Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 Characteristics of Teacher Professional Competence in Imam Al-Ghazali Perspective on Kitab IhyaAo Ulumuddin Siti Nur Holisa1,Ahmad Khumaidi2,M. Inzah3 Universitas Islam Zainul Hasan Genggong Article History: Received: 11/4/2025 Revised: 16/5/2025 Accepted: 7/6/2025 Published: 21/6/2025 Keywords: Teacher. Imam AlGhazali. IhyaAo Ulumuddin Kata Kunci: Guru. Imam AlGhazali. Ihya' Ulumuddin Correspondence Address: Abstract: Problems in the world of education often occur today. One of them is violence committed by teachers as a reasonable Based on these problems, this study aims to determine the characteristics of professional teacher competence according to Imam Al-Ghazali in the book Ihya AoUlumuddin. This study uses a qualitative approach with a type of library research based on the translation of the book IhyaAo Ulumiddin and various types of references such as books, journals, and articles that are relevant to the research being conducted. The results of this study show the characteristics of professional teacher competence according to Imam Al-Ghazali in the book Ihya AoUlumiddin including: First, giving affection to his students. Second, emulating the Prophet. Third, not leaving advice to his Fourth, teaching in a gentle way. Fifth, not demeaning other knowledge. Sixth, conveying understanding according to the level of understanding of his students. Seventh, conveying material clearly. Eighth, practicing his In addition, there are several factors that influence the professional competence of teachers, including academic qualifications, teaching experience, training and Abstrak Problematika dalam dunia pendidikan seringkali terjadi pada saat ini. Salah satunya adalah kekerasan yang dilakukan oleh guru sebagai tindakan hukuman yang wajar. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana karakteristik kompetensi profesional guru menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab IhyaA Ulumuddin. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan . iblary researc. yang didasarkan pada terjemahan kitab IhyaA Ulumiddin serta berbagai jenis referensi seperti bukubuku, jurnal, dan arikel yang relevan dengan penelitia yang sedang dilakukan . Hasil dari penelitian ini menunjukkan karakteristik kompetensi profesional guru menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab IhyaA Ulumiddin diantaranya :Pertama, memberikan kasih sayang terhadap siswa-siswinya. Kedua, meneladani Rasulullah. Ketiga, tidak meninggalkan nasehat terhadap siswa-siswinya. Keempat, mengajar dengan cara yang halus. Kelima, tidak merendahkan ilmu lain. Keenam, menyampaikan pemahaman sesuai dengan kadar pemahaman siswasiswinya. Ketujuh, menyampaikan materi dengan jelas. Kedelapan, mengamalkan Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 Selain itu, ada beberapa faktor yang memengaruhi kompetensi profesional guru, di antaranya adalah kualifikasi akademik, pengalaman mangajar, pelatihan dan motivasi. PENDAHULUAN Imam Al-Ghazali sosok seorang yang tidak asing bagi masyarakat muslim. Beliau dikenal sebagai pemikir islam yang berkontribusi dalam ilmu fiqh, teologi, filsafat, tasawuf dan ilmu-ilmu yang lainnya. Imam Al-Ghazali memiliki kemampuan mengingat yang hebat dan cerdas dalam berargumentasi, karena kemampuan tersebut beliau pun dianugerahi dengan gelar Hujjatul Islam. Imam Al-Ghazali banyak berkontribusi terhadap perkembangan kemajuan manusia dan beliau juga adalah sosok intelektual serta spiritual yang pemikirannya dapat dijadikan dasar dalam berbagai aspek , khususnya dalam bidang pendidikan. Salah satu karya terkenal dari beliau adalah kitab IhyaA Ulumuddin yang diakui sebegai karya yang fenomenal dan terkenal. Karya ini sering dijadikan rujukan utama, karena mencakup berbagai aspek penting dalam kehidupan manusia, termasuk dalam bidang pendidikan. Dalam ranah pendidikan, guru memegang peranan penting untuk mendukung proses pembelajaran dan perkembangan kehidupan anak. Sikap dalam berkomunikasi dan berperilaku seorang guru dapat memberikan pengaruh baik dan buruk bagi siswanya (Judrah et al. , 2. Hal Ini karena guru dan siswa terlibat secara langsung selama proses pembelajaran. Siswa dapat dengan mudah melihat dan mengamati tindakan guru(Kholifin et al. , 2. Maka peran seorang guru tidak hanya terbatas pada penyampaian ilmu pengetahuan, lebih dari itu guru juga berfungsi sebagai panutan dalam hal sikap, perilaku dan menanamkan nilainilai moral kepada siswa . Melalui perilaku yang positif, sikap yang bijaksana, dan komunikasi yang baik. Dalam perspektif masyarakat, guru disebut sebagai pahlawan tanpa jasa, gelar ini layak diperoleh seorang guru mengingat kontribusinya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, tanpa mengharapkan imbalan. Namun saat ini, banyak yang memilih menjadi guru karena alasan ekonominya, di mana yang Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 dibutuhkan adalah penghasilan dari profesi mengajarnya. Terkadang mereka tidak sepenuh hati dengan gaji yang diterima, sehingga mengabaikan tanggung jawab utama mereka sebagai pendidik demi mencari sumber pendapatan tambahan ekonomi mereka. Imam Al-Ghazali pernah menyatakan bahwa setiap orang yang memilih untuk berprofesi sebagai guru sejatinya tengah menjalani sebuah tugas yang sangat mulia (Widad & Syauqillah, 2. Sebab itu, guru hendaknya selalu menjaga etika dan sikap yang baik dalam proses pengajaran, menjalankan tugasnya dengan baik serta terus meningkatkan kemampuan yang dimilikinya. Ironisnya banyak kasus kekerasan di dunia pendidikan yang dilakukan oleh pendidik atau guru terhadap para siswanya. Banyak berbagai platform media sosial melaporkan adanya berbagai bentuk kekerasan yang telah dan disebabkan oleh guru itu sendiri, berupa kekerasan fisik, psikologis, ataupun seksual. Kejadian ini dapat diketahui sebagai lemahnya kemampuan guru di dunia Dengan demikian, perlu bagi para guru untuk memahami kompetensi yang diperlukan agar menjadi seorang guru professional. Seringkali, dilakukannya kekerasan oleh para guru kepada siswa-siswinya dianggap sebagai bentuk hukuman yang wajar. Mereka beralasan bahwa siswa masa kini sulit untuk diatur sehingga kekerasan dianggap perlu agar siswa tersebut jera (Tamsil Muis, 2. Penelitian mengenai kompetensi profesional guru telah dilakukan oleh banyak pihak, seperti oleh (Musbaing, 2. yang menekankan pentingnya penguasaan pedagogik dan kepribadian guru. Namun, kajian tersebut masih berfokus pada pendekatan pedagogis modern yang cenderung teknokratis dan kurang menggali aspek sufistik atau spiritualitas dalam praksis keguruan. sinilah letak kesenjangan penelitian nya. kajian tentang kompetensi guru dalam perspektif sufistik, sebagaimana diuraikan Al-Ghazali dalam IhyaAo Ulumuddin nya yang masih jarang dikembangkan secara mendalam dalam literatur ilmiah Kemerosotan pendidikan yang terjadi pada saat ini dan rendahnya kualitas pendidikan tidak seharusnya dianggap remeh dan menjadi masalah yang terus Usaha untuk mencapai pendidikan yang berkualitas harus dimulai Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 dengan adanya guru yang berkualitas dengan memperhatikan kompetensi Seharusnya seorang pendidik itu memberi bimbingan dan menjadi sandaran dalam dunia pendidikan, dapat membimbing siswanya ke jalan yang benar dan memperbaiki perilaku siswa ketika ia melakukan kesalahan. Namun, dalam kasus ini guru melakukan tindakan yang seharusnya tidak pantas dilakukan oleh seorang pendidik. Studi ini menjadi signifikan, mengingat pemikiran Imam Al-Ghazali dapat menawarkan alternatif etika-profetik dalam membentuk karakter guru yang tidak hanya profesional secara administratif, tetapi juga memiliki integritas spiritual yang mendalam. Dalam konteks modern, nilai-nilai seperti keikhlasan, kasih sayang, dan akhlak mulia yang diajarkan Al-Ghazali menjadi sangat relevan sebagai penyeimbang terhadap krisis moral dalam dunia pendidikan. Figur Imam Al-Ghazali rupanya merupakan sosok yang sangat sesuai untuk menjabarkan pemikirannya mengenai karakteristik kompetensi professional guru Karena beliau pernah diangkat menjadi guru besar di Universitas Nizamiyah yang didirikan oleh perdana menteri Dinasti Saljuk (Dodego, 2. Sebagai pendidik Tentunya Imam Al-Ghazali memiliki perspektif yang luas mengenai permasalahan pengajaran serta isu-isu lain yang terkait dengan pendidikan. Terutama tentang guru, karena seorang guru harus memperhatikan kompetensi dalam mendidik. Secara teoritis, penelitian ini berpijak pada tiga pendekatan utama: . Teori Moderasi Islam, yang mengedepankan keseimbangan antara aspek duniawi dan ukhrawi dalam praktik pendidikan. Teori Peran Sosial, yang menempatkan guru sebagai aktor sosial yang memiliki tanggung jawab membentuk tatanan dan . Teori Kompetensi Guru menurut standar profesionalisme Ketiga kerangka ini menjadi dasar dalam memahami bagaimana pemikiran Al-Ghazali dapat disandingkan secara kritis dan produktif dengan kebutuhan pendidikan modern. (Giantara, 2. menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengukur kompetensi pedagogik guru di sekolah menengah. Meskipun memberikan data yang signifikan, namun penelitian tersebut tidak mengelaborasi aspek nilai-nilai Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 spiritual dalam membentuk kompetensi guru. Di sinilah letak kontribusi penelitian ini, yakni dengan menggali kembali pemikiran klasik Al-Ghazali sebagai landasan untuk membangun kerangka kompetensi guru yang lebih utuh secara ruhani dan Imam Al-Ghazali dalam IhyaAo Ulumuddin menegaskan bahwa seorang guru sejatinya tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga harus mampu menjadi suri teladan . swah hasana. , penuh kasih sayang terhadap muridnya, dan senantiasa menjaga adab dalam interaksi. Hal ini sejatinya senada dengan standar kompetensi guru modern yang menuntut profesionalisme, etika, dan integritas. Namun, penting untuk dicatat bahwa pandangan Al-Ghazali lahir dalam konteks abad ke-11, yang tentu memiliki keterbatasan dalam menjawab tantangan sistem pendidikan modern yang kompleks dan plural. Oleh karena itu, perlu dilakukan reinterpretasi kritis atas pemikirannya agar tetap relevan dalam konteks Kemudian di dalamnya kitab IhyaAo Ulumiddin tersebut, terdapat pembahasan mendalam mengenai keutamaan ilmu, tentang murid dan guru. Dalam mukadimahnya, kitab ini menjelaskan bahwa ilmu merupakan media penghubung kehidupan dunia serta kehidupan akhirat. Oleh karena itu, penelitian ini merujuk pada kitab IhyaA Ulumuddin sebagian sumber penelitian ini. Dari permasalahan tersebut maka peneliti ingin mengetahui bagaimana karakteristik kompetensi profesional guru menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab IhyaA Ulumuddin. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan . ibrary researc. Pendekatan ini dipilih karena relevan untuk mengeksplorasi gagasan Imam Al-Ghazali yang termuat dalam kitab IhyaAo Ulumuddin terkait karakteristik kompetensi profesional guru dalam perspektif Pendekatan ini menghasilkan data deskriptif berupa narasi konseptual dari sumber-sumber tertulis, sebagaimana dijelaskan oleh Bogdan dan Taylor . , bahwa penelitian kualitatif bertujuan memahami makna tindakan dalam Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 konteks tertentu melalui kajian teks dan perilaku simbolik (Dr. Zuchri Abdussamad & Dr. Patta Rapanna, 2. Sumber data yang digunakan, yaitu sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer merujuk pada informasi penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber aslinya (Si & S. , 2. Terjemah kitab IhyaA Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali jilid 1 yang diterbitkan oleh Cv. Asy SyifaA semarang merupakan sumber utama pada penelitian ini. Sedangkan Sumber data skunder merupakan data yang dikumpulkan dan diteliti oleh pihak lain yang relevan dengan permasalahan yang sedang diteliti (Sholehuddin et al. , 2. Sumber data ini mencakup berbagai jenis referensi, seperti buku-buku, jurnal, dan Sedangkan teknik pengumpulan datanya melalui serangkaian langkah, yaitu membaca, menganalisis, mencatat, dan mengklasifikasikan informasi dari sumber-sumber tertulis yang telah ditentukan. Analisis data yang digunakan adalah analisis data interaktif, sebagaimana dijelaskan oleh Miles dan Huberman Pengumpulan Data Mengumpulkan berbagai informasi dan konsep yang berkaitan dengan karakteristik kompetensi profesional guru, dengan merujuk pada kitab IhyaA Ulumuddin serta literatur pendukung lainnya. Data dikumpulkan melalui langkah sistematis, yaitu: Membaca kritis terhadap teks primer dan sekunder. Mencatat gagasan penting. Mengklasifikasi informasi berdasarkan tema-tema utama. Menganalisis keterkaitan antar konsep menggunakan pendekatan teoritis tertentu. Reduksi Data Data diseleksi, difokuskan, dan disederhanakan. Peneliti melakukan coding manual dengan pendekatan tematik, yaitu memberi kode atau label tertentu . isalnya : kasih sayang, keteladanan, niat tulus, nasehat dl. berdasarkan makna eksplisit dan implisit dalam teks. Penyajian Data Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 Data yang telah diklasifikasikan disusun dalam bentuk narasi tematis dan tabel kategorisasi. Hal ini mempermudah peneliti dalam melihat pemikiran Al-Ghazali yang relevan dengan kompetensi profesional guru. Penarikan Kesimpulan Setelah semua data terkumpul, proses terakhir yang dilakukan adalah menarik kesimpulan. Peneliti melakukan refleksi teoretis dan membandingkan hasil analisis dengan temuan sebelumnya, serta melakukan sinkronisasi dengan teori modern pendidikan, agar relevansi kontemporer gagasan Al-Ghazali dapat dimaknai lebih Untuk menjaga validitas data yang telah terkumpul, maka peneliti melakukan uji Validitas dan Reliabilitas. Adapun Validitas Data bertujuan sebagai Memastikan keaslian sumber primer dengan merujuk pada terjemahan yang diedit oleh penyunting yang kompeten dalam studi keislaman dan Membandingkan hasil terjemahan dengan beberapa versi lain. Sementara itu, untuk menjaga reliabilitas, dilakukan : Peer-debriefing. Dokumentasi proses coding dan kategorisasi dilakukan secara tertulis . udit memungkinkan replikasi atau peninjauan ulang oleh peneliti lain. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Kompetensi Profesional Guru Dalam Perspektif Imam AlGhazali Pada Kitab IhyaAo Ulumuddin Karakter dapat didefinisikan sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlaq atau budi pekerti yang membuat seseorang berbeda dari yang lain(Arisanti & Lahut, 2. Karakter sangat penting untuk menentukan sikap dan perilaku Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 seseorang agar dapat menentukan baik buruknya sesuatu(Melani et al. , 2. Dalam dunia pendidikan peran guru penting dalam membentuk karakter siswa. Sebab itu, diharuskan seorang guru terlebih dahulu untuk memiliki karakter yang baik sehingga mereka dapat dengan lebih mudah membimbing dan membangun karakter para siswanya. Karakteristik seorang guru mencakup sifat-sifat akhlak yang baik, yang sangat diperlukan agar ia dapat menjadi suri tauladan bagi para siswa-siswinya. Seorang guru juga harus memiliki rasa kasih sayang dan ketulusan dalam menjalani kegiatan belajar mengajar agar siswa tersebut dapat mengembangkan semangat dan motivasi yang tinggi. Sedangkan Istilah kompetensi berasal dari bahasa Inggris, yaitu competence atau competency, yang merujuk pada kemampuan, keterampilan dan seseorang(Huda. Kompetensi pengetahuan, keterampilan, sikap yang perlu dimiliki, dihayati, dikuasai oleh seorang guru dalam menjalankan tugasnya dengan baik(Imam Suraji, 2. Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 mengenai guru dan dosen menyebutkan bahwa kompetensi guru mencakup kompetensi pedagogik, profesional, sosial, serta kepribadian(FITRI, 2. Keempat kompetensi tersebut perlu dikuasai dengan baik oleh para guru, mengingat dalam menjalankan tugasnya, mereka berinteraksi dengan individu yang sedang mengalami proses tumbuh kembang. Setiap siswa memiliki beragam kemampuan, sifat, sikap, dan karakter yang mengharuskan seorang guru untuk menerapkan pendekatan yang berbeda untuk setiap individu. Dengan kompetensi yang dimiliki, guru dapat memahami keadaan ini dan berupaya memberikan perlakuan yang baik serta sesuai bagi setiap siswa-siswinya. Maka menjadi seorang guru harus memahami kedudukan guru sebagai panutan dan juga memahami kompetensi guru agar menjadi guru yang profesional. Kata profesional sendiri berkaitan dengan profesi sebab adalah seseorang yang menjalankan profesinya dengan baik(Munawir et al. Profesi adalah bidang pekerjaan yang didasarkan pada pendidikan, keterampilan, dan keahlian. Profesional adalah sesuatu yang berhubungan dengan Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 suatu profesi, memerlukan keahlian tertentu untuk menjalankannya(Lubis, 2. Guru yang profesional adalah orang yang memiliki kompetensi dan keahlian untuk membimbing serta mengasah kemampuan peserta didik, baik dalam aspek spiritual, intelektual, ataupun emosional. Pengertian guru itu sendiri menurut bahasa jawa yaitu digugu dan ditiru. Digugu berarti semua yang diucapkan oleh guru selalu diterima, didengarkan, diikuti, dan dianggap benar oleh seluruh siswa-siswinya. Di sisi lain, ditiru berarti bahwa seorang guru berfungsi sebagai contoh bagi semua siswa-siswinya dalam hal berpikir, berbicara, dan berperilaku sehari-hari(Umar, 2. Guru adalah profesi yang penuh tantangan dan tuntutan yang berat. Oleh karena itu, sosok yang menjadi guru haruslah sabar, cerdas, berakhlak baik dan bertakwa kepada Allah Swt. , agar ilmu yang disampaikan dapat memberikan manfaat maksimal bagi para siswa-siswinya. Dengan demikian keberhasilan pendidikan sebagian besar dipengaruhi oleh profesionalitas guru. Seorang guru memegang peranan penting dalam dalam bidang pendidikan (Sarihadi et al. , 2. Mereka memiliki tugas dan tanggung jawab untuk mentransfer pengetahuan yang dimiliki melalui proses mengajar, mendidik, dan membimbing siswa. Menurut Al-Ghazali, seorang guru yang layak dipercaya untuk mengajar harus memiliki berbagai kualitas. Selain kecerdasan dan akal yang sempurna, guru perlu memiliki akhlak yang baik serta kesehatan fisik yang kuat. Sebab dengan akal yang sempurna, guru dapat menguasai berbagai ilmu pengetahuan secara Sementara itu, melalui akhlak yang mulia, ia bisa menjadi teladan bagi para siswa-siswinya. Adapun kekuatan fisik memungkinkan guru untuk menjalankan tugas mengajar, mendidik, dan membimbing siswa-siswinya dengan optimal(Asrori, 2. Imam Al-Ghazali, seorang ulama dan filsuf Islam terkemuka, memberikan pemahaman yang mendalam mengenai berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan dan karakteristik guru yang kompeten. Pandangannya tentang kompetensi profesional seorang guru berakar dalam pemahamannya tentang ilmu. Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 etika, dan tujuan pendidikan itu sendiri. Sebelum berlanjut kepembahasan sebaiknya mengenal sosok Imam alzhozali terlebih dahulu. Al-Ghazali atau bisa pula disebut dengan Algazel, adalah nama terkenal untuk Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad at-Thusy. Selain itu, beliau selanjutnya dikenal juga dengan sebutan kunyah Abu Hamid yang berarti ayah Hamid. Akan tetapi pernyataan itu tidak dapat dipastikan berarti bahwa Al-Ghazali memiliki seorang putra bernama Hamid. Al-Ghazali juga mempunyai beberapa julukan, yaitu Al-Imam. Hujjatul Islam. Zainul AAbidin. AAjubah az-Zaman, serta Al-Bahr(Fikri, 2. Al-Ghazali dilahirkan pada tahun 450 H atau 1058 M. Abu Hamid lahir di Kota Thus, yang terletak di Provinsi Khurasan. Persia . aat ini Ira. Ketika Imam Al-Ghazali lahir, kota Thus termasuk dalam wilayah yang kurang makmur akibat kekeringan yang berkepanjangan, menyababkan banyak penduduknya mengalami Situasi ini turut memengaruhi keluarga Imam Al-Ghazali. Beliau lahir dalam sebuah keluarga yang sederhana serta tidak memiliki kekuatan finansial. Ayahnya, yang bernama Muhammad, hanyalah seorang pembuat kain shuf . ari kulit domb. yang menjual produk tersebut di pasar Thus. Pendapatannya juga sangat tidak stabil. Sementara itu, mengenai asal usul nama Al-Ghazali, terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama dan sejarawan. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa nama Al-Ghazali diambil dari nama desa tempat kelahirannya, yaitu Ghazalah yang terletak di Thus. Di sisi lain, ada juga pendapat yang mengungkapkan bahwa nama Al-Ghazali berkaitan dengan pekerjaan ayah dan kakeknya yang merupakan seorang penenun . l- ghazza. (Syukur, 2. Al-Ghazali memperoleh pendidikannya yang pertama di kota Thus. Sebelum pendidikan Al-Ghazali dan saudara laki-lakinya yaitu Ahmad kepada seorang sufi yakni Ar-Razakani yang merupakan teman dekat ayahnya. Dengan harta warisan sedikit yang ditinggalkannya, mereka menjalani pendidikan di bawah bimbingan sufi tersebut. Di sana. Al-Ghazali belajar mengenai al-QurAan dan hadits serta mendengarkan kisah-kisah mengenai para ahli hikmah(Artika et al. , 2. Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 Dalam perjalanan pemikirannya. Al-Ghazali pernah mengunjungi Jurjan, khususnya dikawasan Mazandaran, untuk mendapatkan ilmu dari Imam alIsmaAili . 477 H). Di kota tersebut. Al-Ghazali mempelajari berbagai hal, tidak hanya yang berkaitan dengan fiqh dan ilmu keagamaan. Beberapa sejarawan mencatat bahwa di Jurjan. Al-Ghazali mendalami banyak aspek ilmu yang berhubungan dengan bahasa Arab. Selanjutnya pada tahun 1077. Al-Ghazali diketahui berangkat ke Naisabur guna mendalami ilmu dibawah bimbingan Abu al-Mali al-Juwaini, yang dikenal sebagai Imam al- Haramain . Di sana. Al-Ghazali mendalami berbagai disiplin ilmu, termasuk fiqh, ushul fiqh, teologi, filsafat, logika, dialektika, ilmu pengetahuan alam, serta bahasa. Selain itu, ia juga berkesempatan untuk mempelajari dunia sufi dari Imam al-Haramain. Ilmu pengetahuan yang diperoleh Al-Ghazali dari al-Juwaini benar-benar dikuasainya dengan baik, termasuk memahami berbagai perbedaan pendapat di kalangan para ahli ilmu(Dodego, 2. Sebagai hasil dari kemampuannya yang mumpuni dan kecerdasan yang tinggi. Al-Ghazali pun dipercaya untuk menjadi asisten Imam al-Haramain(Fikri, 2. Setelah wafatnya Imam al-Haramain. Nidham al-Mulk. Perdana Menteri Daulah Bani Saljuk, mempercayakan Al-Ghazali untuk mengelola madrasah Nidhamiyah di Baghdad. Pada tahun 1091 M/484 H. Al-Ghazali diangkat sebagai dosen di universitas tersebut. Berkat prestasinya yang baik. Al-Ghazali menjadi rektor pada usia 34 tahun. Selama menjabat, ia menulis banyak karya di bidang fiqih, ilmu kalam, juga mengkritik aliran kebatinan. Ismailiyah, dan filsafat(Dodego, 2. Setelah berpuluh-puluh tahun menempuh perjalanan mencari ilmu dan mengabdikan diri untuk pengetahuan. Imam Al-Ghazali akhirnya meraih kebenaran hakiki di penghujung hidupnya. Beliau dipanggil oleh Sang Khaliq dan menghembuskan nafas terakhir di kampung halamannya. Thus, pada 14 Jumadil Akhir 505 H atau 19 Desember 1111 M, di samping sang adik, yakni Ahmad(Syukur, 2. Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 Berikut ini adalah beberapa karakteristik utama kompetensi profesional seorang guru dari sudut pandang Imam Al-Ghazali pada kitab IhyaA Ulumuddin(Drs. Moh. Zuhri, 2. Pertama, memberikan kasih sayang terhadap siswanya seperti menyayangi anaknya sendiri. Maksudnya adalah memperlakukan siswa-siswinya dengan baik dan memperlakukan mereka seperti anak-anaknya. Sebagaimana hadist Rosulullah Ausesungguhnya saya bagimu adalah seperti orangtua kepada anaknyaAy. Apabila ia melihat anak didiknya melakukan kesalahan maka ia membimbingnya dengan sabar sebagaimana membimbing anak kandungnya sendiri dengan tujuan agar anaknya tidak terjerumus kepada kemungkaran yang menyebabkan terjerumusnya api neraka. Karena itu, hak seorang guru lebih tinggi dibandingkan hak kedua orang tua. Orang tua menjadi penyebab kehadirannya di dunia ini, namun guru merupakan pengantar menuju kehidupan yang abadi, yaitu akhirat. Menjadi seorang guru perlu memiliki perhatian dan cinta yang tulus untuk siswasiswinya, serta memperlakukan mereka dengan baik dan pengertian. Sifat ini menjadikan anak didiknya memiliki rasa percaya diri terhadap gurunya dan menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa-siswinya untuk lebih mudah memahami pengetahuan yang disampaikan oleh guru. Kedua, meneladani Rasulullah dalam melaksanakan tugas dan tanggung Bahwasanya dalam mengajar hendaknya tidak menuntut mengajar dan tidak mengharap imbalan dan tanda terimakasih oleh siswa- Seorang guru harus meneladani Rasulullah yang mengajarkan ilmu dengan tujuan murni untuk mencari ridha Allah serta senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya. Motivasi utama seorang guru haruslah keikhlasan dalam mencari keridhaan Allah SWT dan membimbing siswa menuju kebenaran dan kebajikan. Guru hendaknya tidak mencari imbalan duniawi, ketenaran, atau pujian atas usahanya, tetapi hendaknya memandang mengajar sebagai tugas mulia dan bentuk Sesungguhnya pahala yang diperoleh dari mengajar jauh lebih besar dibandingkan dengan pahala yang diterima oleh mereka yang belajar di sisi Allah SWT. Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 Ketiga, tidak meninggalkan nasehat terhadap siswa-siswinya. Artinya seorang guru tidak meninggalkan nasehat terhadap mereka dan guru tidak boleh membiarkan siswa-siswinya mendalami pelajaran yang lebih tinggi sebelum memahami pelajaran sebelumnya. Beliau juga mengingatkan bahwa tujuan mencari ilmu adalah mendekatkan diri kepada Allah bukan untuk memperoleh atau sesuatu yang bersifat duniawi. Seorang guru yang kompeten bertindak sebagai pembimbing yang bijaksana, tidak hanya memberikan pengetahuan tetapi juga memberikan bimbingan moral dan spiritual kepada murid-siswa-siswinya. Keempat, mengajar dengan cara yang halus. Seorang guru sebaiknya menggunakan cara-cara yang halus dalam proses pembelajaran, menghindari kekerasan, cacian, serta perilaku negatif lainnya. Ketika guru perlu mencegah siswa dari perilaku buruk, sebaiknya dilakukan dengan cara yang tidak langsung sambil tetap mengedepankan kasih sayang terhadap siswanya. Seorang guru perlu memiliki standar etika dan moral yang tinggi, serta berfungsi sebagai teladan bagi siswa-siswinya. Ini mencakup kualitas-kualitas seperti kejujuran, integritas, kesabaran, kasih sayang, keadilan, dan kebijaksanaan. Maka dari itu tindakan seorang guru lebih bermakna daripada kata-kata, dan karakternya secara signifikan memengaruhi perkembangan moral murid-siswa-siswinya. Kelima, tidak merendahkan ilmu lain. Pendidik memiliki tanggung jawab untuk tidak merendahkan ilmu di luar bidang keahliannya di hadapan siswasiswinya. Guru yang bijaksana akan selalu berusaha untuk menghargai dan mengakui nilai dari setiap bidang ilmu, meskipun di luar keahliannya. Hal ini penting untuk membentuk karakter murid yang memiliki wawasan luas, sikap inklusif, dan menghargai ilmu pengetahuan secara keseluruhan. Merendahkan ilmu lain di hadapan murid adalah sebuah tindakan yang tercela bagi guru. Keenam, menyampaikan pemahaman sesuai dengan kadar pemahaman siswa-siswinya. Seharusnya, pelajaran yang diberikan tidaklah sulit dipahami atau di luar jangkauan pemahaman siswa, karena hal ini dapat membuat mereka merasa enggan atau terbebani dalam berpikir. Sebagaimana disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW. AuKami para Nabi diperintahkan untuk menempatkan Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 mereka sesuai pada kedudukan mereka dan berbicara kepada mereka sesuai dengan kadar akal merekaAy. Guru harus terampil dalam seni mengajar, memahami berbagai kapasitas dan kebutuhan belajar murid-siswa-siswinya. Mereka harus menggunakan metode mengajar yang tepat, berkomunikasi secara efektif, serta dapat menjelaskan pembelajaran dengan cara yang jelas sehingga mudah Ketujuh, menyampaikan materi dengan jelas. Seorang guru seharusnya menyampaikan materi kepada siswa-siswinya hal-hal yang jelas dan sesuai dengan kapasitas kognitif mereka, terutama ketika mereka memiliki pemahaman yang terbatas. Maka guru perlu memakai bahasa yang mudah dipahami, memberikan contoh yang relevan. Menurut Imam Al-Ghazali, sebaiknya seorang guru tidak meninggalkan kesan bahwa ada informasi yang lebih mendalam yang sengaja disembunyikan atau tidak diungkapkan. Sikap seperti ini dapat meredupkan minat siswa dalam memahami ilmu dan menimbulkan anggapan bahwa guru tersebut kikir dalam berbagi pengetahuan. Kedelapan, mengamalkan ilmunya. Menjadi seorang guru sebaiknya mengamalkan ilmunya tugas ini menekankan pentingnya keselarasan antara perkataan dan tindakan. Seorang guru tidak hanya diharapkan untuk memiliki pengetahuan, tetapi juga untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena ilmu itu diperoleh melalui pandangan hati mengisyaratkan bahwa pengetahuan tersebut melibatkan pemahaman yang mendalam serta keyakinan yang kuat di dalam diri. Sementara itu, pengamalan ilmu dapat dilihat melalui pandangan mata, yaitu tindakan nyata yang dapat disaksikan oleh orang lain. Tindakan seorang guru akan lebih diperhatikan dan dinilai oleh murid, rekan sejawat, dan masyarakat umum, ketimbang kedalaman ilmu yang mungkin hanya dipahami olehnya beserta beberapa ahli lainnya. Guru perlu menjadi contoh yang positif bagi siswa-siswinya dalam semua aspek kehidupan. Tindakan mereka harus mencerminkan nilai-nilai dan pengetahuan yang mereka ajarkan. Aspek Yang Memengaruhi Kompetensi Keprofesional Guru Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 Dalam meningkatkan kompetensi keprofesional guru dapat dipengaruhi beberapa faktor diantaranya : Kualifikasi Akademik Kualifikasi akademik merupakan tingkat pendidikan dasar yang perlu dimiliki oleh pendidik, yang dibuktikan melalui ijazah atau sertifikasi keahlian yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan(Dalail et al. , 2. UndangUndang Nomor 14 Tahun 2005 mengenai Guru dan Dosen menyatakan bahwa seorang guru atau pendidik yang profesional wajib memiliki kualifikasi akademik yang diraih melalui pendidikan tinggi, baik dari program sarjana maupun program diploma empat(INDONESIA, n. Salah satu faktor penting dalam meningkatkan profesionalisme guru yaiti dengan kualifikasiakademik. Tanpa adanya usaha untuk meningkatkan kualifikasi tersebut, peluang untuk menghasilkan guru yang berkualitas dan profesional akan sangat terbatas(Lafendry, 2. Menjadi seorang guru profesional tergantung pada keahlian dan jenjang pendidikan yang telah dicapai. Jabatan sebagai guru termasuk dalam bagian profesi yang memerlukan keterampilan dan tanggung jawab tinggi. Secara teori, sebuah profesi seharusnya hanya dapat dijalankan oleh individu yang memiliki kualifikasi yang memadai. Pengalaman Mengajar Pengalaman adalah segala hal yang sudah dijalani dalam kehidupan. Pengalaman kerja memiliki peranan penting dalam memperdalam dan memperluas kemampuan profesional seseorang(Eliyanto & Wibowo, 2. Ketika seorang guru semakin lama mengajarnya, maka semakin terasah pula kemampuannya dalam menjalankan tugasnya. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman yang diperoleh sejalan dengan peningkatan profesionalisme di dunia Seorang guru yang telah lama mengabdi di bidang ini diharapkan mempunyai tingkat profesionalisme yang lebih tinggi dibandingkan dengan rekanrekannya yang baru beberapa tahun berkecimpung di dunia pendidikan(Rakib et , 2. Pengalaman kerja sebagai guru memberikan nuansa yang berbeda-beda, menciptakan keunikan dalam cara mengajar setiap individu. Pengalaman Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 mengajar menjadi modal berharga bagi guru dalam meningkatkan proses pembelajaran di kelas. Melalui interaksi di ruang kelas, guru dapat memahami karakter siswa dengan lebih baik serta menemukan strategi efektif untuk menghadapi keragaman yang ada. Di samping itu, pengalaman mengajar juga berdampak pada kualitas pembelajaran yang diberikan, yang juga akan mempengaruhi hasil belajar siswa. Pelatihan Pelatihan dapat dipahami sebagai upaya yang direncanakan dan terstruktur untuk menguasai keterampilan, aturan, konsep, atau perilaku yang dapat berdampak positif pada peningkatan kinerja(Mulyawan, 2. Dengan mengikuti pelatihan, para guru berkesempatan untuk memperoleh keterampilan, pengetahuan dan sikap baru yang bisa membentuk serta merubah perilaku mereka(Rakib et al. Hal ini akan berperan dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Pelatihan juga diartikan sebagai serangkaian aktivitas yang dirancang secara sistematis untuk mengembangkan kompetensi dan keterampilan, sehingga dapat menjadi lebih profesional di bidangnya(Hasanah et al. , 2. Pelatihan ini mencakup berbagai kegiatan, seperti seminar, webinar, workshop, dan aktivitas lainnya, yang dirancang untuk membantu para guru mengadopsi serta menerapkan strategi atau metode pembelajaran baru. Selain itu, pelatihan ini juga bertujuan untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang praktik pembelajaran yang efektif. Oleh karena itu, sangat penting untuk menyesuaikan pelatihan dengan kebutuhan para guru, sehingga mereka dapat melakukan tugas mengajar dengan lebih efektif. Berbagai metode digunakan dalam setiap jenis pelatihan, semuanya disesuaikan dengan kebutuhan guru. Selain itu, materi yang disampaikan juga harus relevan dengan apa yang dibutuhkan oleh para guru. Dengan demikian mengikuti kegiatan pelatihan ini dapat meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri para guru, serta memberikan mereka keterampilan untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih interaktif dan menarik bagi para siswa. Motivasi Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 Motivasi adalah komponen penting yang dapat meningkatkan kinerja guru dalam dunia pendidikan. Kata motivasi berasal dari bahasa latin yaitu movere yang memiliki arti bergerak(Zubairi & Adab, 2. Motivasi merupakan dorongan dalam diri seseorang bertindak guna mencapai tujuan tertentu(Herwati et al. , 2. Dengan motivasi, seseorang akan merasa tergerak untuk melaksanakan sesuatu dan berusaha mencapai hasil atau tujuan yang Motivasi berperan penting dalam meningkatkan profesionalitas guru. Karena hal ini bisa memotivasi mereka untuk terus belajar dan mengasah keterampilan demi pengajaran yang lebih efisien. Oleh sebab itu, sangatlah penting bagi pendidik untuk memahami peran motivasi dalam proses Lebih dari sekadar pendorong, motivasi juga berfungsi sebagai pengarah yang membimbing seseorang menuju tujuan, meskipun di tengah rasa lelah, kesulitan, atau stres. Ketika motivasi itu kuat, tidak akan ada kata menyerah dalam menjalankan tugas-tugas mereka. Motivasi ini akan terus membekas dalam ingatan, menjadi pendorong untuk berusaha mencapai tujuan yang diinginkan. Dengan demikian, motivasi dan komitmen memiliki peran yang signifikan dalam kompetensi profesional seorang guru. Keduanya langsung memengaruhi kinerja guru dan pada akhirnya berperan serta dalam kualitas pendidikan secara KESIMPULAN Peran guru sebagai pendidik sangatlah krusial, karena mereka bertanggung jawab tidak hanya dalam menyampaikan pengetahuan, tetapi juga dalam membangun karakter dan moral siswa. Imam Al-Ghazali adalah sosok yang sangat berpengaruh dalam dunia pemikiran Islam, terutama dalam bidang pendidikan. Dalam pandangan Al-Ghazali, pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga proses pembentukan akhlak dan budi pekerti. Beliau menekankan bahwa seorang guru hendaknya memiliki adab yang baik, baik dalam mengajar maupun dalam berinteraksi dengan siswa. Hal ini sejalan dengan pendangan bahwasanya guru adalah teladan yang seharusnya menunjukkan perilaku positif Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 kepada siswa. Al-Ghazali mengingatkan bahwa tugas seorang guru adalah mulia dan harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Dalam konteks ini, penting bagi guru untuk terus meningkatkan kompetensi profesional dan memahami bahwa pendidikan yang berkualitas dimulai dari sikap dan perilaku mereka. Guru harus mampu memberikan bimbingan yang konstruktif dan mendidik siswa dengan cara yang positif. REFERENSI