Journal Genta Mulia Volume 15. Number 2, 2025 pp. P-ISSN 2301-6671 E-ISSN: 2580-6416 Open Access: https://ejournal. id/index. php/gm PERSEPSI GURU RAUDHATUL ANFAL TERHADAP PERKEMBANGAN MORAL GENERASI ALPHA USIA DINI Atika Mentari Nataya Nasution*1, dan Cut Sarah2 1&2 Program Studi Psikologi. Fakultas Psikologi. Universitas Medan Area * Corresponding Author: atikamentarinatayanasution@staff. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran persepsi guru terhadap perkembangan moral generasi alpha usia dini. Guru Raudhatul Anfal (RA) menjadi fokus peneliti adalah guru pada jenjang setingkat Taman Kanak-Kanak (TP) dengan penekanan pada kurikulum berbasis agama Islam. Metode penelitian yang dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan jenis fenomenologi untuk menggambarkan, eksplorasi dan kedalaman pemahaman pada fenomena. Teknik pengambilan sampel melalui purposive sampling dengan kriteria guru yang sudah mengajar minimal 1 tahun dengan jumlah 6 partisipan di RA Al-Barkah. Jalan Puskesmas. Kelurahan Tanjung Gusta. Kota Medan. Hasil penelitian yang ditemukan bahwa secara umum guru RA Al-Barkah memiliki persepsi positif terhadap perkembangan moral generasi alpha usia dini yang menjadi anak didik mereka. Hal ini tergambarkan melalui empat tema mengenai perkembangan moral anak usia dini, yakni perilaku jujur, perilaku kesopanan dan hormat, perilaku tolong menolong dan toleransi, dan perilaku kepatuhan. Kata Kunci: Perkembangan Moral. Persepsi Guru. Generasi Alpha Abstract This research aims to determine the description of teachers' perceptions of the moral development of the early age alpha generation. Raudhatul Anfal (RA) teachers are the focus of the researcher, they are teachers at the Kindergarden (TP) level with an emphasis on an Islamic-based curriculum. The research method used is a qualitative method with a phenomenological type to describe, explore and deepen understanding of the phenomenon. The sampling technique was through purposive sampling with the criteria of teachers who have taught for at least 1 year with a total of 6 participants at RA AlBarkah. Jalan Puskesmas. Kelurahan Tanjung Gusta. Medan City. The results of the study found that in general RA Al-Barkah teachers have a positive perception of the moral development of the early age alpha generation who are their students. This is illustrated through four themes regarding the moral development of early childhood, namely honest behavior, polite and respectful behavior, helpful and tolerant behavior, and obedient behavior. Keywords : Moral Development. Teacher Perception. Generation Alpha PENDAHULUAN Raudhatul Athfal (RA) adalah jenjang pendidikan setingkat Taman Kanak-Kanak (TK). RA merupakan bentuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang diorganisir oleh Kementrian Agama, dengan fokus pada pendidikan agama Islam. Meskipun setara TK. RA memiliki kurikulum yang lebih menekankan aspek agama. Guru RA harus memperhatikan kurikulum PAUD yang bertujuan meningkatkan 6 aspek perkembangan anak usia dini, salah satunya adalah aspek agama dan moral (Ghina & Ningsih, 2. Hal ini juga menjadi tantangan lebih bagi para guru di jenjang RA untuk menanamkan nilai-nilai moral yang sejalan dengan pendidikan agama Islam. Saat ini anak-anak didik yang menjalani pendidikan di RA termasuk dalam golongan generasi Alpha. Generasi Alpha adalah anak-anak yang lahir sekitar 2010 hingga 2025 yang Atika Mentari Nataya Nasution1. Persepsi Guru Raudhatul AnfalA Jurnal Genta Mulia . tumbuh dalam konteks sosial yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Beberapa kekhasan yang ditemui pada Generasi Alpha adanya pengaruh digital yang sangat besar dimana internet dan media sosial adalah bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. samping itu, ketergantungan pada gadget kadang membuat interaksi emosional secara langsung menjadi kurang matang yang turut mempengaruhi perkembangan moral Hal ini juga membawa tantangan baru dalam membentuk moralitas berbasis nilai lokal atau tradisional. Perkembangan moral anak dari sudut pandang psikologi menjelaskan bagaimana anak memahami, menilai, dan merespons nilai-nilai moral seiring pertumbuhan usianya. Salah satu tokoh awal yang mengkaji perkembangan moral adalah Jean Piaget, yang membagi perkembangan moral anak menjadi dua tahap utama: moral heteronom dan moral otonom. Pada tahap heteronom . sia sekitar 4Ae7 tahu. , anak menganggap aturan sebagai sesuatu yang tetap dan tidak bisa diubah, serta menilai perbuatan berdasarkan akibatnya, bukan Sementara itu, pada tahap otonom . ekitar usia 10 tahun ke ata. , anak mulai memahami bahwa aturan diciptakan oleh manusia dan dapat berubah, serta mulai menilai tindakan berdasarkan niat pelakunya (Santrock, 2. Melanjutkan gagasan Piaget. Lawrence Kohlberg menyusun teori perkembangan moral yang lebih kompleks, mencakup enam tahap dalam tiga tingkat utama: prakonvensional, konvensional, dan pascakonvensional. Pada tingkat prakonvensional, anak mematuhi aturan karena takut hukuman atau mengharapkan imbalan. Tingkat konvensional mencerminkan kepatuhan terhadap norma sosial, seperti keinginan untuk menyenangkan orang lain dan menjaga ketertiban umum. Di tingkat pascakonvensional, individu mulai menilai moralitas berdasarkan prinsip-prinsip etika universal, meskipun kadang bertentangan dengan hukum yang berlaku (Kohlberg, 1981 dalam Santrock, 2. Carol Gilligan mengkritisi pendekatan Kohlberg yang dianggap bias terhadap sudut pandang laki-laki dan terlalu menekankan keadilan. Ia memperkenalkan pendekatan alternatif yang disebut etika perawatan, yang lebih menekankan pada kepedulian terhadap orang lain dan hubungan interpersonal. Gilligan menyusun perkembangan moral perempuan dalam tiga tahap: orientasi pada kelangsungan hidup diri, kepedulian terhadap orang lain, dan keseimbangan antara kepedulian terhadap diri sendiri dan orang lain (Gilligan, 2. Selain pendekatan kognitif. Albert Bandura melalui teori pembelajaran sosial menekankan bahwa perkembangan moral juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Anakanak belajar perilaku moral melalui pengamatan terhadap orang dewasa dan teman sebaya, kemudian menirunya dan memperkuatnya melalui penghargaan atau hukuman. Konsep self-regulation menjadi penting, yakni kemampuan anak untuk mengevaluasi dan mengarahkan perilaku moralnya sendiri. Sementara itu. Lev Vygotsky melihat perkembangan moral sebagai hasil dari proses sosialisasi dan interaksi sosial dalam konteks Ia menekankan pentingnya peran orang dewasa dalam membimbing anak melalui Zona Perkembangan Proksimal (ZPD), yaitu jarak antara apa yang dapat dilakukan anak sendiri dan apa yang bisa dicapai dengan bantuan. Melalui dialog, diskusi, dan bimbingan, nilai-nilai moral ditransmisikan dan dimaknai oleh anak secara bertahap (Santrock, 2. Beberapa indikator perkembangan moralitas anak usia dini yakni perilaku dan sikap yang menunjukkan perkembangan moral yang positif, seperti jujur, sopan, penolong, hormat, sportif, menjaga kebersihan, dan toleran. Selain itu, anak juga diharapkan mampu mengenal agama yang dianut dan membiasakan diri beribadah, serta mengetahui hari besar Jujur yaitu ketika anak mampu mengatakan apa adanya tanpa menutupi atau membohongi, baik tentang dirinya sendiri maupun tentang orang lain. Sopan ketika anak menunjukkan sikap yang sopan dan santun dalam berbicara dan bertindak, baik kepada orang dewasa maupun teman sebaya. Penolong ketika anak memiliki rasa empati dan bersedia membantu orang lain yang membutuhkan bantuan. Hormat ketika anak P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN : 2580-6416 | 49 Atika Mentari Nataya Nasution1. Persepsi Guru Raudhatul AnfalA Jurnal Genta Mulia . menghormati orang lain, termasuk orang tua, guru, dan teman sebaya. Sportif ketika anak bersikap sportif dalam permainan atau kompetisi, baik menang maupun kalah. Menjaga Kebersihan yaitu anak memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan Toleransi yaitu Anak menghargai perbedaan dan memiliki sikap toleran terhadap orang lain, termasuk perbedaan agama, suku, dan budaya. Mengenal Agama dan Beribadah yaitu anak mengenal agama yang dianut dan membiasakan diri beribadah sesuai dengan ajaran agama tersebut. Serta Mengetahui Hari Besar Agama ketika anak mengetahui harihari besar agama dan dapat merayakannya dengan baik. (Syamsudin, dkk. , 2. Anak memahami isu moral melalui proses yang bertahap sesuai dengan fenomena sosial dan relasi anak dengan lingkungannya (Pranoto & Khamidun, 2. Guru dan orang tua berperan dalam membangun nilai moral dan agama sebagai optimalisasi tumbuh kembang anak usia dini melalui pembiasaan dan penanaman nilai secara bertahap (Mulyadi, 2. Perkembangan moral Generasi Alpha dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk teknologi, lingkungan sosial, dan pendidikan. Meskipun mereka menghadapi tantangan, dengan bimbingan yang tepat dari orang tua, pendidik, dan masyarakat. Generasi Alpha memiliki potensi untuk tumbuh menjadi individu yang berempati, inklusif, dan memiliki nilai moral yang kuat. Persepsi guru mengenai perkembangan moral anak didik sangat penting karena persepsi tersebut akan memengaruhi cara guru merespons, membimbing, dan mengembangkan karakter anak secara sadar dan terarah. Guru yang memiliki pemahaman yang baik tentang tahapan dan kebutuhan perkembangan moral anak cenderung lebih efektif dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi pembentukan nilai-nilai moral yang positif (Basori, 2. Persepsi guru akan menentukan pendekatan pengajaran yang digunakan. Misalnya, guru yang memahami bahwa anak usia dini berada pada tahap pemikiran konkret dan cenderung menilai tindakan dari akibatnya, akan lebih sabar dalam menjelaskan alasan suatu perilaku benar atau salah, serta menggunakan metode konkret seperti cerita, permainan peran, atau simulasi sosial. Persepsi yang tepat memungkinkan guru menyesuaikan intervensi moral sesuai usia dan tingkat perkembangan anak. Guru yang keliru menilai kemampuan moral anak . isalnya, menganggap anak sudah mampu memahami prinsip etika abstra. bisa saja memberikan tuntutan yang tidak realistis, yang justru dapat membuat anak bingung atau merasa gagal. Lebih lanjut, persepsi guru yang positif terhadap potensi moral anak mendorong munculnya harapan yang konstruktif dan memperkuat motivasi intrinsik anak untuk berperilaku baik. Sebaliknya, guru yang memandang anak secara negatif cenderung memperlakukan anak dengan prasangka, yang berisiko memunculkan perilaku moral yang buruk karena efek labeling atau ekspektasi rendah . elf-fulfilling prophec. Selain itu, persepsi guru juga memengaruhi cara guru berkomunikasi dengan orang tua dan kolega, dalam rangka menyusun strategi bersama untuk mendukung perkembangan karakter anak. Ketika guru memiliki kesadaran penuh akan pentingnya moralitas, ia akan lebih proaktif dalam menjalin kemitraan yang mendukung lingkungan moral yang konsisten antara sekolah dan rumah (Sukmawati, 2. Dengan demikian, persepsi guru terhadap perkembangan moral anak tidak hanya berdampak pada proses pembelajaran, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam membentuk pribadi anak yang bermoral, empatik, dan bertanggung jawab sejak usia dini. METODE PENELITIAN Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode penelitian yang bertujuan untuk memahami makna dan menyelidiki fenomena yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Metode ini berpusat pada menggambarkan, eksplorasi dan kedalaman pemahaman pada fenomena (Creswell, 2. Menurut Poerwandari . metode penelitian kualitatif yang memberikan hasil deskripsi data berupa kata-kata tertulis P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN : 2580-6416 | 50 Atika Mentari Nataya Nasution1. Persepsi Guru Raudhatul AnfalA Jurnal Genta Mulia . mengenai perilaku dari partisipan yang diamati. Adapun jenis metode penelitian kualitatif pada penelitian ini adalah fenomenologi. Creswell . menjelaskan bahwa fenomenologi digunakan ketika peneliti hendak menggambarkan pengalaman individu terhadap suatu fenomena tertentu. Penggalian esensi dari pengalaman yang dirasakan individu menjadi fokus dari fenomenologi. Poerwandari . menjelaskan bahwa fenomenologi adalah jenis kualitatif yang tepat untuk menggali struktur pengalaman dan makna subjektif berdasarkan apa yang dialami individu secara langsung, bukan berdasarkan interpretasi orang lain. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Teknik ini digunakan guna mendapatkan partisipan dengan memiliki pengalaman, pengetahuan dan karateristik yang relevan dengan fenomena (Poerwandari, 2. Adapun kriteria dari partisipan yakni merupakan guru RA, memiliki pengalaman mengajar anak usia dini generasi alpha minimal 1 tahun. Jumlah partisipan yang memenuhi kriteria penelitian berjumlah 6 partisipan di RA Al-Barkah. Jalan Puskesmas. Kelurahan Tanjung Gusta. Kota Medan. Berikut tabel deskripsi subjek penelitian: Subjek Tabel 1. Deskripsi Subjek Penelitian Usia Jenis Kelamin Lama Bekerja 28 thn 6 tahun 23 thn 1 tahun 22 thn 2 tahun 40 thn 7 tahun 22 thn 1 tahun 22 thn 3 tahun Peneliti melakukan pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumen pendukung. Wawancara dilakukan adalah jenis wawancara semi terstruktur. Wawancara ini menggunakan panduan pertanyaan utama tetapi masih memungkinkan peneliti untuk bisa mengeksplorasi jawaban partisipan lebih lanjut (Creswell, 2. Observasi yang digunakan adalah observasi non partisipatif yang berarti penelitian tidak terlibat atau berpartisipasi pada situasi yang diamati (Creswell, 2. Dokumen pendukung yang digunakan adalah catatan harian guru mengenai perilaku anak di kelas sehari-harinya. Kemudian peneliti melakukan analisa data yang telah didapat. Menurut Poerwandari . langkah analisis data kualitatif fenomenologi dimulai dengan membaca data menyeluruh untuk mendapatkan kesan umum, lalu peneliti mengidentifikasi pernyataan yang signifikan untuk mencerminkan makna pengalaman partisipan. Setelah itu, peneliti mengelompokkan pernyataan tersebut dalam tema-tema bermakna. Hal ini dilanjutkan dengan mengorganisasikan tema menjadi deskripsi naratif untuk menjelaskan makna pengalaman tersebut. Terakhir, peneliti menggambarkan esensi pengalaman beradasarkan tema yang ditemukan. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan analisa data yang dilakukan oleh peneliti diperoleh bahwa secara umum guru RA Al-Barkah memiliki persepsi positif terhadap perkembangan moral generasi alpha usia dini yang menjadi anak didik mereka. Hal ini tergambarkan melalui empat tema mengenai perkembangan moral anak usia dini, yakni perilaku jujur, perilaku kesopanan dan hormat, perilaku tolong menolong dan toleransi, dan perilaku kepatuhan. Perilaku Kejujuran Keenam subjek penelitian memiliki kesamaan persepsi mengenai kejujuran pada siswanya yakni perilaku kejujuran mulai tumbuh dan berkembang. Hal ini diwujdukan dari P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN : 2580-6416 | 51 Atika Mentari Nataya Nasution1. Persepsi Guru Raudhatul AnfalA Jurnal Genta Mulia . kejujuran akan perasaan, kejujuran akan menyampaikan pendapat, kejujuran dalam penyelesaian tugas, kejujuran akan kepemilikan barang. Subjek MF menjelaskan bahwa perilaku kejujuran pada siswa dikelasnya tercermin ketika adanya perselisihan di dalam kelas. Bila ada perselisihan, siswa dengan jujur menceritakan kronologi. Kemudian, subjek HH menjelaskan bahwa kejujuran ditunjukkan dengan siswa mengembalikan benda yang menjadi fasilitas kelas, misal poster atau alat Subjek SN mendeksripsikan perilaku kejujuran pada siswa di kelasnya berupa siswa menjaga kepemilikan barang masing-masing. Bila ada barang teman yang bukan milik sendiri maka siswa tidak akan mengambilnya. Pada subjek YL menjelaskan perilaku kejujuran tampak dari keberhasilan siswa mengerjakan tugas dari guru. Misalnya, siswa mengangkat tangan ketika ia sudah selesai menulis huruf-huruf hijaiyah dengan lengkap. Bila siswa belum selesai menulis huruf hijaiyah maka siswa tidak mengangkat tangan. Perilaku ini juga tecermin pada penjelasan subjek DS bahwa siswa jujur bila memerlukan bantuan guru untuk mengerjakan tugas, dan siswa jujur bila ia telah berhasil menyelesaikan tugas dari guru. Kemudian, pada subjek FA, kejujuran siswa ditunjukkan siswa menyimpan barang miliknya sendiri sesuai dengan tempatnya masing-masing. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Noviransyah, dkk . bahwa pada anak usia dini adalah masa perkembangan ketika nilai kejujuran mulai ditanamkan untuk membangun karakter dan membentuk pribadi yang baik. Beberapa indikator perilaku kejujuran pada anak usia dini, yakni: . anak mengerti mana milik pribadi dan milik Bersama, . anak mau merawat dan menjaga benda milik bersama, . anak terbiasa berkata jujur, . anak mengembalikan benda miliki orang lain, . anak mau mengakui kesalahan, . anak bersedia meminta maaf jika salah, dan memaafkan teman yang berbuat Perilaku Kesopanan dan Hormat Keenam subjek penelitian tidak hanya mendeskripsikan persepsi positif tetapi juga terdapat persepsi negatif terkait perilaku kesopanan dan hormat pada siswanya. Perilaku kesopanan pada siswa terwujud pada pemakaian bahasa yang sopan saat berkomunikasi dengan guru dan teman, tidak menggunakan kata umpatan, bersalaman dengan guru saat berjumpa, mulai menanamkan perilaku mengucapkan kata permisi atau maaf. Subjek MF menjelaskan bahwa perilaku kesopanan dan hormat pada siswa dikelasnya tercermin ketika berkomunikasi dengan guru, siswa menggunakan kata sapaan yang sopan dan baik. Hanya saja, guru mendengar ketika siswa berbicara bersama temannya, terkadang muncul kata-kata yang tidak sopan . eperti: kata bodo. Guru selalu berupaya untuk terus mengingatkan siswa agar menggunakan kata yang sopan. Kemudian, subjek HH menjelaskan bahwa kesopanan dan hormat ditunjukkan dengan siswa dengan perilaku siswa saat berada di dalam kelas. Saat berbicara dengan guru, siswa sudah konsisten menggunakan bahasa dan pemilihan kata yang sopan. Akan tetapi, beberapa perilaku yang tidak mencerminkan kesopanan masih terjadi, misalnya siswa duduk dengan mengangkat satu kaki, dan siswa tertidur saat pelajaran sedang berlangsung. Menurut subjek SN, perilaku kesopanan dan hormat pada siswa di kelasnya tecermin dengan para siswa mengucapkan salam ketika masuk ke dalam kelas, menggunakan kata panggilan yang sopan kepada guru dengan memanggil AuUmiAy. Pada subjek YL menjelaskan perilaku kesopanan dan hormat siswa tercermin saat siswa berinteraksi dengan guru. Menurut subjek YL, siswa menggunakan kata yang sopan, mengucapkan kata terima kasih bila guru selesai menilai tugas. Akan tetapi, masih ditemukan adanya kata yang kurang sopan bila berbicara dengan teman . isal: penggunaan kata gaul yang tidak jelas artiny. Perilaku ini juga tecermin pada penjelasan subjek DS bahwa siswa sering sekali menggunakan kata yang didapat mereka dari media sosial untuk P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN : 2580-6416 | 52 Atika Mentari Nataya Nasution1. Persepsi Guru Raudhatul AnfalA Jurnal Genta Mulia . disampaikan kepada teman-temannya. Saat ditanyakan mengenai arti dari kata tersebut, siswa mengakui tidak mengetahui jelas makna dari kata tersebut. Kemudian, pada subjek FA, perilaku kesopanan dan hormat pada siswa lebih jelas terlihat dari interaksi guru dan Bila bersama guru, siswa cenderung menggunakan kata-kata yang sopan dan positif. Setyarum . menjelaskan bahwa karakter-karakter kesopanan ditanamkan sejak usia Pada anak usia dini, mulai mengembangkan perilaku kesopanan dan hormat kepada yang lebih tua . rang tua, guru, kakak atau aban. Beberapa perilaku yang mencerminkan karakter moral kesopanan pada anak usia dini adalah pembiasaan mengucapkan kata AuPermisiAy, pembiasaan mengucapkan kata AuMaafAy, dan pembiasaan mengucapkan AuTolong dan Terima KasihAy saat berbicara dengan orang lain. Kemudian, berdasarkan penelitian dilakukan Umrah, dkk . ditemukan bahwa terdapat pengaruh media sosial . terhadap perilaku sopan santun anak usia 5 Ae 6 Tahun. Anak usia dini mudah sekali menyerap informasi-informasi yang tersebar dalam media sosial, termasuk pemakaian bahasa yang tidak baik dalam berkomunikasi. Mereka cenderung meniru perilaku orang yang dilihat mereka di media sosial ke kehidupan nyata. Anak usia dini memiliki kemampuan penyaringan informasi yang rendah. Hal ini berarti dibutuhkan peran orang tua dan guru dalam pemakaian bahasa yang sopan dalam berinterkasi dengan orang lain. Perilaku Tolong Menolong dan Toleransi Keenam subjek penelitian mendeskripsikan persepsi positif terhadap perilaku tolong menolong dan toleransi. Perilaku tolong menolong dan toleransi pada siswa terwujud pada bersedia untuk membantu teman kelas yang sedang mengalami kesulitan, tidak mengejek bila ada teman yang berbeda kondisi fisik, tidak mengejek bila ada teman yang salah di dalam kelas, bersedia bermain kelompok dengan sportif. Pada subjek YL mendeskripsikan bahwa di kelas yang diampu oleh dirinya terdapat satu siswa yang memiliki perbedaan secara kemampuan dibandingkan teman di kelasnya. Siswa tersebut memiliki kondisi yang kurang lancar berbicara dan tangan sebelah kiri yang Meskipun demikian, siswa tersebut tidak pernah mendapatkan ejekan atau perlakuan yang berbeda dari teman di kelasnya. Hal ini juga disampaikan oleh subjek SN, bahwa di kelasnya bahkan siswa mau membantu temannya memiliki kondisi yang berbeda, misal membantu untuk mengeja huruf. Selain itu. SN juga menjelaskan bahwa siswa mau bekerja sama untuk membersihkan kelas. Subjek MF menjelaskan ia merasakan kekompakkan siswa di kelas yang diampunya. Siswa bersedia untuk saling membantu sama lain, tidak mengejek dan menindas teman yang salah. Siswa di dalam kelas tidak pernah berselisih yang berarti . idak melibatkan fisik atau intimidasi verba. Sesekali, ada kesalahpahaman, akan tetapi hal tersebut dapat teratasi dengan baik. Kemudian, subjek HH menjelaskan bahwa perilaku tolong menolong dan toleransi pada siswa tecermin pada perilaku siswa yang prihatin bila ada teman yang sakit atau terluka saat bermain. Siswa berinisiatif mengajak guru untuk berkunjung ke rumah siswa yang sedang sakit. Siswa juga berinisiatif untuk membantu teman yang sedang terluka dengan mengambil obat antiseptik yang berada di dalam kelas. Subjek FA menjabarkan bahwa perilaku tolong menolong dan toleransi berkembang positif pada siswa. Pada saat waktu istirahat kelas. FA melihat siswa mau berbaur satu sama lain tanpa adanya membedakan satu sama lain. FA menilai bahwa siswa juga bersedia untuk tolong menolong bila ada siswa lain membutuhkan bantuan, misalnya saling berbagi makanan dan membantu teman yang jatuh. Kemudian, subjek DS mendeskripisikan perilaku tolong menolong dan toleransi siswa baik yang terwujud dengan perilaku siswa yang mau membantu temannya bila sedang mencari barang yang hilang. Bila siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil, siswa tidak mengejek satu sama lain bahkan tetap bekerja sama meski berbeda kelompok. P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN : 2580-6416 | 53 Atika Mentari Nataya Nasution1. Persepsi Guru Raudhatul AnfalA Jurnal Genta Mulia . Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Matondang . bahwa perilaku prososial pada anak usia dini seperti perilaku berteman, perilaku berbagi, perilaku membantu, perilaku bekerja sama, dan perilaku peduli berkembang saat anak-anak berinteraksi sosial dengan teman usia 3 Ae 6 tahun. Kemudian, hasil penelitian dari Susanti, dkk . mendeskripsikan bahwa perilaku prososial pada anak usia dini sedang masa perkembangan seiring dengan berkembangnya kemampuan fisik, kognitif, sosial dan emosional serta moral anak. Adapun perilaku prososial yang mulai berkembang pada anak usia dini adalah perilaku membantu, perilaku berbagi, dan perilaku menghibur. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan Ormord . mengemukakan bahwa pada awal masa kanak-kanak, anak cenderung menunjukkan rasa empati terhadap teman sebaya. Pada generasi alpha usia dini, perkembangan perilaku prososial tidak lepas dari peran era digital. Perkembangan perilaku prososial pada anak usia dini umunya adalah perilaku perduli , berbagi, dan menolong orang lain. Ditemukan pada generasi alpha, pemanfaatan media digital . isalnya: youtube ) dapat membantu meningkatkan perilaku prososial anak usia dini generasi alpha dengan baik (Syah dan Hermanto, 2. Perilaku Kepatuhan Keenam subjek penelitian mendeskripsikan persepsi positif terhadap perilaku kepatuhan anak usia dini. Perilaku kepatuhan dinilai dari perilaku anak mematuhi aturan di sekolah, seperti : memakai seragam sekolah, membuang sampah di tempat sampah, mengikuti instruksi guru selama pembelajaran, mulai mematuhi aturan agama. Subjek MF menjelaskan bahwa perilaku kepatuhan siswa terwujud pada perilaku siswa yang memenuhi aturan berperilaku selama di sekolah. MF menjelaskan di dalam kelas, siswa selalu menuruti perintah dan instruksi dari guru, misalnya membaca buku sesuai arahan guru. Kemudian, subjek HH menjelaskan bahwa perilaku kepatuhan tercermin dari perilaku disiplin siswa, yakni memakai seragam sekolah dengan rapi, datang tepat waktu, serta menuruti nasihat dari guru. Menurut subjek SN, perilaku kepatuhan siswa dinilai dari kemauan siswa mempelajari ibadah dan nilai-nilai Islami, misalnya berdoa, mengucapkan salam, dan belajar shalat. Pada subjek YL menjelaskan perilaku kepatuhan pada siswa terlihat dari tidak pernah ada keluhan yang berarti mengenai perilaku siswa. YL menyadari bahwa ia sebagai guru anak usia dini dituntut untuk memahami perilaku anak usia dini yang sedang berkembang yakni melakukan eksplorasi. Siswa usia dini cenderung terlihat lebih aktif dibandingkan peserta didik pada jenjang yang lebih tinggi. Akan tetapi, perilaku ekspolrasi ini bukanlah perilaku tidak patuh. Misalnya meskipun di kelas terlihat ada beberapa siswa yang tidak duduk pada tempatnya, akan tetapi jika guru menegur, siswa tersebut langsung menuruti perintah guru agar duduk di tempatnya. Perilaku ini juga tecermin pada penjelasan subjek DS bahwa siswa masih membutuhkan himbauan dan instruksi dari guru untuk lebih patuh terhadap aturan-aturan. Kemudian, pada subjek FA, perilaku kepatuhan dinilai dari tidak pernah ada siswa yang menentang dirinya terkait aturan-aturan di kelas, misal berapa banyak tugas yang diberikan. Siswa juga mendengarkan nasihat-nasihat tentang agama islam. Abdullah . menjelaskan bahwa perilaku kepatuhan didefinisikan sebagai perilaku yang mengikuti dna memenuhi perintah dan aturan. Pada anak usia dini, perilaku kepatuhan sedang mulai berkembang. Anak usia dini mulai mengenal adanya instruksi dan aturan dari orang lain selain orang tuanya. Meskipun anak sedang berjuang untuk memahami abstraksi dari sebuah instruksi dan aturan, akan tetapi seiring dengan berkembangnya kognitif mereka akan paham dan bisa mengikuti intruksi yang kompleks. Perilaku kepatuhan anak usia dini tecerminkan pada kedisplinan mereka dalam mengikuti aturang di lingkup kecil misalnya setting kelas. Anak usia dini juga akan lebih mudah P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN : 2580-6416 | 54 Atika Mentari Nataya Nasution1. Persepsi Guru Raudhatul AnfalA Jurnal Genta Mulia . mematuhi aturan yang sederhana dan konkrit sehingga perilaku kepatuhan akan lebih sering muncul. SIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan dari penelitian ini adalah guru RA memiliki persepsi yang positif terhadap perkembangan moral anak usia dini generasi alpha. Persepsi positif didapat berdasarkan perilaku anak yang tercermin melalui empat perilaku yakni perilaku jujur, perilaku kesopanan dan hormat, perilaku tolong menolong dan toleransi, dan perilaku Meskipun demikian, terdapat beberapa keluhan dalam hal perilaku kesopanan. Hal ini dikarenaka perkembangan moral pada anak usia dini masih mulai terbentuk dan Anak cenderung mudah mengikuti hal-hal yang sering dilihatnya misalnya perilaku orang yang dilihat di sosial media. Oleh karena itu, dibutuhkan peran suportif dari orang tua dan guru demi meningkatkan perkembangan moral anak usia dini lebih baik dan DAFTAR PUSTAKA