ANALISIS DETERMINAN YANG BERKONTRIBUSI TERHADAP KEJADIAN PREDIABETES DI TAZKIYA LEARNING CENTER Fayza Aulia Azhar1. Annisa Tazkiya Muenchenia Moelyadi1. Mirzani Herfina1. Nisrina Khalisa Zahira1. Siti Maulida1. Putri Novitasari1 Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan. Universitas Pendidikan Indonesia, 40154. Indonesia Info Artikel Abstrak Riwayat Artikel: Latar belakang: Pada tahun 2023, kejadian diabetes di Tanggal Dikirim: 17 Juni kabupaten Bandung menduduki peringkat pertama penderita Risiko kejadian diabetes dapat diasosiasikan Tanggal Diterima: 17 Juni dengan angka prediabetes. Adapun faktor - faktor gaya hidup, pola makan yang kurang baik, genetik, dan komposisi tubuh Tanggal DiPublish: 18 Juni mempengaruhi kejadian prediabetes. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktorfaktor yang berkontribusi dengan kejadian prediabetes pada Kata kunci: pra-diabetes. pekerja usia produktif di sekolah Tazkiya Learning Center gaya hidup. pola konsumsi Kabupaten Bandung. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian didapatkan melalui teknik Penulis Korespondensi: purposive sampling dengan jumlah 27 orang. Analisis data Putri Novitasari primer dengan melakukan analisis univariat dan bivariat. Uji Email: statistik menggunakan uji chi-square putrinovitasarigizi@upi. Hasil: Keseluruhan nilai p-value tiap variabel >0. 05 yang menunjukan tidak adanya hubungan signifikan. IMT dengan p-value 1 . >0. , usia dengan p-value 0. >0. , tekanan darah dengan p-value sebesar 0. >0,. , riwayat DM keluarga dengan p-value sebesar 1 . >0,. , aktivitas fisik dengan p-value sebesar 0. >0,. , konsumsi buah dan sayur dengan p-value 1 . >0. , makanan dan minuman manis dengan p-value 594 . >0. , makanan berlemak dengan p-value 1 . > . , dan minuman berenergi dengan p-value 1 . > 0. Kesimpulan: Berdasarkan penelitian dan hasil uji statistik, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel yang diteliti dengan kejadian prediabetes pada pekerja usia produktif di Tazkiya Learning Center. Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat e-ISSN: 2527-8185 Vol. 11 No. 1 Juni, 2026 (Hal 46-. Homepage: https://e-journal. sari-mutiara. id/index. php/JMKM DOI: https://doi. org/10. 51544/jmkm. How To Cite: Azhar. Fayza Aulia. Annisa Tazkiya Muenchenia Moelyadi. Mirzani Herfina. Nisrina Khalisa Zahira. Siti Maulida, and Putri Novitasari. AuAnalisis Determinan Yang Berkontribusi Terhadap Kejadian Prediabetes Di Tazkiya Learning Center. Ay Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat 11 . : 46-59. https://doi. org/https://doi. org/10. 51544/jmkm. Copyright A 2026 by the Authors. Published by Program Studi: Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan Universitas Sari Mutiara Indonesia. This is an open access article under the CC BY-SA Licence (Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International Licens. Pendahuluan Diabetes merupakan penyakit metabolik kronik yang muncul akibat meningkatnya kadar gula darah karena tubuh tidak mampu menggunakan insulin secara efektif. Kondisi ini dapat menimbulkan kerusakan pada berbagai organ seperti hati, pembuluh darah, mata, ginjal, hingga saraf (WHO, 2. Pada tahun 2024, diperkirakan banyak masyarakat Indonesia yang hidup dengan diabetes tipe 2, yang umumnya dikaitkan dengan gaya hidup serta pola konsumsi yang kurang sehat (Wijayanti et al. , 2. Kasus diabetes tipe 2 cenderung meningkat setiap tahun sehingga memerlukan pemantauan yang berkelanjutan. Risiko bertambahnya kejadian diabetes dapat terlihat dari meningkatnya angka pradiabetes (Echouffo, 2. Pradiabetes merupakan kondisi ketika kadar glukosa berada di atas batas normal, namun belum memenuhi kriteria sebagai diabetes melitus (Decroli, 2. Pemantauan kadar gula darah menjadi langkah penting untuk melihat kejadian pradiabetes di masyarakat. Pradiabetes ditetapkan berdasarkan kadar gula darah puasa sekitar 100Ae125 mg/dL dan kadar gula darah dua jam setelah pembebanan glukosa mencapai sekitar 140Ae 199 mg/dL setelah mengonsumsi 75 gram glukosa (Echouffo, 2. Beragam faktor yang memengaruhi pradiabetes telah banyak diteliti dalam penelitian sebelumnya, seperti aspek gaya hidup, kualitas pola makan yang rendah, faktor genetik, serta komposisi tubuh, termasuk kebiasaan merokok, indeks massa tubuh, serta tingkat aktivitas fisik (Mujiono, 2. Pada tahun 2021. Indonesia berada pada posisi kelima sebagai negara dengan jumlah penderita diabetes tertinggi di dunia, yaitu sekitar 19,5 juta orang, dan jumlahnya diperkirakan dapat meningkat hingga 28,6 juta pada tahun 2045 (IDF, 2. Di Jawa Barat sendiri. Dinas Kesehatan melaporkan bahwa pada tahun 2023 terdapat 493. 185 penderita diabetes yang mendapatkan layanan kesehatan, dengan Kabupaten Bandung sebagai wilayah dengan jumlah penderita terbanyak, yaitu 62. 171 orang. Kenaikan kasus diabetes di Kabupaten Bandung memengaruhi berbagai kelompok masyarakat, termasuk para pekerja. Sekolah sebagai lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab untuk menyediakan lingkungan yang sehat. Karena itu, tenaga pendidik perlu memiliki kesehatan yang optimal untuk dapat mengajar dan bekerja dengan baik. Namun, pekerja sekolah berisiko mengalami penyakit terkait pola makan dan gaya hidup, termasuk pradiabetes. Hal ini dipicu oleh kecenderungan menghabiskan banyak waktu di dalam ruangan, kurangnya aktivitas fisik, serta kebiasaan lain yang dapat meningkatkan risiko kegemukan (Korneliani, 2. Kejadian pradiabetes di kalangan pekerja sekolah di Kabupaten Bandung sejauh ini belum banyak diteliti secara mendalam, khususnya terkait faktor risiko yang berkontribusi terhadap kondisi tersebut. Oleh karena itu, peneliti terdorong untuk menganalisis berbagai faktor yang berhubungan dengan pradiabetes pada pekerja usia produktif di sekolah Tazkiya Learning Center. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dimana seluruh data yang berhubungan dengan variabel penelitian diperoleh dalam waktu yang bersamaan dalam satu waktu. Penelitian dilakukan pada 29 Oktober 2024 di Tazkiya Learning Center. Pasir Impun. Kabupaten Bandung. Subjek penelitian adalah masyarakat usia produktif yang bekerja di Tazkiya Learning Center sebanyak 37 orang. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 27 orang yang didapatkan melalui teknik purposive sampling dengan kriteria inklusi yang harus terpenuhi. Adapun kriteria inklusi yang harus terpenuhi : . responden berumur lebih dari 21 tahun, . belum pernah atau tidak terdiagnosis diabetes mellitus, . bersedia menjadi respondendalam penelitian, dengan kriteria eksklusi : . responden berusia kurang dari 21 tahun, . memiliki riwayat penyakit diabetes mellitus, . tidak bersedia menjadi responden penelitian. Penelitian ini menggunakan data primer yang didapatkan melalui kuesioner mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian prediabetes pada usia Data diperoleh dari hasil wawancara langsung kepada responden serta pengambilan sampel gula darah puasa menggunakan FORA blood strip. Data yang telah dikumpulkan kemudian diolah dengan metode uji korelasi Chi-square menggunakan aplikasi IBM SPSS Statistics 21. Uji Chi-square digunakan untuk mengetahui hubungan antar variabel. Hasil Analisis Univariat Analisis univariat bertujuan untuk mengetahui gambaran distribusi data pada setiap variabel penelitian, baik variabel bebas maupun terikat. Variabel yang diuji meliputi status prediabetes. IMT, usia, jenis kelamin, tekanan darah, riwayat hipertensi, aktivitas fisik, dan pola makan . ayur, buah, makanan manis, berlemak dan minuman berenerg. yang tercantum pada tabel berikut ini. Tabel 1. Distribusi Frekuensi Variabel Variabel Frekuensi Persentase (%) . Status Prediabetes Prediabetes Normal IMT Overweight Tidak overweight Usia Dewasa madya (Ou 45 tahu. Dewasa dini (< 45 tahu. Jenis Kelamin Perempuan Laki-Laki Tekanan Darah Normal Hipertensi Riwayat Hipertensi Ada Tidak Ada Riwayat DM Keluarga Tidak Aktivitas Fisik Ringan Sedang Berat Sayur Kurang Variabel Cukup Buah Kurang Cukup Makanan/Minuman Manis Sering Tidak sering Makanan Berlemak Sering Tidak sering Minuman Berenergi Sering Tidak sering Frekuensi . Persentase (%) . Tabel 1 menunjukan bahwa mayoritas responden terhadap status prediabetes normal berjumlah 24 orang . 9%). IMT tidak overweight berjumlah 15 orang . 6%), berusia dewasa dini berjumlah 15 orang . 6%), dan jenis kelamin responden perempuan berjumlah 24 orang . 9%). Berdasarkan profil kesehatan responden, sebagian besar memiliki tekanan darah dalam kategori normal sebanyak 14 orang . ,9%), memiliki riwayat hipertensi sebanyak 21 orang . ,8%), tidak memiliki riwayat diabetes melitus dalam keluarga sebanyak 25 orang . ,6%), serta melakukan aktivitas fisik berat sebanyak 12 orang . ,4%). Berdasarkan variabel pola makan, mayoritas responden memiliki asupan sayur dan buah yang termasuk kategori kurang, masing-masing sebanyak 25 orang . ,6%), konsumsi makanan/minuman manis tidak sering sebanyak 16 orang . 3%), konsumsi makanan berlemak sering sebanyak 14 orang . 9%) dan konsumsi minuman berenergi tidak sering sebanyak 20 orang . 1%). Analisis Bivariat Analisis bivariat menggunakan uji Chi-square dilakukan untuk mengetahui hubungan antara setiap variabel independen dengan status prediabetes. Berikut merupakan hasil uji Chi-square berdasarkan variabel karakteristik responden, tekanan darah, riwayat hipertensi, aktivitas fisik dan pola makan: Tabel 2. Hubungan antara Karakteristik Responden. Riwayat Kesehatan. Aktivitas Fisik, dan Pola Makan dengan Status Prediabetes Variabel Status Prediabetes P-value Prediabetes Normal IMT Overweight Tidak overweight Usia Dewasa madya (Ou 45 Dewasa dini (< 45 Variabel Status Prediabetes Prediabetes Normal Jenis Kelamin Perempuan Laki-Laki Tekanan Darah Normal Hipertensi Riwayat Hipertensi Ada Tidak Ada Riwayat DM Keluarga Tidak Aktivitas Fisik Ringan Sedang Berat Sayur Kurang Cukup Buah Kurang Cukup Makanan/ Minuman Manis Sering Tidak sering Makanan Berlemak Sering Tidak sering Minuman Berenergi Sering Tidak sering P-value Data pada tabel 2 menunjukkan bahwa tidak terdapat variabel yang memiliki nilai p-value < 0,05. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara variabel dengan kejadian prediabetes. Pembahasan Hubungan IMT dengan Kejadian Prediabetes Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan metode yang sederhana dan umum digunakan untuk menilai status gizi berdasarkan perbandingan antara berat badan dan tinggi badan. Berdasarkan klasifikasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia . , kategori IMT terdiri dari kurus (<18. , normal . , dan gemuk (>25. IMT digunakan sebagai indikator obesitas karena memiliki korelasi dengan kadar lemak tubuh, yang berkontribusi terhadap terjadinya resistensi insulin dan hiperglikemia (Sitorus et al. , 2. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara IMT dengan kejadian prediabetes . >0,. Temuan ini sejalan dengan penelitian Setianingrum dan Handayani . yang memperoleh p-value sebesar 0,227 . >0,. , sehingga mengindikasikan bahwa IMT bukan merupakan satusatunya faktor yang berperan dalam risiko prediabetes. Keterbatasan IMT sebagai indikator risiko obesitas dapat dipengaruhi oleh perbedaan distribusi serta komposisi lemak tubuh antarindividu. Individu dengan berat badan normal tetapi memiliki persentase lemak tubuh yang tinggi diketahui memiliki risiko lebih besar mengalami gangguan kadar glukosa darah dibandingkan dengan individu dengan berat badan normal dan persentase lemak tubuh rendah (Lisnawati et al. , 2. Hubungan Usia dengan Kejadian Prediabetes Risiko penyakit degeneratif meningkat dengan bertambahnya usia. Penyakit degeneratif menjadi isu kesehatan global karena berdampak pada penurunan kemampuan hidup mandiri akibat keterbatasan mobilitas, kelemahan fisik, serta berbagai masalah kesehatan fisik dan mental lainnya (Delyana et al. , 2. Berdasarkan tabel 2, terdapat tiga responden . %) berusia dewasa madya yang mengalami prediabetes, sementara pada kelompok dewasa dini tidak ditemukan kasus prediabetes. Analisis menunjukkan tidak adanya hubungan yang bermakna antara usia dengan kejadian prediabetes disertai p-value sebesar 0. > 0. Penelitian lain yang dilakukan oleh Rohmatulloh et al. juga menunjukkan hasil yang tidak bermakna secara statistik dengan p-value sebesar 0,360 . >0,. Faktor risiko prediabetes lebih dipengaruhi oleh kondisi individu, seperti riwayat keluarga dengan diabetes melitus dan gaya hidup buruk pada usia muda, yang dapat meningkatkan peluang terjadinya diabetes. Hubungan Jenis Kelamin dengan Kejadian Prediabetes Penyakit Tidak Menular (PTM) berkaitan dengan faktor-faktor yang tidak dapat diubah, seperti usia, jenis kelamin, dan faktor genetik, serta faktor yang dapat diubah, seperti status obesitas, pola konsumsi pangan, dan tingkat aktivitas fisik (Delyana et al. , 2. Usia dan jenis kelamin dapat berinteraksi dengan faktor risiko lain, termasuk riwayat keluarga dan kebiasaan hidup, yang memengaruhi kerentanan terhadap PTM (Siddiq et al. , 2. Berdasarkan analisis, ditemukan tiga responden perempuan . %) mengalami prediabetes, sementara tidak ada kasus pada laki-laki. Namun, hasil analisis statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dan kejadian prediabetes, dengan p-value sebesar 1,00 . >0,. Hasil yang sejalan juga dilaporkan oleh Susilawati dan Rahmawati . dengan pvalue sebesar 0,519 . >0,. Hal ini mengindikasikan jika perempuan dan laki51 laki memiliki risiko yang sama terhadap peningkatan kadar gula darah (Lisnawati et al. , 2. Hubungan Tekanan Darah dengan Kejadian Prediabetes Tekanan darah adalah gaya yang dihasilkan oleh aliran darah terhadap dinding arteri, yang terdiri dari dua jenis: tekanan sistolik . aat jantung memompa dara. dan tekanan diastolik . aat jantung beristiraha. dengan nilai normalnya sekitar 120/80 mmHg (Wulandari, 2. Kondisi tekanan darah yang stabil berkontribusi pada keseimbangan kadar gula darah. Insulin berfungsi sebagai pengatur tekanan darah dan keseimbangan cairan tubuh, sehingga kecukupan jumlah insulin dalam dalam tubuh berkontribusi terhadap stabilitas tekanan darah (Gunawan, 2. Berdasarkan data pada Tabel 2, diketahui bahwa terdapat satu orang responden dengan tekanan darah normal . 1%) yang mengalami prediabetes, sedangkan responden dengan hipertensi terdapat dua orang . 4%) dengan kondisi prediabetes Uji statistik menggunakan chi-square menunjukkan hasil p-value 596 . >0. yang mengindikasikan bahwa variabel tekanan darah bukan merupakan faktor yang berhubungan signifikan dengan kejadian Temuan ini konsisten dengan hasil uji chi-square pula pada penelitian yang dilakukan di Puskesmas Tugu. Kecamatan Cimanggis. Kota Depok tahun 2019, yang memperoleh nilai p sebesar 0,879 . >0,. Hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara hipertensi dan kejadian diabetes melitus tipe 2 di wilayah tersebut (Gunawan, 2. Hubungan Riwayat Hipertensi dengan Kejadian Prediabetes Riwayat hipertensi menggambarkan kondisi tekanan darah yang meningkat, baik yang telah terdiagnosis secara medis maupun yang muncul dalam riwayat Kondisi ini berperan dalam meningkatkan kerentanan terhadap gangguan metabolik, termasuk prediabetes. Tekanan darah tinggi dapat berkontribusi pada munculnya resistensi insulin, peningkatan massa tubuh, dan ketidakseimbangan profil lipid, yang pada akhirnya berdampak pada kontrol glukosa darah (Fitriani & Nilamsari, 2023. Liberty et al. , 2. Data pada Tabel 2 menunjukkan bahwa satu responden dengan riwayat hipertensi . ,7%) mengalami prediabetes, sementara pada kelompok tanpa riwayat hipertensi terdapat dua responden . ,5%) yang mengalami kondisi serupa. Hasil analisis statistik menggunakan uji chi-square menunjukkan bahwa hubungan antara riwayat hipertensi dengan kejadian prediabetes tidak signifikan, dengan pvalue sebesar 0,545 . >0,. Temuan ini sejalan dengan penelitian pada lansia yang menunjukkan bahwa meskipun hipertensi kerap dianggap sebagai faktor risiko gangguan metabolik, hubungan langsungnya dengan prediabetes tidak selalu terjadi. Faktor-faktor lain, seperti obesitas abdominal dan resistensi insulin, terbukti lebih berperan dalam mempengaruhi kejadian prediabetes (Prasetyo. Hubungan Riwayat DM Keluarga dengan Kejadian Prediabetes Riwayat diabetes, baik yang dimiliki individu maupun yang terdapat dalam keluarga, termasuk salah satu faktor yang mempengaruhi kerentanan terhadap Diabetes melitus merupakan gangguan metabolisme kronis dengan kadar gula darah tinggi akibat insufisiensi insulin (Kemenkes, 2. Faktor ini menjadi salah satu determinan utama dalam risiko terjadinya prediabetes, karena keberadaan riwayat diabetes keluarga sering mencerminkan perpaduan antara faktor genetik dan kebiasaan hidup yang serupa di lingkungan keluarga (Irawan & Nilamsari, 2. Data pada Tabel 2 menunjukkan bahwa tiga responden tanpa riwayat diabetes keluarga . %) mengalami prediabetes, sedangkan pada kelompok dengan riwayat diabetes keluarga tidak ditemukan kasus prediabetes. Hasil analisis statistik menggunakan uji chi-square menunjukkan bahwa hubungan antara riwayat diabetes keluarga dengan kejadian prediabetes tidak signifikan, dengan p-value sebesar 1 . >0,. Temuan ini sejalan dengan berbagai penelitian yang menekankan bahwa faktor-faktor lain, seperti usia, pola hidup tidak sehat, obesitas, dan rendahnya aktivitas fisik, memiliki peran lebih dominan dalam meningkatkan risiko prediabetes. Penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Pati II menunjukkan bahwa obesitas, konsumsi makanan tidak sehat, dan kebiasaan merokok merupakan faktor yang signifikan meningkatkan kemungkinan terjadinya prediabetes (Tim Peneliti Universitas Diponegoro. Hubungan Aktivitas Fisik dengan Kejadian Prediabetes Aktivitas fisik mencakup seluruh bentuk gerakan tubuh yang membutuhkan energi, yang berperan penting dalam menjaga kesehatan jasmani dan mental serta mencegah terjadinya obesitas. Kategori aktivitas fisik dibedakan menjadi aktif, yang mencakup rutinitas dengan intensitas sedang hingga berat, dan tidak aktif, yang ditandai dengan minimnya gerakan atau jarangnya melakukan aktivitas fisik (Irawan et al. , 2. Keterlibatan dalam aktivitas fisik secara teratur memiliki peran penting dalam pencegahan dan pengelolaan diabetes mellitus, karena dapat menurunkan risiko diabetes tipe 2, mengatur kadar glukosa darah, meningkatkan sensitivitas insulin, serta memperbaiki kualitas hidup individu yang mengidap penyakit tersebut (Pratiwi, 2. Data pada Tabel 2 menunjukkan bahwa satu responden dengan aktivitas fisik ringan . ,1%) satu responden dengan aktivitas fisik sedang . ,7%), dan satu responden dengan aktivitas fisik berat . ,3%) mengalami prediabetes. Hasil uji chi-square memperlihatkan bahwa hubungan antara tingkat aktivitas fisik dan kejadian prediabetes tidak signifikan, dengan p-value sebesar 0,869 . >0,. , kemungkinan hal ini disebabkan oleh sebagian besar responden telah menjalani aktivitas fisik dengan baik. Temuan ini sejalan dengan tinjauan literatur oleh Widagdyo . , yang menganalisis 18 jurnal. sebanyak 11 jurnal . ,11%) melaporkan adanya hubungan antara aktivitas fisik dan kejadian diabetes mellitus tipe 2, sedangkan 7 jurnal . ,89%) tidak menemukan hubungan. Perbedaan ini umumnya terkait dengan kualitas aktivitas fisik responden, di mana jurnal yang melaporkan hubungan mencatat aktivitas fisik yang kurang memadai, sementara jurnal yang tidak menemukan hubungan mencatat bahwa sebagian besar responden sudah memiliki tingkat aktivitas fisik yang memadai. Hubungan Konsumsi Sayur dan Buah dengan Kejadian Prediabetes Sayuran dan buah-buahan merupakan sumber penting vitamin, mineral, dan serat Serat, yang termasuk jenis karbohidrat tidak dapat dicerna sepenuhnya oleh tubuh, ditemukan dalam sayuran, buah-buahan, serta biji-bijian. Kandungan serat ini berperan dalam meningkatkan fungsi pencernaan secara efisien tanpa menimbulkan peningkatan kadar glukosa darah (Lasnawati et al. , 2. Data pada Tabel 2 menunjukkan bahwa tiga responden dengan konsumsi sayuran yang kurang mengalami prediabetes . %), sedangkan satu responden dengan konsumsi buah kurang mengalami prediabetes . ,1%). Hasil analisis statistik menggunakan uji chi-square menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara konsumsi sayur dan buah dengan kejadian prediabetes, dengan p-value sebesar 1 . >0,. Temuan ini sejalan dengan penelitian Wiboworini et al. yang menunjukkan bahwa konsumsi sayur dan buah tidak berhubungan signifikan dengan peningkatan kadar gula darah . =0,22. p=0,. Hasil ini berbeda dengan penelitian Siregar et al. yang menemukan bahwa meskipun konsumsi sayur tidak berhubungan dengan kejadian diabetes mellitus . =0,. , konsumsi buah memiliki hubungan signifikan . =0,. Individu yang mengonsumsi 1Ae2 porsi buah per hari memiliki peluang lebih besar untuk mencegah diabetes mellitus dibandingkan dengan yang tidak mengonsumsi buah. Buah-buahan diduga dapat menghambat kenaikan glukosa melalui penekanan aktivitas enzim glukoneogenesis, sementara kandungan antioksidannya melindungi sel pankreas dari kerusakan dan mendukung regenerasi sel melalui mitosis atau proliferasi endokrin. Perbaikan sel ini berkontribusi pada peningkatan produksi insulin, yang memfasilitasi penyerapan glukosa ke dalam sel dan menurunkan kadar glukosa darah. Hubungan Konsumsi Makanan dan Minuman Manis dengan Kejadian Prediabetes Minuman manis merupakan kelompok minuman yang penggunaannya melibatkan penambahan pemanis yang menghasilkan energi, tetapi kontribusi kandungan gizinya relatif rendah (Fahria, 2. Sementara makanan manis merupakan makanan yang mengandung gula dan sukrosa (Eni, 2. Dari data pada tabel 2, diketahui terdapat dua responden dengan konsumsi makanan dan minuman manis sering yang mengalami prediabetes . 2%), sedangkan terdapat 1 responden dengan konsumsi makanan dan minuman manis tidak sering yang mengalami prediabetes . 3%). Hasil analisis menunjukkan bahwa konsumsi makanan dan minuman manis tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian prediabetes, sebagaimana ditunjukkan oleh nilai uji chi-square dengan p-value sebesar 0. >0. Temuan ini berbeda dengan hasil penelitian Kusuma et al . , yang menunjukkan adanya hubungan bermakna antara konsumsi makanan serta minuman manis dengan kejadian prediabetes . -value= 0. Dimana, individu dengan tingkat konsumsi makanan dan minuman manis yang tinggi memiliki proporsi kejadian prediabetes lebih besar . 12%) dibandingkan dengan frekuensi konsumsi yang lebih rendah . 97%). Tarmizi & Siregar . juga menyatakan, individu dengan kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman manis berisiko 2,042 kali lebih tinggi mengalami kadar glukosa darah yang tidak normal dibandingkan dengan individu tanpa kebiasaan tersebut . =0. RP= 2. Kandungan karbohidrat sederhana dengan indeks glikemik tinggi pada makanan dan minuman manis dapat memicu kenaikan glukosa darah dan berkontribusi pada obesitas, yang menjadi faktor risiko diabetes mellitus. Hubungan Konsumsi Makanan Berlemak dengan Kejadian Prediabetes Perubahan pola hidup, termasuk meningkatnya asupan makanan tinggi kalori dan lemak serta berkurangnya aktivitas fisik, dapat memicu terjadinya obesitas. Kebiasaan mengkonsumsi minyak goreng, lemak hewani, dan makanan tinggi kolesterol tersebut menyebabkan tingginya asupan lemak total dan kolesterol, sementara asupan lemak tidak jenuh (PUFA) cenderung rendah. Kondisi ini dapat memicu perkembangan resistensi insulin (Simamora, 2. Dari data pada tabel 2, diketahui terdapat dua responden yang sering mengonsumsi makanan berlemak mengalami prediabetes . 3%), sedangkan terdapat 1 responden yang tidak sering mengonsumsi makanan berlemak mengalami prediabetes . 7%). Hasil analisis menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi makanan berlemak dengan kejadian Hal ini dilihat dari nilai uji chi-square dengan p-value 1 . >0. Sejalan dengan temuan Hardianto . yang menyebutkan, konsumsi makanan berlemak tidak menunjukkan hubungan dengan kejadian prediabetes pada kelompok berusia Ou15 tahun, dengan risiko yang hampir sama antara individu yang mengonsumsi makanan berlemak . %) dan yang tidak mengonsumsi . 7%) . Namun, dalam penelitian oleh Setianingrum & Handayani . menyatakan bahwa konsumsi fast food, yang tinggi kalori, lemak jenuh, dan gula, berhubungan dengan peningkatan risiko prediabetes . =0. Frekuensi konsumsi lebih dari dua kali seminggu meningkatkan risiko hingga dua kali lipat akibat resistensi insulin, yang menghambat penyerapan glukosa dan menyebabkan peningkatan kadar gula darah. Hubungan Konsumsi Minuman Berenergi dengan Kejadian Prediabetes Minuman energi merupakan produk suplemen cair yang umum dikonsumsi oleh orang dewasa untuk menunjang stamina dan vitalitas ketika beraktivitas. Minuman ini biasanya mengandung kafein, taurin, vitamin, bahan herbal, dan pemanis buatan, serta dipasarkan dengan klaim mampu meningkatkan energi, daya tahan tubuh, dan konsentrasi. Meskipun memiliki manfaat tertentu, konsumsi minuman energi perlu dibatasi karena berpotensi menimbulkan berbagai dampak gangguan kesehatan. Dampak tersebut meliputi kejang, diabetes, penyakit kardiovaskular, perubahan perilaku dan suasana hati, gangguan fungsi ginjal, masalah kesehatan tulang, hingga penyakit degeneratif lainnya (Santo & Simamora, 2. Dari data pada tabel 2, diketahui terdapat satu responden yang sering mengonsumsi minuman berenergi mengalami prediabetes . 3%), sedangkan terdapat 2 responden yang tidak sering mengonsumsi minuman berenergi mengalami prediabetes . %). Hasil analisis menunjukkan bahwa konsumsi minuman berenergi tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian Hal tersebut dilihat dari nilai uji chi-square dengan p-value 1 . >0. Sementara itu, penelitian Putra et al . menemukan adanya hubungan bermakna antara konsumsi minuman energi dan risiko prediabetes . = 018. OR= 4. Minuman energi dapat meningkatkan asupan gula dan kalori, yang pada akhirnya memicu penimbunan lemak visceral dan risiko obesitas abdominal. Selain itu, konsumsi secara berlebihan dapat mengganggu sekresi hormon insulin, leptin, dan ghrelin, menurunkan sensitivitas insulin, serta meningkatkan kadar glukosa darah puasa. Kandungan kafein yang cukup tinggi pada beberapa produk minuman energi juga menimbulkan risiko 3. 068 kali lebih besar terhadap kejadian diabetes mellitus (Jufri & Gobel, 2. Keterbatasan Penelitian Keterbatasan dalam penelitian ini mencakup beberapa hal. Metode pengambilan data yang digunakan untuk mengukur variabel pola makan hanya menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ) secara kualitatif, yang seharusnya disertai dengan pengambilan data melalui recall agar hasil yang diperoleh lebih merepresentasikan dari kebiasan pola makan, serta pertanyaan yang digunakan tidak sepenuhnya dimasukan ke dalam kuesioner yang dapat mempengaruhi hasil Pengambilan sampel untuk mengukur variabel dependen atau status prediabetes responden, hanya mengandalkan hasil GDP, kurang mencerminkan diagnosis prediabetes secara komprehensif. Kemudian, tidak dilakukannya pengukuran antropometri untuk data IMT secara langsung yang berdampak pada tidak akuratnya data antropometri responden karena data yang didapat hanya berdasarkan pada spekulasi. Jumlah responden yang terbatas juga dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya bias pada data, sehingga mempengaruhi representativitas hasil penelitian. Selain itu, faktor determinan lain yang tidak diteliti oleh peneliti seperti merokok, kesehatan mental, kadar lemak tubuh, pengaturan pola makan, pekerjaan dan lingkungan dapat menjadi faktor potensial terhadap prediabetes. Untuk meningkatkan validitas dan reliabilitas hasil penelitian, perlu adanya perbaikan dalam pemilihan metodologi dan pengambilan sampel yang representatif. Kesimpulan Berdasarkan penelitian, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel yang diteliti dengan kejadian prediabetes pada kelompok guru usia produktif di Tazkiya Learning Center. Keterbatasan penelitian seperti instrumen yang digunakan dan terbatasnya jumlah responden dapat menjadi faktor yang mempengaruhi hasil penelitian. Faktor diluar variabel penelitian juga dapat menjadi penyebab kejadian prediabetes pada responden. Diperlukan penelitian lebih lanjut dengan pemilihan metodologi dan pengambilan sampel yang representatif serta kajian lebih lanjut mengenai faktor determinan penyebab kejadian prediabetes pada kelompok usia produktif. Referensi