Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 06 No. Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Integrasi Agama dan Sains dalam Perspektif M. Naquib Al-Attas Septri Larasati. Amril M. Eva Dewi email: 22290125976@students. uin-suska. id, amrilm@uin-suska. evadewi@uin-suska. (UIN Sultan Syarif Kasim. Ria. Abstract: This research describes the integration of religion and science from the perspective of M. Naquib Al-Attas. The aim of this research is to understand the biography of M. Naquib al-Attas, al-Attas's religious and scientific thinking, al-Attas' methodology for integrating religion and science and the Islamization of al-Attas' knowledge. The study method used is literature study or library research by collecting various information from journals/literature related to the Integration of Religion and Science in the Perspective of M. Naquib Al-Attas. Data collection with the results of previous research which support the data in this research. The result is that Al-Attas stated that there is an incompatibility between modern western science and technology and the Islamic system of epistemology and metaphysics. This is because science does not involve the role of God the Khaliq who has created natural laws, so science tends to conflict with religion. Since the 1970s Al-Attas began to introduce the concept of Islamization of science. Islamization as echoed by al-Attas is a term that brings something into Islam or makes it and makes it Islamic in accordance with the spirit of Islamic epistemology as a step or an effort to understand everything within an Islamic framework. Keywords: Integration. Religion and Science. Naquib Al-Attas. Abstrak: Penelitian ini mendeskripsikan Integrasi Agama Dan Sains Dalam Perspektif M. Naquib Al-Attas. Tujuan penelitian ini untuk memahami tentang Biografi M. Naquib alAttas. Pemikiran Agama dan Sains al-Attas. Metodologi Integrasi Agama dan Sains alAttas serta Islamisasi Pengetahuan al-Attas. Metode kajian yang digunakan yaitu kajian literatur atau library research dengan cara mengumpulkan berbagai informasi dari jurnal/literatur yang berkaitan dengan Integrasi Agama Dan Sains Dalam Perspektif M. Naquib Al-Attas. Pengumpulan data dengan hasil penelitian terdahulu yang menjadi pendukung data pada penelitian ini. Hasilnya adalah Al-Attas menyatakan terdapat ketidakselarasan antara sains dan teknologi barat modern dengan sistem epistemologi dan metafisika Islam. Hal ini dikarenakan sains tidak melibatkan peran Tuhan Sang Khaliq yang telah menciptakan hukum-hukum alam, sehingga sains cenderung bertentangan dengan agama. Sejak tahun 1970-an Al-Attas mulai mengenalkan konsep Islamisasi ilmu Islamisasi yang digaungkan oleh al-Attas adalah suatu istilah yang membawa sesuatu ke dalam Islam atau membuatnya dan menjadikannya Islam sesuai dengan ruh dari epistemologi Islam sebagai langkah atau suatu usaha memahamkan segala sesuatu dengan kerangka Islam. Kata Kunci: Integrasi. Agama dan Sains. Naquib Al-Attas. Pendahuluan Hubungan sains dan agama selalu ada kaitan antar keduanya, hubungan keduanya pun tidak mudah. Dalam sejarah banyak mengalami benturan-benturan yang sulit tapi jika tidak dipelajari kita tidak tahu arahnya karena ini penting. Peristiwa saling memutuskan antara satu 142 Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 P-ISSN: x-x Vol. 06 No. Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin dengan lain pun terjadi secara kontinu. Sampai saat ini, upaya menghubungkan sains dan agama terus menerus dilakukan oleh berbagai agama dan berkembang di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dewasa ini hubungan antara agama dan sains selalu didiskusikan dan menjadi hal yang Pengetahuan Sains dalam kehidupan manusia mengalami perkembangan dan perubahan yang signifikan. Tetapi dalam hal agama masih banyak yang beranggapan sebagai tradisi dari orang terdahulu yang hanya diikuti sekedarnya. Dalam kenyataan yang ada di dunia, kehidupan manusia selalu berkaitan dengan ilmu dan agama. Dua hal ini sarana penting dalam membangun Apabila manusia hanya bersandar dengan kehidupan agama tanpa iman dan taqwa, maka manusia akan tetap cenderung menggunakan teknologi semaunya sendiri. Kaitannya dengan sains memang harus dihubungkan dengan agama supaya tidak terjadi kerusakan terhadap Pertemuan antara sains dan agama tidak hanya mendatangkan perdamaian, tapi terkadang juga mengundang konflik. Hal inilah yang perlu perhatian khusus, karena keduanya memiliki kedudukan sama kuat dan menjadi pengaruh bagi masyarakat. Contoh. Ilmuan memiliki tanggung jawab untuk membuktian teori ilmiah yang dihasilkan. Penemuan dikatakan ilmiah jika disetujui oleh beberapa pakar dan komunitas. Syed Muhammad Naquib al-Attas merupakan tokoh yang sangat berpengaruh dalam dunia Pendidikan khususnya bidang Agama dan Sains. Al-Attas terkenal dengan gagasan Integrasi Agama dan Sains yang di aplikasikannya dalam Islamisasi Ilmu pengetahuan. Dalam hal ini penulis akan meneliti tentang konsep Integrasi al-Attas dalam mengintegrasikan agama dan Oleh karenannya hal ini akan kita bahas secara analisis pemikiran tokoh tersebut. Metode Penelitian Metode pada penelitian ini menggunakan metode . ibrary researc. dengan mengumpulkan sejumlah literatur yang berkenaan dengan masalah dan tujuan penelitian, yang selanjutnya akan ditelaah dan dianalisis untuk memperoleh hasil yang baik. Pengumpulan data dengan hasil penelitian terdahulu juga menjadi pendukung data pada penelitian Integrasi Agama Dan Sains Dalam Perspektif M. Naquib Al-Attas. Hasil dan Pembahasan Biografi M. Naquib al-Attas Nama lengkapnya Syed Muhammad Naquib al-Attas adalah Syed Muhammad Naquib Ibn Ali Ibn Abdullah Muhsin al-Attas, lahir di Jawa barat, tepatnya di Bogor tanggal 05 Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 06 No. Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin September 1931. Ayahnya bernama Syed Ali bin Abdullah al-Attas, sedangkan ibunya bernama Syarifah Raquan Al-AoAydarus, keturunan ningrat Sunda di Sukapura. Jawa barat. Silsilah keluarganya bisa dilacak hingga ribuan tahun ke belakang melalui silsilah Sayyid dalam keluarga BaAoAlawi di Hadramaut dengan silsilah yang sampai kepada Hussein yaitu cucu Nabi Muhammad Saw. Diantara leluhurnya ada yang menjadi wali atau ulama, salah seorang dari mereka yaitu Syed Muhammad al-Aydarus . ari pihak ib. Adapun jika dilihat dari silsilah bapak, kakek Syed al-Attas yang bernama Abdullah ibn Muhsin ibn Muhammad al-Attas adalah seorang wali yang pengaruhnya tidak hanya di Indonesia, tetapi juga sampai ke negeri Arab. Syed al-Attas merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, dimana yang sulung bernama Syed Hussein al-Attas, seorang ilmuwan dan pakar sosiologi serta mantan wakil Rektor di Universitas Malaya. Kuala Lumpur-Malaysia. Sedangkan, yang bungsu bernama Syed Zaid, seorang insinyur kimia dan mantan dosen Institut Teknologi MARA. Uraian di atas dapat kita ketahui bahwa latar belakang keluarga Syed al-Attas bukan datang dari kelompok sosiokultural biasa, akan tetapi dari kaum ningrat atau dalam istilah lain adalah Aubibit unggulAy, dalam dirinya tidak hanya mengalir darah biru, tetapi mengalir juga semangat keagamaan. Dengan latar belakang keluarganya yang demikian cukup memberikan pengaruh pada pendidikan Syed Muhammad Naquib al-Attas. Pendidikan agama ia peroleh dari keluarga ibunya yang berada di Bogor, sedangkan untuk pengetahuan bahasa, sastra dan kebudayaan Melayu didapatkan dari keluarga yang berada di Johor. Adapun dari proses kehidupan Syed al-Attas dimulai dari usia 5 . Syed alAttas dikirim ke Johor untuk belajar Sekolah Dasar Ngee Heng . Pada masa penduduk Jepang, dia kembali ke Jawa untuk meneruskan pendidikannya di Madrasal al-AoUrwatu al-Wutsqy. Sukabumi . , sebuah lembaga yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar. Setelah perang dunia ke II pada tahun 1946 . sianya 15 tahu. Syed al-Attas kembali ke Johor untuk menyelesaikan pendidikan lanjutannya, pertama di Bukit Zahrah School kemudian English College . Pada masa ini, dia tinggal dengan salah seorang pamannya bernama Ungku Abdul Aziz ibn Ungku Abdul Majid, keponakan Sultan yang kelak menjadi Kepala Menteri Johor Modern yang keenam. Ungku Abdul Aziz memiliki perpustakaan manuskrip Melayu yang bagus, terutama manuskrip sastra dan sejarah Melayu. Setelah menamatkan sekolah menengah pada tahun 1951, usianya Syed al-Attas saat itu 20 tahun, ia mendapatkan kesempatan mengikuti pendidikan militer, pertama di Eton Hall. Sri SyafaAoati dan Hidayatul Muamanah. AuKonsep Pendidikan Menurut Muhammad Naquib Al-Attas dan Relevansinya dengan Sistem Pendidikan Nasional,Ay Palapa, 8. , hal. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 P-ISSN: x-x Vol. 06 No. Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Chester. Weles, kemudian di Royal Military Academy. Sandhurst. Inggris . Selama di Inggris, dia berusaha memahami aspek-aspek yang mempengaruhi semangat dan gaya hidup masyarakat Inggris. Setamatnya dari Sandhusrt. Syed al-Attas menaruh minatnya untuk menggeluti dunia ilmu pengetahuan sehingga ia berhenti secara sukarela dari kepegawaiannya kemudian membawanya ke Universitas Malaya di Singapura, pada tahun 1957-1959. Pada tahun 1960 . sia 29 tahu. Syed al-Attas mendapatkan beasiswa untuk belajar di Institute of Islamic Studies. Universitas McGill. Montreal yang didirikan oleh Wilfred Cantwell Smith. Di sinilah dia berkenalan dengan beberapa sarjana dan intelektual terkenal, seperti Sir Hamilton Gibb (Inggri. Fazlur Rahman (Pakista. Toshihiko Izutsu (Jepan. , dan Seyyed Hosein Nasr (Ira. Syed al-Attas mendapat gelar Master of Art (M. A) dari Universitas McGill pada tahun 1962 setelah tesisnya yang berjudul Raniri and the Wujudiyyah of 17th Century Acheh lulus dengan nilai sangat memuaskan. Setahun kemudian, atas dorongan beberapa orang sarjana tokoh-tokoh orientalis yang terkenal, seperti Profesor A. Arberry (Cambridg. Sir Mortimer Wheeler (Akademi Inggri. Sir Richard Winstedt (Akademi Inggri. , dan pimpinan Royal Asiatic Society. Syed al-Attas pindah ke SAOS (School of Oriental and African Studie. Universitas London, untuk meneruskan Di London, dia belajar di bawah bimbingan A. Arberry dan Martin Lings. Pada tahun 1965 . sianya 34 tahu. , dia memperoleh gelar Ph. D, setelah dua jilid disertasi doktornya yang berjudul The Mysticism of Hamzah Fanshuri lulus dengan nilai yang memuaskan juga. Al-Attas memiliki beberapa karya yang berupa buku dan monograf baik dalam bahasa Inggris maupun Melayu dan banyak yang telah diterjemahkan ke bahasa lain seperti. Indonesia. Persia. Arab. Turki. Malaysia. Prancis. Jerman. Rusia. Bosnia. Jepang. India. Korea dan Albania dan lain-lain. Diantaranya adalah: The Concept of Education in Islam: A Franework for an Islamic Philosophy of Education. Kuala Lumpur: ABIM, 1980. Islam. Secularism and Philosophy of the Future. Mansel. London dan New York, 1985. A Commentary on the Hujjat al-Shiddiq of Nur al-Din al-Raniry. Kuala Lumpur. Ministry of Culture Malaysia, 1986. Pemikiran Agama dan Sains al-Attas Al-Attas adalah salah seorang sarjana Muslim yang mendefinisikan arti pendidikan secara sistematis, menegaskan dan menjelaskan bahwa tujuan pendidikan dalam Islam adalah untuk 2 Muslem. AuKonsep Islamisasi Ilmu Pengetahuan dan Penerapannya dalam Pendidikan Islam: Studi Pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas,Ay Tazkiya: Jurnal Pendidikan Islam, 8. , hal. 3 Ahmad Yazid Hayatul Maky. AuNilai Pendidikan Islam dalam Perspektif Islamisasi dan Integrasi Ilmu (Ismail Raji Al Farouqi. Syed Muhammad Nquib Al-Attas. Amin Abdulla. ,Ay Cross-border, 4. , hal. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 06 No. Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin menciptakan manusia yang baik . ood ma. , bukan seperti dalam peradaban barat menghasilkan warga negara yang baik . ood citize. Al-Attas berpendapat bahwa warga negara yang baik dalam sebuah negara sekuler tidak sama dengan manusia yang baik. sebaliknya, manusia yang baik sudah pasti seorang warga negara yang baik. Al-Attas menyatakan terdapat ketidakselarasan antara sains dan teknologi barat modern dengan sistem epistemologi dan metafisika Islam. Hal ini dikarenakan sains tidak melibatkan peran Tuhan Sang Khaliq yang telah menciptakan hukum-hukum alam, sehingga sains cenderung bertentangan dengan agama. 5 Al-Attas menyadari bahwa teknologi dapat membawa dampak negatif pada nilai-nilai moral dan spiritual, namun ia juga menyadari bahwa teknologi dapat memberikan kemudahan dalam beribadah dan menyebarkan pesan agama. Oleh karena itu, dalam perspektif Al-Attas, agama dan teknologi harus saling mendukung dan tidak bertentangan satu sama lain, penggunaan teknologi haruslah dilakukan dengan bijak dan tidak melanggar prinsip agama agar tidak menjadi budak dari teknologi tersebut. Pada pertengahan abad ke-19, filsuf-sosiolog Prancis. Auguste Comte, telah membayangkan kebangkitan sains dan kejatuhan agama. Ia meyakini, sesuai dengan logika sekuler perkembangan filsafat dan sains barat bahwa masyarakat AoberevolusiAo dan AoberkembangAo dari tahap primitif ke modern. Dia juga mengamati bahwa dilihat dari aspek perkembangan metafisika terjadi pergeseran dari teologi kepada sains. Memperhatikan pemikiran tersebut, al-Attas menjelaskan idenya tentang Sains Islam sebagai perspektif dan paradigma keilmuan. Ide tersebut sesuai dengan pemikirannya tentang Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer. Dalam beragama manusia sering lupa akan hakikatnya. Orang melepaskan ilmu dari agama maka perlu adanya proses Islamisasi. Islamisasi merupakan pembebasan manusia dari belenggu mitos dan sekuler yang mengurung kebebasan akal dan keyakinannya kepada hal-hal yang nyata dan benar. Dalam hal ini Al-Attas mendeskripsikan Agama Islam sebagai din memiliki visi sebagaimana para nabi dan rasul terdahulu, yakni membebaskan manusia dari mitos dan kepercayaan yang tidak benar. Hal ini menegaskan pemikiran al-Attas tentang pandangan yang disebut sebagai ruAoyatu al-IslAm lil wujd yakni visi Islam tentang realitas dan kebenaran dari wahyu al-QurAoan. 4 Nurul Anifah dan Yunus Yunus. AuIntegrasi Konsep TaAodib Al-Attas dalam Pembinaan Karakter Peserta Didik pada Masa Pandemi,Ay Dawuh Guru: Jurnal Pendidikan MI/SD, 2. , hal. 5 Azrul Kiromil Enri Auni. AuTelaah Kritis Aksiologi Sains Modern Perspektif Naquib Al-Attas Dan Implementasinya Dalam Komunitas Ilmiah,Ay Prosiding Konferensi Integrasi Interkoneksi Islam dan Sains, 3 . , hal. 6 Lisa Qotrun Nandini epty Oktavia. Diva Try Syafrielia. Khoirun Nisa Alhabibah. AuInklusi Teologi : antara Agama dan Teknologi dalam Perspektif,Ay hal. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 P-ISSN: x-x Vol. 06 No. Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Tuhan sebagai sang pencipta menganugerahi makhluk ciptaan-Nya akal dan indera untuk menelusuri sebuah kebenaran yang secara sederhana dapat dilihat dari dua sisi yang berseberangan, yakni secara rasionalis dan secara empiris, sehingga pada akhirnya pengetahuan yang ada tidaklah terbentuk atas dasar skeptisme, serta tidak ada lagi otoritas yang mengekang hadirnya pengetahuan. Keraguan yang ada dapat terselesaikan dengan epistemologi kebenaran berdasarkan pada pedoman serta tuntunan yang semuanya terdapat dalam kitab suci (AlQurAoa. Sejalan dengan itu, sains turut berkembang namun membawa krisis kepada manusia modern, namun al-Attas menganggap, bahwa tidak semua hal dari barat adalah negatif. Melainkan, ada beberapa hal-hal yang dapat diambil maupun diintegrasi dan diadopsi secara kritis ke dalam peradaban Islam. Hal-hal tersebut dapat diintegrasikan ke dalam Islam melalui proses intelektual kreatif yang disebut sebagai AoSains IslamAo itu sendiri. Umat Islam sudah sepatutnya untuk lebih memperhatikan permasalahan pada zaman ini, karena perkembangan zaman pada saat ini sudah tercampuri oleh budaya barat yang mencoba untuk melepaskan nilai-nilai agama dari sains. Oleh karenanya perlu dilakukan upaya supaya tidak bebas nilai yang mengakibatkan munculnya faham sekulerisme. Metodologi Integrasi Agama dan Sains Adapun yang digunakan al-Attas dalam proses integrasi Agama dan Sains yakni: Proses Verifikasi, yaitu mengenali dan memisahkan unsur-unsur tertentu yang dibentuk oleh budaya dan peradaban barat, setelahnya memisahkan dan mengasingkan dari pengetahuan kontemporer. Terkhusus dalam pengetahuan humaniora. Bagaimanapun, ilmu-ilmu alam, fisika dan ilmu terapan yang harus diislamkan, khususnya penafsiran terkait fakta-fakta dalam formulasi teori. Menurut al-Attas, jika tidak sesuai dengan pandangan hidup Islam maka fakta akan menjadi tidak benar, selain itu sains modern harus diperiksa secara teliti, ini semua mencakup metode, konsep, praduga, symbol dari sains modern, beserta aspek-aspek empiris dan rasional yang berdampak pada nilai-nilai etika, penafsiran, historis dan bangunan teori, pengalaman terkait praduga yang berkaitan tentang dunia dan rasionalitas proses-proses ilmiah, klasifikasinya, dan batasan hubungannya yang berkaitan dengan hubungan sosial ini harus di teliti dan memasukan elemen-elemen Islam. Islamisasi Pengetahuan Masa Kini 7 Melinda Rahmawati et al. AuIslamic Worldview : Tinjauan Pemikiran Syech Muhammad Naquib Al-Attas dan Budaya Keilmuan Dalam Islam,Ay NALAR: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam, 4. , hal. 8 Muhammad Taqiyuddin. AuHubungan Islam dan Sains: Tawaran Syed Muhammad Naquib Al-Attas,Ay Islamadina : Jurnal Pemikiran Islam, 22. , hal. 9 Mohammad Muslih. Heru Wahyudi, dan Amir Reza Kusuma. AuIntegrasi Ilmu dan Agama menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Ian G Barbour,Ay Jurnal Penelitian Medan Agama, 13. , hal. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 06 No. Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Bagi al-Attas pengetahuan adalah pengenalan dan pengakuan berdasarkan kebenaran dan Menurutnya, hal tersebut akan sangat berdampak kepada cara berpikir seseorang. Karena seharusnya dia patut mengenal dan mengakui tentang dirinya darimana dia berasal dan mengingat kembali pengakuannya kepada Allah saat dia di ambil sumpahnya ketika masih berbentuk ruh. Salah satu modernis yang menggaungkan konsep Islamisasi pengetahuan adalah Syed Muhammad Naquib al-Attas. Sejak tahun 1970-an Syed Muhammad Naquib al-Attas mulai mengenalkan konsep Islamisasi ilmu pengetahuan dalam dunia Islam. 10 Islamisasi yang digaungkan oleh al-Attas adalah suatu istilah yang membawa sesuatu ke dalam Islam atau membuatnya dan menjadikannya Islam sesuai dengan ruh dari epistemologi Islam sebagai langkah atau suatu usaha memahamkan segala sesuatu dengan kerangka Islam. Muhammad Naquib al-Attas menggagas islamisasi ilmu untuk menghilangkan ilmu pengetahuan yang bersifat konfrontatif antara Islam dan barat. Bagi al-Attas, kebudayaan barat harus diperhatikan dalam konteks kebutuhan yang konsepsional bahwa Islam boleh mengadopsi konsep-konsep barat tetapi harus disesuaikan dengan pandangan hidup yang islami, dan Islam harus menolak konsep dan ide barat yang tidak dibutuhkan dalam realitas ajaran Islam. Islamisasi ilmu diawali dari keresahan yang dirasakan oleh Muhammad Naquib al-Attas terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu pesat tapi tidak didasari dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam. Menurut al-Attas, islamisasi ilmu adalah pembebasan ilmu pengetahuan dari pengaruh dan unsur-unsur kebudayaan dan peradaban barat, lalu kemudian memasukkan konsep, prinsip dan unsur-unsur Islam ke dalam berbagai cabang ilmu yang relevan saat ini dengan cara merombak perumusun dan sistem pengembangan ilmu pengetahuan di dalam pendidikan Islam. Al-Attas berpendapat bahwa usaha islamisasi ilmu harus dimulai dari kajian mendalam terhadap asas-asas metafisika dan epistemologi Islam yang telah dirumuskan oleh pemikir Islam Jika kajian tersebut telah selesai, maka tahap selanjutnya adalah bagaimana ilmuwanilmuwan kontemporer menghayati temuan-temuan tersebut, sehingga dengan demikian proses islamisasi ilmu akan terjadi dengan sendirinya. Selanjutnya, al-Attas menjelaskan bahwa harus dipahami dengan benar bahaya dari 10 Muhibuddin. AuGagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan: Syed Muhammad Naquib Al-Attas Dan Intelektual Muslim Indonesia,Ay At-Tafkir, 15. , hal. 11 Raha Bistara. AuGerakan Pencerahan (Aufklarun. dalam Islam: Menguak Islamisasi Ilmu Pengetahuan Sayed Naquib al-Attas,Ay Jurnal Al-Aqidah, 13. , hal. 12 Raihan Fadly. AuIslamisasi Ilmu dalam Pandangan Syed Muhammad Naquib Al-Attas dan Ziauddin Sardar,Ay JERUMI: Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary, 1. , hal. 13 Zaprulkhan. AuMembangun Relasi Agama Dan Ilmu Pengetahuan,Ay Kalam, 7. , hal. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 P-ISSN: x-x Vol. 06 No. Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin sekularisme dan sekularisasi, dan cara memahaminya adalah melalui Islam dan pemikiran filsafat barat modern. Sekularisme dan sekularisasi adalah cara pandang manusia barat yang berusaha menghilangkan nilai-nilai kewibawaan agama dari dunia, politik dan kehidupan secara umum. Muslim secara umum, khususnya di masa lalu, sekarang dan masa depan harus diakui mereka banyak kekurangan dalam memahami Islam, cara pandang dan nilai-nilai Islam. Sehingga dengan kurangnya pemahaman tersebut mengakibatkan sekularisme masuk dalam aspek Kurangnya pemahaman tentang islam dan menganggap pandangan dunia barat sebagai hal yang sangat penting akan semakin mendatangkan kebodohan dalam diri muslim. Terhadap kebodohan dan kebingungan inilah Muslim mengalami berbagai krisis, krisis intelektual, krisis budaya, krisis kepercayaan diri dan yang paling membahayakan adalah krisis Menurut al-Attas, ada beberapa langkah yang harus diambil untuk melakukan Islamisasi ilmu pengetahuan, antara lain: Orang tersebut harus memenuhi dua persyaratan: mampu mengidentifikasi perspektif Islam dan mampu memahami budaya dan peradaban barat. Islamisasi ilmu pengetahuan modern terjadi melalui dua proses: Elemen dan konsep penting yang membentuk budaya dan peradaban barat diambil dari setiap bidang ilmu pengetahuan modern, khususnya dalam ilmu humaniora. Memasukkan unsur-unsur Islam dan konsep kunci dalam setiap bidang ilmu pengetahuan saat ini yang relevan. Kesimpulan Al-Attas dalam mengintegrasikan sains dan agama berlandaskan Tauhid, dengan kalimat La ilaha illaallah (Tiada Tuhan selain Alla. yang berisi dua klausa tersambung dalam satu kalimat. Klausa yang pertama laa ilaha (Tiada Tuha. adalah sebuah penolakan dari konsep-konsep serta elemen ketuhanan yang ada di alam semesta ini. Sedangkan Klausa yang kedua IllaAllah (Selain Alla. adalah afirmasi bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang ada dan diakui. Berdasarkan analisis dan sebagaimana yang telah dijelaskan dalam makalah ini. Islam mengajarkan bahwasanya kita harus memperbaiki hubungan dengan Allah dan dengan manusia yang pada hakikatnya Islam dan Sains merupakan rangkaian yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan kita di dunia ini. Dalam mempelajari sains manusia mendapatkan hidayah dari Allah Amir Sahidin. AuIslamisasi Ilmu Pengetahuan Al-Attas Menjawab Problematika Sekularisme Terhadap Ilmu Pengetahuan,Ay IMTIYAZ: Jurnal Ilmu Keislaman, 6. , hal. 15 Coil dan Wedra Aprison. AuIslamisasi Pengetahuan Syed Naquib Al-Attas dan Ismail Al-Faruqi,Ay Yasin, 3. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 06 No. Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin dan berusaha untuk meneliti apa yang ada di alam ini, idealnya muslim harus berpegang teguh pada ajaran Islam akan meraih kesuksesan dalam berfikir. Daftar Pustaka