Dwi Rahmani, dkk: Pelatihan Tari Bagi Siswa SLB B-C Hamong Putro Sukoharjo. Jawa Tengah PELATIHAN TARI BAGI SISWA SLB B-C HAMONG PUTRO SUKOHARJO. JAWA TENGAH A DANCE TRAINING FOR B-C STUDENTS OF HAMONG PUTRO SPECIAL SCHOOL IN SUKOHARJO. CENTRAL JAVA Dwi Rahmani1. Jonet Sri Kuncoro2. Taufik Murtono3 1,2,3 Institut Seni Indonesia Surakarta rahmani@isi-ska. id , 2jonet@isi-ska. taufik@isi-ska. ABSTRAK Pelatihan tari bagi siswa SLB B-C Hamong Putro yang dilaksanakan dalam program PKM ini bertujuan untuk merealisasikan kesejahteraan penyandang disabilitas yang tidak bisa lepas dari peran serta dan dukungan dari Masyarakat harus bersama dengan pemerintah untuk memberikan hak yang sama untuk para penyandang Secara khusus pelatihan ini bermaksud menunjang kemampuan kognitif siswa yang mencakup . kemampuan intelektual, pengetahuan, pengertian, dan kemampuan berpikir, . kemampuan afektif menyangkut aspek perasaan, emosi, minat, cara mengapresiasi, serta penyesuaian diri, serta . kemampuan psikomotorik meliputi kemampuan dan keterampilan fisik yang dibutuhkan dalam gerak dasar tari. Metode yang digunakan meliputi tahap investigasi kelompok, tahap drill, dan tahap bentuk kreatif. Program PKM menghasilkan pementasan karya Opera berjudul Peluk Jiwa dan artikel ilmiah. Kata kunci: Pelatihan, siswa disabilitas, tari, opera. ABSTRACT Dance training for SLB B-C Hamong Putro students in the community service program aims to realize the welfare of persons with disabilities, which cannot be separated from the role and support of the community. Society must work together with the government to provide equal rights for persons with disabilities. Specifically, this training is intended to support studentsAo cognitive abilities, which include . intellectual abilities, knowledge, understanding, and thinking skills. affective abilities, including aspects of feelings, emotions, interests, how to appreciate, and self-adjustment, and . psychomotor abilities including the physical abilities and skills needed in the basic movements of dance. The method used includes the group investigation stage, the drill stage, and the creative form This community service program creates an opera performance entitled Peluk Jiwa . hich means Hug the Sou. and publishes a scientific article. Keywords: Training, students with disabilities, dance, opera. Volume 15 No. 1 Juni 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 PENDAHULUAN Peran penyandang disabilitas sangat penting dalam pembangunan nasional. Mereka sebagai warga negara juga memiliki kesempatan, kewajiban dan hak yang sama dalam ikut serta bela negara. Selain itu penyandang disabilitas juga memiliki hak untuk mendapatkan peluang dan kesempatan yang sama sehingga memiliki kehidupan yang sejahtera (Sholihah 2. Upaya untuk merealisasikan kesejahteraan penyandang disabilitas tidak bisa lepas dari peran serta dan dukungan dari masyarakat. Masyarakat harus bersama dengan pemerintah untuk memberikan hak yang sama untuk para penyandang disabilitas. Namun, kenyataan yang dialami oleh penyandang disabilitas berdasarkan hasil penelitian terdahulu selalu dipandang sebelah mata, mendapatkan stigma yang buruk, termarginalkan, tidak mendapatkan ruang, kedudukan yang sama di segala bidang kehidupan. Hal ini menyebabkan penyandang disabilitas menjadi kelompok yang termarginalkan, sering menjadi korban eksploitasi, kekerasan, penyiksaan, dan perlakuan yang tidak manusiawi, hingga kesulitan mendapatkan pendidikan dan pekerjaan. Anak tuna rungu memiliki kekurangan dalam mekanisme pendengaran karena suatu atau lain sebab, dikarenakan terdapat satu atau lebih organ mengalami gangguan atau rusak. Ketunarunguan adalah suatu istilah umum yang menggambarkan semua tingkat dan jenis keadaan ketulian . terlepas dari penyebabnya dan usia kejadiannya (Mahmud 2. Ketunarunguan dimaksudkan untuk semua anak dengan kongenital dan mengalami gangguan pendengaran, salah satu atau kedua pendengarannya, semua derajat pendengaran dari minimal untuk mendengar, dan semua jenis gangguan pendengaran baik gangguan spektrum neuropati sensorineural, permanen konduktif, dan campuran. Akibatnya organ tersebut tidak mampu menjelaskan fungsinya untuk menghantarkan dan mempersepsi rangsang suara yang ditangkap (YoshinagaItano 2. Untuk menangani anak-anak berkebutuhan khusus . , memerlukan pengetahuan tentang anak-anak tersebut, keterampilan mengasuh dan melayaninya. Anak berkebutuhan khusus seperti tunarungu perlu mendapat dorongan, tuntunan, dan praktiek langsung secara bertahap. Potensi yang dimiliki anak akan tumbuh berkembang seiring dengan keberhasilan peran pendamping dalam memahami dan memupuk potensi anak-anak tersebut. Perkembangan anak tunarungu salah satunya adalah perkembangan dalam kemampuan persepsi bunyi dan irama melalui menari yang diselenggarakan sekolah melalui mata pelajaran tertentu, seperti seni tari disampaikan dengan langsung sehingga diharapkan potensi anak tunarungu dalam menari mengikuti irama dengan benar akan terus tumbuh dan berkembang berfungsi sebagai terapi (Hastuti 2. PERMASALAHAN MITRA SLB B-C Hamong Putro saat ini menyelenggarakan Pendidikan luar biasa jenjang TKLB B. TKLB C. SDLB B. SDLB C. SMPLB B. SMPLB C. SMALB B dan D, serta SMALB C. Total jumlah siswa JML B dan D 19 siswa dan C 73 siswa. Seni tari yang diajarkan di SLB Hamong Putro dapat menjadi media ekspresi bagi siswa dengan keterbatasan pendengaran . una rung. Keterbatasan tersebut bukan suatu penghalang bagi siswa tunarungu untuk berekpresi, karena mereka juga mampu mengungkapkan ekspresinya dengan baik meski sekalipun keterbatasan fisik akan sedikit memberi hambatan dalam belajar, terutama ketika berkomunikasi pada saat belajar menari. Seni tari bagi pelajar adalah untuk mengekpresikan kembali pengalaman mereka yang lalu secara kreatif, memupuk dan mengembangkan daya ciptanya dan diekpresikan dalam bentuk seni karya tarian Volume 15 No. 1 Juni 2024 Dwi Rahmani, dkk: Pelatihan Tari Bagi Siswa SLB B-C Hamong Putro Sukoharjo. Jawa Tengah Dalam penelitian ini penulis merancang tari kreatif yang mengembangkan bahasa komunikasi tunarungu dalam media pembelajaran yang dapat meningkatkan kreativitas siswa, aspek apektif, kognitif dan psikomotor yang merupakan bagian penting dalam pengembangan pembelajarannya. Pembelajaran seni tarian bagi siswa tuna rungu dapat mengembangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik (Desfina 2. Mitra pelaksana pengabdian masyarakat secara khusus memiliki keterbatasan sumber daya manusia dalam menyelenggarakan Pendidikan seni, khususnya seni tari bagi anak tuna rungu. Kesulitan tersebut disebabkan karena anak tuna rungu memiliki karakter khusus, antara lain. Aspek Fisik Cara berjalannya kaku dan agak membungkuk akibat terjadinya permasalahan pada organ keseimbangan di telinga. Itulah sebabnya anak-anak tunarungu mengalami kekurangan keseimbangan dalam aktivitas fisiknya. Pernapasannya pendek dan tidak teratur. Anak-anak tunarungu tidak pernah mendengarkan suara-suara dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana bersuara atau mengucapkan kata-kata dengan intonasi yang baik, sehingga mereka juga tidak terbiasa mengatur pernapasannya dengan baik, khususnya dalam Cara melihatnya agak beringas. Penglihatan merupakan salah satu indra yang paling dominan bagi anak-anak penyandang tunarungu karena sebagian besar pengalamannya diperoleh melalui penglihatan. Oleh karena itu anak-anak tunarungu juga dikenal sebagai anak visual sehingga cara melihatnya selalu menunjukkan keingintahuan yang besar dan terlihat emosional. Aspek Bahasa Kosa kata yang dimiliki tidak banyak. Sulit mengartikan kata-kata yang mengandung ungkapan atau idiomatik. Tata bahasanya kurang teratur Aspek Emosional Sering merasa curiga dan berprasangka. Sikap seperti ini terjadi akibat adanya kelainan fungsi Mereka tidak dapat memahami apa yang dibicarakan orang lain sehingga anak-anak tunarungu menjadi mudah merasa curiga. Sering bersikap agresif. Anak-anak tunarungu bersikap agresif karena mereka merasa tidak bisa mengartikan apa yang dikatakan orang lain. Persoalan yang dihadapi mitra dapat dirumuskan sebagai berikut. Bagaimana melakukan pelatihan tari untuk meningkatkan kemampuan kognitif siswa SLB B-C Hamong Putro? Bagaimana melakukan pelatihan tari untuk meningkatkan kemampuan afektif siswa SLB B-C Hamong Putro? Bagaimana melakukan pelatihan tari untuk meningkatkan kemampuan psikomotorik siswa SLB B-C Hamong Putro? Adapun tujuan pelatihan tari ini, meliputi. Perubahan kognitif mencakup kemampuan intelektual, pengetahuan, pengertian, dan kemampuan berpikir. Perubahan afektif menyangkut aspek perasaan, emosi, minat, cara mengapresiasi, serta penyesuaian Perubahan psikomotorik meliputi kemampuan dan keterampilan fisik yang dibutuhkan dalam gerak dasar Volume 15 No. 1 Juni 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 METODE Pengabdian masyarakat ini menawarkan pelatihan tari bagi siswa tuna rungu melalui serangkaian Metode yang digunakan dalam pelatihan ini tidak hanya menggunakan satu macam metode, tetapi variasi beberapa metode dalam menyampaikan pokok bahasan. Tiap metode mempunyai karakteristik tertentu dengan segala kelebihan dan kelemahan masing masing. Suatu metode mungkin baik untuk suatu tujuan tertentu, pokok bahasan maupun situasi dan kondisi tertentu, tetapi mungkin tidak tepat untuk situasi yang Dengan variasi beberapa metode, penyajian pengajaran menjadi lebih hidup. Misalnya pada awal memberikan suatu uraian dengan metode ceramah, kemudian menggunakan contoh-contoh drill atau melalui peragaan dan diakhiri dengan diskusi atau tanya-jawab (Rahmani 2. Secara khusus pelatihan ini akan menggunakan Metode Investigasi Kelompok. Metode Drill, serta Metode Kreatif. Metode Investigasi Kelompok: adalah model yang secara tidak langsung sudah berlaku dalam kelompok siswa yang dituju, terutama mengenai cara mereka melakukan mekanisme sosial melalui serangkaian kesepakatan sosial. Perlakuan terhadap siswa tuna rungu disesuaikan dengan situasi dan nilai-nilai sosial yang ada pada lingkungannya. Metode Drill: merupakan suatu cara mengajar dengan memberikan latihan-latihan terhadap materi yang dipelajari, sehingga siswa memperoleh suatu keterampilan tertentu. Kata drill mengandung arti bahwa sesuatu itu selalu diulang-ulang, akan tetapi bagaimanapun juga antara situasi latihan yang pertama dengan situasi latihan yang realistis, ia akan berusaha melatih keterampilannya. Metode Bentuk Kreatif: metode ini membuka peluang kreativitas siswa dalam berekspresi, dalam mengembangkan materi yang diberikan. Dalam hal ini pelaksana akan memberi motifasi sehingga siswa mampu menginterpretasi. Metode ini, akan terus memberikan dorongan agar lebih efektif, selain itu memberikan perhatian kepada siswa untuk terus menjaga semangat dalam latihan. PEMBAHASAN Program pengabdian kepada masyarakat ini telah dilaksanan dan menghasilkan karya yang Adapun proses pelaksanaan dapat diuraikan sebagai berikut. Tahap Investigasi Kelompok Tahap investigasi kelompok untuk mengetahui model yang sudah berlaku dalam kelompok siswa yang dituju, terutama mengenai cara mereka melakukan mekanisme sosial melalui serangkaian kesepakatan Perlakuan terhadap siswa tuna rungu disesuaikan dengan situasi dan nilai-nilai sosial yang ada pada Pelaksana memahami bahwa anak-anak disabilitas perlu dikenalkan gerak terlebih dahalu. Pengenalan gerak untuk anak-anak tuna rungu dilakukan di dalam kelas. Untuk anak-anak tuna rungu karena ada beberapa yang pernah ikut menari melihat beberapa video tari. Melihat kemampuan yang di miliki. Anak-anak tuna rungu diberi kebebasan bergerak sesuai dengan pengalaman pribadinya. Mereka bergerak sesuka hati sesuai pengalaman masing-masing. Untuk anak-anak Volume 15 No. 1 Juni 2024 Dwi Rahmani, dkk: Pelatihan Tari Bagi Siswa SLB B-C Hamong Putro Sukoharjo. Jawa Tengah tuna netra melatih keberanian bergerak dan memberitahu fungsi anggota tubuh untuk bergerak. Terutama keberanian menggunakan kaki dan tangannya secara bebas. Tahap Drill Tahap ini merupakan suatu cara mengajar dengan memberikan latihan-latihan terhadap materi yang dipelajari, sehingga siswa memperoleh suatu keterampilan tertentu. Kata drill mengandung arti bahwa sesuatu itu selalu diulang-ulang, akan tetapi bagaimanapun juga antara situasi latihan yang pertama dengan situasi latihan yang realistis, ia akan berusaha melatih keterampilannya. Bagi orang dengan kondisi normal, adalah wajar bila mendengar alunan atau ketukan musik terus bergoyang dan menari. Maka, umumnya penari adalah orang-orang dengan pendengaran tak terganggu supaya bisa menyesuaikan gerak dan musik. Akan tetapi, bagaimana kalau para penari adalah para tuna Bisakah dibayangkan bagaimana mereka menyesuaikan ritme musik sementara mereka tidak bisa Merangkai Gerak. Anak-anak tuna rungu gerak yang di rangkai adalah gerakan hasil eksplorasi anak-anak terhadap gerak keseharian dan kemampuan gerak hasil tiruan pada gambar di video. Dari sinilah kemudian pelaksana memilih gerak-gerak yang disesuaikan dengan iringan dan kemudian merakitnya dengan gerak-gerak transisi. Tahap Bentuk Kreatif Metode ini membuka peluang kreativitas siswa dalam berekspresi, dalam mengembangkan materi yang diberikan. Dalam hal ini pelaksana akan memberi motivasi sehingga siswa mampu menginterpretasi. Metode ini, akan terus memberikan dorongan agar lebih efektif, selain itu memberikan perhatian kepada siswa untuk terus menjaga semangat dalam latihan. Karya yang dihasilkan dalam program ini adalah pementasan opera tari berjudul AuPeluk JiwaAy. Volume 15 No. 1 Juni 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Hasil Pelatihan Hasil pelatihan tari selain terselengaranya pementasan karya juga memberi dampak perubahan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Perubahan kognitif mencakup kemampuan intelektual, pengetahuan, pengertian, dan kemampuan berpikir. Perubahan afektif menyangkut aspek perasaan, emosi, minat, cara mengapresiasi, serta penyesuaian diri. Perubahan psikomotorik meliputi kemampuan dan keterampilan fisik yang dibutuhkan dalam gerak dasar tari. Volume 15 No. 1 Juni 2024 Dwi Rahmani, dkk: Pelatihan Tari Bagi Siswa SLB B-C Hamong Putro Sukoharjo. Jawa Tengah . Perubahan kognitif yang terjadi pada pelatihan ini meliputi. A Kemampuan intelektual Siswa memecahkan masalah dengan berfikir lebih panjang, mengerjakan tugas tepat waktu dan bertanggung jawab membantu pekerjaan rumah, sadar dan lebih bertanggungjawab atas pekerjaan rumah dan tugas sekolah. A Pengetahuan siswa Bertambah pengetahuan dari luar lingkungan, bertambah ilmu dengan pengetahuan tentang dasardasar tari dan seputar tarian. A Pengertian yang dipahami siswa Bisa memahami kerja sama. Sedikit lebih memahami tentang apa yang dikerjakan ataupun dipelajari tentang pelajaran sekolah atau suatu kegiatan. Sedikit lebih memahami tentang apa yang dikerjakan atau dipahami, dipelajari tentang pelajaran dari sekolah maupun suatu kegiatan. A Kemampuan berpikir siswa Bisa berfikir untuk masa depan. Menalar sesuatu secara detail. Sedikit lebih bisa membuat keputusan sediri dan rasa keingintahuannya tinggi. Perubahan afektif yang terjadi pada pelatihan ini meliputi. A Perasaan siswa. Lebih senang dan percaya diri. Senang dan bangga walaupun punya kekurangan ia bisa mendapatkan ilmu dan teman baru. A Emosi siswa. Tambah percaya diri untuk berkumpul dengan orang banyak. Bisa menahan emosi dan menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan sedikit lebih bisa mengontrol/mengendalikan emosi. A Minat siswa Semakin berminat dalam menari. Mungkin tertarik mendalami tari karena rata-rata selain berminat dengan menggambar, juga berminat untuk menari. A Cara siswa mengapresiasi Lebih paham sesuatu mana yang lebih bagus. Mengucapkan selamat saat melihat seseorang berhasil. Dapat mengucapkan terima kasih menggunakan bahasa isyarat untuk mengapresiasikan sesuatu. A Penyesuaian diri siswa Bisa bergaul dengan berbagai usia, mudah bergaul dengan teman sedesa atau sekitar lingkungan. Sudah berani keluar desa dan pergi jauh lebih dari 20km. Perubahan psikomotorik yang terjadi pada pelatihan ini meliputi. A Kekuatan fisik siswa. Lebih energik. Bisa mengatur nafas saat melakukan kegiatan dengan cepat dan bisa menahan ngantuk saat berkegiatan. A Keterampilan fisik yang dibutuhkan dalam gerak dasar tari Lebih luwes gerakan tarinya. Tidak kaku lagi dan sedikit lebih mengetahui tentang dasar-dasar tari. Volume 15 No. 1 Juni 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Adapun hasil amatan guru pendamping siswa terhadap hasil pelatihan dapat dijabarkan sebagai Perubahan kognitif Kemampuan intelektualsiswa: Sudah mulai mengerti dan mempunyai kemampuan , mengingat konsep, proses dalam aktivitas dalam menari . Serta tertarik untuk mengikuti pelatihan Pengetahuan siswa: Pengetahuan tentang tari baru sedikit karena ikut menari dalam satu minggu hanya satu kali. Dengan adanya pelatihan yang terprogram siswa mulai tambah ilmu dan mulai tertarik dan terlibat dalam program pelatihan tari Pengertian yang dipahamisiswa: Ada kemajuan untuk pemahaman tentang apa yang dikerjakan ataupun dipelajari secara langsung dan terprogram. Kemampuan berpikir siswa: Berpikirnya mulai berkembang dan mulai kreatif setelah mengikuti dengan bagaimana gerakan yang sesuai , yang luwes dan benar sesuai dengan arahan. Perubahan afektif Perasaan siswa: Senang, semangat, bahagia dan berani serta bangga dan tidak ragu lagi dan rasa malunya hilang dalam mengikuti pelatihan dengan sempurna. Emosisiswa: Emosi dan marah bisa terkendali dan mulai tersenyum dengan pelatihan yang membawa perasaan senang dan aktif serta kreatif. Minat siswa: Karena menyenangkan dan tidak membosankan siswa mulai ada minat. Cara siswa mengapresiasi: Mulai bisa mengaprisiasikan apa yang di pelajari dan dilihat dari pelatihan dengan rasa senang, bahagia, bangga dan berusaha untuk bisa dan menghafal. Penyesuaian diri siswa: Sudah tidak ragu, percaya diri dan berani serta bersemangat dan mau bersaing dengan teman hal yang positif Perubahan psikomotorik Kekuatan fisik siswa: Siswa mengerti dan mampu melaksanakan serta mampu meniru gerakan tari dari gerak dasar sampai gerakan inti . erakan kepala, badan, kaki, tangan, tungka. Keterampilan fisik yang dibutuhkan dalam gerak dasar tari: Luwes dan ada keseimbangan antara gerak dan irama. KESIMPULAN Program PKM ini menghasilkan pementasan karya Opera berjudul Peluk Jiwa dan memberi dampak perubahan kognitif, afektif, dan psikomotorik pada peserta. Perubahan kognitif mencakup kemampuan intelektual, pengetahuan, pengertian, dan kemampuan berpikir. Perubahan afektif menyangkut aspek perasaan, emosi, minat, cara mengapresiasi, serta penyesuaian diri. Perubahan psikomotorik meliputi kemampuan dan keterampilan fisik yang dibutuhkan dalam gerak dasar tari. Karya yang dihasilkan dapat dikembangkan menjadi model pelatihan bagi siswa dengan disabilitas yang lain. Selain itu hasil karya dapat didaftarkan sebagai hak intelektual. Volume 15 No. 1 Juni 2024 Dwi Rahmani, dkk: Pelatihan Tari Bagi Siswa SLB B-C Hamong Putro Sukoharjo. Jawa Tengah DAFTAR PUSTAKA