E-ISSN : 2797-9172 P-ISSN : 2655-6952 https://ejournal. id/ojs/index. php/iklila received: 14 Januari 2026, accepted: 15 April 2026, published: 30 April 2026 QURAoANIC SELF-CARE AS AN EFFORT TO OVERCOME BURNOUT: A Study of HamkaAos Tafsir Al-Azhar using the PERMA Approach SELF-CARE QURAoANI SEBAGAI UPAYA MENGATASI BURNOUT: Studi Tafsir Al-Azhar Karya Hamka dengan Pendekatan PERMA Ulin Nuha1. Ghina Tassela2. Nur Syakirah Binti Mohd Adnan3 Email :ulin. nuha@iiq. , ghissel02@gmail. nsmadnanintercivilizational@gmail. Afiliasi : Institut Ilmu Al-QurAoan Jakarta. 1,2International Islamic University Malaysia3 DOI : 10. 61941/iklila. Abstract Burnout has emerged as a significant psychological phenomenon in modern life, driven by prolonged work pressure and an imbalance between professional demands and personal needs. This condition calls for an approach that is not only psychological but also spiritual. This article aims to examine the concept of QurAoanic self-care in Tafsir al-Azhar by Hamka and to analyze its relevance to the PERMA model of psychological well-being developed by Martin Seligman. This study employs a library research method with a thematic . audhuAo. exegesis approach, using Tafsir al-Azhar as the primary source and relevant scholarly literature as secondary sources. Data are analyzed descriptively and analytically through the integration of QurAoanic interpretation and psychological The findings indicate that HamkaAos interpretation of selfcare-related verses reflects an integral framework encompassing spiritual, emotional, social, and physical dimensions. Values such as brotherhood . , life balance, self-regulation, and trust in divine ease amid hardship function as adaptive mechanisms in coping with burnout. These findings demonstrate a strong alignment with the five elements of PERMA: positive emotion, engagement, relationships, meaning, and However, notable ontological and epistemological differences remain. PERMA is oriented toward well-being as an ultimate goal grounded in empirical research, whereas in HamkaAos perspective, well-being is a by-product of servitude (Aoubudiyya. to God, rooted in This study contributes to the formulation of an integrative Volume 9. Nomor 1. April 2026 . p:72-. https://creativecommons. org/licenses/by-nc/4. 0/?ref=chooser-v1 Volume 9. Nomor 1. April 2026 QurAoanic self-care model and offers an epistemological bridge between Islamic thought and positive psychology in addressing burnout. Keywords: QurAoanic self-care. Tafsir al-Azhar. Hamka. PERMA theory Abstrak Burnout merupakan fenomena psikologis yang semakin mengemuka dalam kehidupan modern akibat tekanan kerja berkepanjangan dan ketidakseimbangan antara tuntutan profesional dan kebutuhan personal. Kondisi ini menuntut pendekatan penanganan yang tidak hanya bersifat psikologis, tetapi juga spiritual. Artikel ini bertujuan mengkaji konsep selfcare QurAoani dalam Tafsir al-Azhar karya Hamka serta menganalisis relevansinya dengan teori kesejahteraan psikologis PERMA yang dikembangkan oleh Martin Seligman. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan dengan pendekatan tafsir tematik . audhuAo. , menggunakan Tafsir al-Azhar sebagai sumber primer dan literatur-literatur terkait sebagai sumber sekunder. Data dianalisis secara deskriptif-analitis melalui integrasi pendekatan tafsir dan psikologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran Hamka terhadap ayat-ayat self-care mencerminkan prinsip integral yang meliputi dimensi spiritual, emosional, sosial, dan fisik. Nilainilai seperti ukhuwah, keseimbangan hidup, pengendalian diri, serta keyakinan akan kemudahan dalam kesulitan berfungsi sebagai mekanisme adaptif dalam menghadapi burnout. Temuan ini menunjukkan kesesuaiannya dengan lima elemen PERMA, yaitu emosi positif, keterlibatan, hubungan sosial, makna hidup, dan pencapaian. Namun demikian, terdapat perbedaan ontologis dan epistemologis antara PERMA berorientasi pada well-being sebagai tujuan akhir berbasis empirisme, sedangkan dalam perspektif Hamka, kesejahteraan merupakan dampak dari penghambaan kepada Allah berbasis wahyu. Penelitian ini berkontribusi merumuskan model self-care QurAoani yang integratif serta menjembatani dialog antara epistemologi Islam dan psikologi positif dalam mengatasi burnout. Kata kunci: self-care QurAoani. Tafsir al-Azhar. Hamka. PERMA Pendahuluan Burnout merupakan kondisi psikologis yang ditandai oleh kelelahan emosional berkepanjangan dan menurunnya keterlibatan terhadap pekerjaan. Kondisi ini bersifat individual dan mencerminkan pengalaman negatif yang berkaitan dengan emosi, sikap, motivasi, serta ekspektasi individu dalam Self-Care QurAoani. menghadapi tekanan dan tuntutan kerja. Burnout umumnya dialami oleh individu dengan intensitas kerja, dedikasi, dan komitmen yang tinggi, sehingga cenderung mengabaikan kebutuhan personal. Tekanan kinerja tersebut dapat bersumber dari dorongan internal maupun tuntutan eksternal, termasuk ekspektasi klien dan pemangku kepentingan. Fenomena burnout telah berkembang menjadi persoalan global yang kian mengemuka pada era modern. World Health Organization (WHO) pada tahun 2019 mengklasifikasikan burnout sebagai fenomena okupasional dalam International Classification of Diseases (ICD-. yang berdampak pada kesehatan mental dan fisik individu. Data survei Gallup tahun 2020 menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja mengalami burnout dalam berbagai tingkat, termasuk proporsi signifikan yang berada pada kategori berat. Kondisi ini menegaskan pentingnya peningkatan kesadaran akan kesejahteraan diri, di samping pemenuhan tuntutan kerja, salah satunya melalui praktik self-care. Self-care merujuk pada upaya individu dalam merawat dan menjaga kesehatan, mengembangkan potensi diri, serta memperhatikan keseimbangan kehidupan dan lingkungan sekitarnya. Konsep ini memiliki landasan teoretis dalam teori keperawatan self-care yang dikembangkan oleh Dorothea Orem, yang menekankan pentingnya tindakan perawatan diri yang dilakukan secara sadar untuk memenuhi kebutuhan dan menjaga kesejahteraan personal. Dalam konteks kontemporer, self-care dipahami sebagai praktik keseharian yang melibatkan kesadaran terhadap kondisi fisiologis dan emosional, pembentukan rutinitas hidup yang sehat, serta dukungan relasional dan lingkungan. Pandangan ini menegaskan bahwa perawatan diri merupakan elemen fundamental bagi keberlangsungan kesejahteraan fisik dan emosional individu. Pemahaman tentang self-care dan strategi penanganan burnout berperan penting dalam membantu individu menjaga keseimbangan antara tuntutan kerja dan kehidupan personal. Beban peran ganda kerap memicu kelelahan, kejenuhan, serta konflik emosional, termasuk rasa bersalah dalam memenuhi berbagai tanggung jawab. Oleh karena itu, praktik perawatan diriAiseperti pengaturan waktu istirahat, pemeliharaan kesehatan fisik, dan keterlibatan dalam aktivitas yang memberikan kenyamanan psikologisAimenjadi kebutuhan yang esensial. Penerapan self-care secara konsisten pada aspek emosional, fisik, 1 Nadiatus Salama. AuBurnout di Kalangan Pendakwah,Ay Jurnal Ilmu Dakwah 34, no. : 41Ae62, https://doi. org/10. 21580/jid. 2 Sitti Mauliana. AuHubungan antara Self-Efficacy dengan Burnout pada Guru Komplek Madrasah Terpadu Tungkob Aceh Besar yang Mengajar secara Tatap Muka di Masa Pandemi Covid-19Ay (Skripsi. Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, 2. 3 Nina Fitriyani dan Eka Wahyuni. AuGambaran Tingkat Mindful Self-care (Perawatan Diri Penuh Perhatia. Pada Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Islam,Ay GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling 13, no. : 261, https://doi. org/10. 24127/gdn. IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Volume 9. Nomor 1. April 2026 dan mental dapat meningkatkan kapasitas adaptif individu dalam menghadapi tekanan dan memitigasi dampak burnout. Al-QurAoan memiliki landasan normatif yang kuat dalam mendukung konsep self-care, meskipun istilah tersebut tidak disebutkan secara eksplisit. Prinsip-prinsip seperti keseimbangan hidup, pemeliharaan kesehatan fisik dan mental, serta penguatan dimensi spiritual dan sosial tersebar dalam berbagai ayat yang dapat dikaji melalui tafsir. Dengan demikian. Al-QurAoan menawarkan kerangka self-care yang komprehensif dan integral bagi pembentukan kehidupan yang seimbang dan bermakna. Di antara karya tafsir yang penting untuk ditelisik uraiannya dalam mengkaji self-care adalah Tafsir al-Azhar karya Hamka . 1981 M). Selain memiliki karakteristik kontekstual, tafsir ini juga sering mengintegrasikan pemahaman psikologi dengan ajaran Al-QurAoan, sehingga relevan dengan tema self-care yang memiliki dimensi psikologis dan spiritual. Misalnya saat menafsirkan QS. al-InsyirAh . : 5-6, ia mengatakan bahwa sering kali pengalaman pahit dalam hidup justru menjadi kekayaan batin yang sangat berharga dan membuat seseorang lebih dewasa dan bijak dalam menjalani Sampai suatu saat, ia menyadari dan bersyukur karena Allah pernah memberikan kesulitan di masa lalu. Penelitian tentang self-care secara umum telah ditulis oleh banyak sarjana. Dina Fatin Nabila, dkk. misalnya, dalam artikelnya mereka menulis tentang hubungan self-care dengan kesehatan mental pada studi kasus siswa kelas XII di SMAN 5 Makassar. 7 Artikel serupa ditulis oleh Purwaka Hadi, dkk. yang membahas layanan self-care untuk meningkatkan kesehatan mental guru BK. 8 Demikian halnya Melita Fitriyanti . yang mengkaji burnout ditinjau dari konflik peran ganda dan konsep diri dengan studi kasus perawat wanita yang telah menikah di RS Dr. Noesmir Baturaja. Terdapat beberapa penelitian lain tentang self-care maupun burnout yang hampir semuanya bersifat studi lapangan. Sementara kajian teoritis mengenai self-care QurAoani teramat minim. Salah satu di antaranya adalah riset Khoirun Nisfi Salsabila . yang menggali konsep self-care QurAoani melalui penafsiran 4 Firdha Novia Fauziah dkk. AuSelf-Care dan Coping Stress pada Working Mothers,Ay Psikodinamika: Jurnal Literasi Psikologi 4, no. : 075Ae093, https://doi. org/10. 36636/psikodinamika. 5 Ahmad Mustofa dan Yusuf Arisandi. AuKonsep Percaya Diri Perspektif Al-QurAoan,Ay Al-Jadwa: Jurnal Studi Islam 1, no. : 22Ae43, https://doi. org/10. 38073/aljadwa. 6 Hamka. Tafsir al-Azhar, vol. 9 (Jakarta: Gema Insani, 2. 7 Dina Fatin Nabila dkk. AuHubungan Self Management: Self Care dengan Kesehatan Mental pada Siswa Kelas XII di SMAN 5 Kota Makassar,Ay JIMPK: Jurnal Ilmiah Mahasiswa & Penelitian Keperawatan 4, no. 90Ae95. 8 Purwaka Hadi dkk. AuLayanan Self Care untuk Meningkatkan Kesehatan Mental Guru BK,Ay INOVASI : Jurnal Hasil Pengabdian Masyarakat 2, no. : 36Ae43. 9 Melita Fitriyanti. AuBurnout Ditinjau dari Konflik Peran Ganda dan Konsep Diri pada Perawat Wanita yang Sudah Menikah di Rumah Sakit dr. Noesmir BaturajaAy (Skripsi. UIN Raden Intan Lampung, 2. Self-Care QurAoani. al-ShaAorawi. 10 Penelitian serupa ditulis oleh Fitrotun Nisa . dengan tema serupa dan objek material berbeda, yakni self-love perspektif Tafsir al-Misbah. Sementara Tasya Gefira Shofa . mencoba membandingkan self-love dalam Tafsir al-Misbah dengan Tafsir al-Maraghi. Penelitian-penelitian di atas, lebih banyak bersifat studi kasus. Memang terdapat beberapa tulisan yang mengurucut kepada self-care QurAoani, namun belum ada yang mengeksplorasi penafsiran Hamka terkait tema tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini dianggap sebagai sebuah inisiatif pionir yang bernilai untuk dilakukan. Lebih-lebih, selain memotret penafsiran Hamka, tulisan ini juga akan memakai teori PERMA yang dikembangkan oleh Martin Seligman sebagai alat bantu kategorisasi. Kerangka analisis psikologis ini menekankan integrasi lima elemen fundamental kesejahteraan psikologis dalam memahami dan mengatasi kelelahan kerja. Integrasi model ini dengan ajaran Al-QurAoan dapat memperkaya pemahaman tentang konsep self-care dalam perspektif psikologis dan spiritual, serta menunjukkan mekanisme adaptif dalam mengelola tekanan dan kelelahan kerja. Penelitian ini akan menjawab dua rumusan masalah utama: . Bagaimana penafsiran ayat-ayat al-QurAoan tentang self-care dalam Tafsir Al-Azhar karya Hamka?. Bagaimana relevansi penafsiran ayat-ayat tersebut dengan pendekatan teori PERMA Martin Seligman dalam merespons fenomena Dari penelitian ini diharapkan adanya pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana konsep self-care dipersepsikan dan diperkuat dalam konteks Islam melalui lensa Tafsir al-Azhar, serta relevansinya dengan teori-teori psikologis modern. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memiliki implikasi dalam pengembangan intervensi psikologis berbasis agama untuk mengatasi burnout dengan menerapkan self-care bagi individu muslim. Metode Penelitian Secara metodologis, penelitian ini bersifat kepustakaan . ibrary researc. dengan sumber primer yaitu Tafsyr al-Azhar karya Hamka, sedangkan sumber sekunder terdiri atas berbagai literatur yang relevan dengan tema self-care QurAoani serta penelitian-penelitian terdahulu terkait. Seluruh data tersebut dikumpulkan secara dokumentatif dan dianalisis secara deskriptif-analitis. Untuk menelusuri pandangan al-QurAoan yang terkait dengan self-care, maka digunakan tafsir tematik . audhuAo. sebagai pendekatan penelitian. Metode ini 10 Khoirun Nisfi Salsabila. AuKonsep Self-care Perspektif Al-Quran: Analisis penafsiran Ayat-ayat Self- care menurut Asy-SyaAorawiAy (Skripsi. UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2. 11 Fitrotun Nisa. AuKONSEP SELF-LOVE MENURUT M. QURAISH SHIHAB (Studi Ayat-Ayat dalam Tafsir Al-Mishba. Ay (Skripsi. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2. 12 Tasya Gefira Shofa. AuKonsep Self Love Dalam Perspektif Al-Quran (Studi Komparatif Tafsir AlMaragi dan Al-Mishba. Ay (Skripsi. Institut Ilmu al-QurAoan Jakarta, 2. IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Volume 9. Nomor 1. April 2026 merupakan pendekatan dalam kajian tafsir yang bertujuan menghimpun ayatayat Al-QurAoan yang berkaitan dengan satu topik tertentu. Dalam hal ini tema tentang self-care yang kemudian dianalisis secara mendalam melalui beberapa langkah metodis, yaitu: . menentukan tema yang akan diteliti. mencari ayatayat yang berkaitan dengan tema melalui justifikasi tematik berdasarkan literatur yang membicarakan self-care QurAoani serta relevansinya dengan tema burnout. Dalam hal ini, penulis hanya memilih dan membatasi empat ayat sebagai objek . menyusun ayat-ayat tersebut secara kronologis beserta konteknya. melakukan analisis penafsiran ayat-ayat tersebut yang dalam hal ini dilakukan dengan cara mengekstraksi penafsiran Hamka. Selain itu, pendekatan psikologis juga dipakai guna memahami bagaimana dimensi spiritual dalam Al-QurAoan memengaruhi kondisi jiwa dan perilaku Penulis menggunakan teori kesejahteraan psikologis (PERMA) yang dikembangkan oleh Martin Seligman. Selain karena kemenyeluruhan dimensi dari teori ini, juga relevan untuk digunakan dalam menganalisis isu modern seperti burnout. Selain itu. PERMA juga mudah dikombinasikan dengan kajian Ia dapat memberi ruang interpretasi yang luas tanpa harus meninggalkan kerangka klasik tafsir. Teori PERMA menguraikan lima aspek utama kesejahteraan manusia, yakni emosi positif . ositive emotio. , keterlibatan . , hubungan positif . ositive relationship. , makna hidup . , dan pencapaian . Kelima elemen ini saling melengkapi dalam membentuk kualitas hidup yang utuh dan seimbang, serta menjadi landasan dalam meninjau relevansi ajaran AlQurAoan terhadap fenomena burnout yang banyak terjadi di masyarakat modern. Dari penggabungan dua pendekatan di atas, alur metodologi penelitian ini dapat dijelaskan melalui tahapan sebagaimana pada Gambar 1. Penentuan tema self-care Analisis Pencarian Ekstraksi penafsiran Hamka Pemetaan ayat dan penafsirannya ke dalam klasifikasi PERMA Gambar 1. Bagan Alur Penelitian 13 Ahmad Izzan dan Dindin Saepudin. Tafsir MaudhuAoi: Metode Praktis Penafsiran Al-QurAoan (Bandung: Humaniora Utama Press, 2. 14 Martin Seligman. Flourish: A Visionary New Understanding of Happiness and Well-Being (North Sydney: Random House Australia, 2. Self-Care QurAoani. Pembahasan Mengenal Konsep Self-Care Self-care merujuk pada kapasitas individu, keluarga, dan komunitas dalam menjaga serta meningkatkan kesehatan, sekaligus mencegah timbulnya 15 Dorociak, dkk. menyebutnya sebagai proses yang mencakup berbagai dimensi kehidupan, bertujuan mengoptimalkan kesehatan dan kesejahteraan melalui aktivitas harian di ranah personal maupun profesional. Self-care juga merujuk pada kewajiban individu untuk menerapkan pola perilaku dan gaya hidup yang mendukung kesehatan, yang diperlukan dalam proses pengembangan diri serta berperan sebagai rangkaian kegiatan penting dalam mengelola kondisi kesehatan. Aktivitas self-care dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, durasi penyakit, tingkat pengetahuan, kepemilikan jaminan kesehatan, serta dukungan keluarga dan tenaga kesehatan. Dalam konteks tersebut, layanan keperawatan memegang peran penting, khususnya bagi individu yang mengalami keterbatasan dalam mempertahankan praktik self-care secara berkelanjutan. Self-care mencakup berbagai aspek perawatan diri, antara lain pemeliharaan kebersihan tubuh, seperti mencuci tangan, wajah, dan kaki, menjaga kebersihan gigi, serta kebiasaan eliminasi yang sehat. Selain itu, pengaturan pola makan dan minum yang teratur dan higienis juga merupakan bagian integral dari self-care. Praktik ini turut mencakup penampilan diri yang rapi, perawatan personal, serta kemampuan berad18aptasi dan menjalin komunikasi melalui interaksi sosial sebagai upaya menjaga kesejahteraan individu. Self-care juga mencakup kemampuan individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggal serta memanfaatkan waktu luang melalui aktivitas produktif, seperti rekreasi dan istirahat yang memadai. Perlindungan diri dengan mengelola stres dan menghindari potensi bahaya merupakan bagian integral dari praktik self-care. Selain itu, pemenuhan kebutuhan personal, kesederhanaan dalam penampilan, serta kepedulian terhadap orang lain turut merefleksikan dimensi self-care yang esensial. Praktik ini memiliki signifikansi 15 Novi Lasmadasari dan Weni Sulastri. AuEvaluasi Perilaku Self Care Melalui Asuhan Keperawatan Berbasis Home Care pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Masa Pandemi,Ay Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Bengkulu 9, no. : 56Ae62, https://doi. org/10. 36085/jkmb. 16 Katherine E. Dorociak dkk. AuDevelopment of the Professional Self-Care Scale,Ay Journal of Counseling Psychology 64, no. : 325Ae34, https://doi. org/10. 1037/cou0000206. 17 Novia Kristin Surbakti. AuGambaran Perilaku Perawatan Diri (Self Car. Penderita Hipertensi di Puskesmas Kutalimbaru Kabupaten Deli Serdang Tahun 2022Ay (Skripsi. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Santa Elisabeth Medan, 2. 18 Nina dan Syatria Adymas Pranajaya. AuKonsep Self-Care bagi Konselor di Masa Pandemi,Ay TAUJIHAT: Jurnal Bimbingan Konseling Islam 1, no. : 32, https://doi. org/10. 21093/tj. IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Volume 9. Nomor 1. April 2026 penting bagi individu, baik yang mengalami kecemasan maupun yang berada dalam kondisi psikologis relatif stabil. Dalam perspektif Islam, manusia memiliki kedudukan mulia di hadapan Allah Swt, sementara tubuh dipandang sebagai amanah Ilahi yang harus dijaga dan dipelihara secara bertanggung jawab. Pemeliharaan kesehatan fisik dan spiritual merupakan kewajiban religius yang sejalan dengan ajaran Islam, mengingat manusia diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna sebagaimana ditegaskan dalam QS. At-Tin . : 4. Oleh karena itu, perawatan diri dan kesejahteraan personal dapat dipahami sebagai manifestasi rasa syukur seorang Muslim kepada Allah Swt. Self-care dalam Islam mencakup pemeliharaan pola makan yang sehat, kesehatan fisik dan mental, serta pelaksanaan ibadah secara sadar dan konsisten. Islam melarang perilaku yang berpotensi merusak tubuh, seperti konsumsi berlebihan, makanan yang diharamkan, dan aktivitas yang membahayakan Dengan menjaga diri, seorang Muslim tidak hanya menunaikan amanah dari Allah Swt, tetapi juga membangun kapasitas personal untuk menjadi individu yang lebih baik dan memberi manfaat bagi sesama. Dengan menjaga keseimbangan antara kesehatan fisik, mental, dan spiritual, seorang Muslim dapat mencapai kebahagiaan serta menjalani hidup dengan penuh makna. Sebagai individu yang beriman. Anda memiliki potensi besar untuk melakukan hal-hal luar biasa, seperti menyebarkan cinta dan kebaikan, menciptakan karya, menimba ilmu, memilih jalan hidup sendiri, serta meninggalkan jejak yang bermakna di dunia ini. Integrasi Psikologi Positif dan Epistemologi Islam Psikologi positif berkembang dalam tradisi ilmiah modern berbasis Sementara epistemologi Islam berakar pada wahyu . , akal (Aoaq. , dan pengalaman spiritual . Mengintegrasikan keduanya bukan sekadar Aumenggabungkan dua disiplin,Ay tetapi merupakan upaya menyelaraskan sumber, metode, dan tujuan pengetahuan agar menghasilkan kerangka ilmu yang lebih utuh dan bermakna. Model ini mengharuskan untuk memahami realitas melalui keterpaduan antara dimensi empiris, rasional, dan spiritual. 19 Nina dan Pranajaya. AuKonsep Self-Care bagi Konselor di Masa Pandemi,Ay 32-33. 20 Esa Shaquille Aufa dkk. AuKesehatan sebagai Ibadah: Mengapa Menjaga Tubuh Adalah Bagian dari Keimanan,Ay Ikhlas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Islam . 50-51, https://doi. org/10. 61132/ikhlas. 21 A. Hasan dan A. Rashid. AuFaith and health: The Islamic view on physical and spiritual well-being,Ay Journal of Religion and Health 60, no. : 987Ae1002, https://doi. org/10. 1177/21565872211032112. Bilal Indra Putra dkk. AuThe Differences in Epistemology in Islam: Traditional. Rational. And Sufistic Approaches,Ay Journal of Indonesian Social Sciences 6, no. , 2230-2231. Mohammad Muslih. Metodologi Penelitian Filsafat dan Ilmu-Ilmu Keislaman: Deskriptif. Analitis. Hermeneutik. Kritis, dan Dekonstruktif (Ponorogo: UNIDA Gontor Press, 2. , 89. Self-Care QurAoani. Kerangka PERMA yang meliputi emosi positif . ositive emotio. , keterlibatan . , hubungan positif . ositive relationship. , makna hidup . , dan pencapaian . dapat dipahami sebagai model kesejahteraan yang dirumuskan oleh Martin Seligman dalam teori well-being 23 Model ini menekankan lima elemen utama flourishing yang dapat diukur secara empiris. Oleh karena itu. PERMA dapat dijadikan titik masuk untuk dialog dengan konsep kesejahteraan dalam Islam seperti ukhuwah dan tumaAoninah. Namun, penyelarasan ini tidak bersifat reduktif. Dalam pendekatan minimalis. PERMA dapat digunakan sebagai heuristic tool, yakni alat bantu analitis untuk membaca fenomena keagamaan dalam kerangka psikologi Pendekatan ini sejalan dengan penggunaan model-model ilmiah sebagai instrumen kategorisasi dalam ilmu sosial modern. Sebaliknya, pendekatan reflektif-kritis membuka ruang dialog epistemologis dua arah. Dalam konteks ini, konsep-konsep psikologi positif tidak diterima begitu saja, tetapi diuji melalui kerangka epistemologi Islam yang menempatkan wahyu sebagai sumber kebenaran tertinggi. 25 Dengan demikian, konsep seperti meaning dalam PERMA dapat direkonstruksi menjadi makna yang bersifat teosentris, bukan sekadar konstruksi subjektif. Pada titik ini, terjadi bukan hanya adaptasi, tetapi sintesis konseptual antara dua sistem pengetahuan. Pendekatan integratif semacam ini juga sejalan dengan upaya kontemporer dalam studi Islam yang menggabungkan metode deskriptif, hermeneutik, dan kritis dalam satu kerangka epistemik yang koheren. Dengan demikian, penelitian ini dapat menjadi jembatan epistemologis yang tidak hanya berhenti pada penggunaan PERMA sebagai alat bantu dalam memahami dan mengatasi burnout, tetapi bergerak menuju integrasi kritis dengan epistemologi Islam yang tertuang ayat-ayat self-care. Upaya tersebut memungkinkan lahirnya paradigma baru, yakni psikologi positif berbasis nilainilai QurAoani. Sekilas tentang Hamka Abdul Malik Karim Amrullah atau yang akrab disebut dengan Hamka lahir pada 16 Februari 1908 di Kampung Molek. Nagari Sungai Batang, pada Kawasan tepi Danau Maninjau. Luhak Agam. Sumatera Barat. Semasa kecil ia Seligman. Flourish: A Visionary New Understanding of Happiness and Well-Being, 15-18. Artur WilczyEski dan Ewa KoCoszycz. AuApplying the PERMA Model in Employee Wellbeing,Ay E-Mentor 2, no. : 39Ae46, https://doi. org/10. 15219/em99. Ismatulloh dan Moh. Roqib. AuIslamic Epistemology: The Integration of Knowledge and Contemporary Challenges from an Islamic Scholarly Perspective,Ay ISRG Journal of Education. Humanities, and Literature 2, no. : 40Ae45, https://doi. org/10. 5281/zenodo. Muslih. Metodologi Penelitian Filsafat dan Ilmu-Ilmu Keislaman: Deskriptif. Analitis. Hermeneutik. Kritis, dan Dekonstruktif, 109-186. IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Volume 9. Nomor 1. April 2026 dikenal dengan nama Abdul Malik. Adapun nama Karim diadopsi dari nama ayahandanya, sedangkan Amrullah merupakan nama dari kakeknya. Latar belakang pendidikan Hamka tidak sepenuhnya melalui jalur formal. Pada usia empat tahun, ia dibawa ayahnya ke Padang Panjang. Saat berusia tujuh tahun, ia mulai menempuh pendidikan di Sekolah Desa atau yang setara dengan jenjang Sekolah. Ia juga mengikuti pendidikan agama di sekolah Diniyah pada sore hari. Namun pada tahun 1918, ia berhenti dari sekolah tersebut dan melanjutkan pendidikannya di Sumatra Thawalib, lembaga pendidikan yang didirikan oleh ayahnya dengan fokus utama pada pendidikan agama. Di Sumatra Thawalib. Hamka menghafal berbagai kitab klasik. Ia juga mempelajari bahasa Arab dan menekuni berbagai disiplin ilmu keagamaan. Pembelajaran ini berlangsung di Surau dan Masjid, di bawah bimbingan para ulama terkemuka, seperti Sutan Mansur. Surjoparonto. Ki Bagus Hadikusuma. Syaikh Ahmad Rasyid, dan Syaikh Ibrahim Musa. Tidak berselang lama. Hamka memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya, dan sejak saat itu pendidikan formalnya secara resmi berakhir. Pada tahun 1924. Hamka memulai perjalanan intelektualnya ke Jawa pada usia 16 tahun. Di Yogyakarta, ia diperkenalkan kepada Ki Bagus Hadikusumo, tokoh Muhammadiyah yang berperan penting dalam pendalaman kajian tafsir Al-QurAoan dan pembentukan orientasi keilmuannya. Melalui lingkungan ini. Hamka juga terlibat dalam Sarekat Islam dan memperoleh pembinaan sosialpolitik dari tokoh-tokoh seperti Suryopranoto dan H. Tjokroaminoto. Pada tahun 1925. Hamka kembali ke Padang Panjang dan mulai aktif dalam kegiatan kepenulisan dengan menerbitkan majalah perdananya. Chatibul Ummah, yang berisi kumpulan pidato dari Surau Jembatan Besi. Ia juga terlibat dalam penerbitan Majalah Tabligh Muhammadiyah serta menyampaikan ceramah kepada masyarakat. Namun, aktivitas dakwah tersebut mendapat kritik dari ayahnya, yang menilai bahwa penyampaian ceramah tanpa landasan keilmuan yang memadai cenderung bersifat formalistik. Pada tahun 1927. Hamka melanjutkan pengembaraan intelektual dan spiritualnya ke Makkah untuk memperdalam studi keagamaan. Keberangkatan ini dilakukan secara mandiri tanpa sepengetahuan ayahnya dan dibiayai dengan usaha sendiri. Selama di Makkah. Hamka tidak hanya menuntut ilmu, tetapi juga bekerja sebagai koresponden Harian Pelita Andalas dan di sebuah percetakan, 27 Saiful Amin Ghofur. Mozaik Mufasir Al-QurAoan dari Klasik hingga Kontemporer (Yogyakarta: Kaukaba Dipantara, 2. , 164. 28 Baidatul Roziqin dkk. , 101 Jejak Tokoh Islam Indonesia (Yogyakarta: e-Nusantara, 2. , 189. 29 M. Jamil. AuHamka dan tafsir Al-Azhar,Ay Istishlah: Jurnal Hukum Islam 12, no. , 122-123. 30 Dadi Purnama Eksan. Buya Hamka: Teladan dan Inspirasi Penuh Talenta (Yogyakarta: C-Klik Media, 2. , 10. 31 Aulia Tsani dan Ursa Agniya. AuMenenangkan Jiwa: Menelusuri Jejak Kesehatan Mental dalam Tafsir Al-Azhar,Ay At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir 5, no. : 248, https://doi. org/10. 53649/attahfidz. Self-Care QurAoani. yang memberinya akses luas terhadap kitab-kitab klasik, buku, serta publikasi Islam berbahasa Arab. Karier intelektual dan organisasional Hamka menunjukkan perkembangan yang signifikan. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Cabang Muhammadiyah Padang Panjang . Konsul Muhammadiyah di Makassar . Ketua Majelis Pimpinan Muhammadiyah Sumatera Barat . , serta Penasehat Pimpinan Pusat Muhammadiyah . Sebagai seorang yang memiliki kompetensi dalam bidang ilmu agama, budaya, sejarah, politik, dan sastra. Hamka menuangkan pemikirannya melalui berbagai karya tulis. Ia dikenal sebagai penulis produktif yang menghasilkan banyak karya, yang sebagian besar memiliki keterkaitan erat dengan sastra dan Di bidang sastra di antara karyanya yang popular adalah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Di Bawah Lindungan Ka'bah. Merantau ke Deli. Di Tepi Sungai Dajlah. Mandi Cahaya di Tanah Suci, serta Empat Bulan di Amerika. Sementara di antara karya di bidang politiknya yaitu Adat Minangkabau dan Agama Islam. Revolusi Fikiran. Revolusi Agama. Tafsir al-Azhar menjadi karyanya dalam bidang tafsir yang popular di Indonesia. Masih ada banyak karya lain yang tidak kalah Metodologi Tafsir Al-Azhar Tafsir al-Azhar disusun oleh Hamka sebagai respons terhadap tingginya minat generasi muda Islam di Indonesia serta masyarakat di kawasan berbahasa Melayu yang ingin memahami kandungan Al-QurAoan secara lebih mendalam. Tafsir ini awalnya merupakan kumpulan ceramah yang disampaikan olehnya pada tahun 1958 di Masjid Agung Kebayoran Baru. Jakarta. Pada tahun 1960, masjid tersebut diresmikan dengan nama Masjid Agung Al-Azhar oleh Syaikh Mahmoud Syaltout. Rektor Universitas Al-Azhar Kairo yang saat itu berkunjung ke Indonesia. Berdasarkan usulan Haji Yusuf Ahmad yang menjabat sebagai tata usaha majalah Gema Islam, seluruh kajian tafsir yang disampaikan pada waktu Subuh kemudian dipublikasikan dalam majalah Hamka sendiri memberikan nama AuTafsir al-AzharAy pada tulisantulisan tafsirnya di majalah itu. Tafsir al-Azhar merefleksikan dengan jelas konteks kehidupan penulisnya. Karya ini mengekspresikan karakteristik masyarakat dan kondisi sosio-budaya yang berkembang pada masa tersebut. Selama kurun waktu dua dekade, tulisan32 Hudaeva dkk. AuPenafsiran Buya Hamka terhadap Surat Al Fatihah: Studi Tafsir Al Azhar,Ay JICN: Jurnal Intelek dan Cendikiawan Nusantara 1, no. , 10370. 33 Ghofur. Mozaik Mufasir Al-QurAoan dari Klasik hingga Kontemporer, 166. 34 Taufik Ch dkk. AuAnalisis Tafsir Al-Azhar Buya Hamka,Ay Zad Al-Mufassirin: Jurnal Sekolah Tinggi Ilmu Al-QurAoan (STIQ) 1, no. , 130-131. 35 Dewi Murni. AuTafsir Al-Azhar (Suatu Tinjauan Biografis dan Metodologi. ,Ay Jurnal Syahadah 3, no. , 28-29. IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Volume 9. Nomor 1. April 2026 tulisan Hamka berhasil mendokumentasikan dinamika kehidupan dan sejarah sosio-politik umat Islam yang penuh tantangan, sekaligus menunjukkan aspirasinya untuk menegaskan urgensi dakwah di wilayah Nusantara. Tafsir al-Azhar merupakan integrasi dari tafsir bi al-MaAotsur dan bi al-RaAoyi. Bahkan. Hamka mengintegrasikan elemen-elemen geografis suatu wilayah serta memasukkan narasi kemasyarakatan tertentu untuk memperkuat substansi kajian tafsirnya. 37 Dalam mukadimah, ia menguraikan signifikansi dan pengaruh literatur-literatur tafsir yang dijadikan referensi, seperti Tafsir al-Razi. Tafsir alKasysyaf. Ruh al-MaAoani. Tafsir al-Qurthubi. Tafsir al-MarAghi. Tafsir al-Qasimi. Tafsir al-Khazin. Tafsir al-Thabari, dan Tafsir al-Manar. Hamka mempertahankan keseimbangan optimal antara naql . dengan aql . Ia tidak sekadar mentransfer pendapat ulama terdahulu, tetapi juga mengaplikasikan perspektif dan pengalaman pribadinya. Tafsir al-Azhar menggunakan uslub tahlili . , yakni penafsiran ayat demi ayat secara sistematis sesuai urutan mushaf, disertai analisis komprehensif terhadap berbagai aspek yang berkaitan dengan ayat, baik dari segi semantik maupun dimensi lain yang relevan untuk memperkaya pemahaman pembaca. Hamka menekankan pendekatan kontekstual dalam penafsirannya dengan memberi perhatian besar pada aspek historis dan realitas kontemporer. Tafsirnya disajikan melalui pemaparan teks Al-QurAoan beserta maknanya, penjelasan terminologi keagamaan yang relevan, serta integrasi berbagai rujukan pendukung guna memudahkan pemahaman pembaca terhadap kandungan surah-surah Al-QurAoan. Tafsir al-Azhar karya Hamka merepresentasikan corak adabi ijtimaAoi . yang secara signifikan mengakomodasi kontekstualitas kehidupan masyarakat Muslim Indonesia. Menurut paradigma tafsir, corak adabi ijtimaAoi merupakan metodologi interpretasi yang mengelaborasi petunjuk-petunjuk AlQurAoan yang memiliki relevansi langsung dengan dinamika sosial, serta menawarkan solusi terhadap problematika masyarakat berdasarkan guidance QurAoani. Dalam penyajian tafsir Al-QurAoan, terdapat tiga sistematika penulisan yang dikenal, yaitu sistematika mushafi, nuzuli, dan maudhuAoi. Tafsir al-Azhar mengimplementasikan sistematika mushafi, yakni metodologi penafsiran yang 36 Avif Alviyah. AuMetode Penafsiran Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar,Ay Ilmu Ushuluddin 15, no. , 28. 37 Husnul Hidayati. AuMetodologi Tafsir Kontekstual Al-Azhar Karya Buya Hamka,Ay el-AoUmdah 1, no. : 32, https://doi. org/10. 20414/el-umdah. 38 Alviyah. AuMetode Penafsiran Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar,Ay 31. 39 M Munawan. AuCritical Discourse Analysis dalam Kajian Tafsir Alquran: Studi Tafsir Al-Azhar Karya Hamka,Ay TAJDID 25, no. , 160. 40 Musyarif. AuBuya Hamka (Suatu Analisis Sosial Terhadap KitabTafsir Al-Azha. ,Ay AL MAAoARIEF: Jurnal Pendidikan Sosial dan Budaya 1, no. : 28, https://doi. org/10. 35905/almaarief. 41 Ahmad Nabil Amir dan Tasnim Abdul Rahman. AuTafsir al-Azhar: Kekuatan dan Pengaruhnya,Ay Ibn Abbas: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir 3, no. , 212. Self-Care QurAoani. berpedoman pada tertib susunan mushaf yang terdiri dari 30 juz, dimulai dari Surah al-Fatihah dan dan berakhir pada Surah an-NAs. Secara teknis, penyajian Tafsir al-Azhar dilakukan melalui beberapa Pertama. Hamka mencantumkan nama surah beserta makna semantiknya dan nomor surah sesuai urutan mushaf. Kedua, ia menyajikan kelompok ayatAiumumnya empat hingga lima ayatAidalam teks Arab yang disertai transliterasi ke dalam bahasa Indonesia-Melayu. Ketiga, dalam proses penafsiran. Hamka menggunakan penanda Aupangkal ayatAy dan Auujung ayatAy untuk memudahkan pembaca mengikuti alur penjelasan. Demikian kurang lebih metodologi yang diterapkan oleh Hamka dalam Aplikasi dari metodologi tersebut kiranya dapat dilihat pada penafsirannya terhadap ayat-ayat self-care. Penafsiran Ayat-ayat Self-Care Perspektif Hamka Konsep self-care, yang mencakup perawatan diri secara fisik, mental, dan spiritual, memiliki keterkaitan penting untuk dikaji dalam perspektif Al-QurAoan. Meskipun istilah itu tidak disebutkan secara langsung dan eksplisit dalam AlQurAoan, terdapat sejumlah istilah dan ungkapan yang menggambarkan perilaku serta sikap yang mencerminkan praktik perawatan diri menurut pandangan Islam. Term-term ini mencakup konsep seperti ukhuwah . embangun hubungan sosial yang seha. , al-yusr baAoda al-Aousr . eyakinan bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudaha. , tidak isrAf . erlebih-lebihan dalam konsums. , menjaga diri dari halakah . , dan tumaAoninah . etenangan hat. Pada bagian ini akan diuraikan penafsiran Hamka terhadap beberapa ayat yang memuat istilah-istilah di atas. QS. Al-Hujurat . : 10 Allah Swt berfirman: n aAcEE EaaEac aE eI a e a aI eOIA e a AaIac aI eE aIe aIIa eOIa ea aO U a a AA aE a eO aOeIa a aaO eO aE eI aOacCaO NA AuSesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu . ang bertika. dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati. Ay (QS. Al-ujurAt . : . Menafsiri ayat di atas. Hamka menjelaskan bahwa QS. al-ujurAt . :10 memiliki kaitan erat dengan ayat sebelumnya yang sama-sama menekankan prinsip persaudaraan di antara orang beriman. Ia mengaitkan ayat ini dengan penutup QS. al-Fatu . :29, yang menggambarkan karakter kaum beriman sebagai pihak yang bersikap tegas terhadap orang kafir namun penuh kasih sayang di antara sesama mukmin. Hamka menegaskan bahwa jika iman telah 42 Ria Puspitasari dan Syarifah Hanifah. AuUnderstanding Buya Hamka Dan Tafsir Al-Azhar,Ay Ar Rosyad: Jurnal Keislaman dan Sosial Humaniora 2 (Juni 2. , 12. 43 Puspitasari dan Hanifah. AuUnderstanding Buya Hamka Dan Tafsir Al-Azhar,Ay 13. IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Volume 9. Nomor 1. April 2026 tumbuh di dalam hati, maka permusuhan antarsesama mukmin tidak mungkin terjadi kecuali karena faktor eksternal, seperti salah paham atau kesalahan dalam menerima informasi. Oleh karena itu, peringatan pada QS. al-ujurAt . :6 menjadi relevan, yakni agar setiap kabar negatif yang datang dari pihak lain diselidiki terlebih dahulu secara cermat untuk menghindari timbulnya fitnah dan Hamka mengutip kisah Abdullah bin AoAbbAs ketika ditanya penyebab pertempuran antara kelompok AoAl dan MuAoAwiyah. Ibnu AoAbbAs menjawab bahwa di pihak AoAl tidak ada orang seperti MuAoAwiyah, dan di pihak MuAoAwiyah tidak ada orang seperti AoAl: sebuah ungkapan yang mencerminkan realitas perbedaan kepemimpinan dan kondisi sosial politik saat itu. Hamka menafsirkan bahwa kebenaran dapat berada di kedua belah pihak, namun terbelah menjadi dua bagian. Oleh karena itu, peran pihak ketiga sebagai pendamai menjadi sangat penting. Perintah Audamaikanlah antara kedua saudaramuAy menurut Hamka bukan sekadar tindakan sosial, melainkan panggilan moral dan spiritual untuk mengembalikan persatuan umat. Dalam konteks self-care, penafsiran Hamka ini menunjukkan pentingnya menjaga kesehatan diri melalui hubungan sosial yang harmonis, menghindari konflik destruktif, dan membangun empati. Upaya perdamaian yang didasari iman dan kasih sayang tidak hanya memulihkan hubungan antarsesama, tetapi juga membantu menjaga ketenangan batin dan mengurangi tekanan QS. Al-InsyirAu . : 5-6 Allah Swt berfirman: A acaI aI a eEa ae Oa Ue Au a acaI aI a eEa ae Oa Ue oA Au5. Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Ay (QS. Al-InsyirAu . : 5-. Hamka menafsirkan ayat tersebut dengan menghubungkannya pada kesulitan dan tekanan yang dihadapi Rasulullah Saw dalam menjalankan misi dakwah sebagaimana tertera pada ayat kedua dan ketiga di surah yang sama. Penafsiran ini merujuk pada pendapat al-Qurub yang memahami istilah wizraka sebagai dosa-dosa, yang berasal dari masa sebelum kerasulan, meskipun Nabi Saw tidak pernah terlibat dalam penyembahan berhala. Sementara itu, ulama lain seperti Abdul Aziz bin Yahya dan Abu AoUbaidah mengartikan Aubeban beratAy sebagai amanat kenabian itu sendiri, yang merupakan tanggung jawab 44 Hamka. Tafsir Al-Azhar, vol. 8, 424. 45 Hamka. Tafsir Al-Azhar, vol. 8, 424. 46 Hamka. Tafsir Al-Azhar, vol. 8, 424. Self-Care QurAoani. besar dan berat. Allah kemudian meringankan beban itu sehingga terasa lebih ringan dalam pelaksanaannya. Pendapat serupa juga disampaikan oleh Ibnu AoArafah, yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan beban berat adalah tanggung jawab dakwah yang sangat membebani Rasulullah Saw, sampai seolah-olah punggung beliau menjadi bungkuk karena memikulnya. Kesedihan dan tekanan datang dari kenyataan bahwa dakwahnya sering diabaikan oleh kaumnya, dan hanya kelompok lemah yang terlebih dahulu menerima ajarannya. Di saat yang sama, masyarakat musyrik yang lebih berkuasa masih mendominasi di seluruh jazirah Arab. Beban tersebut begitu berat hingga diibaratkan mampu mematahkan tulang punggung. Hamka mengutip pandangan-pandangan ini untuk menunjukkan bahwa tekanan psikologis, penolakan masyarakat, dan dominasi kaum musyrik pada masa awal dakwah merupakan ujian yang sangat berat bagi Nabi Saw. Karenanya, ayat kelima dari Surah al-InsyirAu, fa-inna maAoa al-Aousri yusran, menggambarkan sunnatullah bahwa tiap kesulitan akan selalu diiringi Tidak ada kehidupan yang hanya berisi kesulitan, begitu pula tidak ada kehidupan yang hanya diisi dengan kemudahan. Keduanya hadir secara Inilah hakikat perjuangan hidup, yang hanya bisa dipahami secara mendalam oleh orang-orang yang telah menjalaninya. Hamka tidak hanya menguraikan makna ayat secara ilmiah, tetapi juga membawanya ke dalam pengalaman pribadinya. Ketika menghadapi masa penahanan selama dua tahun empat bulan karena tekanan politik, ia mengalami situasi yang sangat sulit dan menyesakkan. Ia memperbanyak membaca AlQurAoan, bahkan mengkhatamkannya tiga kali dalam lima hari pertama masa Hari-harinya diisi dengan menulis tafsir, hingga berhasil menyelesaikan 28 juz selama di dalam penjara. Aktivitas ini menjadi bentuk konkret pengelolaan diri melalui aktivitas yang bermakna dan sejalan dengan nilai spiritual, yang sekaligus membentengi dirinya dari kehancuran emosi. Hamka memandang bahwa setiap kesulitan menyimpan peluang dan pembelajaran yang dapat membentuk pribadi lebih kuat dan bijak. Kesedihan, ancaman, dan tekanan hidup tidak selalu menjadi beban semata, melainkan dapat menjadi pendorong lahirnya solusi, semangat, dan kebijaksanaan baru. 51 Dalam konteks self-care, hal ini menunjukkan pentingnya menjaga keimanan, karena hanya dengan iman yang kokoh seseorang dapat melalui masa sulit dan menemukan hikmah di balik setiap ujian. 47 Hamka. Tafsir Al-Azhar, vol. 9, 612. 48 Hamka. Tafsir Al-Azhar, vol. 9, 612. 49 Hamka. Tafsir Al-Azhar, vol. 9, 612. 50 Hamka. Tafsir Al-Azhar, vol. 9, 612. 51 Hamka. Tafsir Al-Azhar, vol. 9, 613. IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Volume 9. Nomor 1. April 2026 Kesimpulannya, penafsiran Hamka terhadap QS. al-InsyirAu . : 5-6 menegaskan bahwa kemudahan selalu menyertai kesulitan. Pandangan ini relevan untuk membangun kesadaran akan pentingnya perawatan diri. Keyakinan bahwa setiap ujian membawa potensi kebaikan mendorong seseorang untuk tetap bertahan, berpikir positif, dan terus bergerak maju dengan hati yang teguh. QS. al-AAorAf . : 31 Istilah Auperbuatan isrAfAy merujuk pada sikap negatif yang tidak hanya berdampak buruk bagi pelakunya, tetapi juga dapat merugikan orang lain di Allah Swt berfirman: n aAO aIa eO a aI a a eO a eOIaa aE eI a eI a aE aE aI ae s acO aEEa eO aO e a eaO aOaE a aeAa eO o aIacN aE O ac eE aI aeAaOeIA AuWahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap . masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan. Ay (QS. al-AAorAf . : . Dalam Tafsir al-Azhar. Hamka menafsirkan ayat ini sebagai ajakan universal kepada seluruh anak keturunan Adam untuk berhias setiap kali hendak melaksanakan ibadah, yang dalam konteks ini dipahami sebagai berpakaian rapi, bersih, dan pantas ketika menghadap Allah Swt. Ia menegaskan bahwa perintah berhias tidak hanya terkait dengan penampilan lahiriah semata, tetapi juga mencerminkan kesiapan batin dan penghormatan terhadap tempat ibadah. Tafsir ini juga berfungsi sebagai koreksi terhadap tradisi jahiliyyah yang melakukan thawaf di KaAobah tanpa busana. Penafsiran ini sejalan dengan pendapat Ilkiya al-Harrasi dan Ibn Katsir. Ayat ini mengandung anjuran untuk berhias saat memasuki masjid sebagai bentuk penghormatan terhadap kesucian masjid dan ibadah-ibadah di dalamnya, seperti iAotikaf, salat, dan tawaf. Di antara pakaian yang paling dianjurkan adalah yang berwarna putih, karena mencerminkan kesucian dan Dalam konteks masyarakat modern. Hamka menekankan pentingnya menjaga kebersihan dan kerapian sebelum melaksanakan ibadah di masjid, seperti mengganti pakaian setelah pulang kerja sebelum salat Jumat, atau menghindari makanan berbau menyengat yang bisa mengganggu jamaah Standar berpakaian disesuaikan dengan kemampuan ekonomi, orang kaya tidak pantas berpakaian lusuh, sementara orang miskin tidak dibebani membeli pakaian mahal. Kemudian, datanglah sambungan ayat. AuDan makanlah kamu dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Ay Ajaran Islam tentang kesederhanaan tidak hanya berlaku dalam berpakaian, tetapi juga dalam pola makan dan minum. 52 Hamka. Tafsir Al-Azhar, vol. 3, 401. 53 Hamka. Tafsir Al-Azhar, vol. 3, 402. 54 Hamka. Tafsir Al-Azhar, vol. 3, 404. Self-Care QurAoani. Ada tiga hal penting yang bisa diperhatikan. Pertama, menjaga pola makan yang seimbang membantu menjaga kesehatan tubuh dan mendukung ibadah. Kedua, menjaga kebersihan pakaian dan makanan menunjukkan gaya hidup Islami yang menyeluruh. Ketiga, larangan bersikap isrAf . erlebih-lebiha. menjadi peringatan agar tidak merusak kesehatan, keuangan, atau keharmonisan Berlebih-lebihan atau boros ialah melampaui batas yang patut. Dalam konteks makanan, ia menganjurkan untuk makan sampai kenyang, namun berhenti ketika rasa kenyang mulai tercapai, meskipun selera masih terbuka. Demikian pula dengan minum, hendaknya dilakukan sampai lepas dahaga, tanpa meneruskan konsumsi yang tidak perlu. Hamka menegaskan bahwa makan dan minum seimbang adalah bentuk pemeliharaan tubuh. Berlebihan dapat melemahkan fisik dan mengganggu ibadah, sebagaimana tentara Thalut yang dilarang minum sebelum menyeberang menuju Palestina kecuali seteguk Ukuran dalam hal ini adalah kesadaran iman. Orang kaya raya yang mempunyai berpuluh pesalinan pakaian, tentu tidak pantas pergi ke masjid dengan pakaian lusuh. Orang miskin yang pakalannya hanya dua salin saja, tentu kepayahan kalau dia hendak menyediakan lagi pakaian lain yang segagah pakaian orang kaya. Makanan dalam rumah pun mempunyai tingkat-tingkat pula. Iman menjadi alat penimbangan yang halus dalam urusan kesederhanaan dan keborosan ini. Ini memerlukan pengendalian rumah tangga dan kerjasama yang erat antara suami, istri dan anak-anak sehingga rumah tangga itu menjadi rumah tangga yang disinari oleh ajaran Islam. QS. Al-Baqarah . : 195 Allah Swt berfirman: aAcEE O ac eE aIe aIaOeIA Aa eO aE NA a AaOa eI aACa eO Aa eOA a AcEEa aOaE a eECa eO a a eO a eO aE eI aEaO E ac eNEa aE a u aOae aIa eO u acaI NA AuBerinfaklah di jalan Allah, janganlah jerumuskan dirimu ke dalam kebinasaan, dan Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. Ay (QS. AlBaqarah . : . Hamka dalam Tafsir al-Azhar menjelaskan bahwa Aumelemparkan diri ke kebinasaanAy . t-tahluka. memiliki dua dimensi yang berkorelasi erat dengan aspek pemeliharaan diri. Pertama, kehancuran yang bersumber dari ketidakmampuan dalam persiapan fisik dan material. Hamka menegaskan bahwa melakukan peperangan tanpa persiapan yang komprehensif, meliputi persenjataan, logistik, maupun perencanaan strategis, merupakan manifestasi dari pengabaian terhadap prinsip dasar pemeliharaan diri. Tindakan tersebut bukanlah representasi keberanian, melainkan bentuk kecerobohan yang 55 Hamka. Tafsir Al-Azhar, vol. 3, 405. 56 Hamka. Tafsir Al-Azhar, vol. 3, 405-406. IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Volume 9. Nomor 1. April 2026 kontradiktif dengan ajaran Islam mengenai penjagaan jiwa dan jasad. Hamka mengilustrasikan hal ini melalui contoh para pemuda yang bertempur dengan bambu runcing tanpa kelengkapan yang memadai, di mana semangat semata tidak memadai bila tidak disertai dengan persiapan yang komprehensif. Kedua, kebinasaan yang diakibatkan oleh gaya hidup yang berlebihan dalam Hamka mengkritik pola hidup yang cenderung terlalu nyaman dan konsumtif, yang sesungguhnya merupakan bentuk perawatan diri yang menyimpang, yaitu ketika individu terlalu memanjakan fisiknya hingga mengakibatkan kehilangan daya juang. Hamka mengingatkan bahwa AukebinasaanAy bukan hanya datang dari kekurangan fisik, tetapi juga dari kelebihan yang disalahgunakan. Sebagai ilustrasi, ketika seseorang terlalu fokus pada pengumpulan harta dan kenikmatan hidup hingga mengabaikan tugas Hal ini menjadi pelajaran fundamental bahwa self-care yang berlebihan dan hanya berorientasi pada kenyamanan serta kemewahan dapat menjauhkan individu dari tujuan luhur kehidupannya. Dalam konteks ini. Hamka memberikan kritik yang tajam terhadap pola hidup yang dapat menumpulkan semangat pengorbanan. Menariknya. Hamka tidak menafikan pentingnya kesiapan fisik. Sebaliknya, ia menekankan pentingnya ihsan, yaitu upaya penyempurnaan kualitas dalam segala aspek, termasuk dalam urusan perang dan perjuangan. Hal ini mencakup pelatihan fisik, kedisiplinan, dan strategi. Dalam konteks kontemporer, konsep ini dapat diinterpretasikan sebagai bentuk positif dari selfcare, yaitu cara individu memelihara tubuhnya agar tetap bugar, responsif, dan kuat untuk menjalankan tugas serta tanggung jawab kehidupan. Hamka tidak menolak praktik perawatan diri, namun memposisikannya sebagai instrumen, bukan finalitas. Kondisi fisik yang sehat harus menjadi modal untuk memberikan manfaat, bukan semata-mata untuk dinikmati. Penafsiran Buya Hamka menunjukkan bahwa Islam tidak mendorong pengorbanan yang impulsif. Bahkan dalam konteks jihad. Islam menetapkan prinsip pemikiran strategis yang harus dijalankan. Hal ini menggambarkan apresiasi Islam terhadap nilai kehidupan dan pentingnya memelihara keselamatan diri. Hamka menekankan perlunya disiplin dan kepatuhan terhadap komando sebagai pelajaran penting dari kekalahan dalam Perang Uhud, yang bukan hanya persoalan strategi militer, tetapi juga bagian dari perlindungan diri dari kehancuran akibat kelalaian. Kedisiplinan semacam ini merupakan dimensi penting dari self-care yang sering terabaikan dalam wacana modern. 57 Hamka. Tafsir Al-Azhar, vol. 1, 367-368. 58 Hamka. Tafsir Al-Azhar, vol. 1, 368. 59 Hamka. Tafsir Al-Azhar, vol. 1, 368-369. 60 Hamka. Tafsir Al-Azhar, vol. 1, 369. Self-Care QurAoani. Relevansi Penafsiran Hamka terhadap Ayat-ayat Self-Care dalam Upaya Mengatasi Burnout Istilah burnout merujuk pada kondisi kelelahan yang sangat intens, baik secara fisik, mental, maupun emosional. Gejala-gejala yang menyertainya antara lain perasaan keterasingan, sikap tidak peduli, apatis, sinisme, pandangan pesimis, hingga ketegangan dan kelelahan yang luar biasa. Dalam konteks dunia kerja dan kehidupan modern, burnout sering kali muncul sebagai respons terhadap tekanan dan tuntutan yang terus-menerus tanpa disertai strategi pemulihan yang memadai. Adapun penyebab utama burnout menurut Leiter dan Maslach meliputi beban kerja berlebih, kurangnya kendali atas pekerjaan, minimnya penghargaan, keretakan relasi sosial di lingkungan kerja, dan ketidakadilan dalam perlakuan di tempat kerja. 62 Selain faktor-faktor tersebut, lingkungan kerja yang tidak kondusif juga menjadi pemicu signifikan terjadinya burnout. Fenomena ini umumnya dialami oleh individu yang tidak mampu mengatur beban kerja, tanggung jawab, serta waktu istirahat secara seimbang. Pada era modern ini, kebahagiaan kerap dipahami sebagai bentuk kepuasan atas pencapaian materi dan kesuksesan hidup. Gitterman berpendapat bahwa memiliki kekayaan dan mewujudkan semua keinginan dianggap sebagai ukuran keberhasilan, dan ketika semua ambisi telah terpenuhi, seseorang dianggap telah mencapai tujuan akhir hidupnya. Pola pikir seperti ini mendorong manusia untuk terus bekerja tanpa batas, hingga mengabaikan kebutuhan diri sendiri, yang paradoksnya justru mengakibatkan ketidakbahagiaan. Kondisi burnout menyebabkan banyak individu merasa kehilangan arah dan makna hidup, sehingga membutuhkan pendekatan yang mampu memulihkan keseimbangan antara aspek fisik, emosional, dan spiritual dalam kehidupannya. Hal ini menunjukkan pentingnya pengembangan strategi intervensi yang holistik untuk mengatasi fenomena burnout dalam masyarakat kontemporer. Konsep self-care dianggap menjadi solusi dari kondisi burnout. Martin Seligman menawarkan pendekatan PERMA yang merupakan akronim dari lima elemen utama kesejahteraan: Positive Emotion (Emosi Positi. Engagement (Keterlibata. Relationships (Hubungan Positi. Meaning (Makna Hidu. , dan Accomplishment atau Achievement (Pencapaia. Konsep self-care memiliki keterkaitan erat dengan kelima elemen ini, sehingga dapat menjadi landasan strategis dalam mengatasi burnout secara komprehensif. 61 Isnia Prijayanti. AuPengaruh Beban Kerja dan Dukungan terhadap Burnout pada Karyawan PT. XAy (Skripsi. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2. 62 Roslina Alam. Kelelahan Kerja (Burnou. : Teori. Perilaku Organisasi. Psikologi. Aplikasi dan Penelitian. Cetakan ke-1 (Bantul-Jogjakarta: Penerbit Kampus, 2. 63 Jarman Arroisi dan Husnida Afifah. AuSindrom Burnout Perspektif Herbert J. Freudenberger,Ay Cakrawala Repositori IMWI 5, no. : 293, https://doi. org/10. 52851/cakrawala. 64 Seligman. Flourish: A Visionary New Understanding of Happiness and Well-Being, 15-18. IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Volume 9. Nomor 1. April 2026 Pada bagian ini, penulis akan menimbang kesesuaian penafsiran Hamka terhadap ayat-ayat self-care dengan pendekatan PERMA yang ditawarkan oleh Martin Seligman. Dari sini akan diperoleh kategorisasi pandangan Hamka tentang self-care berdasarkan lima elemen utama PERMA. Positive Emotion (Emosi Positi. Emosi memiliki peran fundamental dalam kehidupan manusia sehingga perlu dikelola secara adaptif. Ekspresi emosi yang berlebihan atau tidak terkontrol berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan fisik dan psikologis, seperti kecemasan, tekanan mental berkepanjangan, hingga penurunan motivasi hidup. Oleh karena itu, kemampuan regulasi emosi menjadi faktor penting dalam menjaga kestabilan jiwa, ketenangan batin, serta produktivitas individu. Sejumlah kajian psikologi positif, sebagaimana dirangkum oleh Fredrickson, mengidentifikasi sepuluh emosi positif utama yang umum dialami dalam kehidupan sehari-hari, yaitu kegembiraan, rasa syukur, ketenangan, minat, harapan, kebanggaan, hiburan, inspirasi, kekaguman, dan cinta. Di antara emosi tersebut, cinta memiliki karakteristik khas karena mencakup dan memediasi kemunculan emosi positif lainnya melalui relasi interpersonal, sehingga menjadi emosi positif yang paling dominan dalam pengalaman Berkaitan dengan peran penting emosi dalam menjaga kesehatan mental. QS. Al-InsyirAu ayat 5-6 memberikan landasan spiritual yang kuat. Hamka menekankan bahwa kesulitan tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu diiringi oleh kemudahan yang hadir bersamaan, bukan semata-mata setelahnya. Perspektif ini mendorong terbentuknya pola pikir positif . ositive reframin. yaitu kemampuan untuk melihat sisi baik dan peluang di tengah tekanan yang sangat penting dalam mencegah dan mengatasi burnout yang kerap dialami individu dalam tekanan kerja maupun kehidupan modern. Melalui penggambaran beban dakwah Nabi Muhammad Saw yang begitu berat. Hamka mengarahkan pembaca untuk menyadari bahwa setiap ujian mengandung benih pertolongan dan kemudahan dari Allah sebagai strategi mengatasi burnout pada tingkat Kesadaran ini menumbuhkan harapan dan rasa syukur, dua bentuk emosi positif yang dalam psikologi positif terbukti meningkatkan resilience dan menurunkan risiko kelelahan emosional yang menjadi ciri khas burnout. Dalam konteks burnout, sikap ini berfungsi sebagai buffer yang melindungi individu dari 65 Eric B. Shiraev dan David A. Levy. Psikologi Lintas Kultural Pemikiran Kritis dan Terapan Modern (Jakarta: Kencana, 2. , 211. 66 Barbara Fredrickson. AuThe Broaden and Build Theory of Positive Emotions,Ay Philos Trans R Soc Lond B Biol Sci 359, no. : 1368-1369, https://doi. org/10. 1098/rstb. 67 Hamka. Tafsir Al-Azhar, vol. 9, 612. Self-Care QurAoani. perasaan putus asa dan kehilangan motivasi yang sering memperparah kondisi kelelahan psikologis. Pengalaman pribadi Hamka selama masa tahanan memperlihatkan penerapan positive emotion secara nyata dalam upaya mengatasi burnout dan tekanan psikologis ekstrem. Alih-alih larut dalam penderitaan, ia mengisi hariharinya dengan membaca dan menulis tafsir, aktivitas yang tidak hanya bermakna secara spiritual, tetapi juga memberikan kepuasan emosional dan rasa pencapaian yang menjadi antitesis dari burnout. Engagement (Keterlibata. Salah satu cara penting bagi manusia untuk menemukan makna hidup adalah dengan terlibat secara mendalam dalam aktivitas yang memberikan ruang perkembangan diri. Bahkan kegiatan sederhana dapat menjadi bermakna apabila dilakukan dengan kesungguhan dan konsentrasi. Ranah budaya seperti seni, sastra, dan penelitian ilmiah menyediakan peluang luas bagi seseorang untuk membangun kehidupan yang bermakna. Manusia secara aktif dapat membentuk tujuan, memilih fokus perhatian, dan membangun makna dari pengalaman mereka. Hubungan dengan dunia yang didasari keterlibatan vital memberikan rasa kepemilikan, kedekatan emosional, dan memunculkan kebahagiaan saat proses berlangsung. Keadaan ini biasanya disertai flow, yaitu penyerapan penuh dalam aktivitas yang diakui nilainya sehingga menghasilkan kepuasan mendalam dan rasa tujuan yang Pada QS. al-ujurAt ayat 10. Hamka mengaitkan penafsirannya dengan prinsip tabayyun yang ada pada ayat sebelumnya. Pada tataran kognitif, prinsip tabayyun yang ditekankannya mengharuskan individu untuk Aumenyelidiki secara cermatAy setiap informasi yang diterima. 72 Sikap ini tidak sekadar berpikir kritis, tetapi juga melibatkan kesadaran penuh dan niat yang diarahkan untuk menjaga kebenaran serta keharmonisan sosial. Dalam penafsiran Hamka, tabayyun adalah sikap teliti dan cermat dalam menerima informasi untuk mencegah fitnah dan menjaga persaudaraan. Prinsip ini, jika dibawa ke realitas kerja masa kini, dapat berperan sebagai Aupenyaring mentalAy yang membantu menghadapi salah satu pemicu burnout, yaitu beban informasi berlebih . nformation overloa. seperti banjir email, rapat mendadak, dan arus data yang tiada henti. 73 Kondisi tersebut meningkatkan beban otak dan mempercepat kelelahan mental. 68 Alam. Kelelahan Kerja (Burnou. : Teori. Perilaku Organisasi. Psikologi. Aplikasi dan Penelitian, 50-52. 69 Hamka. Tafsir Al-Azhar, vol. 9, 612. 70 Corey L. M Keyes dan Jonathan Haidt. Flourishing: Positive Psychology and the Life Well-Lived (Washington: American Psychological Association, 2. , 83. 71 Keyes dan Haidt. Flourishing: Positive Psychology and the Life Well-Lived, 86-87. 72 Hamka. Tafsir Al-Azhar, vol. 8, 424. 73 Alam. Kelelahan Kerja (Burnou. : Teori. Perilaku Organisasi. Psikologi. Aplikasi dan Penelitian, 43-44. IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Volume 9. Nomor 1. April 2026 Konsep engagement juga dapat ditemukan dalam penafsiran QS. al-Baqarah ayat 195, di mana Hamka menggambarkan pentingnya keterlibatan total dalam perjuangan hidup, namun tetap dalam koridor disiplin, strategi, dan kesadaran akan batas diri. Perspektif ini memberikan nuansa baru dalam memahami aspek engagement dalam PERMA. Keterlibatan yang sehat bukan berarti menyibukkan diri secara berlebihan . atau mengabaikan kebutuhan pribadi, melainkan partisipasi aktif yang disertai kesadaran akan batas, struktur, dan kebijaksanaan kolektif. Penafsiran Hamka tentang dua bentuk kebinasaan yaitu karena tidak siap dan karena terlalu terlena dalam kenyamanan menjadi kerangka penting dalam memahami keseimbangan keterlibatan. Dorongan yang berlebihan tanpa persiapan dapat menyebabkan kelelahan parah, sementara zona nyaman yang tak menantang akan mengakibatkan stagnasi dan kehilangan semangat. Dengan menekankan pentingnya persiapan, disiplin, dan orientasi pada tujuan luhur. Hamka menunjukkan jalan tengah dalam menjaga keterlibatan aktif yang tidak merusak diri. Relationships (Hubungan yang positi. Hubungan interpersonal merupakan sumber utama yang memberikan kepuasan dan kesejahteraan emosional dalam kehidupan manusia. Dalam konteks teori kesejahteraan psikologis, hubungan positif dengan sesama manusia ditempatkan sebagai komponen fundamental bagi kesehatan mental yang optimal. Manfaat dari hubungan interpersonal melampaui batas-batas kesehatan Bukti empiris menunjukkan bahwa nilai hubungan sosial dan dukungan sosial memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan fisik, proses pemulihan dari penyakit, serta fungsi-fungsi fisiologis tubuh. Pengaruh ini bersifat substantif dan luas, sebagaimana terbukti dari peran sentral konteks hubungan dalam berbagai proses psikologis yang mempengaruhi perilaku dan perkembangan manusia secara berkelanjutan. Pada QS. al-ujurAt ayat 10. Hamka menekankan bahwa persaudaraan sesama mukmin adalah ikatan yang terbentuk dari iman, kasih sayang, dan niat tulus untuk saling menjaga. Menurutnya, konflik hanya muncul akibat kesalahpahaman atau informasi keliru, sehingga penyelesaiannya adalah melalui verifikasi kabar pada ayat 6 dan usaha perdamaian yang tulus. Hubungan sosial yang sehat ini memiliki fungsi perlindungan . uffering effec. terhadap burnout. Dengan memelihara ukhuwah yang harmonis, individu 74 Hamka. Tafsir Al-Azhar, vol. 1, 367-368. 75 Corey L. M Keyes dan Eduardo J Simoes. AuTo flourish or not: positive mental health and all-cause mortality,Ay Am J Public Health 102, no. : 2165, https://doi. org/10. 2105/AJPH. 76 Keyes dan Simoes. AuTo flourish or not: positive mental health and all-cause mortality,Ay 2165. 77 Hamka. Tafsir Al-Azhar, vol. 8, 424. Self-Care QurAoani. memperoleh dukungan moral, tempat berbagi beban, serta rasa dimengerti dan Dukungan ini mengurangi tekanan psikologis, mempercepat pemulihan energi mental, dan mencegah perasaan terasing yang sering menjadi pemicu burnout. Burnout kerap diperparah oleh rasa terisolasi dan kurangnya koneksi sosial. Konsep ukhuwah yang dijelaskan Hamka mengajak membangun sistem dukungan . upport syste. yang kuat. Hamka menekankan bahwa niat mendamaikan harus bebas dari kepentingan pribadi. Meaning (Makna hidu. Salah satu kualitas intrinsik manusia adalah dorongan untuk mencari makna hidup serta kebutuhan akan rasa nilai dan harga diri. Menurut Seligman, makna dapat dipahami sebagai rasa memiliki atau melayani sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri. Tujuan hidup yang jelas membantu individu memusatkan perhatian pada hal-hal yang benar-benar penting, terutama ketika menghadapi tantangan atau kesulitan yang signifikan. Penafsiran Hamka atas QS. al-ujurAt ayat 10 menempatkan ukhuwah sebagai sarana mencapai makna hidup . dalam kerangka PERMA. Bagi Hamka, perintah mendamaikan pihak yang berselisih bukan hanya kewajiban sosial, tetapi panggilan moral dan spiritual yang memberi arah hidup lebih besar daripada kepentingan pribadi. Nilai iman, takwa, kasih, dan cinta menjadi landasan yang menghubungkan individu dengan tujuan transendental, sehingga setiap upaya perdamaian memiliki bobot ibadah. Dalam konteks burnout, orientasi pada tujuan luhur ini berperan sebagai penopang resiliensi psikologis. Ketika seseorang mengaitkan tindakannya dengan makna spiritual dan kemaslahatan bersama, stres tidak sekadar menjadi beban, tetapi bagian dari perjuangan bernilai. Rasa keterhubungan dengan misi yang lebih besar membantu individu mempertahankan energi emosional, menekan rasa hampa, dan memulihkan semangat hidup. Rahmat Allah yang diyakini hadir melalui niat tulus mempererat persaudaraan juga menjadi sumber ketenangan batin yang melampaui pengaruh stres sehari-hari. Penafsiran Hamka atas QS. al-InsyirAu ayat 5-6 menekankan bahwa kesulitan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan, tetapi di dalamnya Allah sudah meletakkan kemudahan. 80 Dalam kerangka meaning, kesadaran ini membuat individu melihat ujian bukan sebagai hambatan semata, melainkan sebagai bagian dari misi hidup yang lebih besar mengabdi kepada Allah, menegakkan kebenaran, dan memperkuat iman. Makna yang ditemukan Hamka tidak bersifat abstrak, tetapi sangat praktis: ia mengubah tekanan . isalnya saat ditaha. menjadi momentum untuk menulis tafsir dan memperdalam hubungan 78 Seligman. Flourish: A Visionary New Understanding of Happiness and Well-Being, 17. 79 Hamka. Tafsir Al-Azhar, vol. 8, 424. 80 Hamka. Tafsir Al-Azhar, vol. 8, 612. IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Volume 9. Nomor 1. April 2026 spiritual dengan Allah. Hal ini sejalan dengan definisi meaning menurut Seligman melayani sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. Penafsiran Hamka atas QS. al-AAorAf ayat 31 menekankan pentingnya kesiapan lahir dan batin dalam setiap ibadah, termasuk menjaga kebersihan, kesopanan, dan tidak berlebihan dalam makan maupun minum. Dalam perspektif meaning pada teori PERMA, ajaran ini menunjukkan bahwa aktivitas sehari-hari yang tampak sederhana dapat memiliki nilai transendental jika diniatkan sebagai bentuk pengabdian kepada Allah. Kesadaran bahwa setiap Tindakan dari berpakaian rapi hingga menjaga pola makan adalah bagian dari tujuan hidup yang lebih besar, yakni memuliakan hubungan dengan Sang Pencipta, membentuk rasa nilai dan harga diri yang kokoh. Dalam konteks mengatasi burnout, penafsiran ini menawarkan cara memulihkan motivasi dengan memberikan makna baru pada rutinitas, mengalihkan fokus dari tekanan menuju hubungan spiritual, menciptakan rasa kendali melalui disiplin diri, serta memelihara martabat pribadi. Dengan demikian. QS. al-AAorAf ayat 31 mengajarkan bahwa makna hidup dapat ditemukan dalam detail kecil kehidupan, dan bila dijalankan konsisten, ia menjadi penopang mental yang efektif dalam mencegah serta mengatasi kelelahan emosional. Accomplishment atau Achievement (Pencapaia. Pada dasarnya, dimensi pencapaian model PERMA bukan hanya tentang pencapaian, melainkan tentang perjalanan penuh perjuangan yang mengarah pada pencapaian tujuan. Dimensi ini mewujudkan kegembiraan dalam menghadapi tantangan, kegigihan untuk terus maju meskipun mengalami kemunduran, ketahanan untuk bangkit dari kegagalan, dan kegembiraan dalam mewujudkan ambisi pribadi atau bersama. Dimensi ini melibatkan kerja keras, disiplin, tekad, ketekunan, dan seringkali menuntut seseorang untuk keluar dari zona nyaman. Pencapaian prestasi menumbuhkan kepuasan, memperkuat rasa percaya diri, dan menanamkan rasa berharga dan autentisitas. Hal ini mencakup seluruh perjalanan holistik dalam menetapkan tujuan, mengejarnya dengan penuh semangat, mengatasi kesulitan, dan mengalami kemenangan. Ini tentang mengenali dan menghargai total upaya dan kemenangan seseorang, baik besar maupun kecil, dan terus-menerus mencari pertumbuhan dan perbaikan diri. Pada penafsiran QS. al-Baqarah ayat 195. Hamka menekankan pentingnya persiapan yang matang sebelum meraih keberhasilan. Hamka mengkritik semangat yang tidak diiringi kesiapan sebagai bentuk kebinasaan, sebagaimana 81 Seligman. Flourish: A Visionary New Understanding of Happiness and Well-Being, 17. 82 Seligman. Flourish: A Visionary New Understanding of Happiness and Well-Being, 17-18. 83 Seligman. Flourish: A Visionary New Understanding of Happiness and Well-Being, 18-19. Self-Care QurAoani. dalam kisah pemuda yang maju dengan bambu runcing tanpa strategi. Hal ini sejalan dengan kenyataan bahwa banyak individu mengalami burnout karena memaksakan diri mengejar target tanpa perencanaan, atau memiliki ekspektasi yang tidak realistis terhadap hasil. Pada QS. al-InsyirAu ayat 5-6. Hamka memahami penegasan bahwa kemudahan hadir bersamaan dengan kesulitan, bukan sekadar datang Dalam konteks dakwah Nabi Saw, beban psikologis, penolakan masyarakat, dan dominasi kaum musyrik menjadi ujian berat yang nyaris mematahkan semangat, namun di saat yang sama Allah memberikan kemuliaan dan penguatan. Bagi Hamka, inilah sunnatullah dalam perjalanan hidup: setiap tantangan mengandung peluang yang dapat mengantarkan pada pencapaian lebih besar. Dalam perspektif Accomplishment, pandangan ini menekankan pentingnya melihat kesulitan sebagai bagian integral dari proses meraih tujuan, bukan sebagai hambatan mutlak. Ketekunan, disiplin, dan keberanian untuk tetap berproses di tengah tekanan merupakan inti dari pencapaian yang bermakna. Aktivitas yang terarah menciptakan rasa keberhasilan yang tidak hanya memvalidasi upayanya, tetapi juga berperan sebagai mekanisme preventif dan kuratif terhadap burnout, menjaga kesehatan mental serta spiritual di tengah kondisi penuh tekanan. Hamka menegaskan bahwa iman yang terjaga adalah kunci untuk menemukan kemudahan di dalam kesulitan. Dengan iman, seseorang mampu mengubah tekanan menjadi motivasi, menjadikan pengalaman pahit sebagai sumber kekuatan batin, dan memandang ujian sebagai sarana pembentukan 85 Sikap ini selaras dengan esensi Accomplishment, yakni memaknai setiap langkah termasuk fase tersulit sebagai bagian dari perjalanan menuju pertumbuhan diri, kepuasan batin, dan keberhasilan sejati. Seluruh paparan di atas menunjukkan adanya kesesuaian antara penafsiran Hamka terhadap ayat-ayat self-care dan model PERMA sebagai upaya mengatasi Meski demikian, terdapat juga titik beda antar keduanya. Secara ontologis, tujuan PERMA adalah hidup yang Auberkembang penuhAy secara mental, emosional, dan sosial. Sementara Hamka mengarahkan penafsirannya pada tujuan penghambaan kepada Allah dan merih rida-Nya. Well-being . bukanlah tujuan akhir hidup dalam Islam, tetapi merupakan hasil atau dampak dari kehidupan yang benar, yaitu iman dan penghambaan kepada Allah. Dari sudut epistemologi. Model PERMA yang dikembangkan oleh Martin Seligman lahir dari tradisi psikologi positif modern berakar pada paradigma ilmiah Barat. Ia berbasis empirisme dan positivisme. Sementara epistemologi 84 Hamka. Tafsir Al-Azhar, vol. 9, 613. 85 Hamka. Tafsir Al-Azhar, vol. 9, 613. IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Volume 9. Nomor 1. April 2026 penafsiran Hamka terhadap ayat-ayat self-care berbasis naqli yang kebenarannya tidak ditentukan oleh data empiris semata, tetapi oleh otoritas wahyu sebagai sumber pengetahuan tertinggi. Model PERMA bersifat bottom-up . ari data ke teor. , sedangkan penafsiran Hamka bersifat top-down . ari wahyu ke pemahaman manusi. Implikasinya. PERMA berfokus pada well-being psikologis, sementara penafsiran Hamka berfokus pada penyucian jiwa dan kedekatan dengan Allah. Secara konsep, self . dalam model PERMA berorientasi pada selfactualization, yaitu upaya individu untuk mengembangkan potensi dirinya secara optimal berdasarkan pengalaman subjektif dan tujuan yang ditentukan secara Dalam kerangka ini, diri diposisikan sebagai pusat orientasi yang Berbeda halnya dengan konsep diri dalam tafsir Hamka yang berakar pada pandangan Islam tentang manusia sebagai hamba Allah . yang keberadaannya terikat pada kehendak Ilahi. Oleh karena itu, pengembangan diri tidak diarahkan pada pemenuhan diri semata, melainkan pada penundukan diri kepada Allah melalui proses tazkiyatun nafs. Seluruh analisis di atas menunjukkan bahwa penafsiran Hamka terhadap empat ayat di atas dapat dibaca sebagai model self-care QurAoani yang bukan sekedar menginterpretasi ayat, tetapi menjadi psikologi Islami terapan. Konsep QurAoanic self-care ini memiliki ciri teosentris, berbasis wahyu, integrasi fisikAe emosiAespiritual, serta meaning-centered. Penafsiran Hamka tidak hanya relevan dengan PERMA, tetapi secara implisit menunjukkan bahwa kerangka Islam melalui tafsir Hamka lebih komprehensif daripada PERMA, karena mencakup dimensi spiritual, teologis, dan eskatologis. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa penafsiran Hamka terhadap ayat-ayat AlQurAoan dapat dirumuskan sebagai model self-care QurAoani yang bersifat holistik, mencakup dimensi fisik, emosional, sosial, dan spiritual. Prinsip-prinsip seperti ukhuwah, pengendalian diri, keseimbangan hidup, serta keyakinan akan kemudahan dalam kesulitan berfungsi sebagai mekanisme penting dalam menjaga kesehatan diri sekaligus mencegah burnout. Dalam perspektif psikologi positif, konsep tersebut memiliki kesesuaian yang kuat dengan model PERMA yang dikembangkan oleh Martin Seligman, terutama pada aspek emosi positif, keterlibatan, hubungan sosial, makna hidup, dan pencapaian. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai QurAoani dapat berdialog secara konstruktif dengan pendekatan psikologi modern dalam memahami kesejahteraan manusia. Namun demikian, terdapat perbedaan mendasar antara keduanya. PERMA berorientasi pada kesejahteraan sebagai tujuan akhir berbasis empirisme, sedangkan dalam tafsir Hamka, kesejahteraan merupakan hasil dari Self-Care QurAoani. penghambaan kepada Allah yang berbasis wahyu. Oleh karena itu, konsep selfcare QurAoani menawarkan kerangka yang lebih teosentris dan komprehensif, sekaligus membuka peluang bagi pengembangan paradigma Islamic Positive Psychology dalam mengatasi burnout. Daftar Pustaka