Suhariyanto Peningkatan Keterampilan Menulis Teks Cerita Moral (Fabe. dan Prestasi Belajar. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 1, . Peningkatan Keterampilan Menulis Teks Cerita Moral (Fabe. dan Prestasi Belajar Bahasa Indonesia dengan Metode Inkuiri Peserta Didik Kelas Vi F SMPN 2 Bandar Mataram Suhariyanto SMPN 2 Bandar Mataram. Lampung Tengah smpn2@gmail. Abstract: The study aims to dscribe the write moral value tex by method of inquiry students Vi F SMPN 2 Bandar Mataram. Based on the analysis that has been reduction, display, and verification of data. Data colletion tes and non tes. Results and discussion write narrative of tex students Vi F SMPN 2 Bandar Mataram: . theme tex, . the story tex, . figures, . background drawing, . message story . sturctuce tex, . background society. background wites, . value moral tex. Prosessing ability write eksposition tex since prasiclus, siclus I, siclus II, and siclus i to significant. Learning achievement prasiclus 5,93%, siclus I 7,51%, siclus II 8,48%, and siclus i 8,86%. The completness prasiclus 2 . ,89%), siclus I8 . ,06%, siclus II 26 . ,65%, siclus i 100%. Keywords: moral, fabel, learning achievement, inquiry method PENDAHULUAN Proses pembelajaran bahasa Indonesia peserta didik kelas Vi F SMP Negeri 2 Bandar Mataram tahun pelajaran 2017/2018 hakikatnya adalah belajar berkomunikasi dengan perkataan atau tulisan, oleh karena itu pada akhirnya kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia memiliki tujuan antara lain: peserta didik mampu membaca,berbicara,menyimak, dan mendengarkan yang hasil akhir berupa mampu menuliskan paragraf untuk menjadi sebuah teks. Teks cerita moral/fabel ini berisi ungkapan untuk mengambarkan watak dan budi manusia yang peluknya diperankan oleh binatang. Maksud dari teks cerita moral/fabel mengajak peserta didikkelas Vi F untuk memberikan penjelasan pembaca agar melakukan sesuatu menarik para pembacanya. Berkaitan dengan hal tersebut, inti pembelajaran bahasa Indonesia adalah peserta didik kelas Vi F memiliki keterampilan untuk menulis khususnya teks cerita moral/fabel (Wicaksono et al, 2. Menurut Undangundang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 Pasal 1 . Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian. Suhariyanto Peningkatan Keterampilan Menulis Teks Cerita Moral (Fabe. dan Prestasi Belajar. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 1, . kecerdasan, akhlak mulia, keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Peserta didik masih terfokusnya pada pengerjaan LKS, seharusnya dilakukan pembimbingan secara berkesinambungan agar peserta didik kelas Vi F SMP Negeri 2 Bandar Mataram mampu menulis teks cetira moral/fabel. Kenyataan yang ada peserta didik Vi F SMP Negeri 2 Bandar Mataram merasa kesulitan untuk membuat teks cerita moral/fabel, salah satu penyebabnya adalah kurang terlatih dan kurang bisa membedakan bentuk atau jenis teks yang terdapat pada pembelajaran bahasa Indonesia. Berkaitan dengan hal tersebut teks cerita moral/fabel sebagaimana yang dinyatakan oleh Poerwadarminta . mengatakan teks cerita moral/fabel berisi cerita yang menggambarkan watak dan budi manusia yang diperankan oleh hewan. kejadian atau fenomena yang diungkapkan kepada pembaca atau pendengar (Wicaksono, 2. Lebih jauh. Danandjaya . mengatakan bahwa teks cerita moral/fabel tokohnya binatang peliharaan dan hewan liar yang dapat berbicara dan berakal budi seperti manusia. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut kebanyakan peserta didik masih merasa kesulitan dalam hal menulis teks moral/fabel, baik tulisan secara umum maupun menulis teks cerita moral/fabel yang sesuai dengan kaidah struktur teks moral/fabel. Berdasarkan pemaparan di atas, dapat dirumuskan masalah penelitian adalah sejauh mana keterampilan peserta didik Vi F SMP Negeri 2 Bandar Mataram untuk menulis teks cerita moral/fabel dan metode Inkuiri dapat meningkatkan keterampilan peserta didik dalam menulis teks cerita moral/fabel. Untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan penelitian digunakan teori yang mendukung berkaitan dengan teks cerita moral/fabel. Keterampilan menulis teks cerita moral/fabel peserta didik kelas Vi F perlu bimbingan dan latihan secara terus menerus dan berkesinambungan. Menurut Tarigan . 3: . , keterampilan menulis suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain. Menulis merupakan kegiatan yang produktif dan ekspresif. Berkaitan dengan hal tersebut. Nurgiantoro . mengatakan bahwa cerita binatang . adalah cerita dengan tokoh binatang. Sudarmadji . mengemukanan bahwa fabel adalah cerita tengang dunia binatang/hewan dan tumbuhan, cerita tersebut seolah-olah seperti manusia pada umumnya. Dapat dijelaskan bahwa teks cerita moral/fabel adalah teks kisah fiksi ,bukan kisah kehidupan nyata. Oleh sebab itu, teks cerita moral karena diinformasikan dalam cerita fabel berkaitan dengan aspek moralitas. Teks cerita moral/fabel sebagai kesatuan ekspresi bahwa yang didasarkan pada konten tata bahasa dan paragraf. Menurut Sugihastuti . 3: 25-. , teks fabel dikatakan juga sebagai bacaan persuasive, paling utama terpaut dengan akseptor, pembaca atau dalam perihal komunikasi lidah yang menyangkut audiens. Sifat persuasif biadanya menjadi teks moral/fabel sebagai teks pendidikan yang mengjaarkan dan Suhariyanto Peningkatan Keterampilan Menulis Teks Cerita Moral (Fabe. dan Prestasi Belajar. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 1, . Lebih jauh. Fathurohman dan Sulistyorini . menyatakan sebagai berikut: teks moral/fabel pasti memiliki nilai moral dan etika yang bisa Berkaitan dengan hal tersebut. Danandjaya . alam Fathurohman dan Sulistyorini, 2014:. mengatakan bahwa teks cerita moral/fabel umumnya identitas binatang buas, binatang peliharaan, binatang lain . emut, pupa, lebah, dan kupu-kup. Berdasarkan pendapat di atas, mengisyaratkan kita bahwa teks fabel bersifat . bertokoh fauna dengan tindakan atau aksi lain yang menyerupai orang, . bersifat persuasif, maknanya mengajak pembaca untuk melaksanakan kebaikan, dan . secara umum tidak terlalu panjang dengan harapan mempermudah pembaca untuk mengambil hikmah atas nilai-nilai moral yang cepat dan cocok. Struktur teks moral/fabel termasuk jenis teks sastra narasi karena menggambarkan pada situasi yang tidak sebenarnya. Berkaitan dengan hal tersebut. Sudarwati dan Grace . menyatakan sebagai berikut. Orientasi, memperkenalkan cerita dengan memperkenalkan tokoh dan tempat terjadinya Komplikasi, permulaan masalah antar tokoh dalam fabel, meliputi: situasi, peristiwa atau peristiwa yang membawa cerita ke klimaks. Klimaks, puncak inti permasalahan diantara tokoh-tokoh dalam fabel. Terakhir, resolusi: pemecahan masalah yang dihapai para tokoh yang merupakan akhir dari cerita. Zabadi . mengatakan bahwa tokoh teks moral/fabel yaitu . bagian awal yang memuat identifikasi kepribadian , lokasi, suasana dan setting waktu, dan prefix tahapan selanjutnya, . komplikasi: bagian kalimat dimana kepribadian mengalami permasalahan, permasalahan harus dibuat,. bagian ini adalah perkembangan dari komplikasi untuk menuntaskan permasalahan, . koda: perubahan karakter para tokoh dan pelajaran yang dapat dipetik dari Struktur teks moral/fabel berorientasi pada kepribadian dari tokoh yang ditampilkan dimana penuntasan masalah harus diselesaikan serta kepribadian tokoh-tokoh yang ditampilkan dapat diambil dari akhir cerita. Sedangkan menurut Rahman . 8: . menyatakan bahwa struktur teks fabel harus menjelaskan segala informasi atau pengetahuan, menggunakan gaya informasi yang persuasive atau mengajak, penyampaian secara lugas dan menggunakan bahasa baku, tidak memaksakan kehendak atau pemihakan serta menyajikan sebuah fakta sebagai alat kontritasi dan kontribusi. Berkaitan dengan hal di atas. Fathurohman dan Sulistyorini . 2: . mengatakan bahwa prestasi belajar adalah penilaian hasil usaha kegiatan belajar yang dinyatakan dalam bentuk symbol,angka, huruf maupun kalimat yang mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh peserta didik. Sedangkan menurut Syah . 1: . , prestasi belajar adalah tingkat keberhasilan siswa mencapai tjuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program. Prestasi belajar tersebut merupakan bukti pencapaian hasil belajar peserta didik dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapai. Pendapat lain dinyatakan Slameto . yang mengatakan belajar merupakan proses yang dilakukan oleh seseorang untuk Suhariyanto Peningkatan Keterampilan Menulis Teks Cerita Moral (Fabe. dan Prestasi Belajar. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 1, . memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Menurut Djamarah . , istilah prestasi belajar digunakan untuk menunjukkan berbagai pencapaian kegiatan atau usaha. Prestasi belajar merupakan hasil penilaian pendidikan tentang kemampuan siswa setelah melakukan ativitas Berdasarkan pendapat tersebut dapat dijelaskan bahwa prestasi belajar adalah perubahan perilaku dalam pelajaran menerapkan konsep dan dan mendesiminasikan materi belajar. Prestasi belajar merupakan bukti keberhasilan atas usahanya sendiri dalam pembelajaran. Berkaitan dengan hal tersebut. Sofyan . mengatakan inkuiri adalah suatu proses untuk mendapatkan informasi dengan cara melakukan observasi atau eksperimen guna mencari jawaban maupun pemecahan suatu masalah terhadap pertanyaan atau rumusan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir kritis dan logis. Sedangkan menurut Sitiatava . 3: . , inkuiri sebagai aktivitas beraneka ragam yang meliputi observasi, membuat pertanyaan, merencanakan, mengumpulkan alat, mengintepretasi data, mengajukan jawaban penjelasan, dan mengkomunikasikan. Pendapat ini memberikan penjelasan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia model Inkuiri bertujuan untuk menemukan dan memecahkan masalah dalam pembelajaran bahasa Indonesia khususnya membuat teks cerita moral/fabel. METODE Sesuai dengan masalah penelitian yang diajukan, jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Dalam hal ini penulis mendeskripsikan secara sistematis, faktual, dan akurat yang berkaitan dengan fenomena pembelajaran menulis teks cerita moral/fabel. Penelitian dilakukan di SMP Negeri 2 Bandar Mataram, kelas Vi F dengan jumlah peserta didik 29 orang tahun pelajaran 2017/2018. Sumber data peneltian diperoleh dari kehadiran, nilai ulangan harian, hasil lembar kerja peserta didik, responden sebagai subyek peneltian dan kolaborator sebagai mitra, yang dijadikan sebagai sumber data di lapangan selama kegiatan penelitian berlangsung. Teknik dan alat pengumpulan data dengaan teknik tes dan non tes. Tes digunakan untuk melihat keberhasilan pembelajaran bahasa Indonesia, dan non tes menggunakan observasi dan domkumentasi. Analisis data yang diperoleh melalui tiga tahapan, yaitu: . reduksi data . penyajian data, dan . penarikan kesimpulan . erifikasi dat. Pelaksanaan penelitian tindakan dilaksanakan di SMP Negeri 2 Bandar Mataram pada kelas Vi F semester ganjil tahun pelajaran 2017/2018 Pada kegiatan penelitian penulis mengamati aktivitas dengan lembar observasi pada setiap pertemuan yaitu menggunakan 3 siklus. Proses pembelajaran bahasa Indonesia perencanaan,pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi dengan waktu yang digunakan 2 kali pertemuan . x45 meni. setiap siklus. Adapun prosedur penelitian tindakan menurut Arikunto . terdiri atas 4 tahapan, yaitu: Suhariyanto Peningkatan Keterampilan Menulis Teks Cerita Moral (Fabe. dan Prestasi Belajar. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 1, . Tahap perencanaan tindakan . Tahap pelaksanaan tindakan . Tahap pengamatan . Refleksi . HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian tindakan kelas dilakukan pada kelas Vi F SMP Negeri 2 Bandar Mataram. Berdasasarkan hasil penelitian diperoleh data-data sebagai berikut. Siklus I Hasil observasi dan penilaian pada tanggal 24, 31 Juli 2017 dan 7 Agustus 15 Ae 08. 45 oleh teman sejawat menggunakan instrument daftar cek list terkait dengan proses pembelajaran dan keterlaksanaan pembelajaran keterampilan menulis teks cerita moral/fabel peserta didik terdiri dari sepuluh indikator yang dinilai terjadi peningkatan secara merata, yaitu: keterampilan menulis dengan . tema teks pada prasiklus 75,86 , pada siklus I mendapat 100 terjadi peningkatan sebesar 24,14%, . alur cerita pada prasiklus mendapat 48,27, pada siklus I menjadi 93,10, terjadi peningkatan sebesar 44,83%, . tokoh/penokohan pada prasiklus mendapat 62, pada siklus I menjadi 79,31 terjadi peningkatan sebesar 17,31%, . penggambaran latar pada prasiklus mendapat 65,51, pada siklus I menjadi 75,86, terjadi peningkatan sebesar 10,35%, . amanat/pesan cerita pada prasiklus mendapat 48,27 pada siklus I menjadi 86,20, terjadi peningkatan sebesar 37,93%, . struktur teks prasiklus 55,17, pda siklus I mendapat 79,31, meningkat sebesar 24,14%, . ejaan,tanda baca prasiklus 58,62, siklus I 79,31, meningkat 20,69%, . latar belakang masyarakat prasiklus 65,51, siklus I 65,51, terjadi stagnan, . latar belakang penulis prasiklus 55,17, siklus I 68,96, meningkat sebesar 13,79%, dan . nilai yang terkndung prasiklus 62, siklus I 79,31, meningkat 17,31%. Peningkatan keterampilan menulis teks cerita moral/fabel prasiklus ke siklus I total persentase sebesar 21,04%. Sedangkan prestasi belajar belajar peserta didik rata-rata pada prasiklus 5,93, pada siklus I menjadi 7,51 meningkat sebesar 1,58%. Nilai tertinggi pada prasiklus 80 pada siklus I menjadi 80 terjadi stagnan. Nilai terendah pada prasiklus 40 pada siklus I menjadi 60 meningkat sebesar 20%. Ketuntasan belajar pada prasiklus 6,89% pada siklus I menjadi 62,06% meningkat sebesar 55,17%. Setelah dilaksanakan tindakan pada siklus I dapat diketahui hasil kemampuan peserta didik Vi F dalam menulis teks cerita moral/fabel yang terdiri dari indikator . tema teks, . alur cerita, . penggambaran tokoh/penokohan, . penggambaran latar, . amanat/pesan cerita, . struktur teks, &0 ejaan,tanda baca, . latar belakang masyarakat, . latar belakang penulis, dan . nilai yang terkandung terjadi peningkatan yang signifikan, hal ini terlihat pada kondisi prasiklus dan siklus I. Langkah yang dilakukan adalah memperbaiki indikator yang dirasa belum ada peningkatan, melakukan koordinasi dan konsultasi dengan teman sejawat, memperbaiki media yang digunakan pada pertemuan siklus berikutnya. Suhariyanto Peningkatan Keterampilan Menulis Teks Cerita Moral (Fabe. dan Prestasi Belajar. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 1, . Siklus II Hasil observasi dan penilaian pada tanggal 14, 21 dan 28 Agustus 2017 15 Ae 08. 45 oleh teman sejawat menggunakan instrument daftar cek list terkait dengan proses pembelajaran dan keterlaksanaan pembelajaran. keterampilan menuis teks cerita moral/fabel peserta didik terdiri sepuluh indikator yang dinilai terjadi peningkatan secara merata, yaitu: keterampilan menulis dengan . tema teks pada siklus I mendapat 100 , pada siklus II mendapat 100 terjadi stagnan, . alur cerita pada siklus I mendapat 93,10, pada siklus II menjadi 100, terjadi peningkatan sebesar 6,9%, . tokoh/penokohan pada siklus I mendapat 79,31, pada siklus II menjadi 93,10 terjadi peningkatan sebesar 13,79%, . penggambaran latar pada siklus I mendapat 75,86, pada siklus II menjadi 96,55, terjadi peningkatan sebesar 20,69%, . amanat/pesan cerita pada siklus I mendapat 86,20 pada siklus II menjadi 96,55, terjadi peningkatan sebesar 10,35%, . struktur teks siklus I 79,31, pda siklus II mendapat 86,20, meningkat sebesar 689%, . ejaan,tanda baca siklus I 79,31, siklus II menjadi 93,10, meningkat 13,79%, . latar belakang masyarakat siklus I mendapat 65,51, siklus II 89,65, terjadi peningkatan 24,14%, . latar belakang penulis siklus I mendapat 68,96, siklus II 86,20, meningkat sebesar 17,24%, dan . nilai yang terkndung siklus I mendapat 79,31, siklus II 89,65, meningkat 10,34%. Peningkatan keterampilan menulis teks cerita moral/fabel siklus I ke siklus II total persentase sebesar 12,42%. Sedangkan prestasi belajar belajar peserta didik rata-rata pada siklus I mendapat 7,51, pada siklus II menjadi 8,48 meningkat sebesar 0,97%. Nilai tertinggi pada siklus I mendapat 80 pada siklus II menjadi 100 terjadi peningkatan sebesar 20%. Nilai terendah pada siklus I mendapat 60 pada siklus II menjadi 60 terjadi stagnan. Ketuntasan belajar pada siklus I mencapai 62,06% pada siklus II menjadi 89,65% meningkat sebesar 27,59%. Setelah dilaksanakan tindakan pada siklus II dapat diketahui hasil keterampilan peserta didik Vi F dalam menulis teks cerita moral/fabel yang terdiri dari indikator . tema teks, . alur cerita, . penggambaran tokoh/penokohan, . penggambaran latar, . amanat/pesan cerita, . struktur teks, &0 ejaan,tanda baca, . latar belakang masyarakat, . latar belakang penulis, dan . nilai yang terkandung terjadi peningkatan yang signifikan, hal ini terlihat pada kondisi prasiklus dan siklus II. Langkah yang dilakukan adalah memperbaiki indikator yang dirasa belum ada peningkatan, melakukan koordinasi dan konsultasi dengan teman sejawat, memperbaiki media yang digunakan pada pertemuan siklus berikutnya. Siklus i Observasi dan penilaian dilakukan pada tanggal 4, 11 dan 18 September 2017 pukul 07. 15 Ae 08. 45 oleh teman sejawat menggunakan instrument daftar cek list terkait dengan proses pembelajaran dan keterlaksanaan pembelajaran sebagai Keterampilan menulis teks cerita moral/fabel peserta didik terdiri dari sepuluh indikator yang dinilai terjadi peningkatan secara merata, yaitu: Suhariyanto Peningkatan Keterampilan Menulis Teks Cerita Moral (Fabe. dan Prestasi Belajar. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 1, . keterampilan menulis dengan . tema teks pada siklus II mendapat 100 , pada siklus i mendapat 100 terjadi stagnan, . alur cerita pada siklus II mendapat 100, pada siklus i menjadi 100, terjadi stagnan, . tokoh/penokohan pada siklus II mendapat 93,10, pada siklus i menjadi 93,10 terjadi stagnan, . penggambaran latar pada siklus II mendapat 96,55, pada siklus i menjadi 93,10, terjadi penurunan sebesar 3,45%, . amanat/pesan cerita pada siklus II mendapat 96,55 pada siklus i menjadi 96,55, terjadi stagnan, . struktur teks siklus II 86,20, pda siklus i mendapat 96,55, meningkat sebesar 10,35%, . ejaan,tanda baca siklus II 93,10, siklus i menjadi 96,55, meningkat 3,45%, . latar belakang masyarakat siklus II mendapat 89,65, siklus i 89,65, terjadi stagnan, . latar belakang penulis siklus II mendapat 86,20, siklus i 86,20, terjadi stagnan, dan . nilai yang terkndung siklus II mendapat 89,65, siklus i 89,65, terjadi stagnan. Peningkatan keterampilan menulis teks cerita moral/fabel siklus II ke siklus i total persentase sebesar 1,03%. Sedangkan prestasi belajar belajar peserta didik rata-rata pada siklus II mendapat 8,48, pada siklus i menjadi 8,86 meningkat sebesar 0,38%. Nilai tertinggi pada siklus II mendapat 100 pada siklus i menjadi 100 terjadi stagnan. Nilai terendah pada siklus II mendapat 60 pada siklus i menjadi 80 terjadi peningkatan sebesar 20. Ketuntasan belajar pada siklus II mencapai 89,65% pada siklus i menjadi 100% meningkat sebesar 10,35%. Setelah dilaksanakan tindakan pada siklus i dapat diketahui hasil keterampilan peserta didik Vi F dalam menulis teks cerita moral/fabel yang terdiri dari indikator . tema teks, . alur cerita, . penggambaran tokoh/penokohan, . penggambaran latar, . amanat/pesan cerita, . struktur teks, . ejaan,tanda baca, . latar belakang masyarakat, . latar belakang penulis, dan . nilai yang terkandung terjadi peningkatan yang signifikan, hal ini terlihat pada kondisi siklus II dan siklus i. Langkah yang dilakukan melakukan koordinasi dan konsultasi dengan teman Peningkatan yang terjadi signifikan, karena sebenarnya pada siklus i, peserta didik telah mencapai rata-rata KBM (Ketuntasan Belajar Minima. SIMPULAN Berdasarkan uraian pada pembahasan, dapat diambil simpulan bahwa: . Peningkatkan keterampilan menulis teks cerita moral/fabel peserta didik kelas Vi F SMP Negeri 2 Banadar Mataram dibutuhkan metode Inkuri, hal ini berdasarkan perolehan skor yang dilakukan pada saat proses pembelajaran bahasa Indonesia. Dengan metode Inkuiri, dapat meningkatkan keterampilan menulis teks cerita moral/fabel peserta didik kelas Vi F SMP Negeri 2 Bandar Mataram hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: . tema teks, . alur cerita, . penggambaran tokoh/penokohan, . penggambaran latar, . amanat/pesan cerita, . struktur teks, . ejaan,tanda baca, . latar belakang masyarakat, . latar belakang penulis, dan . nilai yang terkandung dalam menulis teks cerita moral/fabel dari prasiklus, siklus I, siklus II, dan siklus i meningkat secara signifikan. Hal ini dikarenakan metode inkuiri serta ketekunan pendidik dalam membelajarkan bahasa Indonesia Suhariyanto Peningkatan Keterampilan Menulis Teks Cerita Moral (Fabe. dan Prestasi Belajar. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 1, . khususnya dalam menulis teks cerita moral/fabel. Sedangkan prestasi belajar meningkat, hal ini dari hasil prasiklus rata-rata 5,93, siklus I menjadi 7,51. Siklus II menjadi 8,48 siklus i meningkat menjadi 8,86 peserta didik kelas Vi F SMP Negeri 2 Bandar Mataram Metro tahun pelajaran 2017/2018. DAFTAR PUSTAKA