JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 29AU Edisi KhususAU 9 - 13 HUBUNGAN USIA DAN PARITAS DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS SERANG KOTA TAHUN 2024 The Relationship between Maternal Age and Parity with the Incidence of Anemia among Pregnant Women in Serang City Health Center 2024 Vega Muhida1 . Fitria Amelia1 . Nuria Fitri Adista1 Poltekkes AoAisyiyah Banten ABSTRACT Background: Maternal anemia remains a major public health problem and contributes to adverse pregnancy outcomes. Factors such as maternal age and parity are known to influence the risk of anemia during pregnancy. Objective: To analyze the relationship between maternal age and parity with the incidence of anemia among pregnant women in Serang City Health Center Methods: This quantitative analytic study used secondary data from the laboratory register of pregnant women recorded between JanuaryAeDecember 2024. A total of 290 samples were selected using systematic sampling. Variables included hemoglobin level, maternal age, and parity. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis . hi-square test and odds Results: The prevalence of anemia was 22%. Pregnant women with risky age (<20 or >35 year. were more likely to be anemic . 1%). Chi-square test showed a significant association between age and anemia . < 0. , with OR = 7. Risky parity . rimipara & grande multipar. was also associated with anemia . 8%) with significant results . < 0. OR = 8. Conclusions: Maternal age and parity are significantly associated with anemia among pregnant women. Strengthened screening and targeted education are needed especially for high-risk groups. ABSTRAK Latar belakang: Anemia pada ibu hamil merupakan masalah kesehatan masyarakat yang dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan dan persalinan. Usia ibu dan paritas diketahui berperan dalam meningkatkan risiko anemia. Tujuan: Mengetahui hubungan usia dan paritas dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Puskesmas Serang Kota. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain analitik menggunakan data sekunder. Sampel sebanyak 290 ibu hamil dipilih menggunakan teknik systematic sampling. Variabel terdiri dari kadar Hb, usia ibu, dan paritas. Analisis menggunakan uji chi-square dan odds ratio. Hasil: Prevalensi anemia sebesar 22%. Usia berisiko (<20 atau >35 tahu. memiliki proporsi anemia lebih tinggi . ,1%) dan berhubungan signifikan dengan anemia . < 0,001. OR = 7,. Paritas berisiko . rimipara dan grande multipar. juga berhubungan signifikan . < 0,001. OR = 8,. Kesimpulan: Usia dan paritas berhubungan signifikan dengan anemia pada ibu hamil. Disarankan peningkatan skrining dan edukasi pada kelompok risiko tinggi. Kata Kunci: Anemia. Usia Ibu. Paritas. Ibu Hamil. Puskesmas Keywords: Anemia. Maternal Age. Parity. Pregnant Women. Health Center *Penulis korespondensi. Email : vega@poltekkes-aisyiyahbanten. M Vega, dkk: The Relationship between Maternal Age and Parity with the Incidence of Anemia among Pregnant Women in Serang City Health Center 2024 PENDAHULUAN Anemia merupakan kondisi ketika jumlah dan ukuran sel darah merah atau konsentrasi hemoglobin dibawah nilai batas normal . gr/dL), yang mengakibatkan terganggunya kapasitas darah untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Anemia kehamilan disebut Aypotential danger to mother and childAy . otensial membahayakan ibu dan ana. , karena itulah anemia memerlukan perhatian serius dari semua pihak yang terkait dalam pelayanan kesehatan pada waktu terdepan1. Kondisi anemia dalam kehamilan dapat memberikan efek buruk, misalnya pertumbuhan janin terhambat. BBLR dan kematian janin. Pada saat bersalin dapat terjadi persalinan yang lama dan Pada masa nifas dapat terjadi penyembuhan luka yang membutuhkan waktu lama1. Di Indonesia angka anemia pada ibu hamil masih cukup tinggi. Berdasarkan hasil data Riskesdas 2022 terdapat ibu hamil yang menderita anemia pada tahun 2018 berjumlah 39. Tahun 2019 40,4%, tahun 2020 41,7%, pada tahun 2021 berjumlah 43,8% dan tahun 2022 ibu hamil yang mengalami anemia sejumlah 47,3%2. Data Dinas Kesehatan Provinsi Banten menunjukkan bahwa AKI di Banten hingga tahun 2022 jumlah angka kematian ibu (AKI) mencapai 127 kasus per 100 ribu kelahiran. Sementara AKI Nasional mencapai 189 kasus per 100 ribu kelahiran3. Faktor usia dan paritas diketahui sangat berperan. Usia reproduksi tidak berisiko . Ae35 tahu. relatif aman, sedangkan usia <20 atau >35 tahun meningkatkan risiko anemia. Paritas berisiko (>. juga berhubungan dengan meningkatnya angka kejadian Berdasarkan data sekunder dari buku register hasil laboratorium diperoleh dari Puskesmas Serang Kota Periode Januari Ae Desember Tahun 2024. Tercatat jumlah keseluruhan Ibu Hamil sebanyak 1. Ibu Hamil. Pada Tahun 2023 angka kejadian anemia sebanyak 72 dan pada tahun 2024 meningkat sebanyak 102 atau 9,7% ibu mengalami anemia. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan usia ibu dan paritas dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Puskesmas Serang Kota. Usia adalah suatu umur seseorang individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun. Semakin cukup usia, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja, jadi semakin bertambah usia akan meningkat pengalaman dirinya dan pengalaman akan berpengaruh pada tingkat pengetahuan. Umur ibu hamil yang < 20 tahun dan < 35 tahun berisiko mengalami anemia dalam kehamilan dibandingkan dengan ibu hamil yang berumur 23-35 tahun4. Paritas adalah jumlah anak yang telah dilahirkan oleh seorang ibu baik lahir hidup maupun mati. Paritas ibu hamil yang mempunyai anak >3 mempunyai risiko terjadi anemia dalam kehamilan dibandingkan dengan ibu yang mempunyai anak < 3. Hali ini karena pada kehamilan berulang dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah dan dinding uterus yang dapat mempengaruhi sirkulasi nutrisi ke janin, sehingga semakin tinggi paritas ibu semakin tinggi resiko terkena anemia1. Penelitian sebelumnya menunjukkan hubungan signifikan antara usia, paritas, dan kejadian anemia pada ibu hamil. Peneliti sebelumnya menemukan bahwa ibu <20 tahun dan >35 tahun lebih berisiko mengalami anemia akibat faktor fisiologis maupun kurangnya kesiapan mental5. Peneliti lain menegaskan bahwa paritas >3 meningkatkan risiko anemia karena Data WHO, juga menyoroti bahwa anemia pada ibu hamil masih menjadi masalah global dengan dampak terhadap mortalitas maternal dan neonatal. Berdasarkan studi literatur, penelitian ini memperkuat temuan sebelumnya dengan mengkaji kondisi lokal di Puskesmas Serang Kota. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan studi kuantitatif analitik dengan menggunakan data sekunder dari buku register laboratorium. Metode kuantitatif adalah metode penelitian berbasis filsafat positivisme yang digunakan untuk meneliti populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan alat penelitian, data kuantitatif atau statistik yang bertujuan untuk menguji hipotesis yang diberikan6. Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang tercatat di Puskesmas Serang Kota periode JanuariAeDesember 2024 sebanyak 1. 047 orang. Kriteria inklusi penelitian yaitu : Ibu hamil dengan data Hb lengkap, tercatat dalam register laboratorium tahun 2024, memiliki data usia dan paritas lengkap. Sedangkan kriteria eksklusinya: Data Hb tidak terbaca dan data duplikat. Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah 290 responden menggunakan rumus Slovin . =0,. dengan teknik systematic sampling. Populasi 1. dibagi sampel 290 sehingga didapat interval . =4. Responden pertama dipilih secara acak dari nomor 1Ae4, berikutnya dipilih setiap 4 data. Instrumen: Pemeriksaan Hemoglobin: Pemeriksaan dilakukan oleh analis hemoglobinometer, yang data nya sudah tertera dalam buku register. Analisis Data menggunakan univariat untuk menggunakan uji chi-square dan Odds Ratio, dengan P-value O . , maka secara signifikan terdapat hubungan antara variabel independent dengan variabel dependent. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Vol. 29 Edisi Khusus Februari 2026 l 10 M Vega, dkk: The Relationship between Maternal Age and Parity with the Incidence of Anemia among Pregnant Women in Serang City Health Center 2024 Tabel 1. Definisi Operasional Variabel Kejadian Anemia Usia Ibu Definisi Operasional Kondisi ketika tubuh kekurangan sel darah merah yang sehat atau ketika sel darah merah tidak berfungsi dengan baik. Anemia (HB < 11 gr/dL). Tidak Anemia (HB > 11 gr/dL) Rentang kehidupan yang diukur dengan tahun dan lamanya hidup sejak saat dilahirkan sampai ulang tahun terakhir Jumlah anak yang dilahirkan oleh seseorang ibu baik lahir hidup atau lahir meninggal. Paritas Cara Ukur Alat Ukur Ceklis Buku Register Ceklis Buku Register Ceklis Buku Register Hasil Ukur 0: Berisiko. Jika Anemia (Hb < AU 11 gr/dL) Skala Ukur Nominal 1: Tidak Berisiko jika (Hb Ou 11 gr/dL) 0: Berisiko, jika Usia Ibu <20 tahun dan >35 tahun 1 :Tidak berisiko, jika Usia Ibu 20-35 tahun 0: Berisiko, jika kehamilan Primipara . elahirkan 1 kal. , dan Grande Multipara . elahirkan 4 kali atau lebi. 1 : Tidak Berisiko, jika kehamilan Multipara melahirkan 2-3 kal. Ordinal Ordinal Sumber: Data Sekunder . HASIL PENELITIAN Tabel 2. Distribusi Frekuensi Status Anemia dan Karakteristik Reproduksi Ibu Hamil di Puskesmas Serang Kota Tahun 2024 Frekuensi Persentase Anemia Tidak Anemia Jumlah Kejadian Anemia Berisiko (<20 tahun atau >35 tahu. Tidak berisiko . tahun Ae 35 tahu. Jumlah Primipara dan grande multipara Multipara Jumlah Usia Paritas Sumber: Data Sekunder . Berdasarkan Tabel 2, dari total 290 responden ibu hamil yang tercatat di Puskesmas Serang Kota Tahun 2024, sebanyak 64 responden . %) diketahui mengalami anemia, sedangkan 226 responden . %) tidak mengalami anemia. Selanjutnya, berdasarkan karakteristik usia, ditemukan sebanyak 69 responden . %) berada pada kelompok usia berisiko, yaitu ibu hamil yang berusia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, sementara 221 responden . %) berada pada kelompok usia tidak berisiko. Selain itu, berdasarkan karakteristik paritas, sebanyak 72 responden . %) termasuk dalam kelompok paritas berisiko, yaitu primipara dan grande multipara, sedangkan 218 responden . %) memiliki paritas tidak Tabel 3. Hubungan Antara Usia Ibu Hamil dengan Kejadian Anemia di Puskesmas Serang Kota Tahun 2024 Usia Ibu Berisiko (<20 tahun atau > 35 tahu. Tidak Berisiko . -35 Tahu. Total Kejadian Anemia Anemia Tidak Anemia 52,1% 47,9% 12,7% 87,3% Jumlah Responden Presentase P Value 0,000 7,56 Sumber: Data Sekunder . AU Berdasarkan tabel 3 diketahui bahwa ibu hamil yang mengalami anemia proporsinya lebih banyak pada kelompok usia berisiko yaitu 36 responden . ,1%) di Puskesmas Serang Kota Tahun 2024. Hasil uji statistik diperoleh P value 0. 000, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara usia berisiko (<20 tahun dan >35 tahu. dengan kejadian Anemia. Didapatkan nilai OR sebesar 7,56, artinya usia berisiko (<20 tahun dan >35 tahu. memiliki peluang 8x lebih besar mengalami anemia dibandingkan dengan ibu hamil dengan usia tidak berisiko . -35 tahu. Tabel 4. Hubungan Antara Paritas Ibu dengan Kejadian Anemia di Puskesmas Serang Kota Tahun 2024 Paritas Ibu Beresiko (Primipara dan Grande Multipar. Tidak beresiko (Multipar. Total Kejadian Anemia Anemia Tidak Anemia 52,8% 11,9% 0,00 88,1% Jumlah Responden Presentase P Value 7,56 0,000 8,25 Sumber: Data Sekunder . AU AU Berdasarkan tabel 4, menunjukkan bahwa ibu Hamil yang mengalami anemia proporsinya lebih banyak pada kelompok paritas berisiko (Primipara dan Grande Multipar. 38 responden . ,8%) di Puskesmas Serang Kota Tahun 2024. Hasil uji statistik diperoleh P value 0,000, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara paritas berisiko dengan kejadian anemia. Didapatkan nilai OR sebesar8,25, artinya paritas berisiko (Primipara dan Grande Multipar. memiliki peluang 8x lebih besar mengalami anemia dibandingkan dengan Ibu hamil dengan paritas tidak berisiko (Multipar. 11 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Vol. 29 Edisi Khusus Februari 2026 M Vega, dkk: The Relationship between Maternal Age and Parity with the Incidence of Anemia among Pregnant Women in Serang City Health Center 2024 PEMBAHASAN Kejadian Anemia Berdasarkan hasil penelitian masih ditemukan ibu hamil yang mengalami anemia sebanyak 64 Responden . %) di Puskesmas Serang Kota. Teori tersebut selaras dengan penelitian yang menyatakan bahwa anemia adalah suatu kondisi dimana jumlah dan ukuran sel darah merah atau konsentrasi hemoglobin dibawah nilai batas normal . gr/dL), akibatnya dapat mengganggu kapasitas darah untuk mengangkut oksigen ke sekitar tubuh. Anemia dalam kehamilan merupakan masalah nasional sebab mencerminkan nilai kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat, juga pengaruhnya sangat besar terhadap kualitas sumber daya manusia. Anemia kehamilan memiliki potensial membahayakan ibu dan anak, karena itulah anemia memerlukan perhatian serius dari semua pihak yang terkait dalam pelayanan kesehatan pada lini terdepan8. Penulis berpendapat bahwa anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius, khususnya pada ibu hamil, karena berdampak langsung pada kesehatan ibu dan janin. Oleh karena itu, diperlukan upaya pencegahan dan penanganan yang optimal melalui edukasi, pemeriksaan rutin, dan pemberian suplemen gizi yang tepat. Kejadian Anemia Berdasarkan Usia Ibu Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa ibu hamil yang mengalami anemia proporsinya lebih banyak pada kelompok usia berisiko yaitu 36 responden . ,1%) dibandingkan kelompok usia tidak berisiko yaitu 28 responden . ,7%) di Puskesmas Serang Kota Tahun 2024. Usia berisiko menunjukkan proporsi anemia sebesar 52,1%. Hasil uji chi-square untuk usia berisiko didapatkan p-value < 0,001. OR = 7,56. Artinya usia <20 atau >35 tahun memiliki risiko 8 kali lebih besar mengalami anemia. Hal ini selaras dengan penelitian yang juga bahwa umur menyebabkan terjadinya anemia dalam kehamilan karena pada wanita hamil yang berumur <20 tahun memiliki perkembangan organ reproduksi belum optimal, sehingga secara psikologis kejiwaan masih labil yang menimbulkan Jika wanita muda tersebut hamil maka kebutuhan zat besi akan terbagi dengan janin yang Sehingga bila zat besi tidak tercukupi akan menyebabkan anemia. Selain itu pengalaman dan pengetahuan tentang persiapan dan pemeliharaan kehamilan masih rendah. Pada umur >35 tahun, kejadian anemia disebabkan oleh adanya kemunduran terhadap fungsi faal tubuh dan munculnya kelainan degeneratif seperti hipertensi, diabetes, asam urat, dan lain-lain. Sehingga terjadinya gangguan terhadap perdarahan serta turunnya metabolisme tubuh dan kemampuan absorbsi tubuh terhadap zat besi5. Pendapat peneliti lain juga menyatakan bahwa usia merupakan faktor yang mempengaruhi terjadinya anemia pada ibu hamil. Usia ibu yang terlalu muda (<20 tahu. dan terlalu tua (>35 tahu. sangat mempengaruhi kejadian anemia selama kehamilan. Apabila seorang wanita pada usia <20 tahun maka rentan terjadinya anemia. Hal ini disebabkan pada usia ini fungsi reproduksi belum optimal dan juga pada usia ini emosi dan mental ibu masih labil yang dapat pemenuhan kebutuhan gizi selama hamil. Sedangkan ibu hamil di atas 35 tahun juga rentan terjadi anemia karena terkait dengan pengaruh dari imunitas atau penurunan daya tahan tubuh sehingga rentan terjadinya penyakit dan mudah terkena infeksi selama Dari hasil penelitian, prevalensi anemia sebesar 22%, dan OR yang menyatakan usia <20 tahun atau >35 tahun memiliki risiko 8 kali lebih besar mengalami anemia, penulis meyakini terdapat hubungan antara usia ibu hamil dengan kejadian anemia. Ibu dengan usia <20 tahun berisiko mengalami anemia karena ketidakmatangan organ reproduksi, sehingga belum optimal fungsi reproduksinya dan cadangan zat besi yang rendah. Ibu usia >35 tahun memiliki risiko akibat penurunan fungsi tubuh dan daya tahan pada usia yang lebih tua. Oleh karena itu, perhatian khusus perlu diberikan kepada ibu hamil dengan usia berisiko agar mendapat pemantauan kesehatan yang lebih intensif serta edukasi tentang pentingnya nutrisi selama Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingginya proporsi anemia pada kelompok usia <20 tahun atau >35 tahun bukan sekadar mengikuti pola temuan penelitian sebelumnya, tetapi juga mencerminkan tantangan spesifik di wilayah kerja Puskesmas Serang Kota. Pada usia <20 tahun, status pengetahuan reproduksi dan kesiapan psikologis yang rendah tampaknya mempengaruhi perilaku pemenuhan nutrisi yang belum optimal. Sementara itu, pada usia >35 tahun, penurunan fungsi fisiologis yang berkaitan dengan daya tahan tubuh dan proses degeneratif mungkin semakin membatasi kemampuan tubuh menyerap zat besi. Temuan ini memberikan indikasi bahwa edukasi gizi dan pendampingan selama kehamilan perlu ditargetkan secara lebih intensif pada kelompok usia tersebut. Kejadian Anemia Berdasarkan Paritas Ibu Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa ibu hamil yang mengalami anemia proporsinya lebih banyak pada kelompok Primipara dan Grande Multipara 38 responden . ,8%) dibandingkan kelompok Multipara 26 responden . ,9%) di Puskesmas Serang Kota Tahun 2024. Hasil uji chi-square untuk paritas : P-value < 0,001. OR = 8,25. Paritas berisiko . rimipara dan grande multipar. memiliki risiko 8 kali lebih besar mengalami anemia. Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang menyatakan bahwa paritas ibu hamil yang mempunyai anak > 3 sangat berisiko mengalami anemia Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Vol. 29 Edisi Khusus Januari 2026 l 12 M Vega, dkk: The Relationship between Maternal Age and Parity with the Incidence of Anemia among Pregnant Women in Serang City Health Center 2024 dibandingkan ibu hamil yang mempunyai anak < 2. Karena pada kehamilan yang berulang dapat mengakibatkan kerusakan pada pembuluh darah dan dinding uterus yang mempengaruhi sirkulasi nutrisi ke janin, sehingga semakin tinggi paritas ibu maka semakin tinggi pula risiko mengalami anemia. Secara fisiologis ibu dengan paritas atau riwayat kelahiran yang terlalu sering akan mengalami peningkatan volume plasma darah yang lebih besar sehingga menyebabkan hemodilusi yang lebih besar pula. Ibu yang telah melahirkan lebih dari 4 kali berisiko mengalami komplikasi serius seperti perdarahan, hal ini dipengaruhi keadaan anemia selama kehamilan9. Selain itu, peneliti lain berpendapat bahwa seorang wanita yang hamil pertama kali dapat berisiko pengalaman sehingga berdampak pada perilaku yang berkaitan dengan asupan gizi. Ibu hamil primipara masih mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan kehamilannya dan pengalaman yang dimiliki masih lebih sedikit dibandingkan wanita yang sudah pernah hamil dan melahirkan10. Menurut pendapat penulis, paritas merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi kejadian anemia pada ibu hamil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan paritas dengan kejadian Primipara berisiko karena kurangnya pengetahuan dan pengalaman ibu dalam menjaga nutrisi selama kehamilan. Kehamilan berulang menguras cadangan zat besi dan meningkatkan hemodilusi, serta serta gangguan fungsi tubuh akibat kelelahan fisik dan kehilangan darah yang berulang. Implikasi program yang dapat dilakukan yaitu peningkatan skrining Hb. Edukasi gizi pada kelompok risiko, penguatan pemantauan kehamilan pada primipara dan ibu usia berisiko. Tingginya proporsi anemia pada kelompok primipara dan grande multipara dalam penelitian ini diduga tidak hanya disebabkan oleh faktor fisiologis, tetapi juga oleh faktor sosial dan kebiasaan kesehatan Pada primipara, keterbatasan pengalaman dalam kehamilan berhubungan dengan pengetahuan gizi yang kurang dan kepatuhan yang belum stabil terhadap konsumsi tablet Fe. Sedangkan pada grande multipara, kehamilan berulang berpotensi melemahkan cadangan zat besi sekaligus meningkatkan risiko perdarahan dan kelelahan fisik. Kondisi ini menguatkan dugaan bahwa anemia yang terjadi pada dukungan kesehatan maternal yang berfokus pada jarak kehamilan, nutrisi dan pemantauan konsumsi Fe di wilayah kerja Puskesmas Serang Kota. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Puskesmas Serang Kota Tahun 2024 dari populasi ibu hamil sejumlah 1. 047 orang berdasarkan data sekunder yang didapatkan dari data buku register, diambil sampel sebanyak 290 responden, maka ditarik kesimpulan sebagai berikut: Terdapat hubungan signifikan antara usia dan paritas dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Ibu dengan usia berisiko (<20 tahun atau >35 tahu. serta ibu dengan paritas berisiko . rimipara atau grande multipar. memiliki risiko lebih tinggi mengalami anemia. Diperlukan peningkatan edukasi, pemantauan konsumsi Fe dan skrining anemia di fasilitas kesehatan. UCAPAN TERIMA KASIH