ACUTE TOXICITY TEST AND ALLERGY TEST OF GARLIC (Allium sativum L. ) EXTRACT ON MICE (Mus Musculu. Hendri Poernomo1*. Setiawan2. Maria Stella Gresitha3 Departement of Oral Surgery. Faculty of Dentistry Mahasaraswati Denpasar University Departement of Oral Surgery. Faculty of Dentistry Mahasaraswati Denpasar University Student of Faculty of Dentistry Mahasaraswati Denpasar University ABSTRACT Background: Garlic is believed to have numerous benefits in addressing health issues, particularly in wound healing. Therefore, its safety needs to be assessed through acute toxicity and allergy tests. Acute toxicity testing is conducted to measure the degree of toxicity of a compound administered to test animals. Objective: This study aims to determine the toxicity and allergic effects of garlic extract (Allium sativum L. ) on mice (Mus musculu. Method: This study employs an in vivo laboratory experimental design using the Post Test-Only Control Group Design. The acute toxicity test was conducted using the Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) 425 method by calculating the lethal dose 50 (LD. in mice (Mus musculu. with 25 subjects. Results: The acute toxicity test results showed that the LD50 value of garlic extract was 15 g/kg BW . ildly toxi. and did not show any allergic symptoms. The body weights of the mice before and after the treatment were analyzed using the OneWay ANOVA test. The analysis indicated no significant difference at a test level of 0. uU < 0. Conclusion: Garlic extract (Allium sativum L. ) does not cause allergies and does not affect toxicity levels at doses of 5000 mg/kg BW, 10,000 mg/kg BW, 15,000 mg/kg BW, and 20,000 mg/kg BW. However, it causes liver damage in mice at doses of 15,000 mg/kg BW and 20,000 mg/kg BW. Keywords: garlic (Allium sativum L. ), allergy test. LD50, acute toxicity Corresponding: Maria Stella Gresitha. Departement of Oral Surgery. Faculty of Dentistry Mahasaraswati Denpasar University. Jln Kamboja no 11A. Denpasar-Bali. , email: mariagresitha@gmail. PENDAHULUAN Bawang putih adalah tanaman herbal parenial yang membentuk umbi lapis dan mengandung lebih dari 100 metabolit sekunder yang sangat bermanfaat bagi kesehatan yaitu alliin, alliinase, allisin. S-allilsistein, diallil sulfida, allil metil trisulfida (Hasanah. Senyawa metobolit organosulfur alliin berfungsi sebagai agen antiagregasi sel platelet dan pemacu fibrinolisis, dimana dua hal tersebut dapat mempengaruhi terjadinya hemostasis pada fase inflamasi (Poernomo & MaAoruf 2. Banyaknya manfaat yang dapat diperoleh dari bahan alami mendorong minat masyarakat terhadap penggunaan bahan alami sebagai obat untuk menjaga kesehatan dan mengobati penyakit ringan, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai khasiat maupun keamanannya melalui uji toksisitas akut dan alergi (Dewoto 2. Toksisitas merupakan suatu keadaan yang menandakan efek toksik/racun yang terdapat pada bahan obat sebagai sediaan dosis tunggal atau campuran. Uji toksisitas adalah salah satu pengujian yang dilakukan untuk menilai keamanan suatu senyawa kimia baik senyawa itu sendiri maupun senyawa yang berada dalam bahan-bahan lainnya (Setiasih dkk 2. Uji toksisitas akut merupakan salah satu uji paraklinik yang penting karena dirancang untuk menentukan efek toksik suatu senyawa yang akan terjadi dalam waktu yang singkat setelah pemajanan atau pemberiannya dalam takaran tertentu yang diamati selama 24 jam atau selama 7-14 hari (Makiyah & Tresnayanti 2. Alergi adalah suatu respon hipersensitivitas akibat induksi oleh imunoglobulin E (IgE) yang spesifik terhadap alergen tertentu yang berikatan dengan sel mast atau sel Ketika antigen terikat, terjadi silang molekul IgE, sel mast manusia dirangsang untuk berdegranulasi dan melepaskan histamin, leukotrein, kinin. Plateletes Activating Factor (PAF), dan mediator lain dari hipersensitivitas, dimana histamin adalah faktor utama berbagai macam alergi (Rahmah 2. Menurut penelitian lain yang dilakukan oleh Poernomo & MaAoruf . mengenai AuPengaruh Gel Ekstrak Bawang Putih (Allium sativum L. ) Terhadap Jumlah Selmakrofag Pada Penyembuhan Luka Insisi Gingiva Marmut (Cavia Porcellu. Ay menunjukkan bahwa gel ekstrak bawang putih 60% lebih efektif dalam menurunkan jumlah sel makrofag pada penyembuhan luka insisi gingiva marmut dibandingkan dengan konsentrasi 40% dan 50%. Dalam hal ini peneliti terdorong untuk meneliti uji keamanan yaitu uji toksisitas akut dan alergi menggunakan ekstrak bawang putih dengan mencit (Mus musculu. sebagai hewan coba. TUJUAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek toksisitas dan alergi serta dosis yang tidak menyebabkan efek toksisitas ekstrak bawang putih (Allium sativum L. terhadap mencit (Mus musculu. METODE Metode penelitian ini adalah eksperimental laboratoris in vivo dilakukan di Laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana menggunakan rancangan The Post Test-Only Control Group Design dan Rancangan Acak Lengkap (RAL) untuk pengelompokkan sampel serta metode Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) 425 dengan menghitung lethal dose 50 pada mencit (Mus musculu. sebagai hewan coba. Penelitian ini menggunakan perhitungan sampel dengan rumus Federer yaitu: Ou15 : jumlah sampel : jumlah kelompok Berdasarkan rumus tersebut, maka didapatkan perhitungan besar sampel sebagai berikut: Besar sampel yang didapatkan dari perhitungan tersebut adalah n = 5, maka jumlah keseluruhan sampel adalah 25 ekor dan dibagi menjadi 5 pada setiap kelompok Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan simple random sampling, yaitu teknik pengambilan anggota sampel yang memberikan kesempatan yang sama kepada suatu populasi untuk dijadikan sampel. Dibutuhkan 5 ekor hewan coba pada 4 kelompok perlakuan dan 1 kelompok kontrol. Identifikasi variabel yakni variabel bebas . kstrak bawang putih 60%) dan variabel terikat (Tingkat toksisitas dan gejala alerg. Instrumen penelitian Alat: Gelas laboratorium Blender . Rotary evaporator (Buch. Kendang mencit Lemari pengering Neraca kasar, neraca listrik, neraca hewan Oral sonde, penangas air, tanur Bahan: Bawang putih Akuades dan etanol 96% Pelaksanaan dan alur penelitian: Pembuatan ekstrak bawang putih dilakukan di Laboratorium Sumber Daya Genetika dan Biologi Molekuler Universitas Udayana menggunakan metode maserasi yang dilakukan 5 kali dengan tujuan memperoleh maserasi berwarna jernih, kemudian diuapkan dengan rotary vacuum evaporator untuk memperoleh ekstrak kental bawang putih. Uji fitokimia untuk mengetahui zat aktif flavonoid % menggunakan ekstrak bawang putih 500mg ditambahkan 5 tetes etanol 80% kemudian dikocok lalu dipanaskan dan dikocok kembali kemudian disaring lalu ditambahkan 0,5g magnesium dan 0,5 mol HCL. Alkaloid % menggunakan ekstrak bawang putih 500 mg ditambahkan 1 ml HCL 2 N dan 9 ml akuades dipanaskan selama 2 menit, lalu didinginkan dan filtrat dimasukkan ke masing-masing tabung dan diteteskan pereaksi sebanyak 2 tetes ke masing-masing tabung reaksi kemudian amati hasilnya. Fenolik % menggunakan ekstrak bawang putih 500 mg dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3-4 tetes FeCl3 hingga terjadi perubahan warna. Tanin % menggunakan ekstrak bawang putih 500mg dimaserasi dengan akuades lalu disaring, filtrat diencerkan dengan akuades sampai hampir tidak berwarna. Sebanyak 2 ml filtrat ditambahkan 2 tetes FeCl3 dan diamati warna yang terbentuk Uji toksisitas akut oral menggunakan mencit jantan yang berumur 2-3 bulan dengan bobot 25-30gram yang dipuasakan dengan tetap boleh memberikan air minum selama 3-4 jam kemudian ditimbang. Kelompok perlakuan I diberikan ekstrak bawang putih sebanyak 5000mg/kgBB. Kelompok perlakuan II 10. 000mg/kgBB. Kelompok i 000mg/kgBB. Kelompok 000mg/kgBB, sedangkan kelompok kontrol akan diberikan aquadest. Ekstrak bawang putih akan diberikan dalam dosis tunggal dengan menggunakan oral sonde, sebanyak satu kali 24 jam, selanjutnya hewan coba diamati setiap hari selama 14 hari untuk mengetahui gejala toksik yang muncul. Hewan coba yang sekarat akan dimasukkan dalam kategori perhitungan sebagai hewan coba yang mati. Uji alergi menggunakan 5 ekor mencit yang sudah dicukur rambut bagian punggung seluas 3x3 cm kemudian dibiarkan selama 24 jam. Mencit diolesi ekstrak bawang putih 60% pada bagian yang dicukur dan ditutup menggunakan plastik agar cairan tidak menguap, lalu dilapisi dengan kain kasa. Kemudian diamati pada 1 jam, 2 jam, 3 jam, dan 24 jam untuk mengetahui adanya perubahan perilaku kemudian plastik dan kain kasa dibuka lalu diamati perubahan yang terjadi pada permukaan kulit HASIL Hasil Uji Fitokimia Ekstrak Bawang Putih Keterangan: ( ) = mengandung golongan senyawa (-) = tidak mengandung golongansenyawa Hasil uji fitokimia yang telah dilakukan menunjukkan bahwa dalam ekstrak bawang putih mengandung alkaloid, flavonoid, dan fenolik Hasil Rerata Berat Badan Tiap Kelompok Mencit Sebelum dan Sesudah Diberi Ekstrak Bawang Putih (Allium sativum L. ) pada Mencit Tabel diatas menunjukkan bahwa rerata berat badan mencit tertinggi sebelum diberi sediaan ekstrak bawang putih yaitu pada kelompok P3 dan berat badan terendah pada kelompok P1 sedangkan rerata berat badan mencit setelah diberi sediaan ekstrak bawang putih tertinggi yaitu kelompok P2 dan berat badan terendah pada kelompok P3. Uji Normalitas Data Berdasarkan hasil uji normalitas diatas diketahui nilai A > 0,05 berarti data disetiap kelompok berdistribusi normal. Uji Perbedaan dengan One Way Anova Sesudah Pemberian Ekstrak Bawang Putih terhadap Mencit Berdasarkan pada tabel diatas, diketahui nilai signifikasi 0,016 . uU<0,. artinya H0 ditolak atau terdapat perbedaan yang signifikan berat mencit sesudah diberikan ekstrak bawang putih antara setiap kelompok perlakuan. Hasil Pengamatan Preparat Hati Mencit Secara Mikroskopis PEMBAHASAN Dari hasil penelitian pemberian ekstrak bawang putih (Allium sativum L. ) 60% dengan dosis 5000mg/kg BB, 10. 000mg/kg BB, 15. 000mg/kg BB, dan 20. 000mg/kg BB tidak menyebabkan kematian dan tidak ada gejala klinis yang muncul pada mencit. ini diduga oleh karena kandungan senyawa yang ada dalam bawang putih yaitu flavonoid, alkaloid, dan fenolik. flavonoid sebagai anti-inflamasi bekerja dengan cara memproduksi pro inflamatori mediator menstimulasi sel yang berkaitan dengan inflamasi seperti limfosit, monosit, natural killer sel, neutrophil, makrofag, dan sel mastosit (Sangeetha et al. alkaloid memiliki kemampuan sebagai antibakteri, mekanisme yang diduga adalah dengan cara mengganggu komponen penyusun peptidoglikan pada sel bakteri, sehingga lapisan dinding sel bakteri tidak terbentuk secara utuh dan menyebabkan kematian sel tersebut (Masniawati. Johanes, & Winarti 2. Senyawa fenolik merupakan kelompok senyawa terbesar yang berperan sebagai antioksidan alami pada tumbuhan. Senyawa fenolik memiliki satu . atau lebih . cincin fenol, yaitu gugus hidroksi yang terikat pada cincin aromatis sehingga mudah teroksidasi dengan menyumbangkan atom hidrogen pada radikal bebas. Kemampuannya membentuk radikal fenoksi yang stabil pada reaksi oksidasi menyebabkan senyawa fenolik sangat potensial sebagai antioksidan (Dhurhania & Novianto 2. Pengamatan hati mencit yang telah diberi ekstrak bawang putih dan diamati selama 14 hari di periksa dibawah mikroskop yang menunjukkan pada kelompok kontrol yang diberikan aquadest. P1 dengan dosis5000mg/kg BB, dan P2 dengan dosis 000mg/kg BB cenderung pada kondisi normal atau tidak terjadi perubahan pada hati Kelompok P3 dengan dosis 15. 000mg/kg BB dan kelompok P4 dengan dosis 000mg/kg BB terjadi degenerasi parenkimatosa pada hati mencit. Perubahan yang terjadi pada hati berupa degenerasi hati kemungkinan disebabkan oleh senyawa fenol yang terkandung di dalam ekstrak bawang putih. Senyawa fenolik, memiliki sekurang Aa kurangnya satu gugus fenol. Senyawa fenol merupakan jenis polutan yang berbahaya karena bersifat toksik dan dapat mengakibatkan kerusakan hati dan ginjal, penurunan tekanan darah, pelemahan detak jantung, hingga kematian apabila diberikan dalam konsentrasi tertentu (Asuhadi. Arafah, & Amir 2. perhitungan nilai LD50 dengan menggunakan metode Aritmatika dari Karber. Hasil yang didapat yaitu dosis 15. 000mg/kgBB merupakan dosis yang menyebabkan degenerasi parenkimatosa pada hewan coba dan nilai LD50 didapatkan 15 gr/Kg BB dan termasuk ke dalam kategori toksik ringan karena berada pada rentang 5-15gr/Kg BB. KESIMPULAN Dosis ekstrak bawang putih (Allium sativum L. ) tidak menyebabkan alergi dan tidak berpengaruh terhadap tingkat toksisitas dengan dosis 5000mg/kg BB, 10. 000mg/kg BB, 15. 000mg/kg BB dan 20. 000mg/kg BB namun menyebabkan kerusakan hati mencit pada dosis 15. 000mg/kg BB dan 20. 000mg/kg BB. DAFTAR PUSTAKA