Jurnal Moluska Indonesia. April 2026 Vol 10. : 18 Ae 27 https ://doi. org/10. 54115/jmi. p ISSN:2087-8532 e ISSN:2776-7507 Variasi Temporal Biologi Reproduksi Kerang Bade-bade (Isognomon isognomu. di Perairan Tapulaga (Temporal Variation in the Reproduction Biology of the Wader Tree Oyster (Isognomon isognomu. in the Waters of Tapulag. 1Salsia, 2Bahtiar *, 2Asriyana Program Studi Ilmu Perikanan. Program Pascasarjana. Universitas Halu Oleo. Kendari. Indonesia Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Halu Oleo Kendari. Indonesia Corresponding authors*: anan77unhalu@gmail. Submit : 8 Desember 2025 Revisi : 2 Februari 2026 Diterima : 2 Maret 2026 ABSTRACT Wader tree oyster (I. are filter feeder organisms and are used by the community as foodstuffs, so intensive use has the potential to affect growth and reproduction in natural habitats. This study was to analyze the temporal variation of the reproductive biology of clam I. isognomum in the waters of Tapulaga. This research was conducted from September 2024 to February 2025. Shellfish I. isognomum was taken by purposive random sampling with a total sample of 360 individuals. Furthermore, the scallop samples were measured in length, width, total weight, and weight of wet meat using a caliper . 05 c. and a digital scale . Furthermore, the gonads were weighed using an analytical scale . at the Laboratory of the Faculty of Fisheries and Marine Sciences. Halu Oleo University. The data were analyzed descriptively quantitatively using Chi-Square test methods, gravimetric, and nonlinear regression. The results of the study showed that the sex ratio of male and female mussels was not equal to 1:1 with a ratio of 1:1. TKG IV is found almost every month and the peak gonad maturity occurs in December. The highest IKG of males and females were found in December ranging from 1. The first time the gonads mature is based on the analysis of 50% Lmaturity, which is in the range of 8. 9 cm and 9. 4 cm. Keywords: Reproductive biology. Isognomon isognomum. Tapulaga Waters ABSTRAK Kerang bade-bade (I. merupakan organisme filter feeder dan dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan makanan, sehingga pemanfaatan yang intensif berpotensi memengaruhi pertumbuhan dan reproduksi di habitat alami. Penelitian ini untuk menganalisis variasi temporal biologi reproduksi kerang isognomum di Perairan Tapulaga. Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2024 hingga Februari 2025. Kerang I. isognomum diambil secara purposive random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 360 individu. Selanjutnya sampel kerang diukur panjang, lebar, berat total, dan berat daging basah menggunakan jangka sorong . ,05 c. dan timbangan digital . ,01 . Selanjutnya gonad ditimbang menggunakan timbangan analitik . ,0001 . di Laboratorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Halu Oleo. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif menggunakan metode uji Chi-Square, gravimetrik, dan regresi non linear. Hasil penelitian menunjukkan nisbah kelamin kerang jantan dan betina tidak sama dengan 1:1 dengan rasio perbandingan sebesar 1:1,73. TKG IV hampir ditemukan pada setiap bulannya dan puncak kematangan gonad terjadi di bulan Desember. IKG tertinggi jantan dan betina di temukan di bulan Desember berkisar 1,61-1,75. Pertama kali matang gonad berdasarkan analisis Lmaturity 50% yaitu kisaran 8,9 cm dan 9,4 cm. Kata Kunci: Biologi reproduksi. Isognomon isognomum. Perairan Tapulaga PENDAHULUAN Perairan Tapulaga merupakan wilayah pesisir yang terletak di Kecamatan Soropia. Kabupaten Konawe. Sulawesi Tenggara, dan memiliki karakteristik perairan yang didominasi oleh pesisir serta laut dangkal dengan sumber daya hayati yang beraneka ragam (Kandari et al. , 2. Potensi tersebut terlihat dari keberadaan ekosistem mangrove, lamun, dan terumbu karang yang masih cukup melimpah, sehingga memberikan manfaat bagi keseimbangan ekologi dan mendukung kehidupan biota laut, salah satunya kerang bade-bade (Isognomon Kerang I. isognomum merupakan spesies bivalvia dari famili isognomonidae yang banyak ditemukan di daerah intertidal dan subtidal pada ekosistem lamun dengan substrat pasir kasar Reproduksi Kerang Bade-bade (Salsia et al. (Polyzoulis & Gubili, 2. Spesies ini hidup berkelompok menyerupai batu dan membenamkan setengah tubuhnya ke dalam substrat menggunakan benang byssus (Tan & Woo, 2. Secara ekologi, kerang I. isognomum relatif toleran terhadap perubahan lingkungan dan merupakan organisme filter feeder yang dapat digunakan sebagai bioindikator kualitas perairan (Falah et al. , 2. Selain itu, kerang ini juga dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber pangan karena memiliki kandungan protein dan lemak (Hasbunallah et al. , 2. Penangkapan kerang I. isognomum telah berlangsung lama di Perairan Tapulaga. Setiap harinya. A 8 nelayan melakukan penangkapan dengan jumlah 5-10 kg per orang, dan aktivitas ini umumnya didominasi oleh nelayan dari Desa Leppe dan Desa Sorue (Hasil wawancara, 2. Pemanfaatan yang tidak terkendali tersebut dikhawatirkan dapat memengaruhi pola pertumbuhan dan proses reproduksi, yang pada akhirnya berdampak pada penurunan populasi dan kualitas kerang I. isognomum yang bereproduksi di perairan tersebut (Silaban et , 2. Selain itu, tingginya aktivitas pembangunan permukiman masyarakat di wilayah pesisir serta tingginya jumlah sampah plastik dari berbagai jenis, dengan persentase sampah domestik sebesar 0,73 ton/hari (Rambi et , 2. , turut memberikan kontribusi signifikan terhadap kerusakan ekosistem perairan, ketersediaan sumber makanan termasuk tipe habitat dari biota laut salah satunya kerang I. Berdasarkan hal tersebut, upaya perlindungan, pencegahan ketidakseimbangan populasi, serta pengelolaan yang tepat menjadi penting untuk menjamin keberlanjutan populasi kerang di alam. Pengelolaan yang berkelanjutan memerlukan data dan informasi mengenai pola pertumbuhan serta aspek reproduksi (Dody et al. , 2. Aspek reproduksi dapat ditentukan melalui analisis nisbah kelamin, tingkat kematangan gonad (TKG), indeks kematangan gonad (IKG), dan ukuran pertama kali matang gonad. Penelitian mengenai biologi reproduksi kerang I. isognomum masih jarang dilakukan, termasuk di Perairan Tapulaga. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk memperoleh data empiris terkait siklus reproduksi kerang I. sebagai dasar pengelolaan sumber daya kerang secara berkelanjutan serta sebagai referensi ilmiah bagi penelitian selanjutnya. MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2024 hingga Februari 2025 di Perairan Tapulaga. Kecamatan Soropia. Kabupaten Konawe. Sulawesi Tenggara pada titik koordinat 03A56Ao11. 91Ay LS dan 122A38Ao38. 20Ay BT (Gambar . Hasil survei, lokasi penelitian menunjukkan tingkat homogenitas lingkungan yang tinggi, sehingga pengambilan sampel difokuskan pada 1 stasiun yang merepresentasikan keseluruhan area dikarenakan perbedaan antar lokasi secara spasial tidak signifikan. Sedangkan variasi pengambilan sampel dilakukan secara temporal untuk mengamati dinamika populasi dalam satu kesatuan populasi yang sama. Gambar 1. Peta lokasi penelitian di Perairan Tapulaga Prosedur Penelitian Pengambilan sampel kerang I. isognomum menggunakan metode simple random sampling berdasarkan keberadaan populasi di lapangan. Pengambilan sampel dilakukan selama enam bulan dengan frekunesi satu kali per bulan sebanyak 60 individu, sehingga total sampel yang diperoleh berjumlah 360 individu. Sampel dipilih untuk mewakili variasi ukuran kerang yang ada di Perairan Tapulaga. Pengambilan sampel dilakukan secara manual saat kondisi surut. A300 m sepanjang garis pantai, kerang yang diambil menyembul di permukaan substrat dan bergerombol. Pengukuran kualitas air dilakukan bersamaan dengan pengambilan kerang I. isognomum dan dilakukan pada saat kondisi pasang. Kerang I. isognomum yang diperoleh diukur panjang, lebar, dan tebal cangkangnya menggunakan jangka sorong dengan ketelitian 0,01 cm. Bobot tubuh diukur menggunakan timbangan dengan ketelitian 0,01 g. Seluruh data morfometri dicatat dan diberi kode identitas sampel. Penentuan jenis kelamin dilakukan melalui pembedahan individu. Jaringan gonad diamati secara visual dan identifikasi jenis kelamin didasarkan pada perbedaan warna gonad, yaitu jantan berwarna putih susu dan betina berwarna orange (Gambar . Sampel kemudian diawetkan menggunakan alkohol dengan konsentrasi 10% dan dibawa ke laboratorium untuk dianalisis lebih lanjut, meliputi tingkat kematangan gonad (TKG) dan parameter reproduksi lainnya sesuai tujuan penelitian. TKG diamati berdasarkan preparat mikroskopik pada perbesaran . x/0. 22-40x/0. 65 O/-) terdiri atas TKG I. II, i. IV, dan V sesuai klasifikasi kriteria Rahmawati et al. Gambar 2. Kerang I. isognomum (A) betina dan (B) jantan, morfologi a: mantel, b: insang, c: pencernaan, d: gonad, e: daging (Bawekes et al. , 2. Analisis Data Nisbah Kelamin Nisbah kelamin dianalisis dengan persamaan menurut Bahtiar, . Keterangan : X = nisbah kelamin M = jumlah kerang jantan F = jumlah kerang betina Selanjutnya dilakukan uji Chisquare dengan hipotesa. H0 = jantan:betina = 1:1 . isbah kelamin H1 = jantan:betina O 1:1 . isbah kelamin tidak seimban. (Mzighani, 2. NA = Oc (Oi - e. A . Keterangan: NA = nilai distribusi kelamin N = jumlah pengamatan Oi = nilai frekuensi kelamin jantan dan betina yang teramati ke-i ei = nilai frekuensi harapan kelamin jantan dan betina ke-i Taraf kepercayaan 95% . dengan nilai NA tabel db (B-. dan (K-. B merupakan kategori baris dan K merupakan kategori kolom, dengan kriteria pengujian sebagai berikut: H0 : diterima. H1 : ditolak. apabila NA hitung O NA tabel (= 0,. H0 : ditolak. H1 : diterima. apabila NA hitung Ou NA tabel (= 0,. Indeks Kematagan Gonad (IKG) Indeks kematangan gonad dihitung menggunakan rumus yang diuraikan oleh Wolff . IKG = x 100 % . Keterangan: IKG = indeks kematangan gonad (%) Bg = berat gonad . = berat tubuh . Ukuran Pertama Kali Matang Gonad Peluang 50% matang gonad (Lmaturit. menggunakan analisis regresi non linear pada kurva logistik yang diuraikan oleh (Arocha & Barios, 2. dengan bantuan sofware sigma plot 6,0 yaitu: x-xo 1 e-( b ) . Keterangan: x,xo peluang matang goand (%) eksponensial bilangan natural perpotongan garis . ukuran lebar ke-i . HASIL DAN PEMBAHASAN Nisbah Kelamin Jenis kelamin kerang I. isognomum dapat dibedakan secara morfologi melalui pengamatan warna Gonad jantan umumnya berwarna putih susu dan betina berwarna orange terang (Rahmawati et al. , 2. Hasil analisis jenis kelamin kerang I. isognomum di Perairan Tapulaga selama periode bulan September 2024-Februari 2025 ditemukan jumlah individu betina lebih dominan dibandingkan jantan, yaitu sebanyak 210 individu betina dan 150 individu jantan. Rasio perbandingan pada bulan September sebesar 1:1,40. Oktober 1:1,50, dan November 1:1,14. Desember sebesar 1:1. 50, dan bulan Januari sebesar 1:1. 73 serta bulan Februari sebesar 1:1. 40 (Tabel 1 & Gambar . Hasil uji Chi-square ( = 0,. diperoleh nilai NA hitung sebesar 64,3 > NA tabel yaitu 11,07, maka hipotesis (H. Terdapat perbedaan nyata antara jumlah kerang I. isognomum jantan dan betina tidak yang berbanding 1:1. Hal ini didukung oleh Mzighani . bahwa apabila nilai NA hitung lebih besar dibanding NA tabel, maka hipotesis H0 ditolak yang berarti jumlah jantan dan betina tidak seimbang . antan O betin. Tabel 1. Nisbah kelamin kerang I. isognomum di Perairan Tapulaga Jumlah Individu . Waktu Penelitian Nisbah NA Hitung NA Tabel 11,07 Jantan Betina September 2024 1:1,40 Oktober 2024 1:1,50 November 2024 1:1,14 Desember2024 1:1,31 Januari 2025 1:1,73 Februari 2025 1:1,40 Nilai NK (%) September Oktober November Desember Januari Periode . Februari Gambar 3. Nisbah kelamin kerang I. Betina Jantan Berdasarkan hasil nisbah kelamin kerang I. isognomum di Perairan Tapulaga selalu didominasi oleh kerang betina dibandingkan kerang jantan dengan rasio perbandingan 1:1,73 (Tabel . Nisbah kelamin ini tidak jauh berbeda dengan kerang Modiolus modulaides yang berada pada perairan yang sama (Perairan Tapulag. menunjukkan kisaran nisbah kelamin berkisar 1:1,86 (Salsia et al. , 2. , dan kerang Anodonta woodiana di perairan yang berbeda (Danau Rawapenin. berkisar 1:1,62 (Astari et al. , 2. Berbeda dengan kerang Sinanodonta woodiana di Perairan Polandia yang menunjukkan jumlah nisbah kelamin jantan dan betina berbanding 1:1 (Labecka & Domagala, 2. , dan kerang Anadara granosa di Perairan Pemangkat menunjukkan nisbah kelamin kerang jantan lebih banyak dibanding betina dengan rasio perbandingan sebesar 2:1 (Trisnadi et al. , 2. Beberapa spesies bivalvia memiliki rasio kelamin jantan dan betina cukup bervariasi, meskipun secara umum cenderung seimbang (Natan, 2. Secara temporal, nisbah kelamin kerang I. isognomum selalu didominasi oleh kerang betina, baik pada setiap periode pengambilan sampel maupun tingkat kematangan gonad. Ketidakseimbangan nisbah kelamin tersebut dipengaruhi oleh faktor perilaku, kondisi lingkungan, serta tekanan eksploitasi yang lebih dominan terhadap kerang jantan (Efriyeldi et al. , 2. Suhu perairan yang berkisar 29-32AC dan kandungan TOM sebesar 13,86-27,81% masih berada dalam kisaran optimal untuk mendukung proses reproduksi. Nisbah kelamin kerang I. isognomum menunjukkan srategi reproduksi untuk meningkatkan peluang keberhasilan pemijahan di suatu perairan (Rochmady et al. , 2. Hal ini didukung oleh Widarto . bahwa tingginya proporsi individu betina dalam suatu populasi merupakan kondisi yang menguntungkan, karena dapat meningkatkan peluang keberhasilan reproduksi secara keseluruhan. Pemijahan organisme di alam, termasuk kerang, sangat ditentukan oleh keberadaan individu jantan dan betina pada lokasi yang sama. Kondisi tersebut menjadi faktor penting dalam menjaga kelangsungan populasi karena meningkatan peluang terjadinya proses fertilisasi (Effendie, 2. Jantan i Betina i TKG (%) TKG (%) Tingkat Kematangan Gonad (TKG) Hasil analisis tingkat kematangan gonad kerang I. isognomum selama periode penelitian September 2024-Februari 2025, menunjukkan bahwa seluruh tahap kemantang gonad kerang I. isognomum jantan dan betina ditemukan pada setiap bulan pengamatan dengan proses reprodksi tidak terjadi secara bersamaan. Tahap awal perkembangan gonad (TKG I dan II) mencerminkan fase persiapan dan pemulihan gonad, sedangkan tahap perkembangan lanjut (TKG . menunjukkan peningkatan menuju fase matang. Puncak kematangan gonad (TKG IV) ditemukan sepanjang periode penelitian, yang mengindikasikan adanya proses reproduksi, sedangkan tahap pasca pemijahan (TKG V) tetap dijumpai dan menunjukkan bahwa aktivitas pemijahan terjadi secara bertahap. Pola distribusi tingkat kematangan gonad antara kerang jantan dan betina menunjukkan kecenderungan yang relatif serupa, meskipun terdapat perbedaan pada waktu tertentu. Data kuantitatif jumlah individu dan persentase tiap tingkat kematangan gonad (Gambar . , sedangkan karakteristik morfologi gonad berdasarkan pengamatan mikroskopik (Tabel 2 & . Periode . Periode . Gambar 4. Tingkat kematangan gonad kerang I. isognomum jantan dan betina Tabel 2. Tahap perkembangan gonad kerang morfologi I. TKG TKG TKG II Morfologi Jantan gonad berwana putih susu gonad berukuran kecil spermatozoa hampir tidak ditemukan. titik-titik gonad mulai berkembang Betina gonad berwarna orange terang gonad masih berukuran kecil luasan gonad belum memenuhi bagian tubuh. gonad berwarna orange terang TKG i TKG TKG V gonad masih tipis dan lebih rapat dibanding TKG gonad berwarna putih susu gonad telah berkembang dan semakin tebal, dan mengisi seluruh bagian dalam tubuh kerang gonad telah berkembang sempurna berbentuk ekor dan kepala sperma mulai terlihat jelas tidak terlihat adanya gonad gonad masih ditemukan sisa gonad ukuran gonad mulai berkembang gonad memenuhi bagian dalam tubuh. gonad berwarna orange ukuran gonad memanjang dan padat ukuran gonad bervariasi gonad berwarna orange kecoklatan butiran gonad terlihat jelas dan kematangan gonad tertinggi, gonad siap untuk dipijahkan. tidak terlihat adanya gonad gonad masih ditemukan sisa gonad Tabel 3. Tingkat perkembangan gonad kerang I. isognomum berdasarkan mikroskopik TKG Stadium Awal Aktif (Early akti. Berkembang (Developin. i Perkembangan akhir Matang (Rip. Pemijahan/ pasca pemijahan (Spawnin. Jantan Betina Secara temporal, perkembangan gonad kerang I. isognomum terdiri dari lima tahap yaitu awal perkembangan, berkembang, matang, memijah, dan fase istirahat yang bervariasi setiap bulannya (Gambar . TKG IV ditemukan di setiap bulan penelitian dan kematangan gonad tertinggi terjadi di bulan Desember 2024. Pola ini sejalan dengan kerang Modiolus modulaides di Perairan Tapulaga yang mengalami puncak kematangan gonad pada bulan Oktober dan menunjukkan pemijahan sepanjang tahun (Salsia et al. , 2. , dan kerang Pharella acutidens di Perairan Dumai, yang mencapai matang gonad setiap bulan dan puncak kematangan gonad terjadi di bulan Mei (Efriyeldi et al. , 2. Berbeda dengan kerang Batissa violacea var. celebensis di Sungai Lasolo menunjukkan pola pemijahan parsial dan pemijahannya tidak berlangsung secara kontinu sepanjang tahun (Bahtiar, 2. Kerang I. isognomum mengalami musim pemijahan sepanjang tahun. Hal ini didukung oleh Queiroz et al. bahwa kerang famili Isognomonidae cenderung mengalami pemijahan sebagian dengan siklus pemijahannya berlangsung sepanjang tahun. Dengan demikian, pola pemijahan berkelanjutan pada I. isognomum mendukung karakteristik umum bivalvia di daerah tropis yang umumnya memijah sepanjang tahun (Rahmawati et al. , 2. Puncak pemijahan kerang I. isognomum dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal berkaitan dengan kondisi fisiologi dan genetik, sedangkan faktor eksternal meliputi tekanan penangkapan serta kondisi lingkungan perairan seperti suhu, salinitas, dan ketersediaan makanan (Hermawati et al. , 2. Suhu di Perairan Tapulaga selama penelitian berkisar 29-31EE, yang termasuk kisaran ideal bagi kerang I. untuk melakukan proses reproduksi. Salinitas di perairan berkisar 29-31A masih tergolong baik untuk kehidupan dan pemijahan kerang I. Hal in didukung oleh Silaban . bahwa kisaran suhu 24-30EE dan salinitas sebesar 26-34A merupakan kondisi optimum bagi kehidupan dan perkembangan gonad bivalvia. Bahan organik merupakan salah satu faktor penting dalam proses reproduksi kerang I. isognomum, karena berperan sebagai sumber energi yang digunakan selama proses bereproduksi. Bahan organik juga berperan penting dalam proses reproduksi karena menyediakan energi yang dibutuhkan selama pembentukan gonad dan Kandungan bahan organik di Perairan Tapulaga berkisar antara 13,86-27,81% dengan nilai tertinggi tercatat pada bulan Desember 2024. Pada bulan yang sama, kerang I. isognomum menunjukkan puncak musim Weisz . menyetakan bahwa kerang jantan dan betina mencapai kematangan gonad secara bersamaan sehingga dapat melepaskan gamet secara serentak untuk memaksimalkan peluang pembuahan di Berdasarkan hasil tersebut, disarankan di bulan Desember sebaiknya dilakukan pembatasan atau larangan penangkapan kerang I. isognomum di Perairan Tapulaga. Upaya ini penting untuk menjaga keberlangsungan reproduksi secara alami, mencegah penurunan populasi, dan mendukung kelestarian sumber daya kerang dari resiko kepunahan. Indeks Kematangan Gonad (IKG) Indeks kematangan gonad (IKG) kerang I. isognomum sangat bervariasi setiap bulannya. Indeks kematangan gonad kerang I. isognomum dengan jumlah sampel 360 individu diperoleh nilai rata-rata IKG tertinggi di bulan Desember dengan nilai IKG jantan dan betina berturut-turut sebesar 1,61 sebanyak 26 individu dan 1,75 sebanyak 34 individu. IKG terendah ditemukan di bulan Oktober jantan sebanyak 24 individu dengen persentase 0,86 dan betina sebanyak 36 individu sebesar 1,05 (Gambar . Jantan Betina 1,10 1,61 0,86 0,98 1,57 IKG (%) IKG (%) 1,11 1,17 1,05 1,19 1,75 1,69 1,23 Periode bulan Periode bulan Gambar 5. Indeks kematangan gonad kerang I. isognomum jantan dan betina Indeks Kematangan Gonad (IKG) dianalisis untuk mengukur tingkat kematangan gonad berdasarkan proporsi berat gonad terhadap berat tubuh. Seiring dengan perkembangan gonad, berat gonad akan meningkat dalam kurun waktu tertentu (Langsana et al. , 2. IKG kerang I. isognomum selama penelitian bervariasi setiap bulannya (Gambar . , dengan puncak IKG jantan dan betina terjadi pada bulan Desember 2024 yaitu sebesar 1,61-1,75. Hasil yang sama juga diperoleh pada kerang Batissa violacea var. celebensis di Sungai Laeya menunjukkan kisaran IKG jantan dan betina berkisar 13,99-14,89 (Pratiwi et al. , 2. , dan kerang Polymesoda erosa di perairan Teluk Kendari berkisar 14,31-21,95. IKG kerang ini relatif jauh berbeda bila dibandingkan pada kerang Anadara granosa di Perairan Pemangkat, yang memiliki kisaran IKG jantan tertinggi 40,28 dan betina 26,94. Perbedaan nilai IKG antar lokasi umumnya dipengaruhi oleh kematangan gonad sebelum dan sesudah memijah, sehingga parameter ini dapat digunakan untuk menentukan musim pemijahan (Farghaly et al. , 2. IKG kerang I. isognomum jantan cenderung lebih rendah dibandingkan betina, karena individu betina umumnya mencapai tahap pemijahan lebih cepat daripada jantan (Komala, 2. Perbedaan ini juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan ketersediaan makanan yang berperan sebagai sumber energi dalam perkembangan somatik maupun reproduksi antar jenis kelamin. Suhu di Perairan Tapulaga berkisar 29-31EE merupakan suhu ideal bagi kerang I. isognomum untuk melakukan proses reproduksi. Kandungan bahan organik berkisar 13,86-27,81% masih tergolong baik untuk kehidupan dan pemijahan kerang I. Hal ini didukung oleh Effendie . menyatakan bahwa bivalvia umumnya dapat mencapai keberhasilan pemijahan pada lingkungan perairan dengan kisaran suhu 24-32EE. Ukuran Pertama Kali Matang Gonad Hasil analisis ukuran pertama kali matang gonad kerang I. isognomum menggunakan analisis regresi non linear diperoleh nilai p-value 0,001<0. 05 dengan koefisien determinasi (R. karang jantan dan betina sebesar 0,9745%-0. 9813%, menunjukkan hubungan kematangan gonad dan panjang cangkang kerang I. Kematangan Gonad sangat baik. Ukuran pertama kali matang gonad kerang I. isognomum jantan dan betina dengan Lmaturity 50% di Perairan Tapulaga jauh berbeda yaitu jantan sebesar 8,9 cm dan betina sebesar 9,4 cm Betina Jantan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112131415 Ukuran Panjang . Gambar 8. Ukuran pertama kali matang gonad Kerang I. Menurut Mzighani et al. , . bivalvia umumnya mempunyai ukuran matang gonad jantan lebih awal dibanding betina, akibat dari perbedaan faktor biologis dalam hal pembuahan. Kerang I. isognomum jantan mencapai ukuran pertama kali matang gonad berkisar 6,1 cm dan betina 6,3 cm (Gambar . Ukuran pertama kali matang gonad kerang ini relatif jauh berbeda bila dibandingkan pada beberapa kerang lain ukuran jantan lebih besar dibanding pada kerang betina seperti kerang Anadara granosa di Perairan Bondet. Jawa Barat berkisar 2,9 cm dan 2,3 cm (Nurohman, 2. , kerang Corbicula sp. di DAS Konaweha. Sulawesi Tenggara 2,4 cm dan 2,2. Perbedaan ukuran matang gonad kerang pada lokasi yang berbeda dipengaruhi oleh ukuran panjang dan masa hidup (Widyastuti, 2. , faktor lingkungan, dan ketersediaan sumber makanan (Salsia et al. Hasil pengamatan di lapangan data suhu di Perairan Tapulaga berkisara 29-32AC dan salinitas berkisar 29-31A berada dalam kisaran optimum sehingga mendukung pertumbuhan dan proses reproduksi kerang I. Kandungan bahan organik berkisar 13,86-27,81% masih optimal dalam menyediakan nutrien untuk pertumbuhan gonad kerang, sehingga mendukung percepatan pencapaian ukuran pertama kali matang gonad kerang I. Hal ini didukung oleh Silaban . bahwa suhu 27-32AC dan salinitas sebesar 26-34A adalah kisaran yang sangat baik bagi kehidupan dan pertumbuhan telur kerang. Hasil analisis regresi non linear diperoleh nilai p-valeu 0,001<0. 05 dengan koefisien determinasi (R. karang jantan dan betina masing-masing sebesar 0,9745% dan 0. 9813%, menunjukkan hubungan antara kematangan gonad dan panjang cangkang kerang I. isognomum sangat baik. Kerang I. isognomum mulai matang gonad dengan menggunakan analisis regresi non linear berkisar 6,1-12,6 cm. Hasil analisis menunjukkan Lmaturity 50% kerang I. isognomum jantan dan betina mencapai kematangan gonad dan menjadi dewasa diperoleh pada panjang cangkang masing-masing 8,9 cm dan 9,4 cm (Gambar . Ukuran layak tangkap ditentukan berdasarkan hasil fekunditas dan ukuran pertama kali matang gonad yaitu berkisar 10,7Ae12,1 cm. Hal ini disebabkan pada ukuran tersebut, kerang I. isognomum sudah tidak produktif dalam menghasilkan telur. Oleh karena itu, ukuran pertama kali matang gonad dapat dijadikan acuan pengelolaan sumber daya kerang, khususnya dalam penentuan ukuran minimum kerang yang boleh ditangkap, sehingga dapat mencegah tertangkapnya kerang yang masih berada pada tahap reproduktif aktif. KESIMPULAN Kerang I. isognomum di Perairan Tapulaga memiliki nisbah kelamin dalam keadaan tidak seimbang. Tingkat kematangan gonad I-V ditemukan di setiap bulan dan puncak pemijahan terjadi di bulan Desember dengan proses pemijahan sepanjang tahun. Indeks kematangan gonad tertinggi jantan dan betina di temukan di bulan Desember berkisar 1,61-1,75. Kerang I. isognomum mulai matang gonad pada ukuran 6,1-12,6 cm dengan Lmaturity 50% jantan dan betina pada masing-masing berkisar 8,9 cm dan sebesar 9,4 cm UCAPAN TERIMA KASIH Terimakasih yang tidak terhingga kepada tim isognomon atas bantuan hingga penelitian ini dapat dipublikasikan. DEKLARASI Jurnal ini merupakan karya sendiri dan tidak tersangkut paut dengan hasil karya siapapun. DAFTAR PUSTAKA