EDUCATION Vol 2 No. 2 Juli 2022 Ae eISSN: 2828-2612, pISSN: 2828-2620. Hal 48-53 JURNAL SOSIAL HUMANIORA DAN PENDIDIKAN Halaman Jurnal: http://journal. id/index. php/Education Halaman Utama : http://journal. id/index. MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA PADA ANAK KELOMPOK B MELALUI BERMAIN PERAN MIKRO DI TK PANTI RINI Petronela Pure TK Panti Rini. Jln. Ahmad Yani. Kel. Beru. Kec. Alok Timur. Kab. Sikka-NTT Email: etipurell07@gmail. ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah bagaimana meningkatkan kemampuan berbicara anak melalui bermain peran mikro. Subjek dalam penelitian ini adalah anak TK Panti Rini kelompok B Jln. Ahmad Yani. Kel. Beru. Kec. Alok Timur. Kab. Sikka-NTT sejumlah 15 orang yang terdiri dari 6 anak perempuan dan 9 anak laki-laki. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Siklus pada penelitian ini menggunakan 2 siklus, setiap siklus tiga kali pertemuan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui observasi, sedangkan teknik analisis data menggunakan teknik statistik dengan rumus rata-rata. Hasil penelitian menunjukkan pada siklus 1 kemampuan berbicara melalui bermain peran mikro dengan rata-rata 3. 2 dengan kategori cukup. Pada siklus 2 mengalami peningkatan menjadi 1 dengan kriteria sangat baik. Kesimpulan bahwa melalui bermain peran mikro dapat meningkatkan kemampuan berbicara anak. Maka disarankan kepada guru dalam meningkatkan kemampuan berbicara anak dapat menggunakan bermain peran seperti bermain peran mikro dan bagi peneliti berikutnya menggunakan bermain peran makro. Kata kunci: Kemampuan Berbicara. Bermain Peran Mikro PENDAHULUAN Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I. Pasal 1, butir . , yang di maksud dengan pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Seperti yang dikemukakan dalam Sujiono . bahwa usia dini lahir sampai enam tahun merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian seorang anak. sebab masa usia dini adalah masa pembentukan pondasi dan dasar kepribadian yang akan menentukan Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I. Pasal 1, butir . , yang dimaksud dengan pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapa dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. EDUCATION Vol 2 No. 2 Juli 2022 Ae eISSN: 2828-2612, pISSN: 2828-2620. Hal 48-53 Seperti yang dikemukakan dalam Sujiono . bahwa usia dini lahir sampai enam tahun merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian seorang anak. sebab masa usia dini adalah masa pembentukan pondasi dan dasar kepribadian yang akan menentukan Menurut Bromley . alam Dhieni, dkk 2014:1. mendefinisikan bahasa sebagai sistem simbol yang teratur untuk mentransfer berbagai ide maupun informasi yang terdiri atas simbol-simbol visual maupun verbal. Simbol visual . embaca dan menuli. Sedangkan simbol verbal . enyimak dan berbicar. Dan pada penelitian tindakan kelas kali ini akan membahas mengenai salah satu dari aspek tersebut yaitu aspek kemampuan berbicara pada anak karena berbicara merupakan kemampuan yang perlu dipelajari untuk anak usia dini sebagai alat bersosialisasi Untuk meningkatkan kemampuan berbicara pada anak usia dini, dapat dengan bermain peran mikro lebih menarik dan menyenangkan untuk anak karena anak usia dini belajar sambil bermain. Alasan peneliti memilih bermain peran micro karena Bermain peran micro adalah salah satu permainan yang inovatif dan menarik sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai oleh pendidik. Ini sesuai dengan karakteristik anak usia dini dimana anak dalam tahapan pra operasional konkrit, (Piaget tentang teori kognisi jadi anak memerlukan perantara yaitu bermain untuk memudahkan memahami pesan atau materi yang disampaikan oleh pendidik/guru diterima atau dimengerti oleh anak. Karena pada tahap ini kemampuan anak berfikir masih terbatas pada hal yang bersifat nyata atau konkret dan belum memahami hal yang bersifat abstrak. Adapun jenis-jenis bermain peran menurut Hamalik . Bermain Peran ikro: . Dalam bermain peran mikro anak memainkan alat tertentu untuk dimainkan, seperti boneka, boneka tangan, mobilmobilan atau binatang dari plastik. Pada tahap ini anak sudah mengembangkan kemampuan rasa percaya diri. Bermain peran mikro anak mempunyai minat pada personifikasi, karena mereka masih senang berbicara dengan benda mati dan biasanya mereka menciptakan percakapan sendiri dengan jumlah anak 15 orang yang terdiri dari 9 anak laki-laki dan 6 anak perempuan, menunjukkan bahwa dari 15 orang anak tersebut sebagian memiliki kemampuan berbicara yang baik dan sebagian memiliki kemampuan berbicara yang masih dikatakan kurang, hal itu dapat dilihat dari proses belajar mengajar di dalam kelas yang mengharuskan anak untuk berbicara, ada anak yang kemampuan bicaranya cukup tetapi terbata-bata dan perlu dibantu anak, ada anak yang susah sekali untuk mengungkapkan apa yang ingin EDUCATION Vol 2 No. 2 Juli 2022 Ae eISSN: 2828-2612, pISSN: 2828-2620. Hal 48-53 ungkapkan didepan kelas maupun di depan guru dan lain sebaginya Maka untuk mengetasi hal tersebut peneliti berusaha untuk mencari dan menemukan solusi dengan mengadakan penelitian tindakan kelas dengan bermain peran mikro. Dikarenakan bermain peran mikro sangat jarang digunakan dalam kegiatan belajar. Hal ini dapat dilihat berdasarkan hasil observasi di lapangan. Sebagai contoh, kemampuan berbicara pada anak terlihat dari anak yang sulit berkomunikasi dengan lisan, karena pengucapan masih rendah, sulit member informasi, kosakata pun masih terbatas, sehingga pembentukan kalimat yang sederhana menjadi sulit. Untuk itu perlu ditingkatkannya kemampuan berbicara pada anak salah satunya melalui bermain peran micro Meningkatkan Kemampuan Berbicara Anak melalui Bermain Peran Micro pada Anak Kelompok B di TK Panti Rini. Jl. Ahmad Yani. Kel. Beru. Kec. Alok Timur. Kab. Sikka-NTT. Dengan penelitian ini, peneliti berharap nantinya kemampuan berbicara anak melalui bermain peran mikro dapat berkembang dengan baik serta dapat menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi anak emampuan berbicara merupakan suatu ungkapan dalam bentuk katakata. Selanjutnya Arsjad dan Mukti . menyatakan bahwa kemampuan berbicara menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan. Menurut Tarigan . mengungkapkan bahwa kemampuan berbicara itu artinya mengucapkan bunyibunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan. Sedangkan menurut pendapat Mark . alam Djenar 2009:. Kemampuan berbicara adalah tindakan untuk menghasilkan ujaran yang bertujuan untuk mengungkapkan pendapat, ide-ide atau keinginan dalam rangka mempertahankan hubungan sosial. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian ini direncanakan dalam dua siklus, setiap siklus terdiri dari tiga pertemuan. Dalam setiap pertemuan terdapat empat tahap, yaitu: . Perencanaan (Plannin. , . Pelaksanaan (Actin. , . Observasi atau pengamatan (Observin. , . Refleksi (Reflectin. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di TK Panti Rini. Jl. Ahmad Yani. Kel. Beru. Kec. Alok Timur. Kab. Sikka-NTT. Kegiatan penelitian berlangsung pada bulan September hingga bulan Oktober 2016. Subjek dalam penelitian ini adalah anak kelompok B yang berjumlah 15 orang anak, yang terdiri 7 orang anak laki-laki dan 8 orang anak perempuan. Teknik EDUCATION Vol 2 No. 2 Juli 2022 Ae eISSN: 2828-2612, pISSN: 2828-2620. Hal 48-53 pengumpulan data dilaksanakan melalui observasi. Teknik analisis data dihitung menggunakan ratarata untuk melihat ketuntasan belajar anak, serta analisis t-test. Penelitian ini dikatakan berhasil jika ketuntasan belajar anak secara klasikal mencapai 75%. Gambar 1. Alur Penelitian Tindakan Kelas (Arikunto, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan pengolahan data penelitian diperoleh hasil pertama bahwa dengan menggunakan bermain peran mikro dapat meningkatkan kemampuan erbicara anak. Ketika anak bermain peran pada saat itu anak akan menyampaikan atau mengucapkan yang ada dalam pikirannya. Seperti yang diungkapkan oleh Dhieni . 8:1. kemampuan berbicara merupakan suatu ungkapan dalam bentuk kata-kata. Selanjutnya Arsjad dan Mukti . menyatakan bahwa kemampuan berbicara yaitu kemampuan mengucapkan kalimat untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan Hasil kegiatan bermain peran mikro menunjukkan pada siklus pertama kemampuan berbicara anak belum berkembang optimal, terbukti pada pertemuan ketiga terdapat sembilan orang anak yang mendapat nilai rendah dalam kriteria cukup dan kurang yaitu Az. Di. Fr. Ji. Ke. Na. Ra. Ph, dan Ta. Hal ini disebabkan oleh anak yang kurang antusias dalam bermain peran mikro. Anak masih bingung dan mengalami kesulitan dalam bermain peran mikro. Dilihat dari ketuntasan belajar secara klasikal belum mencapai ketuntasan belajar . %) Kemudian dilakukan perbaikan pada siklus kedua pada pertemuan ini anak sudah mulai antusias dalam bermain peran mikro dan anak tidak mengalami kesulitan dalam bermain peran mikro terbukti pada siklus dua pertemuan tiga terdapat 3 orang anak yang mendapat nilai sangat tinggi dalam EDUCATION Vol 2 No. 2 Juli 2022 Ae eISSN: 2828-2612, pISSN: 2828-2620. Hal 48-53 kriteria sangat baik yaitu Ch. Ha, dan MI dan 12 orang mendapat nilai tinggi dalam criteria baik yaitu Az. Di. Fi. Fr. Ja. Ji. Ke. Mi. Ph. Ra. Si. Ta. Peningkatan ini dikarenakan anak sudah mulai antusias dalam bermain peran mikro dan anak tidak mengalami kesulitan dalam bermain peran mikro dan anak sudah mulai mampu berbicara dalam menyampaikan perasaan, ide, atau pikirannya pada orang lain atau teman sejawatnya. Hasil penelitian yang kedua menunjukkan bahwa kemampuan berbicara anak dapat ditingkatkan melalui bermain peran mikro. Pada siklus I ketuntasan dengan ratarata 3. 2 meningkat di siklus kedua sebesar 4. Hasil disetiap kegiatan yang dilakukan menunjukkan adanya kenaikan dan penurunan kemampuan berbicara pada anak. Di lihat pada siklus 1 pertemuan pertama menunjukan tingkat ketuntasan dengan nilai ratarata 2. 9 dalam criteria cukup. Pada siklus 1 pertemuan kedua menunjukan tingkat ketuntasan dengan nilai rata-rata 2. 95 dalam kriteria cukup Pada siklus 1 pertemuan ketiga menunjukan tingkat ketuntasan belajar dengan nilai rata-rata 3. 2 dalam criteria cukup. Kemudian meningkat disiklus II pada siklus II pertemuan pertama menunjukan tingkat ketuntasan belajar dengan nilai rata-rata 3. 4 dalam criteria cukup. Pada siklus II pertemuan kedua menunjukan tingkat ketuntasan belajar dengan nilai rata-rata 3,7 dalam criteria baik. Pada siklus II pertemuan ketiga menunjukan tingkat ketuntasan belajar dengan nilai rata-rata 4,1 dalam criteria baik. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa: . Kemampuan berbicara anak melalui bermain peran mikro selalu meningkat di setiap siklus, disetiap siklus bermain peran mikro guru melibatkan anak, saat tahap bercerita, tahap pemberian contoh main peran guru juga melibatkan beberapa anak, saat bermain peran mikro guru sambil mengawasi anak bercerita atau berbicara dan mengevaluasi . Kemampuan berbicara setelah digunakan bermain peran mikro. Hasil meningkat di siklus I kemampuan berbicara cukup mencapai 3. 2, meningkat pada siklus II dengan ketuntasan belajar kemampuan berbicara baik mencapai 4. DAFTAR PUSTAKA