yang diajukan serta studi perbandingan dengan praktik penilaian di negara lain untuk memperluas perspektif Dengan langkah-langkah ini, penilaian di tingkat MI/SD dapat menjadi lebih terstruktur, objektif, adil, dan berarti, sehingga mendukung pencapaian tujuan pendidikan yang bermutu. REFERENSI