E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 DOI: https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif Kematangan Emosi Dan Dukungan Sosial Berpengaruh Terhadap Kesiapan Menikah Pada Dewasa Awal Wan Nur Hikmah1. Anizar Rahayu2 Fakultas Psikologi. Universitas Persada Indonesia Y. I Jakarta wannurhikmah07@gmail. com, 2Anizar. rahayu@upi-yai. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kematangan emosi dan dukungan sosial terhadap kesiapan menikah pada dewasa awal yang tinggal di Pekanbaru. Permasalahan yang mendasari penelitian ini adalah pentingnya kesiapan menikah dalam membangun hubungan pernikahan yang sehat dan harmonis, serta bagaimana kematangan emosi dan dukungan sosial dapat berkontribusi dalam proses tersebut. Skala kesiapan menikah dimodifikasi dari skala material readiness quesionare dari Ghalili . , skala kematangan emosi dikonstruksi dari teori Schneider . serta skala dukungan sosial dikonstruksi dari teori safarino . Analisis penelitian menggunakan regresi linear berganda untuk menguji hipotesis. Teknik sampling menggunakan purposive sampling dengan jumlah sebanyak 207 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: . kematangan emosi berpengaruh secara positif signifikan terhadap kesiapan menikah dengan kontribusi pengaruh sebesar 51,0% yang berarti semakin tinggi tingkat kematangan emosi, semakin tinggi tingkat kesiapan menikah pada dewasa awal. dukungan sosial berpengaruh secara positif signifikan terhadap kesiapan menikah dengan kontribusi pengaruh sebesar 24,5% yang berarti semakin tinggi dukungan sosial yang diperoleh, semakin tinggi pula tingkat kesiapan menikah pada dewasa awal. kematangan emosi dan dukungan sosial berpengaruh positif signifikan terhadap kesiapan menikah dengan kontribusi pengaruh sebesar 52,1%. Penelitian ini menegaskan adanya kematangan emosi dan dukungan sosial dalam meningkatkan kesiapan menikah pada individu dewasa awal. Kata Kunci: kematangan emosi, dukungan sosial, kesiapan menikah. ABSTRACT This study aims to determine the influence of emotional maturity and social support on marital readiness in young adults living in Pekanbaru. The issue underlying this research is the importance of marriage readiness in building a healthy and harmonious marital relationship and how emotional maturity and social support contribute to this process. The marriage readiness scale was modified from the material readiness questionnaire scale from Ghalili . , the emotional maturity scale was constructed from Schneider's theory . and the social support scale was constructed from Safarino's . Research analysis used multiple linear regression to test the hypotheses. The sampling technique used is purposive sampling with a total of 207 individuals. The research results indicate that: . emotional maturity has a significantly positive effect on marriage readiness with a contribution effect of 51,0%, meaning the higher the level of emotional maturity, the higher the level of marriage readiness in young adults. social support has a significantly positive effect on marriage readiness with a contribution effect of 24,5%, meaning the higher the social support, the higher the level of marriage readiness in young . emotional maturity and social support significantly positive affect marriage readiness with a contribution effect of 52. This study emphasizes the existence of emotional maturity and social support in enhancing marriage readiness in young adults. Keywords: emotional maturity, social support, marriage readiness. Vol. 5 No. : Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 5 No 1 Maret 2025 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 DOI: https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif PENDAHULUAN Pernikahan merupakan salah satu bagian penting dalam perjalanan hidup setiap individu, selain untuk memenuhi kebutuhan seksual, pernikahan juga dapat memenuhi kepuasan psikologis seperti perasaan disayang, rasa aman, dan Hurlock mengungkapkan bahwa masa dewasa awal dimulai pada usia 18 tahun sampai kira-kira usia 40 tahun saat perubahanperubahan fisik dan psikologis terjadi. Hurlock . memaparkan bahwa pernikahan merupakan sebuah pola umum pada kehidupan individu dewasa awal, karena setiap individu akan mengalami kehidupan berumah tangga dan juga melewati tekanan atas tuntutan untuk segera menikah dari orang tua, teman, dan lingkungan sekitar. Kondisi tersendiri di lingkungan masyarakat, namun dalam beberapa tahun terakhir, tren angka pernikahan menurun. Hal ini dilaporkan oleh media Korea. Jepang. Singapura. Tingkok dan Indonesia juga Data Badan Pusat Statistik . melaporkan penurunan angka pernikahan di Indonesia jika dirinci menunjukkan angka pernikahan pada tahun 2021 sebanyak 1. kemudian pada tahun 2022 turun menjadi 348 dan pada tahun 2023 kembali turun menjadi 1. 255, sedangkan pada tahun 2024 dilaporkan angka perkawinan Indonesia tercatat terus menurun. Kondisi serupa terjadi di Pekanbaru. Riau. Data Badan Pusat Statistik Pekanbaru . melaporkan Pekanbaru, jika dirinci angka pernikahan pada tahun 2020 sebanyak 6. kemudian pada tahun 2021 turun menjadi 6512 dan pada tahun 2022 kembali turun menjadi 6163, sedangkan pada tahun 2023-2024 melaporkan angka pernikahan di Pekanbaru terus menurun. Penelitian yang dilakukan oleh Ningtias . tentang faktor yang pernikahan di Indonesia disebabkan beberapa aspek yang melatar belakangi, diantaranya perubahan mindset yang terjadi di masyarakat. Belakangan ini masyarakat memiliki banyak hal yang ingin diraih, baik itu pria maupun wanita, seperti karier, kesuksesan dan pendidikan yang menjadikan masyarakat muda tidak berfokus hanya pada berumah tangga. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Defi . menyebutkan alasan dewasa awal belum menikah karena keinginannya untuk berfokus pada karir sehingga dapat mewujudkam ambisi dan mimpi yang Selain itu juga masih belum yakin untuk berkomitmen mengikat diri Penelitian Mahfuzhatillah . menunjukkan bahwa alasan menunda pernikahan adalah keinginan untuk menjalani hidup secara pribadi dan bebas, fokus pada egosentrisme dan narsisme, identifikasi secara ketat terhadap figur ayah dan anggapan tidak akan mendapat jodoh. Banyaknya kasus-kasus yang telah dipaparkan diatas menjadi perhatian bagi dewasa awal, terutama menjadi pelajaran bagi pasangan yang hendak menyiapkan lebih matang sebelum Kesiapan menikah atau marriage readness merupakan keadaan dimana individu memiliki kesiapan untuk menjalankan tugas-tugas setelah menikah seperti bertanggung jawab atas peran suami atau isri, mengasuh anak, mengurus rumah tangga, terlibat dalam lain-lain (Abdurrahman & Mujiran, 2. Ketika seseorang memutuskan mewujudkannya diperlukan perencanaan dan persiapan yang matang, lengkap, dan Kennedi . alam Ubaedillah, 2. menemukan beberapa upaya yang mempersiapkan suatu pernikahan, antara Vol. 5 No. : Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 5 No 1 Maret 2025 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 lain siapa dan bagaimana keadaan individu sebelum membina keluarga, kondisi kesehatan baik jasmani dan kehidupan sosial, budaya dan ekonomi keluarga serta keyakinan terhadap agama. Hal ini dapat disimpulkan bahwa salah satu kesiapan menikah yang harus disiapkan oleh individu yang hendak menikah adalah kematangan emosi (Handayani & Fitriani, 2. Kematangan emosi menurut Hurlock . adalah suatu kondisi perasaan yang stabil terhadap suatu objek permasalahan sehingga ketika individu melakukan suatu tindakan akan disadari dengan suatu pertimbangan dan tidak mudah berubah-ubah suasana hatinya. Pasangan yang memiliki banyak konflik dengan kematangan emosi yang kurang menyelesaikan masalah. Hal tersebut menjadikan pasangan lebih mudah pernikahan dan mengambil keputusan untuk bercerai. Berbeda dengan individu yang memiliki kematangan emosi yang baik, biasanya akan menilai sesuatu menggunakan logika sebelum bereaksi secara emosional, sehingga akan mudah membuat keputusan dan menyelesaikan masalah (Handayani & Fitriani, 2. Faktor-faktor mempengaruhi kesiapan menikah juga berkaitan erat dengan dukungan sosial (Setyorini, dkk, 2. yaitu suatu keadaan dimana seseorang mendapatkan bantuan dari orang lain guna menemukan jalan keluar dari kendala yang dialami (RifAoati, dkk. , 2. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Syamal dan Taufik . menunjukkan ada hubungan positif signifikan antara dukungan sosial dengan kesiapan menikah, hubungan dukungan sosial dengan kesiapan menikah ini berada pada kategori yang cukup kuat. Gambaran individu yang mendapatkan dukungan sosial dari keluarga yang tinggi, akan semakin siap DOI: https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif untuk menikah. Selain itu Diva. , . juga mengungkapkan bahwa terdapat pengaruh signifikan antara dukungan sosial terhadap kesiapan menikah pada dewasa awal yang mengalami broken Berdasarkan penjelasan di atas, mengetahui pengaruh kematangan emosi terhadap kesiapan menikah pada dewasa Adhim . menyebutkan bahwa kematangan emosi merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk menjaga kelangsungan pernikahan. Mereka yang memiliki kematangan emosi ketika memasuki pernikahan cenderung lebih mampu mengelola perbedaan yang ada di antara mereka. Selain itu penelitian ini juga dilakukan untuk mengetahui pengaruh dukungan sosial terhadap kesiapan menikah pada dewasa awal. Dukungan sosial yang diterima seorang dapat meningkatkan keyakinan untuk berumah tangga. Ketika individu telah mantap untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius, maka dirinya telah siap menerima segala perbedaan yang akan dihadapi. Berdasarkan latar belakang di atas, atas maka tujuan penelitian ini untuk mengetahui: pengaruh kematangan emosi dan dukungan sosial terhadap kesiapan menikah pada dewasa awal. LANDASAN TEORI Kesiapan menikah Ghalili . bahwa kesiapan menikah merupakan evaluasi terkait dengan kesediaan individu dalam mempersiapkan dirinya untuk menghadapi tantangan pernikahan dan mengambil tanggung jawab dalam pasangan dan orang tua. Ghalili . menyatakan bahwa dimensi pada kesiapan menikah terdiri dari 9 dimensi. Kesiapan Usia: dewasa awal dalam penelitian ini merujuk pada kriteria Vol. 5 No. : Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 5 No 1 Maret 2025 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 DOI: https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif seperti mencapai usia dewasa untuk mendapatkan persepsi siap menikah. Usia yang diinginkan untuk menikah bisa efektif pada persepsi orang dewasa muda tentang kesiapan dan perilaku perkawinan, mereka yang ingin menikah di usia yang lebih rendah akan mempersiapkan diri mereka untuk menikah lebih cepat. Kesiapan Fisik: yang dimaksud ialah hubungan seksual. Dimana hal mendasar dari sebuah pernikahan ialah untuk menyalurkan kebutuhan fisik terkait seksual guna meneruskan Selain perempuan indikator kesiapan fisik juga terkait kesiapannya untuk mengandung dan melahirkan anakanak. Kesiapan Mental: merupakan aspek kognitif yang terdapat di dalam individu dewasa awal. Kesiapan mental dapat dilihat dari kemampuan kehidupan di masa depan, memiliki harapan logis, sikap positif terhadap pernikahan dan siap bertanggung jawab atas diri dan hidupnya. Kesiapan Finansial: merupakan kriteria penting untuk kesiapan menikah khususnya bagi laki-laki menikah adalah memberi nafkah untuk keluarga. Kesiapan finansial ditandai dengan memiliki cukup uang, menetap dalam karier jangka panjang, kemandirian finansial dari Sedangkan perempuan, kesiapan finansial terkait kemandirian finansial dan juga Kesiapan Moral: berkaitan dengan upaya individu dalam membangun Sehingga menjalani kehidupan pernikahan individu telah memiliki komitmen pada hubungan pernikahan dan juga pada nilai-nilai agamanya untuk Bentuk kesiapan moral lainnya ialah kemampuan individu untuk bersabar serta berdamai dengan pengalaman cinta di masa Kesiapan Emosional: emosi yang stabil memainkan peran penting perkawinan yang sukses. Sehingga kesiapan emosi ditandai dengan menghindari perilaku agresif dan Bukan hanya itu, kesiapan perasaan, pengendalian diri saat marah dan mampu melepaskan diri dari kedekatan emosi dengan orang tua secara berlebihan. Kesiapan Kontekstual Sosial: terkait penyesuaan diri individu dengan peran sosial yang terbentuk dalam Misalnya, percaya bahwa diperlukan seorang pria muda untuk menyelesaikan dinas militer sebelum tindakan pernikahan. Selain itu, memiliki karir jangka panjang juga diperlukan untuk dapat mendukung keluarga masa depan. Kesiapan Interpersonal: kriteria kesiapan menikah yang terkait dengan kompetensi interpersonal dalam hubungan. Kesiapan ini ditandai dengan kesadaran individu untuk lebih mengutaman orang lain dari pada dirinya sendiri. Sehingga kemampuan yang penting untuk kemampuan untuk mendengarkan orang lain, mendiskusikan masalah pribadi dengan pasangan, dan menghormati orang lain ketika berhadapan dengan perbedaan dan Vol. 5 No. : Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 5 No 1 Maret 2025 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 Kesiapan Menjalankan Peran: setelah menikah yaitu dengan kapasitas untuk memenuhi peran spesifik dalam keluarga, seperti mengelola rumah tangga, memasak, merawat dan mengasuh anak-anak. Kematangan Emosi Schneiders . mengemukakan bahwa individu disebut matang emosinya jika potensi yang dikembangkan dapat ditempatkan dalam suatu kondisi pertumbuhan, dimana tuntutan yang nyata dari kehidupan individu dewasa dapat dihadapi dengan cara efektif dan positif. Schneiders . kematangan emosi seseorang memiliki aspek-aspek yaitu: Kecukupan Respon Emosional (Adequacy of Emotional Respo. adalah kemampuan seseorang untuk menampilkan respon emosional dengan kadar yang tepat, tidak berlebihan atau kurang, yang berarti bahwa respon-respon emosinya harus Orang dewasa yang seperti anak kecil menggunakan tangisan atau ledakan kemarahan untuk mendapatkan apa yang ketidakmatangan emosi. Jarak dan Kedalaman Emosi (Emotional Range and Dept. adalah menampilkan respon emosional yang sesuai dengan rangsangan yang Kematangan sehingga mampu menjadi dasar penyesuaian yang baik. Kontrol Emosi (Emotional Contro. adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan dan mengontrol Kontrol emosi yang kurang atau berlebihan akan menghambat penyesuaian sosial. Sikap dan perilaku individu yang menunjukkan kurangnya kontrol emosi antara lain. DOI: https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif kemarahan yang meledak-ledak yang emosional, misalnya membanting barang atau berkelahi. Dukungan Sosial Sarafino . mengemukakan dukungan sosial merujuk pada berbagai diberikan oleh orang lain atau kelompok kepada individu. Menurut Sarafino . terdapat empat aspek dukungan sosial yaitu: Menurut Sarafino . terdapat empat aspek dukungan sosial Dukungan Emosional. Dukungan ini kepedulian dan perhatian terhadap individu, sehingga individu tersebut merasa nyaman, dicintai dan Dukungan ini meliputi perhatian atau afeksi serta bersedia mendengarkan keluh kesah orang Dukungan Penghargaan. Dukungan ini terjadi lewat ungkapan hormat persetujuan dengan gagasan atau perasaan individu dan perbandingan positif orang tersebut dengan orang Pemberian dukungan ini membantu individu untuk melihat segi-segi positif yang ada dalam keadaan orang lain yang berfungsi untuk menambah penghargaan diri, membentuk kepercayaan diri dan kemampuan serta merasa dihargai dan berguna saat individu mengalami Dukungan Instrumental. Dukungan ini meliputi bantuan secara langsung sesuai dengan yang dibutuhkan oleh seseorang, seperti memberi pinjaman Vol. 5 No. : Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 5 No 1 Maret 2025 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 DOI: https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif pekerjaan pada waktu mengalami Dukungan Informatif. Mencakup pemberian nasehat, petunjuk, saran atau umpan balik yang diperoleh dari orang lain, sehingga individu dapat membatasi masalahnya dan mencoba memecahkan masalahnya. METODOLOGI Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif. Adapun penelitian ini populasi infinit yang artinya populasi tidak dapat diketahui secara pasti. dengan jumlah sampel sebanyak 207 orang. Adapun populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah berusia 20 hingga 35 tahun yang sudah bekerja dan belum menikah. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik non-probability purposive sampling. Variabel readiness quesionare dari Ghalili . Berdasarkan hasil tinjauan dari expert Peneliti menggunakan 7 dimensi dari skala Marital Readiness Quesionare. Terdapat 1 dimensi yang tidak diikutsertakan dalam penelitian dikarenakan dimensi tersebut merupakan bagian dari kriteria responden . sia dan kematangan usi. dan juga terdapat aitem yang tidak sesuai dengan budaya dan kebiasaan di Indonesia . ajib milite. Adapun jumlah aitem skala kesiapan menikah setelah melakukan expert judgment dan uji coba yaitu 24 aitem. Skala Marital Readiness Quesionare indeks reliabilitas CronbachAos Alpha sebesar 0. Alat ukur kematangan emosi dalam penelitian ini dikonstruk oleh peneliti dengan membuat pertanyaanpertanyaan berdasarkan aspek-aspek kematangan emosi yang dikembangkan oleh Schneider . Adapun jumlah aitem skala kematangan emosi setelah melakukan expert judgment dan uji coba yaitu 19 aitem. Skala kematangan emosi indeks reliabilitas CronbachAos Alpha sebesar 0. Begitu juga instrumen atau alat ukur dukungan sosial dalam penelitian ini dikonstruk pertanyaan-pertanyaan aspek-aspek dukungan sosial yang dikembangkan oleh Safarino . Adapun jumlah aitem skala kematangan judgment dan uji coba yaitu 20 aitem Skala dukungan sosial memiliki nilai indeks reliabilitas CronbachAos Alpha Ketiga skala ini, terlampir https://docs. com/document/d/170g nqOiWaEcbiKlSiW58JvssOQvN9EK7/ed it?usp=sharing&ouid=113883145656779 488732&rtpof=true&sd=true Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh kematangan emosi dan dukungan sosial terhadap kesiapan menikah dengan menggunakan regresi linear berganda dengan program JASP HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hipotesis pertama Berdasarkan hasil uji regresi linear berganda, dapat dilihat pada sebagai berikut: Tabel 1. Hasil Uji Regresi Linear Berganda Berdasarkan Tabel di atas, dapat diketahui variabel kematangan emosi (X. signifikan terhadap kesiapan menikah. Hal ini dilihat nilai signifikansi dari variabel lebih kecil dari ketentuan Vol. 5 No. : Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 5 No 1 Maret 2025 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 signifikansi < 0,05 dan nilai standardized koefisien beta sebesar 0. Maka hipotesis H1 diterima, artinya semakin tinggi tingkat kematangan emosi seseorang, maka semakin tinggi tingkat kesiapan menikah pada dewasa awal. Adapun hasil uji koefisien determinasi dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 2. Hasil Uji Koefisien Determinasi Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat nilai r-square dari variabel kematangan emosi terhadap kesiapan menikah menunjukkan angka 0. Artinya, ada kontribusi pengaruh sebesar 51,0% yang diberikan oleh variabel kematangan emosi terhadap kesiapan Hipotesis Kedua Berdasarkan hasil uji regresi linear berganda, dapat dilihat pada sebagai berikut: Tabel 3. Hasil Uji Regresi Linear Berganda Berdasarkan Tabel di atas, dapat diketahui variabel dukungan sosial (X. berpengaruh secara positif signifikan terhadap kesiapan menikah. Hal ini dilihat dari nilai signifikansi dari variabel lebih kecil dari ketentuan signifikansi < 0,05 dan nilai standardized koefisien beta Maka hipotesis H2 dukungan sosial yang dimiliki, maka semakin tinggi tingkat kesiapan menikah pada dewasa awal. DOI: https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif Adapun hasil uji koefisien determinasi dapat dilihat pada tabel dibawah ini sebagai berikut: Tabel 4. Hasil Uji Koefisien Determinasi Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat nilai r-square dari variabel dukungan sosial terhadap kesiapan menikah menunjukkan angka 0. Artinya, ada kontribusi pengaruh sebesar 24,5% yang diberikan oleh variabel dukungan sosial terhadap kesiapan Hipotesis Ketiga Adapun hasil uji F untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel sebagai Tabel 5. Hasil Uji F Hasil output di atas yang ditampilkan di atas menunjukkan angka F hitung sebesar 110,811 > 3,04 dengan nilai signifikansi 0,001. Karena tingkat probabilitas signifikan 0,001 < 0,05 maka Artinya, kematangan emosi (X. dan dukungan sosial (X. , secara bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap kesiapan menikah. Adapun hasil uji koefisien determinasi dapat dilihat pada tabel dibawah ini sebagai berikut: Vol. 5 No. : Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 5 No 1 Maret 2025 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 DOI: https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif Tabel 6. Hasil Uji Koefisien Determinasi Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat nilai r-square dari penelitian ini menunjukkan angka 0. Artinya, ada pengaruh sebesar 52,1% yang diberikan oleh variabel kematangan emosi (X. dan dukungan sosial (X. , secara bersamasama berpengaruh secara signifikan terhadap kesiapan menikah. Jadi, ada 47,9% lainnya yang disumbangkan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan ke dalam penelitian ini. Pembahasan Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh variabel kematangan emosi dan dukungan sosial terhadap kesiapan menikah pada dewasa awal yang tinggal di Pekanbaru. Hasil kematangan emosi dan dukungan sosial secara bersama-sama berpengaruh secara positif signifikan terhadap kesiapan Kesiapan menikah sangat penting pada dewasa awal karena pada tahap perkembangan ini individu sudah mulai memikirkan tentang pembentukan Pengaruh Kematangan Emosi Terhadap Kesiapan Menikah Kematangan (X. berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kesiapan menikah. Hal ini dilihat dari angka t hitung > t tabel . ,841 > 1,. dan nilai signifikansi dari variabel lebih kecil dari ketentuan signifikansi 0,001 . ,001 < 0,. serta kontribusi pengaruh sebesar 51,0% yang diberikan oleh variabel kematangan emosi terhadap kesiapan menikah. Maka hipotesis H1 diterima, artinya semakin tinggi tingkat kematangan emosi seseorang, maka semakin tinggi tingkat kesiapan menikah pada dewasa awal. Menurut Blood . alam Feliciana, merupakan salah satu komponen yang mempengaruhi kesiapan menikah. Hal ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Siswandari dan Astrella . yang menyatakan bahwa kematangan emosi memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kesiapan menikah. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Arumdani . dimana hasilnya menunjukkan bahwa antara kematangan emosi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesiapan menikah calon pengantin di KUA Kecamatan Ciledug Kota Tangerang. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kematangan emosional akan semakin tinggi pula kesiapan menikah calon Hal ini juga didukung oleh penelitian Karunia, dkk . , yang menunjukkan bahwa kesiapan menikah merupakan suatu evaluasi terkait mempersiapkan diri dalam menghadapi tantangan kehidupan pernikahan serta dapat bertanggung jawab atas peran baru Beberapa kriteria dalam kesiapan menikah salah satunya adalah kesiapan secara emosi. Kematangan emosi diperlukan untuk menghadapi kehidupan pernikahan karena menjadi dasar siap atau tidaknya individu dalam membangun kehidupan berumah tangga dengan pasangannya. Hal ini sejalan dengan pernyataan Adhim . yang juga menyatakan bahwa kematangan emosi salah satu aspek yang cukup hubungan dalam rumah tangga. Individu yang mempunyai kematangan emosi yang positif akan lebih mampu mengelola perbedaan-perbedaan yang ada diantara mereka. Pengaruh Dukungan Sosial Terhadap Kesiapan Menikah Dukungan (X. berpengaruh secara positif dan signifikan Vol. 5 No. : Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 5 No 1 Maret 2025 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 terhadap kesiapan menikah. Hal ini dilihat dari angka t hitung > t tabel . ,179 > 1,. dan nilai signifikansi dari variabel lebih kecil dari ketentuan signifikansi 0,030 . ,030 < 0,. serta kontribusi pengaruh sebesar 24,5% yang diberikan oleh variabel dukungan sosial terhadap kesiapan menikah. Maka hipotesis H2 diterima, artinya semakin tinggi dukungan sosial yang dimiliki, maka semakin tinggi tingkat kesiapan menikah pada dewasa awal. Holman . alam Mayashopa, 2. menyatakan bahwa dukungan dari orang terdekat seperti keluarga, teman dan lingkungan sekitar dapat mempengaruhi kesiapan menikah. Hal ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan Ningrum . menyatakan bahwa terdapat pengaruh secara positif dan signifikan antara dukungan sosial terhadap kesiapan menikah. Hal ini juga didukung oleh penelitian Lathiffah . dimana hasilnya menunjukkan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesiapan menikah pada dewasa awal yang mengalami broken home. Berdasarkan pernyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial merupakan peran penting dalam membantu individu merasa lebih siap diperlukan untuk menghadapi tantangan pernikahan, tetapi juga membentuk landasan yang lebih kuat untuk hubungan yang sehat dan berkelanjutan dengan pasangan hidup. Pengaruh Kematangan Emosi dan Dukungan Sosial Terhadap Kesiapan Menikah Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diperoleh nilai uji F menunjukkan angka F hitung sebesar 110,811 > 3,04 dengan tingkat probabilitas signifikansi 0,001. Karena tingkat probabilitas signifikan 0,001 < 0,05 maka hipotesis H3 diterima. Artinya, kematangan emosi (X. dan DOI: https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif dukungan sosial (X. , secara bersamasama berpengaruh secara signifikan terhadap kesiapan menikah. Berdasarkan nilai r-square dari penelitian ini menunjukkan angka 0. Artinya, ada kontribusi sebesar 52,1% yang diberikan variabel kematangan emosi (X. dan dukungan sosial (X. , secara bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap kesiapan menikah. Studi ini mengungkapkan bahwa dukungan sosial berpengaruh terhadap signifikan terhadap kesiapan menikah pada dewasa awal. KESIMPULAN Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut: Kematangan emosi (X. berpengaruh secara positif signifikan terhadap kesiapan menikah, artinya semakin tinggi tingkat kematangan emosi, maka semakin tinggi pula tingkat kesiapan menikah pada dewasa awal. Dukungan sosial (X. berpengaruh secara positif signifikan terhadap kesiapan menikah, artinya semakin tinggi dukungan sosial yang dimiliki, semakin tinggi pula tingkat kesiapan menikah pada dewasa awal Kematangan emosi dan dukungan sosial berpengaruh simultan terhadap kesiapan menikah dengan kontribusi pengaruh sebesar 52,1%. DAFTAR PUSTAKA