Transformasi Peran Sosial-Keagamaan Pesantren Aswaja dalam Arsitektur Moderasi Beragama di Indonesia Moh. Fudholi Institut Agama Islam Miftahul Ulum Pamekasan Email: aare_le@yahoo. Ridan Muhtadi Institut Agama Islam Miftahul Ulum Pamekasan Email: ridanmuhtadi@gmail. Abstrak Indonesia sebagai negara multikultural menghadapi tantangan serius berupa meningkatnya intoleransi dan radikalisme keagamaan, yang menuntut strategi efektif dalam memperkuat moderasi beragama. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, mensintesis, dan menganalisis kontribusi pemikiran serta praktik sosial-keagamaan pesantren Ahlussunnah wal JamaAoah (Aswaj. dalam membangun arsitektur moderasi beragama, dengan fokus pada Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyeppen Pamekasan. Menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi, penelitian ini menggali makna pengalaman para kiai, ustaz, santri, dan masyarakat sekitar melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi institusional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesantren mampu menerjemahkan nilai Aswaja seperti tawassuth, tasamuh, dan tawazun dalam kurikulum, praktik dakwah, serta relasi sosial yang inklusif. Temuan ini menegaskan bahwa pesantren tradisional dapat menjadi agen transformasi sosial yang adaptif terhadap keberagaman, sekaligus mengukuhkan posisi Aswaja sebagai landasan teologis moderasi beragama di Indonesia. Penelitian ini menyumbang model praksis moderasi berbasis lokalitas yang relevan secara akademik maupun kebijakan publik. Kata Kunci: Ahlussunnah wal JamaAoah (Aswaj. Pesantren. Moderasi Beragama. Fenomenologi. Islam Nusantara Abstract Indonesia, as a multicultural nation, faces serious challenges due to rising religious intolerance and radicalism, which demand effective Halimi : Journal of Education Vol. 6 No. 2 Agustus 2025 E-ISSN: 2746-8410 Implementasi Blended Learning Terhadap Peningkatan Keaktifan Siswa strategies to reinforce religious moderation. This study aims to identify, synthesize, and analyze the contributions of the Ahlussunnah wal JamaAoah (Aswaj. -based pesantrenAos religious and social practices in constructing the architecture of religious moderation, focusing on Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyeppen in Pamekasan. Utilizing a qualitative phenomenological approach, the research explores the lived experiences and interpretations of religious actorsAiincluding kiai, ustaz, senior students, and community membersAithrough in-depth interviews, participatory observation, and institutional documentation. The findings reveal that the pesantren effectively translates Aswaja values such as tawassuth . , tasamuh . , and tawazun . into its curriculum, preaching methods, and inclusive social relations. This confirms that traditional pesantren can act as transformative agents, adapting to pluralistic realities while reaffirming Aswaja as a theological foundation for religious moderation in Indonesia. The study offers a locally rooted praxis model of religious moderation with relevance for both academic inquiry and public policy Keywords: Ahlussunnah wal JamaAoah (Aswaj. Pesantren. Religious Moderation. Phenomenology. Islam Nusantara Pendahuluan Indonesia merupakan negara yang dikenal dengan tingkat keberagaman agama, budaya, dan etnis yang sangat tinggi, yang pada satu sisi menjadi kekayaan nasional, namun pada sisi lain juga menyimpan potensi konflik apabila tidak dikelola secara bijak. Dalam dua dekade terakhir, berbagai tantangan muncul seiring meningkatnya gerakan radikalisme dan intoleransi keagamaan di berbagai wilayah, yang mengancam harmoni sosial yang telah terbangun lama. 1 Keadaan ini menimbulkan kekhawatiran terhadap pudarnya nilai-nilai keberagaman dan kebangsaan, serta lemahnya ketahanan masyarakat dalam menghadapi paham-paham ekstremis. Dalam konteks ini, konsep moderasi beragama menjadi sangat penting untuk dikedepankan sebagai strategi kultural dan sosial dalam mengatasi ekstremisme dan membangun Moh Khoirul Fatih. AuPeran Pesantren Dalam Penguatan Moderasi Beragama Di Indonesia,Ay Alamtara: Jurnal Komunikasi Dan Penyiaran Islam 8, no. : 165Ae98, https://doi. org/10. 58518/alamtara. Vol. 6 No. 2 Agustus 2025 | 2 Moh. Fudholi & Ridan Muhtadi kohesi sosial yang lebih kuat. 2 Meskipun demikian, masih ditemukan kesenjangan dalam pemahaman masyarakat mengenai nilai-nilai tersebut serta belum optimalnya peran institusi keagamaan tradisional dalam menjembatani narasi keberagaman. Pesantren, terutama yang berafiliasi dengan paham Ahlussunnah wal JamaAoah (Aswaj. , memiliki warisan panjang dalam penyebaran Islam yang moderat dan damai, namun kontribusinya dalam konteks kontemporer belum banyak didokumentasikan secara ilmiah. Sejumlah kajian terdahulu memang telah menyoroti pentingnya peran pesantren dalam menyemai nilai-nilai toleransi dan keberagaman melalui pendidikan kitab kuning, pembiasaan akhlak tasamuh, serta pelibatan santri dalam forum sosial yang inklusif. 3 Bahkan, struktur kurikulum di beberapa pesantren besar seperti Lirboyo dan Krapyak menunjukkan integrasi sistematis nilai-nilai Aswaja dalam kerangka moderasi Islam yang ajeg. 4 Akan tetapi, mayoritas literatur masih berfokus pada aspek normatif-institusional dan belum banyak yang menggali secara mendalam pengalaman kultural serta praksis sosial keagamaan dari para aktor internal pesantren. Di sinilah letak celah teoretik yang perlu dijembatani, sebab pendekatan yang terlalu struktural kerap gagal menangkap makna dan tafsir otentik para pelaku utama dalam dinamika keagamaan lokal. 5 Maka dari itu, dibutuhkan pendekatan yang lebih kontekstual dan berpusat pada pelaku, terutama melalui metodologi fenomenologi untuk mengisi kekosongan tersebut. Berangkat dari fakta dan kesenjangan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, mensintesis, dan menganalisis kontribusi pemikiran serta praktik keagamaan pesantren berbasis Ahlussunnah wal JamaAoah (Aswaj. dalam memperkuat moderasi beragama di Indonesia. Fokus utama diarahkan pada Pondok Pesantren Miftahul Yazkiyyah Yatasha dkk. AuPERAN NAHDLATUL ULAMA DALAM PENGUATAN NILA-NILAI MODERASI BERAGAMA,Ay Studia Sosia Religia 6, no. : 49Ae59, https://doi. org/10. 51900/ssr. Muhamad Yasin. AuKonfigurasi Moderasi Keagamaan Dari Bilik Pesantren: Refleksi Dari Kota Kediri Dan Yogyakarta,Ay Edudeena : Journal of Islamic Religious Education 5, no. : 95Ae110, https://doi. org/10. 30762/ed. Taufik Hidayatulloh dkk. AuPeran Pesantren Tarekat Roudhoh Al-Hikam Dalam Mengembangkan Tradisi Intelektual Islam Dan Moderasi Beragama Di Indonesia,Ay Dialog 46, no. : 38Ae52, https://doi. org/10. 47655/dialog. Suprapto Suprapto dkk. AuPERAN PESANTREN DALAM MODERASI BERAGAMA DI ASRAMA PELAJAR ISLAM TEALREJO MAGELANG JAWA TENGAH INDONESIA,Ay Iseedu: Journal of Islamic Educational Thoughts and Practices 6, no. : 48Ae68, https://doi. org/10. 23917/iseedu. 3 | AoHalimi : Jurnal of Education Implementasi Blended Learning Terhadap Peningkatan Keaktifan Siswa Ulum Panyeppen Pamekasan sebagai representasi institusi keagamaan tradisional yang aktif dalam merespons isu-isu keberagaman. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan fenomenologi, yang memungkinkan peneliti untuk menggali lebih dalam pengalaman subjektif, pandangan dunia, dan interaksi sosial-keagamaan dari para kiai, ustaz, dan santri dalam menjalankan nilai-nilai Aswaja di tengah masyarakat majemuk. Hal ini sekaligus mencakup upaya menelusuri bagaimana konsep moderasi beragama diinternalisasi dalam sistem pendidikan, dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, dan dikontekstualisasikan dalam relasi sosial lintas komunitas. 6 Dengan mengombinasikan pendekatan literatur sistematis dan fenomenologis, penelitian ini diharapkan dapat menghadirkan pemahaman menyeluruh atas peran sosial-keagamaan pesantren dalam arsitektur moderasi beragama. Argumen utama dari pentingnya penelitian ini dilakukan adalah karena peran pesantren sebagai agen perubahan sosial belum sepenuhnya terpetakan dalam kajian ilmiah kontemporer, terutama yang berbasis pendekatan fenomenologi. Moderasi beragama yang selama ini dikampanyekan oleh negara belum cukup efektif tanpa keterlibatan aktif institusi keagamaan lokal seperti pesantren, yang memiliki akar sosial mendalam dan legitimasi kultural di tengah masyarakat Muslim 7 Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyeppen menjadi kasus penting untuk melihat bagaimana nilai-nilai moderat diaktualisasikan secara otentik dalam ruang pendidikan dan relasi Dengan demikian, penelitian ini bukan hanya berkontribusi terhadap pengembangan teori dalam studi Islam interdisipliner, tetapi juga memberi nilai praktis bagi penyusunan kebijakan penguatan moderasi berbasis kearifan lokal dan religiositas tradisional. Maka, riset ini tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga strategis dalam konteks pembangunan sosial nasional. Literature Review Ahlussunnah wal JamaAoah (Aswaj. Konsep Ahlussunnah wal JamaAoah (Aswaj. merujuk pada paham keagamaan mayoritas umat Islam yang mengikuti ajaran Nabi Alif Alfi Syahrin dkk. AuPeran Pesantren Dalam Penanaman Moderasi Beragama: Tinjauan Pustaka Sistematis,Ay JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA 9, no. 193Ae206, https://doi. org/10. 36722/sh. Siti Juhaeriyah. AuInternalisasi Nilai Moderasi Beragama sebagai Upaya Pencegahan Radikalisme pada Santri di Pondok Pesantren Al-QuryCTMan Ath-Thabraniyyah,Ay AlHikmah: Jurnal Agama-Agama . 131Ae36, https://doi. org/10. 30651/ah. Vol. 6 No. 2 Agustus 2025 | 4 Moh. Fudholi & Ridan Muhtadi Muhammad SAW dan para sahabatnya secara konsisten, serta menghindari ekstremitas dalam beragama. 8 Dalam dimensi teologis. Aswaja didasarkan pada pemikiran Abu Hasan Al-AsyAoari dan Abu Mansur Al-Maturidi, yang menekankan keseimbangan antara dalil naqli . dan aqli . dalam memahami aqidah Islam. 9 Dalam praktik sosial keagamaan, ajaran Aswaja dikenal dengan prinsip tawassuth . , tasamuh . , iAotidal . , dan tawazun . , yang membentuk karakter keberagamaan yang ramah dan tidak konfrontatif terhadap perbedaan. 10 Aswaja juga tidak menafikan dimensi spiritualitas melalui pendekatan tasawuf, yang membentuk aspek etik dan moral dalam kehidupan sehari-hari umat Islam. Manifestasi dari paham Aswaja dalam masyarakat dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa bentuk ekspresi teologis, ritualistik, dan sosial-kultural. Dalam dimensi pendidikan, misalnya, ajaran Aswaja diwujudkan melalui kurikulum yang menekankan penguatan akhlak, pengajaran kitab-kitab klasik, serta praktik amaliyah seperti tahlil, yasinan, dan selawat yang memperkuat tradisi keagamaan komunitas Muslim tradisional. Di bidang sosial, nilai-nilai Aswaja terejawantah dalam sikap keterbukaan terhadap perbedaan, partisipasi dalam kegiatan lintas iman, serta upaya menjaga kerukunan antar umat. Implementasi ini memperlihatkan bahwa Aswaja tidak hanya menjadi doktrin, tetapi juga menjadi sistem nilai yang operasional dalam membentuk masyarakat yang inklusif dan toleran. PESANTREN Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional di Indonesia yang berakar dari sistem pengajaran Islam Nusantara yang telah berlangsung sejak abad ke-17. Secara umum, pesantren mencakup Asep Awaluddin. AuURGENSI AHLU SUNNAH WAL JAMAAoAH DAN PENDIDIKAN KEBANGSAAN (Tinjauan Atas Qonun Assasy Ahlu Sunnah Wal JamaAoah Karya Rois Akbar Nahdlatul Ulama KH. Hasyim AsyAoar. ,Ay Muslim Heritage 5, no. : 344Ae344, https://doi. org/10. 21154/muslimheritage. Nur Annisa Istifarin dkk. AuTeologi Sunni: Perbedaan Teologi AsyAoari Dan Maturidi,Ay Journal of Islamic Thought and Philosophy 2, no. : 102Ae27, https://doi. org/10. 15642/jitp. Sayyidul Abrori dkk. AuImplementasi Nilai-Nilai Ahlussunnah Wal JamaAoah (ASWAJA) Dalam Pembelajaran Ke-NU-An Di MTS Darussalam Kademangan Blitar,Ay Tarbawiyah : Jurnal Ilmiah Pendidikan . 45Ae58, https://doi. org/10. 32332/tarbawiyah. Ahmad Muttakin. AuPenanaman Nilai-Nilai Ahlussunnah Wal JamaAoah Pada Siswa MA Roudhotul Mujawwidin Dalam Pembelajaran PAI,Ay Moral : Jurnal Kajian Pendidikan Islam 1, no. : 175Ae88, https://doi. org/10. 61132/moral. 5 | AoHalimi : Jurnal of Education Implementasi Blended Learning Terhadap Peningkatan Keaktifan Siswa unsur kiai, santri, masjid atau musala, asrama . , dan kajian kitab kuning sebagai sumber pembelajaran utama. 12 Selain berfungsi sebagai pusat pendidikan agama, pesantren juga memiliki peran sosial dan budaya yang signifikan di masyarakat, termasuk dalam menyemai nilainilai moral, solidaritas sosial, dan pemberdayaan komunitas. Karakteristik khas pesantren adalah independensinya dari negara, otonomi kultural, dan kohesi sosial berbasis nilai-nilai Islam tradisional. Dalam praktiknya, pesantren dapat dikategorikan ke dalam beberapa tipe berdasarkan pendekatan pendidikan dan peran sosialnya, seperti pesantren salafiyah . , pesantren khalafiyah . , dan pesantren kombinatif . Pesantren salafiyah fokus pada pengajaran kitab kuning dan pembentukan karakter moral melalui interaksi langsung dengan kiai, sedangkan pesantren khalafiyah telah mengintegrasikan kurikulum nasional dan pendidikan formal modern. Sementara itu, pesantren integratif menggabungkan keduanya, menjadikannya pusat pendidikan keislaman yang adaptif terhadap dinamika zaman. Selain peran edukatif, pesantren juga memiliki fungsi dakwah, sosial, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, seperti pelatihan keterampilan dan kegiatan pengabdian sosial, yang memperkuat posisi strategisnya sebagai agen transformasi sosialkeagamaan di Indonesia. MODERASI BERAGAMA Moderasi beragama adalah cara pandang dan praktik keagamaan yang menempatkan nilai keadilan, keseimbangan, dan toleransi sebagai prinsip utama dalam merespons perbedaan. Dalam konteks keislaman, moderasi tidak berarti kompromi terhadap prinsip ajaran, tetapi menghindari sikap ekstremAibaik dalam bentuk radikalisme maupun liberalisme yang berlebihan. 14 Konsep ini bersifat universal dan dapat dijumpai dalam ajaran Islam klasik, seperti maqashid syariah . ujuan hukum Isla. yang menekankan perlindungan atas agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Dalam perspektif negara-bangsa, moderasi beragama menjadi strategi integratif dalam memperkuat kebinekaan dan mencegah polarisasi sosial berbasis keagamaan yang destruktif. Hidayatulloh dkk. AuPeran Pesantren Tarekat Roudhoh Al-Hikam Dalam Mengembangkan Tradisi Intelektual Islam Dan Moderasi Beragama Di Indonesia. Ay Syahrin dkk. AuPeran Pesantren Dalam Penanaman Moderasi Beragama. Ay Segaf Baharun dan Sodikin. AuMenanamkan Wawasan Islam Moderat Melalui Pendidikan Akidah Ahlussunnah Wal JamaAoah An-Nahdiyah: Belajar Dari Pendidikan Pesantren,Ay Adabuna: Jurnal Pendidikan Dan Pemikiran 2, no. : 42Ae52, https://doi. org/10. 38073/adabuna. Vol. 6 No. 2 Agustus 2025 | 6 Moh. Fudholi & Ridan Muhtadi Manifestasi moderasi beragama dalam praktik sosial keagamaan mencakup sikap saling menghormati antar pemeluk agama, keterbukaan terhadap dialog lintas iman, dan partisipasi dalam ruang publik tanpa mengesampingkan identitas keagamaan. Dalam konteks pesantren, moderasi beragama diwujudkan melalui kurikulum pendidikan yang menanamkan nilai-nilai toleransi, pelaksanaan kegiatan sosial lintas kelompok, serta pembentukan karakter santri yang inklusif terhadap perbedaan. 15 Pada tingkat kelembagaan, prinsip moderasi juga tercermin dalam kerja sama antar pesantren, ormas Islam, dan lembaga negara dalam menyusun narasi keagamaan yang ramah terhadap keberagaman dan kebangsaan. Dengan demikian, moderasi beragama bukan hanya wacana, melainkan praksis aktif yang menopang stabilitas sosial Indonesia. METODE PENELITIAN Penelitian ini memusatkan perhatian pada fenomena transformasi peran sosial-keagamaan pesantren Aswaja dalam konstruksi moderasi beragama di Indonesia, khususnya dalam konteks lokal Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyeppen Pamekasan. Fenomena yang dikaji mencerminkan respons pesantren terhadap tantangan keberagaman, intoleransi, serta munculnya paham-paham keagamaan ekstrem yang mengancam harmoni sosial. Pesantren ini dipilih karena menunjukkan pola keberagamaan yang khas, berpijak pada nilai-nilai Aswaja yang moderat dan kontekstual. Fenomena tersebut tampak melalui aktivitas pendidikan, relasi sosial, serta kontribusi pesantren dalam menciptakan ruang dialog keagamaan yang terbuka di tengah masyarakat. Dalam pendekatan fenomenologi, fokus pada pengalaman hidup dan pemaknaan dari para pelaku sosial menjadi landasan penting dalam membedah fenomena semacam ini . Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, yang bertujuan untuk menggali secara mendalam makna yang dibangun oleh individu atau kelompok atas suatu pengalaman sosial keagamaan tertentu. Pendekatan ini dipilih untuk memahami secara subjektif dan kontekstual bagaimana aktor-aktor di lingkungan pesantren menginterpretasikan nilai-nilai Aswaja dalam praksis moderasi beragama. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan para informan utama, termasuk kiai, ustaz senior, santri senior, dan tokoh masyarakat sekitar. Sementara itu, data Yatasha dkk. AuPERAN NAHDLATUL ULAMA DALAM PENGUATAN NILA-NILAI MODERASI BERAGAMA. Ay 7 | AoHalimi : Jurnal of Education Implementasi Blended Learning Terhadap Peningkatan Keaktifan Siswa sekunder dikumpulkan dari literatur akademik, dokumen pesantren, dan publikasi ilmiah yang membahas konsep Aswaja, pesantren, dan moderasi beragama dalam Islam. Integrasi antara data primer dan sekunder ini memperkaya interpretasi dan validitas temuan dalam studi Partisipan dalam penelitian ini terdiri atas lima informan utama yang memiliki peran sentral dan representatif terhadap konteks sosialkeagamaan pesantren. Informan pertama adalah pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum yang memiliki otoritas tertinggi dalam kebijakan pendidikan dan arah keagamaan pesantren. Informan kedua dan ketiga adalah dua ustaz senior yang aktif mengajar kitab kuning dan membimbing pembelajaran tematik keislaman. Informan keempat adalah santri senior yang telah mengikuti program pengabdian masyarakat dan mengalami secara langsung proses internalisasi nilai Aswaja. Sedangkan informan kelima merupakan tokoh masyarakat di sekitar pesantren yang selama ini menjadi mitra sosial dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Pemilihan informan dilakukan secara purposive berdasarkan keterlibatan aktif, kedalaman pengalaman, dan relevansi informasi yang dimiliki dalam menjelaskan fenomena yang Proses pengumpulan data dilakukan secara sistematis melalui tiga teknik utama yaitu wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan Wawancara dilakukan dengan pendekatan semistruktural agar narasi para informan dapat berkembang secara bebas namun tetap terarah sesuai fokus penelitian. Observasi dilakukan di lingkungan pesantren selama beberapa hari dengan mencermati interaksi sosial, rutinitas pendidikan, dan praktik keagamaan. Sementara itu, dokumentasi diperoleh dari brosur, arsip kegiatan, kurikulum, dan unggahan media sosial resmi pesantren. Ketiga teknik ini digunakan secara triangulatif untuk memperkuat validitas data dan memungkinkan pemahaman yang lebih holistik terhadap makna pengalaman sosial-keagamaan yang terjadi. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang mencakup tiga tahap utama: reduksi data, penyajian data, dan penarikan serta verifikasi kesimpulan. Proses analisis dilakukan secara bersamaan dengan pengumpulan data agar makna dari pengalaman informan dapat tergali secara otentik. Teknik verifikasi dilakukan dengan menggunakan kriteria keabsahan data Selain itu, data dianalisis secara fenomenologis dengan Vol. 6 No. 2 Agustus 2025 | 8 Moh. Fudholi & Ridan Muhtadi menekankan pemaknaan subjektif, serta dilakukan proses editing analitik untuk menjaga koherensi narasi. Dengan metode ini, setiap temuan bukan hanya disusun sebagai informasi empiris, tetapi sebagai pengungkapan makna terdalam dari relasi antara nilai Aswaja dan moderasi beragama dalam praktik kehidupan sehari-hari di pesantren. HASIL DAN PEMBAHASAN Mengidentifikasi kontribusi pemikiran dan praktik Aswaja Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai Ahlussunnah wal JamaAoah (Aswaj. menjadi dasar utama dalam pendidikan dan praktik keagamaan di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyeppen. Melalui observasi terhadap kegiatan pembelajaran, teridentifikasi bahwa kitabkitab klasik seperti TaAolimul MutaAoallim dan Adabul AoAlim wal MutaAoallim menjadi rujukan utama dalam menanamkan etika keberagamaan. Nilainilai tawassuth . , tasamuh . , dan tawazun . diajarkan tidak hanya dalam forum resmi seperti halaqah dan pengajian, tetapi juga dalam interaksi sosial santri seharihari. Dokumentasi kegiatan seperti pengajian terbuka, diskusi kebangsaan, dan pelatihan daAoi muda memperkuat narasi Aswaja sebagai basis Islam yang ramah dan inklusif. Observasi juga mencatat bahwa nilai-nilai ini diinternalisasi dalam rutinitas santri, seperti saat menerima tamu lintas daerah, mengikuti tadarus bertema toleransi, serta ketika mereka mengikuti kegiatan sosial seperti gotong royong dan pembagian sembako. AuKami selalu tanamkan bahwa Islam yang kami ajarkan adalah Islam yang tidak keras, tidak ekstrem, dan tidak pula menyudutkan kelompok Ay (Kiai Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulu. Penjelasan lebih lanjut dari data tersebut menunjukkan bahwa nilai Aswaja tidak hanya diajarkan secara teoritik, tetapi diterjemahkan secara konkret dalam kehidupan komunitas pesantren. Dalam dokumentasi media sosial pesantren, misalnya, terdapat unggahan ceramah kiai yang menekankan pentingnya toleransi dan cinta tanah air. Kegiatan keagamaan seperti tahlilan dan yasinan bukan hanya ritual, tetapi juga sarana internalisasi nilai keislaman moderat yang dikaitkan dengan realitas sosial. Observasi juga menemukan bahwa pengajaran nilai moderasi diperkuat dengan pendekatan keteladanan oleh para ustaz dalam menyikapi perbedaan pendapat antar santri. Selain itu, santri didorong untuk aktif berdakwah dengan pendekatan persuasif, terutama dalam kegiatan penyuluhan keagamaan di luar lingkungan Hal ini menunjukkan adanya kesinambungan antara ajaran 9 | AoHalimi : Jurnal of Education Implementasi Blended Learning Terhadap Peningkatan Keaktifan Siswa Aswaja dan praksis sosial yang menjadi fondasi penting bagi tumbuhnya narasi Islam moderat. Temuan ini merefleksikan bahwa pesantren Aswaja tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai agen sosial yang merespons dinamika pluralisme keagamaan di Indonesia. Dalam konteks meningkatnya intoleransi dan radikalisme, internalisasi nilai-nilai Aswaja di Miftahul Ulum membuktikan bahwa pesantren memiliki kapasitas untuk membentuk karakter keagamaan yang ramah dan inklusif. Dengan demikian, kontribusi pesantren terhadap arsitektur moderasi beragama di Indonesia dapat dipahami sebagai bentuk aktualisasi nilai-nilai tradisional dalam merespons tantangan kontemporer. AuKami diajari untuk mendengarkan perbedaan dan tidak langsung menyalahkan, karena itu bukan akhlak ulama. Ay (Santri Senior Pondok Pesantren Miftahul Ulu. Mengkaji pemahaman dan pengalaman aktor pesantren terhadap Hasil wawancara terhadap para informan menunjukkan bahwa pemahaman mereka tentang moderasi beragama bersumber langsung dari prinsip-prinsip ke-Aswaja-an yang diajarkan secara turuntemurun. Kiai dan ustaz mengaitkan prinsip tawassuth dan tasamuh sebagai jalan tengah dalam merespons persoalan keberagamaan. Dalam observasi terhadap halaqah tematik, tampak bahwa nilai moderasi disampaikan secara tematik melalui tafsir sosial, seperti penguatan ukhuwah wathaniyah dan peringatan terhadap sikap ghuluw . dalam beragama. Santri senior juga menggambarkan bahwa pemahaman mereka terhadap toleransi lebih banyak didapatkan melalui praktik langsung ketimbang ceramah formal. Dokumentasi kegiatan seperti pengajian bersama masyarakat lintas kelompok dan forum lintas iman menjadi bukti konkret adanya praktik moderasi yang berbasis pengalaman. AuModerasi beragama ditanamkan melalui pengajaran kitab-kitab klasik seperti TaAolimul MutaAoallim. Adabul AoAlim wal MutaAoallim, serta tafsirtematik yang menekankan etika sosial dan keberagaman. Ay (Ustaz Senior Pondok Pesantren Miftahul Ulu. Eksplanasi dari data tersebut memperlihatkan bahwa moderasi beragama bukan sekadar wacana yang dihafalkan, tetapi menjadi sikap hidup yang ditanamkan melalui keseharian. Para ustaz menggunakan pendekatan reflektif dalam menjelaskan teks keagamaan agar bisa dimaknai secara kontekstual oleh para santri. Dalam observasi forum Vol. 6 No. 2 Agustus 2025 | 10 Moh. Fudholi & Ridan Muhtadi diskusi, tampak bahwa narasi moderasi tidak disampaikan secara instruktif, melainkan dibentuk melalui pertukaran gagasan antara pengajar dan santri. Media sosial pesantren secara konsisten menyuarakan pesan moderasi melalui unggahan konten edukatif, seperti ceramah tentang pentingnya cinta tanah air sebagai bagian dari iman dan toleransi sebagai bagian dari adab Islami. Keberadaan dokumentasi tersebut memperlihatkan bahwa pemahaman tentang moderasi di pesantren ini bersifat holistik dan praksis. Keterhubungan antara pemahaman moderasi dan pengalaman keseharian yang ditemukan di lingkungan pesantren menunjukkan bahwa moderasi beragama telah menjadi budaya hidup, bukan sekadar Dalam konteks masyarakat yang masih menghadapi tantangan intoleransi, pendekatan pesantren yang menanamkan nilai-nilai tersebut secara partisipatif menunjukkan efektivitas pendidikan berbasis nilai dalam memperkuat kohesi sosial. Dengan kata lain, pesantren menjadi ruang dialektika sosial-keagamaan yang mampu membumikan nilai-nilai moderat di tengah masyarakat plural. AuPesantren sering menginisiasi kegiatan lintas kelompok, seperti bakti sosial dan pengajian terbuka yang mengundang warga non-santri. Ay (Tokoh Masyarakat Sekitar Pesantre. Mengkaji relasi sosial inklusif pesantren dengan masyarakat Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, diketahui bahwa pesantren menjalin relasi yang harmonis dengan masyarakat sekitar melalui berbagai aktivitas kemasyarakatan. Aktivitas tersebut meliputi gotong royong lintas RT, pembagian sembako, penyuluhan agama di desa sekitar, serta kegiatan musyawarah terbuka. Dokumentasi foto kegiatan menunjukkan keterlibatan aktif santri dalam menyukseskan acara keagamaan yang bersifat inklusif. Lingkungan pesantren juga terbuka terhadap kehadiran tamu luar, baik dari akademisi, aktivis lintas agama, maupun tokoh masyarakat. Masjid dan aula digunakan tidak hanya untuk ibadah, tetapi juga menjadi ruang publik yang mempertemukan santri dengan masyarakat sekitar dalam konteks sosial yang dialogis. AuPesantren sering mengundang warga sekitar untuk ikut dalam pengajian umum dan diskusi kebangsaan, supaya nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan tidak terpisah. Ay (Ustaz Senior Pondok Pesantren Miftahul Ulu. Relasi sosial yang terbentuk menunjukkan adanya proses integrasi antara identitas keagamaan dengan identitas kewargaan. Santri tidak 11 | AoHalimi : Jurnal of Education Implementasi Blended Learning Terhadap Peningkatan Keaktifan Siswa diposisikan sebagai kelompok eksklusif, tetapi dilatih untuk menjadi aktor sosial yang adaptif dan komunikatif. Observasi menemukan bahwa santri dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan sosial di luar pesantren, seperti membantu warga yang terkena musibah atau mendampingi program keagamaan desa. Dokumentasi program AudaAoi mudaAy menampilkan bagaimana pesantren mencetak santri yang siap terjun ke masyarakat dengan semangat dakwah yang moderat. Ruang publik pesantren difungsikan sebagai tempat diskusi keagamaan terbuka, memperlihatkan bahwa pesantren membentuk budaya inklusif dalam interaksi sosial. Data tersebut menunjukkan bahwa dalam konteks meningkatnya segregasi sosial dan eksklusivisme keagamaan, pola interaksi pesantren dengan masyarakat sekitar menjadi model pendidikan sosialkeagamaan yang adaptif dan harmonis. Relasi sosial yang terbentuk tidak hanya menumbuhkan saling pengertian, tetapi juga memperkuat peran pesantren sebagai agen rekonsiliasi di tengah keberagaman. Dengan demikian, arsitektur moderasi beragama yang dikembangkan oleh pesantren ini tidak hanya berbasis doktrin, tetapi juga terbukti kontekstual dalam menjawab tantangan sosial yang nyata. DISKUSI Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Aswaja tidak hanya diformulasikan dalam teks keagamaan, tetapi terinternalisasi secara nyata dalam praktik sosial dan pendidikan pesantren. Pesantren Miftahul Ulum tidak sekadar mengajarkan prinsip tawassuth, tasamuh, dan tawazun, tetapi mempraktikkannya dalam bentuk relasi sosial yang egaliter dan terbuka terhadap perbedaan. 17 Kurikulum keagamaan klasik dipadukan dengan praktik sosial, seperti bakti sosial dan forum lintas iman, yang memperlihatkan wajah Islam yang adaptif dan inklusif. 18 Pengalaman spiritual dan interaksi sosial menjadi kanal Moh Khoirul Fatih. AuPeran Pesantren Dalam Penguatan Moderasi Beragama Di Indonesia,Ay Alamtara: Jurnal Komunikasi Dan Penyiaran Islam 8, no. : 165Ae98, https://doi. org/10. 58518/alamtara. Suprapto dkk. AuPERAN PESANTREN DALAM MODERASI BERAGAMA DI ASRAMA PELAJAR ISLAM TEALREJO MAGELANG JAWA TENGAH INDONESIA. Ay Juhaeriyah. AuInternalisasi Nilai Moderasi Beragama sebagai Upaya Pencegahan Radikalisme pada Santri di Pondok Pesantren Al-QuryCTMan Ath-Thabraniyyah. Ay Vol. 6 No. 2 Agustus 2025 | 12 Moh. Fudholi & Ridan Muhtadi utama internalisasi nilai-nilai Aswaja dalam kehidupan santri dan masyarakat sekitar pesantren. Penelitian ini memperluas cakupan dari studi terdahulu yang umumnya hanya menempatkan pesantren sebagai pelestari kurikulum kitab kuning, tanpa menggali praktik praksis sosialnya. 20 Sebagai perbandingan, studi oleh hayati dkk . menyoroti pentingnya pendidikan moderasi di lingkungan formal, tetapi belum menelaah integrasi antara nilai dan relasi sosial berbasis pesantren seperti dalam studi ini. 21 Model integrasi yang diangkat dalam penelitian ini menguatkan temuan dari penelitian Hefni & Uyun . yang menekankan pesantren sebagai penguat modal sosial dalam kerja-kerja moderasi berbasis komunitas. 22 Dengan demikian, kontribusi penelitian ini terletak pada pembuktian konkret bahwa pesantren dapat mengemban peran rekonstruktif atas tantangan keberagaman secara praksis, bukan sekadar wacana. Penelitian ini mencerminkan efektivitas pendekatan fenomenologi dalam mengungkap makna terdalam dari praksis keagamaan yang dijalani pelaku pesantren, bukan sekadar perilaku permukaan. Refleksi atas hasil menunjukkan bahwa pesantren dapat menjadi mediator nilai antara doktrin keislaman dan dinamika sosial masyarakat 24 Keberhasilan ini juga mengindikasikan bahwa nilai-nilai Islam rahmatan lil Aoalamin bukan hanya normatif, tetapi bisa diwujudkan dalam pola relasi inklusif yang partisipatif dan 25 Maka, penelitian ini berkontribusi pada penguatan Sufyan SyafiAoi. AuPesantren and the Appreciation of Religious Moderation,Ay The International Journal of Pegon : Islam Nusantara Civilization 8, no. : 77Ae92, https://doi. org/10. 51925/inc. Hidayatulloh dkk. AuPeran Pesantren Tarekat Roudhoh Al-Hikam Dalam Mengembangkan Tradisi Intelektual Islam Dan Moderasi Beragama Di Indonesia. Ay Zahrotul Hayati dkk. AuPerkembangan Islam Moderat Di Indonesia Dalam Perspektif Pendidikan Moderasi Beragama,Ay Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 3, no. : 258Ae70, https://doi. org/10. 62083/w9wxxv67. Wildani Hefni dan Qurrotul Uyun. AuPendampingan Kader Pesantren Sebagai Aset Modal Sosial Dalam Penguatan Moderasi Beragama,Ay Dimas: Jurnal Pemikiran Agama Untuk Pemberdayaan 20, no. : 175Ae90, https://doi. org/10. 21580/dms. SyafiAoi. AuPesantren and the Appreciation of Religious Moderation. Ay Abdul Malik dan Busrah Busrah. AuRelasi Pemerintah Dan Akademisi Dalam Isu Moderasi Beragama Di Indonesia,Ay Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin 23, no. : 120Ae 35, https://doi. org/10. 22373/substantia. Suprapto dkk. AuPERAN PESANTREN DALAM MODERASI BERAGAMA DI ASRAMA PELAJAR ISLAM TEALREJO MAGELANG JAWA TENGAH INDONESIA. Ay 13 | AoHalimi : Jurnal of Education Implementasi Blended Learning Terhadap Peningkatan Keaktifan Siswa narasi bahwa Aswaja dapat menjadi fondasi metodologis moderasi beragama berbasis pengalaman lokal. Implikasi utama dari temuan ini adalah pentingnya menempatkan pesantren sebagai aktor utama dalam program nasional penguatan moderasi beragama. 26 Pemerintah dan pemangku kebijakan perlu memformulasikan kebijakan afirmatif yang mendukung pesantren dengan pendekatan lokalitas dan kearifan tradisional, bukan sekadar standarisasi kurikulum formal. 27 Implikasi lain adalah kebutuhan untuk membangun jaringan dakwah digital pesantren agar nilai-nilai Aswaja bisa menjangkau generasi muda secara masif. 28 Temuan ini juga memperkuat agenda akademik dalam mendorong kajian Islam interdisipliner berbasis realitas lokal. Hasil ini dapat dijelaskan melalui empat determinan utama: tradisi keilmuan pesantren berbasis kitab klasik, otoritas moral kiai sebagai rujukan utama, pendekatan pendidikan afektif-partisipatif, dan fleksibilitas sosial dalam membangun relasi inklusif. 29 Tradisi Aswaja yang berakar kuat pada sejarah ulama Nusantara juga memberi dasar teologis yang kokoh dalam menolak kekerasan dan ekstremisme. Kesinambungan narasi dakwah yang dibangun melalui media sosial pesantren menunjukkan bahwa perubahan budaya dakwah telah direspon adaptif oleh komunitas tradisional ini. Berdasarkan hasil ini, strategi konkret yang perlu dilakukan meliputi penguatan kapasitas kelembagaan pesantren melalui pelatihan guru dalam pendidikan multikultural, dukungan infrastruktur digital, serta fasilitasi jaringan lintas pesantren moderat di seluruh Indonesia. Fatih. AuPeran Pesantren Dalam Penguatan Moderasi Beragama Di Indonesia,Ay 2024. Juhaeriyah. AuInternalisasi Nilai Moderasi Beragama sebagai Upaya Pencegahan Radikalisme pada Santri di Pondok Pesantren Al-QuryCTMan Ath-Thabraniyyah. Ay Suprapto dkk. AuPERAN PESANTREN DALAM MODERASI BERAGAMA DI ASRAMA PELAJAR ISLAM TEALREJO MAGELANG JAWA TENGAH INDONESIA. Ay Ahmad Baso. AuModerasi Beragama Dan Berbangsa: Pendekatan Kebudayaan Dalam Kerja-Kerja Moderasi Dan Toleransi Wali Songo: Religious and National Moderation: Cultural Approach in the Moderation and Tolerance Endeavors of Wali Songo,Ay Besari: Journal of Social and Cultural Studies 1, no. : 79Ae99, https://doi. org/10. 71155/besari. Juhaeriyah. AuInternalisasi Nilai Moderasi Beragama sebagai Upaya Pencegahan Radikalisme pada Santri di Pondok Pesantren Al-QuryCTMan Ath-Thabraniyyah. Ay Hefni dan Uyun. AuPendampingan Kader Pesantren Sebagai Aset Modal Sosial Dalam Penguatan Moderasi Beragama. Ay Hayati dkk. AuPerkembangan Islam Moderat Di Indonesia Dalam Perspektif Pendidikan Moderasi Beragama. Ay Vol. 6 No. 2 Agustus 2025 | 14 Moh. Fudholi & Ridan Muhtadi Pemerintah melalui Kemenag dapat menjadikan model integratif seperti di Miftahul Ulum sebagai referensi dalam penyusunan kebijakan nasional moderasi berbasis lokalitas. 33 Akademisi juga perlu lebih aktif mengkaji peran pesantren dari pendekatan interdisipliner agar kontribusi epistemik pesantren terhadap moderasi tidak hanya bersifat normatif-deskriptif, tetapi juga aplikatif dan transformatif. KESIMPULAN Satu temuan paling mengejutkan dari penelitian ini adalah bahwa pesantren tradisional seperti Miftahul Ulum Panyeppen, yang selama ini kerap dianggap konservatif dan tertutup, justru mempraktikkan prinsip-prinsip moderasi beragama dengan cara yang sangat kontekstual, fleksibel, dan terbuka. Pesantren ini tidak hanya mempertahankan ajaran Ahlussunnah wal JamaAoah (Aswaj. dalam bentuk doktrin normatif, tetapi mampu mengartikulasikan nilainilainya dalam dinamika sosial-keagamaan yang bersifat inklusif, adaptif, dan responsif terhadap kompleksitas masyarakat multikultural. Dengan menyandingkan pengajaran kitab klasik dan aktivitas sosial yang menjangkau lintas kelompok, pesantren telah bertransformasi menjadi aktor strategis dalam membangun arsitektur moderasi beragama di Indonesia. Temuan ini sekaligus menggugat stereotip lama tentang pesantren sebagai lembaga stagnan, dan menempatkannya dalam posisi sentral dalam wacana pembaharuan sosial-keagamaan berbasis lokalitas. Penelitian ini memberikan sumbangan penting dalam pengembangan keilmuan, baik secara teoritis maupun praktis. Secara teoritis, studi ini memperkaya khazanah Studi Islam Interdisipliner dengan pendekatan fenomenologi yang mengungkap makna subjektif nilai Aswaja dan praksis moderasi dari pengalaman para aktor pesantren, sebuah pendekatan yang selama ini masih jarang diterapkan dalam konteks kajian keislaman lokal. Secara praktis, penelitian ini menyediakan model konkret bagi penguatan moderasi beragama melalui integrasi kurikulum berbasis tradisi keilmuan klasik, relasi sosial terbuka, dan praktik kehidupan pesantren yang inklusif. Model Miftahul Ulum dapat dijadikan referensi dalam merumuskan kebijakan pendidikan keagamaan nasional, pengembangan kurikulum pesantren, hingga strategi dakwah berbasis komunitas dalam merawat keberagaman. Malik dan Busrah. AuRelasi Pemerintah Dan Akademisi Dalam Isu Moderasi Beragama Di Indonesia. Ay Fatih. AuPeran Pesantren Dalam Penguatan Moderasi Beragama Di Indonesia,Ay 2024. 15 | AoHalimi : Jurnal of Education Implementasi Blended Learning Terhadap Peningkatan Keaktifan Siswa Lebih dari itu, penelitian ini menegaskan bahwa solusi atas tantangan keberagaman dan intoleransi tidak selalu berasal dari pendekatan modernis, tetapi justru dapat muncul dari institusi tradisional yang mengakar kuat dalam budaya dan sejarah lokal. Meskipun telah mengungkap dinamika internal dan praksis sosialkeagamaan pesantren Aswaja secara mendalam, penelitian ini memiliki keterbatasan dalam hal cakupan spasial dan representasi kelembagaan. Fokus pada satu pesantren memungkinkan pendalaman makna secara fenomenologis, namun belum mencakup keragaman ekspresi moderasi yang mungkin berkembang di pesantren lain dengan latar budaya dan jaringan yang berbeda. Oleh karena itu, peluang pengembangan riset selanjutnya terbuka luas, terutama dalam bentuk studi komparatif antar pesantren Aswaja di berbagai wilayah Indonesia. Penelitian lanjutan juga dapat memperluas pendekatan dengan mengintegrasikan metode kuantitatif untuk mengukur dampak sosial dari aktivitas moderasi pesantren terhadap masyarakat sekitar. Selain itu, eksplorasi terhadap strategi digitalisasi dakwah moderat di kalangan pesantren menjadi agenda riset penting untuk menyesuaikan nilai-nilai tradisional Aswaja dengan tantangan era informasi dan disrupsi global yang kian kompleks. Daftar Pustaka