8502 EKOMA : Jurnal Ekonomi. Manajemen. Akuntansi Vol. No. September 2025 Ketimpangan PAD di Tengah Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan Manusia: Analisis PDRB Per Kapita. IPM, dan Inflasi Daerah Akbar Nurul Hidayah1. Rosydalina Putri2. Zathu Restie Utamie3 Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung E-mail: akbarnurul2903@gmail. com1, rosydalina. putri@radenintan. id2, zathu@radenintan. 1,2,3 Article History: Received: 20 Mei 2025 Revised: 29 Juli 2025 Accepted: 20 Agustus 2025 Keywords: Disparitas,PDRB perkapita,IPM. Inflasi Daerah Abstract: Ketimpangan antar wilayah merupakan tantangan serius dalam pembangunan ekonomi Indonesia, terutama dalam konteks kemandirian daerah yang tercermin dari Pendapatan Asli Daerah (PAD). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh PDRB) per kapita. IPM, dan inflasi daerah terhadap disparitas PAD di wilayah Sumatera bagian Selatan (Sumbagse. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan analisis data panel selama periode 2010Ae2024, yang diolah menggunakan model Random Effect Model melalui perangkat lunak EViews 10. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan, ketiga variabel independen memiliki pengaruh signifikan terhadap disparitas PAD. Namun, jika dilihat secara parsial, hanya IPM yang menunjukkan pengaruh negatif dan signifikan terhadap disparitas PAD. Sementara itu. PDRB per kapita dan inflasi daerah tidak memberikan dampak yang signifikan. Temuan ini menegaskan bahwa kualitas sumber daya manusia memiliki peran penting dalam mengurangi ketimpangan PAD antarwilayah. Oleh karena itu, kebijakan untuk meningkatkan IPM perlu menjadi prioritas dalam upaya pemerataan pembangunan daerah dan memperkuat otonomi fiskal. PENDAHULUAN Pembangunan secara umum memiliki potensi untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat. Namun, kenyataannya, proses pembangunan ini seringkali menyebabkan kesenjangan antar wilayah. Ketimpangan tersebut terutama terlihat antara Jawa dan luar Jawa, serta antara Kawasan Barat Indonesia dan Kawasan Timur Indonesia (Windu Putra. Pembangunan ekonomi di Indonesia memiliki tujuan utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata di seluruh wilayah. Salah satu indikator keberhasilan dalam pembangunan ekonomi ini adalah Pendapatan Asli Daerah (PAD), yang mencerminkan kemampuan suatu daerah dalam mengelola potensi ekonominya secara mandiri. PAD sangat penting dalam mendukung pembiayaan pembangunan daerah dan mengurangi ketergantungan pada transfer dana dari pemerintah pusat. Pemerintah daerah kini memiliki wewenang untuk a. ISSN : 2828-5298 . EKOMA : Jurnal Ekonomi. Manajemen. Akuntansi Vol. No. September 2025 mengelola urusan pemerintahan di wilayahnya masing-masing sesuai dengan hukum yang berlaku, berkat kebijakan otonomi daerah. Dengan adanya desentralisasi dari pemerintah pusat, daerah otonom dapat mengatur, memperbaiki, dan mengeksplorasi potensi yang ada untuk kepentingan warganya. Selain itu, daerah juga memiliki hak untuk merumuskan kebijakan wilayah, yang menjadikannya sebagai wadah bagi pemerintah daerah dalam mengelola sumber daya yang tersedia(Kusumayanti, 2. Hal ini akan memungkinkan pemerintah daerah untuk mengidentifikasi sumber-sumber pendapatan potensial guna meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan mencapai kemandirian daerah. PAD adalah salah satu sumber pendapatan yang berasal dari potensi dan kewenangan daerah dalam mengelola sumber daya yang ada di wilayah mereka. Pendapatan Asli Daerah memainkan peran yang sangat penting dalam mendukung kemandirian dan otonomi daerah, serta mencerminkan kinerja dan akuntabilitas pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan publik. (Yunie Theresia. Listy Ivonne. Anggreni, & Rizki Putra, 2. Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah manifestasi dari pemanfaatan sumber daya atau potensi yang dimiliki oleh suatu daerah. PAD mencakup semua penerimaan yang dihasilkan dari sumber ekonomi yang asli dan khas bagi daerah tersebut. Berbagai kebijakan nasional yang telah ditetapkan memberikan harapan besar bagi setiap daerah untuk mengembangkan dan menggali potensi lokal yang menjadi sumber pendapatan, khususnya dalam konteks pendapatan asli Dalam hal ini penting untuk mendanai penyelenggaraan otonomi daerah dengan lebih efektif, baik dalam hal eksplorasi sumber-sumber keuangan, penggunaannya, maupun pertanggung jawabannya. (Rizqy Ramadhan, 2. Ketimpangan atau disparitas pendapatan merujuk pada kondisi di mana terdapat perbedaan signifikan dalam pendapatan antar daerah. Keadaan ini tidak dapat dibiarkan berlarut-larut, karena dapat mengganggu upaya suatu wilayah untuk mencapai tujuan utama, yakni mensejahterakan seluruh rakyat secara merata. Jika disparitas pendapatan ini dibiarkan, maka dapat muncul masalah lain,seperti meningkatnya angka kemiskinan dan menurunnya tingkat kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang efektif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan memastikan pemerataan pendapatan di seluruh lapisan masyarakat (Laut. Putri, & Septiani, 2. Menurut (Nursa Fitri. Junaiddin Zakaria, 2. perbedaan karakteristik wilayah yang berkaitan dengan sumber daya alam menjadi salah satu faktor utama yang memicu ketimpangan Selain itu, terdapat juga faktor lain yang turut berkontribusi, seperti sumber daya manusia, sumber daya sosial, sumber daya buatan . ermasuk ketersediaan sarana dan prasarana sosial ekonom. , karakteristik ekonomi wilayah, serta kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah Seiring dengan intensifikasi pembangunan di suatu daerah, ketimpangan pembangunan sering kali mengikuti. Fenomena ini mencerminkan bahwa dalam proses pembangunan yang bersifat spasial, isu ketimpangan akan selalu muncul. Kondisi ini memperlihatkan adanya perbedaan tingkat pembangunan dan kesejahteraan antarwilayah. sementara beberapa daerah mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat, daerah lainnya justru menghadapi pertumbuhan yang lambat. Analisis menggunakan Indeks Williamson menunjukkan adanya disparitas pendapatan antar kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Selatan selama periode 2005-2019, yang terlihat dari nilai Indeks Williamson yang lebih besar dari 0. LANDASAN TEORI Hipotesis Neoklasik Hipotesis neo-klasik mengenai ketimpangan ekonomi regional terutama didasarkan pada Teori Penyamaan Balas Jasa Faktor Produksi Antardaerah, yang pertama kali dipelopori oleh Borts pada tahun 1960. Analisis ini merupakan pengembangan dari teori pertumbuhan ekonomi a. ISSN : 2828-5298 . EKOMA : Jurnal Ekonomi. Manajemen. Akuntansi Vol. No. September 2025 regional neo-klasik yang diusulkan oleh North pada tahun 1956. Dalam teori tersebut, terdapat prediksi yang menggambarkan hubungan antara tingkat pembangunan ekonomi nasional suatu negara dengan ketimpangan pembangunan antar daerah. Hipotesis ini kemudian dikenal luas sebagai Hipotesis Neo-klasik, yang berhasil menarik perhatian banyak ekonom dan perencana pembangunan daerah. Menurut hipotesis neo-klasik, pada tahap awal proses pembangunan suatu negara, ketimpangan pembangunan antar daerah cenderung meningkat. Fenomena ini akan berlanjut hingga ketimpangan tersebut mencapai puncaknya. Setelah titik puncak tercapai, jika proses pembangunan terus berlangsung, ketimpangan pembangunan antar daerah akan mulai menurun secara bertahap. Berdasarkan hipotesis ini, kita dapat menyimpulkan bahwa di negara-negara yang sedang berkembang, umumnya ketimpangan pembangunan antar daerah cenderung lebih tinggi, sedangkan di negara maju, ketimpangan tersebut cenderung lebih rendah. Dengan kata lain, kurva ketimpangan pembangunan antar daerah berbentuk huruf U terbalik . everse U-shape Berdasarkan hipotesis neo-klasik ini, dapat diperkirakan bahwa di negara sedang berkembang, ketimpangan ekonomi antar daerah cenderung tinggi dan meningkat . Namun, seiring dengan kemajuan pembangunan suatu negara, akan terjadi penurunan tingkat ketimpangan ekonomi antar daerah . Penting untuk memahami perbedaan antara hipotesis neo-klasik dan Hipotesis Kuznets agar tidak terjadi kebingungan. Hipotesis neo-klasik berkaitan dengan kecenderungan perkembangan ketimpangan ekonomi regional dari waktu ke waktu, yang diukur dengan Indeks Williamson. Sementara itu. Hipotesis Kuznets berfokus pada perkembangan distribusi pendapatan antargolongan masyarakat, yang diukur menggunakan Koefisien Gini. Meski demikian, kedua aspek ini dapat saling terkait atau bahkan terpisah. Pada tahun 1966. Jefrey G. Williamson melakukan studi untuk menguji kebenaran hipotesis neo-klasik, khususnya dalam konteks ketimpangan pembangunan antardaerah di negara maju dan negara sedang berkembang, dengan menggunakan data time series dan cross-section. Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa hipotesis neo-klasik yang telah diformulasikan secara teoretis terbukti benar secara empirik. Ini menunjukkan bahwa proses pembangunan suatu negara tidak secara otomatis mengurangi ketimpangan antardaerah. Justru pada tahap awal, fenomena sebaliknya seringkali terjadi. Fakta empirik ini membuktikan bahwa peningkatan ketimpangan pembangunan di negaranegara sedang berkembang bukanlah akibat kesalahan pemerintah atau masyarakat, melainkan Serikat memulai pembangunan pada abad ke-18, ketimpangan antardaerah juga meningkat drastis, bahkan memicu perang saudara antara negara bagian Selatan yang masih tertinggal dan negara bagian Utara yang lebih maju. Desentralisasi Fiskal Dari (Sihombing. Kartika. Sitompul, & Yoseph Anugerah, 2. seperti yang dijelaskan oleh Oates . , desentralisasi fiskal dipahami sebagai proses penyerahan sebagian urusan pengelolaan anggaran yang sebelumnya menjadi kewenangan pemerintah pusat, kini beralih kepada pemerintah daerah. Para ahli mengartikan kebijakan desentralisasi fiskal dari berbagai perspektif, yang meliputi penyerahan tugas fiskal, kewenangan fiskal, dan otonomi fiskal. Secara lebih spesifik, kebijakan ini menunjukkan perpindahan tanggung jawab atau wewenang yang sebelumnya sepenuhnya diatur oleh pemerintah pusat, menjadi milik pemerintah daerah. Hal ini bertujuan untuk melaksanakan pengeluaran dan penerimaan anggaran serta memberikan pemerintah daerah kontrol penuh atas penerimaan mereka. Dasar dari desentralisasi fiskal adalah teori federalisme fiskal (Fiscal Federalism Theor. , yang merupakan bagian dari teori ekonomi publik. Teori ini menjelaskan dua hal utama: pertama, a. ISSN : 2828-5298 . EKOMA : Jurnal Ekonomi. Manajemen. Akuntansi Vol. No. September 2025 tentang pembagian tugas di antara tingkatan pemerintahan dalam melaksanakan berbagai fungsi alokasi dan distribusi, sehingga menghindari ketidakharmonisan dan persaingan yang merusak antarunit pemerintahan dalam menciptakan kesejahteraan sosial. kedua, mengenai pemilahan penduduk di antara daerah yang berkaitan dengan cara masyarakat berkelompok untuk menghindari ketidakharmonisan dan persaingan yang merugikan demi mencapai kesejahteraan yang maksimal. Lebih jauh lagi, teori federalisme fiskal menyatakan bahwa pemerintah pusat bertanggung jawab dalam menjaga stabilitas ekonomi makro serta melakukan redistribusi pendapatan untuk membantu masyarakat yang kurang mampu. Fungsi stabilisasi ekonomi makro bertujuan untuk menjaga agar perekonomian tetap menyerap tenaga kerja secara optimal dan menjaga stabilitas Sementara itu, redistribusi pendapatan diupayakan dengan menciptakan distribusi yang adil melalui penerapan pajak progresif. METODE PENELITIAN Penelitian ini mengadopsi pendekatan kuantitatif dengan metode analisis data panel. Pendekatan tersebut dipilih untuk menguji pengaruh variabel independen, yaitu Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita. Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dan inflasi daerah terhadap variabel dependen, yakni Disparitas Pendapatan Asli Daerah yang diukur menggunakan indeks williamson di wilayah Sumbagsel. Dalam buku karya(Sjafrizal, 2. menyatakan bahwa berbeda dengan rasio Gini, yang sering kali digunakan untuk mengukur distribusi pendapatan antar kelompok masyarakat. Williamson Index memanfaatkan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita sebagai data dasar. Pendekatan ini dapat dipahami, karena yang dibandingkan adalah tingkat pembangunan antar daerah, bukan distribusi pendapatan antar kelompok sosial. Dengan demikian, data yang paling relevan untuk mengukur ketimpangan regional adalah PDRB per kapita dari masing-masing daerah. Formulasi Indeks Williamson dapat ditampilkan sebagai berikut Vw = =1 (O. 2 (/) , 0 < Vw <1 Dimana: = PDRB perkapita daerah i = PDRB perkapita rata-rata seluruh daerah = jumlah penduduk daerah i = jumlah penduduk seluruh daerah LANDASAN TEORI Melalui data panel, penelitian ini dapat melakukan pengamatan secara bersamaan antara dimensi waktu . dan dimensi wilayah . rovinsi/kabupaten/kot. yang ada di Sumbagsel. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan perangkat lunak E-Views 10. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh laporan data mengenai PDRB Perkapita,Indeks Pembangunan Manusia,Inflasi daerah yang telah dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Sampel penelitian diambil dengan metode purposive sampling, yang berarti bahwa pemilihan dilakukan terhadap kabupaten atau kota yang memiliki data lengkap untuk semua variabel yang diteliti selama periode 2015 hingga 2023. Dengan demikian, hanya kabupaten dan kota yang memiliki data yang konsisten dan tersedia selama rentang waktu tersebut yang akan digunakan sebagai sampel. Metode analisis dalam penelitian ini adalah data panel yaitu gabungan antara time series dan cross section. Dalam analisis data panel terdapat tiga . pendekatan yang diuji a. ISSN : 2828-5298 . EKOMA : Jurnal Ekonomi. Manajemen. Akuntansi Vol. No. September 2025 untuk menentukan model terbaik suatu penelitian antara lain CEM,FEM,dan REM. Dan dari hasil pemilihan pengujian data panel antara Uji Chow,Uji Hausman,dan dan Uji LM menghasilkan pendekatan penelitian ini lebih tepat menggunakan Random Effect Model (REM). Setelah pemilihan model, dilakukan uji hipotesis yang mencakup uji t, uji F, dan uji R2. Model analisis data panel yang digunakan adalah sebagai berikut: Yit = 1 2 X2it 3X3it 4X4it AAit Keterangan: A Disparitas PAD_it (Yi. A PDRB per kapita_it (X2i. A Indeks Pembangunan Manusia_it (X3i. A Inflasi Daerah_it (X4i. A AAit Keterangan X1= PDRB perkapita X3= Inflasi Daerah X2= Indeks Pembangunan Mnusia Y = Disparitas Pendapatan Asli Daerah Pemilihan model Pengujian model Uji statistik Uji asumsi klasik Gambar 1. Pengujian Data Panel HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Statistik Deskriptif Tabel. 1 Descriptive Statistics Mean Median Maximum Minimum Std. Dev. Skewness Kurtosis Jarque-Bera Probability Sum Sum Sq. Dev. Observations Sumber: pengolahan data e-views 10 Hasil analisis statistik deskriptif pada tabel di atas menunjukkan bahwa variabel Y (Disparita. memiliki nilai mean sebesar -0. 710572, nilai median sebesar -0. 776529, nilai 122218, dan nilai terendah -1. 698437serta standar deviasi sebesar 0. Variabel X1 (Pdrb perkapit. memiliki nilai mean sebesar 10. 32452, nilai median sebesar a. ISSN : 2828-5298 . EKOMA : Jurnal Ekonomi. Manajemen. Akuntansi Vol. No. September 2025 32994, nilai tertinggi 10. 76850, dan nilai terendah 9. 708912, dengan standar deviasi Variabel X2 (Indeks Pembangunan Manusi. memiliki nilai mean 235391, nilai median sebesar 4. 240894, nilai tertinggi 4. 296333, dan nilai 154342, dengan standar deviasi sebesar 0. Terakhir, variabel X3 (Inflasi Daera. memiliki nilai mean sebesar 1. 251172, nilai median sebesar 1. nilai tertinggi 2. 353278, dan nilai terendah -0. 579818, dengan standar deviasi sebesar Estimasi data panel . Uji Chow Uji chow dilakukan untuk menentukan model terbaik antara Common Effect Model (CEM) dengan Fixed Effect Model (FEM). Berikut merupakan hasil dari uji chow: Tabel 2. Hasil Uji Chow Sumber: Pengolahan data e-views 10 Diketahui nilai statistic cross section Chi square sebesar 36. 214568 dengan nilai probability 0000 lebih kecil dari 0. 0000 < 0. maka H1 diterima dan menolak H0. Sehingga dalam Uji Chow ini model terbaik yang dipilih adalah Fixed Effect Model (FEM). Uji Hausman Uji hausman dilakukan untuk memilih model terbaik antara Random Effect Model (REM) dengan Fixed Effect Model (FEM). Berikut merupakan hasil uji hausman: Tabel 1. 3 Hasil Uji Hausman Sumber: Pengolahan data e-views 10 Nilai distribusi chi square adalah sebesar 1. 014868 dengan nilai probability 0,7977. Hal tersebut berarti lebih dari 0,05 . ,7977 > 0,. maka secara statistik H1 ditolak dan menerima H0 sehingga dalam Uji Hausman model yang terpilih adalah Random Effect Model (REM) sehingga perlu melakukan Uji LM. Uji Legrange Multiplier Uji LM dilakukan untuk memilih model terbaik antara Common Effect Model (CEM) dengan Random Effect Model (REM) Berikut merupakan hasil uji LM: ISSN : 2828-5298 . EKOMA : Jurnal Ekonomi. Manajemen. Akuntansi Vol. No. September 2025 Tabel 4. Hasil Uji LM Sumber: Pengolahan data e-views 10 Nilai distribusi cross-section sebesar 33. 08541 dengan nilai probability 0. 0000 yang berarti lebih kecil dari 0. 0000 < 0. maka secara statistik H0 ditolak dan H1 diterima sehingga model yang terpilih dari Uji LM adalah Random Effect Model (REM). Berdasarkan hasil persamaan regresi di atas, diantaranya Uji Chow. Uji Hausman, dan Uji LM maka model terbaik dalam penelitian ini adalah Random Effect Model (REM) untuk menganalisis pengaruh PDRB perkapita. Indeks Pembangunan Manusia, dan Inflasi Daerah terhadap Disparitas Pendapatan Asli Daerah di Sumatera bagian Selatan (SUMBAGSEL). Berdasarkan hasil estimasi Random Effect Model (REM), maka diperoleh persamaan sebagai Y = 27. 26924101418*X1 - 9. 70782339254*X2 - 0. 0752306163352*X3 [CX=R] Nilai konstanta sebesar 27,3956 mengindikasikan bahwa jika seluruh variabel independen (PDRB per kapita. IPM, dan Inflas. bernilai nol, maka nilai Disparitas PAD diperkirakan sebesar 27,3956 satuan. Nilai koefisien X1 (PDRB per kapit. bernilai ( ) 1. 2692 maka bisa diartikan bahwa jika variabel PDRB per kapita meningkat maka variabel y juga akan meningkat sebesar 1. poin,dengan asumsi variabel lain konstan. Artinya: Peningkatan pendapatan per kapita berkorelasi dengan meningkatnya ketimpangan pendapatan. Nilai koefisien X2 (IPM) = - 9. 7078 maka bisa diartikan bahwa jika variabel IPM meningkat akan menurunkan ketimpangan pendapatan sebesar - 9. 7078 dengan asumsi variabel lain konstan. Artinya: Peningkatan kualitas manusia . endidikan, kesehatan, standar hidu. secara signifikan mengurangi ketimpangan pendapatan. Nilai koefisien X3 (Inflasi Daera. = -0. 0752 maka bisa diartikan bahwa jika variabel inflasi daerah meningkat akan menurunkan ketimpangan pendapatan sebesar -0. dengan asumsi variabel lain konstan. Artinya Inflasi sedikit menurunkan ketimpangan, namun pengaruhnya sangat kecil. ISSN : 2828-5298 . EKOMA : Jurnal Ekonomi. Manajemen. Akuntansi Vol. No. September 2025 Uji Asumsi Klasik Menurut (Basuki. A, 2. tidak semua uji asumsi klasik perlu dilakukan dalam model regresi linier dengan pendekatan Ordinary Least Square (OLS). Uji Autokorelasi hanya relevan untuk data deret waktu, bukan untuk data panel atau data silang. Uji Multikolinearitas diperlukan pada regresi yang melibatkan lebih dari satu variabel independen, karena uji ini bertujuan untuk mendeteksi adanya korelasi yang tinggi atau sempurna antar variabel independen. Uji Heteroskedastisitas digunakan pada data silang atau cross section. Dalam penelitian ini, yang menggunakan data panel, hanya uji multikolinearitas dan uji heteroskedastisitas yang diterapkan. Keunggulan data panel adalah tidak perlu melakukan uji asumsi klasik seperti normalitas dan Pengujian asumsi klasik menggunakan program EViews 10 dapat dibedakan berdasarkan dua pendekatan, yaitu pendekatan GLS (Generalized Least Square. yang digunakan untuk Random Effect Model (REM). Model yang dianalisis harus memenuhi persyaratan tertentu sebelum dilakukan pengujian regresi, agar hasil model regresi dapat dipertanggungjawabkan. Dalam penelitian ini, uji multikolinearitas dan uji heteroskedastisitas merupakan uji asumsi klasik yang diterapkan dalam penelitian ini. Uji Multikolinearitas Uji multikolinearitas dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat korelasi antara variabel dependen dan independen. Uji ini bertujuan untuk memastikan bahwa data tidak mengalami masalah multikolinearitas. Hasil dari uji ini dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1. 5 Uji Multikolinearitas Berdasarkan tabel diatas disimpulkan koefisien korelasi x1 dan x2 sebesar 0. 0,85, x1 dan x3 sebesar -0. 408203 < 0,85, x2 dan x3 sebesar -0. 538800 < 0,85 maka dapat disimpulkan bahwa terbebas dari multikolinearitas atau lolos uji multikolinearitas. Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengidentifikasi apakah terdapat gejala Gejala ini muncul akibat adanya perbedaan varian residual antar pengamatan. Hasil dari uji heteroskedastisitas dapat dilihat pada grafik di bawah ini: Gambar 1. Grafik Heteroskedastisitas a. ISSN : 2828-5298 . EKOMA : Jurnal Ekonomi. Manajemen. Akuntansi Vol. No. September 2025 Dari Grafik residual . arna bir. dapat dilihat tidak melewti batas . dan -. Artinya Varian Residual sam, oleh sebab itu tidak ada gejala heteroskedastisitas atau lolos uji (Napitupulu. Simanjuntak. Hutabarat. Damanik. Harianja, . Sirait. Tobing. , & Ria, 2. Uji Hipotesis . Uji Parsial (Uji . Uji t-statistik dilakukan untuk mengetahui apakah masing-masing variabel independen memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel dependen secara individu. Hasil uji t dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 6. Uji Parsial Sumber: Pengolahan data e-views 10 . Hasil uji t pada variabel PDRB Perkpaita (X. dan nilai koefisien sebesar 1. dengan nilai prob. 1465 > 0. Ha ditolak Ho diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel PDRB Perkapita memiliki arah hubungan positif dan tidak berpengaruh signifikan terhadap Disparitas Pendapatan Asli Daerah. Hasil uji t pada variabel IPM (X. diperoleh dengan nilai koefisien sebesar -9. nilai prob. 0101 < 0. Ho ditolak Ha diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel IPM memiliki arah hubungan negatif dan berpengaruh signifikan terhadap Disparitas Pendapatan Asli Daerah. Hasil uji t pada variabel Inflasi Daerah (X. diperoleh dengan nilai koefisien sebesar 0. 075231, nilai prob. 3421 > 0. Ho diterima dan Ha ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel Inflasi Daerah memiliki arah hubungan negatif dan tidak berpengaruh signifikan terhadap Disparitas Pendapatan Asli Daerah ) Uji Simultan Uji F dilakukan untuk mengetahui apakah semua variabel independen secara bersamaan berpengaruh terhadap variabel dependen. Hasil dari uji F dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 7. Uji simultan Sumber: Pengolahan data e-views 10 a. ISSN : 2828-5298 . EKOMA : Jurnal Ekonomi. Manajemen. Akuntansi Vol. No. September 2025 Diketahui nilai F-statistik sebesar 4,593262 dengan nilai prob . -statisti. sebesar 0,005 < 0,05 maka ditarik kesimpulan bahwa variabel x1, x2, dan x3 berpengaruh secara simultan terhadap variable y. ) Uji Koofisien Determinasi (R. Koefisien determinasi menggambarkan seberapa besar variasi pada variabel terikat dapat dijelaskan oleh variasi pada variabel bebas. Berikut adalah hasil dari koefisien determinasi Tabel 8. Determinasi (R. Sumber: Pengolahan data e-views 10 Bersumber pada hasil pengujian tabel di atas regresi informasi panel dengan memakai Random Effect Model (REM) nilai R-squared sebesar 0. 127150 menunjukkan bahwa 12,7% variasi dalam Disparitas Pendapatan Asli Daerah dapat dijelaskan oleh variabel-variabel independen dalam model . eperti PDRB perkpita. IPM, dan Inflasi daera. , terdapat 87,3% variasi dalam Disparitas Pendapata Asli Daerah yang tidak dapat dijelaskan oleh model ini. PEMBAHASAN Pengaruh PDRB Perkapita terhadap Disparitas Pendapatan Asli Daerah Berdasarkan analisis regresi, diketahui bahwa kenaikan Variabel PDRB perkapita menunjukkan koefisien 1. 269241, yang menunjukkan bahwa ini berdampak positif dan tidak signifikan pada disparitas. Setiap peningkatan PDRB perkapita sebesar 1 satu satuan akan meningkatkan ketimpangan wilayah sebanyak 1. 269241 satuan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian (Aprilianti & Harkeni, 2. yang menunjukan bahwa kenaikan Variabel PDRB perkapita memiliki koefisien 0,23 satuan. Dalam teori neoklasik, ketidakseimbangan akan menurun jika ada kebebasan pergerakan untuk faktor-faktor produksi . odal dan tenaga kerj. Namun, jika pergerakan tersebut terbatas, maka pertumbuhan PDRB di satu daerah tidak akan berdampak pada daerah lainnya. Pengaruh Indeks Pembangunan Manusia terhadap Disparitas Pendapatan Asli Daerah Berdasarkan analisis regresi, diketahui bahwa kenaikan Variabel IPM menunjukkan 707823, yang menunjukkan bahwa ini berdampak negatif dan signifikan pada Setiap peningkatan IPM sebesar 1 . satuan akan mengurangi ketimpangan wilayah sebanyak -9. 707823 satuan. Temuan ini konsisten dengan penelitian sebelumnya (Aprilianti & Harkeni, 2. yang menunjukkan bahwa kenaikan Variabel IPM memiliki koefisien -0,007, yang berarti juga berdampak negatif dan signifikan terhadap IW. Kenaikan IPM sebanyak satu satuan akan mengurangi ketimpangan wilayah (IW) sebesar 0,007 satuan. Hasil penelitian ini juga memperkuat teori Endogen yang menegaskan bahwa investasi baik dari sektor swasta maupun pemerintah dalam sumber daya atau modal manusia dapat menghasilkan ekonomi eksternal . ksternal positi. dan meningkatkan efisiensi yang dapat a. ISSN : 2828-5298 . EKOMA : Jurnal Ekonomi. Manajemen. Akuntansi Vol. No. September 2025 mengatasi kecenderungan penurunan skala hasil. Hal ini selanjutnya berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang pesat dapat memberikan dampak positif kepada daerah sekitarnya dan pada akhirnya dapat mengurangi ketidakmerataan ekonomi. Pengaruh Inflasi daerah terhadap disparitas pendapatan asli daerah Berdasarkan analisis regresi, diketahui bahwa kenaikan Variabel Inflasi daerah menunjukkan koefisien -0. 075231, yang menunjukkan bahwa ini berdampak negatif dan signifikan pada disparitas. Setiap peningkatan Inflasi daerah sebesar satu satuan akan meningkatkan ketimpangan wilayah sebanyak -0. 075231 satuan. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori konvergensi(Barro, 1. ekonomi yang secara umum konvergensi yang dimaksudkan sebagai proses pengurangan kesenjangan pendapatan antar daerah sehingga dapat dipahami pula sebagai proses AupengejaranAy ketertinggalan daerah berpenghasilan rendah terhadap daerah berpenghasilan tinggi. Kesenjangan pendapatan yang dicoba dikurangi melalui proses konvergensi dihitung berdasarkan pendapatan riil perkapita. Teori konvergensi menyatakan bahwa tingkat kemakmuran yang dialami oleh negaranegara maju dan negara-negara berkembang pada suatu saat akan konvergen . ertemu pada satu Ilmu ekonomi juga menyebutkan bahwa akan terjadi catching up effect, yaitu ketika negara-negara berkembang berhasil mengejar negara-negara maju. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa negara-negara maju akan mengalami kondisi steady state, yaitu negara yang tingkat pendapatannya tidak dapat meningkat lagi karena tambahan investasi tidak menambah Hal ini dapat terjadi karena seluruh biaya produksi sudah tertutupi oleh investasi yang ada, sehingga tambahan tabungan . di negara tersebut tidak dapat dijadikan tambahan investasi. KESIMPULAN Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Produk Domestik Regional Bruto per kapita. Indeks Pembangunan Manusia, dan inflasi daerah terhadap disparitas Pendapatan Asli Daerah (PAD) di wilayah Sumatera bagian Selatan (Sumbagse. Untuk itu, digunakan model regresi data panel, di mana hasil pengujian menunjukkan bahwa model terbaik yang dapat diimplementasikan adalah Random Effect Model (REM). Model ini mengindikasikan bahwa perbedaan karakteristik antar wilayah masih memberikan pengaruh signifikan terhadap ketimpangan PAD. Penelitian ini mempunyai beberapa batasan yang sebaiknya diakui agar hasil dan kesimpulan dapat ditempatkan dalam perspektif yang sesuai. Pertama, penelitian ini hanya menggunakan tiga variabel bebas, yaitu Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita. Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dan inflasi daerah. Namun, masih banyak faktor lain yang mungkin dapat memengaruhi perbedaan Pendapatan Asli Daerah (PAD), seperti jumlah penduduk, belanja modal pemerintah daerah, investasi, tingkat urbanisasi, dan infrastruktur Keterbatasan dalam pemilihan variabel ini dapat memperkecil kemampuan model dalam menjelaskan variasi disparitas PAD secara keseluruhan. Kedua, penelitian ini hanya berfokus pada wilayah Sumatera Selatan (Sumbagse. , sehingga temuan yang diperoleh mungkin tidak bisa digeneralisasi untuk seluruh wilayah Indonesia yang memiliki karakteristik sosial, ekonomi, dan geografis yang bervariasi. Ketiga, keterbatasan data yang ada mengakibatkan hanya kabupaten/kota yang memiliki data lengkap selama periode 2010 hingga 2024 yang bisa dijadikan sebagai sampel. Hal ini dapat menimbulkan bias dalam pemilihan dan mengurangi representativitas sampel. Keempat, nilai koefisien determinasi (RA) dalam model regresi menunjukkan angka yang cukup rendah, yaitu sebesar 12,7%. Ini menunjukkan bahwa sebagian a. ISSN : 2828-5298 . EKOMA : Jurnal Ekonomi. Manajemen. Akuntansi Vol. No. September 2025 besar variasi dalam disparitas PAD masih dipengaruhi oleh faktor lain yang belum dimasukkan dalam model. Secara teoritis, hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa kualitas sumber daya manusia yang tercermin dari IPM memiliki peranan penting dalam mengurangi ketimpangan pendapatan asli daerah. Temuan ini sejalan dengan teori pembangunan manusia, yang menyatakan bahwa investasi di bidang pendidikan, kesehatan, dan standar hidup dapat memperkuat pemerataan ekonomi di suatu daerah. Di sisi lain. PDRB per kapita, meskipun berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, tidak menjamin adanya pemerataan pendapatan. Hal ini konsisten dengan teori pertumbuhan yang menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu diiringi dengan distribusi pendapatan yang merata. Mengenai inflasi, meskipun memiliki pengaruh negatif, dampaknya tidak signifikan, yang menunjukkan bahwa dalam konteks daerah, faktor harga bukanlah penentu utama dalam ketimpangan PAD DAFTAR REFERENSI Aprilianti. , & Harkeni. Pengaruh Indeks Pembangunan Manusia Terhadap Ketimpangan Wilayah Di Provinsi Jambi. Jurnal Khazanah Intelektual, 5. , 1142Ae1160. doi:10. 37250/newkiki. Barro. and X. -I. -M. Convergence. Journal of Political Economy, 2. , 223Ae251. Basuki. Analisis Regresi Dalam Penelitian Ekonomi &Bisnis. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada. Kusumayanti. Analisis Potensi Sumber Pendapatan Asli Daerah pada Kabupaten di Bali di Luar Wilayah Sarbagita. E-Jurnal Manajemen Unud, 7. , 4267Ae4296. Laut. Putri. , & Septiani. Pengaruh Pma. Pmdn. Tpak. Pdrb Perkapita. Pengeluaran Pemerintah Terhadap Disparitas Pendapatan Jawa. Stability: Journal of Management and Business, 3. , 21Ae34. doi:10. 26877/sta. Napitupulu. Simanjuntak. Hutabarat. Damanik. Harianja. Sirait. Tobing. , & Ria. Penelitian Bisnis. Teknik dan Analisa dengan SPSS STATA - Eviews. Madenatera. Nursa Fitri. Junaiddin Zakaria. Analisis Pertumbuhan Ekonomi dan Disparitas Pendapatan Terhadap Kesejahteraan Antar Daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2005-2019, 8, 31. Rizqy Ramadhan. Pengaruh Pajak Daerah Dan Retribusi Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten/Kota Di Sumatera Utara. JURNAL AKUNTANSI DAN BISNIS : Jurnal Program Studi Akuntansi, 5. , 81. doi:10. 31289/jab. Sihombing. Kartika. Sitompul. , & Yoseph Anugerah. Implementasi Desentralisasi Fiskal Dalam Upaya Mengentasan Kemiskinan Di Kabupaten Dan Kota Provinsi Jawa Barat. Jurnal Informasi. Perpajakan. Akuntansi. Dan Keuangan Publik, 19. , 81Ae96. doi:10. 25105/jipak. Sjafrizal. Analisis Ekonomi Regional Dan Penerapannya di Indonesia. Depok: Rajawali Pers. Windu Putra. Perekonomian Indonesia: Penerapan Beberapa Teori Ekonomi Pembangunan di Indonesia. Depok: Rajawali Pers. Yunie Theresia. Listy Ivonne. Anggreni. , & Rizki Putra. Analisis FaktorFaktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Asli Daerah (Pa. Provinsi D. I Yogyakarta. Jurnal Kajian Ekonomi & Keuangan Daerah, 9. , 1Ae22. ISSN : 2828-5298 .